69 comments on “POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

  1. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Soliditas adalah modal dasar yang sangat penting dalam sebuah bangsa. Ibarat sebuah bangunan dalam sebuah gedung, soliditas layaknya fondasi yang menentukan seberapa kuat sebuah gedung bisa ditinggikan dan seberapa besar beban yang bisa ditanggung oleh gedung tersebut. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dibangun untuk membentuk sebuah bangsa yang hebat adalah kekompakan atau soliditas. Betapa tidak sebuah bangsa sejatinya adalah sebuah organisasi. dan sebagaimana sebuah organisasi, maka ia terdiri dari berbagai individu yang bergabung (Bhineka Tunggal Ika), bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama termasuk salah satu diantaranya adalah dalam hal penanganan bencana alam yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Dari sinilah mengapa soliditas atau kekompakan menjadi kunci keberhasilan sebuah bangsa. Karena individu yang bergabung kemudian bekerjasama tentu perlu menyamakan persepsi dan perasaan agar proses kerjasama bisa berjalan dengan lancar dan tujuan bisa tercapai dengan cara yang terbaik. Hal positif yang dapat dipetik akan adanya suatu permasalahan dalam sebuah bangsa khususnya mengenai solidaritas dan soliditas penanganan bencana alam adalah
    1. Clear Goals : mempunyai satu misi, persepsi, tujuan yang jelas antara satu individu dengan individu yang lain dalam membantu sesama.
    2. Contribution : saling memberikan kontribusi yang jelas dari masing-masing individu dimana jika disatukan maka akan mempercepat program kerja yang telah direncanakan.
    3. Connection : dengan berada didaerah rawan bencana dan membantu mengatasi permasalahan yang ada maka akan meningkatkan koneksi/jaringan yang luas dan dapat saling mengenal antara suatu individu/ suku bangsa.
    4. Change Management : manajemen perubahan akan rasa syukur, kesadaran, dan kesabaran dalam menjaga lingkungan dapat bertambah antara individu yang satu dengan yang lain.
    5. Commitment : Nampak sekali komitmen antara relawan, korban, dan pemerintah dalam mengatasi korban bencana alam
    6. Conflict Management : dapat lebih sejenak melupakan dan mengendalikan diri dalam konflik yang mungkin sedang terjadi antara suku bangsa, mereka semua saling bersatu untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah bencana alam.
    7. Communication : dapat meningkatkan komunikasi yang efektif dengan semua orang.
    8. Cooperation : saling bekerjasama baik dalam evakuasi korban, distribusi pangan, pengobatan, dan bahkan memulihkan kondisi psikologis para korban yang mengalami trauma akibat bencana yang terjadi.

    Seruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat agar menjadikan tahun 2005 sebagai tahun solidaritas dan kebersamaan untuk membangun kembali negeri dari musibah bencana dan berbagai kesulitan akibat krisis yang lalu, perlu disambut baik karena saat ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia bukanlah saling menyalahkan atau memberikan pernyataan yang bersifat kurang sehat. Sepanjang tahun 2004 di samping terjadi berbagai kecelakaan transportasi yang merenggut jiwa saudara-saudara kita, negara kita juga ditimpa oleh berbagai musibah bencana alam. Dalam upaya untuk mewujudkan tahun 2005 sebagai tahun solidaritas tersebut, Indonesia akan mengadakan Pertemuan Khusus Pemimpin ASEAN untuk menangani akibat gempa bumi dan tsunami (Special ASEAN leader metting on aftermath of eartquake and tsunamy) yang akan mengundang 23 negara dan empat organisasi internasional. Pertemuan tersebut rencananya akan berlangsung tanggal 6 Januari 2005, pertemuan puncak tersebut untuk menggalang komitmen bersama yang bersifat menggalang tindakan nyata untuk mengatasi bantuan darurat serta merehabilitasi dan rekonstruksi di negara-negara yang terkena musibah. Rekontruksi akibat bencana tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit, karenanya melalui konferensi internasional tersebut diharapkan negara-negara donor dapat membantu pembiayaan rekontruksi. Konferensi internasional tersebut juga diharapkan menghasilkan komitmen untuk bekerjasama membantu korban gempa dan gelombang tsunami, tidak hanya dalam keadaan darurat namun juga penanganan tahap rehabilitasi serta menciptakan harapan baru bagi korban musibah.
    Makin disadari menanggulangi bencana tidak efektif kalau difokuskan pada akibat dan bukan pada penyebab. Karena itu sambil terus berusaha menolong dengan memberikan bantuan emergency dan livelihood, capacity building dalam rangka kewaspadaan bencana menjadi fokus kegiatan di berbagai tempat yang rentan bencana karena gejala-gejala alam.
    salah satu upaya nyata yang selama ini dilakukan oleh para relawan bencana alam yaitu di Aceh Singkil, bekerja sama antara masyarakat dan pemerintah daerah melakukan proyek percontohan menanam hutan mangrove (bakau) yang ternyata direspons positif masyarakat. Di Maluku, Papua, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Nias, Mentawai, dan daerah lainnya, program penanggulangan bencana mulai difokuskan pada capacity building untuk menolong masyarakat agar waspada terhadap bencana. Di mana pun masyarakat hidup, ancaman bencana dari kejadian alam ataupun konflik sosial selalu bersifat potensial. Karena itu setiap orang harus menyadari dan berusaha keras mencegah terjadinya bencana dari kejadian-kejadian alam maupun konflik sosial. Kesiapsiagaan masyarakat itulah yang seharusnya menjadi fokus manajeman atau pananganan bencana secara nasional. Terlebih bagi Indonesia yang rawan bencana, kebijakan pembangunan harus benar-benar fokus pada pencegahan bencana dan bukan sekadar pada penanganan korban bencana.
    Keuntungan dari fokus seperti ini sangat besar. Dengan fokus pada pencegahan potensi bencana akan jauh berkurang karena masyarakat secara bersama dengan kesadaran sendiri mencegah dan meminimalkan kemungkinan terjadinya bencana. Dari segi biaya, juga akan sangat menghemat biaya yang seharusnya dikeluarkan menangani akibat bencana. Selain itu, dalam konteks Indonesia yang belum banyak memiliki peralatan teknologi peringatan dini bencana tidak harus repot terus membeli peralatan yang sangat mahal. Sebagai negara yang rentan bencana, merupakan suatu kehormatan bangsa kalau kita tidak perlu merepotkan dunia internasional apabila terjadi gempa bumi atau gunung meletus. Bencana harus bisa dicegah atau diminimalisasi oleh anak bangsa sendiri. Walaupun ada gejala alam yang menyebabkan bencana yang tidak bisa dihindari, tetaplah harus dimaksimalkan atau dioptimalkan upaya pencegahan yang bersifat massal.
    Kita tentu dapat menjadikan bencana sebagai salah satu sarana membangun solidaritas kemanusiaan internasional dan global, namun demikian pencegahan bencana merupakan kewajiban moral bangsa sendiri. Terlebih kita harus malu, kalau ternyata dana-dana penanggulangan bencana masih dikorupsi oknum tertentu. Kita telah memiliki undang-undang penanggulangan bencana dan kita juga telah memiliki suprastrukturnya. Tinggal kita memfokuskan sehingga penanganan bencana menunjukkan kedewasaan dan kemandirian serta harga diri bangsa.

    REFERENSI :

    MULTIPLY.COM

    http://ekky-psikologi08.blogspot.com/2010/11/forming-menjadi-sebuah-kelompok_26.html

    http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20101017043645AAPmqIX

    Error! Hyperlink reference not valid.

    file://pseksmultiplycomjournalitem4.htm

    Nama : Ivana Putri Risyanti
    Nim : 03004
    Prodi : D3 Rekam Medis UGM

  2. Potensi kerawanan bencana sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa

    Wilayah Indonesia yang terhampar dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Hampir tiap hari kita mendengar ada bencana di berbagai daerah, baik yang ringan maupun yang berat seperti tsunami. Beragam bencana alam berupa longsor, gempa, tsunami dan sebagainya terus melanda Negeri tercinta, Indonesia. Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 14 jenis ancaman terjadinya bencana. Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagaln teknologi, epidemi dan wabah penyakit serta konflik sosial.
    Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang diantara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Ia membentang dari mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan. Indonesia memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang lebih 240 buah, di mana hampir 70 di antaranya masih aktif. Zone kegempaan dan gunung api aktif Circum Pasifik amat terkenal, karena setiap gempa hebat atau tsunami dahsyat di kawasan itu, dipastikan menelan korban jiwa manusia amat banyak.
    Secara histografi, Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami. Pasca meletusnya Gunung Krakatau yang menimbulkan tsunami besar di tahun 1883, setidaknya telah terjadi 17 bencana tsunami besar di Indonesia selama hampir satu abad (1900-1996). Bencana gempa dan tsunami besar yang terakhir terjadi pada akhir 2004 di Aceh dan sebagian Sumatera Utara. Lebih dari 150.000 orang meninggal dunia. Tapi gempa bumi terjadi hampir di setiap tahun di Indonesia. Setelah gempa Aceh di akhir 2004, pada 2005 Pulau Nias dan sekitarnya juga dilanda gempa. Sekitar 1000 orang menjadi korban. Akhir Mei 2006 ini, giliran Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah diporakporandakan gempa bumi. Korban meningggal mencapai 5.000 orang lebih. Berbagai daerah di Indonesia merupakan titik rawan bencana, terutama bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan letusan gunung berapi.
    Wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sewaktu-waktu lempeng ini akan bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara. Hari-hari ini Indonesia berduka dengan musibah bencana alam yang terjadi berganti dan bersamaan. Belum pulih dan tertangani bencana banjir Wasior, Papua, tanah air kita sudah didera bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi. Masih disusul lagi dengan gejala 22 gunung berapi yang tersebar di kepulauan Nusantara kita yang menunjukkan peningkatan aktivitas. Tanah air kita sungguh-sungguh dihadapkan pada risiko bencana alam yang meningkat dalam waktu bersamaan. Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Rasa solidaritas yang sangat luar biasa juga ditemukan diantara mahasiswa, mereka juga bersemangat menggalang dana di berbagai tempat, seperti di kampus mereka masing-masing, di jalan raya, dan sebagainya. Lebih konkretnya lagi, banyak ditemui pula mahasiswa yang menjadi sukarelawan -sukarelawan penanggulangan bencana Merapi ataupun bencana di tempat lain. Mereka bergabung dan bergotong royong bersama sukarelawan lainnya dari PMI, Tim SAR, TNI, polisi serta lembaga- lembaga bantuan sosial lainnya. Tidak jarang juga, organisasi mahasiswa pun ikut membuka posko – posko tersendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana. Perubahan iklim saat ini terjadi secara ekstrim, kondisi saat ini untuk Indonesia wilyah barat sesungguhnya memasuki musim kemarau namun bersifat basah. Hal ini terjadi dimana pada saat musim kemarau masih terdapat curah hujan yang cukup tinggi. Sehingga dari musim hujan lalu hingga masuk musim kemarau saat ini hamper terjadi hujan yang cukup tinggi intensitasnya.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat. Namun, di balik “bencana alam” tersebut terkandung beribu-ribu hikmah yang bisa kita ambil, selain membentuk sikap sabar. Di antaranya ialah meningkatnya rasa solidaritas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Semuanya kembali pada rasa senasib seenanggungan sebagai manusia. Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana. Baik atas nama individu maupun institusi. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung mengagendakan “turba” ke masyarakat korban bencana, dengan mendirikan posko peduli bencana.
    Masyarakat pun yang menjadi korban akibat bencana yang menimpa daerah tersebut. Karena bencana tidak pandang bulu atas korban yang akan dihantamnya. Selain itu, pemerintah sebagai yang paling bertanggungjawab dalam menjamin keselamatan rakyat juga lamban, bahkan terkesan lalai. Kita tentunya sangat prihatin. Tapi disisi lain, kita juga bangga dengan rakyat Indonesia yang memperlihatkan solidaritas besar. Solidaritas itu berupa sumbangan dana untuk korban bencana dan ratusan relawan yang kadang-kadang harus mengadu nyawa di Mentawai dan Merapi. Kendati solidaritas rakyat Indonesia sangat besar dan membanggakan, kita jangan terus bergantung pada kerelaan berbagi masyarakat. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan mengorganisasikan solidaritas besar ini. Setiap bencana tentunya berkonsekuensi pada biaya besar secara ekonomi dan social. Kalau jujur, dan jika bisa dihitung, sebenarnya masyarakat Indonesia menanggung bagian paling besar dari setiap bencana. Bahkan biaya tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali dari pemerintah sesungguhnya dating dari rakyat Indonesia berupa pajak dan pungutan lainnya. Jumlahnya saat ini triliunan rupiah.
    Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana. Ternyata, di balik derita masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai, justeru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia. Menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia. Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya. Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir. Jadi, potensi kerawanan bencana sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa indonesia.

    REFERENSI

    http://blog-indonesia.com/blog-archive-14554-32.html Diakses 11 Januari 2011 pukul 21.03 WIB
    http://nasional.kompas.com/read/2010/04/16/13150815/Memahami.Kerawanan.Bencana.di.Indonesia Diakses 11 Januari 2011 pukul 18.26 WIB
    http://teraskita.wordpress.com/2010/11/06/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/ Diakses 12 Januari 2011 pukul 20.36 WIB
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html Diakses 11 Januari 2011 pukul 18.52 WIB
    http://www.harianbhirawa.co.id/arsip/18977-solidaritas-korban-bencana Diakses 12 Januari 2011 pukul 20.52 WIB
    http://www.pdat.co.id/hg/political_pdat/2006/06/19/pol,20060619-01,id.html Diakses 12 Januari 2011 pukul 20.46 WIB
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam Diakses 11 Januari 2011 pukul 20.10 WIB

    Nama : Kustini Dwi Lestari
    NIM : 08/271592/DPA/3024
    Prodi : REKMED B

  3. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Soliditas adalah modal dasar yang sangat penting dalam sebuah bangsa. Ibarat sebuah bangunan dalam sebuah gedung, soliditas layaknya fondasi yang menentukan seberapa kuat sebuah gedung bisa ditinggikan dan seberapa besar beban yang bisa ditanggung oleh gedung tersebut. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dibangun untuk membentuk sebuah bangsa yang hebat adalah kekompakan atau soliditas. Betapa tidak sebuah bangsa sejatinya adalah sebuah organisasi. dan sebagaimana sebuah organisasi, maka ia terdiri dari berbagai individu yang bergabung (Bhineka Tunggal Ika), bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama termasuk salah satu diantaranya adalah dalam hal penanganan bencana alam yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Dari sinilah mengapa soliditas atau kekompakan menjadi kunci keberhasilan sebuah bangsa. Karena individu yang bergabung kemudian bekerjasama tentu perlu menyamakan persepsi dan perasaan agar proses kerjasama bisa berjalan dengan lancar dan tujuan bisa tercapai dengan cara yang terbaik. Hal positif yang dapat dipetik akan adanya suatu permasalahan dalam sebuah bangsa khususnya mengenai solidaritas dan soliditas penanganan bencana alam adalah
    1. Clear Goals : mempunyai satu misi, persepsi, tujuan yang jelas antara satu individu dengan individu yang lain dalam membantu sesama.
    2. Contribution : saling memberikan kontribusi yang jelas dari masing-masing individu dimana jika disatukan maka akan mempercepat program kerja yang telah direncanakan.
    3. Connection : dengan berada didaerah rawan bencana dan membantu mengatasi permasalahan yang ada maka akan meningkatkan koneksi/jaringan yang luas dan dapat saling mengenal antara suatu individu/ suku bangsa.
    4. Change Management : manajemen perubahan akan rasa syukur, kesadaran, dan kesabaran dalam menjaga lingkungan dapat bertambah antara individu yang satu dengan yang lain.
    5. Commitment : Nampak sekali komitmen antara relawan, korban, dan pemerintah dalam mengatasi korban bencana alam
    6. Conflict Management : dapat lebih sejenak melupakan dan mengendalikan diri dalam konflik yang mungkin sedang terjadi antara suku bangsa, mereka semua saling bersatu untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah bencana alam.
    7. Communication : dapat meningkatkan komunikasi yang efektif dengan semua orang.
    8. Cooperation : saling bekerjasama baik dalam evakuasi korban, distribusi pangan, pengobatan, dan bahkan memulihkan kondisi psikologis para korban yang mengalami trauma akibat bencana yang terjadi.

    Seruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat agar menjadikan tahun 2005 sebagai tahun solidaritas dan kebersamaan untuk membangun kembali negeri dari musibah bencana dan berbagai kesulitan akibat krisis yang lalu, perlu disambut baik karena saat ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia bukanlah saling menyalahkan atau memberikan pernyataan yang bersifat kurang sehat. Sepanjang tahun 2004 di samping terjadi berbagai kecelakaan transportasi yang merenggut jiwa saudara-saudara kita, negara kita juga ditimpa oleh berbagai musibah bencana alam. Dalam upaya untuk mewujudkan tahun 2005 sebagai tahun solidaritas tersebut, Indonesia akan mengadakan Pertemuan Khusus Pemimpin ASEAN untuk menangani akibat gempa bumi dan tsunami (Special ASEAN leader metting on aftermath of eartquake and tsunamy) yang akan mengundang 23 negara dan empat organisasi internasional. Pertemuan tersebut rencananya akan berlangsung tanggal 6 Januari 2005, pertemuan puncak tersebut untuk menggalang komitmen bersama yang bersifat menggalang tindakan nyata untuk mengatasi bantuan darurat serta merehabilitasi dan rekonstruksi di negara-negara yang terkena musibah. Rekontruksi akibat bencana tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit, karenanya melalui konferensi internasional tersebut diharapkan negara-negara donor dapat membantu pembiayaan rekontruksi. Konferensi internasional tersebut juga diharapkan menghasilkan komitmen untuk bekerjasama membantu korban gempa dan gelombang tsunami, tidak hanya dalam keadaan darurat namun juga penanganan tahap rehabilitasi serta menciptakan harapan baru bagi korban musibah.
    Makin disadari menanggulangi bencana tidak efektif kalau difokuskan pada akibat dan bukan pada penyebab. Karena itu sambil terus berusaha menolong dengan memberikan bantuan emergency dan livelihood, capacity building dalam rangka kewaspadaan bencana menjadi fokus kegiatan di berbagai tempat yang rentan bencana karena gejala-gejala alam.
    salah satu upaya nyata yang selama ini dilakukan oleh para relawan bencana alam yaitu di Aceh Singkil, bekerja sama antara masyarakat dan pemerintah daerah melakukan proyek percontohan menanam hutan mangrove (bakau) yang ternyata direspons positif masyarakat. Di Maluku, Papua, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Nias, Mentawai, dan daerah lainnya, program penanggulangan bencana mulai difokuskan pada capacity building untuk menolong masyarakat agar waspada terhadap bencana. Di mana pun masyarakat hidup, ancaman bencana dari kejadian alam ataupun konflik sosial selalu bersifat potensial. Karena itu setiap orang harus menyadari dan berusaha keras mencegah terjadinya bencana dari kejadian-kejadian alam maupun konflik sosial. Kesiapsiagaan masyarakat itulah yang seharusnya menjadi fokus manajeman atau pananganan bencana secara nasional. Terlebih bagi Indonesia yang rawan bencana, kebijakan pembangunan harus benar-benar fokus pada pencegahan bencana dan bukan sekadar pada penanganan korban bencana.
    Keuntungan dari fokus seperti ini sangat besar. Dengan fokus pada pencegahan potensi bencana akan jauh berkurang karena masyarakat secara bersama dengan kesadaran sendiri mencegah dan meminimalkan kemungkinan terjadinya bencana. Dari segi biaya, juga akan sangat menghemat biaya yang seharusnya dikeluarkan menangani akibat bencana. Selain itu, dalam konteks Indonesia yang belum banyak memiliki peralatan teknologi peringatan dini bencana tidak harus repot terus membeli peralatan yang sangat mahal. Sebagai negara yang rentan bencana, merupakan suatu kehormatan bangsa kalau kita tidak perlu merepotkan dunia internasional apabila terjadi gempa bumi atau gunung meletus. Bencana harus bisa dicegah atau diminimalisasi oleh anak bangsa sendiri. Walaupun ada gejala alam yang menyebabkan bencana yang tidak bisa dihindari, tetaplah harus dimaksimalkan atau dioptimalkan upaya pencegahan yang bersifat massal.
    Kita tentu dapat menjadikan bencana sebagai salah satu sarana membangun solidaritas kemanusiaan internasional dan global, namun demikian pencegahan bencana merupakan kewajiban moral bangsa sendiri. Terlebih kita harus malu, kalau ternyata dana-dana penanggulangan bencana masih dikorupsi oknum tertentu. Kita telah memiliki undang-undang penanggulangan bencana dan kita juga telah memiliki suprastrukturnya. Tinggal kita memfokuskan sehingga penanganan bencana menunjukkan kedewasaan dan kemandirian serta harga diri bangsa.

    REFERENSI :

    MULTIPLY.COM

    http://ekky-psikologi08.blogspot.com/2010/11/forming-menjadi-sebuah-kelompok_26.html

    http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20101017043645AAPmqIX

    file://Mimbar%20Opini%20-%20Pasca%20Musibah%20Bencana%20Alam%20Dibutuhkan%20Solidaritas%20dan%20Kebersamaan%20Sesama%20Bangsa%20Di%20dunia%20mimbar-opini.htm

    file://pseksmultiplycomjournalitem4.htm

    Nama : Ivana Putri Risyanti
    Nim : 03004
    Prodi : D3 Rekam Medis UGM

  4. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, angin puting beliung, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagalan teknologi, epidemi dan wabah penyakit serta konflik sosial. Karena keadaan geografis Indonesia yang seperti tersebut di atas menimbulkan banyak potensi kerawanan bencana alam.
    Beberapa hari ini, kita sering mendengar dari media elektronik berita-berita tentang bencana yang melanda negeri kita. Bencana-bencana itu contohnya Banjir Lahar Dingin akibat letusan Gunung Merapi, banjir di beberapa daerah di Indonesia, Tanah Longsor, Badai Tsunami, dan Angin Besar seperti Puting Beliung. Bencana alam yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tentunya membawa berbagai dampak, baik di bidang ekonomi, pendidikan, politik, agama maupun pola relasi sosial. Semua dampak yang ditimbulkan akibat bencana alam ini tidak semata-mata bernilai negatif (merugikan) masyarakat. Tanpa kita sadari potensi kerawanan bencana itu sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa. Contoh yang dekat dengan kita adalah bencana erupsi merapi tanggal 26 Oktober 2010 yang mengakibatkan kebingungan masyarakat di sekitar kaki Gunung Merapi. Masyarakat lari meninggalkan rumahnya untuk menghindari ancaman awan panas. Bencana yang mengagetkan tersebut mengetuk hati semua masyarakat Indonesia untuk segera membantu meringankan beban para korban bencana. Dilihat dari segi ekonomi, dampak akibat letusan tersebut adalah terhambatnya aktivitas sebagian besar masyarakat karena mereka harus tinggal di pengungsian untuk mengikuti anjuran dari instansi penanggulangan bencana. Letusan Gunung Merapi yang mengeluarkan abu vulkanik sangat berpengaruh terhadap kehidupan warga masyarakat di sekitar Gunung Merapi. Awan panas dari mulut Gunung Merapi meluluhlantahkan apa yang ada di sekitrnya baik itu makhluk hidup termasuk manusia maupun benda-benda mati di sekitarnya juga hancur. Wilayah yang berada di radius beberapa kilometer dari puncak Merapi juga terkena imbasnya. Banyak tanaman yang tumbang karena terkena abu vulkanik. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi banyak yang kehilangan mata pencahariannya yang sebagian besar sebagai petani karena lahan pertanian mereka hancur. Rumah-rumah juga luluh lantah. Kita tentunya ikut mendukung, bahwa masa tanggap bencana akhirnya ikut diperpanjang oleh pemerintah sebagai akibat dari kesulitan memprediksi pasang surut aktivitas gunung berapi tersebut. Akan tetapi, juga harus dihindari menurunnya rasa kemandirian masyarakat karena pada akhirnya masyarakat yang secara mandiri mengurus kepentingan penghidupan mereka. Lahan pertanian harus secara optimal pengurusannya karena sebagaimana diketahui abu vulkanik dari Gunung Merapi sangat menyuburkan tanah. Dari segi pendidikan, tentunya anak-anak menjadi terbengkalai belajarnya. Banyak gedung-gedung sekolah yang hancur akibat awan panas. Selain itu, gedung-gedung sekolah banyak yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Akibatnya, anak-anak sekolah diliburkan sekolahnya. Di bidang politik, para pengungsi tentulah memiliki pilihan sebagai aliran politik yang tentunya sangat mengaharapkan adanya perhatian dari partai politik untuk mengulurkan bantuan kepada para korban bencana. Pada saat ini masyarakat mengharapkan partisipasi orang-orang politik dan bukan hanya mengingat mereka ketika akan terjadi pemilihan umum.
    Setelah erupsi Merapi berhenti, sekarang banjir lahar dingin mengancam daerah di sekitar sungai yang alirannya dari Gunung Merapi. Banjir Lahar yang parah di daerah Jumoyo Magelang. Material dari Gunung Merapi menutupi badan jalan Magelang Yogyakarta. Lalu lintas yang melewati jalan ini mati total. Disilah terlihat solidaritas dan soliditas dari warga sekitar untuk membantu pemakai jalan. Masyarakat dengan iklas berusaha membantu mencarikan jalan alternatif agar masyarakat dari Kota Magelang bisa tetap ke Yogyakarta dan begitu pula sebaliknya. Dengan menggunakan alat-alat seadanya mereka memberikan tanda-tanda penunjuk jalan. Masyarakat sekitar selalu memberikan informasi kepada pengendara tentang rute-rute jalan.
    Terlepas dari adanya dampak-dampak negatif, ada dampak positif yang mungkin oleh sebagian masyarakat tidak disadari. Dengan adanya bencana alam sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa. Sebagai contoh ketika bencana secara betibu-tubi melanda Indonesia banyak masyarakat yang berbondong-bondong ingin membantu korban bencana tersebut. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka membantu semampunya baik secara materiil maupun nonmateriil. Di beberapa tempat di penjuru Indonesia, banyak kita jumpai aksi penggalangan dana. Misi sosial ini bukan saja dilakukan oleh para relawan dan aktivis sosial/kemanusiaan, tetapi juga dari kalangan mahasiswa hingga anak-anak siswa playgroup. Maksudnya tentu saja untuk ikut menggalang dukungan bantuan bagi para korban bencana alam. Selain itu kalau aksi tersebut dilakukan oleh para siswa playgroup pastilah misinya juga untuk membentuk karakter anak bangsa agar memiliki kepedulian sosial yang tinggi ketika sudah dewasa nanti. Bantuan yang diberikan pada koban bencana harus berkelanjutan, tidak hanya bersifat sementara. Bantuan tersebut harus bisa mendorong masyarakat untuk meningkatkan kemandiriannya. Dalam menghadapi bencana seperti sekarang ini, peran dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemimpin bangsa dalam memberikan keteladanan sangat penting. Mereka dituntut untuk memberikan keteladanan dalam melaksanakan kepedulian sosial. Keteladanan penting untuk menumbuhkan kembali rasa kepercayaan masyarakat pada pemimpinnya. Soliditas diantara pemimpin bangsa juga harus tetap ditingkatkan agar negara ini tidak semakin terpuruk.

    DAFTAR REFERENSI

    1. Dikutip dari: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam
    2. Dikutip dari: http://www.harianbhirawa.co.id/arsip/18977-solidaritas-korban-bencana
    3. Dikutip dari: http://bataviase.co.id/node/458998
    4. Dikutipdari: http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6555:makna-sosial-gunung-sinabung&catid=59:opini&Itemid=215

    ALIFIA WAHYU WULANDARI
    08 / 271570 / DPA / 03011
    D3 REKAM MEDIS UGM

  5. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, angin puting beliung, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagalan teknologi, epidemi dan wabah penyakit serta konflik sosial. Karena keadaan geografis Indonesia yang seperti tersebut di atas menimbulkan banyak potensi kerawanan bencana alam.
    Beberapa hari ini, kita sering mendengar dari media elektronik berita-berita tentang bencana yang melanda negeri kita. Bencana-bencana itu contohnya Banjir Lahar Dingin akibat letusan Gunung Merapi, banjir di beberapa daerah di Indonesia, Tanah Longsor, Badai Tsunami, dan Angin Besar seperti Puting Beliung. Bencana alam yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tentunya membawa berbagai dampak, baik di bidang ekonomi, pendidikan, politik, agama maupun pola relasi sosial. Semua dampak yang ditimbulkan akibat bencana alam ini tidak semata-mata bernilai negatif (merugikan) masyarakat. Tanpa kita sadari potensi kerawanan bencana itu sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa. Contoh yang dekat dengan kita adalah bencana erupsi merapi tanggal 26 Oktober 2010 yang mengakibatkan kebingungan masyarakat di sekitar kaki Gunung Merapi. Masyarakat lari meninggalkan rumahnya untuk menghindari ancaman awan panas. Bencana yang mengagetkan tersebut mengetuk hati semua masyarakat Indonesia untuk segera membantu meringankan beban para korban bencana. Dilihat dari segi ekonomi, dampak akibat letusan tersebut adalah terhambatnya aktivitas sebagian besar masyarakat karena mereka harus tinggal di pengungsian untuk mengikuti anjuran dari instansi penanggulangan bencana. Letusan Gunung Merapi yang mengeluarkan abu vulkanik sangat berpengaruh terhadap kehidupan warga masyarakat di sekitar Gunung Merapi. Awan panas dari mulut Gunung Merapi meluluhlantahkan apa yang ada di sekitrnya baik itu makhluk hidup termasuk manusia maupun benda-benda mati di sekitarnya juga hancur. Wilayah yang berada di radius beberapa kilometer dari puncak Merapi juga terkena imbasnya. Banyak tanaman yang tumbang karena terkena abu vulkanik. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi banyak yang kehilangan mata pencahariannya yang sebagian besar sebagai petani karena lahan pertanian mereka hancur. Rumah-rumah juga luluh lantah. Kita tentunya ikut mendukung, bahwa masa tanggap bencana akhirnya ikut diperpanjang oleh pemerintah sebagai akibat dari kesulitan memprediksi pasang surut aktivitas gunung berapi tersebut. Akan tetapi, juga harus dihindari menurunnya rasa kemandirian masyarakat karena pada akhirnya masyarakat yang secara mandiri mengurus kepentingan penghidupan mereka. Lahan pertanian harus secara optimal pengurusannya karena sebagaimana diketahui abu vulkanik dari Gunung Merapi sangat menyuburkan tanah. Dari segi pendidikan, tentunya anak-anak menjadi terbengkalai belajarnya. Banyak gedung-gedung sekolah yang hancur akibat awan panas. Selain itu, gedung-gedung sekolah banyak yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Akibatnya, anak-anak sekolah diliburkan sekolahnya. Di bidang politik, para pengungsi tentulah memiliki pilihan sebagai aliran politik yang tentunya sangat mengaharapkan adanya perhatian dari partai politik untuk mengulurkan bantuan kepada para korban bencana. Pada saat ini masyarakat mengharapkan partisipasi orang-orang politik dan bukan hanya mengingat mereka ketika akan terjadi pemilihan umum.
    Setelah erupsi Merapi berhenti, sekarang banjir lahar dingin mengancam daerah di sekitar sungai yang alirannya dari Gunung Merapi. Banjir Lahar yang parah di daerah Jumoyo Magelang. Material dari Gunung Merapi menutupi badan jalan Magelang Yogyakarta. Lalu lintas yang melewati jalan ini mati total. Disilah terlihat solidaritas dan soliditas dari warga sekitar untuk membantu pemakai jalan. Masyarakat dengan iklas berusaha membantu mencarikan jalan alternatif agar masyarakat dari Kota Magelang bisa tetap ke Yogyakarta dan begitu pula sebaliknya. Dengan menggunakan alat-alat seadanya mereka memberikan tanda-tanda penunjuk jalan. Masyarakat sekitar selalu memberikan informasi kepada pengendara tentang rute-rute jalan.
    Terlepas dari adanya dampak-dampak negatif, ada dampak positif yang mungkin oleh sebagian masyarakat tidak disadari. Dengan adanya bencana alam sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa. Sebagai contoh ketika bencana secara betibu-tubi melanda Indonesia banyak masyarakat yang berbondong-bondong ingin membantu korban bencana tersebut. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka membantu semampunya baik secara materiil maupun nonmateriil. Di beberapa tempat di penjuru Indonesia, banyak kita jumpai aksi penggalangan dana. Misi sosial ini bukan saja dilakukan oleh para relawan dan aktivis sosial/kemanusiaan, tetapi juga dari kalangan mahasiswa hingga anak-anak siswa playgroup. Maksudnya tentu saja untuk ikut menggalang dukungan bantuan bagi para korban bencana alam. Selain itu kalau aksi tersebut dilakukan oleh para siswa playgroup pastilah misinya juga untuk membentuk karakter anak bangsa agar memiliki kepedulian sosial yang tinggi ketika sudah dewasa nanti. Bantuan yang diberikan pada koban bencana harus berkelanjutan, tidak hanya bersifat sementara. Bantuan tersebut harus bisa mendorong masyarakat untuk meningkatkan kemandiriannya. Dalam menghadapi bencana seperti sekarang ini, peran dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemimpin bangsa dalam memberikan keteladanan sangat penting. Mereka dituntut untuk memberikan keteladanan dalam melaksanakan kepedulian sosial. Keteladanan penting untuk menumbuhkan kembali rasa kepercayaan masyarakat pada pemimpinnya. Soliditas diantara pemimpin bangsa juga harus tetap ditingkatkan agar negara ini tidak semakin terpuruk.

    DAFTAR REFERENSI

    1. Dikutip dari: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam
    2. Dikutip dari: http://www.harianbhirawa.co.id/arsip/18977-solidaritas-korban-bencana
    3. Dikutip dari: http://bataviase.co.id/node/458998
    4. Dikutipdari: http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6555:makna-sosial-gunung-sinabung&catid=59:opini&Itemid=215

    ALIFIA WAHYU WULANDARI
    08 / 271570 / DPA / 03011
    D3 REKAM MEDIS UGM

  6. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, angin puting beliung, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagalan teknologi, epidemi dan wabah penyakit serta konflik sosial. Karena keadaan geografis Indonesia yang seperti tersebut di atas menimbulkan banyak potensi kerawanan bencana alam.
    Beberapa hari ini, kita sering mendengar dari media elektronik berita-berita tentang bencana yang melanda negeri kita. Bencana-bencana itu contohnya Banjir Lahar Dingin akibat letusan Gunung Merapi, banjir di beberapa daerah di Indonesia, Tanah Longsor, Badai Tsunami, dan Angin Besar seperti Puting Beliung. Bencana alam yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tentunya membawa berbagai dampak, baik di bidang ekonomi, pendidikan, politik, agama maupun pola relasi sosial. Semua dampak yang ditimbulkan akibat bencana alam ini tidak semata-mata bernilai negatif (merugikan) masyarakat. Tanpa kita sadari potensi kerawanan bencana itu sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa. Contoh yang dekat dengan kita adalah bencana erupsi merapi tanggal 26 Oktober 2010 yang mengakibatkan kebingungan masyarakat di sekitar kaki Gunung Merapi. Masyarakat lari meninggalkan rumahnya untuk menghindari ancaman awan panas. Bencana yang mengagetkan tersebut mengetuk hati semua masyarakat Indonesia untuk segera membantu meringankan beban para korban bencana. Dilihat dari segi ekonomi, dampak akibat letusan tersebut adalah terhambatnya aktivitas sebagian besar masyarakat karena mereka harus tinggal di pengungsian untuk mengikuti anjuran dari instansi penanggulangan bencana. Letusan Gunung Merapi yang mengeluarkan abu vulkanik sangat berpengaruh terhadap kehidupan warga masyarakat di sekitar Gunung Merapi. Awan panas dari mulut Gunung Merapi meluluhlantahkan apa yang ada di sekitrnya baik itu makhluk hidup termasuk manusia maupun benda-benda mati di sekitarnya juga hancur. Wilayah yang berada di radius beberapa kilometer dari puncak Merapi juga terkena imbasnya. Banyak tanaman yang tumbang karena terkena abu vulkanik. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi banyak yang kehilangan mata pencahariannya yang sebagian besar sebagai petani karena lahan pertanian mereka hancur. Rumah-rumah juga luluh lantah. Kita tentunya ikut mendukung, bahwa masa tanggap bencana akhirnya ikut diperpanjang oleh pemerintah sebagai akibat dari kesulitan memprediksi pasang surut aktivitas gunung berapi tersebut. Akan tetapi, juga harus dihindari menurunnya rasa kemandirian masyarakat karena pada akhirnya masyarakat yang secara mandiri mengurus kepentingan penghidupan mereka. Lahan pertanian harus secara optimal pengurusannya karena sebagaimana diketahui abu vulkanik dari Gunung Merapi sangat menyuburkan tanah. Dari segi pendidikan, tentunya anak-anak menjadi terbengkalai belajarnya. Banyak gedung-gedung sekolah yang hancur akibat awan panas. Selain itu, gedung-gedung sekolah banyak yang digunakan sebagai tempat pengungsian. Akibatnya, anak-anak sekolah diliburkan sekolahnya. Di bidang politik, para pengungsi tentulah memiliki pilihan sebagai aliran politik yang tentunya sangat mengaharapkan adanya perhatian dari partai politik untuk mengulurkan bantuan kepada para korban bencana. Pada saat ini masyarakat mengharapkan partisipasi orang-orang politik dan bukan hanya mengingat mereka ketika akan terjadi pemilihan umum.
    Setelah erupsi Merapi berhenti, sekarang banjir lahar dingin mengancam daerah di sekitar sungai yang alirannya dari Gunung Merapi. Banjir Lahar yang parah di daerah Jumoyo Magelang. Material dari Gunung Merapi menutupi badan jalan Magelang Yogyakarta. Lalu lintas yang melewati jalan ini mati total. Disilah terlihat solidaritas dan soliditas dari warga sekitar untuk membantu pemakai jalan. Masyarakat dengan iklas berusaha membantu mencarikan jalan alternatif agar masyarakat dari Kota Magelang bisa tetap ke Yogyakarta dan begitu pula sebaliknya. Dengan menggunakan alat-alat seadanya mereka memberikan tanda-tanda penunjuk jalan. Masyarakat sekitar selalu memberikan informasi kepada pengendara tentang rute-rute jalan.
    Terlepas dari adanya dampak-dampak negatif, ada dampak positif yang mungkin oleh sebagian masyarakat tidak disadari. Dengan adanya bencana alam sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa. Sebagai contoh ketika bencana secara betibu-tubi melanda Indonesia banyak masyarakat yang berbondong-bondong ingin membantu korban bencana tersebut. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka membantu semampunya baik secara materiil maupun nonmateriil. Di beberapa tempat di penjuru Indonesia, banyak kita jumpai aksi penggalangan dana. Misi sosial ini bukan saja dilakukan oleh para relawan dan aktivis sosial/kemanusiaan, tetapi juga dari kalangan mahasiswa hingga anak-anak siswa playgroup. Maksudnya tentu saja untuk ikut menggalang dukungan bantuan bagi para korban bencana alam. Selain itu kalau aksi tersebut dilakukan oleh para siswa playgroup pastilah misinya juga untuk membentuk karakter anak bangsa agar memiliki kepedulian sosial yang tinggi ketika sudah dewasa nanti. Bantuan yang diberikan pada koban bencana harus berkelanjutan, tidak hanya bersifat sementara. Bantuan tersebut harus bisa mendorong masyarakat untuk meningkatkan kemandiriannya. Dalam menghadapi bencana seperti sekarang ini, peran dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemimpin bangsa dalam memberikan keteladanan sangat penting. Mereka dituntut untuk memberikan keteladanan dalam melaksanakan kepedulian sosial. Keteladanan penting untuk menumbuhkan kembali rasa kepercayaan masyarakat pada pemimpinnya. Soliditas diantara pemimpin bangsa juga harus tetap ditingkatkan agar negara ini tidak semakin terpuruk.

