Tags

, ,

Sebuah pernyataan manis disampaikan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta dalam sambutannya di acara International Workshop On Women Empowerment Information Technology, Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, 24 Maret 2009. Apa?

“Ibu-ibu rumah tangga yang ingin mengembangkan usaha tanpa harus terlihat bekerja dapat menggunakan internet sebagai sarananya. Selain menambah pengetahuan, konsep e-business ini memberi kesempatan kepada mereka dalam mencari nafkah tambahan.”

“Perempuan Indonesia terhambat masalah kultural, mereka tidak disukai terlihat bekerja seperti business woman pada umumnya. Mereka tetap dituntut untuk terlihat seperi ibu rumah tangga”

“Kesempatan berbisnis tidak boleh lepas dari tangan wanita. Wanita yang berbisnis, bukan sebagai suatu usaha untuk menyaingi laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Justru hal tersebut bisa mengurangi beban laki-laki dalam mencari nafkah”

Pelatihan yang juga diikuti perwakilan 9 negara di Asia itu diharapkan dapat membuat ibu-ibu rumah tangga melek internet. Untuk kemudian mempromosikan produk-produk usahanya lewat e-commerce. Wah, ini pemahaman yang bagus khan? Masalah pemanfaatan internet masuk, masalah hubungan wanita dan pria masuk, masalah produktivitas SDM Indonesia, ok juga.

Sementara ada informasi lain yang menyatakan internet sebagai teknologi yang wajib digeluti sesuai tuntutan zaman, tak hanya diajarkan di lingkungan pendidikan saja. Melalui lingkungan tempat tinggal, internet bisa lebih cepat disosialisasikan. Hal ini sedang dicoba dilakukan Telkom dengan dibukanya Broadband Learning Center (BLC) di tiap Rukun Warga (RW) wilayah propinsi DKI Jakarta. Keberadaan BLC diharapkan memberi manfaat kepada masyarakat untuk belajar internet. Banyak yang sudah faham, melalui internet, kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang up to date, meningkatkan pengetahuan, mencari informasi, pekerjaan ataupun peluang bisnis. Pelatihan internet telah dilakukan di 15 RW dengan jumlah peserta hampir 1.600 orang. Jenis pelatihan internet yang diajarkan antara lain mengenai dasar-dasar internet, web design (blog sederhana), office application (word, excel, power point) dengan bentuk pelatihan teori dan praktek. Sedangkan, Telkom telah menyediakan 3.500 titik hotspot di 2.500 lokasi yang tersebar di wilayah Jabodetabek, termasuk di tiap kecamatan dan kelurahan. Ini juga pemikiran, tindakan dan program yang cemerlang untuk “mengupdate” serta “mengupgrade” masyarakat supaya makin melek dan memanfaatkan internet secara lebih maksimum.

Tapi, tahukah saudara apa tantangannya semua itu, sekarang ini? Sumber listrik byar pet dan Ongkos koneksi internet mahal di Indonesia!

Katanya Pemerintah mau mengupayakan tarif internet akan turun tahun ini. Alasannya, kebutuhan masyarakat terhadap internet terus meningkat dan tahun 2015 pemerintah menargetkan 50 persen penduduk Indonesia melek TI.  Juga difahami, terlambat mengakselerasi penggunaan internet, maka kita akan menjadi bangsa yang tertinggal.

Lho? Nggak perlu banyak omong deh. Buktikan saja, biaya internet bisa lebih murah dan lebih cepat agar kita tidak terlambat “membuka mata, telinga, hati, dan yang lebih penting OTAK”, dibanding negara dan bangsa lain. Nggak perlu menyatakan segala, bahwa “Target pemerintah tersebut tidak akan berhasil jika tidak disokong oleh pihak-pihak lain. Menurutnya pembangunan infastruktur sangat tergantung pada public private corporation seperti PT Telkom”. Kok belum-belum sudah pesimis? Lemes deh … Slogannya apa, bersama kita bisa ya?

Begitu juga soal listriknya (power) bisa lebih murah dan lebih stabil nggak, masak byar pet melulu? Lha kok malah sekarang PLN bikin upaya pembayaran online via bank, dan ongkosnya dibebankan ke pelanggan, ealah ….

Jadi, masih ingin internetan? Pasti deh, wong anak-anak SMP saja (di Yogyakarta lho, mungkin di kota anda juga khan!) menyerahkan tugas/PR ke gurunya sudah by email je …. masak menghindari internet?. Yang dihindari mestinya BIAYA INTERNET YANG SEKARANG MASIH MAHAL ITU …………………………..!

Advertisements