Tags

, ,

Hari minggu siang ini, 29 Maret 2009, saya nggak kemana-mana dan saya sempatkan nonton teve (SCTV) sembari jalan-jalan online. Aduh, ada berita nggak sedap ditayangkan SCTV, itu tuh soal lagu-lagu d’Masiv yang dikupas habis sisi plagiatnya. Diperbandingkannya lagu-lagu band anak muda itu dengan lagu-lagu yang diduga sebagai “sumber inspirasinya”. Berapa lagu diulas? Satu? Aduh, lebih dari lima friend. Kaget juga saya mengikuti berita itu …

Saya sesungguhnya senang dengan proses kreatif generasi muda kita di bidang musik sekarang ini , terbukti banyak band baru yang mulai mengangkasa di jagad musik Indonesia, dan itu bisa jadi kebanggaan kita …. tetapi sesungguhnya, saya juga curiga begitu mudahnya proses kreatif itu memunculkan ribuan lagu dalam waktu yang nggak lama … akselerasinya darimana? Kalau tayangan SCTV itu terbukti benar content-nya, wah saya jadi mengelus dada, apakah berjibunnya lagu-lagu dari band-band baru itu apa memang asli dari daya cipta anak band, atau sekadar copy & paste, cut & glue …. oalah, itukah idola anda sekarang ini?

Beberapa lagu d’Masiv yang dianggap jiplakan adalah sebagai berikut:

a. Cinta Ini Membunuhku = I Don’t Love You – My Chemical Romance
b. Diam Tanpa Kata = Awakening – Switchfoot
c. Dan Kamu = Head Over Heels (in This Life) – Switchfoot
d. Cinta Sampai Disini = Into The Sun – Lifehouse
e. Sebelah Mata = The Take Over, The Break’s Over – Fall Out Boy
f. Dilemma = Soldier’s Poem – Muse
g. Tak Pernah Rela = Is It Any Wonder – Keane
h. Lukaku = Drive – Incubus

Kebetulan saya sedikit mengenal musik, memang harus diakui not itu cuma ada 7, dari do sampai si, hirarki oktaf-nya lumayan banyak bisa saja seseorang main musik naik-turun sampai 5 oktaf, bisa juga yang agak gila 7 oktaf, tetapi nggak banyak yang bisa itu …. Nah, dari jumlah not dan oktaf yang terbatas itu, kalau dihitung kombinasinya dalam proses kreatif penciptaan lagu memang sangat mungkin ada interseksi antar satu lagu dengan lagu lain, antar pencipta dengan pencipta lain dalam hal proses pemerolehan ilham. Namun …. kalau sebuah lagu, intro-nya mirip, interlude-nya mirip, dan coda-nya nggak jauh beda dengan lagu lain, apalagi jumlah lagu dari satu grup band itu yang diduga “mirip” tidak cuma satu, lalu apa namanya kalau bukan proses plagiat? Coba anda bandingkan sendiri ….

Mari bangga dengan hasil karya cipta sendiri. Dalam hal musik ataupun produk barang-barang lainnya. Seperti tekstil dan produk tekstil. Seperti juga barang cetakan, majalah misalnya ….. jujur saja, saya muak banyak majalah yang beradar disini, di Indonesia lho, hanya merupakan “terjemahan” dari majalah asing: nama majalahnya masih asli dari sononya, artikel dan foto-fotonya juga terlihat masih banyak asli dari sononya, hanya bahasanya saja yang telah di-dub alias di-translate ke Bahasa Indonesia, bahkan sebagian bahasa aslinya masih ditinggalkan di beberapa bagian naskah majalah itu … apa sih untungnya bagi perkembangan media di Indonesia? Bukankah lebih baik majalah-majalah itu apa adanya, seperti aslinya secara total (sepanjang nggak melanggar hukum, kultur dan kehidupan sosial rakyat Indonesia) biarkan majalah-majalah itu beredar di Indonesia … taste-nya lebih original … nggak seperti akal-akalan secara ekonomi saja …

Itulah yang saya pikirkan, jangan-jangan musik d’Masiv juga mengusung “pola pikir yang sama” dengan pola pikir penerbitan majalah-majalah asing di Indonesia itu…. andalah yang bisa menyimpulkan!

Advertisements