logoku

Ada tiga hal yang ingin saya tuliskan disini, semuanya terkait logika pada lalulintas jalan (darat) kita. Karena hari ini saya merasakan dan memperhatikan hal ini agak aneh.

1. Logika belok kiri jalan terus. Aturan ini sebenarnya sudah lama ada, tetapi masih banyak masyarakat kita yang nggak “ngeh”. Seringkali di traffic light gara-gara orang yang nggak ngerti aturan ini hampir berakibat tabrakan. Dulu (lama sekali) memang kalau lampu merah semua kendaraan harus berhenti, entah lurus ataupun belok kiri. Kecuali ada aturan khusus (tulisan, belok kiri boleh terus) pengendara yang belok kiri boleh lanjut. Tetapi aturan sekarang logikanya khan terbalik, kalau lampu merah, semua pengendara yang mau lurus harus berhenti, yang belok kiri harus terus (belok), nggak boleh berhenti. Kecuali ada aturan khusus (misalnya, belok kiri ikuti lampu) pengendara yang mau belok kiri harus patuh dan berhenti saat lampu warna merah. Realitasnya? Banyak yang belum ngerti aturan ini! Sosialisasi kurang, apa memang mereka nggak mau tahu aturan begitu.

2. Logika pelanggaran lampu traffic light. Kalau traffic light warna merah dan anda terus melaju nggak berhenti pasti kalau ada polisi anda ditangkap, ditilang, dianggap melanggar aturan lalu lintas. Tapi ada yang aneh kalau yang terjadi sebaliknya. Apa itu? Seperti yang saya alami di pertigaan (menuju) Bandara Adisutjipto Yogyakarta dengan jalan Solo. Kalau anda melaju dari arah barat, sesampai di pertigaan itu, kalau lampu merah, anda yang ke kanan (ke bandara) harus berhenti. Tapi kalau anda mau lurus ke arah Solo, harus terus, karena aturannya Jalan lurus terus. Nah, saya mengalami, di depan saya seorang pengendara motor karena belum faham daerah itu, dari barat melaju kencang dan mau jalan lurus, tapi sewaktu lampu merah dia ikut-ikutan berhenti, mengerem mendadak. Untungnya dengan sigap saya di belakangnya dapat menyesuaikan ikut mengerem mendadak, walaupun itu tetap nyaris tabrakan, kira-kira jarak antar kendaraan tinggal 5 cm. Apa yang terjadi? Dia nggak ditilang tuh sama polisi, malah cuma disuruh jalan terus. Logikanya gimana? Kalau lampu merah, terus, dianggap melanggar. Kalau lampu hijau (karena yang merah ke kanan) dia berhenti, apa nggak dianggap melanggar ya?

3. Logika kawasan tertib lalu lintas. Di beberapa jalan di Yogyakarta, saya yakin di daerah lain juga ada, ada dipasang tanda-tanda tulisan “Anda memasuki kawasan tertib lalu lintas”. Saya jadi bingung, apa maunya tulisan itu? Mengingatkan kita bahwa di kawasan itu kita harus (ikut) tertib berlalu lintas, begitu? Terus di kawasan lain (di luar itu) boleh nggak tertib lalu lintas , begitu? Aneh! Ini harusnya nggak perlu ada, tertib lalu lintas itu harusnya dimana-mana, semuanya. Jangan campur adukkan dengan pemahaman kawasan lainnya, misalnya, “Anda memasuki kawasan industri Manyar Gresik”. Jelas, batas antar kawasan dan non kawasan terlihat nyata ada tidaknya industri disitu. Itu substansinya. Jadi bukan, di kawasan ini ada tertib lalu lintas, di tempat lainnya nggak perlu tertib lalu lintas. Gimana sih logikanya?

Bener ya? ….