Tags

, ,

Saat ini isu-isu globalisasi yang mencakup HAM, demokrasi, liberalisasi, perdamaian dunia, dan lingkungan hidup kerap kali digunakan oleh negara-negara maju di dunia untuk mendeskriditkan bangsa dan negara lain yang lebih lemah baik dari segi ekonomi maupun politik. Dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya, globalisasi yang didengungkan negaranegara maju secara langsung maupun tidak langsung banyak berpengaruh pada tatanan sosial,
politik, dan budaya bangsa Indonesia dan jelas akan berpengaruh pada kondisi spiritual bangsa. Oleh karena itu, saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada tiga permasalahan utama yang sangat mengkhawatirkan. Tiga permasalahan tersebut antara lain: pertama, tantangan dan mainstream globalisasi; kedua, permasalahan-permasalahan internal seperti korupsi, destabilisasi, separatisme, disintegrasi, dan terorisme; dan ketiga, penjagaan agar ‘roh’ dan semangat reformasi tetap berjalan pada relnya (on the right track).

Permasalahan pertama dan kedua lebih didominasi oleh eksekutif dan legislatif  sementara permasalahan ketiga hendaknya dijawab oleh setiap elemen masyarakat. Pemberdayaan elemen masyarakat, khususnya elemen civitas academica. Karena inti permasalahan ketiga terletak pada pemberdayaan elemen masyarakat pada umumnya dan
pada civitas academica atau bisa disebut mahasiswa khususnya, maka solusi yang harus ditempuh untuk menyelesaikan masalah ini yaitu dengan menanamkan jiwa kebangsaan dan nasionalisme pada elemen masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya. Karena dapat kita ketahui dan lihat sekarang bahwa di era globalisasi yang serba modern rasa kebangsaan dan nasionalisme rakyat Indonesia pada umumnya dan generasi muda pada
khususnya sangat rendah. Contoh yang paling real yaitu: masyarakat lebih senang membeli gula import dari gula hasil dari negeri sendiri, hal itu dilatarbelakangi karena produk dalam negeri dijual lebih mahal dibanding produk luar negeri.

Namun dapat kita ketahui sekarang, untuk menanamkan jiwa kebangsaan dan nasionalisme pada elemen masyarakat banyak sekali kendala yang harus dilalui, diantaranya: kendala waktu, tenaga, daerah yang terpencil, dsb. Maka satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan dan nasionalisme yaitu melalui mahasiswayang kita ketahui sebagai generasi penerus dengan jalan melalui pendidikan Kewarganegarann di Perguruan Tinggi. Pengajaran tersebut diharapkan dapat membangkitkan dan meningkatkan kesadaran mahasiswa akan permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara. Implementasi dari kesadaran tersebut dapat dilihat dari kontribusi dan partisipasi aktif mereka dalam usaha meningkatkan kualitas kehidupan sosial, politik, dan budaya bangsa dan negara secara keseluruhan walaupun hanya dalam skala yang masih kecil.

Pengajaran Kewarganegaraan di Indonesia, dan di negara-negara Asia pada umumnya, lebih ditekankan pada aspek moral (karakter individu), kepentingan komunal, identitas nasional, dan perspektif internasional. Hal ini cukup berbeda dengan Pendidikan Kewarganegaraan di Amerika dan Australia yang lebih menekankan pada pentingnya hak dan tanggung jawab individu serta sistem dan proses demokrasi, HAM dan ekonomi pasar.

Pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan di Indonesia adalah implementasi dari UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 9 ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan di Indonesia Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Di tingkat Pendidikan Dasar hingga Menengah, substansi Pendidikan Kewarganegaraan digabungkan dengan Pendidikan Pancasila sehingga menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Untuk Perguruan Tinggi Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan sebagai MKPK (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian).

Kompetensi yang diharapkan dari mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi antara lain:

a. agar mahasiswa mampu menjadi warga negara yang memiliki pandangan dan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM.

b. agar mahasiswa mampu berpartisipasi dalam upaya mencegah dan menghentikan berbagai tindak kekerasan dengan cara cerdas dan damai.

c. agar mahasiswa memilik kepedulian dan mampu berpartisipasi dalam upaya menyelesaikan konflik di masyarakat dengan dilandasi nilai-nilai moral, agama, dan nilai-nilai universal.

d. agar mahasiwa mampu berpikir kritis dan objektif terhadap persoalan kenegaraan, HAM, dan demokrasi.

e. agar mahasiswa mampu memebrikan kontribusi dan solusi terhadap berbagai persoalan kebijakan publik.

f. agar mahasiswa mampu meletakkan nilai-nilai dasar secara bijak (berkeadaban).

Dari situlah mengapa pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya diajarkan di tingkat SD, SMP, SMA tapi juga sangat penting untuk dijadikan mata kuliah wajib di Perguruan Tinggi, sehingga kita dapat mengetahui solusi untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi oleh negara kita, baik mencakup masalah politik pemerintahan yang sedang dihadapi ataupun masalah ekonomi yang sedang melanda bangsa kita. Jadi kita sebagai mahasiswa sekaligus sebagai penerus bangsa harus aktif berpartisipasi dalam segala kegiatan untuk memajukan bangsa Indonesia. [Ditulis oleh: Nuri Astiti W./Prodi : Matematika/06/196393/PA/11189 –> 85]

Advertisements