Tags

, ,

Pemilu Legislatif sudah melewati tahap pencontrengan, sekarang tinggal tahap penghitungan suara. Hasil Quick Count pun sudah banyak diketahui oleh rakyat Indonesia. Sehingga berdasarkan hasil ini sudah dapat diperkirakan 9 parpol yang diperkirakan akan eksis di DPR. Namun, harus difahami bahwa hasil perhitungan (manual) KPU-lah yang nanti akan digunakan secara resmi, formal dan legal untuk menentukan parpol pemenang Pemilu Legislatif dan sekalian jatah/distribusi jumlah kursi DPR yang diperoleh masing-masing Parpol.

Sementara itu, saat ini para petinggi Parpol, terutama yang mempunyai kemungkinan eksis di DPR periode 2009-2014 mulai berhitung, mulai berkomunikasi, mulai ancang-ancang melakukan tahapan Pemilu berikutnya, yaitu Pemilihan Umum Presiden RI. Pendekatan sana-sini mulai diutak-atik. Kata yang populer untuk hal ini adalah: KOALISI.

Nah, soal Koalisi inilah saya suka sumpek melihatnya. Terutama dengan kenyataan perilaku parpol dan bangunan-bangunan Koalisi yang dilakukan Parpol pada periode 2004-2009 itu. Tampaknya sungguh aneh. Ada parpol yang masuk dalam suatu Koalisi namun tidak segan-segan menyodok parpol lain (entah di parlemen, ataupun di pemerintahan) yang sebenarnya masih dalam satu naungan Koalisinya. Ada lagi dua parpol yang secara nasional berseberangan, satu memosisikan sebagai parpol oposisi dan satunya parpol pemerintah yang sedang berkuasa, namun di beberapa Pemilu (Pilkada) Gubernur/Walikota/Bupati mereka bekerjasama bahu-membahu meng-goal-kan pasangan calon pimpinan daerah tertentu, aneh bin ajaib, terus makna koalisi bagaimana? Posisi partai oposisi dan partai pemerintah bagaimana? Kok bisa-bisanya “menipu” rakyat soal jenis kelamin parpolnya pada peridoe pemerintahan tertentu itu … Jadi nggak jelas betul, ide, isme dan warna yang digeluti parpol-parpol itu …. agaknya kepentingan pragmatis dan hitung-hitungan kue kekuasaan yang ingin digapainya …. substansi visi-misi parpol dengan kerangka kerja untuk kepentingan rakyat agar menuju masyarakat yang adil dan makmur sepertinya diabaikan …. Sesungguhnya hal beginian boleh? Boleh saja untuk parpol-parpol yang BANCI dalam bepolitik dan berkoalisi, takut kehilangan kekuasaan …. itu koalisi semu!

Jadi apa yang kita mau? Mestinya yang kita harapkan adanya KOALISI PERMANEN diantara parpol-parpol itu. Bagaimana itu Koalisi permanen? Dalam pikiran saya kalau ada beberapa parpol sudah berani memutuskan untuk mengikatkan diri dalam suatu koalisi, ya sudah dalam periode kepemerintahan 5 tahun (misalkan 2009-2014 sebagai Koalisi parpol-parpol yang berkuasa di pemerintahan) suka ataupun tidak suka semua parpol yang masuk koalisis ini harus satu suara dengan kebijakan pemerintah, apapun kondisinya, pahit getirnya, enak nggak enaknya, harus konsisten selama 5 tahun (koalisi) pemerintahan, jangan ada yang mangkir, jangan ada yang jahat menusuk dari belakang demi cari muka ataupun cari simpati rakyat. Hati-hati rakyat sekarang sudah pinter, ngerti soal ini. Begitu pula dalam kurun waktu 5 tahun koalisi itu harus konsisten saling dukung dalam Pemilu (Pilkada) Gubernur/Walikota/Bupati, mestinya begitu, jangan koalisi sana koalisi sini nggak jelas jenis kelaminnya. Artinya apa? Koalisi yang dibangun di tingkat nasional harus secara otomatis dan konsisten dijalankan juga di tingkat daerah. Ini namanya Koalisi permanen. Jelas warnanya. Begitupun juga mestinya berlaku untuk parpol-parpol yang mau Koalisi dalam konteks Oposisi, harus terus menjaga ikatan oposisinya secara permanen dan terstruktur dari pusat (nasional) sampai bawah (daerah). Jangan plin plan, di pusat oposisi, di daerah gandengan tangan. Super aneh, warna parpol nanti nggak ada bedanya dengan bunglon dong? Jadi ikatlah Koalisi yang kuat (bila perlu dengan kontrak tertulis yang mengikat secara hukum dan sosial politis), permanen, konsisten, dengan rentang waktu satu masa pemerintahan (5 tahun) begitu. Bahwasanya pada periode berikutnya (masa pemerintahan yang akan datang) mau pecah kongsi, mengkonstruksi kelompok koalisi yang berbeda dengan parpol-parpol lain, itu sah-sah saja. Itu sah-sah saja secara politik, namanya juga kepentingan ….

Begitulah yang saya pikirkan, karena saya berharap parpol-parpol kita itu punya WARNA yang jelas, IDE yang brilian, dan mental perilaku tokoh-tokohnya NGGAK PLIN PLAN, mentang-mentang hidup di partai politik terus gampang saja berpayung kata-kata usang “ya begitulah politik, nggak ada teman dan lawan yang abadi, yang abadi hanya kepentingan”. Ihh bejat banget, rakyat mengerti kok tentang makna kata-kata ini, jangan dibelokkan melalui falsafah politik, wong itu sesungguhnya hanya upaya meraih kepentingan pribadi! Jujur sajalah. Kalau memang berpolitik yang santun, smart, pride, ideolog, dan punya harga diri pasti nggak mudahlah ganti-ganti parpol, nggak gampanglah bikin-bikin parpol baru/tandingan, nggak gampanglah koalisi dengan parpol lain yang nyata-nyata nggak “seideologi”, bahkan warnanya saja nyata berseberangan! Itulah high class politics! Kesimpulan: Bangunlah Koalisi permanen untuk Pemilu Presiden 2009, dengan sebenar-benarnya koalisi. Biar demokrasi di Indonesia bersemi dengan indah.

Anda punya ide yang lain?