logoku

Menyongsong Peringatan ke 63 Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, apa yang kita lakukan? Tirakatan atau Tasyakuran? Jawabnya harus tegas: Tasyakuran. Mengapa?

Dua kata itu telah kita kenal dengan baik. Tirakatan ada unsur asal dari bahasa Jawa, sedang Tasyakuran ada unsur asal dari bahasa Arab. Agaknya bukan asal muasal kata yang perlu kita cermati, namun makna hakiki dua kata itu. Meski dua kata itu sama-sama menggambarkan proses upaya manusia dalam ber-kontemplasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tetapi dua kata itu memiliki perbedaan situasi dan kondisi dalam implementasinya. Tirakatan seakan-akan meminta diri kita harus menunjukkan perilaku prihatin, sabar, meski tetap berupaya keras, karena cita-cita belum kesampaian, harapan belum terwujud, dalam konteks suasana ini berarti seolah-olah kemerdekaan belum tercapai, jadi masih tingkatan “kemerdekaan”. Disini tidak terlihat unsur “terima kasih” kepada Allah SWT, Tuhan Yang maha Kuasa. Sedangkan kalau Tasyakuran menunjukkan pemahaman bahwa kita tetap berperilaku sabar dan tetap berusaha keras , karena cita-cita belum kesampaian semuanya, harapan belum tergenggam seluruhnya, dalam konteks sekarang berarti makna kemerdekaan belum sepenuhnya diperoleh. Tetapi difahami telah ada cita-cita dan harapan yang telah direngkuh, dan terlihat ada tabiat “terima kasih” kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberi sebagian kemerdekaan sebagai manusia dan sebagai anak bangsa. Sudah ada “sebagian kemerdekaan” yang telah didapat, dan sebagian itulah yang patut disyukuri. Karena dengan mensyukuri apa-apa yang sudah digenggam, kita pasti akan mendapatkan lagi nikmat-nikmat kemerdekaan lainnya yang kiranya belum kita peroleh. Itulah makna Tasyakuran. Jadi kalau Tirakatan kesannya “sedih” terus karena belum mencapai apa yang diharapkan, sedangkan Tasyakuran menampakkan performance netral, bahkan bangga dan gembira (meski tidak berlebihan) telah mencapai sebagian “kemerdekaan “. Toh, memang kemerdekaan bukan nggak ada batasnya, tapi kemerdekaan pada level tertinggi masih terus diupayakan. Oleh sebab itu, kita Tasyakuran saja …..

Begitukah saudara-saudara? Dirgahayu Republik Indonesia ke-63. Mari bersama-sama kita berusaha menuju kemerdekaan dan “kemerdekaan” dengan optimis, jangan pernah nglokro, menyerah maupun putus asa. Ingatlah “Atas berkat rahmat Allah ….

Advertisements