    DAFTAR REFERENSI

    1. Dikutip dari: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam
    2. Dikutip dari: http://www.harianbhirawa.co.id/arsip/18977-solidaritas-korban-bencana
    3. Dikutip dari: http://bataviase.co.id/node/458998
    4. Dikutipdari: http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6555:makna-sosial-gunung-sinabung&catid=59:opini&Itemid=215

    ALIFIA WAHYU WULANDARI
    08 / 271570 / DPA / 03011
    D3 REKAM MEDIS UGM

  7. Hikmah di Balik Bencana yang Melanda Negeri

    Akhir-akhir ini bencana alam seakan semakin akrab dengan kehidupan masyarakat kita di Indonesia. Secara bertubi-tubi pula kita dicoba dengan berbagai musibah yang tak dapat kita tolak. Kita pun turut berduka dan prihatin dengan banyaknya korban yang berjatuhan akibat bencana alam seperti gempa dan tsunami di Mentawai, meluapnya sungai di Wasior, serta meletuskan Gunung Merapi di Yogyakarta. Jauh sebelum itu, kita tentu juga masih ingat dengan banyaknya korban jiwa akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Begitu juga dengan gempa bumi yang menewaskan sekitar 6 ribu jiwa yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006. Setelah itu, gempa bumi pun terus mewarnai perjalanan hidup di negeri ini.
    Menurut para ahli, gempa yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia terutama disebabkan pergeseran lempeng bumi. Kebetulan, kepulauan di Indonesia berada di atas pertemuan lempeng-lempeng tersebut. Selain itu, negara kita juga memiliki banyak gunung berapi aktif yang dapat meningkat aktivitasnya sewaktu-waktu. Bahkan para ahli juga mengatakan bahwa tak ada tempat atau wilayah di Indonesia yang cukup aman dari bencana, khususnya gempa bumi.
    Apa yang bisa diambil sebagai hikmah dari berbagai bencana alam yang terjadi di tanah air?
    Besarnya jumlah korban bencana yang meninggal, hancurnya berbagai rumah dan harta benda, maupun berbagai penderitaan lainnya tentu saja sangat memilukan. Mungkin kita bisa membayangkan betapa mudahnya bencana ini mengalahkan kita semua, tidak dengan fisik manusia kita saja yang lemah bahkan semua yang ada pada diri kita sungguh tak berdaya. Jika bisa dibayangkan, betapa sulit dan kerasnya upaya kita agar bisa tetap survive di tengah-tengah bencana yang sedang melanda bumi ini. Sempat terlintas di pikiran ini bagaimana sangat menyengat dan menyiksanya debu awan panas dari ‘wedhus gembel’ yang menyembur dari Merapi saat kita sedang terlelap tidur. Atau dahsyatnya terjangan tsunami atau tanah longsor yang begitu tiba-tiba sehingga kita tak dapat berlari untuk menyelamatkan diri.
    Kita yang selamat ataupun jauh dari daerah rawan bencana, tentu akan merasa tersayat melihat kondisi saudara kita yang menjadi korban bencana. Tentu kita bisa berkaca diri: layakkah kita berpangku tangan atau malah bersikap sombong, acuh tak acuh dengan semua kejadian ini? Atau kita selalu merasa aman karena adanya berbagai macam alat perlindungan yang ada di sekeliling kita Tidakkah kita juga manusia biasa seperti mereka yang tertimpa musibah ini. Manusia yang penuh dengan keterbatasan dan kekurangan serta jauh dari kesempurnaan yang hanya dimiliki oleh Sang Kholiq.
    Bencana alam datang silih berganti menimpa negeri ini semoga dapat memberikan suatu pelajaran yang berharga bagi kita karena tidak ada satu pun kejadian di muka bumi ini yang datang dengan sia-sia, percayalah! Di balik cobaan yang sedang menimpa ini sebenarnya tersimpan suatu pesan yang amat besar, pesan yang sebenarnya ingin disampaikan dengan tegas oleh Sang Khaliq lewat sedikit ketakutan dan penderitaan karena memang hidup tak selamanya berjalan mulus. Yah, paling tidak dapat menyadarkan kita betapa agung dan mulyanya kekuasaan Allah SWT. Menyadarkan keterbatasan dan ketidak berdayaan manusia di hadapan semua kehendak dan keputusan-Nya. Tidak ada lagi tempat bagi kesombongan, pembangkangan dan penolakan terhadap kehendak-kehendak Allah SWT. Tidak ada lagi ruang di hati ini untuk menghindar dari ketentuan ketentuan-Nya. Tunduk dan taat, ridha dan ikhlas, sabar dan tawakkal menjadi ungkapan iman yang paling aktual, ketika ujian datang. Musibah itu akan berubah menjadi peluang perbaikan iman dan peningkatan martabat di sisi Allah SWT.
    Salah satu hikmah dari berbagai bencana yang menimpa kita ialah solidaritas atau kepedulian sosial yang sepenuhnya dicurahkan oleh para relawan, dermawan yang hatinya tergerak untuk membantu sesamanya yang membutuhkan meskipun diri mereka juga berada dalam kesusahan maupun keterbatasan secara fisik/materi. Lihat saja bantuan dan sumbangan yang begitu cepat dan demikian besar terkumpul untuk para korban gempa maupun korban bencana alam lainnya. Apalagi didukung pemberitaan televisi dan cepatnya informasi tersebar melalui internet, semakin menguatkan kepedulian sosial masyarakat dari berbagai penjuru tanah air. Sebut saja dari kalangan bawah hingga atas, mulai dari para pengamen jalanan hingga seniman atau artis di negeri ini turut menyumbangkan dana yang mereka sisihkan dari hasil kerja kerasnya.
    Nilai positif yang terkandung dari adanya bencana ialah meningkatnya rasa solidaritas dan soliditas. Perhatian dan empati sesama datang dari semua arah. Fakta yang menegaskan harmoni kehidupan itu dalam solidaritas dan soliditas. Berbagi dan berempati adalah bukti kemanusiaan. Tolong menolong adalah pilar peradaban. Sifat egois, tidak peduli kepada orang lain sebuah cacat perdaban yang tidak seharusnya terjadi di negeri Indonesia yang terkenal dengan falsafah luhurnya Pancasila dan memiliki landasan hukum/konstitusi. Kepedulian kepada sesama dan tidak melakukan perbuatan yang membuat celaka dan bahaya bagi orang lain ialah pesan kuat yang mulya dan harus senantiasa dijaga dan dipelihara.
    Begitu pula di tengah cobaan yang silih berganti dan penderitaan yang belum berkesudahan akibat kemiskinan, hal yang paling dibutuhkan adalah soliditas dan solidaritas. Inilah yang seharusnya menjadi standar kualitas hidup manusia Indonesia. Standar kualitas pembangunan manusia tidak bisa semata dikaitkan dengan tingkat pendapatan atau standar fisik lainnya, tapi pada kesadaran dan kepedulian terhadap sesama.
    Masalah yang dihadapi saat ini, soliditas dan solidaritas masih bersifat termporal dan seremonial. Padahal faktor inilah yang akan menjadi benteng eksistensi warga negeri yang pluralistik ini dari ancaman disintegrasi dan kepunahan. Penguatan soliditas dan solidaritas ini penting, karena landasan berbangsa kita bukan tumbuh dari kesadaran tapi dari imajinasi (imagened communities). Imajinasi bisa tumbuh berkembang ketika terus dipupuk melalui kebersamaan, dan dia akan layu di saat tiap individu berfikir kepentingannya sendiri.
    Bencana yang terjadi selama ini adalah bentuk “peringatan” dari Sang Pencipta, yang di dalamnya mengandung pesan spiritual sekaligus makna sosial. Sementara itu sebagai ungkapan rasa syukur, rasa cinta kasih, dan rasa simpatik kepada sesama manusia, serta sebagai bentuk kesediaan manusia sebagai umat untuk melawan dan menghilangkan segala sesuatu yang akan menjauhkan umat dari Sang Pencipta maka kita sebaiknya dapat berpartisipasi membantu kepada sesama dengan harta benda dan diri kita sekuat kemampuan kita.
    Momentum ini hendaknya dapat mengingatkan kita semua akan pentingnya pengorbanan, menghilangkan berbagai bentuk kedengkian, iri hati, menghapus segala macam fitnah, permusuhan, dan pertentangan.
    Inilah saatnya untuk memperkokoh solidaritas dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial, antara lain dengan meningkatkan kepedulian kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.

    Referensi :
    http://www.anneahira.com
    http://www.radarlampung.co.id
    http://www.unisosdem.org
    http://www.suaramerdeka.com

    Nama : Linda Ricawati
    NIM : 08/273784/DPA/3092

  8. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    SUNGGUH sedih dan pilu hati kita ketika melihat, mendengar ataupun membaca berita yang melanda negeri ini. Ratusan nyawa melayang, ribuan orang mengungsi karenanya.
    Tetesan air mata, tangisan dan kesedihan dapat kita rasakan bersama.
    Bencana beruntun melanda negeri ini, mulai dari banjir bandang di Wasior Papua, gempa bumi dan tsunami di Mentawai disusul meletusnya Gunung Merapi.
    Berbagai musibah maupun bencana yang terjadi di negeri ini hendaknya menggugah batin kita agar meningkatkan solidaritas terhadap sesama.
    Aksi sosial penggalangan dana untuk membantu para korban bencana itu merupakan usaha mulia dan merupakan aplikasi nyata dari jiwa kepahlawanan untuk menolong sesama yang sedang ditimpa bencana.
    Untuk itu, mari kita sisihkan sebagian harta kita untuk membantu para korban bencana. Semoga kita dapat meningkatkan rasa solidaritas terhadap sesama.
    Tak lupa berikan apresiasi kepada para penggalang dana yang telah meluangkan waktu untuk mengumpulkan bantuan bagi para korban bencana.
    Begitu juga para relawan yang gigih menolong bahkan mereka pun menjadi korban dahsyatnya awan panas Merapi.
    khususnya ketika tersiar kabar bencana, mulai dari bencana banjir bandang di Wasior Papua, Badai Tsunami di Mentawai dan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, di beberapa tempat khususnya di perempatan jalan di Kota Surabaya banyak kita jumpai aksi penggalangan dana. Misi sosial ini bukan saja dilakukan oleh para relawan dan aktivis sosial/kemanusiaan, tetapi juga dari kalangan mahasiswa hingga anak-anak siswa play group.
    Maksudnya tentu saja untuk ikut menggalang dukungan bantuan bagi para korban bencana alam. Selain itu, kalau aksi itu dilakukan oleh siswa-siswi play group pastilah misinya juga untuk membentuk karakter anak agar memiliki kepedulian sosial yang tinggi ketika sudah dewasa nanti.
    Terlepas dari apa motivasinya yang pasti, aksi penggalangan dana tersebnut tetaplah harus dikontrol agar jangan sampai salah arah. Peringatan ini disampaikan bukan karena curiga, tetapi lebih karena agar jangan sampai bantuan yang digalangnya tersebut hanya karena tidak dikelola secara baik malah nggak jelas kemana arahnya. Imbasnya malah terjadi penyalahgunaan dana bantuan.
    Harus diakui, para korban dari musibah tsunami di Mentawai dan Gunung Merapi benar-benar berada pada ketidakpastian tinggi. Ini sangat jelas terlihat bagaimana nasib mereka yang sedang tertimpa musibah itu sejak bencana datang sampai sekarang. Gempa memang bisa diprediksi, tetapi kapan datang dan di mana letak posisi tepatnya tidak ada orang yang tahu, termasuk para ahli sendiri. Demikian juga Merapi yang meletus bisa diprediksi, tapi seberapa skalanya juga tidak diketahui persis. Kemarin pagi Merapi kembali memuntahkan wedhus gembel dalam skala cukup besar. Ini berarti dugaan dan prediksi mendapatkan pembenaran. Sampai kapan keadaan ini akan berlangsung, kita yakin para vulkanolog pun tidak ada yang tahu. Ketidaktahuan itu berarti memperbesar ketidakpastian.
    Sedemikian tinggi tingkat ketidakpastian itu mengharuskan dan menuntut kewaspadaan tinggi. Sementara itu, fakta memberikan gambaran bahwa para korban yang berada di pengungsian mulai masuk ke tahapan kejenuhan. Mereka ingin segera kembali, atau setidaknya menengok kampung halaman yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Kerinduan terhadap kampung halaman seringkali membuat mereka abai terhadap kemungkinan munculnya bencana susulan yang sangat mungkin datang tak terduga.
    Kita dengan sangat mengimbau masyarakat luas dari jajaran individu-individu, kelompok, komunitas, jajaran swasta maupun pemerintah untuk bergandengan tangan meningkatkan bantuan. Memahami teman, sahabat dan juga warga bangsa yang sedang tertimpa musibah bukan hanya menunjukkan rasa kebersamaan, tetapi juga bagian dari memahami keberadaan sesama makhluk Tuhan. Masjid, gereja, vihara, dan lain-lain perlu mengetuk hati jemaatnya untuk menjadi tangan Tuhan.

    JAKARTA – Mantan ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, meminta umat Islam meningkatkan solidaritas sosial. “Bencana yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia hendaknya dijadikan momentum memperkuat empati dan rasa prihatin terhadap sesama,” katanya dalam Doa dan Zikir untuk Bangsa di Masjid Is-tiqlal, Jakarta, Ahad (14/11).
    Apalagi, umat Islam sebentar lagi menjalankan ibadah kurban yang bermakna pengorbanan dan ketulusan berbagi. Menurut Hidayat, keberadaan musibah menguji persaudaraan dan solidaritas umat. Ia juga menegaskan, musibah tak boleh dijadikan alasan dan dipandang bahwa akidah berubah dan keimanan menurun.
    Menurut dia, kalau hal itu yang diyakini, akan muncul prasangka buruk terhadap Sang Pencipta. Sebaliknya, harus dipahami bahwa musibah dan nikmat adalah pemberian yang sepatutnya diterima dengan ikhlas. Jika hal demikian yang terjadi, barulah musibah akan menghadirkan keberkahan.
    Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Zakky
    Mubarak, berharap tokoh dan pemimpin bangsa memberikan keteladanan dalam melaksanakan kepedulian sosial. “Mesti ada aksi nyata tokoh bangsa dengan memberikan bantuan kepada para korban bencana,” ujarnya.
    Baik korban bencana di Wasior (Papua), Mentawa (Sumatra Barat), maupun Gunung Merapi (Yogyakarta). Keteladanan penting untuk kembali menumbuhkan rasa kepercayaan masyarakat pada pemimpinnya. Ia berharap kepedulian tak dibelokkan untuk mencapai kepentingan politik para elite.
    Zakky mengatakan, bantuan yang diberikan kepada korban bencana harus berkelanjutan, tak hanya bersifat sementara. Para tokoh agama, jelas dia, perlu membimbing dan mengarahkan korban menghadapi kesulitan setelah terjadinya bencana. Sebab, kesulitan yang bakal dihadapi tak kalah pelik. Para korban memerlukan uluran tangan.
    “Saling membantu dan berempati akan menempatkan bangsa Indonesia menjadi mulia,” kata Zakky. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang berbicara di tempat terpisah, mengajak masyarakat berintrospeksi. Meski bencana merupakan sunatullah, kerusakan akibat ulah manusia juga ikut andil di dalamnya.
    “Kini saatnya membuktikan persaudaraan dan empati kepada orang lain,” katanya. Oleh karena itu, sikap peduli dan gotong-royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia perlu kembali dihidupkan. Terutama dalam menghadapi masa-masa kesulitan seperti sekarang.
    Uluran tangan dan perhatian masyarakat di luar wilayah musibah sangat dibutuhkan.
    Salim pun mendorong masyarakat beristighiar. Sebab, permohonan ampunan akan menghindarkan diri dari segala malapetaka. Menurut dia, terdapat lebih dari 200 ayat Alquran yang menyerukan agar umat Islam beristighfar.
    Acara doa dan zikir bersama itu dihadiri ribuan orang dari Jakarta dan sekitarnya, termasuk kelompok-kelompok majelis taklim. Kegiatan ditutup de-ngpn munajat bangsa yang dipimpin oleh Pimpinan Majelis Rasulullah, Habib Munzir bin Fuad Almusaw-wa. Penggalangan dana untuk para korban bencana juga berlangsung dalam kegiatan itu.

    Daftar Pustaka

    Aksi Sosial Bencana
    Oleh: Haryanto, PNS di Balangan
    Banjarmasinpost.co.id – Selasa, 16 November 2010
    ‘http:forum.bajarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/11/16/63473/aksi-sosial-bencana”

    Solidaritas Korban Bencana
    Wednesday, 03 November 2010 21:44 Media Online Bhirawa
    “http://harianbhirawa.co.id/arsip/18977-solidaritas-korban-bencana”

    Tingkatkan Solidaritas Sosial
    15 Nov 2010
    Nasional Republika
    “http://bataviase.co.id/node/458998”

    NAMA = ARIF BUDIMAN
    NIM = 08/273813/DPA/03099
    PRODI = DIII REKAM MEDIS FIPA UGM

  9. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam pesisir melimpah dan potensi bencana alam yang tinggi. Konfigurasi pulau besar dan pulau kecil menempatkan Laut Jawa sebagai perairan dalam yang mengakibatkan pantura Jawa sering diterjang gelombang pasang sehingga mengalami abrasi. Posisi lempeng tektonik di sébelah selatan Pulau Jawa mengakibatkan gempabumi dan tsunami sangat potensial melanda pansela Jawa. Tulisan ilmiah ini bertujuan mengetahui potensi bencana alam dan bentuk mitigasi yang sesuai diterapkan di pesisir Indramayu dan Ciamis. Metode analisis yang digunakan adalah Interpretive Structural Modeling dan hasil analisis data serta pendapat pakar menunjukkan bahwa bencana potensial di Indramayu adalah gelombang pasang diikuti banjir dan abrasi, dan di Ciamis adalah gempabumi, tsunami diikuti oleh gelombang pasang. Bentuk mitigasi yang paling sesuai ditentukan oleh Metode Perbandingan Eksponensial dimana di Indramayu adalah gabungan pemecah ombak, peredam abrasi, dan penahan sedimentasi sejajar pantai serta gabungan penanaman mangrove, terumbu karang buatan dan revitalisasi pasir pantai. Di Ciamis, adalah sistem peringatan dini, penyelamatan diri dan gabungan pemecah ombak, peredam abrasi, dan penahan sedimentasi sejajar pantai.
    Sejarah hidup manusia menyatat bahwa setiap insan yang hidup dimuka bumi ini selalu berjuang untuk menaklukan dan menjinakkan alam, tetapi alam memiliki bahasa sendiri untuk menyapa setiap perubahan yang dilakukan oleh umat manusia.Bencana Alam tak bisa lagi dihindari dari kehidupan umuat manusia. Bencana itu silih berganti datang seperti sudah memiliki jadwal tersendiri, sehingga memaksa umat manusia untuk berfikir keras dalam hal mempersiapkan diri menghadapi bencana tersebut. Memang ada sebahagian yang dapat diprediksikan dan ada pula yang datang semaunya. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdiri dari dataran rendah, perbukitan pegunungan sampai dataran tinggi. Secara geologis Aceh sangat rawan terhadap bencana gempa dan tsunami, antara lain dipengaruhi oleh:
    • Adanya gempa-gempa disebabkan pergerakan yang saling bertemu antara lempeng samudera Hindia dan lempeng Asia yang terdapat di bagian barat (Samudra Hindia).
    • Adanya gempa-gempa yang disebabkan oleh pergerakan patahan aktif Sumatera segmen Aceh yang melalui sekitar Banda Aceh.
    Selain gempa bumi dan tsunami ada beberapa daerah lagi yang rawan akan bencana Banjir dan Tanah Longsor dari itu juga Jika dilihat dari penyebabnya, ragam ancaman yang berpotensi menjadi bencana dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yakni sumber ancaman klimatologis, geologis, industri dan kegagalan teknologi serta faktor manusia. Bencana Alam yang sering terjadi di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam menjadikan salah satu Propinsi yang memiliki intensitas kejadian bencana yang cukup tinggi.
    Setiap terjadi bencana kita selalu disibukkan dengan emergensi respon memberi batuan kemanusian sebagai solidaritas antar sesama umat manusia. Namun hingga kini belum ada upaya yang sistematis untuk mereduksi risiko bencana. Dan pemerintah terkadang lamban melakukan penangan bencana kita lihat saja Tsunami sudah dua tahun berlalu, namun masyarakat masih banyak yang tinggal dibarak begitu juga dengan masyarakat korban banjir bandang Aceh Tenggara, Tamiang, Gayo Lues dan beberapa daerah lainnya yang terkena dampak bencana alam.
    Memang Pemerintah saat ini sudah mengesahkan UU Penanganan Bencana pada tanggal 29 Maret 2007. ini merupakan awal dari kepedulian pemerintah terhadap penanganan Bencana di indonesia. Akankah UU ini akan diimplementasikan sesuai yang terdapat di butir-butir UU Penanganan Bencana?
    Bencana memang selalu mengikuti kita dimanapun kita berada namun kita tidak pernah mau belajar dari pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya hal ini disebabkan oleh ketidak mampuan dan keberdayaan kita dalam meriduksi dan mengidentifikasi akan bencana yang akan terjadi
    Walaupun Pemerintah Daerah sudah mengetahui bahwa daerah nya merupakan daerah rawan bencana namun tidak ada tindakan yang dilakukan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut. Setiap terjadi bencana selalu memakan korban dan kerugian yang sangat besar.
    Kita melihat bahwa yang sering menjadi korban dari bencana alam adalah masyarakat yang lemah dan tidak memiliki pengetahuan tentang mereduksi risiko bencana. Kita lihat kejadian bencana
    sebenarnya masyarakat telah memiliki pengetahuan lokal dalam membaca tanda-tanda alam yang menggambarkan akan terjadinya bencana, namun pemerintah kita tidak mendokumentasikan akan hal tersebut, sehingga informasi yang didapat oleh generasi yang terdahulu tidak sampai kepada generasi saat ini.
    Sebagaimana umumnya kejadian bencana, penanganan yang dilakukan masih belum berjalan secara sistematis. Data dan informasi masih belum dapat dilakukan dengan baik. System koordinasi masih bersifat tertutup dan sektoral serta system pendistribusian logistik masih berkendala banjir itu sendiri. Kondisi ini menunjukan, tidak ada upaya yang signifikan untuk menangani banjir yang sebetulnya telah dapat diprediksi.
    Hal yang seharusnya dilakukan Pemda melihat potensi ancaman adalah menyusun contingency planning (perencanaan kedaruratan). Perencanaan yang didasarkan atas peta ancaman dan komunitas yang teridikasi akan terkena dampak bencana. Perencanaan yang juga mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang menghambat. Komunikasi, transportasi, maupun sumberdaya manusia. Sehingga saat dibutuhkan, dengan sangat mudah dapat menggerakan dengan amat cepat.
    Posisi, situasi dan kondisi komunitas terhadap sumber ancaman dapat memposisikan komunitas pada kondisi tidak aman. Posisi tempat tinggal berpengaruh terhadap tingkat risiko dari ancaman yang mungkin diterima. Posisi sering dikaitkan dengan topografi, jenis tanah, kedekatan dengan sumber ancaman dan kemudahan akses ke sarana sosial. Posisi komunitas terhadap sumber ancaman berpengaruh pada intensitas ancaman. Jenis topografi berpengaruh pada bencana banjir, kekeringan dan longsor, jenis tanah berpengaruh pada bencana gempa bumi, tanah longsor dan rawan pangan, kedekatan dngan sumber ancaman misalnya berada ditepi sungai, di tepi pantai, berada diadaerah rawan letusan gunung api, berada di daerah industri. Sedangkan kemudahan akses ke sarana sosial, termasuk didalamya kondisi infrastruktur dan kesiapan aparat pemerintah secara tidak langsung mempengaruhi semua jenis bencana, terutama fase setelah bencana.
    Kondisi sosial komunitas, yang lazimnya dikenal sebagai kapasitas (kemampuan) dan kerentanan (kelemahan) komunitas merupakan faktor penting yang berpengaruh pada besarnya risiko. Beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi komunitas antara lain, jumlah penduduk, kemiskinan, tingkat pengetahuan dan perilaku komunitas. Pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi bertambahnya ruang dan daya dukung lingkungan akan memaksa orang tinggal di tempat yang tidak aman dan berbahaya, serta memicu orang untuk menjalankan aktivitasnya tanpa memperhatikan ancaman dan resiko yang bisa diterima. Keterbatasan sumberdaya ini akan semakin memperlemah posisi komunitas.
    Berbagai kondisi yang berasal dari luar komunitas dapat menjadi tekanan dinamis yang akan membesar risiko. Industrialisasi, urbanisasi dan kebijakan pemerintah yang beresiko dapat menjadi tekanan dinamis bagi komunitas rentan. Industrilisasi, dapat memicu penggunaan sumberdaya berlebihan, misal pertambangan, konversi hutan, eksploitasi air, pengelolaan limbah yang tidak standart. Kondisi ini sering memunculkan kelompok yang termarginalisasi yang memiliki kerentanan dalam menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi.
    Dilihat dari waktu terjadinya, ancaman dapat muncul secara tiba-tiba dan tidak terduga; ancaman berangsur, terduga dan dapat dicermati; dan ancaman musiman yang datang setiap perioda waktu tertentu. Ancaman yang muncul secara tiba-tiba cenderung akan menimbulkan bencana tiba-tiba (misal, banjir bandang). Demikian pula ancaman yang berangsur dan musiman, cenderung menyebabkan bencana berangsur (misal, banjir kiriman) dan musiman (misal banjir pasang surut dan genangan). Status ancaman ini sangat tergantung dari kapasitas individu maupun komunitas dalam sistem peringatan dini. Artinya, ancaman yang dimaknai mendadak oleh satu individu atau komunitas, merupakan kecenderungan untuk individu atau komunitas lain yang mempunyai sistem peringatan dini yang baik.
    gagasan untuk mengatasi persoalan bencana
    Belajar dari bencana yang terjadi di Aceh ini, sekalipun saat ini sudah sangat terlambat, namun bukan berarti tidakbisa melakukan sesuatu untuk mengefektifkan kerja-kerja kemanusiaan.
    Sudah saatnya pemerintah, Lembaga Non Pemerintah serta masyarakat untuk melakukan beberapa hal yang mungkin kita perhatikan secara serius untuk mengantisipasi bencana serupa di masa mendatang.
    Pertama, perlunya riset dampak yang ditimbulkan oleh Bencana Alam seperti; gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan gunung berapi secara total. Usulan semacam ini mungkin kedengarannya kedaluwarsa. Namun, memang harus dikampanyekan terus menerus untuk menarik perhatian pemerintah.
    Kedua, perlunya sistem penyuluhan yang efektif bagi masyarakat. Penyuluhan ini di antaranya berisikan tentang apa dan bagaimana gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan gunung berapi terjadi, dan cara-cara untuk menghindar dari bencana. Penyuluhan dapat dilakukan melalui televisi, radio dan media cetak lainnya sesering mungkin. Atau dapat juga dilakukan melalui poster-poster yang dipasang di tempat-tempat umum pada daerah-daerah rawan gempa dan tsunami.
    Ketiga, untuk mendukung usulan pertama dan kedua, perlu dibentuk suatu lembaga atau setidaknya kelompok kerja yang mempunyai kewenangan dan kemampuan yang besar. Lembaga atau kelompok kerja semacam ini bekerja all out dalam bidang riset dan penyebaran informasi.
    Keempat, perlunya membentuk zona proteksi tsunami di sepanjang pantai yang rawan terhadap tsunami. Zona proteksi ini berupa jalur hijau selebar sekitar 200 meter. Jalur hijau ini sebaiknya adalah jenis tumbuhan yang tidak terlalu tinggi tetapi beranting dan berdaun lebat. Jangan berupa pohon kelapa karena terbukti pohon kelapa tidak dapat menahan atau memecahkan gelombang tsunami. Serta zona rawan akan bencana lainnya seperti Banjir, tanah longsor serta Gunung Berapi.
    Kelima, barangkali perlu diadakan latihan praktis atau simulasi menghadapi bencana. Simulasi ini di antaranya meliputi cara-cara untuk menghindar dari bencana, memberi pertolongan pada korban, dan rehabilitasi daerah bencana. Simulasi ini akan berdaya guna maksimal kalau melibatkan semua pihak yang terkait, baik masyarakat maupun aparat.

    http://www.geotek.lipi.go.id/riset/index.php/jurnal/article/view/17
    http://www.pt-kas.com/index.php?option=com_content&view=article&id=314:potensi-bencana-alam&catid=1:latest-news&Itemid=50
    file:///I:/Refleksi Bencana Aceh «.htm

  10. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Soliditas adalah modal dasar yang sangat penting dalam sebuah bangsa. Ibarat sebuah bangunan dalam sebuah gedung, soliditas layaknya fondasi yang menentukan seberapa kuat sebuah gedung bisa ditinggikan dan seberapa besar beban yang bisa ditanggung oleh gedung tersebut. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dibangun untuk membentuk sebuah bangsa yang hebat adalah kekompakan atau soliditas. Betapa tidak sebuah bangsa sejatinya adalah sebuah organisasi. dan sebagaimana sebuah organisasi, maka ia terdiri dari berbagai individu yang bergabung (Bhineka Tunggal Ika), bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama termasuk salah satu diantaranya adalah dalam hal penanganan bencana alam yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Dari sinilah mengapa soliditas atau kekompakan menjadi kunci keberhasilan sebuah bangsa. Karena individu yang bergabung kemudian bekerjasama tentu perlu menyamakan persepsi dan perasaan agar proses kerjasama bisa berjalan dengan lancar dan tujuan bisa tercapai dengan cara yang terbaik. Hal positif yang dapat dipetik akan adanya suatu permasalahan dalam sebuah bangsa khususnya mengenai solidaritas dan soliditas penanganan bencana alam adalah
    1. Clear Goals : mempunyai satu misi, persepsi, tujuan yang jelas antara satu individu dengan individu yang lain dalam membantu sesama.
    2. Contribution : saling memberikan kontribusi yang jelas dari masing-masing individu dimana jika disatukan maka akan mempercepat program kerja yang telah direncanakan.
    3. Connection : dengan berada didaerah rawan bencana dan membantu mengatasi permasalahan yang ada maka akan meningkatkan koneksi/jaringan yang luas dan dapat saling mengenal antara suatu individu/ suku bangsa.
    4. Change Management : manajemen perubahan akan rasa syukur, kesadaran, dan kesabaran dalam menjaga lingkungan dapat bertambah antara individu yang satu dengan yang lain.
    5. Commitment : Nampak sekali komitmen antara relawan, korban, dan pemerintah dalam mengatasi korban bencana alam
    6. Conflict Management : dapat lebih sejenak melupakan dan mengendalikan diri dalam konflik yang mungkin sedang terjadi antara suku bangsa, mereka semua saling bersatu untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah bencana alam.
    7. Communication : dapat meningkatkan komunikasi yang efektif dengan semua orang.
    8. Cooperation : saling bekerjasama baik dalam evakuasi korban, distribusi pangan, pengobatan, dan bahkan memulihkan kondisi psikologis para korban yang mengalami trauma akibat bencana yang terjadi.

    Seruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat agar menjadikan tahun 2005 sebagai tahun solidaritas dan kebersamaan untuk membangun kembali negeri dari musibah bencana dan berbagai kesulitan akibat krisis yang lalu, perlu disambut baik karena saat ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia bukanlah saling menyalahkan atau memberikan pernyataan yang bersifat kurang sehat. Sepanjang tahun 2004 di samping terjadi berbagai kecelakaan transportasi yang merenggut jiwa saudara-saudara kita, negara kita juga ditimpa oleh berbagai musibah bencana alam. Dalam upaya untuk mewujudkan tahun 2005 sebagai tahun solidaritas tersebut, Indonesia akan mengadakan Pertemuan Khusus Pemimpin ASEAN untuk menangani akibat gempa bumi dan tsunami (Special ASEAN leader metting on aftermath of eartquake and tsunamy) yang akan mengundang 23 negara dan empat organisasi internasional. Pertemuan tersebut rencananya akan berlangsung tanggal 6 Januari 2005, pertemuan puncak tersebut untuk menggalang komitmen bersama yang bersifat menggalang tindakan nyata untuk mengatasi bantuan darurat serta merehabilitasi dan rekonstruksi di negara-negara yang terkena musibah. Rekontruksi akibat bencana tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit, karenanya melalui konferensi internasional tersebut diharapkan negara-negara donor dapat membantu pembiayaan rekontruksi. Konferensi internasional tersebut juga diharapkan menghasilkan komitmen untuk bekerjasama membantu korban gempa dan gelombang tsunami, tidak hanya dalam keadaan darurat namun juga penanganan tahap rehabilitasi serta menciptakan harapan baru bagi korban musibah.
    Makin disadari menanggulangi bencana tidak efektif kalau difokuskan pada akibat dan bukan pada penyebab. Karena itu sambil terus berusaha menolong dengan memberikan bantuan emergency dan livelihood, capacity building dalam rangka kewaspadaan bencana menjadi fokus kegiatan di berbagai tempat yang rentan bencana karena gejala-gejala alam.
    salah satu upaya nyata yang selama ini dilakukan oleh para relawan bencana alam yaitu di Aceh Singkil, bekerja sama antara masyarakat dan pemerintah daerah melakukan proyek percontohan menanam hutan mangrove (bakau) yang ternyata direspons positif masyarakat. Di Maluku, Papua, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Nias, Mentawai, dan daerah lainnya, program penanggulangan bencana mulai difokuskan pada capacity building untuk menolong masyarakat agar waspada terhadap bencana. Di mana pun masyarakat hidup, ancaman bencana dari kejadian alam ataupun konflik sosial selalu bersifat potensial. Karena itu setiap orang harus menyadari dan berusaha keras mencegah terjadinya bencana dari kejadian-kejadian alam maupun konflik sosial. Kesiapsiagaan masyarakat itulah yang seharusnya menjadi fokus manajeman atau pananganan bencana secara nasional. Terlebih bagi Indonesia yang rawan bencana, kebijakan pembangunan harus benar-benar fokus pada pencegahan bencana dan bukan sekadar pada penanganan korban bencana.
    Keuntungan dari fokus seperti ini sangat besar. Dengan fokus pada pencegahan potensi bencana akan jauh berkurang karena masyarakat secara bersama dengan kesadaran sendiri mencegah dan meminimalkan kemungkinan terjadinya bencana. Dari segi biaya, juga akan sangat menghemat biaya yang seharusnya dikeluarkan menangani akibat bencana. Selain itu, dalam konteks Indonesia yang belum banyak memiliki peralatan teknologi peringatan dini bencana tidak harus repot terus membeli peralatan yang sangat mahal. Sebagai negara yang rentan bencana, merupakan suatu kehormatan bangsa kalau kita tidak perlu merepotkan dunia internasional apabila terjadi gempa bumi atau gunung meletus. Bencana harus bisa dicegah atau diminimalisasi oleh anak bangsa sendiri. Walaupun ada gejala alam yang menyebabkan bencana yang tidak bisa dihindari, tetaplah harus dimaksimalkan atau dioptimalkan upaya pencegahan yang bersifat massal.
    Kita tentu dapat menjadikan bencana sebagai salah satu sarana membangun solidaritas kemanusiaan internasional dan global, namun demikian pencegahan bencana merupakan kewajiban moral bangsa sendiri. Terlebih kita harus malu, kalau ternyata dana-dana penanggulangan bencana masih dikorupsi oknum tertentu. Kita telah memiliki undang-undang penanggulangan bencana dan kita juga telah memiliki suprastrukturnya. Tinggal kita memfokuskan sehingga penanganan bencana menunjukkan kedewasaan dan kemandirian serta harga diri bangsa.

