logoku

     Organisasi militer secara umum memiliki kekhasan orientasi yang tentu berbeda dengan organisasi sipil. Yahya Muhaimin menulis bahwa ciri organisasi militer yang mendorongnya untuk selalu berorientasi pada perubahan dan modernitas ialah hakikat dari lembaga kemiliteran untuk berlaga melawan organisasi militer negara lain guna melindungi eksistensi dan keamanan bangsa dan negaranya. Oleh karena itu harus selalu memperbaharui diri supaya tidak lebih lemah dari musuhnya.   Karena itu, organisasi kemiliteran modern senantiasa harus memiliki orientasi standar internasional [Taher, Elza Peldi (Ed), 1987, Menatap Masalah Pembangunan Indonesia,  Lembaga Kajian Manajemen Indonesia, Jakarta ].

     Dengan ciri demikian, organisasi militer dalam kerangka modernisasi tentu memerlukan inovasi strategis yang harus mengkombinasikan dukungan anggaran yang tidak sedikit dengan pemberdayaan semua sumber daya secara simultan dan terarah.

     Tulisan Brigjen TNI Nurhadi Purwosaputro, M.Sc. dengan judul Teknologi Modern dan Pertahanan Keamanan Nasional [Karim, M. Rusli dan Ridjal Fauzie (Ed), 1992, Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan, PT. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta] memperdalam pemahaman tentang bagaimana hubungan militer dan teknologi. Dalam tulisan itu dinyatakan bahwa pesawat terbang harganya sangat mahal, sehingga dapat menguras sumber daya ekonomi negara pembeli (biasanya sumber dayanya terbatas). Akan tetapi seandainya negara sedang berkembang tersebut secara finansial mampu, kesulitan yang lebih mendasar tetap menjadi tantangan. Kesulitan ini berkisar dengan sumber daya kesisteman sebagai unsur pendukung untuk mencapai tingkat optimasi operasional bagi pesawat modern. Hal ini disebabkan arti modern yang ditandai dengan tingkat komputerisasi canggih tersebut tidak dipersepsi dengan baik (hanya pesawatnya itu sendiri), semestinya (justru ini yang paling penting) keseluruhan sistem pendukung harus telah mencapai dimensi komputerisasi yang memadai. Jadi diperlukan pula peningkatan dimensional baik ditinjau dari segi personel maupun organisasi. Negara-negara sedang berkembang pada umumnya belum siap menghadapi ini. Kalau kesenjangan (discrepancy) antara teknologi yang diadopsi dengan disposisi pendukung belum teratasi maka proses alih teknologi akan mengalami hambatan serius.

     Militer harus memainkan peran penting dalam mencari terobosan untuk memantapkan manajemen organisasi dengan mengacu pada kecenderungan yang digunakan oleh organisasi modern tanpa meninggalkan hakiki keorganisasiannya sebagai organisasi yang bergerak dan berfungsi dalam bidang militer. Makna penting disini adalah bagaimana memberdayakan SDM sebagai pusat perubahan proses dalam organisasi. Hal ini sejalan dengan yang pernah ditulis oleh Gary Dessler dalam bukunya Human Resources Management. Desller menulis antara lain bahwa perubahan-perubahan dalam lingkungan manajemen SDM menuntut SDM untuk memainkan peranan yang lebih utama dalam organisasi. Trend ini mencakup keragaman angkatan kerja yang terus bertambah, perubahan teknologi yang cepat, globalisasi, dan perubahan-perubahan dalam dunia kerja. seperti pergeseran ke arah masyarakat jasa dan tekanan yang terus berkembang pada pendidikan dan modal manusia [Dessler, Gary, 1997, Human Resources Management, Seventh Edition, Prentice Hall, Inc. New Jersey 07458].