Tags

, ,

Kejadian David di Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

Diberitakan, Mahasiswa asal Indonesia,  David Hartanto Widjaja usai menikam pembimbingnya Profesor Chan Kap Luk di Nanyang Technological University (NTU), terus bunuh diri dengan melompat dari lantai lima gedung kuliahnya. Di kalangan teman-teman dekatnya, David Hartanto Widjaja dipanggil dengan “Ming Ming”. Mahasiswa Indonesia itu dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas. Menurut teman-teman David alias Ming Ming, pria berusia 21 tahun itu belakangan ini menarik diri dari teman-temannya. Mereka menduga hal itu disebabkan tekanan akibat studinya.

Kita terkejut.

Kita terkejut karena mahasiswa tersebut dikenal cerdas dan pernah mengikuti Olimpiade Matematika mewakili Indonesia serta mendapatkan medali perunggu. Bahkan kuliahnya di NTU Singapura juga karena mendapat beaiswa dari Asean Scholarship. Apalagi perangai dan aktivitas mahasiswa tersebut selama ini dikenal tidak ada masalah.

Praduga.

Ada yang menduga hal ini terjadi karena David Hartanto Widjaja telah kehilangan beasiswa Asean Scholarship-nya. Juru Bicara Nanyang Technological University (NTU) mengemukakan hal itu kepada The Straits Times melalui email. Namun banyak pula yang menduga sikap profesor Chan telah memicu perbuatan David. Di lingkungan kampus beredar rumor bahwa penusukan yang dilakukan David terhadap Profesor Chan Kap Luk (45) dilatarbelangi ketidakpuasan David atas nilai proyek akhir yang diberikan dosen pembimbingnya itu. Ada dugaan Prof Chan telah memberikan nilai B sedangkan David mengharapkan Chan memberikan nilai A. “Pasti ada yang salah dalam sistem atau sikap dan tindakan prof sehingga membuat dia memutuskan untuk menyerang dan bunuh diri jika dia tak punya masalah mental,” tulis anggota forum dengan nickname MonkeyBusters. Hal senada disampaikan anggota forum dengan nickname Sunnyplaces. “Mungkin mahasiswa itu tidak senang dengan tindakan prof. Mungkin dia merasa apa yang dilakukan atau dikatakan prof padanya membuat dia merasa harus melakukan perbuatan itu. Kadang-kadang ketika terpojok, siapapun bisa menjadi sangat berbahaya,” tulis sunnyplaces.

Belajar dari Kejadian itu …

Apapun, kejadian itu sudah real nggak bisa diputar balik. Tentu dibalik kejadian itu ada hikmah yang dapat diambil untuk pembelajaran siapapun yang mau bersekolah di luar negeri ataupun di luar kota, termasuk bagi orang tua yang mau mengirimkan anaknya ke luar daerah/negaranya.

a. Kualitas komunikasi. Dari informasi kampusnya diketahui David telah kehilangan beasiswa dan menyembunyikan kenyataan itu dari orang tuanya meski mereka telah sering berkomunikasi, sehingga pihak keluarga tidak tahu kalau beasiswa David bermasalah. Menurut ibu David, David selalu mengatakan tidak ada masalah dengan beasiswanya. Teman-teman David juga tidak mengetahui hal tersebut, dan tidak mengira beasiswa David bermasalah. Dari sini, ada hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan anak, jelas masalah komunikasi tampak ada “ketidakterbukaan” secara total. Apalagi komunikasi by phone (karena terpisah) tentu tidak terlihat raut muka yang bisa menyiratkan isi komunikasi sebenarnya. Untuk itu sebelum melepas anak ke luar kota/luar negeri orang tua tentu perlu mengkondisikan kualitas komunikasi yang maksimum, juga selama berpisahan. Diusahakan ada keterbukaan (apalagi jika muncul masalah dengan studinya) karena dengan komunikasi yang baik dan intens akan mengurangi pengambilan negative decision yang akan dipilih oleh si anak. Hal ini dapat dilakukan tanpa perlu memandang anak itu introvert atau extrovert, cari bentuk dan cara komunikasi yang terbaik.