    REFERENSI :

    MULTIPLY.COM

    http://ekky-psikologi08.blogspot.com/2010/11/forming-menjadi-sebuah-kelompok_26.html

    http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20101017043645AAPmqIX

    file://Mimbar%20Opini%20-%20Pasca%20Musibah%20Bencana%20Alam%20Dibutuhkan%20Solidaritas%20dan%20Kebersamaan%20Sesama%20Bangsa%20Di%20dunia%20mimbar-opini.htm

    file://pseksmultiplycomjournalitem4.htm

    Nama : Ivana Putri Risyanti
    Nim : 03004
    Prodi : D3 Rekam Medis UGM

  11. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir.
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, namun masalah Global Warming ini tidaklah dapat dipungkiri untuk diteliti dan ditelaah lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
    Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Kita perlu memikirkan secara semakin serius penyebaran kesadaran bahwa kita hidup di daerah bencana. Itu berarti, kita mesti mencari jalan untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang bagaimana mencegah dampak bencana alam dan apa yang mesti kita lakukan kalau memang bencana alam itu terjadi. Teknik membangun rumah sederhana dan murah tahan gempa perlu disebarluaskan. Kecakapan membaca gejala alam dan bereaksi atas informasi mengenai bencana alam perlu menjadi bahan kurikulum di sekolah-sekolah kita. Solidaritas yang spontan namun efektif untuk membantu para korban bencana pun perlu dilatih. Di sini, lembaga-lembaga agama perlu memikirkan kontribusinya. Dan tentu saja, transparansi pengelolaan dana bantuan merupakan satu keharusan moral yang mesti menemukan sistemnya.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.
    Gempa bumi, tsunami dan letusan gunung api memang merupakan bencana alam, namun mereka memiliki kaitan yang sangat erat dengan kebudayaan. Alam sebenarnya berbeda dari kebudayaan. Alam adalah sesuatu yang terberi, sementara kebudayaan adalah apa yang dikerjakan dan diolah manusia berhadapan dengan alam. Olah cita, rasa dan raga manusia menghadapi alam, mengapresiasi atau menguasai alam menghasilkan kebudayaan. Entah dongeng dan mitos mengenai manusia purba atau teknologi canggih yang merekayasa struktur genetik, semuanya lahir dari kebutuhan dasariah yang sama, menjawabi realitas alam, kendati semua itu mempunyai dampak yang beraneka.
    Program utama berupa apel siaga dengan memberikan seputar materi, pembekalan motivasi tanggap darurat, ketahanan fisik. Latihan terus dilakukan dengan membagi dua bagian yaitu tim kesehatan lapangan, dapur umum dan tim SAR (darat dan air) sesuatu yang harus diberikan. Pemberian pembekalan sangat penting, Sebab, dari pengalaman berbagai musibah baik itu banjir, tanah longsor dan angin puting beliung hingga kebakaran sering terjadi kesalahpahaman komunikasi antar masyarakat dan petugas. Sehingga berdampak pada efektifitas penanggulangan bencana itu sendiri. Begitu juga dengan masyarakat, peran-perannya saat bencana bisa dipahami sehingga tidak mengganggupetugas itu sendiri. Apabila pembekalan kepada tim TRC dan masyarakat berjalan lancar, diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang menjadi penonton dalam setiap musibah. Mereka akan berupaya mencari jalan, untuk bersama-sama membantu petugas. Bukan mengambil peran petugas saat terjadi musibah.
    Wilayah pantai di Indonesia memiliki potensi pembangunan yang cukup besar karena didukung oleh adanya ekosistem dengan produktifitas hayati yang tinggi sepertri terumbu karang, hutan mangrove, estuaria, padang lamun dan sebagainya. Sumber daya hayati seperti terumbu karanghutan mangrove, estuaria, padang lamun, dan sebagainya. Selain itu wilayah pantai juga memberikan jasa-jasa lingkungan yang cukup tinggi nilai ekonomisnya.
    Dalam satu dekade belakangan ini, laju pemanfaatan sumber daya diwilayah pantai mulai intensif untuk memenuhi kebutuhan penduduk dan kebutuhan lahan untuk permukiman mereka. Salah satu potensi daerah pantai yang telah dimanfaatkan manusia sejak dahulu adalah sebagai tempat tinggal dengan alasan yang bervariasi seperti transportasi, tingginya aktifitas perdagangan dan lain sebagainya. Hampir semua kota besar di Indonesia berada di wilayah pantai, yang berfungsi sebagai lokasi permukiman, perdagangan, perhubungan, perkembangan industri dan berbagai sektor lainnya. Diperkirakan 60% dari populasi penduduk dan 80% dari lokasi industri berada di wilayah pantai.
    Disadari bahwa tanah air Indonesia terdiri dari untaian ribuan pulau yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh perairan laut. Kondisi yang demikian ini menghadapkannya pada masalah interaksi antara daratan dan lautan, khususnya pada pertemuan antara kedua wilayah itu, ialah di sepanjang pantainya. Oleh karena itu karakter laut perlu diamati dan dipelajari dalam hubungannya dengan gejala-gejala alam yang terjadi di laut. Salah satu gejala alam yang memerlukan cukup perhatian adalah kenaikan muka air laut (Sea Level Rise). Gejala alam ini perlu dipelajari karena akan menimbulkan dampak negatif yang tidak kecil terhadap wilayah pantai di Indonesia. Dampak negatif tersebut misalnya berupa peningkatan frekuensi banjir, intrusi air laut, erosi pantai dan sebagainya.

    http://www.ebookf.com/1-/1-bencana-alam-karena-gejala-alam-bencana-alam-bisa-terjadi-book.doc
    http://sim.nilim.go.jp/GE/SEMI2/Proceedings/Makalah%2013.doc
    http://danipujiutomo.files.wordpress.com/2010/08/karya-ilmiah.doc
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam
    http://ancispengelana.blogspot.com/2010/10/bencana-alam-dan-manusia.html

    Nama : Anugrah Humairah
    Nim : 08/271604/DPA/3031
    Prodi : D3 REKMED UGM

  12. Bencana Alam Menciptakan Solidaritas dan Soliditas Bangsa Indonesia
    Tahun 2010 telah berlalu dan berganti dengan tahun 2011, jika menengok kebelakang, dalam konteks kebencanaan, terlihat begitu besarnya bencana alam dan buatan manusia melanda Indonesia dan banyak saudara – saudara kita yang menjadi korbannya. Kita tentunya sangat prihatin melihat kenyataan ini. Tapi disisi lain, kita juga bangga dengan rakyat Indonesia yang memperlihatkan solidaritas dan soliditas besar. Solidaritas dan soliditas itu berupa sumbangan dana untuk korban bencana dan ratusan relawan yang kadang-kadang harus mengadu nyawa di Mentawai, Wasior dan Merapi untuk memberi pelayanan kepada penyintas.
    Kendati solidaritas dan soliditas rakyat Indonesia sangat besar dan membanggakan, kita jangan terus bergantung pada kerelaan berbagi masyarakat. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan mengorganisasikan solidaritas dan solioditas besar ini. Setiap bencana tentunya berkonsekuensi pada biaya besar secara ekonomi dan social. Kalau jujur, dan jika bisa dihitung, sebenarnya masyarakat Indonesia menanggung bagian paling besar dari setiap bencana. Bahkan biaya tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali dari pemerintah sesungguhnya dating dari rakyat Indonesia, berupa pajak dan pungutan lainnya. Jumlahnya saat ini mencapai triliunan rupiah.
    Berefleksi sejenak akan penanganan bencana, terlihat belum ada pengorganisasian solidaritas rakyat Indonesia. Tidak ada satupun perangkat hukum atau aturan apapun mengenai hal ini. Undang-undang 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sama sekali tidak menyinggung soal peran organisasi kemasyarakatan (masyarakat sipil) dalam kebencanaan. Undang-undang ini menyinggung peran perusahaan swasta dan lembaga bantuan asing termasuk lembaga PBB. Padahal masyarakat umum melalui organisasi-organisasi masyarakat sipil bisa melakukan berbagai langkah upaya penanggulangan bencana bahkan pengurangan resiko bencana. Bahkan peraturan pemerintah dibidang peran lembaga asing sudah ada. Tapi PP tentang peran masyarakat sipil tidak bisa dikeluarkan karena memang tidak disinggung di undang-undang. Paling jauh, pemerintah bisa mengeluarkan peraturan pemerintah tentang peran masyarakat pada umumnya, dan ini belum dilakukan.
    Solidaritas dan soliditas yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga harus akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya agar tidak disalahgunakan oleh pihak – pihak yang tidak berkepentingan.
    Lalu apa tujuan solidaritas dan soliditas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas dan soliditas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir.
    Langkah lain yang penting adalah soal-soal pengurangan resiko bencana. Pada tahapan ini semua komponen masyarakat, termasuk didalamnya sekolah-sekolah, dilatih dan mampu menghadapi bencana jika terjadi. Sehingga mereka bisa dengan sistimatis mengurangi dampak bencana.
    Terakhir adalah mitigasi bencana atau segala upaya untuk meredam bahaya bencana. Mitigasi ini bisa berupa pembangunan tanggul, pengerukan sungai, rumah tahan gempa, jalur evakuasi, bahkan penghijauan di gunung dan di pantai menanam mangrove. Terlebih lagi, secara serius memerangi kemiskinan masyarakat, karena kemiskinan merupakan kerawanan besar dan kelemahan besar ketika masyarakat menghadapi bencana. Dari sinilah dapat dilihat betapa besarnya solidaritas dan soliditas masyarakat Indonesia dalam mengatasi bencana dan membantu korban bencana alam.
    Sebagai contoh, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan dalam menghadapi musibah bencana, diperlukan solidaritas diantara sesama anak bangsa, apalagi bila musibah itu menelan banyak korban dan kerusakan yang parah.
    Pihaknya memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang sudah memberikan bantuannya kepada warga Jawa Barat yang menjadi korban gempa. Namun ke depan perlunya mekanisme guna menyiapkan dana tanggap darurat yang siap digunakan dan dalam jumlah besar saat terjadinya musibah bencana.
    “Ada baiknya disiapkan mekanisme dana tanggap darurat yang dikumpulkan dari semua daerah secara kolektif. Dana yang terkumpul tersebut dapat digunakan sewaktu-waktu untuk membantu warga yang terkena bencana di manapun di seluruh Indonesia,” kata Gubernur di Bandung, Rabu (9/9).
    Gubernur mengemukakan hal itu saat menerima Bupati Halmahera Selatan Propinsi Maluku Utara Muhammad Kasuba yang menberikan bantuan sebesar Rp100 juta, di Kantor Posko Penanggulangan Bencana Propinsi Jawa Barat, Bandung. Pada saat yang sama delegasi Yayasan Gotong Royong memberikan bantuan sebesar Rp75 juta.
    Sebagai contoh disebutkan, warga Halmahera Selatan yang ada di wilayah Timur Indonesia secara sukarela memberikan bantuan sebesar Rp100 juta bagi warga Jawa Barat korban gempa.
    Ini menjadi inspirasi agar ke depan ada mekanisme bagaimana dana-dana tersebut juga dikumpulkan dari seluruh Indonesia per kabupaten/kota dan tingkat propinsi. Jika saatnya tiba maka dana-dana tersebut langsung dapat dikucurkan guna membantu wilayah yang terkena bencana.
    “Jika setiap kabupaten/kota menyiapkan minimal Rp100 juta dan propinsi minimal mengalokasikan Rp500 juta, dikolektifkan seluruh Indonesia maka akan terkumpul dana tanggap darurat yang luar biasa besar,” katanya.
    Sementara Bupati Halmahera Selatan Propinsi Maluku Utara Muhammad Kasuba menyatakan dalam menghadapi berbagai musibah yang melanda kawasan Indonesia, sudah sepatutnya untuk saling membantu.
    “Musibah gempa Jawa Barat mendorong warga Halmahera untuk turut membantu. Meski tidak banyak namun kepedulian kami sebagai sesama warga Indonesia merupakan wujud solidaritas. Karena warga Jawa Barat masih saudara kami juga,” katanya.
    Baik Heryawan maupun Kasuba sepakat untuk membawa masalah ini ke dalam pembicaraan di tingkat asosiasi pemerintahan, baik Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia, Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia dan Asosiasi Pemerintahan Propinsi Seluruh Indonesia.
    Dari uraian di atas dapat dilihat salah satu contoh yang nyata tentang bentuk solidaritas dan soliditas pada saat terjadi bencana alam di Indonesia dalam bentuk santunan dana, dan tentunya masih banyak bentuk solidaritas dan soliditas yang ditunjukkan dalam bentuk yang lain dalam membantu sesama.
    Sehingga dapat dilihat sisi positif dari kejadian bencana, yakni semakin kuatnya rasa nasionalisme dan tenggang rasa yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Hal yang penting dibicarakan adalah penggalangan dana dan mekanisme bantuan. “Musibah bencana yang terjadi justru semakin melekatkan rasa solidaritas kita sebagai sesama warga Indonesia. Musibah apapun dapat kita atasi bila hal itu dilakukan secara gotong royong.

    Sumber :
    http://www.dakwatuna.com/2009/gubernur-jabar-perlu-solidaritas-untuk-menghadapi-musibah-bencana/
    http://ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=236%3Anews&catid=1%3Alatest-news&Itemid=18&lang=id
    http://yanuar.kutakutik.or.id/baliblogger/berbagi-tak-pernah-rugi-edisi-solidaritas-bencana-indonesia/

  13. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir.
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, namun masalah Global Warming ini tidaklah dapat dipungkiri untuk diteliti dan ditelaah lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
    Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Kita perlu memikirkan secara semakin serius penyebaran kesadaran bahwa kita hidup di daerah bencana. Itu berarti, kita mesti mencari jalan untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang bagaimana mencegah dampak bencana alam dan apa yang mesti kita lakukan kalau memang bencana alam itu terjadi. Teknik membangun rumah sederhana dan murah tahan gempa perlu disebarluaskan. Kecakapan membaca gejala alam dan bereaksi atas informasi mengenai bencana alam perlu menjadi bahan kurikulum di sekolah-sekolah kita. Solidaritas yang spontan namun efektif untuk membantu para korban bencana pun perlu dilatih. Di sini, lembaga-lembaga agama perlu memikirkan kontribusinya. Dan tentu saja, transparansi pengelolaan dana bantuan merupakan satu keharusan moral yang mesti menemukan sistemnya.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.
    Gempa bumi, tsunami dan letusan gunung api memang merupakan bencana alam, namun mereka memiliki kaitan yang sangat erat dengan kebudayaan. Alam sebenarnya berbeda dari kebudayaan. Alam adalah sesuatu yang terberi, sementara kebudayaan adalah apa yang dikerjakan dan diolah manusia berhadapan dengan alam. Olah cita, rasa dan raga manusia menghadapi alam, mengapresiasi atau menguasai alam menghasilkan kebudayaan. Entah dongeng dan mitos mengenai manusia purba atau teknologi canggih yang merekayasa struktur genetik, semuanya lahir dari kebutuhan dasariah yang sama, menjawabi realitas alam, kendati semua itu mempunyai dampak yang beraneka.
    Program utama berupa apel siaga dengan memberikan seputar materi, pembekalan motivasi tanggap darurat, ketahanan fisik. Latihan terus dilakukan dengan membagi dua bagian yaitu tim kesehatan lapangan, dapur umum dan tim SAR (darat dan air) sesuatu yang harus diberikan. Pemberian pembekalan sangat penting, Sebab, dari pengalaman berbagai musibah baik itu banjir, tanah longsor dan angin puting beliung hingga kebakaran sering terjadi kesalahpahaman komunikasi antar masyarakat dan petugas. Sehingga berdampak pada efektifitas penanggulangan bencana itu sendiri. Begitu juga dengan masyarakat, peran-perannya saat bencana bisa dipahami sehingga tidak mengganggupetugas itu sendiri. Apabila pembekalan kepada tim TRC dan masyarakat berjalan lancar, diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang menjadi penonton dalam setiap musibah. Mereka akan berupaya mencari jalan, untuk bersama-sama membantu petugas. Bukan mengambil peran petugas saat terjadi musibah.
    Wilayah pantai di Indonesia memiliki potensi pembangunan yang cukup besar karena didukung oleh adanya ekosistem dengan produktifitas hayati yang tinggi sepertri terumbu karang, hutan mangrove, estuaria, padang lamun dan sebagainya. Sumber daya hayati seperti terumbu karanghutan mangrove, estuaria, padang lamun, dan sebagainya. Selain itu wilayah pantai juga memberikan jasa-jasa lingkungan yang cukup tinggi nilai ekonomisnya.
    Dalam satu dekade belakangan ini, laju pemanfaatan sumber daya diwilayah pantai mulai intensif untuk memenuhi kebutuhan penduduk dan kebutuhan lahan untuk permukiman mereka. Salah satu potensi daerah pantai yang telah dimanfaatkan manusia sejak dahulu adalah sebagai tempat tinggal dengan alasan yang bervariasi seperti transportasi, tingginya aktifitas perdagangan dan lain sebagainya. Hampir semua kota besar di Indonesia berada di wilayah pantai, yang berfungsi sebagai lokasi permukiman, perdagangan, perhubungan, perkembangan industri dan berbagai sektor lainnya. Diperkirakan 60% dari populasi penduduk dan 80% dari lokasi industri berada di wilayah pantai.
    Disadari bahwa tanah air Indonesia terdiri dari untaian ribuan pulau yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh perairan laut. Kondisi yang demikian ini menghadapkannya pada masalah interaksi antara daratan dan lautan, khususnya pada pertemuan antara kedua wilayah itu, ialah di sepanjang pantainya. Oleh karena itu karakter laut perlu diamati dan dipelajari dalam hubungannya dengan gejala-gejala alam yang terjadi di laut. Salah satu gejala alam yang memerlukan cukup perhatian adalah kenaikan muka air laut (Sea Level Rise). Gejala alam ini perlu dipelajari karena akan menimbulkan dampak negatif yang tidak kecil terhadap wilayah pantai di Indonesia. Dampak negatif tersebut misalnya berupa peningkatan frekuensi banjir, intrusi air laut, erosi pantai dan sebagainya.

    http://www.ebookf.com/1-/1-bencana-alam-karena-gejala-alam-bencana-alam-bisa-terjadi-book.doc
    http://sim.nilim.go.jp/GE/SEMI2/Proceedings/Makalah%2013.doc
    http://danipujiutomo.files.wordpress.com/2010/08/karya-ilmiah.doc
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam
    http://ancispengelana.blogspot.com/2010/10/bencana-alam-dan-manusia.html

    Nama : Anugrah Humairah
    Nim : 08/271604/DPA/3031
    Prodi : D3 Rekam Medis UGM

  14. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia, merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang terletak di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia, dan dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Selain itu, Indonesia juga terletak di antara tiga lempeng yaitu lempeng Eurasia, Lempeng Indo Australia dan lempeng Pasifik. Akibatnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi. Gempa-gempa ini sebagian berpusat di dasar Samudra Hindia, dan beberapa dapat memicu terjadinya gelombang laut yang besar yang disebut tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia, sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya. Kelompok pantai yang rawan bencana tsunami, adalah kelompok pantai barat Sumatra, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya, dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Dari kurun waktu dari tahun 1600 – 2000, telah terjadi 32 (tiga puluh dua) kali gelombanng tsunami, yang 28 (dua puluh delapan) diantaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 (empat) tsunami lainnya diakibatkan oleh meletusnya gunung api di bawah laut.
    Disamping itu, Indonesia juga merupakan negara yang harus hidup dengan puluhan gunung api aktif yang sewaktu-waktu bisa meletus. Rangkaian gunung api itu, membentang dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara. Dari kepulauan di Laut Banda sampai bagian utara Pulau Sulawesi merupakan daerah gunung api terpanjang di dunia. Tidaklah mengherankan kalau bencana akibat letusan gunung api merupakan salah satu bencana yang sejak dulu menjadi ancaman yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman bagi Indonesia. Di Indonesia terdapat 129 gunung api aktif, 70 buah diantaranya merupakan potensi bahaya yang besar dan 500 buah tidak aktif. Rangkaian gunungapi ini memanjang 7.000 km dari Aceh hingga Sulawesi Utara. Sebagian penduduk, tinggal di sekitar daerah ancaman gunung api. Eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan anak bangsa ini juga dapat berpotensi ancaman bencana yaitu mengakibatkan bencana lingkungan seperti longsor, banjir, polusi dan kekeringan.
    Potensi timbulnya bencana ini memerlukan penanganan yang komprehensif dan menyeluruh, mengingat Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan bahwa tujuan pembentukan Negara Republik Indonesia adalah, antara lain, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kendatipun Berbagai peraturan perundang-undangan yang ada telah mengatur masalah kesejahteraan sosial, namun tetap diperlukan peraturan perundang-undangan yang mengatur secara khusus penanganan bencana.
    Menurut pasal 1 UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
    Tingginya resiko bencana yang menimpa negeri ini telah menjadi kewajiban negara seperti terangkum dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945, dan UU Nomor .24 Tahun 2007 menjadi dasar untuk melakukan suatu langkah antisipasi secara terencana, terkoordinasi dan terpadu dalam penangggulangan bencana.
    Seruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat agar menjadikan tahun 2010 sebagai tahun solidaritas dan kebersamaan untuk membangun kembali negeri dari musibah bencana dan berbagai kesulitan akibat krisis yang lalu, perlu disambut baik karena saat ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia bukanlah saling menyalahkan atau memberikan pernyataan yang bersifat kurang sehat. Sepanjang tahun 2010 ini, terjadi berbagai bencana alam yang merenggut jiwa saudara-saudara kita seperti meletusnya gunung Merapi, tsunami di Mentawai sumatra dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta yang merupakan dilema problematika bangsa Indonesia.
    Sering kita keliru memahami bencana. Kalau ada kejadian alam seperti gempa bumi atau gunung meletus, kita langsung menyebutnya bencana. Para ahli kebencanaan mengingatkan, bencana mestinya dipahami sebagai akibat yang dialami manusia karena suatu kejadian alam dan bukan kejadian alam itu sendiri (Frederick C Cuny, 1983, Disaster & Development).
    Memang harus diakui teknologi pendeteksi bencana di Indonesia masih kurang. Namun demikian, masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa atau gunung api aktif mestinya tahu selalu diintai bahaya. Dalam hal itu, tugas pemerintah daerah dan pemerintah pusat memukimkan rakyat di daerah yang aman.
    Masyarakat dan pemerintah daerah mestinya bisa melakukan upaya-upaya menghindari bencana atau mencegah terjadinya bencana dari kejadian alam. Misalnya, bencana akibat tsunami bisa dicegah dengan menanam dan memelihara hutan mangrove di pantai, yang menjadi pembatas antara permukiman dan laut.
    Di mana pun masyarakat hidup, ancaman bencana dari kejadian alam ataupun konflik sosial selalu bersifat potensial. Karena itu setiap orang harus menyadari dan berusaha keras mencegah terjadinya bencana dari kejadian-kejadian alam maupun konflik sosial.
    Sebagai negara yang rentan bencana, merupakan suatu kehormatan bangsa kalau kita tidak perlu merepotkan dunia internasional apabila terjadi gempa bumi atau gunung meletus. Bencana harus bisa dicegah atau diminimalisasi oleh anak bangsa sendiri. Walaupun ada gejala alam yang menyebabkan bencana yang tidak bisa dihindari, tetaplah harus dimaksimalkan atau dioptimalkan upaya pencegahan yang bersifat massal.
    Selain dampak negatif yang telah dipaparkan pada uraian di atas, sesungguhnya bencana juga memiliki dampak positif yang terkandung di dalamnya. Yaitu, kita tentu dapat menjadikan bencana sebagai salah satu sarana membangun solidaritas kemanusiaan internasional dan global.
    Solidaritas merupakan satu-satunya kekuatan yang dapat menyatukan dan menjadi perekat bagi simpul-simpul berbangsa di Indonesia, tengah dirobek-robek dan dikoyak-koyak keberadaannya.
    Bentuk solidaritas yang terlihat akibat terjadinya bencana yaitu kebersamaan para korban bencana untuk selalu kompak, saling gotong royong, tolong menolong, dll. Contoh nyata solidaritas ini terlihat pada para korban pengungsian letusan gunung berapi. Untuk mencukupi kebutuhan pangannya, sebagian dari mereka (korban) memasak untuk dikonsumsi oleh seluruh korban yang ada di tempat tersebut. Ada yang memasak nasi, memotong sayuran, menumbuk bumbu, menggoreng lauk, dll. Mereka terlihat kompak dan akrab satu sama lain. Walaupun mereka tidak saling mengenal sebelumnya, tetapi dengan kejadian ini rasa persaudaraan tumbuh pada pribadi masing-masing.
    Selain dilihat dari segi korban, solidaritas ini juga terlihat dari segi relawan. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini mengenai banjir lahar dingin. Relawan membantu membersihkan daerah yang terkena banjir lahar dingin, relawan ini juga menebang sebagian pohon yang mengganggu jalannya aliran air agar tidak menghambat jalannya air.
    Bila tatanan dan nilai-nilai kearifan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dirusak dan hendak diseragamkan menjadi nilai-nilai yang imaginer demokratis, maka sebenarnya kita sedang digiring menuju ruang-ruang yang penuh simbol absurditas. Sehingga akhirnya rasa solidaritas kitapun akan hancur , dan peradaban kitapun terancam “punah” .
    Tujuannya hanya satu, yaitu melakukan penetrasi / pengkondisian agar individu-individu orang Indonesia menjadi “mandiri” dalam pengertian selfish individualistik berdasarkan asumsi pembenarannya sendiri-sendiri. Tercabut dari akar “solidaritas” berpikir “SATU” sebagai sesama dan atas nama Bangsa Indonesia. Solidaritas inilah yang harus tetap dijaga agar kita tetap satu walaupun sedang berduka dengan berbagai bencana.

    Referensi :
    2011. Bencana Ekologi. Diakses dari http://hukum-kompasiana.com pada tanggal 10 Januari 2011 jam 20.00 WIB.
    Rivaldi, F. Pasca Musibah Bencana Alam Dibutuhkan Solidaritas dan Kebersamaan Sesama Bangsa Di dunia mimbar-opini. Diakses dari http://www.mimbaropini.com pada tanggal 10 Januari 2011 jam 20.00 WIB.
    2010. Solidaritas. Diakses dari http://www.wordpress.com pada tanggal 10 Januari 2011 jam 20.00 WIB.
    Penjelasan RUU pada tanggal 10 Januari 2011 jam 20.00 WIB

    NAMA : RIA DESIANA
    NIM : 08/271576/DPA/3017
    PRODI : D3 REKAM MEDIS UGM

  15. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia, merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang terletak di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia, dan dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Selain itu, Indonesia juga terletak di antara tiga lempeng yaitu lempeng Eurasia, Lempeng Indo Australia dan lempeng Pasifik. Akibatnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi. Gempa-gempa ini sebagian berpusat di dasar Samudra Hindia, dan beberapa dapat memicu terjadinya gelombang laut yang besar yang disebut tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia, sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya. Kelompok pantai yang rawan bencana tsunami, adalah kelompok pantai barat Sumatra, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya, dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Dari kurun waktu dari tahun 1600 – 2000, telah terjadi 32 (tiga puluh dua) kali gelombanng tsunami, yang 28 (dua puluh delapan) diantaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 (empat) tsunami lainnya diakibatkan oleh meletusnya gunung api di bawah laut.
    Disamping itu, Indonesia juga merupakan negara yang harus hidup dengan puluhan gunung api aktif yang sewaktu-waktu bisa meletus. Rangkaian gunung api itu, membentang dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara. Dari kepulauan di Laut Banda sampai bagian utara Pulau Sulawesi merupakan daerah gunung api terpanjang di dunia. Tidaklah mengherankan kalau bencana akibat letusan gunung api merupakan salah satu bencana yang sejak dulu menjadi ancaman yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman bagi Indonesia. Di Indonesia terdapat 129 gunung api aktif, 70 buah diantaranya merupakan potensi bahaya yang besar dan 500 buah tidak aktif. Rangkaian gunungapi ini memanjang 7.000 km dari Aceh hingga Sulawesi Utara. Sebagian penduduk, tinggal di sekitar daerah ancaman gunung api. Eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan anak bangsa ini juga dapat berpotensi ancaman bencana yaitu mengakibatkan bencana lingkungan seperti longsor, banjir, polusi dan kekeringan.
    Potensi timbulnya bencana ini memerlukan penanganan yang komprehensif dan menyeluruh, mengingat Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan bahwa tujuan pembentukan Negara Republik Indonesia adalah, antara lain, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kendatipun Berbagai peraturan perundang-undangan yang ada telah mengatur masalah kesejahteraan sosial, namun tetap diperlukan peraturan perundang-undangan yang mengatur secara khusus penanganan bencana.
    Menurut pasal 1 UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
    Tingginya resiko bencana yang menimpa negeri ini telah menjadi kewajiban negara seperti terangkum dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945, dan UU Nomor .24 Tahun 2007 menjadi dasar untuk melakukan suatu langkah antisipasi secara terencana, terkoordinasi dan terpadu dalam penangggulangan bencana.
    Seruan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat agar menjadikan tahun 2010 sebagai tahun solidaritas dan kebersamaan untuk membangun kembali negeri dari musibah bencana dan berbagai kesulitan akibat krisis yang lalu, perlu disambut baik karena saat ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia bukanlah saling menyalahkan atau memberikan pernyataan yang bersifat kurang sehat. Sepanjang tahun 2010 ini, terjadi berbagai bencana alam yang merenggut jiwa saudara-saudara kita seperti meletusnya gunung Merapi, tsunami di Mentawai sumatra dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta yang merupakan dilema problematika bangsa Indonesia.
    Sering kita keliru memahami bencana. Kalau ada kejadian alam seperti gempa bumi atau gunung meletus, kita langsung menyebutnya bencana. Para ahli kebencanaan mengingatkan, bencana mestinya dipahami sebagai akibat yang dialami manusia karena suatu kejadian alam dan bukan kejadian alam itu sendiri (Frederick C Cuny, 1983, Disaster & Development).
    Memang harus diakui teknologi pendeteksi bencana di Indonesia masih kurang. Namun demikian, masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa atau gunung api aktif mestinya tahu selalu diintai bahaya. Dalam hal itu, tugas pemerintah daerah dan pemerintah pusat memukimkan rakyat di daerah yang aman.
    Masyarakat dan pemerintah daerah mestinya bisa melakukan upaya-upaya menghindari bencana atau mencegah terjadinya bencana dari kejadian alam. Misalnya, bencana akibat tsunami bisa dicegah dengan menanam dan memelihara hutan mangrove di pantai, yang menjadi pembatas antara permukiman dan laut.
    Di mana pun masyarakat hidup, ancaman bencana dari kejadian alam ataupun konflik sosial selalu bersifat potensial. Karena itu setiap orang harus menyadari dan berusaha keras mencegah terjadinya bencana dari kejadian-kejadian alam maupun konflik sosial.
    Sebagai negara yang rentan bencana, merupakan suatu kehormatan bangsa kalau kita tidak perlu merepotkan dunia internasional apabila terjadi gempa bumi atau gunung meletus. Bencana harus bisa dicegah atau diminimalisasi oleh anak bangsa sendiri. Walaupun ada gejala alam yang menyebabkan bencana yang tidak bisa dihindari, tetaplah harus dimaksimalkan atau dioptimalkan upaya pencegahan yang bersifat massal.
    Selain dampak negatif yang telah dipaparkan pada uraian di atas, sesungguhnya bencana juga memiliki dampak positif yang terkandung di dalamnya. Yaitu, kita tentu dapat menjadikan bencana sebagai salah satu sarana membangun solidaritas kemanusiaan internasional dan global.
    Solidaritas merupakan satu-satunya kekuatan yang dapat menyatukan dan menjadi perekat bagi simpul-simpul berbangsa di Indonesia, tengah dirobek-robek dan dikoyak-koyak keberadaannya.
    Bentuk solidaritas yang terlihat akibat terjadinya bencana yaitu kebersamaan para korban bencana untuk selalu kompak, saling gotong royong, tolong menolong, dll. Contoh nyata solidaritas ini terlihat pada para korban pengungsian letusan gunung berapi. Untuk mencukupi kebutuhan pangannya, sebagian dari mereka (korban) memasak untuk dikonsumsi oleh seluruh korban yang ada di tempat tersebut. Ada yang memasak nasi, memotong sayuran, menumbuk bumbu, menggoreng lauk, dll. Mereka terlihat kompak dan akrab satu sama lain. Walaupun mereka tidak saling mengenal sebelumnya, tetapi dengan kejadian ini rasa persaudaraan tumbuh pada pribadi masing-masing.
    Selain dilihat dari segi korban, solidaritas ini juga terlihat dari segi relawan. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini mengenai banjir lahar dingin. Relawan membantu membersihkan daerah yang terkena banjir lahar dingin, relawan ini juga menebang sebagian pohon yang mengganggu jalannya aliran air agar tidak menghambat jalannya air.
    Bila tatanan dan nilai-nilai kearifan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dirusak dan hendak diseragamkan menjadi nilai-nilai yang imaginer demokratis, maka sebenarnya kita sedang digiring menuju ruang-ruang yang penuh simbol absurditas. Sehingga akhirnya rasa solidaritas kitapun akan hancur , dan peradaban kitapun terancam “punah” .
    Tujuannya hanya satu, yaitu melakukan penetrasi / pengkondisian agar individu-individu orang Indonesia menjadi “mandiri” dalam pengertian selfish individualistik berdasarkan asumsi pembenarannya sendiri-sendiri. Tercabut dari akar “solidaritas” berpikir “SATU” sebagai sesama dan atas nama Bangsa Indonesia. Solidaritas inilah yang harus tetap dijaga agar kita tetap satu walaupun sedang berduka dengan berbagai bencana.

    NAMA : RIA DESIANA
    NIM : 08/271576/DPA/3017
    PRODI : D3 REKAM MEDIS UGM

  16. MENATAP MASA DEPAN BANGSA DI TENGAH BADAI BENCANA

    Jamrud Khatulistiwa adalah sebuah julukan yang menggambarkan betapa indahnya negeri kita ini. Tapi itu dulu, dulu sekali. Entahlah…masihkah julukan itu berlaku dengan kondisi Indonesia yang seperti sekarang? Bencana terjadi di mana-mana. Gunung meletus, banjir, puting beliung, adalah sederet kecil bencana alam yang pernah “mampir” di Indonesia. Hal ini juga tidak terlepas dari kondisi geografis Indonesia. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia mencatat sekurang-kurangnya ada 28 wilayah di Indonesia yang rawan gempa dan tsunami. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga dilalui jalur Cincin Api Pasifik (The Pacific Ring of Fire) yang merupakan rangkaian gunung api aktif di dunia dan membentang di antara subduksi dan pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Belum lagi ditambah dengan potensi gunung api. Indonesia memiliki gubung berapi kurang lebih 240 buah dan hampir 70 di antaranya masih aktif. Dengan kondisi geografis Indonesia yang seperti itu menjadikannya rentan terhadap bencana, baik bencana geologi (gunung meletus dan gempa), oseonologis (tsunami dan banjir pasang), meteorologis (banjir dan kekeringan), dan lain sebagainya. Sebagian akibat proses alami yang memang tidak ada campur tangan manusia, seperti gempa, gunung meletus, dan tsunami. Sebagian lagi karena akibat proses alamiah yang terkait dengan campur tangan manusia, baik secara langsung (seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor), maupun yang tidak langsung (seperti banjir pasang akibat abrasi maupun penurunan permukaan tanah di daerah pantai).

    Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk menanggapi bencana alam yang cenderung sulit diprediksi akhir-akhir ini? Sejauh ini masyarakat terlihat cepat tanggap dalam merespon dan ditanggapi secara serius. Lihat saja bagaimana masyarakat yang ikut aktif menjadi relawan untuk mencari korban Tsunami di Aceh. Lihat pula bagaimana bantuan langsung tersalur pada saat jebolnya Waduk Situ Gintung. Lihat juga bagaimana masyarakat ikut merekonstruksi ketika bencana gempa bumi terjadi di Yogyakarta. Dan mungkin yang belum hilang dari ingatan kita adalah ketika mereka ikut mengevakusi korban bencana meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Dengan bersatu padu dan solidaritas yang tinggi seluruh lapisan masyarakat ikut membantu saudara-saudaranya yang sedang tertimpa musibah. Entah dengan sumbangan harta benda, pikiran, dukungan semangat, atau bahkan sekedar doa. Sebenarnya peran untuk ikut andil dalam menanggulangi bencana alam bisa lebih besar lagi. Apa yang sudah dilakukan di atas sebenarnya adalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum dimaksimalkan adalah penanganan prabencana. Padahal jika dirunut ke belakang, antisipasi prabencana ini juga tidak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk yang diakibatkan oleh bencana.

    Di tengah terpaan banyak bencana seperti saat ini, menegakkan solidaritas dan soliditas sosial merupakan suatu kewajiban utama sebagai sesama bangsa Indonesia. Menunggu peran pemerintah yang sering lambat dalam menangani bencana dapat membuat saudara-saudara kita yang tertimpa bencana semakin terpuruk. Sudah saatnya Bangsa Indonesia bersama-sama dan bersatu padu meringankan beban saudara yang tertimpa musibah. Dalam konteks kemanusiaan, tali persaudaraan sebagai wujud nyata kasih sayang kepada sesama manusia. Tanpa kasih sayang, persatuan hanya slogan yang tak berarti apa-apa. Tanpa kasih sayang, persaudaraan justru akan menjadi ajang permusuhan.

    Solidaritas dan soliditas juga harus ditunjukkan para elite dan birokrat politik. Mereka harus bersatu padu dan bersama-sama menggerakkan politiknya untuk menciptakan solidaritas dan soliditas terutama dalam penanganan bencana. Jangan sampai kejadian bencana ini dimanfaatkan untuk kepentingan politik semata. Bencana harus disikapi dengan sikap kemanusiaan, membela rasa kemanusiaan, bukan ajang kampanye politik.

    Di tengah suramnya wajah bangsa dengan berbagai persoalan yang melilit inilah, sudah selayaknya kita bercermin untuk bangkit. Bencana dapat menjadi momentum tepat sebagai media efektif dalam menggerakkan perubahan sosial untuk menumbuhkan rasa memiliki akan kebangsaan, solidaritas, maupun soliditas kita. Keragaman kita jadikan sebagai potensi membangun Indonesia yang lebih maju dan beradab dengan beragam potensi yang dimiliki bangsa. Dengan keragamaan yang ada, solidaritas dan soliditas bisa menumbuhkan kepekaan sosial untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.
    Di sinilah pentingnya solidaritas dan soliditas untuk mewujudkan kebangkitan bangsa. Bangkit di tengah keterpurukan dengan kasih sayang antar sesama manusia tanpa harus dibatasi suku, agama, ras, dan golongan akan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang bangkit dan berjaya di masa mendatang. Kasih sayang antar sesama manusia dapat menjadi modal utama untuk mewujudkan persatuan dalam membangun sebuah peradaban. Peradaban yang dibangun dengan fondasi kebencian hanya akan menghadirkan konflik dan perang antarsaudara. Persatuan dan kesatuan dengan rasa solidaritas dan soliditas yang inilah yang akan menjadikan Indonesia terus bangkit di tengah badai bencana seperti ini.

    Namun, di dalam membangun sebuah solidaritas dan soliditas sosial diperlukan beberapa hal. Diantaranya yaitu, pentingnya menanamkan kembali kesadaran bahwa tidak sepantasnya kita merasa benar sendiri. Sikap ini hanya akan menganggap saudara yang lain sebagai musuh dan menganggap dirinya sendiri yang paling benar. Jika kita mampu menanamkannya, berarti kita menganggap sesama manusia sederajat secara kemanusiaan, maka sikap kita terhadap mereka akan saling menyayangi, mengasihi, dan, menolong. Hal ini harus diterapkan secara inklusif dan pluralis. Inklusif berarti terbuka terhadap segala hal, tidak peduli apakah dia sesuku atau tidak, seagama atau tidak, seetnis atau tidak, dan lain sebagainya. Semua hal harus diterima secara terbuka tanpa harus menutup diri dengan kelompok lain. Sedangkan pluralis adalah suatu anggapan yang menganggap bahwa agama, etnis, budaya, dan lain sebagainya sebagai suatu rahmat Tuhan. Karena kedudukannya sebagai rahmat, maka perbedaan itu harus dimanfaatkan untuk menjadikan perbedaan itu menjadi persamaan untuk saling mengasihi dan menyayangi antar sesama manusia.
    Langkah kedua, menumbuhkan rasa saling memiliki dan mengasihi. Ibaratnya, kita adalah satu tubuh. Ketika ada bagian yang sakit maka bagian tubuh yang sakit juga akan merasakan sakit yang sama. Dengan sikap merasa senasib sepenanggungan seperti itu, ketika ada yang terkena musibah yang lainnya akan ikut merasakannya juga.
    Langkah ketiga, membenahi struktur kehidupan. Perlu adanya pembenahan secara menyeluruh di dalam struktur masyarakat. Misalnya saja, pendidikan harus ditempatkan sebagaimana mestinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan untuk komersialisasi dan ajang bisnis kelompok tertentu yang berkepentingan.

    Solidaritas dan soliditas bangsa ini akan dapat terwujud apabila dari tiap-tiap individu mulai menanamkan pada diri mereka masing-masing. Karena sudah seharusnya permasalahan bencana ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga tanggung jawab kita semua, tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia.

