Tags

, ,

mardotoways_seri_0012

Kebersamaan tidak mesti sama. Begitu seharusnya. Kebersamaan dalam suatu tim kerja misalnya, khan nggak harus sama beban kerjanya, jenis pekerjaannya, tanggungjawab dan beban kerjanya. Yang penting dan harus tetap terjaga adalah punya visi dan misi yang sama, keinginan sama untuk menyelesaikan tugas sebaik-baiknya, sesuai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan secara bersama-sama. Jadi kalau ada seseorang yang menyatakan bahwa kebersamaan harus selalu sama adalah salah besar, dapat dipastikan orang tersebut belum belajar manajemen dengan benar, serta tidak memahami hal psikologi serta sosiologi secara baik.

Begitupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam suatu komunitas apapun pemahaman kebersamaan tidak harus diartikan sama, bisa juga berbeda. Misalkan Iuran RT untuk menjaga kebersamaan bisa jadi per bulannya berbeda tiap KK, dapat berlaku subsidi silang, untuk yang dianggap mampu iurannya bisa lebih dibandingkan dengan yang berkategori rata-rata. Jadi penentuan dan kalimat yang paling bagus untuk mengakali hal ini secara santun dan proporsional, kalau sudah diputuskan secara musyawarah untuk mufakat, bisa ditulis sebagai berikut, misalnya: “Iuran RT minimum sekian rupiah per KK per bulan”. Nah, jelas, dengan kata minimum, mestinya yang punya berlebih secara psikologis dan sosiologis ikhlas mau memberikan iuran di atas rata-rata. Konteks tentang hal ini bisa diterapkan pula untuk hal lainnya, semisal SPP Mahasiswa. Tetapi jarang ya yang membuat keputusan semacam ini dengan mencanyumkan kata yang mengarah pada kebersamaan tapi tidak selalu berarti sama. Anda bersedia memulai?

Hal yang lain lagi, kebersamaan tidak mesti bersama, lho. Contoh yang saya tampilkan pada tulisan sebelumnya telah menyiratkan hal ini. Ya, memang begitu seharusnya. Saya, istri dan anak juga kerapkali kalau ke toko buku, pasar tradisional ataupun suatu plaza tidak mesti jalan bareng selama di objek tersebut. Karena setiap dari kami punya kepentingan, selera dan keinginan masing-masing. Seperti di toko buku, saya suka ke kelompok buku sosial politik, militer dan komputer. Sementara istri suka buku penyejuk hati dan psikologi, sedangkan anak sudah pasti mojok di bagian komik atau buku cerita, ya sudah demikian adanya, masing-masing berdiri di wilayah masing-masing, tetapi masih dalam situasi kebersamaan di toko buku. Yang penting saling komunikasi, saling memberi informasi kalau ada perpindahan tempat dan tahu “perjanjian waktu”, sehingga semuanya berjalan baik-baik saja. Artinya kebersamaan tetap terjaga, tetapi tidak harus bersama pada suatu objek, waktu atau kegiatan. Akur khan?

intermezzo_versi_001