Tags

, ,

Pendidikan kewarganegaraan atau biasa disebut dengan mata pelajaran Pkn merupakan salah satu mata pelajaran wajib di setiap sekolah di Indonesia. Mulai dari sekolah tingkat dasar sampai dengan Sekolah tinggi, tak henti-hentinya pendidikan kewarganegaraan diberikan bagi murid-murid atau pelajar. Selama ini sering membuat kita bertanya-tanya, apakah penting untuk mempelajari kewarganegaraan yang isi pelajarannya sendiri dari dulu berturut-turut sama. Jawabannya adalah hanya satu, yakni memang penting. Tapi perlu digaris bawahi lagi bahwa pendidikan kewarganegaraan di Indonesia ini saat ini memang sedikit kurang dari harapan. Menurut sebuah artikel berjudul “Pendidikan kewarganegaraan dan Demokrasi Indonesia” oleh A Ubaidillah dalam harian kompas 16 januari 2009 lalu menyebutkan bahwa pendidikan kewarganegaraan (civic education) yang selama ini diadakan di Indonesia telah menyimpang dari tujuan mulia pendidikan kewarganegaraan itu sendiri. Entah karena model pendekatan pengajaran yang sifatnya tidak dialogis-partisipatoris, atau karena muatan-muatan politis-ideologis yang dikenakan pada pendidikan kewarganegaraan selama masa orde baru, Pendidikan kewarganegaraan dianggap mengalami kegagalan. Dan harga yang harus dibayar karena kegagalan itu amat mahal, antara lain rusaknya moralitas bangsa Indonesia.

Dari artikel tersebut dapat saya simpulkan bahwa reformasi pendidikan kewarganegaraan belum terjadi. Sebagai suatu mata pelajaran kepribadian, pendidikan kewarganegaraan tidak bisa hanya guru yang berbicara, siswa hanya mendengar, pekerjaan rumah, ujian, tugas-tugas, dll. Untuk membuat suatu reformasi pendidikan kewarganegaraan, kita harus merubah semua cara mendidik atau harus dibedakan dengan pelajaran yang lain. Pendidikan kewarganegaraan membutuhkan suatu model pendekatan bernama dialogis-partisipatoris atau model pendekatan belajar kontektual, dimana partisipasi aktif dan dialogis pelajar hanya salah satu unsur dari pendekatan itu. Dapat diartikan bahwa pendidikan apapun harus dimulai dari pengalaman pelajar itu sendiri baik pengalaman hidup bermasyarakat, bernegara, ataupun pengalaman dirinya sendiri. Materi yang tersaji di buku dan silabus hanya akan menjadi suatu acuan atau jawaban dari pengalaman di pelajar sendiri. Dialog anatar pengajar dan pelajar akan menambah daya tarik dan pengetahuan dari si pelajar. Apa gunya jika materi yang terus diberikan kepada pelajar tidak pernah dimengerti oleh pelajarnya, oleh karena itu untuk menumbuhkan suatu pendidikan kewarganegaraan yang tepat sasaran diperlukan suatu pengalam dari si pelajar sendiri.

Selesai dengan konsep pendidikan kewarganegaraan, kita kembali kepada petanyaan awal yang selalu datang, akan pentingnya pendidikan kewarganegaraan. Menurut sebuah undang-undang yang pernah saya baca di suatu situs yang katanya berasal dari buku kewarganegaraan disebutkan bahwa peraturan pendidikan kewarganegaraan tercantum dalam bab II pasal 3 dan 4 serta bab III pasal 5, 6, dan 7. Dalam undang-undang tersebut berisi bahwa pendidikan kewarganegaraan dilaksanakan secara nasional, serta hal-hal yang penting lainnya. Dari tulisan itu dapat saya katakan bahwa pendidikan kewarganegaraan memanglah teramat penting. Bisa kita lihat sendiri Negara Indonesia saat ini. Dari masyarakat bahwa sampai dengan para pejabat-pejabat penting banyak yang melakukan suatu tindakan yang tidak mencerminkan moralitasnya sebagai warga Indonesia. Padahal tujuan diadakannya pendidikan kewarganegaraan itu sendiri telah jelas yakni mewujudkan warga Negara sadar bela Negara berlandaskan pemahaman politik kebangsaan, dan kepekaan pengembangan jati diri dan moral bangsa dalam perikehidupan bangsa.

Sekarang ini adalah saat yang tepat untuk mewujudkannya suatu reformasi pendidikan kewarganegaraan agar bangsa Indonesia dapat kembali menjadi bangsa yang disegani di dunia. Dapat kita bandingkan tingkat moralitas warga Indonesia saat ini dengan Warga dimasa kemerdekaan Indonesia masih diperjuangkan. Mereka hanya berpikir bahwa suatu saat Indonesia pasti akan merdeka, tanpa mengharapkan suatu imbalan, berjuang susah payah hanya demi satu hasil yang besar. Berbeda dengan warga masa kini, kebanyakan kita tidak akan ikut bekerja keras jika tidak ada untungnya buat diri kita sendiri. Inilah salah satu contoh kongkrit bagaimana tingkat moralitas kita saat ini begitu rendah. Oleh karena itu, suatu pelajaran yang dapat meningkatkan tingkat moralitas kita hanyalah pendidikan kewarganegaraan.

Pendidikan kewarganegaraan mengajarkan kita betapa pentingnya memiliki sikap moral yang peka terhadap lingkungan disekitar kita. Bagaimana kita dapat menjadi suatu warga negara yang baik, cinta akan tanah air, menyayangi sesama manusia serta dapat menjadi suatu titik yang penting bagi bangsa dan Negara Indonesia. Akan menjadi apa anak-anak generasi penerus kita jika kita sendiri tidak paham akan pentingnya diri kita bagi bangsa Indonesia. Kerusuhan dimana-mana, pelecehan banyak ditemi, korupsi merajalela, dan yang lebih buruk adalah terpecahnya Bangsa Indonesia yang besar ini. Sebuah pepatah kuno mengatakan bahwa bangsa yang besar memiliki tanggung jawab yang besar, ini menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia yang besar memiliki tanggung jawab besar terhadap warganya, untuk itu dibutuhkan suatu sistem yang dapat menjaga warga Indonesia untuk tetap dapat dilihat sebagai bangsa yang besar. Sistem ini dapat kita anggap sebagai pendidikan kewarganegaraan yang mana jika kita dapat menela’ah semua isi dari pendidikan tersebut kita dapat mengerti akan semua hal yang baik dan menjauhi semua hal yang kita anggap buruk.

Dari semua ulasan diatas, saya berpendapat bahwa pendidikan kewarganegaraan khususnya bagi bangsa Indonesia adalah sangat penting sekali, sedangkan untuk dapat tepat pada sasaran tujuan mulia pendidikan kewarganegaraan harus diadakan suatu reformasi pendidikan agar merubah sistem pendidikan kewarganegaraan yang saat ini tidak sesuai dengan harapan. Reformasi pendidikan kewarganegaraan hanya dapat dilakukan dengan satu cara yang pasti yakni dengan dialog antara pelajar dan pengajar, serta materi yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup berbangsa dan benegara Indonesia. [Ditulis oleh: Putra Pratama Wahyu H/08/269788/PA/12074/GEOFISIKA –> 90]

Advertisements