Tags

, ,

Asyik, ini jaman “sesungguhnya” bagi seorang guru+dosen, mengapa? Kelompok pendidik ini sekarang tidak “diuji” oleh murid+mahasiswa atau guru+dosen lain, atau atasannya, tetapi oleh perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang punya pustaka ilmu nyaris unlimited dan mudah dicari kalau dibutuhkan. Namanya? Internet. Guru+Dosen akan menyerah? Jangan pesimislah …. jadi? Arus globalisasi serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini memang menuntut perubahan sikap dan pola pikir guru+dosen. Sebab, peran guru+dosen saat ini makin tersaingi dengan keberadaan Internet, mungkin juga oleh televisi. Sekolah+Kampus kini melalui guru+dosennya harus bisa menjadi lembaga yang tidak sekadar transfer ilmu, tetapi bagaimana membuat murid+mahasiswa supaya haus untuk mendapatkan transferan ilmu secara swasadar, termasuk juga dalam mempertahankan nilai-nilai luhur.

Internet dan televisi merupakan alternatif kuat sebagai sumber belajar. Sehingga hampir jadi kenyataan, perangkat ini menggeser peran dan fungsi guru+dosen yang PEMALAS & LELET sebagai sumber dan penyampai ilmu. Internet merupakan sumber referensi yang luas sekali, bisa mendalam juga, bisa berkadar positif, bisa pula menyajikan materi negatif untuk belajar siapapun, dimanapun, serta kapanpun. Guru+Dosen mana bisa begini? Artinya, jika guru+dosen tidak memutakhirkan dirinya terhadap perkembangan ilmu dan kemampuan ngenetnya tentu akan ditinggalkan murid+mahasiswanya, sehingga fungsinya yang sebagai motivator, konstruktor serta inspirator bagi murid+mahasiswanya akan menuju kematian, dan efeknya akan berjangka panjang dan sampai pada akhirnya diapun akan “mati” ditinggalkan murid+mahasiswanya. Apa yang dapat diharapkan dari guru+dosen semacam ini untuk mendongkrak daya saing bangsa dengan bangsa lain? Nihil. Fenomena situs jaringan pertemanan semacam Friendster, MySpace dan Facebook, makin menegaskan fenomena masyarakat digital. Dalam konsep ini, masyarakat bagaikan sebuah keluarga besar yang melintasi batas wilayah dan saling aktif bertukar informasi. Apalagi perangkat searching yang makin canggih dan kaya fitur memudahkan murid+mahasiswa mengakses informasi dan ilmu lebih cepat, lebih banyak dan bisa lebih akurat karena sangat mudah melakukan cross reference. Sekolah+Kampus mestinya merupakan promotor untuk how to know dan pendorong penggunaan perangkat ini secara baik dan benar serta sebagai benteng untuk menyaring infiltrasi budaya miring produk globalisasi yang tidak sesuai budaya lokal Indonesia. Di sinilah sekolah+kampus berperan sebagai kunci lembaga transfer sekaligus penjaga nilai. Guru+Dosen sejatinya tetap kunci dalam proses pembelajaran era sekarang. Namun, sebagai agen perubahan, guru+dosen dituntut harus mampu melakukan perubahan serta senantiasa memvalidasi serta memperbaharui kemampuannya, ketrampilannya dan librarynya agar sesuai dengan tuntutan zaman serta tidak “kedahuluan” murid+mahasiswanya.

Kalau masih banyak guru+dosen yang gagap teknologi, tanggungjawab siapa? Ya, tanggungjawab guru+dosen itu sepenuhnya. Ini pasti karena faktor individu itu sendiri yang nggak mau meng-update dan meng-upgrade diri sendiri. Kebangeten. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tentu menuntut pendidik wajib selalu “merubah” diri, dan cara termurah sekaligus termudah ya dengan memberdayakan Internet dalam proses perubahannya. Ada sebuah pemikiran yang menyatakan guru+dosen itu merupakan penentu kualitas peradaban suatu bangsa, ujung tombak pendidikan. Sekolah+Kampus adalah sarana, dan guru+dosen yang membantu proses agar bisa menghasilkan output berkualitas baik. Sekolah yang baik adalah sekolah yang sesungguhnya dapat mengantarkan individu “kurang” kemudian menjadi “lebih”. Banyak anggapan yang menyatakan guru+dosen saat ini tidak mau mengembangkan diri sendiri kecuali kepepet karena ada prpogram sertifikasi, kalau sudah begini bagaimana bisa menjadikan siswa+mahasiswa lebih baik dan mengembang.

Internet bagi sebagian guru+dosen masih dianggap sebagai sesuatu yang asing kok, bukan malah menganggap pesaing. Aneh. Harusnya dianggap pesaing, dan biasanya supaya seseorang nggak mau dikalahkan pesaingnya, dia akan memacu untuk berlatih dan bekerja keras mempertahankan, meningkatkan dan mengembangkan kemampuan profesionalnya. Apalagi jika mampu menaklukkan internet sebagai “pesaingnya” guru+dosen malah bisa memanfaatkannya dengan baik, banyak hal yang bisa didapat melalui perangkat ini. Kalau kita sudah faham bahwa memang semua yang tersaji di internet itu tidak selalu baik, kita nggak perlu khawatir, selalu saja ada cara “melemahkannya” alias melakukan filterisasi, yang penting jangan pernah ada kebijakan asal laranganisasi, nggak jamannya lagi. Ada batasan-batasan yang rasanya tak perlu dimasuki siswa+mahasiswa di internet, iya itu. Untuk itu dibutuhkan kemampuan berinternet secara sehat, yang mestinya tidak cuma untuk guru+dosen saja, semua komponen masyarakat harus diajak perlilaku internetannya mengarah kesana.

Sehingga, ilustrasinya, kalau kita sempat berada di awang-awang sebentar sekarang ini, terus mata kita disorotkan ke dunia pendidikan kita, ada perasaan asyik juga melihat guru+dosen “berperang+bersaing” melawan internet …… artinya guru+dosen pinter-pinteran melawan internet, siapa yang kalah? Mestinya nggak ada yang kalah, kalau guru+dosen tahu positioning diri sebagai pendidik jaman informasi seperti sekarang ini, pasti nggak mau ketinggalan bergumul dengan internet …. terus siapa yang akan menang kalau “persaingan+peperangan” ini berjalan dengan fair dan kontinu? Tentu saja murid+mahasiswa, karena dia akan lebih cepat tumbuh berkembang dengan kualitas yang baik sesuai jamannya, dengan guru+dosennya pun tetap akur karena masih terjadi “keseimbangan upgrading+updating iptek” antara siswa+mahasiswa dengan guru+dosennya …. dan tentu saja pada akhirnya (diharapkan) mampu mendongkrak Human Development Index kita masa depan … bravo: Guru+Dosen >< Internet!

Advertisements