9 comments on “AYO DUKUNG MOBNAS, KIAT ESEMKA BOLEH ….

  1. Pingback: Ares

  2. Pingback: Open Office

  3. Pingback: Walking

  4. Seharusnya, respon saya seperti Pak Mardoto juga pada saat tau ada mobil buatan SMK.
    Tapi, tu gak terjadi… Aneh??? Gak juga. Silahkan saya disalahkan. Tapi, saya belajarnya juga dari pengalaman. Lo?
    Di negeri tercinta ini, apabila ada sebuah proyek yang berkaitan dengan ‘penciptaan produk’, maka minimal ada tiga kemungkinan yang terjadi.
    1. Penciptaan produk tersebut benar-benar dilakukan paling tidak menyangkut hal yang benar-benar substansial. Jika mobil dijadikan contoh, maka pembuatan mesin, dimulai desain hingga jadi, betul-betul dilakukan sendiri. Yang lain; seperti ban, bolehlah pake ban becak.. ^_^
    2. Yang terjadi bukan penciptaan ato pembuatan produk. Melainkan sekedar perakitan.
    Tuh, kan… jadi ga asik, kan??? Tunggu dulu!!! Masih ada yang ga asik lagi di nomer…
    3. Yang ada cuma nempel merek doang!!!
    Ah.. masak?!! Gak perlu disebutin proyek mana & produk apa, tapi saya pernah menyaksikan dengan mata kepala pundak lutut kaki sendiri…
    Apa saya curiga? Nggak, lah… gak ada untungnya buat saya.
    Saya hanya mau curhat kalo saya kesulitan untuk berbaik sangka…
    Sekian Pak Mardoto. Maju terus…. Salam.

    • Saya setuju dengan sebagian komentar mbak desi, tetapi kita harus realistis terhadap produsen itu sendiri yang bukan dari pihak yg memiliki modal banyak, tentu akan sangat berlebihan jika berharap jika siswa smk membuat mesin dari desain hingga jadi (Apalagi dari masa-masa awal produksi mobil esemka dibuat)

      Sampai saat ini saya merasa esemka masih berpotensi untuk berkembang, tp yg menurut saya yg perlu diperhatikan

      1. Okelah sekarang merakit dulu, bagian2 lain impor, tp akankah “hanya” begini terus? Jika tidak ada peningkatan dalam pengembangan mobilnya ataupun kualitas SDMnya, maka industri otomotif “nasional” esemka hanya akan jalan ditempat (masih memungkinkan untuk laku meskipun jalan ditempat)

      2. Mobil esemka sekarang layaknya artis yg naik daun, mendapat perhatian khusus dari media cetak dan elektronik, artinya esemka mendapat pengiklanan gratis dari media, namun dengan berjalannya waktu maka nilai berita mobil esemka juka semakin berkurang, dan akhirnya tidak ada lagi media yg memberitakan. Nah disinilah esemka membutuhkan anggaran tambahan untuk mengiklankan mobil esemkan (bukan masalah besar sih klo esemka tidak terlalu “pelit” untuk mengiklankan mobil ini, dikemudian hari)

      3. Sikap dan support pemerintah, inilah yg menjadi hal yg paling penting terciptannya mobnas, berapa lamakah pemerintah bisa mensupport mobnas, peran apa saja yg dilakukan pemerintah untuk mensupport mobnas? dalam hal ini mobil esemka. Sampai saat ini tercatat 18 mobnas yg sebagian besar akhirnya bangkrut atau tidak meneruskan produksi dikarenakan ketidakmampuan/ketidakinginan pemerintah untuk mensupport secara berkelanjutan sampai mobnas itu bisa mandiri

      Apalagi banyak pemimpin indonesia tidak terlalu “peduli” dengan masalah mobnas contohnya?

      http://metrotvnews.com/read/news/2012/01/06/77670/Foke-Sesumbar-SMK-Jakarta-Bisa-Buat-Pesawat/6

      Lha klo dari dulu bisa buat, kenapa baru sekarang sertifikasi, tes kelayakan dilakukan? Betulkan? :capedeh:

      Lalu apakah mobnas harus tergantung pada pemerintah? tentu saja tidak masih ada Nuri, Komodo dan Tawon. Tetapi dengan adanya peran pemerintah disini tentu akan mempercepat berkembangnya industri otomotif di indonesia :). semoga tidak oot :)

      Terima kasih

  5. Pingback: My Homepage

Comments are closed.