Tags

, ,

Sebuah berita mengerikan:

Sekitar 15.000 orang di Indonesia meninggal setiap tahunnya akibat pengaruh narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba). Belum lagi HIV/AIDS (pertumbuhannya) seperti tsunami sosial, dikarenakan kasus yang terdeteksi saat ini baru kulit luarnya. Kedua masalah tersebut harus menjadi perhatian serius semua elemen masyarakat, proses penanggulangannya, perlu dilakukan secara bersama dan terus-menerus, karena dampaknya dapat melemahkan bangsa ini. Salah satu pintu masuk narkoba adalah melalui rokok. Karena itu, bagi para pemuda, pelajar, dan mahasiswa yang belum merokok janganlah mendekatinya. Juga, kepada mereka yang telah terlanjur menjadi perokok, agar segera menghentikannya. Apalagi anak sekolah sangat rawan terjerumus narkoba, sehingga memerlukan pengawasan diri yang kuat serta oleh orang tua dan keluarganya sendiri. Daerah yang sangat rawan dengan peredaran narkoba adalah daerah yang merupakan “daerah terbuka” yang memudahkan orang-orang dari provinsi tetangga dan provinsi lainnya masuk-keluar (misalnya: Yogyakarta). Bayangkan kalau penggunaan narkoba di suatu daerah telah melebihi lima persen dari total generasi muda yang ada!. Karena itu, semua elemen masyarakat yaitu pemuka agama, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi pemuda, pimpinan organisasi sosial-kemasyarakatan bersama dengan pemerintah, untuk terus bergandengan tangan melakukan pemberantasan terhadap bahaya narkoba.

Apa yang ada di benak anda? Apa yang ada di pikiran saya, sekarang, tentang hal tersebut di atas?

a. 15.ooo orang per tahun, berarti sekitar 42 orang per hari. Sekali lagi, 42 orang per hari. Bayangkan kalau yang terjerat hal ini kebanyakan generasi muda yang sesungguhnya potensial untuk ikut membangun bangsa, khan sayang sekali!

b. Aksi dan pola peredaran jaringan narkoba itu sudah berbentuk sindikat, sehingga sekali masuk/terjerat sulit melepaskan diri. Lebih baik jangan coba-coba menyeburkan diri, apalagi betul-betul menyeburkan diri. Coba-coba saja sudah berbahaya.

c. Merokok memang pintu masuk narkobaisme. Jadi untuk yang belum terseret arus asap rokok mari seperti saya, hidup tanpa rokok, Insya Allah lebih sehat, karena tidak merusak diri sendiri. Saya tidak ingin mengatakan kaum perokok itu bodoh (maaf, tidak sama sekali! karena merokok merupakan Hak Asasi Manusia dan juga merupakan pengejawantahan Hak pilih dalam kehidupan juga, seperti hak pilih dalam pemilu), tetapi otak, nurani, dan tubuh saya sampai sekarang masih sulit memahami, bagaimana orang-orang kok mau mengonsumsi rokok, wong jelas-jelas iklan dan di bungkusnya juga sudah tertulis : MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN ….. anda teruskan sendiri …. Jadi secara psikologis, kok ya bisa ya (entah sadar atau nggak) ada orang mau menyakiti dirinya sendiri! Rokok saja begitu, apalagi narkoba …. please, say no for it! Untuk anda yang sudah terjerat bakar-bakar tembakau, silakan dinalar sendiri, hidup adalah pilihan, tetapi sebaiknya pilih yang tidak menyakiti/mematikan!

d. Pertemanan juga mesti berhati-hati. Prinsipnya bertemanlah dengan siapapun, yang baik yang buruk, yang cakep yang jelek, yang cantik yang biasa saja, yang kaya yang miskin, yang apa saja deh, tetapi janganlah karena pertemanan harus melahirkan penderitaan, kesakitan, ataupun kesulitan hidup di kemudian hari …. masuk jaringan dan arus pertemanan boleh saja, tapi jangan terbawa arus … manusia hidup harus punya prinsip yang baik secara norma umum: kemanfaatan diri secara pribadi dan secara umum, tidak merusak pribadi dan tidak merusak umum!  Gitu saja beres hidup ini …. Hati-hati juga, lewat jalur “keadaan ekonomi” banyak penyusup/agen smoker & narkobais melancarkan aksinya secara halus, pada awalnya bantuan/gratisan, bungkusnya tolong menolong, …. akhirnya: MATI KAU!

e. Efek perkembangan konsumen narkoba di Indonesia pasti akan mengoyak sendi-sendi pertahanan sosial budaya negara dan bangsa Indonesia, untuk itu para Tomas (Tokoh Masyarakat), Topeng (Tokoh Pengusaha), Toga (Tokoh Agama), Todik (Tokoh Pendidik), Torat (Tokoh Aparat), Toda (Tokoh Daerah), Todat (Tokoh Adat), Tobis (Tokoh Bisnis),  Totik (Tokoh Politik), dan Tokum (Tokoh Hukum) harus bersatu secara konsisten bahu membahu mau mendukung Gerakan Anti Narkoba melalui kewenangannya, kemampuannya dan pengaruhnya. Yang lebih penting lagi dengan KETELADANAN untuk Indonesia masa depan yang lebih baik!

Anda merokok? Saya tidak merokok! Apalagi narkoba, amit-amit ….

Advertisements