Tags

, ,

mardotoways_seri_003

Beberapa waktu lalu saya menghadiri acara rapat tingkat pedukuhan dengan acara inti mengikuti paparan program kegiatan mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Cirebon yang melakukan KKN di lingkungan dukuh dimana saya berada. Pada awalnya acara berlangsung normal saja, komunikasi lancar, penuh keakraban dan berjalan dengan gayeng. Nah kejadian nyata baru terjadi, setelah pak dukuh memberi kode ke mahasiswa (pembawa acara) yang sedang menghandle acara terkait telah diedarkannya makanan kecil dan minuman di ruang rapat secara keseluruhan. Apa yang dinyatakan mahasiswa itu? Kira-kira begini:

……….. “Baik, bapak-bapak dan ibu-ibu, karena sudah tersedia makanan dan minuman di depan kita, mari silakan dimakan!” …….

Waduh, begitu kata-kata “silakan dimakan” diluncurkan seketika para hadirin ketawa kecut-kecut lucu … marah sih ya nggak, tapi kesan rasa menerima kata-kata itu bagi orang-orang tua dari anak-anak muda (mahasiswa) tentu agak janggal dan sedikit mengganggu kesopanan/kesantunan. Secara tata bahasa (saya bukan orang yang punya ilmu bahasa) barangkali tidak ada yang salah ya … apalagi kalau pakai ukuran orang asing, ber-kamu-kamu (you) dari yang muda ke yang tua mungkin tidak ada problem …karena kulturnya sudah begitu … tetapi dalam berkomunikasi lisan – di Indonesia, apalagi di pedesaan, yang kulturnya nyata jauh berbeda dengan di barat – menurut saya sepertinya bukan sekadar masalah tata bahasa belaka, soal pemilihan kata, ketepatan waktu pemunculannya dan kesesuaian dengan positioning pendengarnya tentu penting juga kalau dikaitkan dengan rasa penerimaan orang yang diajak komunikasi, apalagi dalam forum umum (dukuh) seperti itu.

Oleh sebab itu, dimanapun kita berada perlu kiranya belajar bahasa secara baik dan benar, kontekstual, dengan tidak mengabaikan siapa yang dijak komunikasi, dan tempat berkomunikasi serta kemampuan memilih kata yang tepat dan dapat diterima secara normatif. Untuk itu, nggak ada cara lain, kita semua (termasuk generasi muda/mahasiswa) perlu belajar banyak dalam berkomunikasi, apalagi komunikasi lisan. Mestinya kita memahami perlunya “pembedaan” omong di warung kopi ataupun cafe, dengan di forum resmi, ada perbedaan tata krama dan rasa berbahasa. Generasi muda Indonesia jangan meniru kejadian yang muncul dari Gedung DPR sanalah, yang asal nyeplos, nggak ada sopan santun sama sekali. Bagaimana kita mau dihargai orang lain kalau kita sendiri tidak bisa menghargai orang lain (dalam berkomunikasi lisan, misalnya).

Oke nggak, rekan-rekan mahasiswa?

intermezzo_versi_003

Advertisements