    Referensi
    http://nasional.kompas.com/read/2010/12/20/08010710/Mengintip.Potensi.Bencana.2011
    http://www.lintasberita.com/go/1550884
    http://tempointeraktif.com

    Rika Andriani
    08/271598/DPA/03029
    Rekam Medis

  17. Nama : Nur Isnaini
    Nim : 08/273803/DPA/3098
    Tugas : Kewarganegaraan(B)

    Potensi Kerawanan Bencana Sesungguhnya Bernilai Positif Meningkatkan Solidaritas Dan Soliditas Bangsa

    Indonesia adalah sebuah negera yang rawan bencana. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tempat terjadinya dua letusan gunungapi terbesar di dunia. Indonesia juga tidak lepas dari bencana besar yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit. Sebagian dari material vulkanik ini membentuk lapisan di atmosfir yang memantulkan balik sinar matahari ke atmosfir. Karena sinar matahari yang memasuki atmosfir berkurang banyak, sehingga bumi tidak menerima cukup panas dan terjadi gelombang hawa dingin. Gelombang hawa dingin membuat tahun 1816 menjadi “tahun yang tidak memiliki musim panas” dan menyebabkan gagal panen di banyak tempat serta kelaparan yang meluas.
    Dalam abad yang sama, Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Erupsi Krakatau diperkirakan memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT, kira-kira 13.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dalam Perang Dunia II. Gempah bumi ini memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 225.000 jiwa di sebelas negara dan menimbulkan kehancuran di kawasan pesisir di negara-negara yang terkena. Sepanjang abad XX hanya sedikit bencana yang menimbulkan korban jiwa masif seperti itu. Di Indonesia sendiri gempabumi dan tsunami mengakibatkan sekitar 165.708 korban jiwa dan nilai kerusakan yang ditimbulkannya mencapai lebih dari Rp 48 triliun.
    Banjir yang yang sering terjadi di Jakarta dan wilayah sekitarnya, kota-kota di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo dan beberapa daerah lain di Indonesia menimbulkan kerugian material dan non-material senilai triliunan rupiah.Sehingga Negara Indonesia merupakan Negara yang tidak asing dengan bencana alam. Dengan adanya bencana yang terjadi di Indonesia maka akan menimbulkan kesadaran warganya tentang kepedulian. Karena itu bangsa Indonesia mempunyai ciri khas dalam hal ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Bahkan, bencana yang terjadi seakan menjadi sarana penguat persatuan dan kepedulian bangsa Indonesia. Dan kini saatnya kita membuktikan rasa persaudaran dan rasa empati kepada orang lain dengan cara melakukan sikap peduli, empati, dan sikap gotong royong merupakan karakter bangsa Indonesia yang perlu dihidupkan kembali, terutama dalam menghadapi masa-masa kesulitan seperti sekarang yang melanda Bangsa Indonesia. Dengan adanya berbagai musibah maupun bencana yang terjadi di Indonesia dapat menggugah batin kita agar masyarakat bisa meningkatkan rasa solidaritas terhadap sesama.
    Rasa solidaritas itu bisa di buktikan dengan melakukan aksi sosial penggalangan dana untuk membantu para korban bencana yang merupakan usaha yang mulia dan merupakan aplikasi nyata dari jiwa kepahlawanan untuk menolong sesama yang terkena bencana alam. Untuk itu mari kita sisihkan sebagian harta kita untuk membantu para korban bencana dengan meningkatkan rasa solidaritas terhadap sesama. Rasa solidaritas yang sangat luar biasa juga ditemukan diantara mahasiswa, mereka juga bersemangat melakukan aksi sosial dengan menggalang dana di berbagai tempat, seperti di kampus mereka masing-masing, di jalan raya, dan sebagainya. Lebih konkretnya lagi, banyak ditemui pula mahasiswa yang menjadi sukarelawan-sukarelawan penanggulangan bencana Merapi ataupun bencana di tempat lain. Organisasi mahasiswa juga ikut membuka posko-posko tersendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung terjun ke masyarakat korban yang terkena bencana alam, yaitu dengan mendirikan posko peduli bencana serta di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan dengan bantuan teknologi social networking yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam. Bahkan, bangsa-bangsa lain di dunia menaruh perhatian khusus terhadap bencana yang secara terus-menerus yang melanda Indonesia.
    Hal semacam ini patut diapresiasikan dengan memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana, yang datang silih berganti menimpa negara Indonesia. Semangat dan sikap seperti itu yang dapat menimbulkan rasa solidaritas bangsa Indonesia. Rasa solidaritas dan soliditas bertumpu pada sikap pengorbanan yang selalu selalu dibutuhkan untuk menghadapi bahaya bencana yang senantiasa terjadi di Indonesia, sikap solidaritas dan soliditas ini bukan merupakan sikap yang nementingkan sikap individu melainkan sikap yang bertujuan untuk kepentingan hidup bersama dalam kehidupan sehari-hari dengan rasa salodaritas yang terorganisir.
    Solidaritas yang terorganisir juga akan bisa menghindari penyalahgunaan dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas untuk memenuhi kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Tujuan dari solidaritas yang terorganisir ini adalah membuat bantuan tepat sasaran atau yang benar-benar membutuhkan. Sehingga beban para korban bencana dapat terkurangi dengan adanya bantuan yang diberikan oleh masyarakat luas. Bantuan yang diberikan oleh masyarakat luas tidak memandang dari nilai barang yang diberikan tetapi seberapa besar sikap solidarotas yang di berikan oleh para korban yang terkena bencana.
    Penderitaan yang di alami masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai, justru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia dengan meninggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia. Karena sikap ini sangat di butuhkan setiap orang, sehingga dengan adanya sikap yang toleransi dengan mengembangkan sikap solidaritas dan soliditas akan tercipta hubungan kekeluargaan dalam kehidupan sehari-hari.
    Namun, di balik bencana alam yang terjadi di Indonesia terkandung hikmah yang bisa kita ambil, selain membentuk sikap sabar juga meningkatnya rasa solidaritas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Baik atas nama individu maupun institusi. Maka, dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan, rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Ekspresi rasa setia kawan seperti tidak habis-habisnya sekalipun bencana datang silih berganti.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana.

    Referensi :
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html. Di akses pada tanggal 10 Januari pada jam 17.45.
    http://teraskita.wordpress.com/2010/11/06/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/. Di akses pada tanggal 10 Januari pada jam 17.49.
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam. Di akses pada tanggal 10 Januari pada jam 18.00.
    http://www.ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=1&Itemid=267&lang=id. Di akses pada tanggal 10 Januari pada jam 18.10.
    http://forum.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/11/16/63473/aksi-sosial-bencana. Di akses pada tanggal 10 Januari pada jam 18.20.
    http://www.harianbhirawa.co.id/arsip/18977-solidaritas-korban-bencana. Di akses pada tanggal 10 Januari pada jam 18.45.
    http://bataviase.co.id/node/458998. Di akses pada tanggal 10 Januari pada jam 18.57.

  18. Nama : Astuti Nurilasari
    NIM : 08/271640/DPA/3045
    Kelas : Rekam Medis A

    Potensi Kerawanan Bencana sesungguhnya Bernilai Positif untuk Meningkatkan Solidaritas dan Soliditas Bangsa

    Prihatin.
    Bumi Indonesia sedang diguncang. Banyaknya bencana alam yang terjadi, membuat kita harus memutar memori beberapa bulan yang lalu. Dimulai dari banjir bandang yang menghantam bumi Wasior-Papua, ratusan keluarga harus kehilangan tempat tinggal dan sanak saudaranya. Tidak lama kemudian Mentawai-sebuah pulau kecil di sebelah barat propinsi Sumatera Barat telah diluluhlantakan oleh gelombang tsunami yang juga merenggut ratusan warga, dan pengevakuasian warga sangat terhambat karena Mentawa-Sumatera Barat sangat sulit dijangkau oleh alat transportasi apapun. Selang beberapa hari, bumi Jogja bergejolak, Merapi mengeluarkan isi perut bumi, Jogja dan sekitarnya merasakan dampak yang begitu nyata. Setelah letusan terdahsyat pada 5 November 2010 paginya seluruh Jogja diselimuti abu vulkanik dan sempat jadi kota ‘mati’ para warga lebih memilih menyelamatkan diri di pengungsian dadakan. Betapa ketiga bencana yang berurutan ini telah menguras air mata namun ketiga bencana inilah ‘hadiah’ terbesar yang diberikan oleh Tuhan dipenghujung tahun 2010. Sebuah ‘hadiah’ yang membuat seluruh lapisan masyarakat di Indonesia membuka hati untuk membantu saudara-saudaranya yang sedang tertimpa musibah.
    Beberapa hal yang perlu menjadi fokus utama yaitu toleransi, kerjasama, dan solidaritas. Sebuah kalimat yang sudah kita agung-agungkan sejak dulu tetapi terkadang kita tidak pernah menjumpainya bahkan menjalaninya. Namun, sebuah bencana telah merubah hati seluruh masyarakat Indonesia, bahkan hati negara tetangga. Rasa solidaritaslah yang membuat masyarakat Indonesia menciptakan rasa toleransi dan kerjasama yang begitu kuat, saling bahu membahu untuk meringkankan beban berat yang sedang dipikul ibu pertiwi. Ini menjadi sesuatu yang patut untuk diapresiasi bagi bangsa kita bagaimana sikap masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan setia kawan kepada para korban bencana. Semangat, ekspresi, sikap maupun dampak solidaritas sosial inilah yang terlihat mengesankan. Tergerak secara spontan diberbagai lapisan masyarakat berbondong-bondong mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan pertolongan baik secara perseorangan maupun kelompok. Nilai dan makna solidaritas sosial seolah berkobar bagi bangsa dan negara kita yang sangat rawan terhadap bencana alam.
    Solidaritas telah menyelamatkan banyak nyawa serta memberi kehidupan bagi sesama. Rasa dan ekspresi setia kawan sebagai modal seperti tidak meredup di Indonesia, bantuan datang silih berganti seperti tidak ada habisnya. Yang paling istimewa adalah kerjasama, dimana para relawan dari berbagai suku, ras, dan daerah, bisa bersatu demi kelancaran distribusi bantuan di berbagai penampungan korban bencana. Disinilah mereka membutuhkan komunikasi yang baik, karena dengan komunikasi yang baik akan meminimalkan kesalahan pendistribusian bantuan. Komunikasi ini dapat kita anggap sebagai aplikasi dari kerjasama yang dibangun untuk sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang didasarkan dari kemauan, kesediaan berkorban dan keinginan untuk menolong.
    Masih kita ingat peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda yang dperingati tanggal 28 Oktober tak jauh dari runtutan peristiwa bencana yang terjadi di Indonesia, tentu masih kita ingat pula bagaimana cita-cita dari para pemuda Indonesia yang seakan semakin luntur di masa saat ini. Namun dari peristiwa bencana alam ini dapat kita lihat solidaritas dan soliditas pemuda menjadi bentuk pembuktian atas Sumpah Pemuda, bahwa ditengah lunturnya jiwa semangat kaum muda ternyata masih ada para pemuda yang memiliki rasa kepedulian dan solidaritas seperti cita-cita dari Sumpah Pemuda. Sebagai salah satu contoh ekspresi solidaritas dan soliditas pemuda ini terlihat diantara mahasiswa yang bersemangat menggalang dana melawan diberbagai tempat, kampus, jalan raya, maupun sebagai sukarelawan penanggulangan bencana. Mereka bergabung dan bergotong royong bersama sukarelawan lainnya dari Tim SAR, TNI, PMI, polisi serta lembaga bantuan sosial lainnya. Tidak kalah banyaknya mahasiswa yang turut serta membuka posko-posko tersendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan korban bencana. Dari berita saya juga melihat bentuk kepedulian pemuda juga ditunjukkan oleh beberapa pemuda pengamen jalanan yang selama tiga hari berturut-turut melawan teriknya matahari mengamen bukan untuk mengisi perut mereka sendiri tetapi uang jeripayah tersebut disalurkan untuk korban bencana. Sungguh luar biasa, bentuk kepedulian diberbagai lapisan pemuda bangsa Indonesia seakan berkobar seperti jiwa-jiwa pemuda yang mengumandangkan Sumpah Pemuda.
    Bencana alam sering kita lihat dari segi dampak terpuruk namun terkadang kita melupakan sisi positif lain yang justru menguatkan kita sebagai satu bangsa yang senasib sepenanggungan seperti sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Meningkatnya solidaritas sosial sesama anak bangsa, masyarakat, pemuda, maupaun segelintir pejabat tanpa memandang segala macam perbedaan seakan menjadi aplikasi dari soliditas kita sebagai bangsa Indonesia. Bersama mereka saling bekerjasama dalam penggalangan serta pengiriman bantuan ditempuh dengan berbagai cara untuk satu tujuan yaitu meringankan beban saudara. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam. Namun bentuk solidaritas dan soliditas ini juga perlu diorganisir agar menghidari “penyalahgunaan” dana yang telah dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.
    Puluhan miliar rupiah dikumpulkan dari sumbangan rakyat Indonesia yang bersimpati akan penderitaan korban bencana. Uang dalam jumlah besar atau kecil dan dari segala lapisan masyarakat terus mengalir untuk meringankan penderitaan korban selamat di wilayah bencana. Bukan besarnya uang yang menyejukkan hati karena pemerintah dan negara-negara sahabat memberi lebih banyak. Tetapi lebih dari sekedar itu, banyaknya orang yang memberikan sumbangan besar dan kecil itu jadi catatan tersendiri bagi kita semua dalam memaknai bencana alam yang datang silih berganti di tanah ibu pertiwi ini. Deretan nama-nama orang biasa, yang tidak terkenal maupun yang terkenal, seakan-akan tanpa akhir terpampang di banyak media massa. Pertanda betapa banyaknya orang Indonesia bersedia menyisihkan sebagian dari dirinya untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
    Inilah yang patut kita maknai karena dibalik derita korban bencana alam di Wasior, Mentawai dan Merapi justru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia, kehidupan serta soliditas bangsa. Rasa solidaritas dan soliditas bangsa seakan telah menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia. Semangat pengorbanan tidak hanya dibutuhkan untuk menghadapi bahaya bencana yang senantiasa mengintai Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan hidup bersama sehari-hari. Dan yang perlu kita garis bawahi dapatkah solidaritas dan soliditas bangsa tetap tumbuh subur tanpa harus dengan bencana alam? Pertanyaan itu menjadi PR bagi kita semua yang patut untuk memperjuangkan dan dibuktikan. Kita semua pasti berharap semoga solidaritas sosial diatas tidak menjadi luntur di negeri ini, di tanah ibu pertiwi ini, di bangsa ini karena solidaritas sosial menjadi solidaritas dan soliditas bangsa kita “Indonesia”.

    Referensi :
    http://www.facebook.com/group.php?gid=164396186905368
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html
    http://teraskita.wordpress.com/2010/11/06/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam
    http://www.ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=1&Itemid=267&lang=id

  19. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia merupakan sebuah negeri yang rawan terjadi bencana alam. Geografis Indonesia mengandung banyak potensi kerawanan bencana alam, namun sesungguhnya potensi kerawanan bencana alam bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa.
    Belakangan ini bencana beruntun melanda negeri ini, mulai dari banjir bandang di Wasior Papua, gempa bumi, dan tsunami di Mentawai disusul meletusnya Gunung merapi, dan yang terakhir meningkatnya aktifitas gunung Bromo yang mengakibatkan hujan abu tebal di daerah sekitarnya.
    Banjir Wasior memprihatinkan kita karena penanganannya yang terkesan kurang perhatian dari pemerintah pusat. Ini menjadi tipikal bencana alam yang terjadi jauh dari sentra pemerintahan di Jakarta. Tsunami Mentawai memprihatinkan kita selain karena respon, darurat tanggap bencana yang terhambat oleh banyak faktor termasuk kondisi lapangan yang ditempuh. Letusan gunung Merapi memprihatinkan kita karena letusannya kali ini dapat dikatakan lebih parah dari sebelumnya. Kendala evakuasi tidak hanya masalah fisik namun juga psikologis.
    Indonesia secara geografis dengan kepulauan nusantaranya yang terdiri dari sekitaer tigabelas ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan resiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar tigaratus gunung api dikepulauan nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir.
    Indonesia sebagai Negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dalam mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana dikalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat public yang dihrapakan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi sosial networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Pelajaran yang dapat dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu, dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bancana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
    Masyarakat Indonesia yang hidup di Negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang resiko bencana, pengetahuan, dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah mari sama-sama kita banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.
    Hal yang patut diapresiasi dalam berbagai bencana alam selama ini adalah sikap warga masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana yang dating silih bergantian menimpa. Semangat dan sikap itu pulalah yang terlibat secara mengesankan. Luar biasa semangat ekspresi ataupun dampak solidaritas sosial itu. Tanpa perlu dikomando, spontan warga masyarakat secara perseorangan atau berkelompok mengulurkan tangan memberikan bantuan dan pertolongan. Makna dan nilai solidaritas sosial itu sangat besar, lebih-lebih bagi bangsa dan Negara Indonesia yang sangat rawan akan terjadinya berbagai bencana alam.
    Maka dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Ekspresi rasa setia kawan seperti tidak habis-habisnya sekalipun bencana dating silih berganti. Solidaritas sosial merupakan ekspresi paling orisinal dan suci dari manusia dan kemanusiaan. Rasa setia kawan lahir dari dorongan hati paling dalam dan murni. Kekuatan terbesarnya terletak pada sikap menolong dan kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama. Semangat kepahlawanan yang bertumpu pada sikap pengorbanan selalu dibutuhkan. Semangat pengorbanan tidak hanya dibutuhkan untuk menghadapi bahaya bencana yang senantiasa mengintai Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan hidup bersama sehari-hari.
    Karena Indonesia merupakan Negara yang tidak asing dengan bencana alam, kesadaran warganya akan kepedulian sangatlah tinggi. Bangsa Indonesia khas dalam hal ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Bahkan, bencana alam yang terjadi seakan menjadi sarana penguat persatuan dan kepedulian bangsa Indonesia. Rasa solidaritas dan soliditas bangsa ini diwujudkan dengan berbagai kalangan mengadakan penggalangan dana untuk disumbangkan kepada para korban bencana. Banyak juga dari berbagai kalangan dari PMI, Tim SAR, TNI, Polisi, dan lembaga-lembaga bantuan sosial lainnya yang bersedia menjadi relawan penanggulangan bencana dilokasi maupun di posko-posko bencana. Tidak jarang juga, organisasi mahasiswa pun ikut membuka posko-posko tersendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana. Selain itu banyak pula sarana pelayanan kesehatan yang disediakan untuk memberikan pertolongan pertama serta pengobatan bagi para korban bencana. Banyak bantuan dari masyarakat berupa bahan makanan pokok, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari termasuk peralatan mandi dan sebagainya yang dikirim untuk para korban bencana. Dan relawan juga berperan untuk membantu penyembuhan trauma bagi anak-anak korban bencana dengan mengadakan belajar dan bermain bersama untuk menghilangkan trauma dan menghibur anak-anak. Dan berbagai cara yang dilakukan masyarakat untuk membantu para korban bencana alam yang kepar terjadi di Indonesia.
    Maka sebagai sesama bangsa hendaknya kita harus tetap peduli terhadap orang-orang yang kesusahan atau yang membutuhkan bantuan, dimanapun, kapanpun, dan siapapun itu, seperti saat ini dan mempunyai cara lain selain “bencana” agar tetap bersatu dan mempunyai rasa kesatuan dan solidaritas bangsa ini. Dan terbukti bahwa potensi kerawanan bencana alam bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa.
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam
    http://www.ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=1&Itemid=267&lang=id
    Mangenjali Madyanti Arka Putri
    08/273850/DPA/3105
    DIII Rekam Medis

  20. SOLIDITAS BUAH SOLIDARITAS TANGGAP BENCANA ALAM
    Oleh: Endiah Shinta Irina

    Mencoba mengkaji satu per satu kalimat di atas. Dalam kamus Indonesia, soliditas adalah keadaan (sifat) solid (kukuh, berbobot, dsb). Jika kita menggaris bawahi kata “kukuh”, maka dapat dijelaskan bahwa dengan bencana/ musibah yang dialami bangsa ini, membuat aspek internal di dalamnya menjadi pribadi- pribadi yang bisa kukuh dan saling mengukuhkan satu dan yang lainnya.
    Solidaritas adalah sifat (perasaan) solider; sifat satu rasa (senasib dsb); perasaan setia kawan: — antara sesama anggota sangat diperlukan. Kalau pepatah mengatakan “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, mungkin itu adalah gambaran yang tepat untuk mendeskripsikannya. Walau di sebagian wilayah tidak merasakan dampak langsung dari bencana alam (contohnya: Wasior, Mentawai, dan Yogyakarta), namun secara batin mereka ikut merasakan penderitaan yang dialami saudara mereka di negeri ini. Tidak hanya simpati yang mereka berikan, namun dengan rasa empatilah mereka ada untuk mengulurkan tangan.
    Bencana adalah sesuatu yg menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan; bahaya. Apapun yang bersifat membahayakan adalah wujud dari bencana, namun dalam konteks tulisan ini adalah sesuatu hal yang besar ang mengancam jiwa manusia. Contohnya adalah bencana alam. Dalam bencana ini, tidak hanya merugikan dalam bentuk materi, kerugian dalam bentuk psikis pun juga mengancam. Bagaimana tidak, mereka harus mengalami kejadian yang tidak mengenakkan dalam hidup mereka, kejadian yang tidak pernah mereka sangka- sangka.
    Dalam tulisan yang ditulis oleh Milastri Muzakkar dengan judul Bencana Alam : Solidaritas, Kesabaran, dan Kritisisme, dijelaskan bahwa paling tidak, ada tiga hal –solidaritas, kesabaran, dan sikap kritis-yang selalu mengikuti peristiwa bencana alam. Setiap kali bencana datang, saat itu juga, rasa prihatin yang menampakkan solidaritas dari seluruh penjuru dunia, segera mengalir. Dari ungkapan prihatin melaui, sms, telepon, iklan TV, akun facebook, twitter, memberikan sumbangan langsung berupa uang, obat-obatan, logistic, sampai bersedia menjadi relawan yang terjun langsung ke lokasi gempa.
    Beberapa bulan ini, mahasiswa dari berbagi universitas melakukan pengggalangan dana di jalan-jalan utama yang ada di Jakarta. Kemarin, saya menerima sms dari teman “Kak, bisa tidak kami dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) terjun langsung jadi relawan di korban Merapi?. Meski pun kami belum terlatih, dan mungkin tidak bisa melakukan banyak hal, tapi paling tidak kami bisa melihat dan merasakan sendiri penderitaan korban.” Saya pun segera menghubungi teman-teman yang ada di Jogja untuk membicarakan keinginan teman itu. Semalam, bertempat di Kemang, beberapa artis, musisi, serta Mentri Kebudayaan dan Pariwisata (Jero Wacik), melakukan penggalangan dana, diantaranya melelang barang-barang artis, dan penyajian hiburan bagi penyumbang. Tidak hanya di dalam negeri, bantuan dari luar pun terus mengalir. Beberapa mahasiswa yang sedang study di Belanda pun menggalangan dana. Bahkan, mereka melakukan solat goib untuk para korban.
    Tingginya animo masyarakat ini mengisyaratkan bahwa, rasa solidaritas diantara seluruh manusia belum tercerabut dari akarnya. Sejarah bangsa kita pun tak mengingkari itu. Ketika Indonesia di Jajah oleh Belanda dan Jepang misalnya, rasa senasib-sepenanggungan itu yang menguatkan solidaritas masyarakat untuk bangkit, berjuang mengusir pendudukan para koloni.
    Bagi pihak yang terkena bencana, kesabaran adalah sikap yang senantiasa dianjurkan. Beberapa pihak cenderung memandang musibah banjir, gempa, gunung meletus, sebagai bukan fenomena alam semata, melainkan peringatan, bahkan kutukan dari Tuhan. Sementara sebagian lainnya, khususnya para ahi di bidang ini, lebih melihatnya sebagai fenomena alam yang secara alami terjadi, mengikuti mekanisme dan siklus alam. Terlepas dari dua pendapat umum di atas, hemat saya, seluruh kejadian di muka bumi ini, idelanya dilihat sebagai bagian dari rencnaa Tuhan, sambil berfikir positif bahwa akan ada kebaikan setelah peristiwa ini.
    Bagi seorang muslim, bersabar adalah sikap yang sangat disenangi dan dianjurkan oleh Tuhan. ”Wahai orang-orang yang beriman, carilah pertolongan dengan kesabaran dan solat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. 2:153). “Tapi barang siapa penuh kesabaran dan penuh pemaafan, itulah memang perbuatan utama” (QS. 42:43). Namun, pernyataan ini tidak berarti membenarkan sikap pasif. Kesabaran tetap harus didahului dengan usaha (ikhtiar) semaksimal mungkin.
    Sementara itu, meski berduka, masih banyak orang–khususnya para pengamat–yang jeli melihat warna lain dari bencana. Hal itu tak lain adalah kampanye politik –biasanya Caleg–di sela-sela pemberian bantuan kepada korban bencana. Sambil memberi sumbangan langsung ke posko-posko bencana, sambil membagikan poster, leaflet, baju-baju yang dihiasi pose Caleg, dan lain sebagainya. Para “penggila kekuasaan” ini memang lihai mencuri kesempatan dalam kesempitan. Ironis memang, bencana pun tak luput dari politisasi. Tak ayal, para caleg itu pun dihujani kritikan pedas atas perbuatannya yang tidak etis itu.
    Begitulah, sikap solid, anjuran bersabar, dan kritikan-kritikan, senantiasa mewarnai ketika bencana alam—saat ini Wasior, Mentawai, dan Merapi—datang. Semoga kita bisa mengambil makna dari semua ini.
    Dalam artikel di atas, dapat kita telaah bahwa sisi positf dengan adanya bencana alam ini adalah rasa saling menguatkan satu dan yang lainnya. Sifat manusia yang monodualisme tersaji secara “apik” dengan sedikit bumbu keharuan yang menyeruak. Ada sebagian yang acuh tak acuh dengan peristiwa ini, merasa bahwa mereka tidak punya alur darah penderitaan atas bencana ini, namun tidak sedikit pula arak- arakan bantuan yang silih berganti datang dari arah manapun menjadi pemandangan menakjubkan cerminan kesetiakawanan.
    Soliditas buah solidaritas tanggap bencana merupakan salah satu esensi yang penting dalam memetik hikmah dari musibah ini. Ketika air mata para korban mengalir membasahi pipi, ijinkan tangan kitalah yang mengusapnya dan menjadika bahu kita sandaran mereka ketika mereka lelah untuk membangun kembali mimpi- mimpi mereka. Kita tidak akan pernah rugi dengan solidaritas ini, mungkin secara materi kita akan berkurang, secara fisik pun kita akan lelah, namun secara nurani, semangat kita yang akan menyala, berkobar laksana surya yang memerah, menyala dan menerangi hari dan menumbuhkan energi kembali.

    Sumber:
    http://www.google.com
    artikata.com
    artikel dengan judul Bencana Alam : Solidaritas, Kesabaran, dan Kritisisme karangan Milastri Muzakkar

  21. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA
    Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara).[5] Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006,[6] Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India. Kita tahu, hampir seluruh pulau di Indonesia dilintasi jalur ring of fire (cincin api) Pasifik yang menjadikan Indonesia memiliki banyak koleksi gunung api. Kita juga memahami, negara ini berada dilokasi pertemuan lempeng tektonik besar yang aktif bergerak yang membuatnya sering dilanda gempa bumi. Dengan demikian, pesisir pantai di Indonesia pun berpotensi terkena tsunami.
    KEHADIRAN bencana demi bencana seakan-akan tak mau pergi dari tanah air.Indonesia yang indah pun terkoyak dengan banjir bandang di Distrik Wasior,Kabupaten Pulau Wondama. Lalu gempa bumi berkekuatan 7,2 pada skala Richter yang diikuti gelombang tsunami mengguncang pulau menawan, Mentawai,di wilayah Sumatera Barat. Beberapa hari lalu,gunung paling aktif di Indonesia memuntahkan material vulkaniknya.Korban pun berjatuhan. Banyak yang meninggal dunia.Tetapi, lebih banyak yang hilang dan belum ditemukan. Mereka mungkin juga meninggal dalam keadaan yang memprihatinkan.Sungguh, ini cobaan luar biasabagi pemerintahan.Atas bencana yang bertubi-tubi, belum lagi dihitung bencana banjir di berbagai daerah yang juga menimbulkan korban, meski tidak begitu besar, sepatutnya kita prihatin dan saling menguatkan untuk ikut meringankan penderitaan sauadara kita.Caranya, membantu apa yang bisa kita lakukan seraya memberi dukungan kepada aparat pemerintah dan pihak terkait yang bertugas menangani bencana. Ujian dalam bentuk bencana ini bukan saja terhadap kepemimpinan pemerintahan, tapi juga ujian bagi setiap pemimpin di daerah. Sejauh manakah kita selama ini menyikapi alam dan seberapa peduli terhadap perubahan lingkungan dan alam yang sebagaian besar disumbang oleh perilaku masyarakat juga?Perubahan iklim yang sangat ekstrem sudah terjadi, dan mungkin akan berlangsung hingga tahun depan. Jauh-jauh hari, otoritas yang paling mengetahui hal ini sudah mengingatkan kita akan potensi bahaya yang mengancam.
    Namun, itulah Indonesia, tanah air yang kita cintai, yang mempersatukan semua penghuninya dari Sabang sampai Merauke.Sebagai penduduk yang mendiami tanah ini, kita harus menerima segala berkah dan bencana yang telah dan akan terjadi lalu menyikapinya dengan penuh kearifan. Letusan gunung api dan tsunami merupakan bencana alam yang tidak bisa dipastikan terjadinya. Meski demikian, potensi kejadian keduanya sebetulnya bisa diramalkan sehingga langkah langkah mitigasi bencana bisa lebih dioptimalkan.Karena itu, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) selalu merilis
    peringatan bahaya akan potensi tsunami begitu ada kejadian gempa bumi berkekuatan di atas 7 pada skala Richter di dekat pantai dengan kedalaman kurang dari 70 km.Ini karena tsunami biasanya terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit setelah gempa bumi. Berkaca dari kejadian gempa besar diikuti tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 26 Desember 2004, pemerintah daerah setempat mestinya lebih cepat mengungsikan penduduk Mentawai dari wilayah pesisir begitu terjadi gempa berkekuatan 7,2 skala Richter,Senin (25/10). Begitu pula dalam peristiwa meletusnya gunung merapi. Senin itu,sejak pukul 6.00 WIB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sudah mengubah status merapi dari waspada menjadi awas karena aktivitasnya.Peringatan itu semestinya diterjemahkan pemerintah daerah setempat dengan langkah cepat mengungsikan warga ke tempat aman. Akan tetapi, korban sudah jatuh. Kita pun berduka. Tak ada gunanya saling menyalahkan. Sekarang, yang perlu
    kita lakukan adalah menunjukkan kesalehan sosial terhadap saudara-saudara kita yang selamat dari bencana dan kini tinggal di pengungsian, dengan mengulurkan tangan sesuai kemampuan kita. Kita menuntut pemerintah agar memprioritaskan pemulihan rumah-rumah warga yang tersapu ombak di Mentawai dan relokasi bagi semua warga lereng Merapi. Kita juga meminta wakil-wakil kita di parlemen agar turun ke lapangan, bukan hanya mementingkan studi banding ke luar negeri. Dengan kehadiran kita di tengah mereka,diharapkan, mereka tidak merasa sendirian atau ditinggalkan. Dengan begitu, mereka dapat melanjutkan kehidupan dengan gairah kembali. Kita berharap pemerintah dan masyarakat perlu bergerak cepat agar para korban ditangani secara cepat dan tepat. Para pengungsi juga diperhatikan. Tidak hanya soal konsumsi, kelayakan barak pengungsian maupun harta benda serta hewan ternak warga yang ditinggalkan juga perlu diperhatikan.Bagi masyarakat, ini waktunya untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas sosial. Tidak hanya soal Merapi namun juga gempa dan tsunami di Mentawai Sumatra Barat. Beberapa waktu lalu juga terjadi bencana banjir Wasior di Papua Barat. Masyarakat yang mempunyai harta berlebih, silakan membaginya kepada yang membutuhkan. Yang punya waktu,tenaga dan pikiran, mari kita sumbangkan.Jika kita berbagi, penderitaan saudara kita akan terkurangi. Jadi negeri yang kaya dengan bencana ini akan dapat terobati dengan adanya kebersamaan itu.Tak lain dari institusi lembaga pemerintahan yang bertugas menjaga NKRI andil dalam solidaritas dan soliditas untuk bangsa ini seperti yang di Utarakan
    Mengakhiri amanatnya Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E menyampaikan ”atensi dan harapan” kepada Prajurit dan PNS TNI ditempat tugas masing-masing :
    Pertama, perkokoh ”soliditas” dan ”solidaritas” TNI, sebagai pondasi bagi semakin kokohnya “kemanunggalan TNI-Rakyat”, dalam rangka semakin mantapnya persatuan dan kesatuan nasional, demi semakin kokoh dan lestarinya “NKRI”.
    Kedua, tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan satuan terhadap perkembangan yang terjadi, agar tidak terdadak oleh perubahan situasi sehingga stabilitas nasional yang mantap dan dinamis, dapat tetap dipelihara dengan sebaik-baiknya, demi kesejahteraan masyarakat serta suksesnya pembangunan nasional.
    Ketiga, pelihara dan tingkatkan disiplin, dedikasi dan loyalitas yang tinggi, guna menghadirkan karya, kinerja dan prestasi, demi suksesnya tugas pokok TNI sebagai alat dan komponen utama pertahanan negara yang solid, profesional, modern, tangguh, dicintai dan mencintai rakyat.
    Keempat, tingkatkan kerja sama lintas sektoral di daerah penugasan masing-masing, agar berbagai persoalan yang ada dapat diselesaikan dengan cepat dan tuntas.
    Kelima, pupuk terus rasa kesetiakawanan sosial diantara sesama umat manusia untuk meningkatkan kepedulian dan kebersamaan dalam mengatasi permasalahan bangsa.Kedua nya dari bangsa lain pun tak ikut ketinggalan dalam partisipasi nya untuk membangun solidaritas dan soliditas serta demi tercapainya menjalin hubungan baik antar negaraPemerintah, organisasi kemanusiaan, pekerja Asia yang tinggal di negara asing dan individu-individu lainnya di seluruh dunia dengan segera menawarkan sumbangan dan bantuan teknis. Bank Dunia pada awalnya memperkirakan jumlah bantuan yang dibutuhkan adalah sebesar USD 5 milyar[1]. Walaupun banyak negara menyediakan dana bantuan, PBB mengkritik bahwa Amerika Serikat dan Eropa masih kurang dalam mengalokasikan sumberdayanya untuk membantu korban bencana ini. Sampai dengan 1 Januari 2005 lebih dari USD 1.8 milyar dana telah dijanjikan.Sehubungan dengan bencana ini, Australia, India, Jepang dan Amerika Serikat membentuk sebuah koalisi untuk mengkoordinasikan sumbangan mereka agar bantuan dapat diberikan secara lebih cepat dan efisien, namun, dalam Pertemuan Puncak Jakarta pada tanggal 6 Januari, koalisi ini mengalihkan tanggung jawab tersebut kepada PBB.

    Refrensi:
    http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia
    http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/view.php?date=2010-11-01…2 didownload jam 10.00 wib
    http://www.korem161.mil.id/index.php?option=com…view...

    Nama :Irfan Angga P
    Nim :08/274261/DPA/3183
    Prodi :Rekam Medis A

  22. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDARITAS BANGSA

    Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir.
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Karena Indonesia merupakan Negara yang tidak asing dengan bencana alam, kesadaran warganya akan kepedulian sangatlah tinggi. Karena bangsa Indonesia khas dalam hal ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Bahkan, bencana yang terjadi seakan menjadi sarana penguat persatuan dan kepedulian bangsa Indonesia. Dan kepedulian di Indonesia bias dibilang dimotori oleh para pemuda indonesia. Pemuda mengambil peran sangat penting ketika terjadinya bencana. Contohnya pada peristiwa meletusnya Gunung Merapi, pemuda adalah barisan terdepan dalam upaya penyelamatan masyarakat.
    Namun, di balik “bencana alam” tersebut terkandung beribu-ribu hikmah yang bisa kita ambil, selain membentuk sikap sabar. Di antaranya ialah meningkatnya rasa solidaritas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Semuanya kembali pada rasa senasib seenanggungan sebagai manusia. Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana. Baik atas nama individu maupun institusi. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung mengagendakan “turba” ke masyarakat korban bencana, dengan mendirikan posko peduli bencana. Ada juga keluarga “kristani” yang merelakan jatah liburan natal dan tahun barunya untuk disumbangkan kepada masyarakat korban bencana. Bahkan, bangsa-bangsa lain di dunia menaruh perhatian khusus terhadap bencana bertubi-tubi yang melanda Indonesia. Ternyata, di balik derita masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai, justeru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia. Menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia.Bisakah solidaritas sosial ini tetap tumbuh subur, tanpa dibarengi oleh bencana? Inilah yang perlu kita jawab dan perjuangkan!

    Rasa solidaritas yang sangat luar biasa juga ditemukan diantara mahasiswa, mereka juga bersemangat menggalang dana di berbagai tempat, seperti di kampus mereka masing-masing, di jalan raya, dan sebagainya.
    Lebih konkretnya lagi, banyak ditemui pula mahasiswa yang menjadi sukarelawan -sukarelawan penanggulangan bencana Merapi ataupun bencana di tempat lain. Mereka bergabung dan bergotong royong bersama sukarelawan lainnya dari PMI, Tim SAR, TNI, polisi serta lembaga- lembaga bantuan sosial lainnya. Tidak jarang juga, organisasi mahasiswa pun ikut membuka posko – posko tersendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana.
    Beruntunnya bencana di Indonesia kali ini sangat berdekatan dengan peristiwa sejarah Pemuda Indonesia, yaitu hari Sumpah Pemuda, yang jatuh pada tanggal 28 Oktober. Hal ini menjadi kesempatan besar bagi pemuda Indonesia untuk membuktikan kalau mereka juga mempunya rasa kepedulian dan solidaritas yang tinggi.
    Hal yang patut diapresiasi adalam berbagai bencana alam selama ini adalah sikap warga masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana, yang datang silih berganti menimpa. Semangat dan sikap itu pulalah yang terlihat secara mengesankan. Luar biasa semangat, ekspresi, ataupun dampak solidaritas sosial itu.
    Tanpa perlu dikomando, spontan warga masyarakat secara perseorangan atau berkelompok mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan pertolongan. Makna dan nilai solidaritas sosial itu sungguh besar, lebih-lebih bagi bangsa dan negara Indonesia, yang sangat rawan terhadap berbagai bencana. Maka, dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan, rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Ekspresi rasa setia kawan seperti tidak habis-habisnya sekalipun bencana datangs
    Ya, solidaritas sosial merupakan ekspresi paling orisinal dan suci dari manusia dan kemanusiaan. Rasa setia kawan lahir dari dorongan hati paling dalam dan murni. Kekuatan terbesarnya terletak pada sikap menolong, dan kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama.
    Semangat kepahlawanan yang bertumpu pada sikap pengorbanan selalu dibutuhkan. Semangat pengorbanan tidak hanya dibutuhkan untuk menghadapi bahaya bencana yang senantiasa mengintai Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan hidup bersama sehari-hari.

    Semoga, solidaritas social di atas tidak menjadi luntur, seperti para elite politik di negeri yang sebenarnya penuh damai ini, sebab solidaritas social telah menjadi solidaritas bangsa kita.

