Tags

, ,

Jamak sekali di lingkungan kerja saya, tanggal 1 April dan 1 Oktober menjadi hari yang penuh momen kebanggaan dan kebahagiaan. Karena pada tanggal-tanggal tersebut tradisinya ada upacara kenaikan pangkat untuk personel-personel yang telah memenuhi syarat, semua golongan, militer maupun sipil,  makanya suasana pada tanggal-tanggal tersebut umumnya sumringah. Tentunya tidak sekadar suasana rutin karena tanggal 1 tiap bulan memang biasanya tanggal yang meyenangkan bagi pegawai negeri, saat menerima gajian.

Hari ini pun, 1 April 2009, suasana itu pun tampak terulang, banyak wajah-wajah yang menampakkan kebahagiaan karena menikmati kenaikan pangkat/golongan setingkat lebih tinggi dari yang telah disandang sebelumnya. Menyenangkan.

Namun diantara suasana demikian rupanya ada satu personel yang patut diperhatikan. Ketika yang lain menikmati kenaikan pangkat/golongan, satu personel ini agaknya harus menerima kenyataan bahwa dia mengalami penurunan golongan setingkat lebih rendah dari yang telah disandang sebelumnya. Jadi jangan disangka pegawai negeri itu selalu naik pangkat/golongan lho ….. nyatanya ada yang turun …. ya, nasib demikian harus diterima, kalau ada diantara anda yang mengalaminya.

Apa pasal ya kok bisa turun pangkat/golongan? Untuk kasus ini, memang bukan karena kasus hukum ataupun pelanggaran aturan kepegawaian yang berat. Ternyata karena “hutang” sekolah yang belum dibayar, bahkan mungkin tidak bisa dibayar lagi, mengingat situasi kondisi keluarga yang perlu perhatian. Jelasnya, bagaimana? Dulu, sebelum diusulkan kenaikan pangkat dari Golongan VII ke Golongan VI  (Gol. VII secara hirarki lebih rendah dari Gol. VI), ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu mesti sekolah dinas tertentu. Rupanya aturan ini bisa “ditawar” dan boleh adanya penundaan sekolah, sehingga seperti hutang begitu, dan administrasi kenaikan pangkat/golongannya tetap dapat diproses. Hanya kewajibannya untuk membayar hutang sekolah harus tetap dibayar/dilakukan di kemudian hari. Inilah persoalan mulai terjadi. Rupanya yang bersangkutan mencoba menunda-nunda terus untuk berangkat sekolah sebagai “hutang” yang harus dilunasi atas kenaikan pangkat/golongannya itu ….. eh, beberapa kali penundaan sekolah, akhirnya menyerah tidak mampu untuk berangkat sekolah, alasannya situasi/kondisi keluarga … Begitulah namanya hutang khan mestinya dibayar, kalau nggak sanggup bayar ya kembali kekentuan standar …. berarti syarat kenaikan pangkat Golongan VI yang telah disandangnya sesungguhnya tidak bisa dipenuhi …. ya nasib, turun lagi, ke pangkat/golongan sebelumnya ….. kembali seperti sebelumnya, Golongan VII. Sehingga hari ini, terlihat sangat kontras situasi yang ditemui dengan umumnya pegawai negeri yang lagi menikmati kenaikan pangkat/golongan secara umum ….

Maka, saudara-saudara, jangan dikira pegawai negeri nggak bisa turun pangkat/golongan …

Kasus ini juga terjadi di salah satu pemerintah daerah, dimana banyak pegawainya yang “melanjutkan kuliah” namun disinyalir perkuliahannya ini fiktif …. sehingga ijasah yang dipunyai (untuk syarat kenaikan pangkat) banyak yang mempertanyakan alias meragukan keasliannya …… dan sekarang sedang diadakan pengecekan. Ya, nasib, yang ini juga harus siap-siap menerima kenyataan: turun pangkat/golongan. Kabarnya ada yang mulai stress ….

Inilah sebuah pengalaman dan pelajaran berharga bagi kita semua … sudahlah kalau memang bukan haknya, jangan coba-coba diraih dengan cara yang nggak bener … percaya nggak percaya, pasti akan ketahuan, pasti akan ditagih kebenarannya, pasti akan dituntut untuk mengembalikannya … dan tentu siap-siap kuciwa, stress, sakit hati, malu …. dan seterusnya …. yang menurut saya, kondisi beginian sesungguhnya dibuat sendiri, ya harus berani menangung sendiri. Berdoalah dan berusahalah selalu menempuh jalan yang baik-baik saja , jalan lurus ……..

Begitu ya ...

Advertisements