Kemarin (minggu, 23 Maret 2008) saya hadir pada pengajian di sekitar lingkungan rumah untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ada satu kisah menarik dari penceramah dan cukup menggelitik bagi kita untuk dijadikan cermin dan renungan dalam membina keluarga.

Alkisah ada seorang anak hidup dalam keluarga berkecukupan. Ayah dan Ibunya pekerja keras yang masing-masing mempunyai karir bagus, begitu sibuknya kedua orangtua sampai-sampai untuk mengasuh anak semata wayang tidak punya banyak waktu. Akibatnya sang anak lebih pantas disebut “anak pembantu”, karena hidup kesehariannya lebih banyak didampingi pembantu daripada orangtuanya, walaupun semua kebutuhan anak yang masih 5 tahun sangat tercukupi, bahkan boleh dibilang berlebih.  

Suatu hari, seperti biasanya, anak itu main gambar-gambar di tanah dengan pecahan batu kecil di halaman rumahnya yang asri. Ditemani pembantu. Ayah dan Ibunya sedang dinas di Jakarta. Saat menggambar itu, kebetulan sang anak menemukan satu paku lancip. Anak yang masih balita itu betapa senang menemukan barang yang mungkin jarang dipegangnya. Sambil berloncatan dia meneruskan kesenangannya corat-coret dan menggambar sesukanya. Tetapi dimana dilakukannya? Rupanya dia mencoba menggambar di tempat yang dianggap lebih baik, di body mobil ayahnya di garasi rumah. Mobil itu termasuk gres, baru 2 minggu dikirim ke rumah oleh dealer. Pembantunya saat itu sedang ke belakang mengambilkan air minum.

Sambil senyum-senyum kegirangan sang anak menuntaskan gambarnya. Eit, sang pembantu datang. Lalu dengan bergegas dia menarik sang anak untuk tidak mencoret-coret mobil baru dan mewah itu. Pertamanya sang anak menangis, tetapi lama-lama dapat ditenangkan oleh pembantu yang kemudian mengajaknya tidur siang.

Malam harinya kedua orang tuanya datang. Kelihatan capek sekali. Tapi sempat bertanya keadaan rumah dan anaknya ke pembantu. Sang pembantu entah lupa entah takut, ya jawabnya baik-baik saja, tidak ada laporan negatif. Parahnya dua manusia yang super sibuk itu  nengok anaknya yang sudah tertidur pulas saja tidak sempat dilakukan, langsung masuk ke kamar, dan tertidur nyenyak.

Pagi hari udara cerah. Sang anak bangun tidur mendengar suara ayah ibunya sudah datang senang bukan main. Dengan bergegas didatangi ayahnya, sambil melaporkan kegiatannya. Sang ayah menyambut anak dengan biasa-biasa saja. Lalu sang anak merengek mengajak ayahnya untuk melihat hasil gambarnya. “Ayo pa, sini, aku udah gambar bagus. Ayo lihat”, katanya. Lalu ayahnya ngikuti anaknya menuju garasi mobil. Dengan sangat bangganya sang anak ngoceh pada ayahnya. “Pa bagus khan gambaranku? bagus khan pa?”, celoteh si kecil itu sambil nunjuk gambar di mobil yang dibikinnya. Apa reaksi sang ayah? Bukannya memuji, menyayang apalagi merespon positif. Tetapi yang terjadi sebaliknya, sang ayah marah besar melihat mobil mewah dan masih baru penuh coretan anaknya. Emosi tidak terkontrol, dengan serta merta mengambil sapu kayu yang ada di sebelahnya. Sambil mengumpat, dipukulkan kayu itu ke pantat anaknya. Sekali dua kali tidak puas juga, dipukulkan lagi, dan secara refleks kedua tangan anaknya bergerak terkena pukulan kayu yang keras itu. “Aduh pa, ampun pa. Sakit”, keluhnya. Namun sang ayah masih menambah beberapa pukulan sambil mengumpat. “Dasar anak nakal. Bodoh! Nggak tahu mahalnya mobil ini. Jadi apa kamu nanti? Anak bandel”. Setelah anaknya kelihatan benar-benar sakit sang ayah baru berhenti menganiaya. Setelah itu pembantunya dipanggil untuk ngurusin sang anak, diobati ala kadarnya. Ibunya kemana? Rupanya setali tiga uang dengan sang ayah, habis bangun tidur, tahu kejadian itu, sebentar nengok sang anak, merintah ini itu ke pembantu, lalu siap-siap ke kantor, ada rapat direksilah.

Sudah tiga hari anak itu kesakitan, badannya panas, tangannya lebam-lebam. Obat yang diberikan cuma penurun panas dan obat merah oles. Sang pembantu sebenarnya mau berinisiatif membawa ke dokter, tapi takut majikannya marah. Sementara perhatian majikan ke anaknya hanya sekilas-sekilas saja. Setelah seminggu tidak ada perubahan kondisi badan, sang pembantu akhirnya dengan “keberaniannya” memaksa sang majikan untuk membawa sang anak ke dokter. Apa yang terjadi?

Hasil diagnosa dan pengobatan oleh dokter sang anak dapat disembuhkan panasnya dengan minum beberapa jenis obat. Tetapi untuk tangan sang anak sulit diselamatkan karena terjadi pembengkakan, ada infeksi dari luka yang bernanah, satu-satunya jalan penyelamatan adalah melakukan amputasi terhadap kedua tangan sang anak. Ya, diamputasi!

Betapa terkejutnya kedua orangtua itu. Tidak ada pilihan lain, akhirnya mereka menyetujui untuk operasi amputasi. Beberapa jam setelah pelaksanaan operasi, obat pembius yang dimasukkan ke tubuh sang anak mulai habis pengaruhnya, sang anak perlahan sadar dan terbangun. “Papa, mama, aku dimana ini? Mengapa aku disini papa?”, erangnya secara perlahan. Lalu dia lihat sekelilingnya, kemudian lihat tubuhnya dan tangannya yang tinggal lengan dengan dibungkus gips/perban.  Seketika dia menjerit. “Papa, mama, mana tanganku? Mana tanganku? Aku mau menggambar. Papa, kembalikan tanganku….Aku mau salaman sama papa, sama mama, minta maaf kalau kemarin nggak boleh nggambar di mobil itu. Tapi mana tanganku pa? Kembalikan tanganku ma…..Aku mau menggambar.”  

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Bisakah dua tangan anak kita samakan nilainya dengan mobil semewah apapun? Wahai para orangtua apa yang kau cari, materikah? Untuk siapakah? Anakmu jangan dikorbankan!