    Daftar pustaka
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam
    http://teraskita.wordpress.com/2010/11/06/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/

    Nama: Andi Prihantoro
    Nim ; 08/273760/DPA/3085
    Prodi: Rekam Medis

  23. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA
    Definisi bencana alam adalah suatu peristiwa atau kejadian yang terjadi di muka bumi ini. Bencana alam yang terjadi di muka bumi berakibat kerusakan alam dan lingkungan sekitarnya, sehingga menyebabkan lingkungan dan alam sekitar yang kita cintai ini menjadi rusak atau lingkungannya sudah berbeda dengan sebelum bencana tersebut terjadi, dengan kata lain bentuknya sudah tidak beraturan seperti aslinya.
    Indonesia negara yang terkenal dengan alam yang hijau pulau-pulau yang membentang dari sabang sampai Mouroke di kelilingi samudra dan laut yang membiru juga gunung-gunung yang menghijau, sungguh indah Negri kita ini, tapi berapa tahum dan bulan ini Negeri yang kita cintai ini silih berganti dengan bencana alam yang terus menerus menghantam wasior, Gunung merapi dan Mentawai dan apa lagi yang akan menyusul yang mengakibatkan duka derita, kematian dari bencana-bencana tersebut. Negeri yang dulu bersahabat dengan alamnya kenapa sekarang sepertinya bermusuhan dengan penduduk yang menempatinya.
    Indonesia, hampir setiap tahun selalu ada bencana yang menimpa bangsa Indonesia. Bencana yang ada di Indonesia lumayan banyak seperti gunung meletus, gempa bumi, Tsunami, Banjir, Angin Topan, dan Tanah Longsor. Bencana ini terjadi karena berbagai sebab di antaranya wilayah Indonesia yang dilintasi oleh dua jalur pegunungan yaitu Pegunungan Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania yang menyebabkan banyak gunung berapi. Aktivitas gunung berapi menyebabkan terjadinya gempa vulkanik, sedangkan pergeseran lempeng benua menyebabkan gempa tektonik. Bila pusat gempa terjadi di lautan maka akan terjadi badai tsunami. Iklim di Indonesia menyebabkan angin musim yang kadang-kadang bisa terjadi angin topan, sedangkan curah hujan yang terjadi menyebabkan banjir dan tanah longsor.
    Bencana tersebut tidak dapat kita hindari lagi sebab bancana datangnya tiba-tiba dan tidak ada seorang pun dari kita yang mengetahui kapan bencana alam itu terjadi Jadi semua bencana alam yang terjadi, akan sangat merugikan kita dan masyarakat yang terlahir sebagai makhluk sosial. Dan banyak dampak negatif yang dialami bangsa kita setelah terjadi bencana, selain kerusakan secara materi tetapi penurunan mental bangsa juga terjadi. Banyak trauma yang ditimbulkan berbagai bencana yang terjadi tersebut. Rasa takut, tidak tenang dan gelisah hidup di bumi pertiwi ini yang selalu menghantui pikiran saudara-saudara kita yang terkena bencana. Dalam situasi bangsa seperti ini, berbagai musibah dan bencana alam memang sangat menyadarkan kita bahwa meskipun kita sebagai makhluk sosial tetapi kita masih mengedapankan ego kita masing-masing. Solidaritas dan soliditas masyarakat kita pun juga sangat lemah atau longgar sebagai akibat sikap kita cenderung individual dan tidak mau tahu dengan nasib orang lain.
    Solidaritas hilang bukan karena watak manusia yang pada dasarnya tidak solider, tetapi watak itu dibentuk oleh sistem dan ideologi yang disebarkan kapitalis-borjuis. Inilah yang membuat iman solidaritas antara sesama manusia hilang. Ketika ada bencana, manusia sudah tak mampu melihatnya sebagai ancaman yang serius sebagai bagian dari bahasa yang jadi bagian dari kapitalis, tapi dianggap urusannya sendiri-sendiri (individualisme). Pemerintah juga tak segera turun-tangan mengulurkan bantuan darurat, selalu terlambat dan menyakiti rakyat.
    Demikian juga para politisi, ditengah krisis kesejahteraan dan adanya bencana yang terus-menerus terjadi tiap hari, mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berperan untuk menanggulangi masalah rakyat yang kian parah akibat bencana dan kebijakan. Para politisi malah justru menambah masalah dengan melakukan tindakan-tindakan anti-rakyat. Sukanya mengurusi gaji dan tunjangannya agar dinaikkan, sukanya ”garong” sana-sini karena memiliki otoritas, sukanya menghabiskan uang negara hanya untuk ”kunjungan kerja” yang diragukan manfaatnya.
    Ada yang berpendapat bahwa negeri ini adalah ”negeri bencana”, tetapi semua orang dikondisikan untuk tidak peduli. Untuk acuh, cuek bebek, dan terus saja merasa bahwa hidup adalah urusan sendiri-sendiri. Bahkan ketika terjadi bencana alam, tak ada analisa serius dan kemudian melakukan kebijakan tanggap bencana yang bersifat jangka panjang dan melibatkan potensi-potensi kemanusiaan (teknologi, pengetahuan, rasa solidaritas) untuk mengatasi bencana yang datang sewaktu-waktu. Itulah sekelumit sikap pemerintah kita terhadap apa yang telah terjadi di muka bumi pertiwi ini. Bahkan terkadang kita sempat berpikir yang lebih berperan aktif dalam penanggulangan bencana adalah orang-orang di luar pemerintahan. Dan menurut saya dampak positif untuk solidaritas dan soliditas untuk pemerintah tidak begitu nampak.
    Namun bagi kita masyarakat Indonesia yang hanya sebagai penikmat kebijakan pemerintah banyak hal positif dari kerawanan bencana ini yang bisa kita lakukan. Di balik “bencana alam” tersebut terkandung beribu-ribu hikmah yang bisa kita ambil, selain membentuk sikap sabar. Di antaranya ialah meningkatnya rasa solidaritas dan soliditas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Semuanya kembali pada rasa senasib sepenanggungan sebagai manusia dan sebagai warga Indonesia yang dulu berasama berjuang melawan penjajah. Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana. Baik atas nama individu maupun institusi. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung mengagendakan “turba” ke masyarakat korban bencana, dengan mendirikan posko peduli bencana. Ada juga keluarga “kristani” yang merelakan jatah liburan natal dan tahun barunya untuk disumbangkan kepada masyarakat korban bencana. Bahkan, bangsa-bangsa lain di dunia menaruh perhatian khusus terhadap bencana bertubi-tubi yang melanda Indonesia. Ternyata, di balik derita masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai, justru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia. Menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia. Dan bagi kita seolah-olah bencana alam saat ini merupakan alat atau sarana sebagai pemelihara solidaritas dan soliditas bangsa kita. Kita semakin berpikir dan berusaha bagaimana cara kita untuk mengaktualisasikan diri kita untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana. Dan hal yang perlu kita banggakan dari sikap masyarakat kita adalah mereka semakin berlomba-lomba untuk menyalurkan bantuan kepada para korban bencana. Selain itu kerawanan bencana juga mampu memupuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan serta patriotisme yang cinta tanah air. Upaya baru harus terus dilakukan. Solidaritas kemanusiaan harus digalakkan. Semua harus ikut menderita. Sebab, masyarakat di sana adalah bahagian dari republik ini. Penderitaan rakyat mereka adalah penderitaan seluruh komponen bangsa ini, penderitaan republik. Untuk itu, gerak cepat lainnya harus tetap diupayakan. Indonesia memang kini sedang berduka dan menangis.
    Bencana, apapun bentuknya dan di mana pun letaknya, adalah derita kita semua. Dengan memakai naluri kemanusiaan kita, seharusnya melihat malapetaka yang tragis dan dramatis ini, solidaritas harus timbul. Karena itu, sekaranglah saatnya rakyat Indonesia menunjukkan rasa solidaritas sosial dan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya untuk secara konkret dengan memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan mereka. Karena Berharap banyak pada pemerintah, kelihatannya bukan merupakan satu-satunya langkah untuk menanggulangi permasalahan ini. Kita, masyarakat Indonesia juga harus berperan di dalamnya. Solidaritas kemanusiaan harus dibangkitkan. Solidaritas seperti sesungguhnya sudah pernah kita tunjukkan ketika bencana sudah berungkali terjadi. Namun satu yang masih menjadi pertanyaan kita yaitu bisakah solidaritas dan soliditas sosial ini tetap tumbuh subur, tanpa dibarengi oleh bencana? Inilah yang perlu kita jawab dan perjuangkan!
    Referensi :
    wartawarga.gunadarma.ac.id/…/bencana-alam-yang-ada-di-indonesia-2/
    klikmuh.blogspot.com/2007_05_01_archi… –
    teraskita.wordpress.com/2010/…/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/
    dickyandrika.blogspot.com/…/bencana-alam-dan-kebijakan-bencana.html
    http://www.radarlampung.co.id/web/opini/taju...

    Natalia Christianingsih
    08/271291/DPA/2902
    DIII REKAM MEDIS UGM (Rekmed B)

  24. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir.
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, namun masalah Global Warming ini tidaklah dapat dipungkiri untuk diteliti dan ditelaah lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
    Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Kita perlu memikirkan secara semakin serius penyebaran kesadaran bahwa kita hidup di daerah bencana. Itu berarti, kita mesti mencari jalan untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang bagaimana mencegah dampak bencana alam dan apa yang mesti kita lakukan kalau memang bencana alam itu terjadi. Teknik membangun rumah sederhana dan murah tahan gempa perlu disebarluaskan. Kecakapan membaca gejala alam dan bereaksi atas informasi mengenai bencana alam perlu menjadi bahan kurikulum di sekolah-sekolah kita. Solidaritas yang spontan namun efektif untuk membantu para korban bencana pun perlu dilatih. Di sini, lembaga-lembaga agama perlu memikirkan kontribusinya. Dan tentu saja, transparansi pengelolaan dana bantuan merupakan satu keharusan moral yang mesti menemukan sistemnya.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.
    Gempa bumi, tsunami dan letusan gunung api memang merupakan bencana alam, namun mereka memiliki kaitan yang sangat erat dengan kebudayaan. Alam sebenarnya berbeda dari kebudayaan. Alam adalah sesuatu yang terberi, sementara kebudayaan adalah apa yang dikerjakan dan diolah manusia berhadapan dengan alam. Olah cita, rasa dan raga manusia menghadapi alam, mengapresiasi atau menguasai alam menghasilkan kebudayaan. Entah dongeng dan mitos mengenai manusia purba atau teknologi canggih yang merekayasa struktur genetik, semuanya lahir dari kebutuhan dasariah yang sama, menjawabi realitas alam, kendati semua itu mempunyai dampak yang beraneka.
    Program utama berupa apel siaga dengan memberikan seputar materi, pembekalan motivasi tanggap darurat, ketahanan fisik. Latihan terus dilakukan dengan membagi dua bagian yaitu tim kesehatan lapangan, dapur umum dan tim SAR (darat dan air) sesuatu yang harus diberikan. Pemberian pembekalan sangat penting, Sebab, dari pengalaman berbagai musibah baik itu banjir, tanah longsor dan angin puting beliung hingga kebakaran sering terjadi kesalahpahaman komunikasi antar masyarakat dan petugas. Sehingga berdampak pada efektifitas penanggulangan bencana itu sendiri. Begitu juga dengan masyarakat, peran-perannya saat bencana bisa dipahami sehingga tidak mengganggupetugas itu sendiri. Apabila pembekalan kepada tim TRC dan masyarakat berjalan lancar, diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang menjadi penonton dalam setiap musibah. Mereka akan berupaya mencari jalan, untuk bersama-sama membantu petugas. Bukan mengambil peran petugas saat terjadi musibah.
    Wilayah pantai di Indonesia memiliki potensi pembangunan yang cukup besar karena didukung oleh adanya ekosistem dengan produktifitas hayati yang tinggi sepertri terumbu karang, hutan mangrove, estuaria, padang lamun dan sebagainya. Sumber daya hayati seperti terumbu karanghutan mangrove, estuaria, padang lamun, dan sebagainya. Selain itu wilayah pantai juga memberikan jasa-jasa lingkungan yang cukup tinggi nilai ekonomisnya.
    Dalam satu dekade belakangan ini, laju pemanfaatan sumber daya diwilayah pantai mulai intensif untuk memenuhi kebutuhan penduduk dan kebutuhan lahan untuk permukiman mereka. Salah satu potensi daerah pantai yang telah dimanfaatkan manusia sejak dahulu adalah sebagai tempat tinggal dengan alasan yang bervariasi seperti transportasi, tingginya aktifitas perdagangan dan lain sebagainya. Hampir semua kota besar di Indonesia berada di wilayah pantai, yang berfungsi sebagai lokasi permukiman, perdagangan, perhubungan, perkembangan industri dan berbagai sektor lainnya. Diperkirakan 60% dari populasi penduduk dan 80% dari lokasi industri berada di wilayah pantai.
    Disadari bahwa tanah air Indonesia terdiri dari untaian ribuan pulau yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh perairan laut. Kondisi yang demikian ini menghadapkannya pada masalah interaksi antara daratan dan lautan, khususnya pada pertemuan antara kedua wilayah itu, ialah di sepanjang pantainya. Oleh karena itu karakter laut perlu diamati dan dipelajari dalam hubungannya dengan gejala-gejala alam yang terjadi di laut. Salah satu gejala alam yang memerlukan cukup perhatian adalah kenaikan muka air laut (Sea Level Rise). Gejala alam ini perlu dipelajari karena akan menimbulkan dampak negatif yang tidak kecil terhadap wilayah pantai di Indonesia. Dampak negatif tersebut misalnya berupa peningkatan frekuensi banjir, intrusi air laut, erosi pantai dan sebagainya.

    http://www.ebookf.com/1-/1-bencana-alam-karena-gejala-alam-bencana-alam-bisa-terjadi-book.doc
    http://sim.nilim.go.jp/GE/SEMI2/Proceedings/Makalah%2013.doc
    http://danipujiutomo.files.wordpress.com/2010/08/karya-ilmiah.doc
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam
    http://ancispengelana.blogspot.com/2010/10/bencana-alam-dan-manusia.html

    Nama : Anugrah Humairah
    Nim : 08/271604/DPA/3031
    Prodi : D3 Rekam Medis

  25. SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA DAPAT DITINGKATKAN
    MELALUI POTENSI KERAWANAN BENCANA ALAM

    Indonesia adalah negara yang memiliki sejuta kekayaan alam dan pesona keindahan alam yang menjadi nilai tambah bagi negara. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki potensi kerawanan bencana alam. Letak geologis Indonesia yang dilalui dua jalur pegunungan muda dunia menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif, sehingga rawan terjadi bencana. Telah banyak terjadi bencana alam di Indonesia, sejak Indonesia masih berada dalam penjajahan negara asing, bahkan jauh sebelum itu. Pada tahun 2010 kemarin saja, telah terjadi banyak bencana alam di negeri ini, yang telah memakan banyak korban, baik korban nyawa, korban luka, maupun korban materil. Bencana alam yang banyak menjadi sorotan media massa antara lain, banjir bandang di Wasior, Papua, gempa dan tsunami di Mentawai, serta erupsi gunung Merapi, yang merupakan bencana alam yang terjadi di penghujung tahun 2010.
    Dengan adanya berita bencana alam tersebut, banyak pihak yang turun tangan untuk membantu. Pemerintah mengucurkan dana untuk membantu penanganan korban bencana alam serta membantu menyediakan alat berat untuk membantu proses evakuasi korban. Tidak hanya Pemerintah, rakyat pun ikut memberikan bantuan baik secara moril maupun materil kepada korban bencana alam. Sumbangan atau donasi untuk para korban berdatangan dari berbagai penjuru nusantara, dari berbagai kalangan. Bantuan tidak selalu dalam bentuk uang atau barang. Bantuan juga ada dalam bentuk tenaga, yakni seperti apa yang dilakukan oleh para relawan. Relawan terdiri dari berbagai elemen masyarakat, seperti tentara, pekerja sosial/LSM, dokter, mahasiswa, kelompok relawan, dan berbagai profesi lainnya Dari menyalurkan bantuan ke berbagai tempat pengungsian, hingga menghibur anak-anak sebagai tindakan untuk menyembuhkan trauma pun mereka lakukan.
    Bencana alam memang selalu mengakibatkan penderitaan. Kedatangannya yang seringkali sulit untuk dideteksi mengakibatkan banyak orang yang tidak siap menjadi korbannya. Akhirnya, banyak orang yang menjadi korban keganasan bencana alam. Mereka terdiri dari korban harta, korban luka, bahkan korban nyawa. Lebih dari itu, para korban sering kali juga menjadi stress, bahkan depresi akibat telah kehilangan banyak hal akibat bencana alam dan merasa galau untuk menghadapi masa depan.
    Penderitaan para korban bencana menimbulkan perasaan simpati dan empati bagi rakyat Indonesia. Banyak hati yang menjadi tergugah untuk membantu meringankan penderitaan sesamanya. Meskipun terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras, dan golongan, namun kesadaran bahwa kita adalah saudara sebangsa setanah air, serta terikat pada negara yang satu menjadikan kita bersedia untuk bersatu membantu sesama. Jadi sebenarnya, dengan adanya bencana alam yang terjadi di Indonesia, ada rasa persatuan dan solidaritas yang timbul dari segenap penduduknya. Baik rakyat maupun Pemerintah, saling bekerja sama dalam upaya penanggulangan bencana alam.
    Solidaritas dan soliditas bangsa dapat dijalin oleh Pemerintah dan rakyat Indonesia atas potensi kerawanan bencana alam yang ada di Indonesia. Hal ini dapat dijalin melalui upaya penanggulangan bencana alam. Banyak hal yang dilakukan oleh Pemerintah bekerja sama dengan rakyat dalam upaya penanggulangan bencana. Misalnya, dalam upaya pra-bencana dan pasca-bencana.
    Upaya pra-bencana merupakan upaya yang dilakukan sebelum terjadinya bencana alam. Upaya ini antara lain mitigasi, deteksi dini (early detection), serta persiapan menghadapi datangnya bencana alam. Upaya ini dapat dilakukan oleh Pemerintah (khususnya DPR dan DPRD) yang bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta rakyat Indonesia, khususnya pada daerah rawan bencana alam. Pemerintah dapat memberikan anggaran dan ikut serta untuk melakukan kegiatan penanggulangan pra-bencana, serta dengan membuat regulasi atau kebijakan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana alam. BNPB dengan melakukan upaya mitigasi, deteksi dini, dan sosialisasi kepada rakyat pada daerah rawan bencana mengenai apa saja bencana yang potensial terjadi, apa saja faktor pemicunya, bagaimana terjadinya, dan yang paling penting bagaimana upaya untuk menyelamatkan diri dari bencana yang kemungkinan besar akan dapat terjadi, serta memberikan peringatan dini terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Sementara itu, rakyat dapat melakukan upaya pencegahan bencana alam (bila bencana alam yang potensial terjadi sebenarnya dapat dicegah), penyebarluasan informasi mengenai bencana alam kepada sesamanya, serta upaya tanggap darurat bekerja sama dengan pihak yang berwenang.
    Upaya pasca-bencana merupakan upaya yang dilakukan setelah terjadinya bencana alam. Upaya ini antara lain, evakuasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Upaya-upaya ini juga dilakukan oleh berbagai pihak, seperti halnya pada upaya penanggulangan pra-bencana. Pemerintah dapat memberikan bantuan yang tidak mengikat dan bantuan yang tidak membuat rakyat menjadi ketergantungan, serta memberikan anggaran untuk upaya penanggulangan pasca-bencana. Hal yang dilakukan oleh BNPB antara lain, melakukan upaya evakuasi korban bencana, pendataan atau identifikasi korban bencana, serta rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur, ekonomi, dan sosial, bila keadaan telah terkendali atau berangsur-angsur pulih. Sementara itu, rakyat dapat bekerja sama dengan pihak yang berwenang dalam evakuasi, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana alam. Sebagai contohnya, pembangunan kembali rumah tinggal pribadi bagi para korban bencana, maupun perbaikan sekolah, tempat ibadah, pasar, rumah sakit, jalan, serta sarana publik lainnya yang mengalami kerusakan akibat terpaan bencana alam. Rakyat yang tidak terkena bencana alam dapat menyumbangkan sumber daya apa yang dimilikinya untuk membantu korban bencana, maupun program penanggulangan pasca-bencana.
    Indonesia memang negeri yang kompleks. Ia dikaruniai oleh Tuhan dengan berbagai kekayaan alam, tetapi di sisi lain juga dengan potensi kerawanan bencana alam. Bencana alam dapat potensial terjadi di negeri ini. Namun, selalu ada hikmah, suatu nilai positif dari adanya kekurangan yang dimiliki, termasuk potensi bencana alam. Potensi bencana alam memang mengancam keselamatan para penduduk, tetapi bisa mendatangkan rasa solidaritas dan soliditas bagi bangsa ini. Dengan adanya kerja sama dari berbagai pihak untuk berupaya mencegah dan mengatasi bencana alam, maka solidaritas dan soliditas bangsa dapat semakin meningkat.

    Sumber:
    http://www.bnpb.go.id diakses tanggal 12 Januari 2011
    http://www.berita.liputan6.com diakses tanggal 13 Januari 2011
    http://www.medicastore.com diakses tanggal 12 Januari 2011

    Nama : Arifah Sulchana
    NIM : DPA/2998
    Prodi : D3 Rekam Medis
    FMIPA Universitas Gadjah Mada

  26. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Akhir-akhir ini, berita mengenai bencana alam mendominasi halaman media massa kita. Bencana alam seakan semakin akrab dengan kehidupan masyarakat kita di Indonesia. Secara bertubi-tubi pula kita dicoba dengan berbagai musibah yang tak dapat kita tolak. Kita pun berduka dengan banyaknya korban gempa dan tsunami di Mentawai, meluapnya sungai di Wasior, serta meletuskan Gunung Merapi di Yogyakarta. Kita tentu juga masih ingat dengan banyaknya korban jiwa akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Begitu juga dengan gempa bumi yang menewaskan sekitar 6 ribu jiwa yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006. Setelah itu, gempa bumi pun terus mewarnai perjalanan bangsa ini di tengah euphoria politik di era reformasi. Air mata, kesedihan, dan kesengsaraan sepertinya masih belum mau beranjak pergi dari negeri tercinta ini.
    Indonesia secara geografis dengan adalah negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Indonesia sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di Indonesia membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir. Bahkan para ahli juga mengatakan bahwa tak ada tempat atau wilayah di Indonesia yang cukup aman dari bencana, khususnya gempa bumi.
    Bencana dan penanganannya merupakan persoalan bangsa dan negara. Hal ini disebabkan karena risiko bencana dalam skala besar pastilah memiliki dampak sistemik yang bisa mengancam eksistensi bangsa dan negara. Bencana alam memang membuat kita sangat berduka. Namun, di balik bencana alam tersebut terkandung beribu-ribu hikmah yang bisa kita ambil. Selain membentuk sikap sabar, bencana juga bisa membangkitkan rasa kemanusiaan manusia, membangkitkan fitrah kemanusiaan, dan menjadi momentum bersatunya manusia. Kita juga bersyukur karena dari bencana kita bisa melihat keindahan Indonesia. Keindahan dari kebersamaan kita untuk menghadapi bencana dan kerelaan dari semua orang untuk membantu meringankan penderitaan para korban bencana alam. Bencana meningkatkan rasa solidaritas dan soliditas tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertentu. Semuanya kembali pada rasa senasib sepenanggungan sebagai manusia. Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana, baik atas nama individu maupun institusi.
    Indonesia merupakan negara yang tidak asing dengan bencana alam sehingga kesadaran warganya akan kepedulian sangatlah tinggi. Bangsa Indonesia khas dalam hal ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Bahkan, bencana yang terjadi seakan menjadi sarana penguat persatuan dan kepedulian bangsa Indonesia. Bencana mampu menggelorakan solidaritas kemanusiaan secara spontan dan menerobos semua sekat yang tak tertandingi oleh peristiwa apapun. Tak ada momentum sehebat bencana yang mampu menggelorakan dan membangkitkan kepedulian. Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi menjadi masyarakat yang tanggap bencana dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Lingkup manajemen penanganan bencana sendiri mencakup aktivitas pencegahan, mitigasi, perencanaan kesiapsiagaan, emergency, rehabilitasi, dan rekontruksi.
    Solidaritas dan soliditas merupakan salah satu hikmah dari berbagai bencana yang menimpa kita. Lihat saja bantuan dan sumbangan yang begitu cepat dan demikian besar terkumpul untuk para korban gempa maupun korban bencana alam lainnya. Apalagi didukung pemberitaan televisi dan cepatnya informasi tersebar melalui internet, semakin menguatkan kepedulian sosial masyarakat dari berbagai penjuru tanah air. Solidaritas yang terbentuk ini seakan menepiskan anggapan semakin menguatnya nilai nilai indivualisme seiring dengan masuknya nilai nilai dari luar sebagai konsekuensi dunia yang kian menjadi flat (datar). Respon yang luar biasa dari masyarakat untuk ikut menangani bencana merupakan hal yang membanggakan. Secara spontanitas masyarakat menjadi sukarelawan untuk menampung pengungsi, menyediakan dan mencarikan tempat berdiam sementara dan bahkan secara swadaya mereka mendirikan posko dan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan logistik pengungsi. Seakan tidak ingin ketinggalan, masyarakat yang berada di lokasi yang cukup jauh dari bencana, bahkan menyediakan diri untuk mengorganisir bantuan dan melakukan droping kebutuhan logistik ke lapangan. Kita menyaksikan hampir di setiap organisasi di tingkat paling kecil, seperti RT, RW, karang taruna, berbagai komunitas dan organisasi lintas sektoral terus melakukan penggalangan bantuan dan melakukan pengiriman logistik ke posko-posko pengungsian. Meraka berkoordinasi dengan posko yang ada di lapangan apa yang dibutuhkan di lokasi pengungsian, dan mencoba mencari solusi untuk memenuhinya dengan menggalang bantuan dari berbagai sumber. Mereka semua tidak mengenal pamrih. Mereka melakukan itu karena merasa terpanggil untuk memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan guna mengurangi penderitaan mereka yang paling terkena dampak bencana
    Rasa solidaritas kepada korban bencana bisa diwujudkan dalam berbagai hal. Meski tidak harus turun langsung ke lokasi bencana, masyarakat bisa membantu dalam bentuk sumbangan, melalui lembaga-lembaga kemanusiaan dan sebagainya. Solidaritas yang muncul ini tidak bisa di klaim begitu sebagai wujud keberhasilan dari pemerintah untuk menggalang dan menumbuhkan solidaritas dan kepedulian antar sesama. Dan bahkan kegagalan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk melakukan tanggap darurat bencana (manajemen bencana) seringkali tertutupi dengan fenomena ini. Yang utama dan penting kita lakukan adalah menghidupkan terus semangat soliditas dan solidaritas sosial. Dalam konteks ini, dimensi tauhidi, kemanusiaan, persatuan, dan kesadaran merasa diri senasib sepenanggungan, menjadi penting digaris-bawahi. Dengan soliditas dan solidaritas sosial, kita menemukan kekuatan baru untuk tetap semangat.
    Apa yang telah dilakukan oleh masyarakat melalui respon spontanitas dan solidaritas merupakan point positif yang harus diberi ruang tersendiri sehingga masyarakat mampu berdaya secara mandiri melalui penopang jejaring sosial dengan demikian akan tercapai kemandirian masyarakat. Makna dan nilai solidaritas sosial itu sungguh besar, lebih-lebih bagi bangsa dan negara Indonesia yang sangat rawan terhadap berbagai bencana.
    Maka, dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Solidaritas sosial merupakan ekspresi paling orisinal dan suci dari manusia dan kemanusiaan. Rasa setia kawan lahir dari dorongan hati paling dalam dan murni. Kekuatan terbesarnya terletak pada sikap menolong, dan kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama.

    Nama: Arin Utami
    NIM : 08/273867/DPA/3109
    Prodi : D3 Rekam Medis UGM

    REFERENSI:
    http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/11/kepedulian-masyarakat-modal-sosial-dan-solusi-penanganan-bencana/ Diakses 12-01-2011 jam 14.52 WIB
    http://mertodaily.com/index.php/opinion/269-semua-peduli Diakses 12-01-2011 jam 14.58 WIB
    http://nkhawari.wordpress.com/2010/12/06/modal-sosial-dan-penanganan-bencana/ Diakses 12-01-2011 jam 14.54 WIB
    http://teraskita.wordpress.com/2010/11/06/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/ Diakses 12-01-2011 jam 10.15 WIB
    http://www.akarpadi.com/?p=1868 Diakses 12-01-2011 jam 14.25 WIB
    http://www.anneahira.com/korban-gempa.htm Diakses 12-01-2011 jam 15.05 WIB
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html Diakses 12-01-2011 jam 10.20 WIB
    http://www.facebook.com/group.php?gid=164396186905368 Diakses 12-01-2011 jam 10.25 WIB
    http://www.radartegal.com/index.php/Solidaritas-untuk-Korban-Bencana-Alam.html Diakses 12-01-2011 jam 14.36 WIB

  27. Bencana alam yang melanda Indonesia akhir-akhir ini seperti tidak dapat di bendung oleh kekuatan manusia. Seolah alam “marah” dan menunjukkan kelelahannya pada apa yang telah dilakukannya pada manusia. Tersirat sebersit duka yang melanda hati dan nurani bangsa Indonesia atas bencana yang datang bertubi-tubi tersebut. Bencana demi bencana datang di hampir seluruh wilayah Indonesia, seperti gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, tsunami dan angin puting beliung datang di wilayah Indonesia tanpa memilih waktu dan tempat. Terlepas dari “marahnya” alam pada umat manusia, perlu kita sadari bahwa secara geografis, Indonesia memang berpotensi terkena bencana alam cukup tinggi di dunia. Indonesia yang dikelilingi lautan menyebabkan tingginya potensi bencana tsunami dan letaknya yang berada di cincin api pasifik menyebabkan gunung berapi di Indonesia sering meletus. Bahkan beberapa fenomena unik pun terjadi, gunung berapi yang telah tertidur ratusan tahun pun kini aktif kembali, seperti terpengaruh gunung api lain yang sedang aktif. Selain letak geografis tersebut, ulah manusia pun tak kalah memberikan kontribusi terjadinya bencana alam di Indonesia, seperti ilegal logging yang menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor dan kebiasaan membuang sampah sembarangan membuat sungai meluap dan terjadi banjir.
    Namun, dengan bencana ini, banyak hal positif yang dapat kita pelajari antara lain meningkatkan rasa solidaritas dan soliditas yang sudah hampir luntur, meningkatkan kedekatan kita dengan yang di atas dan meningkatkan usaha kita untuk lebih mencintai alam. Bencana, dimanapun, kapanpun, sebesar apapun, sesungguhnya merupakan program stimulan Allah SWT untuk direspon dan dikelola manusia. Sudah pasti ada hubungan kausalitas antara sebab dan akibat ini. Artinya tak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebabnya. Sesuatu yang buruk penyebabnya adalah keburukan. Begitu pula sebaliknya, kebaikan itu adalah buah dari kebaikan. Jadi tak mungkin ada bencana tanpa ada penyebabnya. Jika bencana itu kita rasakan sebagai kepahitan, kegelapan, siksaan dan kepedihan maka hal itu buah dari yang semakna dengan itu (Mr. Ahyudin, executive director ACT (Aksi Cepat Tanggap) Foundation, Jakarta). Hal ini tentu saja menggugah hati nurani kita sebagai manusia. Saat satu bagian tubuh lain terluka maka tubuh bagian lain pun akan merasakan sakitnya. Demikian rasa itulah yang timbul saat melihat saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana. Semua bencana ini tentu saja menelan banyak korban, mulai dari korban luka-luka dan korban meninggal, belum lagi hilangnya harta benda dan sanak saudara yang dicintai. Saat bencana alam sudah terjadi yang dapat kita lakukan sekarang hanya lah membantu meringankan beban saudara-saudara kita tanpa mengingat ras, asal-usul, hubungan darah, suku dan bangsa.
    Solidaritas berarti kepedulian, meminjam pengertian Émile Durkheim dalam Kompas (20/12/10), solidaritas sosial yang berkembang lebih condong mengarah pada sebuah solidaritas mekanik ketimbang solidaritas organik yang terbentuk dari kesamaan atau homogenitas dari individu-individu atau suatu komunitas sosial tertentu. Orang merasa terhubung atau berkerabat dengan orang lain karena kesamaan pekerjaan, pendidikan, pengajaran agama, kesamaan gaya hidup, dan hubungan kekerabatan atau persaudaraan. Pada solidaritas organik, kohesi dan integrasi sosial terbentuk mendasarkan pada adanya saling ketergantungan antar individu, unsure-unsur di masyarakat. Seperti tubuh makhluk hidup, individu dianalogikan sebagai organ yang kendati masing-masing berfungsi sendiri-sendiri namun ketergantungan satu sama lain. Sedangkan soliditas berati keadaan (sifat) solid (kukuh, berbobot, dsb).
    Sepanjang tahun 2010 bangsa Indonesia dihadapkan pada beberapa kerawanan sosial yang mendorong pudarnya kohesi dan integrasi. Solidaritas antarwarga terasa kian memudar terimbas pertentangan politik elite atau kesenjangan sosial lainnya. Munculnya beberapa konflik horizontal-lokal berbasis kontestasi politik, kepentingan ekonomi, bahkan bernuansa SARA di beberapa wilayah mengindikasikan meningkatnya ancaman terhadap solidaritas dan rasa kebersamaan di negeri ini. Pertikaian antarsuku, tawuran antardesa, perusakan tempat ibadah dan kasus kekerasan lain menjadi karakteristik konflik horizontal tahun ini.
    Tanpa menghilangkan makna kepedihan akibat bencana, sisi lain kebersamaan dan solidaritas sosial yang bersifat ”organik” justru terbentuk di tengah bencana. Sikap tolong-menolong antarwarga bangsa ini salah satunya ditunjukkan dengan tingginya respons beberapa elemen di masyarakat untuk ikut serta membantu meringankan beban korban bencana alam. Berbagai cara dilakukan untuk membantu korban bencana, mulai menyumbang uang, pakaian, makanan, obat-obatan, material bangunan, hingga terjun langsung menjadi relawan di lokasi bencana. Bencana alam ini sebagai peluang yang sangat luar biasa untuk melatih dan membangkitkan kembali sikap saling tolong menolong dan menjadi sarana penyadaran kepada manusia untuk saling membantu satu sama lain. Bencana bisa menyadarkan manusia. Dengan adanya bencana, manusia bisa merefleksikan diri dihadapan alam sebagai bagian yang kecil. Selama ini, tanpa bencana, manusia jarang atau bahkan sama sekali tidak mengambil jarak dari sebuah kenyataan untuk merefleksikan dirinya. Terkadang manusia larut dan tenggelam dalam ketidaksadarannya akan bagian yang kecil dari alam. Dengan hal seperti ini, tidak bisa dikatakan bahwa manusia itu tidak memiliki kesadaran. Karena dibalik semua bencana alam, manusia menyadari bahwa ia tak berdaya dan terbatas. Karena setiap terjadi bencana, manusia si mahkluk yang penuh dengan keterbatasan meminta pertolongan pada Tuhan yang Maha Tak Terbatas. Dengan menyebut-nyebut namaNya. Atau sebesar apapun pengetahuan manusia, dengan teknologi tinggi sekalipun untuk meramal alam, alam punya logikanya sendiri. Alam milik yang Maha Tak Terbatas, maka manusia harus menyadari keterbatasannya itu.
    Tingginya animo masyarakat ini mengisyaratkan bahwa, rasa solidaritas diantara seluruh manusia belum tercerabut dari akarnya. Sejarah bangsa kita pun tak mengingkari itu. Pandangan hidup bangsa Pancasila pun mengajarkan solidaritas ini dalam sila/silanya. Dan selama penanganan bencana ini, nilai-nilai luhur Pancasila dijalankan dengan sangat baik.

    Hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana solidaritas sosial yang ternyata masih kental ini tidak hanya berhenti pada saat pemberian bantuan atau kepedulian terhadap korban bencana, tetapi juga dalam persoalan keseharian yang kerap teriritasi konflik horizontal. Solidaritas, mengapa harus menunggu bencana?
    Bencana hanya merupakan perubahan alam untuk tetap bertahan sebagai alam. Bencana hal yang biasa. Yang perlu kita tanamkan adalah bahwa sesuatu itu bertahan dengan cara berubah. Perubahan cara pandang kita terhadap bencana. Perubahan alam dengan gejala-gejalanya, untuk bertahan dan membentuk sistem baru. Dan yang perlu kita renungkan adalah, apakah harus ada bencana untuk menumbuhkan solidaritas manusia terhadap sesamanya?. Sangat disayangan bila lanjutan sikap solidaritas masyarakat Indonesia yang plural ini hanya ada ketika bencana sambung-menyambung dialami masyarakat Indonesia. (MARSHA VIBRIANA S – 08/271593/DPA/3025 – D3 REKAM MEDIS)

  28. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA
    Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Negara ini juga memiliki posisi geografis yang unik sekaligus menjadikannya strategis. Hal ini dapat dilihat dari letak Indonesia yang berada di antara dua samudera dan dua benua yaitu samudera yang mengapit wilayah Indonesia adalah Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Sedangkan benua yang mengapit wilayah Indonesia adalah Benua Asia dan Benua Australia Keadaan ini menjadikan Indonesia rentan terhadap ancaman bencana alam di seluruh wilayah di Indonesia.
    Beberapa tahun belakangan ini, bangsa Indonesia sedang diguncang berbagai bencana alam hampir di seantero negeri, mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa, gunung meletus, dan masih banyak lagi. Beragam teori diajukan untuk dijadikan penyebab lahirnya bencana tersebut, mulai dari penggundulan hutan, penyalahgunaan lahan, sampai global warming. Bencana yang terbesar dan terjadi belum lama ini adalah bencana tsunami yang disertai oleh sebuah gempa bumi di lepas pantai Kepulauan Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi, sebuah gunung berapi aktif di dekat pusat kebudayaan, Yogyakarta.
    Terletak di zona yang sangat aktif yang dikenal sebagai cincin api, Indonesia telah mengalami banyak sekali bencana alam. Di bulan Oktober saja, selain tsunami dan letusan gunung berapi, terjadi juga berbagai banjir dan tanah longsor di beberapa daerah lain dari negeri ini yang telah mengambil jiwa dan merusak komunitas dan mata pencaharian.
    Di tengah terpaan bencana saat ini, menegakkan solidaritas sosial merupakan kebajikan utama. Menunggu kebijakan negara yang kerap lambat menangani bencana bisa membuat saudara kita semakin terpuruk merasakan bencana. Warga bangsa Indonwsia harus bersatu padu menggalang solidaritas sehingga bisa memberikan senyum bahagia bagi para korban bencana alam tersebut. Gerakan masyarakat sipil harus segera tanggap sehingga mampu melakukan konsolidasi sosial dalam merekrut para dermawan untuk berbagi. Pada masyarakat Indonesia sudah tertanam dalam sanubarinya untuk bersama-sama meringankan beban saudara yang terkena musibah.

    Dalam konteks kemanusiaan, tali persaudaraan juga menjadi tali kasih sayang dengan sesama. Jangan sampai kasih sayang terputus antarsesama. Terputusnya kasih sayang dengan sesama merupakan kabar buruk ihwal persatuan dan persaudaraan yang semakin runtuh. Tanpa kasih sayang, persatuan hanya slogan yang tak berarti apa-apa. Tanpa kasih sayang, persaudaraan justru akan menjadi ajang permusuhan. Tanpa kasih sayang, manusia akan menghamba dalam kerusakan dan kebrutalan.

    Minimnya solidaritas sosial elite politik kita menjadikan kondisi sosial masyarakat merunyam. Tidak sedikit konflik sosial horizontal akibat elite politik kita yang gemar mengumbar fitnah. Konflik yang terjadi di berbagai tempat ibadah merupakan bukti elite kita gampang larut dalam keterpecahan. Sementara itu, umat dan rakyat yang di bawah menjadi korban lahirnya berbagai konflik horizontal. Beragam konflik horizontal yang tak kunjung usai itu menjadikan bangsa Indonesia semakin terpuruk menapaki masa depannya. Indonesia tertatih-tatih mengemudikan kapal peradabannya sehingga selalu jatuh berkeping-keping. Lihatlah deretan korupsi yang terus masuk penjara, mafia hukum yang semakin berkeliaran, kemiskinan yang semakin parah, dan maling republik yang terus menggerogoti kekayaan negara. Pendidikan kita juga dijalankan dengan manajerial yang amburadul. Kehidupan yang berjalan dengan gila-gilaan menyembah hedonisme-materialis. Budaya instan yang makin digemari dan kesejatian yang makin ditinggalkan.

