Tags

, ,

Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman menyatakan, sesuai perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, semua pesawat TNI Angkatan Udara, baik untuk fungsi transportasi personel maupun tempur, akan dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh atau audit teknologi. Selain itu juga melakukan modifikasi terhadap pesawat-pesawat angkut TNI AU agar bisa meningkatkan daya angkutnya untuk keperluan militer dan untuk keperluan sipil, misalnya untuk search and rescue (SAR), hujan buatan atau kebutuhan lain, kata Menristek usai penandatanganan kesepakatan bersama antara Kemenneg Ristek dan TNI AU di Jakarta, 8 April 2009.

Kesepakatan itu ditandatangani Menristek Kusmayanto Kadiman dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI Subandrio. Kesepakatan meliputi penelitian, pengembangan dan penerapan Iptek dalam mendukung tugas-tugas TNI AU. Menurut Menristek, pemeriksaan menyeluruh atau audit teknologi tersebut akan dilakukan setelah ditandatanganinya MoU tersebut, kemudian tim mulai bekerja, misalnya mengidentifikasi apa yang harus dilakukan, jenis pesawat apa yang harus diperiksa.

Kami tidak mempunyai kemampuan khusus untuk pesawat, tetapi kami mampu melakukan audit teknologi untuk teknologi-teknologi lain. TNI Angkatan Udara mengetahui apa yang harus diperiksa, kemudian kami akan kombinasikan, mulai dari pemilihan alatnya dan pengukuran-pengukuran untuk persoalan teknisnya, katanya.

Dijelaskan, pesawat-pesawat yang sudah dinyatakan tidak laik terbang, apabila anggarannya ada maka akan diganti dengan pesawat-pesawat sejenis, misalnya Foker 27 diganti dengan klas sejenis CN235, apalagi Indonesia sudah mempunyai teknologinya.

Sementara itu Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Subandrio mengatakan, penandatanganan kerjasama pada hakekatnya upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia TNI AU dalam bidang penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi. Hal itu selaras dengan kebijakan pemerintah dalam penggunaan produk dalam negeri, serta penting dilakukan agar secara bertahap mengurangi ketergantungan teknologi terhadap produk dari luar negeri. Menurutnya, kesepakatan itu dapat menjadi inisiator proses transformasi Iptek sekaligus inovasi-inovasi dan temuan baru di bidang teknologi oleh TNI AU dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Ruang lingkup kesepakatan, katanya, kegiatan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di kedua pihak, baik sarana, prasarana maupun sumber daya manusia yang diperlukan. Demikian halnya optimalisasi penelitian dan pengembangan pendidikan dan latihan, serta rancang bangun atau rekayasa di bidang kedirgantaraan dan kegiatan dalam proses alih teknologi alat utama sistem senjata.

Kesepakatan bersama itu nantinya diharapkan menjadi payung hukum dalam rangka pelaksanaan kerjasama antara TNI AU dan Kemenneg Ristek. Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek) akan mengaudit teknologi yang digunakan pesawat-pesawat TNI Angkatan Udara (AU), terutama yang sudah berusia di atas 20 tahun. Menteri Ristek Kusmayanto Kardiman mengatakan, audit teknologi dilakukan hanya terbatas kemampuan kementerian Ristek. Hasil audit tersebut, dapat menjadi rujukan atau rekomendasi apakah sebuah pesawat masih layak untuk digunakan atau diganti. “Semua memang memerlukan pertimbangan matang, menyangkut skala prioritas, ketersediaan anggaran dan masalah lainnya,” katanya. Yang jelas, kata Kusmayanto, akan dikoordinasikan termasuk alokasi dana menyangkut audit teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI, khususnya TNI- AU dengan beberapa instansi terkait seperti Departemen Pertahanan, Bapennas, dan Departemen Keuangan.

Kusmayanto mengatakan, meski tidak ada payung hukum kerja sama antara TNI dan Kementerian Ristek, namun audit teknologi oleh Ristek sudah beberapa kali dilakukan terhadap alutsista TNI. Pada kesempatan yang sama, Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Subandrio mengatakan, pihaknya belum memutuskan pesawat apa saja yang akan diaudit teknologi oleh kementerian Ristek. “Kita lihat dulu kemampuan teknologi yang dimiliki, untuk mengaudit teknologi pesawat-pesawat kita. Karena itu tidak mudah, apalagi pesawat tempur. Jadi, kita belum bisa pesawat apa yang dapat dijadikan sampel untuk mereka mengaudit teknologinya,” katanya. Yang jelas, lanjut Subandrio, kerja sama yang dibina antara Mabes TNI- AU dan Kementerian Ristek dapat meningkatkan kesiapan operasional TNI AU untuk menjalankan peran dan tugasnya sebagai penjaga kedaulatan NKRI.

Advertisements