Tags

, ,

Beberapa tahun lalu sudah banyak orang menerka-nerka bagaimana nasib media cetak (koran & majalah) pada masa media massa audio-visual semacam stasiun televisi dan media massa online semacam kantor berita online mulai mengembang dan berjaya? Ada yang menyatakan, pasti media cetak itu akan mati. Ada yang menduga terjadinya jalan kompromistis dengan pola koalisi, artinya menerima kondisi konvergensi, penyatuan aneka perangkat media secara solid. Tetapi ada pula yang menyatakan, nggak ada pengaruh signifikan, kondisi perubahan hanya sesaat, nanti-nanti (entah kapan?) media cetak tetap eksis seperti nasib radio yang nggak musnah juga oleh munculnya televisi. Meski kita tahu sekarang banyak radio online memanfaatkan audio streaming by internet. Tetapi apa yang terjadi sesungguhnya sekarang ini? Perlahan tapi pasti, banyak media cetak gulung tikar, setidaknya kalau nggak mau disebut bangkrut ya mempertahankan eksistensinya dengan membuka jalur online, bahkan ada yang akhirnya hijrah sepenuhnya ke jalur online. Bukti paling gres adalah nasib suratkabar The Christian Science Monitor (CSM),sebuah harian populer dari Amerika Serikat, yang akhirnya mengakhiri edisi cetak dan berpindah ke edisi online. CSM yang telah berusia 100 tahun itu menerbitkan edisi terakhir surat kabarnya pada Kamis, 26 Maret 2009.

Pada Oktober 2008, surat kabar yang berbasis di Boston, Massachusetts, itu mengumumkan akan mengakhiri edisi cetak dan menjadi surat kabar nasional AS pertama yang mengadopsi strategi internet. Seperti surat kabar AS lainnya, CSM mengalami penurunan jumlah pembaca dan pemasukan iklan selama beberapa tahun terakhir.

Surat kabar ini memenangi tujuh Pulitzer, penghargaan jurnalistik top AS, yang terbaru tahun 2002. CSM terkenal karena liputan mendalam soal Timur Tengah dengan memublikasikan hasil liputan wartawan spesialis Timur Tengah, seperti mendiang John K Cooley. Semula, CSM diterbitkan dalam format kertas lebar. Namun, belakangan formatnya diubah menjadi tabloid.

Saat keputusan untuk mengakhiri edisi cetak dibuat, sirkulasi CSM merosot menjadi sekitar 50.000 eksemplar. CSM merugi 18,9 juta dollar AS pada tahun anggaran yang berakhir April 2009 dan memerlukan subsidi hingga 12,1 juta dollar AS. Editor CSM mengatakan, CSM masih mencetak edisi mingguan bagi para pelanggan. Rangkuman berita harian sebanyak tiga halaman yang dikirim via email dan bisa dicetak juga tetap tersedia. Akan tetapi, fokus utama adalah situs CSMonitor.com. Karena pengunjung situs itu bisa mencapai 2 juta orang per bulan. Perubahan format, tidak serta merta membawa perubahan dramatis dalam tampilan CSM. “Keinginan kami adalah ada setiap saat. Dengan membebaskan wartawan dari edisi cetak, kami bisa memberikan lebih banyak waktu dan perhatian kepada isi situs,” ujar Editor CSM. CSM telah mengurangi jumlah karyawan dari 97 orang menjadi 80 orang. CSM juga mengelola delapan biro di luar negeri, jaringan penulis lepas, dan enam biro domestik di luar Boston dan Washington. CSMonitor.com belum berencana untuk memasang harga bagi pembacanya, seperti yang dilakukan surat kabar online lain.

Apakah anda tahu para pembaca, penghentian edisi cetak surat kabar CSM hanya berselang dua pekan setelah surat kabar besar AS lainnya, Seattle Post-Intelligencer, yang juga mengakhiri edisi cetak setelah terbit selama 146 tahun (lebih tua dari CSM). Surat kabar Rocky Mountain News tutup pada Februari lalu. Sejumlah kelompok surat kabar lain, seperti Tribune Co, pemilik Los Angeles Times dan Chicago Tribune, telah mengajukan proses kebangkrutan demi menyiasati kerugian selama bertahun-tahun.