    Di tengah suramnya wajah bangsa Indonesia inilah, penduduk bangsa ini selaiknya merefleksikan diri untuk membangkitkan Indonesia menuju peradaban yang lebih beradab. Bencana menjadi momentum tepat yang bisa digunakan sebagai media efektif dalam menggerakkan perubahan sosial (taghayyur al-ijtima’iyyah) dan kesepakatan nasional (mu’ahadah wathaniyyah) untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) akan kebangsaan kita.  
    Bangkit di tengah keterpurukan dengan limpahan rahmat kasih sayang antarwarga bangsa tanpa harus membatasi komunitas, ras, suku, dan agama akan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang bangkit menuju pencerahan. Kasih sayang yang memantul menjadi modal paling fundamental dalam membangun sebuah peradaban. Peradaban yang dibangun dengan fondasi kebencian hanya akan menghadirkan konflik, perang dan pembunuhan antarsaudara. Kasih sayang membangun peradaban yang saling memberi saudara, bahkan bisa mengalahkan dirinya sendiri. Wajah peradaban yang penuh kasih sayang inilah yang dalam sejarah peradaban dunia telah menghadirkan pencerahan.
    Pertama, menjadi cermin bahwa kita makhluk sosial. Hal ini menjadi cermin solidaritas kepada sesama merupakan refleksi dan manifestasi bahwa kita memerlukan orang lain dalam hidup bersama. Kedua, panggilan akan martabat kemanusiaan bahwa martabat sesama yang tengah dirundung penderitaan adalah nilai yang luhur, mulia dan bernilai tinggi sehingga pantas semua orang terpanggil demi kesejahteraan orang lain. Ketiga, di tengah melunturnya semangat peduli sesama karena diracuni budaya hedonis, egois dan mementingkan diri sendiri, solidaritas kepada sesama yang menderita memberi harapan akan masa depan. Ketika orang bahu-membahu melakukan pertolongan kepada sesama yang menderita. Hal ini menjadi oase yang menjadi tanda-tanda harapan.
    Dari perspektif solidaritas, terdapat istilah yang dikenal sebagai solidaritas sosial karitatif dan solidaritas sosial konsientitatif. Solidaritas sosial karitatif lebih menekankan bantuannya pada wujud kebendaan, tanpa diikuti oleh kemungkinan pelibatan pemikiran pelaku aksi secara intens pada para penerima sumbangan.
    Para relawan kemanusiaan domestik dan internasional mulai berdatangan untuk membantu mencari para korban yang hilang dan melakukan evakuasi korban, pelayanan medis, menyediakan bantuan logistik, dan sebagainya. Pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat tertimpa musibah jelas merupakan keharusan bagi negara. Pelayanan publik tidak mudah dilakukan. Banyak negara gagal melakukan pelayanan publik yang baik bagi warganya. Perlu ditingkatkan responsivitas, representativitas dan responsibilitas aparatur pemerintah. Saat ini tampaknya mereka hanya mampu menempatkan dirinya sebagai mesin birokrasi, tidak mampu mengadaptasikan sikap dan perilakunya pada kondisi dan tuntutan masyarakat yang terus berubah.
    Dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat, di sebagian masyarakat kita yang dewasa ini banyak mengalami musibah, jelas birokrasi harus lebih mengedepankan nilai etis dan kemanusiaan. Solidaritas untuk korban bencana alam Yogyakarta dan sekitarnya dihimpun oleh para aktivis relawan kemanusiaan, mahasiswa, dan organisasi-organisasi nonpemerintah (NGO) harus terus didukung. Mereka mengharapkan kesediaan pemerintah untuk bahu-membahu dengan kalangan relawan dan aktivis organisasi nonpemerintah agar bisa secepatnya membantu meringankan penderitaan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.
    Terakhir, ada baiknya wawasan nusantara tidak lagi dilihat sebagai hafalan ketika ujian kewarganegaraan. Tetapi sebagai sebuah cerminan terhadap perlunya kita memahami lingkungan dan letak serta kondisi geografis Indonesia. Dikarenakan wilayah Indonesia dengan fakta geografisnya adalah wadah bagi kita untuk menuangkan berbagai ide demi menjawab tantangan saat ini dan di masa yang akan datang.

    http://www.suaramerdeka.com/harian/0606/13/opi04.htm
    http://kendariekspres.com/content/view/9593/50/

    INTEN LAYUNGSARI
    08/271569/DPA/3010
    D3 REKAM MEDIS UGM

  29. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    .
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun hal ini tidak semudah yang diharapkan. dengan menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat malah menunjukkan drama yang miris.
    Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Sementara para korban bergulat untuk bertahan hidup, namun pejabat publik malah sempat-sempatnya pergi ke luar negeri untuk alasan studi banding yang sudah diprogramkan. Orang nomor satu di negara kita (RI-1) pun sempat mengecewakan, ketika terjadi bencana alam Tsunami Mentawai dan letusan Merapi, beliau entah di mana, yang ternyata juga masih berada di tengah kunjungan ke negara lain, bahkan memilih melakukan koordinasi penanganan bencana dari nun jauh di negara yang sedang dikunjunginya, dan tidak langsung kembali ke tanah air sebagai tanda empati dan komitmen terhadap masalah rakyat.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
    Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Kami berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.
    Antonius Wiwan Koban, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute

    Kendati solidaritas rakyat Indonesia sangat besar dan membanggakan, namun jangan terus bergantung pada kerelaan berbagi masyarakat. Setiap bencana tentunya berkonsekuensi pada biaya besar secara ekonomi dan social. Kalau jujur, dan jika dihitung, sebenarnya masyarakat Indonesia menanggung bagian paling besar dari setiap bencana. Bahkan biaya tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali dari pemerintah sesungguhnya datang dari rakyat Indonesia , berupa pajak dan pungutan lainnya. Jumlahnya saat ini ; triliunan rupiah.
    Berefleksi sejenak akan penanganan bencana, terlihat belum ada pengorganisasian solidaritas rakyat Indonesia. Tidak ada satupun perangkat hukum atau aturan apapun mengenai hal ini. Undang-undang 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sama sekali tidak menyinggung soal peran organisasi kemasyarakatan (masyarakat sipil) dalam kebencanaan. Undang-undang ini menyinggung peran perusahaan swasta dan lembaga bantuan asing termasuk lembaga PBB. Padahal masyarakat umum melalui organisasi-organisasi masyarakat sipil bisa melakukan berbagai langkah upaya penanggulangan bencana bahkan pengurangan resiko bencana. Bahkan peraturan pemerintah dibidang peran lembaga asing sudah ada.
    Tapi Peraturan Pemerintah tentang peran masyarakat sipil tidak bisa dikeluarkan karena memang tidak disinggung di undang-undang. Paling jauh, pemerintah bisa mengeluarkan peraturan pemerintah tentang peran masyarakat pada umumnya dan ini belum dilakukan. Mungkin dalam peraturan pemerintah ini bisa juga mencakup peran masyarakat sipil.
    Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.
    Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja., Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir.
    Langkah lain yang penting adalah soal-soal pengurangan resiko bencana. Pada tahapan ini semua komponen masyarakat, termasuk didalamnya sekolah-sekolah, dilatih dan mampu menghadapi bencana jika terjadi. Sehingga mereka bisa dengan sistimatis mengurangi dampak bencana.
    Terakhir adalah mitigasi bencana atau segala upaya untuk meredam bahaya bencana. Mitigasi ini bisa berupa pembangunan tanggul, pengerukan sungai, rumah tahan gempa, jalur evakuasi, bahkan penghijauan di gunung dan di pantai menanam mangrove. Terlebih lagi, secara serius memerangi kemiskinan masyarakat, karena kemiskinan merupakan kerawanan besar dan kelemahan besar ketika masyarakat menghadapi bencana. (leo)
    Peran Solidaritas Kepemimpinan dan Kultur Demokrasi Bagi Pemuda
    Pada hakekatnya KNPI adalah wadah berhimpunnya para pemimpin dari berbagai kalangan organisasi kepemudaan yang ada di negeri ini. Memahami peran pemuda dalam aspek kepemimpinan dan demokrasi, dimaknai bahwa terjadinya perubahan yang sangat mendasar dan sangat fundamental disektor demokrasi, mengadung konsekuensi bahwa proses tatanan teknis dalam sektor kepemimpinan secara alamiah akan bergeser dan berubah dari situasi dan kondisi rekayasa kalangan elite politik, berubah kearah situasi dan kondisi melibatkan publik.
    Menyadari tumbuh serta terwujudnya demokratisasi murni untuk dan atas nama rakyat, akan membangun kesadaran baru bahwa perspektif kepemimpinan tanpa didasari solidaritas dan kebersamaan yang tinggi, maka dapat dipastikan bahwa proses penyelenggaraan pembangunan akan semakin tidak efektif dan target-target pembangunan yang direncanakan akan sulit untuk diwujudkan.
    Kami berharap agar para penyelenggara secepatnya menyelamatkan upaya pendangkalan kebangsaan dan pemasungan toleransi yang secara sistematik telah merasuki masyarakat. Negara harus mengambil langkah-langkah guna menyelamatkan kebinekaan dan janji kebangsaan yang tertuang dalam Pancasila dan Konstitusi Republik Indonesia.
    TUGAS KEWARGAAN NEGARA
    REKMED B
    NAMA:SUJATMIRAH
    NIM :3194

  30. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITI UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerentanan bencana tinggi. Hal ini karena negara kita memiliki kondisi geografi, geologis, hidrologis dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia. Semua itu bisa menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional.

    .

    Kita tahu, hampir seluruh pulau di Indonesia dilintasi jalur ring of fire (cincin api) Pasifik yang menjadikan Indonesia memiliki banyak koleksi gunung api. Kita juga memahami, negara ini berada di lokasi pertemuan lempeng tektonik besar yang aktif bergerak yang membuatnya sering dilanda gempa bumi. Dengan demikian, pesisir pantai di Indonesia pun berpotensi terkena tsunami. Namun, itulah Indonesia, tanah air yang kita cintai, yang mempersatukan semua penghuninya dari Sabang sampai Merauke.

    Sebagai penduduk yang mendiami tanah ini, kita harus menerima segala berkah dan bencana yang telah dan akan terjadi lalu menyikapinya dengan penuh kearifan. Letusan gunung api dan tsunami merupakan bencana alam yang tidak bisa dipastikan terjadinya. Meski demikian, potensi kejadian keduanya sebetulnya bisa diramalkan sehingga langkah-langkah mitigasi bencana bisa lebih dioptimalkan. Karena itu, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) selalu merilis peringatan bahaya akan potensi tsunami begitu ada kejadian gempa bumi berkekuatan di atas 7 pada skala Richter di dekat pantai dengan kedalaman kurang dari 70 km.
    Peringatan itu semestinya diterjemahkan pemerintah daerah setempat dengan langkah cepat mengungsikan warga ke tempat aman. Akan tetapi, korban sudah jatuh. Kita pun berduka. Tak ada gunanya saling menyalahkan. Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah menunjukkan kesalehan sosial terhadap saudara-saudara kita yang selamat dari bencana dan kini tinggal di pengungsian, dengan mengulurkan tangan sesuai kemampuan kita. Kita menuntut pemerintah agar memprioritaskan pemulihan rumah-rumah warga yang tersapu ombak di Mentawai dan relokasi bagi semua warga lereng Merapi, ini waktunya untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas sosial. Tidak hanya soal Merapi namun juga gempa dan tsunami di Mentawai Sumatra Barat. Beberapa waktu lalu juga terjadi bencana banjir Wasior di Papua Barat. Masyarakat yang mempunyai harta berlebih, silakan membaginya kepada yang membutuhkan. Yang punya waktu, tenaga dan pikiran, mari kita sumbangkan. Jika kita berbagi, penderitaan saudara kita akan terkurangi. Jadi negeri yang kaya dengan bencana ini akan dapat terobati dengan adanya kebersamaan.

    Upaya baru harus terus dilakukan. Solidaritas kemanusiaan harus digalakkan. Semua harus ikut menderita. Sebab, masyarakat di sana adalah bahagian dari republik ini. Penderitaan rakyat mereka adalah penderitaan seluruh komponen bangsa ini, penderitaan republik. Untuk itu, gerak cepat lainnya harus tetap diupayakan. Indonesia memang kini sedang berduka, menangis.Berharap banyak pada pemerintah, kelihatannya bukan merupakan satu-satunya langkah untuk menanggulangi permasalahan ini. Kita, masyarakat Indonesia juga harus berperan di dalamnya. Solidaritas kemanusiaan harus dibangkitkan. Solidaritas seperti sesungguhnya sudah pernah kita tunjukkan ketika bencana sudah berungkali terjadi.
    Bencana, apapun bentuknya dan di mana pun letaknya, adalah derita kita semua. Dengan memakai naluri kemanusiaan kita, seharusnya melihat malapetaka yang tragis dan dramatis ini, solidaritas harus timbul. Karena itu, sekaranglah saatnya rakyat Indonesia menunjukkan rasa solidaritas sosial dan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya untuk secara konkret dengan memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan mereka.

    Budaya Mitigasi
    Bencana alam beserta dampaknya harus disikapi secara bijak dan tepat. Bencana tidak saja sebagai akibat fenomena alam tetapi juga oleh tangan manusia yang lalai dalam memelihara lingkungan atau gabungan dari keduanya. Jenis bencana alam utama di kepulauan Nias adalah gempa bumi, gelombang tsunami, tanah longsor, dan banjir. Seluruh wilayah kepulauan ini merupakan daerah rawan gempa bumi dan termasuk dalam wilayah zona 6, yang artinya paling rawan terhadap gempa bumi dan tidak mungkin dicegah. Akibat seringnya terjadi gempa bumi maka wilayah ini juga sangat potensial terjadinya gelombang tsunami karena dikelilingi oleh lautan bebas. Kawasan-kawasan yang potensial terkena gelombang tsunami adalah kawasan disepanjang pantai disekeliling Pulau Nias. Keadaan topografi berbukit-bukit terjal serta pegunungan dimana tingginya bervariasi antara 0-800 m dari permukaan air laut. Topografi terdiri dari dataran rendah, dataran bergelombang, berbukit-bukit dan pegunungan. Curah hujan yang tinggi dan sifat tanahnya maka wilayah ini rentan kelongsoran. Dari berbagai bencana tersebut, diperlukan langkah penanganan yang menyeluruh dan efektif. Dalam konteks penanggulangan bencana sampai saat ini, upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dan para pemangku kepentingan belum optimal dan lebih banyak berupa pemberian bantuan pada era tanggap darurat dan rehabilitasi fisik pasca bencana. Adapun upaya efektif pada tahap pra bencana belum dilakukan dengan baik. Padahal yang juga sangat diperlukan adalah paradigma mitigasi melalui antisipasi bencana untuk tujuan meminimalisir korban dan mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana. Paradigma mitigasi dalam penanggulangan bencana diartikan upaya pengenalan daerah rentan bencana dan dan membekali kesiapsiagaan masyarakat
    Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.
    Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir.
    Langkah lain yang penting adalah soal-soal pengurangan resiko bencana. Pada tahapan ini semua komponen masyarakat, termasuk didalamnya sekolah-sekolah, dilatih dan mampu menghadapi bencana jika terjadi. Sehingga mereka bisa dengan sistimatis mengurangi dampak bencana.
    Terakhir adalah mitigasi bencana atau segala upaya untuk meredam bahaya bencana. Mitigasi ini bisa berupa pembangunan tanggul, pengerukan sungai, rumah tahan gempa, jalur evakuasi, bahkan penghijauan di gunung dan di pantai menanam mangrove. Terlebih lagi, secara serius memerangi kemiskinan masyarakat, karena kemiskinan merupakan kerawanan besar dan kelemahan besar ketika masyarakat menghadapi bencana. (leo)

    http://www.radarlampung.co.id/web/opini/tajuk/24489-soliditas-bencana
    http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2010/11/01/5799/negeri_kaya_bencana/
    http://niasonline.net/2010/09/21/membangun-budaya-mitigasi-bencana-berbasis-potensi-kearifan-lokal-nias/
    http://hukum.kompasiana.com/2010/07/13/bencana-ekologi/
    http://ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=236%3Anews&catid=1%3Alatest-news&Itemid=18&lang=id

    FEBRINA WAHYU P
    08/273999/DPA/3132
    D3REKAM MEDIS

  31. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Bencana alam beserta dampaknya harus disikapi secara bijak dan tepat. Bencana tidak saja sebagai akibat fenomena alam tetapi juga oleh tangan manusia yang lalai dalam memelihara lingkungan atau gabungan dari keduanya. Jenis bencana alam utama di kepulauan Nias adalah gempa bumi, gelombang tsunami, tanah longsor, dan banjir. Seluruh wilayah kepulauan ini merupakan daerah rawan gempa bumi dan termasuk dalam wilayah zona 6, yang artinya paling rawan terhadap gempa bumi dan tidak mungkin dicegah. Akibat seringnya terjadi gempa bumi maka wilayah ini juga sangat potensial terjadinya gelombang tsunami karena dikelilingi oleh lautan bebas. Kawasan-kawasan yang potensial terkena gelombang tsunami adalah kawasan disepanjang pantai disekeliling Pulau Nias.
    Keadaan topografi berbukit-bukit terjal serta pegunungan dimana tingginya bervariasi antara 0-800 m dari permukaan air laut. Topografi terdiri dari dataran rendah, dataran bergelombang, berbukit-bukit dan pegunungan. Curah hujan yang tinggi dan sifat tanahnya maka wilayah ini rentan kelongsoran. Daerah potensil terjadi kelongsoran adalah daerah perbukitan dengan kemiringan diatas 40% seperti di bagian tengah Pulau Nias. Kita tentu masih ingat banjir yang melanda wilayah Lahusa yang berdampak luas. Ada ratusan sungai dan anak sungai yang mengairi kepulauan ini yang berpotensi menyebabkan banjir bila tidak terkelola dengan baik. Bencana ini telah menimbulkan kerugian baik korban jiwa, harta benda, rasa traumatik bagi masyarakat yang telah mengalaminya.
    Oleh karena itu, manusia diingatkan oleh Tuhan agar selalu merawat dan bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan. Bahkan Tuhan telah membimbing manusia agar melihat sesuatu dengan pandangan positif agar ia dapat mengambil hikmah dari semua peristiwa dan menyatakan “sungguh nikmat berurusan dengan orang beriman, jika ia diberi nikmat bersyukur dan diberi cobaan bersabar”.
    Bencana Lumpur di Sidoarjo Jawa Timur berlarut-larut terjadi karena cara pandang pengelola, masyarakat, dan pemerintah yang negative. Lumpur dianggap barang yang kotor dan merusak karena merendam permukiman warga, dan beberapa infrastruktur sekitarnya. Karena itu tidak ada tempat bagi Lumpur kecuali di buang ke sungai agar tidak mengganggu aktifitas ekonomi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh LIPI lumpur Sidoarjo dapat dimanfaatkan menjadi batako, batu bata, dan genting. Tambahan lagi tidak ada bahan berbahaya yang terkandung didalamnya. Asalkan ada pembagian kerja yang proporsional antara Lapindo, pemerintah baik daerah maupun pusat dan masyarakat Lumpur dapat dijadikan salah satu bahan mentah mata pencaharian baru penduduk.
    Seandainya stake holder dapat berperan dengan semestinya, maka semua pihak justru berdoa agar lumpur tidak berhenti. Masyarakat diuntungkan dengan kehadiran lumpur karena keuntungan penjualan lumpur dapat mengganti pemasukan mereka dari bertani. Lapindo diuntungkan karena biaya yang dikeluarkan pengendalian lumpur lebih kecil dari semestinya, dan pemerintah juga diuntungkan karena bertambahnya pendapatan daerah serta bergesernya tingkat kehidupan masyarakat dari bertani menjadi industri.
    Tuhan telah memberikan gambaran bahwa tidak ada yang sia-sia dalam penciptaannya, semuanya bermanfaat tergantung bagaimana sudut pandang dan pengelolaan kita. Kalaupun terjadi bencana alam seperti letusan gunung berapi, atau tsunami, maka ada hikmah yang besar terkandung di dalamnya yang sampai saat ini manusia hanya mampu menggali sepersekian persen saja manfaatnya.
    Mantan ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, meminta masyarakat meningkatkan solidaritas sosial. “Bencana yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia hendaknya dijadikan momentum memperkuat empati dan rasa prihatin terhadap sesama”.
    Menurut Hidayat, keberadaan musibah menguji persaudaraan dan solidaritas umat. Ia juga menegaskan, musibah tak boleh dijadikan alasan dan dipandang bahwa norma berubah dan keimanan menurun. Apabila hal itu yang diyakini, akan muncul prasangka buruk terhadap Sang Pencipta. Sebaliknya, harus dipahami bahwa musibah dan nikmat adalah pemberian yang sepatutnya diterima dengan ikhlas. Jika hal demikian yang terjadi, barulah musibah akan menghadirkan keberkahan.
    Kini saatnya membuktikan persaudaraan dan empati kepada orang lain. Oleh karena itu, sikap peduli dan gotong-royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia perlu kembali dihidupkan. Terutama dalam menghadapi masa-masa kesulitan seperti sekarang, tanpa melihat latar belakang pembedaan antar ras dan keyakinan, yang secara konkret dengan memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan jiwa dan raga korban bencana. Bentuk solidaritas ini sangatlah diharapkan untuk bisa diwujudkan dengan banyak cara.
    Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.
    Berkaitan dengan itu, hanya satu kata untuk korban bencana: Bantu! Dengan demikian kita tetap berusaha semampunya untuk meningkatkan solidaritas kita bersama. Dan kini adalah waktunya bagi kita untuk menyatakan rasa setia kawan dan persaudaraan.
    Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir.

    Yerusa Abigail O. A
    (08/271623/DPA/3038)
    D3 Rekam Medis

    Daftar Pustaka

    http://bangazul.blogspot.com/2009/03/melihat-sisi-lain-bencana-alam.html diunduh tanggal 12 Januari 2011
    http://bataviase.co.id/node/458998 edisi 15 November 2010, diunduh tanggal 12 Januari 2011
    http://niasonline.net/2010/09/21/membangun-budaya-mitigasi-bencana-berbasis-potensi-kearifan-lokal-nias/ diunduh tanggal 12 Januari 2011
    http://www.mail-archive.com/mayapadaprana@yahoogroups.com/msg03313.html diunduh tanggal 12 Januari 2011

  32. Nama : Octia Lestiyaningrum
    NIM : 08/274178/DPA/3167
    Prodi : DIII Rekam Medis FMIPA UGM
    Kewarganegaraan kelas A

    POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan Sumber Daya Alamnya. Disebut kaya akan Sumber Daya Alam karena Indonesia sangat kaya akan hutan, laut, gunung, dll. Sumber Daya Alam yang sangat melimpah seperti itu, disamping sangat menguntungkan bagi masyarakat juga ada dampak negatifnya bagi masyarakat yaitu dengan seringnya terjadi bencana alam di Indonesia. Secara etimologis, bencana adalah gangguan, goodaan, tipuan atau sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan kesusakan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya. Pengertian bencana atau disaster menurut Wikipedia disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment ( bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan). Bencana alam di Indonesia yang sering terjadi yaitu longsor, gunung meletus, banjir bandang, tsunami, gempa bumi, dll. Bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia tersebut merupakan ujian atau cobaan dari Tuhan yang harus dihadapi oleh seluruh masyarakat Indonesia.
    Letak Indonesia yang sangat territorial terhadap laut dan gunung, maka potensi bencana atau kerawanan bencana yang sering terjadi di Indonesia adalah tsunami, gempa bumi baik gempa teknonik yang timbul akibat adanya pergeseran lempengan-lempengan di dalam laut maupun gempa vulkanik yang timbul akibat gunung.
    Ada dua jenis bencana alam yaitu karena ulah atau perbuatan manusia itu sendiri dan memang karena cobaan atau dari Tuhan. Bencana alam karena ulah atau perbuatan manusia itu sendiri contohnya adalah melakukan pengeboman dalam mencari ikan, penebangan liar, dll. Hal tersebut juga dapat timbulnya bencana akan tetapi yang akan dibahas dalam tugas ini adalah bencana alam dari Tuhan seperti yang sering terjadi di wilayah Indonesia seperti gunung meletus di Yogyakarta, banjir bandang di Wasior papua, dan Tsunami di Mentawai, dan juga beberapa wilayah yang sering terkena gempa bumi.
    Bencana alam yang sering terjadi di Indonesia seperti itu, sebenarnya adalah ujian dari Tuhan dan ada hikmah dibalik semua cobaan itu. Hikmahnya bagi orang yang mau mengambil peringatan adalah menjadikan seluruh masyarakat Indonesia menjadikan mempunyai rasa solidaritas dan soliditas kepada sesama. Wujud dari adanya rasa solidaritas dan soliditas yaitu dengan kepedulian kepada para korban bencana alam. Kepedulian ini, dapat diwujudkan baik secara langsung maupun tidak langsung.
    Kepedulian dengan cara terjun langsung ke lapangan atau wilayah yang terkena bencana atau barak pengungsian seperti misalnya menjadi relawan, menjadi Tim SAR, memberikan bantuan dengan dana maupun bahan pangan, sandang, dll di lokasi tempat bencana alam itu merupakan suatu bentuk rasa bersaudara. Kepedulian secara langsung mempunyai tujuan bahwa meringankan beban saudara kita yang tertimpa bencana alam. Dengan tujuan seperti itu, maka rasa solidaritas dan soliditas bangsa akan tumbuh kepada semua lapisan masyarakat dan tidak membeda-bedakan status sosial, pendidikan, golongan menengah ke bawah, dll.
    Kepedulian dengan cara tidak langsung juga merupakan wujud solidaritas dan soliditas bangsa Indonesia. Masyarakat memberikan bantuan kepada korban bencana alam dikarenakan jarak yang jauh atau medan yang sulit ditempuh untuk memberikan bantuan sehingga tidak dapat secara langsung terjun ke lapangan atau lokasi yang terkena bencana alam. Contoh dari bentuk kepedulian secara tidak langsung yaitu dengan memberikan sejumlah dana kepada korban bencana alam melalui acara televisi, mengadakan suatu kegiatan konser untuk membantu korban bencana alam, para mahasiswa yang meminta penggalangan dana di jalan-jalan, dan memberikan masker gratis kepada masyarakat sewaktu gunung Merapi meletus di Yogyakarta. Hal tersebut merupakan wujud dari solidaritas dan soliditas bangsa Indonesia.
    Jadi, sebenarnya masyarakat tidak hanya mengambil dampak yang negatif saja terhadap bencana yang sering terjadi tapi juga dapat melihat dampak yang positif yaitu menjadikan seluruh Warga Negara Indonesia menyatu, hatinya selalu ingin melakukan kebaikan untuk memberikan bantuan, dan tumbuhnya rasa kasih sayang solidaritas dan soliditas Bangsa. Bentuk solidaritas dan soliditas bangsa timbul karena tidak adanya suatu perbedaan yakni perbedaan agama, ras, suku, budaya, dll.
    Meningkatkan rasa soliditas dan solidaritas bangsa tentunya akan mempunyai rasa bersatu. Dengan mempunyai rasa bersatu ini, selain bisa memupuk tigkat persaudaraan juga dapat saling tong-menolong antar sesama. Ternyata bentuk soliditas dan solidaritas tidak hanya pada saat terjadinya bencana alam tetapi juga pada saat sebelum terjadinya bencana alam. Seperti pda saat sebelum terjadinya erupsi gunung merapi memberitahu sebelumnya atau mensosialisasikan kapada masyarakat bahwa status merapi menjadi awas dan menyuruh bahwa para warga untuk dapat dengan segera turun yang dibatasi jarak batas aman dari gunung merapi tersebut.
    Setelah terjadinya erupsi gunung merapi, maka bentuk dari rasa solidaritas dan soliditas adalah dengan konsep pemulihan kerusakan dan kerugian akibat letusan gunung merapi seperti Misalnya dalam memberikan poin-poin apa sajakah yang dibutuhkan sesaat setelah terjadinya erupsi gunung merapi yaitu tanggap darurat dan kebutuhan pengungsi. Dalam kebutuhan pengungsi dapat mencatat daftar barang-barang yang diperlukan oleh pengungsi seperti sabun, handuk, pasta gigi, makanan bayi, susu bayi, kasur lipa, dll. Dengan dapat memenuhi kebutuhan para pengungsi itu merupakan salah satu bentuk dari rasa solidaritas dan soliditas Bangsa. Dan dengan konsep program pemulihan pasca letusan gunung merapi seperti masyarakat Yogyakarta akan membangun kemandiriannya, bantuan dari pemerintah adalah merupakan bagian dari tugas pemerintah untuk membantu dan melindungi warga-nagaranya, program rehabilitasi dan rekonstruksi didasarkan pada prinsip pemberdayaan masyarakat dan dilaksanakan secara gotong-royong, rehabilitasi dan rekonstruksi tidak semata-mata untuk aspek fisik tetapi juga aspek ekonomi dan social budaya. Untuk itu, nilai budaya dan kearifan local harus dipertimbangkan dan akan menjadi dasar bagi perencanaan dan pelaksanaan program.

  33. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia memang diprediksi sebagai lumbungnya bencana alam, karena letaknya secara geografis dan geologis berada di lempengan retak bumi. Negeri yang subur ini ditakdirkan berada di atas cincin api (ring fire). Kondisi geografis Indonesia yang dikenal begitu kaya akan potensi sumber daya alam tidak hanya menguntungkan bagi Indonesia, namun juga mengandung potensi kerawanan bencana alam yang dapat merugikan Indonesia jika tidak diantisipasi sejak awal, gunung api di permukaan dan dasar laut, hutan gundul yang berpotensi banjir dan terbakar, tsunami yang setiap waktu siap menerkam, dan sederet potensi bencana lainnya.. Sesungguhnya potensi kerawanan bencana alam tersebut bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa.
    Bencana alam beserta dampaknya harus disikapi secara bijak dan tepat. Bencana tidak saja sebagai akibat fenomena alam tetapi juga oleh tangan manusia yang lalai dalam memelihara lingkungan atau gabungan dari keduanya. Dari berbagai bencana tersebut, diperlukan langkah penanganan yang menyeluruh dan efektif. Dalam konteks penanggulangan bencana sampai saat ini, upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dan para pemangku kepentingan belum optimal dan lebih banyak berupa pemberian bantuan pada era tanggap darurat dan rehabilitasi fisik pasca bencana. Adapun upaya efektif pada tahap pra bencana belum dilakukan dengan baik. Padahal yang juga sangat diperlukan adalah paradigma mitigasi melalui antisipasi bencana untuk tujuan meminimalisir korban dan mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana alam. Paradigma mitigasi dalam penanggulangan bencana diartikan upaya pengenalan daerah rentan bencana dan dan membekali kesiapsiagaan masyarakat. Dalam konteks pengurangan risiko bencana, mitigasi bencana juga dipahami sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana untuk menghilangkan atau mengurangi akibat dari ancaman dan tingkat bencana. Yang perlu disadari bahwa sistem peringatan dini yang dimiliki negeri ini belum terselenggara dengan baik dan optimal. Namun masing-masing daerah sebenarnya memiliki pengetahuan dan kearifan lokal yang beragam dan berbeda bentuknya. Walaupun istilah yang digunakan berbeda dan cara-cara yang sudah mentradisi tidak sama, semua ini merupakan potensi dalam membangun mitigasi bencana yang berbasis pada potensi kearifan lokal.
    Dengan kenyataan seperti itu, pemerintah dan masyarakat harus membangun pola pikir menghadapi potensi bencana alam. Dalam hal ini, setidaknya ada dua pola pikir. Yakni, pola pikir negatif yang menganggap bencana sebagai azab yang membawa sengsara dan pola pikir positif yang menganggap bencana adalah tantangan yang harus dihadapi secara rasional. Pola pikir negatif tentang bencana cenderung menggiring kita untuk meratapi dan memelasi bencana, akhirnya sikap yang muncul adalah sikap menyalahkan Tuhan, menganggap Tuhan tidak adil, pilih kasih dan sebagainya. Sikap ini menggiring kita pada perilaku pasif, apatis, skeptis, dan pesimis, mengganggap bahwa bencana tidak mungkin dilawan dan dikendalikan, tunggu dan pasrah saja menghadapinya. Kalau sekiranya pola pikir negatif dimiliki individu, mungkin tidak terlalu berbahaya, tetapi alangkah bahayanya jika pola pikir ini mendera pemimpin dan pengambil keputusan. Akan terbentuk pola pikir negatif komunal yang menjadikan masyarakat mundur dan tidak membuka ruang untuk mengubah tantangan menjadi peluang. Tidak akan tumbuh studi-studi dan kebijakan-kebijakan yang memprediksi bencana dan langkah-langkah penanggulangannya. Sebaliknya, yang perlu ditumbuhkembangkan adalah pola pikir positif. Bahwa bencana sebagai tantangan juga menjadi semacam peluang, ya peluang untuk terus maju. Maju dalam arti semakin hari semakin cerdas, siap, dan tanggap terhadap ancaman bencana. Pola pikir ini akan menumbuhkan sikap komunal yang positif.
    Bicara bencana alam, sepertinya kita harus berkaca dan studi banding dengan megeri matahari terbit, Jepang. Jepang adalah negara yang kenyang dengan bencana alam. Istilah fenomenal “tsunami” berasal dari bahasa Jepang yang artinya gelombang yang mencapai lantai pelabuhan. Ini pertanda bahwa tsunami adalah “khazanah” Jepang. Bukan hanya tsunami, Jepang juga kenyang dengan gempa bumi yang membinasakan. Bicara bencana alam kita juga harus belajar dari bekas penjajah kita, Belanda. Negeri Belanda yang luasnya tidak seberapa, sebagian besar berada di bawah permukaan laut. Bencana alam telah membuat kedua bangsa ini berpikir maju dan mengubah pola pikir menghadapi bencana. Artinya apa, kedua bangsa ini benar-benar mengambil pelajaran dari bencana-bencana yang mendera negerinya. Bangsa Jepang kini dikenal sebagai negeri yang piawai menghadapi gempa bumi dan tsunami. Mereka mengerahkan segenap kemampuan untuk menaklukkan atau menghadapi momok dua bencana yang mengerikan itu. Saat ini, gedung-gedung pencakar langit telah dirancang tahan gempa dan tsunami. Tata ruang negaranya juga disesuaikan dengan potensi bencana alam, sehingga akibat bencana alam bisa diminimalisir. Demikian juga dengan Belanda, air yang dulu adalah musuh bebuyutan kini malah menjadi sahabat dan sumber rezeki. Belanda saat ini dikenal sebagai bangsa yang ahli irigasi dan kanal. Air kini dikendalikan menjadi sumber energi listrik yang besar. Julukan “Negeri Kincir Angin” juga melekat pada Belanda karena kesuksesannya menaklukkan air dan memanfaatkan angin.Seharusnya Indonesia juga bisa seperti Jepang dan Belanda. Hal ini kembali lagi kepada karakter bangsa, apakah kita bangsa yang berkarakter lemah atau kuat. Karakter bangsa yang kuat harus dibangun dan diupayakan serta didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.
    Upaya harus terus dilakukan, solidaritas kemanusiaan harus digalakkan. Semua harus ikut menderita. Sebab, masyarakat di sana adalah bahagian dari republik ini. Penderitaan rakyat mereka adalah penderitaan seluruh komponen bangsa ini, penderitaan republik. Untuk itu, gerak cepat lainnya harus tetap diupayakan. Indonesia memang kini sedang berduka, menangis. Berharap banyak pada pemerintah, kelihatannya bukan merupakan satu-satunya langkah untuk menanggulangi permasalahan ini. Kita, masyarakat Indonesia juga harus berperan di dalamnya. Solidaritas kemanusiaan harus dibangkitkan. Solidaritas seperti sesungguhnya sudah pernah kita tunjukkan ketika bencana sudah berungkali terjadi.
    Bencana, apapun bentuknya dan di mana pun letaknya, adalah derita kita semua. Dengan memakai naluri kemanusiaan kita, seharusnya melihat malapetaka yang tragis dan dramatis ini, solidaritas harus timbul. Karena itu, sekaranglah saatnya rakyat Indonesia menunjukkan rasa solidaritas sosial dan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya untuk secara konkret dengan memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan mereka. Jangan lagi ada pengkotak-kotakan yang membatasi jiwa kemanusiaan kita. Untuk itu, bentuk solidaritas ini bisa diwujudkan dengan banyak cara. Doa, daya dan dana adalah tiga unsur yang harus disinergikan.

    Referensi:
    http://niasonline.net/2010/09/21/membangun-budaya-mitigasi-bencana-berbasis-potensi-kearifan-lokal-nias/
    http://www.radarlampung.co.id/web/opini/tajuk/24489-soliditas-bencana

    NAMA : SULISTIA UMAERA
    NIM :08/274009/DPA/3136
    PRODI : REKAM MEDIS

  34. POTENSI KERAWANAN BENCANA BERNILAI POSITIF UNTUK
    MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Kondisi geografis Indonesia memberikan dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif-nya antara lain Indonesia mempunyai dua musim dimana panas merata sepanjang tahun. Kondisi ini sangat menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman musiman di Indonesia. Keuntungan lainnya adalah tanah di Indonesia tergolong subur akibat dari limpahan material gunung berapi. Meskipun membutuhkan waktu lama, tetapi material gunung berapi bersifat menyuburkan tanah. Potensi kekayaan laut yang dimiliki Indonesia juga sangat besar, diantaranya merupakan suplai terbesar dari kebutuhan protein hewani masyarakat yang didapat dari konsumsi ikan laut. Laut juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah laut, antara lain sebagai nelayan atau pengusaha hotel dan warung makan.
    Dampak negatif dari kondisi geografis Indonesia sangat banyak. Seperti bencana-bencana yang silih berganti menimpa Indonesia pada tahun 2010, antara lain bencana Banjir di Wasior, Gempa di Padang serta bencana Gunung Meletus di Yogyakarta. Pada awal tahun 2011 inipun sebagian wilayah Indonesia terkena banjir dan angin puting beliung. Semua bencana tersebut tidak bisa dipisahkan dari akibat letak geografis Indonesia.
    Mengingat potensi bencana yang melanda Indonesia pada tahun mendatang masih sangat besar, masyarakat sudah seharusnya menganggap bencana bukan sebagai suatu keadaan menakutkan yang harus selalu ditakuti setiap waktu, tetapi bencana harus dianggap sebagai suatu kondisi yang memang pasti terjadi dan karenanya harus dihadapi penuh antisipasi dan kewaspadaan. Bencana juga tidak melulu menimbulkan dampak negatif, tetapi sebenarnya dalam bencana-pun terkandung makna-makna positif yang apabila disadari oleh masyarakat maka tidak akan timbul kekalutan ataupun ketakutan lagi apabila bencana benar-benar datang kembali. Salah satu dampak positif bencana adalah meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa.
    Solidaritas artinya kesatuan kepentingan, simpati, dll, sebagai salah satu anggota dari kelas yang sama. Solidaritas bisa didefinisikan juga sebagai perasaan atau ungkapan dalam sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama. Sementara Wikipedia memberikan pengertian solidaritas adalah integrasi, tingkat dan jenis integrasi, ditunjukkan oleh masyarakat atau kelompok dengan orang dan tetangga mereka. Hal ini mengacu pada hubungan dalam masyarakat dalam konteks hubungan sosial dimana orang-orang mengikat satu sama lain. Solidaritas juga merupakan kesepakatan bersama dan dukungan : kepentingan dan tanggung jawab antar individu dalam kelompok, terutama karena diwujudkan dalam dukungan suara bulat dan tindakan kolektif untuk sesuatu hal. Apa yang membentuk dasar dari solidaritas bervariasi antara masyarakat. Dalam masyarakat sederhana mungkin terutama berbasis di sekitar nilai-nilai kekerabatan dan berbagi. Dalam masyarakat yang lebih kompleks terdapat berbagai teori mengenai apa yang memberikan kontribusi rasa solidaritas sosial. Sementara soliditas diartikan sebagai suatu keadaan atau sifat yang solid, kukuh, berbobot.
    Dalam menghadapi bencana, upaya penanggulangan harus terus dilakukan. Solidaritas kemanusiaan harus digalakkan. Semua harus ikut menderita. Sebab, masyarakat korban bencana adalah bagian dari Republik Indonesia. Penderitaan rakyat adalah penderitaan seluruh komponen bangsa ini, penderitaan republik. Untuk itu, gerak cepat lainnya harus terus diupayakan. Berharap banyak pada pemerintah, kelihatannya bukan merupakan satu-satunya langkah untuk menanggulangi bencana. Masyarakat Indonesia juga harus berperan di dalamnya. Solidaritas kemanusiaan harus dibangkitkan. Solidaritas sesungguhnya sudah sering ditunjukkan ketika bencana berungkali terjadi. Bencana, apapun bentuknya dan di mana pun letaknya, adalah derita semua rakyat. Dengan memakai naluri kemanusiaan, solidaritas akan timbul. Karena itu, dalam menghadapi bencana adalah saat yang tepat bagi rakyat Indonesia menunjukkan rasa solidaritas sosial dan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya. Jangan lagi ada pengkotak-kotakan yang membatasi jiwa kemanusiaan. Untuk itu, bentuk solidaritas ini bisa diwujudkan dengan banyak cara (Radar Lampung, 11/1).
    Yang utama dan penting dilakukan dalam menghadapi bencana adalah menghidupkan terus semangat soliditas dan solidaritas sosial. Dalam konteks ini, dimensi tauhid, kemanusiaan, persatuan, dan kesadaran merasa diri senasib sepenanggungan, menjadi penting digaris-bawahi. Dengan soliditas dan solidaritas sosial, rakyat menemukan kekuatan baru untuk tetap semangat. Hasrat bersatu, bergotong-royong melakukan aksi preventif dan rehabilitatif, semestinya menjadi bagian dari kesadaran kemanusiaan kita. Khususnya untuk memberikan bobot tertentu atas partisipasi sosial, tanpa memandang perbedaan. Tentu saja, dalam hal menanggulangi dampak bencana alam, tak boleh ada lagi tujuan-tujuan politis. Karena yang diperlukan adalah tujuan-tujuan kemanusiaan.
    Aksi penanggulangan bencana alam, dalam banyak hal memang harus memadukan seluruh kemampuan dan pengalaman seluruh potensi bangsa. Baik pemerintah, pengusaha, lembaga swadaya masyarakat, maupun rakyat biasa. Tentu harus diaktualisasikan dan diwujudkan dalam bentuknya yang paling nyata dan kongkret. Nilai solidaritas dan aksi nyata menjadi penting sekali maknanya. Karena di dalamnya pengalaman dan keahlian menyatu dan bersatu (Akar Padi, 11/1).
    Dalam kondisi menghadapi bencana, masyarakat tergerak untuk menyatukan kekuatan membantu korban bencana yang membutuhkan pertolongan. Dalam kondisi seperti itu, mereka tidak membawa jabatan, status sosial, atau kepopuleran masing-masing. Mereka mengenakan pakaian universal yang muncul dari hati mereka, yaitu rasa kemanusiaan. Perasaan itulah yang mendorong mereka untuk bahu-membahu menolong, dan terlebih lagi adalah menunjukkan bahwa persatuan di negeri ini masih melekat erat, yang terwujud dalam kegotongrotongan dan tolong-menolong bagi orang yang tertimpa musibah dan bencana (Buletin Perisai).
    Solidaritas dan soliditas juga didapatkan oleh para relawan ketika bekerja. Dengan menjadi relawan, mereka mendapat pengalaman baru, diharuskan untuk berbagi dengan sesama, sekaligus bisa melatih mental dalam menghadapi masalah di lapangan. Suatu masalah tidak akan menjadi besar apabila dihadapi bersama dengan semangat ingin membantu dan meringankan beban orang lain (Bulaksumur Pos).
    Solidaritas dan soliditas masyarakat benar-benar dapat dirasakan ketika bencana melanda. Masyarakat melakukan tindakan kolektif dengan tujuan sama, meringankan beban penderitaan korban bencana. Masyarakat yang menjadi relawan terus bekerja sepanjang waktu tanpa mengenal lelah. Ibaratnya, mereka tidak sempat memikirkan lelah karena tuntutan untuk melayani para korban ataupun pengungsi menjadi prioritas utama. Disini solidaritas dan soliditas warga ditunjukkan.

