Tags

, ,

Anda kebingungan (mau) memilih pemimpin Indonesia yang anda (dan saya harapkan) dapat membawa negara dan bangsa ini ke arah masa depan yang lebih baik? Itu logis dan wajib. Saya berpendapat “jangan mudah  menyerahkan nasib kita” ke sebarang orang yang sekarang ini banyak sekali mengaku-ngaku sebagai (calon) pemimpin yang jempolan … yang mengaku mampu merubah kondisi dan situasi Indonesia ke arah positif …. ach, jangan-jangan mereka itu sesungguhnya bukan (berkualifikasi) pemimpin bangsa, tetapi cuma pemimpi, yang kebetulan punya banyak massa dan uang. Sejatinya hanya siluman pemimpin, atau pemimpin siluman.

Lalu, kalau mau pusing sedikit mestinya kita mau melihat KRITERIA yang pantas dan normal/waras untuk menentukan  Pemimpin Indonesia masa depan yang bagaimana itu? Artinya, jangan asal memilih pemimpin. Untuk hal-hal ini sih saya sudah tuliskan agak detil. Coba anda cek juga disini.

Nah, yang asyik, kalau dihubungkan dengan hasil polling PEMIMPIN INDONESIA yang ditayangkan di blog ini selama hampir sebulan sepertinya ada korelasi positif cara menemukan Pemimpin Indonesia masa depan dengan variabel yang digunakan untuk memilihnya. Artinya? Kebanyakan dari kita mulai melihat dan mengkritisi “cara berfikir” diri kita dari variabel yang digunakan untuk memilih pemimpin. Coba perhatikan hasil berikut ini …

Ketika disodorkan unsur Jawa-Non Jawa, Islam-Non Islam, Pria-Wanita, Tua-Muda untuk dijadikan variabel penentu dalam memilih Pemimpin Indonesia, terungkap hasil yang menunjukkan kepada kita, sepertinya para responden sudah realistis dalam memilih pemimpinnya, mulai menjauhi perilaku paternaslistik, tidak memasalahkan gender dan usia, serta tidak merekonstruksi pikiran dalam memilih pemimpin dengan chauvimisme sempit, berdasarkan agama dan suku. Hal ini terlihat dari 43 responden (peng-klik polling) distribusi pilihan mereka memiliki kecenderungan yang imbang, antara yang masih melihat adanya relevansi variabel-variabel itu dengan kepemimpinan Indonesia (21 responden atau setara 49%) dengan yang sudah melihat tiadanya relevansi variabel-variabel itu dengan kepemimpinan Indonesia (21 responden atau setara 49%), sementara responden yang “bingung” cuma 1 orang (2%)! Padahal kita fahami, data menunjukkan Indonesia dihuni oleh mayoritas orang Jawa, statistik menunjukkan  orang Indonesia terbanyak beragama Islam,  BPS menyajikan data kaum wanita lebih banyak dari pria, prosentase yang muda juga lebih banyak dari yang tua. Wouw, perkembangan positif?

mmmm

Realistis?

Mungkin anda punya pandangan lain? Sah-sah saja, itu hak yang indah dan patut dihargai di negara demokrasi seperti di Indonesia sekarang ini … apalagi kalau anda bersedia berbagi pandangan disini, di blog ini dalam bentuk tanggapan, asyik juga …. atau sudah anda tulis di weblog/website anda sendiri? Kabari ya biar bisa diinformasikan lebih luas, lebih dalam, dan lebih mengena …

Advertisements