b. Persiapan jangka panjang untuk semua kemungkinan yang akan terjadi.  Perjalanan waktu kuliah yang cukup panjang, 2 tahun, bahkan 4 tahun, pasti menghadirkan ragam masalah dengan banyak kemungkinan bebannya. Untuk itu anak harus diajari menghadapi kondisi emergency (sesuatu kemungkinan yang paling menyakitkan/membebani) dengan contingency plan yang paling realistis. Dalam kondisi darurat atau menghadapi kasus/masalah yang seberat apapun bagaimana anak diingatkan atau dijarkan untuk tetap masih berfikir dalam kotak logika normal! Ini yang harus dikuatkan, jangan sampai anak mengambil jalan pintas yang salah dan melawan hukum sosial ataupun melawan hukum positif.

c. Upaya pembinaan. Ada baiknya orang tua mengantarkan dan memperkenalkan anak pada keluarga/kolega yang dikenal  dan dapat dipercaya ataupun institusi resmi (semacam KBRI kalau di luar negeri) yang ada di kota tempat anak kuliah untuk dijadikan wakil sementara komunikasi antara orang tua dan anak selama anak kuliah di luar kota/luar negeri. Peran ini pasti cukup signifikan dalam meningkatkan pembinaan terhadap para mahasiswa. Artinya agar tidak muncul kejadian serupa terulang di kemudian hari, anak setidaknya pada kesempatan pertama mengalami permasalahan ada yang diajak bicara. Meskipun selama ini hubungan mahasiswa Indonesia di luar negeri dengan KBRI umumnya sangat bagus, tetapi siapa tahu ada yang loss contact. Setidaknya KBRI (kalau di luar negeri) dibuat seperti rumah sendiri bagi mereka, sedangkan kolega orang tua bisa jadi seperti keluarga sendiri.

d. Persoalan dukungan. Mendapat beasiswa adalah kebanggaan, apalagi untuk pendidikan di luar negeri. Tetapi tetap harus diingat semua beasiswa ada batas dan ketentuannya. Sementara kampus tempat kuliah juga ada aturannya. Jadi harus difahami dukungan finansial juga harus disiapkan untuk kondisi terjelek yang mungkin terjadi. Orang tua harus memahami itu. Karena kehebatan anak dalam studi yang bagaimananpun itu, kalau dihadapkan dengan permasalahan dukungan finansial yang dianggap “tidak terselesaikan” dengan baik dapat mengantarkan kegoncangan yang sangat besar pada diri si anak.

e. Tipe anak yang memiliki kecerdasan luar biasa. Kasus David bisa juga dipandang dari sisi yang agak lain yaitu masalah ukuran intelektual dan logika berfikir. Selama ini dapat kita mengerti anak yang memiliki kecerdasan luar biasa umumnya punya super ego intelektual yang kuat. Semua hal sering diukur dengan logika berfikir. Dengan adanya informasi hubungan antara David dan sang Profesor yang seperti itu, bisa jadi tugas yang dibebankan oleh sang Profesor  ke David mungkin sudah dianggap oleh yang bersangkutan “di luar ambang batas” logika berfikir, artinya kalau dipadankan dengan pemahaman fisika berikutnya ada meta fisika, kalau diterapkan ke kasus David ini logika mungkin sudah di meta logika. Jadi, sang Profesor barangkali menganggap David mampu menembus persoalan/tugas yang diberikan kepadanya, tetapi David sendiri bisa jadi sudah merasa itu “melampaui logika berfikirnya”. Nggak ketemulah. Mungkin, yang satu (pembimbing) over estimate, yang satu (mahasiswa) proportional estimate. Bisa juga cara pandang logika antar mereka berdua terhadap suatu hal tidak “ketemuan”, jadi ada misperception berbasis sains.

Begitu ya? Yang penting mari kita ambil hikmahnya, terutama untuk yang mau kuliah di luar negeri/luar kota, juga orang tuanya, persiapkan secara total, jangan hanya kognitifnya (kemampuan berfikir saja) saja, tapi afektif juga penting …. termasuk juga psikomotoriknya, dan terakhir kemampuan dukungan finansial!, untuk memperlancar studi.