    NAMA : Arum Ika Yulianawati
    NIM : 08/274059/DPA/3144
    JURUSAN/PRODI : Rekam Medis (B)

    Referensi :
    Pengertian Solidaritas, diakses dari http://www.definisi-pengertian.blogspot.com tanggal 10 Januari 2011.
    Pengertian Soliditas, diakses dari http://www.artikata.com/arti-351694-soliditas.php tanggal 10 Januari 2011.
    Buletin Perisai BEM KM UGM. Edisi VIII, Desember 2010.
    Buletin Bulaksumur Pos. Edisi 182, Selasa 7 Desember 2010.
    Soliditas Bencana, diakses dari http://www.radarlampung.co.id tanggal 11 Januari 2011.
    Aksi Menanguulangi Bencana, diakses dari http://www.akarpadi.com tanggal 11 Januari 2011.

  35. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDITAS DAN SOLIDARITAS BANGSA

    Pemanasan global sering disebut-sebut sebagai biang keladi meningkatnya bencana. Ada benarnya, tetapi faktor lokal juga harus diwaspadai. Ini perlu ditekankan agar kita tidak terjebak pada generalisasi yang keliru. Akibat generalisasi keliru seolah-olah faktor penyebab utama bencana adalah pemanasan global bisa membuat kita tidak sadar bahwa sumber penyebabnya yang utama ada di sekitar kita sendiri. Kita juga menjadi tidak sadar dalam merumuskan strategi penanggulangan bencana.
    Pemanasan global adalah peningkatan secara gradual temperatur permukaan global akibat efek emisi gas-gas rumah kaca (terutama CO2) dari aktivitas manusia (antropogenik). Pemanasan global hanya diketahui dari data, bukan fenomena sesaat yang dirasakan. Kita tidak dapat mengatakan suhu akhir-akhir ini terasa panas karena pemanasan global, seperti kita jumpai di media massa. Fenomena sesaat efeknya lebih kuat, tetapi cepat juga berubah menjadi ekstrem lainnya, misalnya suhu menjadi lebih dingin. Dampak perubahan global juga bersifat gradual, sedikit demi sedikit namun konsisten.
    Pemanasan global diyakini menyebabkan perubahan iklim global. Perubahan iklim adalah keadaan iklim yang rata-ratanya atau sifat lainnya menunjukkan perubahan yang bersifat tetap dalam jangka panjang, baik karena proses alami maupun dampak dari aktivitas manusia yang mengubah komposisi atmosfer maupun tataguna lahan. Perubahan Iklim kadang dibedakan dengan variabilitas iklim. Perubahan iklim menekankan faktor aktivitas manusia (antropogenik). Variabilitas iklim menekankan pada faktor proses alami.
    Atas dasar kecenderungan global yang menunjukkan adanya pemanasan global dan perubahan iklim global, diproyeksikan di penghujung milenium ketiga 2090 – 2099 bumi akan makin panas. Dampaknya, ada wilayah yang makin tinggi curah hujannya (a.l. Indonesia bagian utara) dan ada wilayah yang makin rendah curah hujannya (a.l. Indonesia bagian selatan). Data rata-rata suhu Indonesia 1970 – 2004 menunjukkan kenaikan 0,2 – 1 derajat yang berdampak pada sistem fisis dan biologis. Puncak Jayawijaya di Papua merupakan salah satu contoh yang menunjukkan terjadinya perubahan fisik, yaitu berkurangnya salju abadi. Namun perlu diingat, perubahan suhu tersebut hanyalah rata-ratanya. Kecenderungan pemanasan lokal di kota, yang disebut fenomena pulau panas perkotaan, bisa lebih tinggi, sekitar 3 derajat dalam rentang waktu yang sama.
    Perubahan lokal berdampak jangka pendek, dalam orde tahunan sehingga relatif terasa secara langsung. Kota terasa semakin panas sehingga tingkat kenyamanan berkurang. Banjir dan tanah longsor semakin sering terjadi karena menurunnya daya dukung lingkungan. Pembangunan telah mengubah tataguna lahan yang mengubah kesetimbangan alam. Penambahan kepadatan penduduk telah memperburuk kondisi lingkungan sehingga tidak mampu menyerap atau mengalirkan curah hujan yang normal sekali pun yang berdampak banjir dan tanah longsor.
    Bencana di Indonesia seolah-olah sudah menjadi informasi keseharian yang digeluti sebagai bagian dari kehidupan warga negara. Informasi keseharian ini tertangkap oleh panca indera karena tingkat kekerapan (frekuensi) peristiwa yang terjadi di wilayah Indonesia yang relatif tinggi dan menimpa rakyat di bagian wilayah tertentu Indonesia pada kurun waktu tertentu. Untuk mengkalisifikasikan suatu peristiwa perlu dilakukan penelusuran terminologi bencana. Bencana (disaster) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah segala sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian atau penderitaan; malapetaka; kecelakaan; marabahaya. Sedangkan bencana alam adalah bencana (kecelakaan) yang disebabkan oleh alam seperti gempa bumi, angin besar dan banjir). Terdapat penjelasan mengenai takrif bencana (disaster) yaitu, sudden serious misfortune causing great suffering and damage, any unfortunate event, esp. a sudden or great misfortune, a sudden and ruinous misfortune. Dari takrif bencana maka dapat dikemukakan dua unsur yaitu sifat mendadak (sekonyong-konyong; sudden) dan menimbulkan kesusahan (misfortune). Unsur menimbulkan kesusahan ini dapat dilihat dari aspek material (fisik) dan non-materiil (non fisik) baik yang dapat dinilai dengan uang atau tidak.Bencana (alam) yang terjadi selalu dikonotasikan dengan adanya pemberian bantuan untuk menolong korban bencana. Maksud pemberian bantuan jumbuh dengan takrif bantuan itu sendiri yaitu barang yang dipakai untuk membantu; pertolongan; sokongan. Bantuan bencana inilah yang sering melahirkan polemik ditengah upaya meringankan beban korban bencana.
    Karena Indonesia merupakan negara yang tidak asing dengan bencana alam, kesadaran warganya akan kepedulian sangatlah tinggi. Karena bangsa Indonesia khas dalam hal ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Bahkan, bencana yang terjadi seakan menjadi sarana penguat persatuan dan kepedulian bangsa Indonesia. Pemuda mengambil peran sangat penting ketika terjadi bencana. Contohnya pada saat peristiwa meletusnya Gunung Merapi, pemuda adalah barisan terdepan dalam upaya penyelamatan masyarakat.
    Bencana telah melahirkan solidaritas sosial sesama warga bangsa untuk saling meringankan beban penderitaan. Solidaritas tersebut muncul dalam bentuk bantuan. Rasa solidaritas yang sangat luar biasa juga ditemukan diantara mahasiswa, mereka juga bersemangat menggalang dana di berbagai tempat, seperti di kampus-kampus dan di jalan raya. Selain melakukan penggalangan dana mahasiswa juga terjun langsung ke daerah yang terkena bencana menjadi sukarelawan penanggulangan bencana, mereka bergabung dan bergotong royong bersama sukarelawan lainnya seperti dari PMI, Tim SAR, TNI, polisi serta lembaga sosial bantuan lainnya. Kemudian, ada juga organisasi mahasiswa yang mendirikan posko-posko tersendiri untuk menyalurkan bantuan serta perawatan korban bancana. Masyarakat di seluruh penjuru dunia saling bersatu padu tanpa membedakan suku, ras, agama dan budaya untuk membantu meringankan beban para korban bencana alam. Selain solidaritas yang dibentuk dari masyarakat luas yang tidak terkena bencana, solidaritas dan soliditas juga terbentuk dari para korban bencana alam, yaitu denagan cara saling berbagi dengan korban bencana alam lainnya, seperti berbagi tempat, persediaan makanan, perlengakapan mandi, obat-obatan, dan kebutuhan pribadi lainnya. Disadari atau tidak beberapa hal tersebut diatas yang dilakukan oleh masyarakat di dunia ini, merupakan bentuk dari upaya-upaya masyarakat untuk membentuk adanya solidaritas dan soliditas dalam hidup bernagsa.

    Referensi :
    http://yakubadikrisanto.wordpress.com/home
    http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!628.entry
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html

    NAMA : UMU FADILAH
    NIM : 08/271642/DPA/3047
    PRODI : D3 REKAM MEDIS

  36. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Bencana datang silih berganti. Berupa banjir, gempa bumi, tanah longsor hingga letusan gunung berapi. Bila dipandang dari sisi geologi, Indonesia memang merupakan negara yang rawan akan bencana. Menurut data, ada sekitar 282 kabupaten di Indonesia atau setara dengan 2/3 wilayah Indonesia masuk dalam kategori rawan bencana alam.

    Negri ini dilingkupi oleh cincin api atau ring of fire yang ditandai dengan adanya rangkaian pegunungan yang membentang dari Sumatera hingga kebagian timur, yakni Nusa Tenggara Timur dan Maluku, sebuah jalur rangkaian gunung api aktif di dunia.

    Secara histografi, Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami. Negeri ini dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sewaktu-waktu jika lempeng ini bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antar lempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, sebagaimana terjadi di Aceh dan Mentawai.

    Akhir-akhir ini terjadi beberapa bencana yang menimpa saudara-saudara kita. Di Wasior, banjir bandang menelan banyak korban jiwa dan menghanyutkan rumah-rumah penduduk. Diikuti dengan musibah tsunami di Mentawai. Kemudian disusul meletusnya gunung merapi di Yogyakarta, “Wedhus gembel” mengamuk, menerjang serta memanggang beberapa wilayah di Kabupaten Sleman, Boyolali dan Magelang.

    Pertanyaannya, apakah semua ini hanyalah sebuah fenomena alam semata yang dikarenakan letak wilayah Indonesia yang rawan terjadi bencana? Tentu saja tidak. Semua itu adalah atas kehendak Allah (Al-Jabbar). Meskipun secara geografis menjadi wilayah rawan bencana, jika Allah tidak berkehendak, maka bencana alam takkan mungkin terjadi. Dia-lah yang menguasai langit dan bumi beserta isinya. Dzat yang mengatur atau memerintah segala makhluk ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak dan iradah-Nya.

    “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid : 22)

    Ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dan betapa kecilnya manusia. Betapa kuasanya Allah atas segala sesuatu. Maka kita harus berusaha untuk mengambil hikmahnya. Mengevaluasi atas apa yang telah dilakukan selama ini.

    Salah satu bencana terparah yang melanda negeri ini adalah Bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Sabtu, tgl 27 Mei 2006 lalu yang telah mengakibatkan ribuan nyawa manusia melayang, ratusan ribu rumah penduduk dan bangunan lainnya hancur dalam sekejap. Anak banyak kehilangan orangtuanya, orang tua juga kehilangan anaknya. Fasilitas infrastruktur untuk public ambruk, jalan-jalan terputus, komunikasi tak jalan.

    Akibat gempa itu, selain memakan korban jiwa dan harta benda, juga mengakibatkan banyak masyarakat di wilayah darurat ini kehilangan mata pencahariannya. Perekonomian masyarakat menjadi terganggu dan jumlah total kerugiannya pun luar biasa banyaknya. Kita tentu sangat prihatin dan ikut merasakan bagaimana penderitaan yang harus dipikul para saudara sebangsa dan setanah air kita ini.

    Jeritan tangis dan rintihan jiwa para anggota keluarga korban Gempa Bumi telah menjadi kepedihan kita bersama. Bencana gempa bumi telah pula menjadi kenyataan yang menyakitkan perasaan kemanusiaan kita. Sudah saatnya kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia menunjukkan rasa solidaritas dan soliditas sosial dan kemanusiaannya, yang sesungguhnya tanpa melihat latar belakang pembedaan antar ras dan keyakinan, yang secara konkret dengan memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan jiwa dan raga korban. Bentuk solidaritas ini sangatlah diharapkan untuk bisa diwujudkan dengan banyak cara.

    Berkaitan dengan itu, hanya satu kata untuk korban bencana: Bantu! Dengan demikian kita tetap berusaha semampunya untuk meningkatkan solidaritas kita bersama. Dan kini adalah waktunya bagi kita untuk menyatakan rasa setia kawan persaudaraan, rasa saling memiliki, rasa kekeluargaan, dan rasa saling peduli satu sama lain. Sebab, dilihat dari sudut manapun, bencana alam yang terjadi di negeri kita ini adalah sesuatu malapetaka yang tragis dan dramatis (Catastrofe). Dari sana kita bangkit untuk mewujudkan solidaritas bersama. Atas dasar rasa kemanusiaan yang abadi inilah, bantuan kita mungkin bisa meringankan penderitaan mereka, baik oleh pemerintah, swasta, ormas, maupun dari individu masing-masing.

    Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk meringankan beban-beban mereka, diantaranya adalah dengan mengabdikan diri sebagai seorang relawan yang langsung terjun menghadapi keadaan saat terjadinya bencana, memberikan bantuan logistik dan semua kebutuhan korban, membantu memberikan masukan-masukan rohani dan sosial untuk membantu meringankan beban mental mereka, dan bantuan-bantuan lain yang menjadi kebutuhan korban disaat maupun setelah bencana. Keiginan untuk membantu sesama yang menjadi korban dari setiap individu dapat membuat individu satu dengan yang lain menumbuhkan rasa peduli dan solidaritas yang tinggi, serta akan terwujud pemikiran untuk membantu para korban secara bersama-sama agar bantuan yang tersalurkan dapat bermanfaat secara optimal. Rasa saling memiliki dan kepedulian yang tinggi dapat menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi pula, dan kekompakan yang terjalin dan terlihat selama penyelesaian serta penanggulangan masalah bencana juga akan menumbuhkan soliditas yang erat pula.
    Hal ini ditunjukkan dengan betapa terlihatnya keseriusan dan tanggapnya para relawan dan pemerintah dalam menanggulangi bencana alam yang sering melanda negeri kita ini. Mereka begitu antusias dan berusaha untuk segera memulihkan keadaan, baik keadaan lingkungan korban maupun keadaan jasmani dan rohani korban itu sendiri.

    Solidaritas dan soliditas sosial yang tinggi, sebagai warisan peninggalan nenek moyang yang sangat berharga diharapkan mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang melanda negeri ini sehingga masyarakat sanggup mengantar bangsanya bangkit menjadi bangsa yang kuat, tegar, bersatu, dan selalu optimis dalam menerima cobaan dan musibah dari Allah SWT.

    REFERENSI

    http://saef-jaza.blogspot.com/2010/11/hikmah-bencana-kembalilah-pada-syariah.html

    http://dhi.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=67846

    http://www.haryono.com/news/the-media-say/membangun-solidaritas-sosial-merangsang-budaya-peduli.html

  37. Geografis Indonesia mengandung banyak potensi kerawanan bencana alam, Namun, sesungguhnya potensi kerawanan bencana alam bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa.
    Indonesian kini sedang berduka, karena tertimpa bencana alam hampir secara bersamaan. Mulai dari banjir yang terjadi di Wasior, gelombang tsunami yang terjadi di Mentawai sampai yang terakhir meletusnya Gunung Merapi di Jogjakarta. Dan korban pun berjatuhan akibat bencana alam tersebut. Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir. Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam.
    Karena Indonesia merupakan Negara yang tidak asing dengan bencana alam, kesadaran warganya akan kepedulian sangatlah tinggi. Karena bangsa Indonesia khas dalam hal ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Bahkan, bencana yang terjadi seakan menjadi sarana penguat persatuan dan kepedulian bangsa Indonesia. Dan kepedulian di Indonesia bisa dibilang dimotori oleh para pemuda indonesia. Pemuda mengambil peran sangat penting ketika terjadinya bencana. Contohnya pada peristiwa meletusnya Gunung Merapi, pemuda adalah barisan terdepan dalam upaya penyelamatan masyarakat.
    Gempa memang bisa diprediksi, tetapi kapan datang dan di mana letak posisi tepatnya tidak ada orang yang tahu, termasuk para ahli sendiri. Demikian juga Merapi yang meletus bisa diprediksi, tapi seberapa skalanya juga tidak diketahui persis. Betapa mengerikan jika prediksi ini benar bahwa masih ada kemungkinan gempa susulan lebih besar di Mentawai, dan juga masih ada jutaan kubik magma yang akan keluar dari mulut Merapi. Kemarin pagi Merapi kembali memuntahkan wedhus gembel dalam skala cukup besar. Ini berarti dugaan dan prediksi mendapatkan pembenaran. Sampai kapan keadaan ini akan berlangsung, kita yakin para vulkanolog pun tidak ada yang tahu. Ketidaktahuan itu berarti memperbesar ketidakpastian. Sedemikian tinggi tingkat ketidakpastian itu mengharuskan dan menuntut kewaspadaan tinggi.
    Hal yang patut diapresiasi dalam berbagai bencana alam selama ini adalah sikap warga masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana, yang datang silih berganti menimpa. Semangat dan sikap itu pulalah yang terlihat secara mengesankan. Luar biasa semangat, ekspresi, ataupun dampak solidaritas sosial itu. Tanpa perlu dikomando, spontan warga masyarakat secara perseorangan atau berkelompok mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan pertolongan. Makna dan nilai solidaritas sosial itu sungguh besar, lebih-lebih bagi bangsa dan negara Indonesia, yang sangat rawan terhadap berbagai bencana.
    Maka, dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan, rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Ekspresi rasa setia kawan seperti tidak habis-habisnya sekalipun bencana datang silih berganti. Solidaritas sosial merupakan ekspresi paling orisinal dan suci dari manusia dan kemanusiaan. Rasa setia kawan lahir dari dorongan hati paling dalam dan murni. Kekuatan terbesarnya terletak pada sikap menolong, dan kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama. Rasa solidaritas yang sangat luar biasa juga ditemukan diantara mahasiswa, mereka juga bersemangat menggalang dana di berbagai tempat, seperti di kampus mereka masing-masing, di jalan raya, dan sebagainya.
    Lebih konkretnya lagi, banyak ditemui pula mahasiswa yang menjadi sukarelawan -sukarelawan penanggulangan bencana Merapi ataupun bencana di tempat lain. Mereka bergabung dan bergotong royong bersama sukarelawan lainnya dari PMI, Tim SAR, TNI, polisi serta lembaga- lembaga bantuan sosial lainnya. Tidak jarang juga, organisasi mahasiswa pun ikut membuka posko – posko tersendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana. Beruntunnya bencana di Indonesia kali ini sangat berdekatan dengan peristiwa sejarah Pemuda Indonesia, yaitu hari Sumpah Pemuda, yang jatuh pada tanggal 28 Oktober. Hal ini menjadi kesempatan besar bagi pemuda Indonesia untuk membuktikan kalau mereka juga mempunya rasa kepedulian dan solidaritas yang tinggi. Namun, tidak semua pemuda mau untuk turut serta membantu korban bencana alam. Masih banyak pemuda yang hidup dalam kehidupan yang mempunyai secuil kepedulian terhadap sesama. Mereka bersenang-senang dengan kehidupannya, di sisi lain ada saudara meraka hidup susah akibat bencana yang melanda kehidupan mereka. Sesungguhnya, inilah yang menjadi bencana sesungguhnya bagi masa depan bangsa Indonesia. Ketika negeri ini rawan pada bencana-bencana, masih banyak pemuda yang belum terlibat pada aksi tanggap bencana.
    Merapi, Wasior, dan Mentawai, justru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia. Menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia Semangat dan daya hidup para pengungsi harus dibangkitkan, dan kesadaran harus terus ditumbuhkan. Bersamaan dengan itu, masyarakat luas perlu meningkatkan solidaritas dan tanggungjawabnya dalam banyak bentuk. Para pengungsi jelas sangat membutuhkan bantuan material maupun immaterial. Di antara kita sudah seharusnya bergotong royong membangun kebersamaan, sehingga para korban tidak merasa dibiarkan dalam kepedihan.
    Kita dengan sangat mengimbau masyarakat luas dari jajaran individu-individu, kelompok, komunitas, jajaran swasta maupun pemerintah untuk bergandengan tangan meningkatkan bantuan. Memahami teman, sahabat dan juga warga bangsa yang sedang tertimpa musibah bukan hanya menunjukkan rasa kebersamaan, tetapi juga bagian dari memahami keberadaan sesama makhluk Tuhan. Oleh karena itu bahwa kita harus tetap peduli terhadap orang-orang yang kesusahan atau membutuhkan bantuan, dimanapun, kapanpun dan siapapun itu, tidak hanya jika ada bencana, Semoga Indonesia terbebas dari bencana beruntun seperti saat ini dan mempunyai cara lain selain “bencana” agar tetap bersatu dan mempunyai rasa kesatuan dan solidaritas bangsa ini.

    NAMA : SURYA NUGRAHA
    NIM : 08/274111/DPA/3155
    PRODI : DIII REKAM MEDIS (A)

    Referensi :
    http://www.harianbhirawa.co.id/arsip/18977-solidaritas-korban-bencana
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html
    http://www.facebook.com/group.php?gid=164396186905368
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam

  38. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Bencana dapat terjadi sebagai akibat dari pola kehidupan normal manusia. Sifat atau penyebab bencana tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang sifatnya alamiah atau disebabkan oleh siklus alam, melainkan bencana terjadi karena suatu resiko (risk) yang tidak tertangani oleh manusia dalam segala dimensi sosial kelembagaannya. Alam sebenarnya bukanlah penyebab bencana, alam hanya merupakan pemicu (trigger) yang dapat menghantarkan pada sebuah kondisi bencana. Alam sebagai pemicu hanya akan dapat mengakibatkan bencana manakala sudah terdapat sebuah akar penyebab yang rentan atau kondisi
    vulnerability dalam suatu sistem ekologis yang sifatnya kompleks. Berdasarkan pada pemahaman bahwa penyebab utama bencana adalah kerentanan, maka upaya manajemen penanggulangan bencana hendaknya selalu beranjak dari telaah, penilaian serta identifikasi kerentanan yang ada dalam masyarakat agar dapat diciptakan desain strategi yang tepat untuk mengurangi dampak negatif dari bencana. Secara umum Heijmans (2001) menyatakan bahwa terdapat tiga penjelasan tentang sebab kerentanan yakni:
    1. Alam sebagai penyebab kerentanan. Ketika dipahami bahwa kerentanan terjadi karena faktor alam, maka berbagai kebijakan dan langkah operasional dalam manajemen penanggulangan bencana akan diarahkan pada pencarian dan pengadaan fasilitas teknologi yang akan meningkatkan kapasitas manusia atau komunitas untuk bertahan dari ancaman bahaya.
    2. Biaya sebagai penyebab kerantanan. Dalam pemahaman ini upaya manajemen penanggulangan bencana akan berisikan pencarian solusi ekonomi dan financial untuk mengurangi kerentanan.
    3. Struktur sosial sebagai penyebab kerentanan. Dalam pandangan ini, maka manajemen penanggulangan bencana akan mengarah pada pencarian solusi politik. Asumsinya adalah bahwa kerentanan akan terkurangi jika manajemen penanggulangan bencana dapat mengubah proses ataupun kondisi politik yang menempatkan suatu komunitas dalam kondisi yang rentan.
    Ketiga penyebab ini tidaklah bersifat exclusive. Oleh karena itu upaya manajemen penanggulangan bencana dapat diarahkan pada berbagai pilihan solusi atau kombinasi pilihan solusi untuk mengatasi penyebab kerentanan suatu komunitas. Dengan kata lain, pada prinsipnya upaya mitigasi, persiapan, penyelamatan, rehabilitasi dan rekonstruksi, baik sebelum, pada saat, maupun setelah kejadian bencana haruslah terfokus pada upaya untuk mengurangi kerentanan atau meningkatkan kapasitas objek bencana. Individu, kelompok sosial, ataupun lembaga berada dalam kategori objek bencana tersebut.
    Sejak awal Oktober 2009 sudah terjadi 7 kali bencana besar. Diantaranya banjir yang melanda lebih 80 Kabupaten/kota di Indonesia. Salah satunya adalah banjir Jakarta, dan setelah itu beruntun, berbagai bencana alam terjadi di Indonesia, mulai dari banjir bandang di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai, letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan baru-baru ini disusul dengan banjir lahar dingin di kabupaten magelang. Bencana-bencana tersebut banyak memakan korban, banyak masyarakat yang kehilanagan tempat tinggal dan sanak saudara mereka.
    Bencana tersebut tersebut sangat merugikan negara dan sangat meresahkan rakyat indonesia, selain membawa dampak yang negatif bencana-bencana tersebut juga membawa nilai positif, karena dapat meningkatkan solidaritas dan soliditas masyarakat indonesia. Dengan mewujudkan semangat “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”. Misalnya saat terjadi bencana banyak sekali relawan-relawan yang ikut membantu para korban tanpa pamrih baik dari segi materi, tenaga maupun pikiran. Relawan tersebut dari berbagai kalangan, seperti dari kalangan pemerintah, masasiswa, anak-anak, masyarakat umun, dan lain-lain.
    Contohnya adalah tindakan yang dilakukan VECO Indonesia merespon letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Salah satu wilayah yang terkena bencana tersebut adalah Kabupaten Boyolali, di mana VECO Indonesia melaksanakan program bersama organisasi petani Asosiasi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli) serta lembaga swadaya Jaringan Kerja Pertanian Organik (Jaker PO) dan Lembaga Studi Kemasyarakatan dan Bina Bakat (LSKBB) Solo. Meski demikian, petani mitra VECO Indonesia di daerah ini belum mengalami dampak langsung dari bencana ini.
    Ada dua kegiatan utama VECO Indonesia merespon bencana tersebut. Pertama, respons emergency. Bentuknya berupa penggalangan dana yang diadakan pada Jumat lalu di Planet Hollywood. Pada malam penggalangan dana terkumpul sekitar Rp 8.750.000 yang akan disalurkan melalui Jaker PO dan Lembaga Lestari Mandiri (Lesman) khusus untuk korban di Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali.
    Bentuk respon kedua adalah melalui aksi rekonstruksi pascabencana. Kegiatan bersifat lebih panjang dan berkelanjutan. Antara lain dengan melibatkan kantor pusat Vredeseilanden di Belgia maupun seluruh jaringannya di delapan regional, termasuk Asia, Amerika Latin, dan Afrika.
    Selain itu, VECO Indonesia juga akan menyalurkan barang keperluan para korban, seperti masker, tikar, selimut, tenda darurat, bahan pangan (beras, minyak goreng, gula pasir, teh, kopi), obat-obatan, perlengkapan mandi (sikat gigi, pasta gigi dan sabun mandi), kebutuhan bayi (pembalut, makanan bayi, susu formula), perlengkapan perempuan (pembalut, celana dalam), serta peralatan dapur.
    Contoh lainnya yaitu slidaritas yang dilakukan erlangga untuk membantu korban bencana, Segenap warga Erlangga Group tingkat Nasional dengan sukarela menyisihkan sebagian dari penghasilan bulanannya secara proporsional demi membantu saudara-saudara yang saat ini sedang berusaha bangkit dari kedukaan.
    Penggalangan dana juga dilakukan dengan menyediakan kotak kemanusiaan korban bencana untuk mempermudah karyawan dan pimpinan Erlangga yang ingin memberikan bantuan lain.
    Untuk mengefektifkan pemanfaatan dana kemanusiaan ini Solidaritas Erlangga membentuk tiga tim teknis penyaluran bantuan. Tim teknis ini bertugas mendata sekaligus menyediakan kebutuhan para korban. Untuk korban banjir bandang Wasior Papua, bantuan dilakukan oleh Erlangga cabang Surabaya. Untuk korban tsunami Mentawai akan dikoordinasikan oleh cabang Pekanbaru. Sedangkan untuk korban bencana letusan Gunung Merapi dikoordinasikan oleh Erlangga cabang Yogya.
    “Cabang-cabang Erlangga di wilayah lainnya yang ingin memberikan bantuan baik berupa barang, makanan, alat pendidikan ataupun uang tunai harus disesuaikan dengan daftar yang sudah dibuat oleh tim teknis tersebut. Karena tentunya tim di sana telah berkoordinasi dengan posko-posko ataupun Pemda setempat. Lalu, bantuan akan disalurkan berdasarkan lokasi yang sudah ditentukan oleh tim teknis,” ujar Koordinator Soga, Deborah Hutauruk.
    Ditambahkannya, pembentukan tim ini bertujuan untuk menghindari terjadinya penumpukan bantuan di satu titik, sehingga setiap bantuan yang disampaikan oleh karyawan dan pimpinan Erlangga dapat diterima langsung dengan baik oleh korban atau instansi yang membutuhkan.
    “Khusus untuk korban letusan Gunung Merapi bantuan sudah disalurkan sejak letusan pertama kali terjadi. Dua hari setelah letusan besar terjadi, Soga sudah mengirimkan bantuan berupa masker, air mineral, mie instant, pembalut wanita, tablet vitamin C, roti, obat tetes mata, dan makanan bayi. Semua bantuan dipimpin langsung oleh bpk. M. Kholil melalui posko Stadion Maguwoharjo, Stadion Sleman, Muntilan dan Klaten,” ujar Bu Deborah. “Selain itu, bantuan gelombang kedua akan segera dilakukan ke daerah-daerah sekitar Merapi antara lain buku bacaan, seragam, selimut dan tikar.”
    Solidaritas, yang terorganisir akan menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.
    Langkah lain yang penting adalah soal-soal pengurangan resiko bencana. Pada tahapan ini semua komponen masyarakat, termasuk didalamnya sekolah-sekolah, dilatih dan mampu menghadapi bencana jika terjadi. Sehingga mereka bisa dengan sistimatis mengurangi dampak bencana.
    Terakhir adalah mitigasi bencana atau segala upaya untuk meredam bahaya bencana. Mitigasi ini bisa berupa pembangunan tanggul, pengerukan sungai, rumah tahan gempa, jalur evakuasi, bahkan penghijauan di gunung dan di pantai menanam mangrove. Terlebih lagi, secara serius memerangi kemiskinan masyarakat, karena kemiskinan merupakan kerawanan besar dan kelemahan besar ketika masyarakat menghadapi bencana.

    Nama : Suriani
    Nim : 08/271590/DPA/3023
    Prodi : D III Rekam Medis

    Referensi/Sumber pustaka :
    http://www.docstoc.com/docs/47274695/Perbaikan-Manajemen-Bencana-Indonesia. tanggal 11 januari 2011. jam 19.40 WIB.
    http://www.vecoindonesia.org/kegiatan/118-veco-indonesia-adakan-solidaritas-korban-bencana.html. tanggal januari 2011. jam 19.30 WIB.
    http://matanews.com/2010/10/29/setelah-solidaritas-sikap-proaktif/. Tanggal 12 januari 2011. Jam 18.30 WIB.
    http://ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=236%3Anews&catid=1%3Alatest-news&Itemid=18&lang=id.diakses pada tanggal 12-1-2011. Jam 18.35 WIB.
    http://www.walhi.or.id/in/kampanye/pengelolaan-bencana/146-siaran-pers/2005-indonesia-darurat-ekologis-perkuat-solidaritas-untuk-kebangkitan-indonesia. tanggal 13 januari 2011. Jam 05.30 WIB.
    http://www.erlangga.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=6838:solidaritas-erlangga-galang-bantuan-untuk-korban-bencana&catid=34:event-lainnya&Itemid=59.tanggal 13 januari 2011. Jam 06.05 WIB.

  39. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: “bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan”. Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.
    Indonesia, dilihat dari konteks geografis dan geologis merupakan daerah yang rawan bencana seperti bencana tsunami, letusan gunung api dan tanah longsor/gerakan tanah, gempa dan lainnya. Salah satu dampak dari bencana tersebut adalah, selama dekade terakhir (1994~2004), lebih kurang 6,8 juta penduduk Indonesia telah menjadi korban berbagai bencana. Ditambah dengan banyaknya korban karena bencana Tsunami Aceh dan Nias yang terjadi diakhir 2004 yang korbannya mencapai 220 ribu jiwa.
    Antisipasi bencana alam
    Bayangkan gejala alam yang terjadi belakangan ini. Di salah satu bagian daerah di wilayah kita, terjadi kekeringan. Sementara pada wilayah lain, terjadi banjir yang sangat luar biasa. Pada saat yang bersamaan longsor dan semburan air menjadi penyebab dari berbagai persoalan yang pada saat bersamaan harus dihadapi oleh masyarakat. Tenggelamnya kapal serta gangguan yang terjadi di laut kini makin kerap kita temukan. Di darat, tanah amblas sehingga menyebabkan putusnya jalur transportasi. Bahkan beberapa bandara juga tertutup karena dilanda banjir. Bukan hanya itu, tiba-tiba, kita juga bisa merasakan gempa yang semakin kerap mengguncang.
    Inilah yang terjadi dalam sebulan terakhir dan kini semakin mudah dan sering terjadi di wilayah kita. Sayangnya, pemerintah tak juga memberikan pendidikan lingkungan kepada seluruh masyarakat dalammeresponi anomali cuaca ini.
    Mengapa semuanya bisa terjadi? Salah satunya adalah karena memang ada gangguan iklim yang terjadi secara global. Badai yang terjadi sedang melewati Indonesia dan kini akan terus menerus mengganggu seluruh wilayah Indonesia tanpa kecuali. Pada saat yang bersamaan dua sisi ekstrim cuaca bisa terjadi hanya dalam waktu bersamaan. Hal ini kerap disebut sebagai perubahan iklim global.
    Namun hal itu tidak berdiri sendiri. Kejadian ekstrim dan gangguan alam ini juga tidak bisa dilepaskan dari semakin rusaknya lingkungan kita. Kerap kita ketahui bagaimana kerusakan hutan kita sudah semakin mengkuatirkan saja. Setiap hari ada saja hutan dibabat. Kebakaran hutan makin sering hingga merusak pandangan mata dan kesehatan, bahkan menganggu hingga ke negara tetangga. Setiap hari ada saja kayu yang dicuri ditemukan akan tetapi tidak setiap hari pelakunya dimasukkan ke dalam penjara. Yang kita lihat malah mereka yang melakukan kejahatan lingkungan justru dibebaskan. Bahkan ada yang melenggang kangkung kabur ke luar negeri.
    Apa yang menjadi akibat dari semuanya ini Jelas ada kerugian yang tidak ternilai dari kematian, kerusakan dan penderitaan yang harus dialami oleh kita semua. Kita berhadapan dengan fakta yang disebabkan oleh kita sendiri, namun ironisnya kita tidak mampu mengubah semuanya karena kita amat terbatas.
    Dari sinilah kita kembali mengingat pentingnya mengingat arti dari kearifan budaya. Sebagai sebuah bangsa yang mewarisi berbagaikebijaksanaan yang memberikan kesempatan untuk ramah dan bergaul dengan alam, jelas kita sudah lama mengabaikan hal ini. Kita lebih mementingkan keuntungan dari hancurnya hutan, pengerukan tanah dan hasil laut secara berlebihan, bahkan dari pembiaran terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi di atas tanah kita sendiri, laut kita sendiri dan kepemilikan kita sendiri. Akibatnya, kita sendirilah yang harus menanggung semuanya ini.
    Berbagai hamparan penderitaan yang terjadi kini jelas-jelas menyebabkan kita tidak mampu berkelit bahwa yang kita butuhkan sekarang ini adalah sebuah kearifan budaya baru. Kita harus menanggalkan semua cara dan perilaku modern yang sangat tidak ramah lingkungan. Negara semisal Denmark dan Canada sekarang bahkan mempelopori penggunaan produk ramah lingkungan dan memberikan pemaksaan hukum kepada warga negaranya yang tidak melakukan hal itu.
    Dibutuhkan lebih dari sekedar bicara. Harus ada komitmen yang diterjemahkan ke dalam bentuk praktis, semisal hukum. Kalau tidak kita akan terus menerus menyesal dan menderita, lalu menyesal dan menderita lagi karena kita tidak melakukan perombakan terhadap perilaku kita sendiri. Alam juga bisa marah
    Oleh karena itu kita sebagai rakyat Indonesia diharapkan dapat mampu mewujudkan rasa sosial yang tinggi agar dapat menyalurkan bantuan kepada saudara-saudara kita yang sedang dalam keadaan tertimpa bencana hal tersebut dapat kita terapkan melalui aksi sosial seperti mengadak penggalangan dana dari lingkungan sekitar seperti sekolah, universitas ataupun lingkungan rumah kita, seperti menyumbang bahan pangan pokok, pakaian layak pakai, buku-buku cerita ataupun dalam bentuk materi yaitu uang. Sedangkan bantuan lain yang dapat kita wujudkan adalah dalam bentuk tenaga kita yaitu sebagai relawan langsung terjun ke daerah bencana. Banyak sekali hal yang dapat kita lakukan untuk menyalurkan rasa iba kita ke saudara kita dengan berbagai cara semua itu tinggal tergantung bagaimana kita sebagai manusia untuk sama-sama merasakan penderitaan sebagai bangsa Indonesia. Agar dapat menciptakan rasa persaudaraan, solidaritas dan soliditas antar bangsa Indonesia.

