Tags

WN No 1

WNI No 1

Beberapa hari lalu pada suatu acara seminar, seorang pemrasaran mengekspose soal game untuk anak yang isinya berbau pornografi. Intinya yang bersangkutan cenderung menyarankan anak-anak harus “dijauhkan” dengan game. Alasannya banyak game untuk anak yang “nyasar-nyasar” bahkan dalam forum itu ditayangkan pula contoh sebuah game yang ada “nyasar-nyasarnya” ke tampilan untuk orang dewasa ….

Saya selalu berfikir, mengapa sih, kok banyak orang bahkan beratribut pakar selalu berfikir aneh terhadap suatu produk teknologi, entah teknologi komunikasi dan informasi maupun semacam game. Atau produk-produk teknologi lainnya. Selalu saja yang disalahkan teknologinya, selalu saja produk teknologinya yang harus dijauhkan dengan manusianya (orang atau anak-anak) supaya tidak berpengaruh. Lho? Sekali lagi, teknologi itu nggak punya jenis kelamin, gender, usia, nyawa ataupun sifat perilaku tertentu. Jadi mestinya jangan pernah salahkan teknologi. Atau, jangan pernah menjauhi atau “mengharamkan” teknologi tertentu. Kalau mau disalahkan ya manusianya ….

Oke, kembali ke soal game. Saya punya pendapat begini:

1. Apa sih game itu? Menurut saya sama saja substansinya dengan game-game anak-anak jaman dulu (sekarang sudah tua, jadi orang-orang tua). Termasuk sama saja dengan jenis permainan tradisional yang dulu-dulu, yang mungkin sekarang masih tersisa di desa-desa. Kok bisa? Ya iyalah, game itu prinsipnya khan “permainan”, yang bisa melibatkan otak, mental kepribadian ataupun fisik. Bahasa kerennya melibatkan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Itu tantangannya game …. cuma yang zaman dulu-dulu, game tradisional misalnya, kandungan geraknya (psikomotoriknya) banyak dan merata, yang sekarang kandungan geraknya mungkin sedikit karena berbasis teknologi informasi (komputer, HP atau PS) jadi banyak diam di tempat, yang goyang paling tangan, kepala, dan mata. Meskipun juga banyak game sekarang yang “menggunakan” multi indera manusia. jadi sebenarnya substansinya sama saja game sekarang dan “game” jaman dulu, hanya media dan penggunaan komponen kemanusiaannya saja yang berbeda proporsinya.

2. Kalau ada game yang sekarang “tersusupi” dengan tayangan sara ataupun porno, kemudian dimainkan anak-anak, berarti harus ada yang perlu dicermati, jangan salahkan gamenya, karena nggak ada cara yang bisa “menutup sama sekali” peluang munculnya game-geme miring seperti itu. Jadi mestinya, para orangtua anak yang harus mau turun “memilihkan” game, menemani main game, mengajak bermain game bersama-sama. Bukan hanya melarang thok. Ini sudah nyata munculnya game seperti itu, sesuai perkembangan jaman sekarang yang memang “banyak jalur” yang bisa digunakan mencari game semacam itu. Anak dilarang main game di rumah, masih bisa mencari di luar rumah, di tempat temannya. Iya khan …. jadi, malah sebaiknya anak diajak main game saja di rumah dengan memilihkan game yang baik dan mendidik (ini buanyak banget!) sambil memasukkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, kekeluargaan dan motivasi-motivasi, termasuk nilai-nilai agama/moral untuk menghindari game-game yang nggak beres itu ….

3. Memang para orangtua sekarang harusnya nggak boleh gaptek, dan “memperlakukan” anak seperti yang dia jalani dulu …. ini jamnnya sudah berb eda, produk teknologi sudah menyusup ke semua bidang … yang sulit dihindari, jadi harus ada pendampingan ke anak, secara bijak dan mendidik, bukan asal melarang!

4. Biasanya yang jadi problem ber-game ria adalah “kelupaan”, lupa waktu, lupa makan, lupa sholat … lupa tugas kewajiban lainnya … nah inilah yang harus diajarkan orang tua soal manajemen waktu ke anak-anak untuk tanggungjawab, ya masalah hak dan kewajiban yang seimbang, proporsional, ataupun disampaikan¬† “kesenangan itu ada batasnya” supaya penyelesaian tugas-tugas yang harus dilaksanakan tidak terbengkelai …

Kesimpulannya, jangan salahkan gamenya (bukan berarti saya bersetuju dengan pembuat game yang menayangkan hal-hal prono lho … ), salahkan manusianya (artinya kita sendiri yang harus mengkoreksi diri sendiri cara menghadapi situasi dan kondisi kehidupan anak-anak sekarang yang banyak berubah!) …