Tags

, ,

Hmm. Gara-gara saya menulis

Band d’Masiv plagiator? Coba cek sendiri saja ….

maka muncullah sebuah comment dari seseorang yang mengatasnamakan komunitas (penggermar) band tersebut. Namun sayang terlalu murahan bagi blog ini untuk menampilkan isi comment tersebut (maaf ya bagi pengirim comment itu, WNI Nomor 1 nggak bisa memunculkan komentar anda disini!) karena jauh sekali kualitasnya dari nilai-nilai budaya Indonesia yang santun, Pancasilais, penuh pluralisme, multikultural, serta menjunjung tinggi adanya perbedaan berdasar konstitusi dan hukum.

Bagi blog ini telah difahami bahwa materi tulisan yang disanggahnya itu sebenarnya kurang tepat, karena jelas terlihat, judulnya saja memakai kata tanda tanya, itu menunjukkan KETAATAN pada azas hukum kita “AZAS PRADUGA TAK BERSALAH”, kemudian sumber dan dasar tulisan jelas hanya merupakan TANGGAPAN terhadap tayangan SCTV yang mengulas habis lagu-lagu band tersebut, dari sisi originalitas-nya! Kalau masalah kepastian apakah lagu-lagu itu benar tembakan dari lagu-lagu asing itu ada ketentuannya, kalau kita barangkali bisa bersandar pada HAKI. Bagi yang memiliki cara berfikir jernih begini tentu memahaminya secara proporsional, bukan suka atau tidak suka dengan sebuah tulisan, kemudian menulis comment serampangan.

idola_relatif

Dari sisi kemanusiaan/ketokohan hal ini terlihat sekali ada unsur kefanatikan dari seorang penggemar kepada tokoh/kelompok yang menjadi idolanya. Inilah inti yang ingin saya tuliskan sekarang. Materi ini semakin penting ditulis karena sekalian menyesuaikan dengan suasana pemilu yang juga mengidentikkan adanya kefanatikan penggemar/konstituen pada tokoh idola dalam konteks yang berbeda (partai politik). Jadi kalau masalah emosional hati, suka dan tidak suka, itu sudah lewat untuk orang-orang yang masuk kategori WNI Nomor 1. Kalau masih emosian (apalagi nggak terkendali) untuk suatu hal yang nggak proporsional, ih, masih WNI Nomor 1 milyar kali, eh, penduduk Indonesia belum sampai 1 milyar ya!

Okelah, kembali ke topik soal perilaku dan sifat kefanatikan pada seorang idola. Saya suka memandang aneh saja. Yang diidolakan itu siapa sih, khan MANUSIA JUGA, apakah dia itu nggak bisa berbuat salah, berbuat jahat, berbuat nakal, bersifat kikir, berbuat korupsi, apakah selalu baik hati, tidak sombong dan suci-halus bak kain sutera, Oh, aneh saja ini. Pandangan saya siapapun yang masih berstatus MANUSIA (peduli amat dia itu pemusik, militer, politikus, atau Capres sekalipun) pasti mempunyai sifat-sifat positif-negatif kemanusiaan yang masih lengkap, hanya kadarnya/proporsinya orang per orang berbeda, yang kita sendiri nggak bisa secara eksak mengukurnya! Tetapi yakinilah nggak ada manusia seratus persen sempurna, nonsens itu. NOBODY PERFECT. Nah, apa artinya itu? Kalau anda melihat produk (entah seni, entah statement politik) dari idola anda, dengan memahami SIFAT KEMANUSIAAN (nggak ada manusia yang sempurna) tentu anda nggak boleh juga fanatik/percaya 100% dengan produk yang dihasilkan oleh idola anda. Kalau apapun yang dikatakan, yang dilakukan, yang dikerjakan, yang dititahkan oleh tokoh idola anda, kemudian anda ikuti, yakini dan amin-i 100% berarti anda masuk kategori taqlid (buta), sama saja anda membutakan mata hati, mata pikiran dan mata kaki anda sendiri, sehingga sama saja merendahkan derajat kemanusiaan anda sendiri. Lho? Lha iya, wong dikasih otak, jiwa, hati dan fisik oleh Tuhan kok tidak digunakan secara maksimum, secara proporsional, dan secara total, hanya karena dibutakan dengan pesona tampilan idola. Hi, jangan sampai deh, banyak ruginya mengkultus individukan seorang idola apapun itu, pemusik, politikus, pebisnis, tokoh agama, atau tokoh yang lainnya.

Apalagi, kalau anda sempat memperhatikan kata-kata:

a. Hidup mati demi ….

b. Pejah gesang nderek …….. (maaf, ini bahasa Jawa, intinya ya tentang kefanatikan pada sesorang)

c. Ah, biarin yang penting saya suka dia, kamu nggak suka sama dia peduli amat, pergi saja kamu ke akhirat …

Oh, begitulah kata-kata yang muncul dari orang yang telah BUTA dunia, lebih khusus yang telah terjerat pada satu kata FANATIK. Pertanyaannya? Apa sih yang anda dapat dari orang itu, orang yang anda idolakan mati-matian? Saya yakin kepuasan semu. Kepuasan sesaat. Kalau anda mau bercermin, anda tentu menyadari : siapa sebenarnya saya ya …. eh, nggak punya prestasi apa-apa, hanya suka-sukaan saja, seneng-senengan saja, itulah fatamorgana kehidupan ….

Nah, sekalian saja, ini khan lagi sekitar pemilu, kalau jago anda, idola anda, ternyata nggak menang pemilu legislatif atau nanti pemilu presiden, ya nggak perlu marah-marah juga …. atau protes berlebihan …. tokoh anda mungkin jagoan bagi anda, tetapi bagi orang lain, kelompok lain, bisa saja dianggap nggak ada apa-apanya … ya terimalah fakta apa adanya … itulah kembang dunia. Mengapa harus membela mati-matian seseorang atau idola secara fanatik, khan lebih baik buka hati dan open mind ke belakang, siapa tahu idola anda punya cacat yang bisa dilihat oleh orang/kelompok lain yang kebetulan tidak mengidolakan tokoh anda!

Peribahasa untuk orang fanatik (terhadap idolanya) : Semut di seberang jalan kelihatan, Gajah di pelupuk mata tak tampak.

Kalau peribahasa WNI Nomor 1: Tiada gajah yang tidak retak gadingnya! Betul ya …..?

Advertisements