Nah, rentetan suratkabar cetak yang mulai bertumbangan apakah masih diperbincangkan dan diperdebatkan kaitannya dengan semakin maraknya online news? Saya memahaminya dengan prediksi logis, akhirnya konvergensi media informasi berbasis Teknologi Komunikasi Informasi (TKI) nggak bisa dihindari lagi. Ada beberapa alasan:

1. Kalau media massa cetak, pasti butuh bahan untuk dicetak, setidaknya bahan baku pembuat kertas koran. Sedangkan bahan pembuat kertas, semakin hari semakin langka, dan tentu saja makin mahal secara ekonomi. Karena tidak bisa cepat terbarukan, entah itu pulp, kapas, bambu atau lainnya. Belum lagi untuk distribusi ke pembaca, koran cetak butuh alat transportasi yang nggak murah jaman sekarang. Untuk tingkat penyebaran yang makin luas tentu perlu cost lebih mahal lagi. Anda berfikir, sekarang khan bisa cetak jarak jauh karena perkembangan teknologi cetak sudah memungkinkan itu? Tetapi cost-nya sebanding nggak dengan pendapatannya?

2. Dari sisi NEW NEWS jelas berita online lebih cepat, lebif fresh, bisa lebih up to date. Sehingga konsumen media lebih merasakan adanya getaran dan nilai plus berita/kejadian yang relatif real time, dan nggak basi. Sehingga bagi orang bisnis, misalnya, hal ini menguntungkan sekali apabila dijadikan bahan untuk mengambil keputusan yang cepat, akurat dan preventif. Second to second berita itu terasa sekali efeknya.

3. Tingkat penetrasi TKI (katakanlah internet) sudah semakin luas dan merata, termasuk di Indonesia, meskipun belum mencapai kondisi di titik ideal. Namun perkembangannya signifikan untuk dapat dikatakan orang Indonesia makin internet minded. Dengan kenyataanan ini tentu wilayah edar suatu koran bisa meluas, luas sekali …. bahkan tidak terbatasi oleh batas negara … Sehingga tingkat influence dari suatu contents media itu akan makin menyebar ….

4. Khusus soal media massa sekarang saja sudah banyak produsen teknologi baca membuat gebrakan dan inovasi ke arah bagaimana bisa membaca dan berlangganan koran/media secara paperless. Mereka banyak mengeluarkan uang untuk research dan investasi menciptakan e-news (semacam e-book) yang memungkinkan pelanggan membaca koran paperless di mana saja, kapan saja dan portable bisa dengan mudah dibawa kemana saja, sifat dokumentasinya mudah dan aman karena berbasis file, mau dijadikan library juga gampang, mau mencetak juga bisa (kalau dibutuhkan)! Jadi nggak jaman lagi bawa-bawa koran kertas ya? Mungkin saja …..

5. Pihak pemasang iklan/sponsor sekarang juga merasa kalau media cetak itu penetrasinya kurang kuat, batas waktu rusak fisik lebih pendek! Kalau file khan lumayan lebih panjang …. bisa copy, dicopy, dan makin panjang umur nasib iklan-iklan yang dipasang, sehingga makin mempengaruhi calon konsumennya …

6. Kondisi perekonomi global “memaksa” setiap perusahaan (termasuk perusahaan media) untuk makin realistis … nilai-nilai ideal yang disandang pemodal dan mau dituangkan sebagai pengaruh melalu media informasi akhirnya harus berhadapan dengan “situasi dan kondisi” ekonomi senyatanya …

Nah, sudahlah, ketika waktu tak bisa lagi diputar mundur, dan konvergensi media itu makin kelihatan nyata, mari kita siap menyambut dan mengantisipasinya dengan cara yang baik, benar, serta efisien! Jangan sampai ketinggalan …..

Advertisements