Tags

, ,

Saya beberapa waktu lalu (19 Februari 2009) dapat email dari salah seorang mahasiswa saya.  Intinya mempertanyakan Apa kontribusi yang telah saya berikan kepada negara? Isi lengkap emailnya:

Saya punya pertanyaan kepada bapak,
1). apa kontribusi bapak untuk negara baik sebagai militer maupun sebagai rakyat sipil?
2). apakah kontribusi yang bapak berikan yang terdapat pada pertanyaan no.1 sudah terlaksana secara maksimal?
3). apabila kontribusi tersebut belum terlaksana secara maksimal, apa yang akan bapak lakukan untuk memaksimalkan kontribusi tersebut?

Waduh ini pertanyaan berat dan sensitif.

Saya terima kasih dengan email ini, tapi saya merasa ini harus hati-hati menjawabnya. Karena dalam pendapat saya masalah kontribusi untuk negara/bangsa harus proporsional dan semua serba relatif, lebih-lebih menurut saya nggak pantaslah saya bicara apa yang telah/dapat saya berikan kepada negara/bangsa kepada orang lain. Cukup disimpan di dalam hati sendiri. Supaya nggak dikira sombong (walau mungkin ada kontribusi sekecil apapun. atau malah saya sesungguhnya belum punya kontribusi apa-apa untuk negara/bangsa), apalagi saya harus menghindari sifat riya’ sesuai keyakinan saya pribadi.

Jadi jawaban saya apa? Inilah jawaban email saya:

Kalaupun saya sudah berkontribusi untuk negara, saya selalu “menyembunyikan” hal ini,nggak pantas diomong-omongkan, karena prinsip saya yang begini ini tergolong pamer atau riya’, itu nggak boleh sesuai keyakinan yang saya anut. Namun sekadar memenuhi pertanyaan anda, saya sedikit saja bercerita (maaf tidak ada maksud untuk pamer). Saya mengajar dimanapun termasuk di AAU/UGM berusaha semaksimum mungkin menjalankannya, dan mengevaluasi/memberi nilai apa adanya. Sehingga beberapa kali berbenturan dengan orang lain/mahasiswa yang tidak memahami bahwa proses ini sebagai yang terbaik untuk siapapun. Dalam menjalankan jabatan apapun (saya sebelumnya banyak di jabatan struktural) berusaha  clean dan selalu mendasarkan pada UU dan aturan yang berlaku. Sehingga beberapa kali berhadapan dengan atasan/pimpinan yang tidak sejalan. Alhamdulillah saya sampai sekarang tetap bisa eksis. Waktu sekolah pun (militer dan sipil) saya pantang menyontek, meminta nilai, dan memberi contekan waktu ujian. Waktu mahasiswa saya sudah jadi aktivis di beberapa organisasi, meski jejak saya nggak ingin saya  pamerkan. Saya menjadi pengurus beberapa organisasi kemasyarakatan tanpa bayaran, pengurus RT 2 kali, dan sekarang sedang membina dukuh/desa sekitar saya. Saya selalu memberi masukan ke beberapa pejabat/tokoh yang saya kenal dengan cara saya (sms/email/lisan) jika mereka tidak “betul” dalam pandangan saya. Saya punya anak asuh yang tiap bulan saya santunin, jumlahnya nggak perlu diungkapkanlah. Kalau dalam dinas militer, terlalu banyak diceritakan! Sementara begitu ya … nanti saya terjebak dalam situasi riya’ …. Insya Allah tidak ya. Kontribusi saya untuk negara, secara pribadi saya anggap masih keciiiiiiiiiiiiiiiiiiill …… dan sangat-sangat belum maksimum! Banyak yang ingin saya lakukan nantinya … tolong didukung ya ….

Begitu kira-kira jawaban saya, maaf jangan ini dianggap pamer, saya takut dikira riya’, apalagi saya bukan caleg, nggak perlu pamer gigi dan unjuk kontribusi untuk negara/bangsa.

Prinsip terindah saya (menurut saya pribadi lho!) yang bisa juga dipakai/diterapkan oleh orang lain ialah:

a. Mencuci harus dengan air bersih. Artinya bersihkanlah diri kita sendiri dulu sebelum ikut “mencuci” orang lain!

b. Kalau nggak sanggup ikut membersihkan, janganlah ikut mengotori. Artinya kalau anda dan saya melihat banyak nggak benernya di sekitar lingkungan kehidupan kita, dan kita nggak sanggup meluruskannya, ya sudah, tenang-tenang saja, jangan malah ikutan nggak bener atawa ikutan ngedan, itu yang terbaik.

Bagaimana menurut anda?