logoku

Nasionalisme, apa ada yang kuno? Apa juga ada yang modern ya? Nasionalisme ya memang nasionalisme. Bagi seorang warganegara nasionalisme yang dipunyai mestinya diarahkan ke Identitas Nasional, Cita-cita Nasional dan Tujuan Nasional negaranya. Itu yang dinamakan nasionalisme modern, cinta dan berkarya pada negaranya dalam koridor demi negara secara benar dan baik. Kalau nasionalisme kuno alias primordial, itu mirip loyalitas ke personal, bungkusnya seperti pro patria tetapi sebenarnya pro perseorangan atau kelompok. Bahkan apapun yang digagas dan diputuskan pimpinannya/tokohnya meski melawan konstitusi dan hukum yang berlaku tetap dijalankan. Ini berbahaya. Nasionalisme semu namanya. Kalau normal tokohnya diikuti, apabila perilaku dan tindakan tokohnya bertentangan dengan Konstitusi ataupun aturan hukum yang berlaku, diingatkan, bila perlu ditinggalkan kalau tidak mau ke track yang benar. Jadi tidak terkesan sendhika dawuh (Jawa) atau taqlid buta! Harus dipikirkan untuk kepentingan yang lebih luas, masyarakat, bangsa dan negara, sesuai konstitusi.

Apa masih ada yang mengusung nasionalisme kuno? Wah, sepertinya masih ada tuh. Lihat saja berita media akhir-akhir ini, kala sang tokoh bilang X, padahal tindakan ini melawan hukum, demokrasi dan konstitusi, nyatanya pengikutnya ngikuti, meski nggak banyak juga sih orangnya. Saya jadi berfikir apa nggak pakai pikiran dalam melakukan dan menerjemahkan “loyalitas”? Mari kita bangun nasionalisme yang benarlah, apapun arahkan pada Konstitusi (perekat bangsa) dan Aturan hukum yang berlaku (biar ada dasar tertib hukum), sehingga diharapkan demokrasi makin bersemai di Indonesia dengan indah.

Indonesiaku, Indonesia anda juga khan? I Love Indonesia, forever and forever.

Advertisements