logoku

Yogyakarta memang kota motor dan sepeda. Sudah mentradisi. Hal ini dikarenakan banyak pendatang yang berstatus pelajar dan mahasiswa yang butuh alat transportasi, dan yang tergolong terjangkau ya sepeda dan sepeda motor. Sebagian saja yang bawa mobil. Persolannya, banyak dari mereka yang nggak faham bagaimana cara berkendaraan secara baik dan benar di jalanan (yogyakarta juga, yang mulai ada tradisi kemacetan). Mungkin karena kebiasaaan di daerah asal yang memang begitu ….. Bagaimana sih bentuk perilaku mereka yang saya anggap termasuk dunguisme:

a. Naik mobil seperti naik motor saja. Sleat-sleot seenaknya ….

b. Ngobrol antar pengendara yang naik sepeda/sepeda motor berdampingan dua kendaraan, bahkan ada yang sampai tiga kendaraan ….

c. Naik motor sudah perlahan (tidak melihat/mengikuti irama kecepatan kendaraan di jalan itu pada umumnya) terus ambil posisi di tengah jalan lagi.

d. Guyon atawa ngobrol antar pengendara dan penumpang, sehingga nggak konsentrasi lihat keadaan jalanan … berbahaya nhi!

e. Nggak ngerti ada aturan “belok kiri jalan terus” ….

f. Memarkir kendaraan seenaknya ….

Walah-walah banyak banget, capai kalau ditulis semua ….