    Fransisca Tiurma T.
    08/271341/DPA/2910
    D3 REKAM MEDIS UGM

  40. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Beberapa tahun belakangan, Indonesia memang sedang diguncang berbagai bencana alam hampir di seantero negeri, mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa, gunung meletus, dan masih banyak lagi. Beragam teori diajukan untuk dijadikan penyebab lahirnya bencana tersebut, mulai dari penggundulan hutan, penyalahgunaan lahan, sampai global warming.
    Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Seperti diketahui bersama bahwa bencana alam merupakan suatu hasil interaksi antara keadaan bahaya- bahaya alam dengan keadaan yang rentan. Resiko yang diperoleh akibat terjadinya bencana selain dipengaruhi oleh bencana alam itu sendiri juga dipengaruhi oleh kerentanan dan kapasitas atau ketahanan wilayah yang terkena bencana.
    Undang- Undang No. 26 Tahun 2007 merupakan undang- undang yang dibuat dengan salah satunya didasari bahwa wilayah Indonesia merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap bencana sehingga dalam setiap penyusunan rencana tata ruang wilayah harus berbasiskan pada upaya mitigasi bencana. Telah terjadi perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana.Sehingga perencanaan pembangunan harus memasukkan pengarusutamaan penanggulangan bencana. Peran masyarakat dianggap penting seperti diamanatkan dalam Undang- Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Selain itu perubahan pendekatan tanggap darurat menjadi pengurangan resiko bencana.
    Wilayah yang memiliki potensi kerawanan bencana alam, pernah mengalami bencana alam, terdapat kegiatan penanggulangan bencana alam berbasis masyarakat dan mewakili karakteristik jenis bencana alam, yaitu Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Jember (Jatim), Kabupaten Rejang Lebong (Bengkulu), Kota Palu (Sulawesi Tengah), Kota Kupang (NTT), dan Kota Mataram (NTB). Bentuk kegiatan peran serta masyarakat antara lain, perencanaan kegiatan masyarakat (Community Action Plan-CAP), forum komunikasi dan kerjasama, masyarakat siaga bencana, pengurangan resiko bencana berbasis sekolah, peran lembaga keagamaan, dan peran lembaga penelitian/Perguruan Tinggi. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa pencegahan dan mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pengurangan resiko.

    Untuk itu direkomendasikan: pertama, perlu kerangka yang jelas bagi kegiatan penanggulangan bencana berbasis komunitas; kedua, integrasi kegiatan penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan daerah; ketiga, peningkatan kapasitas masyarakat; keempat, adanya nilai dan pemahaman yang sama antar lembaga pendamping; kelima, fokus pada kebutuhan masyarakat; keenam, penanggulangan bencana berbasis masyarakat merupakan tanggung jawab semua pihak; ketujuh, peningkatan kapasitas dan kepedulian Pemerintah Daerah terkait pelibatan masyarakat; dan kedelapan, peningkatan peran Pemerintah Daerah dalam mendorong kegiatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat.

    Terkait dengan penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan, diperoleh temuan bahwa belum semua wilayah yang dikaji mengakomodir kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Tantangan dan kendala yang dihadapi antara lain pemahaman mengenai penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan yang masih harus ditingkatkan; pemahaman dan kepedulian pengambil keputusan dan kapasitas aparat Pemerintah Daerah terkait penanggulangan bencana; sistem penganggaran yang belum mengakomodir penanggulangan bencana; prioritas pembangunan dan kelembagaan penanggulangan bencana; serta integrasi prograam penanggulangan bencana di tingkat masyarakat. Untuk itu direkomendasikan agar adanya peningkatan kapasitas aparat Pemerintah Daerah terkait penanggulangan bencana; pemantapan kebijakan nasional terkait sistem penanggulangan bencana, kelembagaan, sistem perencanaan pembangunan dan penganggaran; penyiapan kebijakan daerah untuk integrasi penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan; penetapan penanggulangan bencana sebagai prioritas pembangunan; penetapan kebijakan-kebijakan yang kondusif bagi kegiatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat; dan penyiapan sistem kelembagaan penanggulangan bencana yang efektif.
    Sejak tahun 1900, bencana alam telah menewaskan lebih dari 62 juta orang. Sekitar 85% di antaranya terjadi antara tahun 1900 dan 1950 dipicu juga oleh peperangan, wabah penyakit, maupun kelaparan. Namun , sejak tahun 1990 terjadi peningkatan dimana lebih dari 1 juta orang meninggal dalam bencana alam. Pada tahun 2005, Palang Merah Internasional mencatat negara-negara yang mengalami banyak bencana alam antara lain Kosta Rika, El Savador, Guatemala, India, Meksiko, Nikaragua, Pakistan, Paraguay, Republik Afrika Tengah, Romania, Sudan, dan tentu saja, Indonesia.
    Menjelang akhir tahun 2010 lalu Indonesia secara berturut-turut dilanda tiga
    bencana dengan karakteristik dan mekanisme penanganannya yang berbeda: Banjir
    Wasior, Tsunami Mentawai dan Erupsi Merapi. Setiap penanganan bencana memiliki
    kekuatan dan kelemahan yang berbeda yang jika ditarik pembelajarannya dapat
    menghasilkan rekomendasi yang saling melengkapi untuk penanganan bencana yang
    lebih baik di masa yang akan datang. Misalnya: Erupsi Merapi di Yogyakarta dan sekitarnya: Di tengah banyaknya pujian tentang kemandirian masyarakat dalam usaha
    kesiapsiagaan dan penanganan erupsi Merapi, Pemerintah menuai banyak kritik
    terkait respon Merapi yang dianggap kurang terorganisir dan tidak ligat. Secara langsung maupun tidak, bencana-bencana alam yang terjadi di Indonesia,
    secara langsung maupun tidak, turut memperberat beban Pemerintah dalam rangka
    mencapai target Kerangka Aksi Hyogo di Indonesia. Dampak langsungnya terlihat
    kepada mereka yang terpapar bencana, sementara dampak tidak langsungnya akan
    terlihat dari semakin ketatnya anggaran yang dibutuhkan pemerintah untuk
    memulihkan keadaan sekaligus menggenjot pencapaian target Kerangka Aksi Hyogo.
    Akan tetapi, masalah ini bukanlah semata tanggungjawab dan beban pemerintah.
    Baik dalam hal pembangunan, maupun dalam upaya tanggap darurat bencana,
    masyarakat sipil, dan penyintas telah menunjukkan peran serta dan andil yang cukup besar. Erupsi Merapimemberikan pembelajaran berharga baik kelemahan sekaligus kekuatan, tentang poladan sistem kolaborasi dalam pengelolaan bencana di Indonesia saat ini. Pembelajaran tersebut, tentunya layak untuk diangkat pada perbincangan tingkat nasional untuk mendapatkan pengayaan sekaligus rekomendasi-rekomendasi yang aktual tentang kebijakan pengelolaan bencana di Indonesia, sekaligus sebagai
    refleksi tentang kemajuan pencapaian Kerangka Aksi Hyogo di Indonesia.
    Pada saat bencana terjadi, kelompok-kelompok masyarakat atau individu mulai menggeliat untuk berbuat sesuatu. Menggalang dana untuk korban, memberikan bantuan obat-obatan, pakaian pantas pakai ataupun menjadi relawan kemanusiaan di daerah bencana. Dapat dikatakan bahwa bencana menstimulus naluri kemanusiaan kita agar berlatih peka terhadap kondisi sosial disekitar kita. Disamping dampak negatif, bencana ternyata membawa dampak yang positif juga, secara khusus dalam pengembangan dunia ilmu pengetahuan. Media Televisi juga melakukan hal yang sama. Banyak siaran langsung TV yang membahas hal tersebut. Ini berarti, bencana menantang para ilmuwan dan aktivis untuk mengembangkan ilmunya agar dapat menolong sesama. Padahal sebelum bencana terjadi, para ilmuwan tidak seserius sekarang dalam memikirkan masalah mengenai bencana. Bahkan mungkin cenderung diabaikan karena dianggap kurang relevan bagi masyarakat Indonesia yang jarang mengalami bencana. Apabila kita berpikir positif, dibalik dukacita tersimpan sucakita karena bencana menstimulus umat manusia agar mengembangkan diri untuk berbuat sesuatu yang jauh lebih baik dan dapat meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa.

    DAFTAR PUSTAKA
    http://dspace.ipk.lipi.go.id/dspace/bitstream/123456789/478/1/Kabupaten%20Tanggamus%20di%20Propinsi%20Lampung%20memiliki%20banyak%20wilayahnya%20yang%20berpotensi%20untuk%20terjadinya%20bencana,%20seperti%20gempa%20bumi,%20tsunami,%20longsor,%20banjir%20dan%20bahaya%20letusan%20gunung%20api.%20Dalam%20studi%20ini%20dil.pdf
    http://www.bappenas.go.id/node/116/2491/pengarusutamaan-penanggulangan-bencana-dalam-perencanaan-pembangunan/
    http://nofieiman.com/2008/01/mengapa-begitu-banyak-bencana-alam-terjadi-di-indonesia/
    http://disasteroasis.posterous.com/kertas-catatan-penanganan-bencana-2010-dan-re
    http://www.glorianet.org/index.php/manati/1049-gempa

    NAMA: YULITA ISMAYA
    NIM: 08/274267/DPA/3186
    PRODI: D3 REKAM MEDIS UGM

  41. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Geografis Indonesia mengandung banyak potensi kerawanan bencana alam, Namun, sesungguhnya potensi kerawanan bencana alam bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa. Alam mengambil peran sebagai guru ketika bencana menimpa Indonesia bertubi-tubi sejak akhir Desember 2004 lalu. Gempa dan tsunami yang telah meluluh lantakkan bumi Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias – Sumatera Utara telah menoreh luka dan trauma, namun juga pembelajaran yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Namun tanpa adanya peran pemerintah yang jelas dan tegas dalam membantu masyarakat agar siap terhadap kemungkinan bencana di masa datang, kewaspadaan akan berubah menjadi kepanikan, dan disertai kriminalitas yang memanfaatkan kepanikan masyarakat yang menambah beban sosial di berbagai wilayah rawan bencana yang ada di Indonesia.
    Paradigma baru yang turut mengancam bangsa adalah keengganan untuk bersahabat dengan alam untuk memahami dan lebih siap menghadapi segala kemungkinan serta ketakutan masyarakat yang berlebihan akan proses alam yang selalu berlangsung. Padahal, sejak abad 17 Pulau Simelue di Aceh Utara telah berwejang kepada masyarakatnya secara turun temurun agar tetap bersahabat dengan alam, dengan mengasah kepekaan dan pengetahuan terhadap perubahan yang tidak lumrah dan segera mengambil tindakan tepat saat gempa dan tsunami melanda berulang kali.
    Letak geografis Indonesia yang sangat strategis memiliki nilai positif yang sekaligus mengandung kerawanan-kerawanan yang mengancam keutuhan wilayah NKRI. Sumber daya alam yang ada dalam kandungan bumi Indonesia belum mampu dikelola secara mandiri, sehingga lebih banyak dimanfaatkan oleh pihak asing, akibatnya sumber daya alam tersebut belum mampu memberikan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini muncul kerusakan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia sebagai akibat dari praktek pembalakan dan penambangan liar termasuk pencurian kekayaan alam serta pencemaran oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, yang berdampak timbulnya bencana banjir dan tanah longsor. Kerusakan hutan/pemanfaatan lahan tidak tepat sasaran yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan hanya memikirkan keuntungan materi untuk kepentingan pribumi menyebabkan munculnya berbagai bentuk bencana alam, seperti banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan.
    Selain kerusakan yang disebabkan oleh manusia, geografi Indonesia juga tidak terlepas dari kerusakan yang diakibatkan oleh bencana alam, seperti gunung meletus, gempa bumi tsunami maupun Rob. Belum tersedianya sarana prasarana yang memadai untuk digunakan sebagai alat kontrol atau pengawasan terhadap wilayah negara yang demikian luas dan bentuk medan yang sangat variatif, serta masih banyak pulau-pulau kecil yang belum memiliki nama maupun tanda kepemilikan termasuk batas laut yang belum jelas, mengakibatkan kesulitan dalam mencegah kegiatan ilegal yang merongrong kedaulatan negara. Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pulau, wilayah yang luas dan memiliki batas-batas negara yang sulit dijangkau baik dari aspek perbatasan darat maupun perbatasan dengan menggunakan pulau-pulau kecil terluar. Wilayah Indonesia juga memiliki rentang perbedaan waktu, yaitu Indonesia bagian barat, tengah dan timur. Di bagian barat Indonesia, kondisi alam lebih bersahabat, sedangkan kondisi di bagian timur cuaca dan alamnya lebih sulit. Dengan kondisi geografi yang berbeda tersebut secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi proses pemerataan pelaksanaan pembangunan secara nasional.
    Saat ini kita sudah tahu dan bahkan ada yang sedang banyak merasakan kesulitan hidup akibat sedang terjadinya banyak bencana di tanah air kita, Indonesia. Seperti banjir bandang di wasior, gempa dan tsunami di mentawai, letusan gunung merapi di yogyakarta dan sekitarnya, banjir di beberapa kota seperti jakarta dan kota lain di indonesia dan bencana lain baik dalam skala kecil maupun besar.Sudah tentu hal ini menjadikan berbagai permasalahan dan kesulitan bagi warga indonesia yang berada di lokasi bencana. Timbulnya masalah ekonomi, kesejahteraan, sosial, pengungsian dan lain sebagainya. Namun dibalik itu, tentu selalu ada hikmah yang terjadi, yang semoga dapat di sikapi untuk mengarahkan kehidupan menjadi lebih baik walaupun sulit. Sebagai hikmah yang langsung dapat dirasakan tentunya terjalinnya sebuah rasa kepedulian, kesatuan, kedermaan, kesosialan secara global. Tentunya perlu cara yang arif dan bijak untuk mensikapinya. Yang jelas, bencana adalah sesuatu yang terjadi secara natural, kehendak Allah swt, Tuhan YME walaupun hakikat penyebabnya dapat berbagai macam termasuk dari manusianya itu sendiri.
    Dampak negatif dari bencana di Indonesia menyebabkan jumlah penerbangan dan jumlah penumpang pesawat turun signifikan. Hal itu berimplikasi pada merosotnya kunjungan wisata yang juga berdampak pada tingkat hunian hotel dan penyewaan mobil. Pengurangan jumlah pengunjung yang datang ke daerah bencana pasca bencana. Dari sektor pariwisata, hotel dan restoran sebagiannya menunda berbagai acara dan even-even penting yang semula akan dilaksanakan di daerah bencana. Akibatnya, tingkat hunian hotel turun 70%. Hal ini juga memberikan dampak pada penurunan penjualan produk kerajinan, usaha kuliner dan usaha transportasi. Selain itu dari sektor konstruksi, bank sentral mendata terdapat sebanyak ribuan rumah mengalami kerusakan. Berbagai macam bencana alam di Indonesia bukan hanya mengakibatkan dampak negative bagi bisnis dan perekonomian Indonesia, namun juga terdapat dampak positifnya. Berikut ini adalah beberapa dampak positif bagi bisnis dan perekonomian Indonesia akibat terjadinya bencana di Indonesia.
    Dampak positif dari bencana di Indonesia memberikan endapan batuan dan pasir yang sangat banyak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Banyak aktifitas penambangan pasir dan batu yang dilakukan di lereng Gunung Merapi. Hal itu menunjukkan bahwa endapan lahar dapat memberikan dampak positif kepada aktifitas perekonomian masyarakat secara langsung yang tinggal di sekitar gunungapi dan menyediakan bahan bangunan yang melimpah. Selain itu, setelah bertahun – puluhan sampai ratusan tahun, dan tanah terbentuk di permukaannya, endapan lahar juga dapat menjadi lahan pertanian yang subur. Dapat menjadi objek wisata setelah gunung tersebut tidak aktif, sehingga memberikan mata pencaharian warga sekitar. Bencana bisa menjadi sarana penyadaran kepada manusia untuk saling membantu satu sama lain. Adanya wujud solidaritas atau bentuk kepedulian sesama disaat adanya bencana yang menimpa merupakan perilaku sosial yang berkembang di masyarakat pada umumnya

    Sumber :

    http://kodam-tanjungpura.mil.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=33
    http://www.kabar.web.id/arsip/hikmah-bencana-indonesia-854
    http://www.siagabencana.lipi.go.id/index.php?q=node/29
    http://emonez345.wordpress.com/2010/12/01/dampak-positif-dan-negatif-dari-bencana-di-indonesia-dan-kedatangan-barack-obama-presiden-amerika-serikat-bagi-bisnis-dan-perekonomian-indonesia/

    Nama : Hephi Rachmawati
    NIM : 08/274257/DPA/03181
    D3 Rekam Medis A

  42. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Contoh bencana alam antara lain antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah langsor. Sedangkan bencana non alam contohnya adalah konflik sosial, epidemi dan wabah penyakit.
    Dilihat dari letak geologis, cuaca dan kondisi sosial, Indonesia rentan terhadap beragam bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, badai dan angin topan, wabah penyakit, kekeringan dan gunung api. Bencana muncul ketika ancaman alam (seperti gunung api) bertemu dengan masyarakat yang rentan (perkampungan di lereng gunung api) yang mempunyai kemampuan rendah atau tidak mempunyai kemampuan untuk menanggapi ancaman itu (tidak ada pelatihan atau pemahaman tentang gunung api atau tidak siap siaga). Dampak yang muncul adalah terganggunya kehidupan masyarakat seperti kehancuran rumah, kerusakan harta benda serta korban jiwa.
    Karena umumnya bahaya bencana dapat terjadi di mana saja dengan sedikit atau tanpa peringatan, maka sangat penting bersiaga terhadap bahaya bencana untuk mengurangi risiko dampaknya. Melalui pendidikan masyarakat, dapat dilakukan beberapa hal untuk mengurangi risiko bencana. Selain itu, agar masyarakat mengetahui langkah-langkah penanggulangan bencana sehingga dapat mengurangi ancaman, mengurangi dampak, menyiapkan diri secara tepat bila terjadi ancaman, menyelamatkan diri, memulihkan diri, dan memperbaiki kerusakan yang terjadi agar menjadi masyarakat yang aman, mandiri dan berdaya tahan terhadap bencana.
    Bencana alam yang melanda Indonesia akhir-akhir ini dari sisi positif dipandang sebagai ujian solidaritas masyarakat Indonesia. Ujian solidaritas bagi masyarakat ini untuk membangun moralitas dan spiritualitas baru bagi kemanusiaan. Banyak yang telah membantu tanpa menyandang atribut agama, ras, suku, dan kepentingan lainnya. Saat terjadi bencana di sana, kita saling menolong. Kita tahu apa yang baik yang harus dilakukan untuk mereka yang menjadi korban, tidak ada teori-teorinya Inilah solidaritas.
    Namun sangat disayangkan apabila lanjutan sikap solidaritas masyarakat Indonesia yang plural ini hanya ada ketika bencana sambung-menyambung dialami masyarakat Indonesia. Ketika bencana sudah berlalu maka tidak ada yang peduli dengan nasib para korban pasca bencana. Ironis sekali, solidaritas hanya saat bencana saja. rasa solidaritas itu hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari
    ada tiga hal –solidaritas, kesabaran, dan sikap kritis-yang selalu mengikuti peristiwa bencana alam. Setiap kali bencana datang, saat itu juga, rasa prihatin yang menampakkan solidaritas dari seluruh penjuru dunia, segera mengalir. Dari ungkapan prihatin melaui, sms, telepon, iklan TV, akun facebook, twitter, memberikan sumbangan langsung berupa uang, obat-obatan, logistik, sampai bersedia menjadi relawan yang terjun langsung ke lokasi gempa.
    Tingginya animo masyarakat ini mengisyaratkan bahwa, rasa solidaritas diantara seluruh manusia belum tercerabut dari akarnya. Sejarah bangsa kita pun tak mengingkari itu. Ketika Indonesia di Jajah oleh Belanda dan Jepang misalnya, rasa senasib-sepenanggungan itu yang menguatkan solidaritas masyarakat untuk bangkit, berjuang mengusir pendudukan para koloni.
    Bagi pihak yang terkena bencana, kesabaran adalah sikap yang senantiasa dianjurkan. Beberapa pihak cenderung memandang musibah banjir, gempa, gunung meletus, sebagai bukan fenomena alam semata, melainkan peringatan, bahkan kutukan dari Tuhan. Sementara sebagian lainnya, khususnya para ahi di bidang ini, lebih melihatnya sebagai fenomena alam yang secara alami terjadi, mengikuti mekanisme dan siklus alam. Terlepas dari dua pendapat umum di atas, hemat saya, seluruh kejadian di muka bumi ini, idelanya dilihat sebagai bagian dari rencnaa Tuhan, sambil berfikir positif bahwa akan ada kebaikan setelah peristiwa ini.
    Apa yang bisa diambil sebagai hikmah dari berbagai bencana alam yang terjadi di tanah air ?. Besarnya jumlah korban gempa yang meninggal, hancurnya berbagai rumah dan harta benda, maupun berbagai penderitaan lainnya tentu saja sangat memilukan. Mungkin Anda bisa membayangkan, bagaimana menyengatnya debu awan panas dari ‘wedhus gembel’ yang menyembur dari Merapi saat kita sedang terlelap tidur. Atau dahsyatnya terjangan tsunami atau tanah longsor yang begitu tiba-tiba sehingga kita tak dapat berlari untuk menyelamatkan diri.
    Kita yang selamat ataupun jauh dari daerah gempa, tentu akan merasa tersayat melihat kondisi saudara atau kenalan yang menjadi korban gempa. Tentu kita bisa berkaca diri: layakkah kita berpangku tangan atau malah bersikap sombong dengan mengatakan bahwa musibah terjadi akibat warga atau penduduknya banyak berbuat dosa, seperti tersebar dalam sms berantai yang tidak bertanggungjawab.
    Solidaritas atau kepedulian sosial merupakan salah satu hikmah dari berbagai bencana yang menimpa kita. Lihat saja bantuan dan sumbangan yang begitu cepat dan demikian besar terkumpul untuk para korban gempa maupun korban bencana alam lainnya. Apalagi didukung pemberitaan televisi dan cepatnya informasi tersebar melalui internet semakin menguatkan kepedulian sosial masyarakat dari berbagai penjuru tanah air.
    Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, soliditas berarti kekuatan atau kekokohan suatu bangsa dalam menghadapi perubahan dan tantangan. Dalam aktualisasinya soliditas dilandasi oleh nilai-nilai yang mengandung semangat pengabdian, rela berkorban, pantang menyerah, tahan menderita serta mendahulukan kepentingan bangsa dan negara. Soliditas suatu bangsa sangat tergantung dari seberapa besar wawasan kebangsaan dan semangat nasionalisme bangsa itu sendiri. Nasionalisme merupakan paham mengenai semangat kebangsaan yang cenderung dipakai sebagai prinsip hidup baik secara personal maupun publik. Secara lebih luas nasionalisme menunjukkan patriotisme prinsip moral dan politik yang mengandung kecintaan pada tanah air, kebanggaan terhadap sejarah dan kesediaan membela kepentingan bangsa.
    Dengan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya bencana yang melanda negeri kita, tidak lantas membuat kita hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa. Kejadian-kejadian yang menimpa saudara kita justru akan membuat kita sadar akan pentingnya meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa dan berfikir positif bahwa akan ada kebaikan setelah peristiwa ini.

    Sumber:
    http://mujahidahmuslimah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=105:bencana-alam-solidaritas-kesabaran-dankritisisme&catid=40:pluralisme&Itemid=58
    http://www.anneahira.com/korban-gempa.htm

    Nama: Reihan Ulfah
    NIM: 08/274349/DPA/3196
    Prodi: Rekam Medis UGM

  43. Nama : kartika dwi mayangsari
    Nim : 08/271584/DPA/3019
    Prodi rekam medis

    POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    “Bencana alam akhir-akhir ini memang menjadi keprihatinan semua orang. Namun, secara positif, kita dapat belajar banyak dari peristiwa bencana alam ini. Salah satunya belajar tentang solidaritas.Uskup dari Keuskupan Padang ini mencontohkan sikap solidaritas masyarakat saat gempa 7,2 skala Richter dan tsunami menerjang kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada Senin (25/10/2010). Banyak yang telah membantu tanpa menyandang atribut agama, ras, suku, dan kepentingan lainnya. “Saat terjadi bencana di sana, kita saling menolong. Kita tahu apa yang baik yang harus dilakukan untuk mereka yang menjadi korban, tidak ada teori-teorinya. Inilah solidaritas,” ujarnya.
    Namun, Situmorang juga menyayangkan apabila lanjutan sikap solidaritas masyarakat Indonesia yang plural ini hanya ada ketika bencana sambung-menyambung dialami masyarakat Indonesia. “Jangan berhenti di situ. Ini ironis sekali, solidaritas saat bencana saja,” katanya.
    Ia berharap, rasa solidaritas itu hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. “Di dunia ini kita berziarah, membangun kepenuhan. Mari jadikan dunia sebagai tempat untuk membangun,” ujarnya.
    dalam menghadapi musibah bencana, diperlukan solidaritas diantara sesama anak bangsa, apalagi bila musibah itu menelan banyak kHal yang penting dibicarakan adalah penggalangan dana dan mekanisme bantuan. “Musibah bencana yang terjadi justru semakin melekatkan rasa solidaritas kita sebagai sesama warga Indonesia. Musibah apapun dapat kita atasi bila hal itu dilakukan secara gotong royong.
    Karena kepedulian sekecil apapun sangat dibutuhkan
    orban dan kerusakan yang Ibaratnya, luka-luka yang disebabkan banjir Wasior belum sembuh, gempa Mentawai dan letusan Merapi telah menambah luka kita. Ribuan saudara kita kehilangan segalanya, dari harta benda, hewan ternak, sampai jiwa anggota keluarga-ibu, bapak, anak, nenek, dan cucu-yang dicintainya.
    Mereka menangis, Indonesia berduka. Tidak terbayangkan betapa berat penderitaan mereka. Sedangkan yang masih tersisa, belum tahu bagaimana masa depannya. Akankah mereka kembali ke rumah masing-masing? Akankah mereka kembali pada pekerjaannya sehari-hari?
    Belum tentu. Sebagian besar bahkan mungkin harus memulai hidup baru, sebagaimana ketika mereka mulai merintis “kehidupannya, beberapa tahun lalu, yang ter-nyata lenyap dalam waktu sekejap. Pernahkah Anda berpikir seandainya bencana seperti itu menimpa keluarga Anda? Beban bangsa ini terasa begitu berat.
    Alhamdulillah, kita semua sebagai warga bangsa ikut merasakan penderitaan itu. Solidaritas sosial, semangat seperasaan dalam penderitaan tumbuh secara menakjubkan. Bantuan apa saja mengalir, demikian pula sukarelawan yang bersedia mempertaruhkan jiwa. Tidak terkecuali, anggota TNI dari berbagai angkatan dan kepolisian.
    Namun, kita harus menyadari bahwa untuk menyembuhkan luka-luka itu masih memerlukan waktu lama. Ketahanan kita untuk menjaga solidaritas sosial di antara kita masih akan tetap diperlukan dalam waktu yang lebih lama.
    Untuk menyembuhkan luka-luka itu, mengembalikan kehidupan saudara-saudara kita ke hidup normal, tidak hanya memerlukan waktu yang lama, tetapi juga biaya yang besar. Dalam kasus letusan Gunung Merapi, misalnya, belum cukup hanya hewan ternaknya dibeli pemerintah. Bagaimana lahan untuk kediaman baru penduduk nantinya? Membangun, mengisinya, dan kemudian memberikan pekerjaan untuk menghidupinya?
    Begitu juga sekolah untuk anak-anak, serta infrastruktur kehidupan lainnya? Untuk menyediakan makanan selama di pengungsian saja, Bupati Boyolali sudah merasa berat. Sebab, diperlukan biaya Rp 200 juta sehari. Tuhan, insya Allah, tidak akan membebani umatnya di luar kemampuannya. Selain harus berusaha, sebagai umat beragama, kita juga harus selalu berdoa agar selalu diberi jalan untuk menolong sesama umat, sesama warga bangsa. Dengan solidaritas sosial yang tinggi, insya Allah, kita bisa menyembuhkan luka-luka bangsa ini.
    Inilah makna kita sebagai makhluk sosial. Kita tidak boleh merasahidup sendirian, tanpa memedulikan penderitaan saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah bencana alam.
    Seandainya Anda seorang birokrat, atau seorang penyelenggara negara, pemimpin partai politik, pemimpin badan usaha milik negara (BUMN), pengusaha yang sukses, apa yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan kehidupan mereka yang tertimpa musibah bencana?
    Solidaritas sosial memang harus dimulai dengan ikut merasakan penderitaan orang lain, sehingga kita bisa saling meringankan penderitaan sesama warga bangsa. Tidak hanya untuk korban bencana Wasior, Mentawai atau Merapi, tetapi juga untuk yang lainnya, setiap saat dan selama-lamanya. Beban bangsa akan makin ringan seandainya setiap penderitaan dapat dipikul bersama, tanpa membedakan etnis, agama, status sosial, dan kedudukan atau jabatan kita. ***
    parah. Ketahanan kita untuk menjaga solidaritas sosial di antara kita masih akan tetap diperlukan dalam waktu yang lebih lama. Untuk menyembuhkan luka-luka itu, mengembalikan kehidupan saudara-saudara kita ke hidup normal, tidak hanya memerlukan waktu yang lama, tetapi juga biaya yang besar. Kita tidak boleh merasahidup sendirian, tanpa memedulikan penderitaan saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah bencana alam. Seandainya Anda seorang birokrat, atau seorang penyelenggara negara, pemimpin partai politik, pemimpin badan usaha milik negara (BUMN), pengusaha yang sukses, apa yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan kehidupan mereka yang tertimpa musibah bencana?
    Kejadian bencana gempa dan tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias akhir
    tahun 2004 lalu, telah menyisakan kengerian dan keprihatinan yang mendalam bagi seluruh
    masyarakat Indonesia. Bentuk bencana ini memang bukan merupakan sebuah kejadian bencana
    yang sifatnya baru di Indonesia, namun banyaknya korban jiwa serta besarnya dampak yang timbul
    dari bencana ini memang begitu luar biasa. Menurut catatan Bakornas, sebelum kejadian bencana
    tsunami di NAD dan Nias di Indonesia telah terjadi 23 kali bencana gempa yang diikuti dengan
    tsunami dengan besaran skala yang bervariasi dalam kurun waktu tahun 1997 – 2004. Bencana
    gempa dan tsunami ini bukanlah merupakan satu-satunya jenis bencana yang kerap melanda negeri
    ini. Dalam kurun waktu yang sama dinyatakan telah terjadi 647 kali kejadian bencana alam yang
    meliputi bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin topan dan letusan gunung berapi,
    dengan jumlah korban jiwa sebanyak 2.022 dan perkiraan jumlah kerugian material ratusan milyar
    rupiah (http://www.pu.go.id
    ).
    Meski kejadian bencana sering terjadi di Indonesia dengan korban yang tidak sedikit
    jumlahnya, namun hingga saat ini nampak belum terdapat sebuah sistem manajemen
    penanggulangan bencana yang efektif yang disiapkan oleh pemerintah sebagai sebuah bentuk fungsi
    perlindungan bagi warga. Kirschenbaum dalam bukunya Chaos Organization and Disaster Management
    (2004) menyatakan bahwa pengukuran keefektifan terhadap manajemen penanggulangan bencana
    dapat dilakukan dengan mengukur kinerja aktual dari pemenuhan tujuan manajemen
    penanggulangan bencana yang diarahkan untuk mencegah hilangnya korban jiwa dan kerugian
    material. Dengan demikian, maka keefektifan manajemen penanggulangan bencana dapat dilihat
    dari tersedia atau tidaknya (ketersediaan) upaya-upaya prevntif yang bersifat memberdayakan bagi
    warga untuk dapat melindungi diri dan mencegah kerugian materiil. Secara nyata indicator
    keefektifan dapat dilihat dari tersedia atau tidaknya panduan dan informasi yang dapat
    meningkatkan pengetahuan dan kesadaran berbagai stakeholder untuk paham akan bencana dan
    selalu siap dalam menanggulangi bencana dalam rangka mencegah dampak bencana yang bersifat
    negatif. Apabila bersandar pada paparan tersebut maka penilaian tentang tidakefektifnya manajemen
    penanggulanganPengamatan yang dapat dilakukan secara sederhana terhadap berbagai kejadian bencana
    yang ada di Indonesia hampir selalu menampakkan gambaran yang sama yakni suatu kondisi
    tampilan sikap reaktif dan spontan yang seolah tak terencana yang diperlihatkan oleh berbagai
    stakeholder. Setiap bencana di Indonesia hampir selalu diwarnai dan diikuti dengan sebuah proses
    yang disebut Turner dan Killian sebagai milling process yakni sebuah situasi dimana orang tidak tahu
    bagaimana harus bertindak atau menyikapi bencana karena tidak terdapat panduan yang jelas untuk
    bersikap atau jikapun ada panduan tersebut tidak relevant dengan kondisi yang dihadapi oleh
    masyarakat (dalam Schneider, 1992). Gambaran dari kebingungan pola sikap atau pola tindak ini
    seringkali nampak dari sikap kebingungan atau kepanikan manakala terjadi bencana, sikap
    individualistic atau pola parsial yang ditunjukkan oleh warga dalam mengupayakan tindakan
    pencegahan terhadap bencana, juga nampak pada pola pemberian bantuan serta upaya rehabilitasi
    yang tidak terkoordinasi. Seluruh cerminan prilaku dari milling process tersebut hanya bermula dari
    sebuah sebab yakni tidak adanya panduan pola sikap yang merupakan hasil pembelajaran dari
    kejadian bencana yang telah terjadi. Kondisi itulah yang terjadi di negeri ini. Oleh karena itu tidaklah bencana di Indonesia tentu terasa tidaklah berlebihan. mengherankan apabila setiap kejadian bencana pemerintah dan masyarakat harus kembali pada fakta
    jatuhnya korban yang begitu banyak, yang sebenarnya hal itu dapat dihindarkan atau diminimalkan.
    Kejadian bencana yang seringkali terjadi di Indonesia pada dasarnya merupakan sebuah
    perwujudan dari kombinasi antara sifat alam yang rawan dengan kerentanan sistem fisik yang ada
    dalam masyarakat Indonesia, sistem sosial, budaya, dan juga politik. Seperti diketahui bersama
    bahwa letak geografi negara Indonesia yang berada di antara 6° LU – 11° LS dan diantara 95° BT –
    141° BT, telah memposisikan negara ini dalam posisi yang rawan bencana secara geologis. Dalam
    posisi ini Indonesia berada dalam wilayah perbenturan tiga lempeng kerak bumi yaitu lempeng
    Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng India Australia yang membawa dampak kerawanan Indonesia
    terhadap berbagai aktivitas seismic yang kuat dan intensif. Letak ini pun ternyata merupakan
    wilayah yang rawan bencana karena ternyata selain pertemuan lempeng benua, wilayah ini juga
    merupakan zone pertemuan dua jalur gempa yaitu jalur Sirkum Pasifik dan jalur gempa Alpide
    Transasiatic yang menyebabkan kerawanan terhadap aktivitas gempa bumi yang cukup tinggi dan
    tsunami apabila gempa tersebut terjadi dalam kekuatan yang besar dan pusat gempanya berada
    dalam jarak yang tidak jauh dari dasar laut (Najoan, 2005).
    2
    Keberadaan gunung berapi yang
    berderet hampir melingkari seluruh wilayah kepulauan di Indonesia seperti nampak pada gambar 1
    juga telah menambah faktor kerawanan wilayah Indonesia. Selain itu kondisi iklim Indonesia
    dengan curah hujan yang tinggi dan juga musim kemarau yang cukup panjang juga sangat potensial
    untuk menghantarkan penduduk Indonesia pada bencana banjir, longsor dan kekeringan serta
    kelaparan. Kondisi sistem sosial yang sangat plural dalam berbagai dimensinya pun selain menjadi
    kekayaan yang sangat bernilai juga ternyata dapat mempertinggi kerawanan bencana sosial semacam
    konflik sosial, apabila tidak dikelola dengan baik. Dalam kondisi alam dan sistem sosial yang sangat rawan seperti dipaparkan di atas, Indonesia
    tentulah membutuhkan sistem manajemen penanggulangan bencana yang tepat dan efektif. Fakta
    ketidakefektifan sistem manajemen penanggulangan bencana seperti yang telah disinggung di atas
    tentulah tidak layak diabaikan begitu saja. Serangkaian treatmen serius terhadap sistem manajemen
    penanggulangan bencana yang ada di Indonesia tentulah mendesak untuk dilakukan. Terdorong
    oleh spirit perbaikan sistem manajemen penanggulangan bencana itulah, maka tulisan ini disusun
    sebagai sebuah telaah dan rekomendasi sederhana menuju perbaikan sistem manajemen
    penanggulangan bencana di Indonesia. Kesadaran tentang perlunya manajemen penanggulangan bencana sebenarnya sudah lama
    berkembang di kalangan pembuat kebijakan Indonesia dan juga masyarakat. Kesadaran di kalangan
    pemerintah secara singkat dapat dilihat dari perkembangan kebijakan yang telah diformulasikan,
    pembentukan kerangka kelembagaan serta berbagai aktivitas operasional yang nyata dalam
    penanggulangan bencana. Sedangkan tumbuhnya kesadaran akan penanggulangan bencana pada
    masyarakat dapat diyakini dari berbagai praktik tradisional yang seringkali diidentikan dengan ciri
    khas kebiasaan suatu komunitas untuk menghadapi bencana. Sebagai contoh adalah kecenderungan
    prilaku masyarakat di Kecamatan Besikama, Kabupaten Belu, NTT, yang berusaha beradaptasi
    dengan ancaman banjir yang selalu siap melanda mereka. Dalam kondisi kerawanan semacam ini,
    masyarakat Besikama telah mengembangkan konstruksi rumah panggung yang tahan terhadap
    banjir (Lassa, 2003). Praktik lainnya adalah kebiasaan untuk berlari ke wilayah perbukitan pada
    masyarakat Simeuleu manakala mereka melihat air laut surut. Praktik ini disebut oleh masyarakat
    setempat sebagai smoong. Tindakan ini sebenarnya merupakan tindakan antisipasi terhadap bahaya
    tsunami yang mengancam masyarakat di wilayah pantai. Contoh-contoh tersebut sebenarnya sudah
    berkembang sejak jaman masyarakat tradisional. Namun demikian praktik ini dalam
    perkembangannya tidak dikuatkan oleh pemerintah, bahkan praktik-praktik ini kemudian justru
    termatikan oleh upaya penanggulangan bencana modern yang coba diinternalisasikan oleh
    pemerintah dan juga oleh proses pembangunan.
    4
    Sebagai contoh, upaya modernisasi atribut-atribut
    fisik masyarakat dengan pengenalan dan kampanye rumah tembok yang dipandang memiliki nilai
    estetika yang lebih tinggi dan lebih sehat di beberapa tempat telah membuat konstruksi rumah
    panggung tidak lagi menjadi pilihan. Kondisi ini di beberapa wilayah ternyata terbukti justru
    merentankan masyarakat karena konstruksi rumah modern ternyata tidak cocok dengan kondisi
    lingkungan yang rawan bencana. Selain itu proses pembangunan yang sarat dengan tindakan
    pengadaan fasilitas-fasilitas fisik yang acapkali tidak bersifat primer bagi masyarakat dalam intensitas
    tertentu justru malah mengakibatkan kerentanan masyarakat maupun lingkungan. Sebagai contoh
    proyek pembangunan mal-mal atau fasilitas publik tertiary lainnya di wilayah yang seharusnya
    menjadi wilayah konservasi. Dengan demikian tidaklah heran apabila terjadi bencana, maka kerugian
    dan korban selalu banyak dan upaya pemulihan selalu sulit dilakukan. Kondisi ini senada dengan

    http://nasional.kompas.com/read/2010/10/29/17351195/KWI.Belajar.Solidaritas.dari.Bencana
    http://www.dakwatuna.com/2009/gubernur-jabar-perlu-solidaritas-untuk-menghadapi-musibah-bencana/
    http://bataviase.co.id/node/458803
    http://www.scribd.com/doc/39644086/Perbaikan-Manajemen-Bencana-Indonesia

  44. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Bencana alam sepertinya terus saja menggelayuti pangkuan bumi pertiwi. Semenjak banjir bandang di Wasior, Papua Barat, tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, hingga letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sungguh peristiwa yang menguras tetesan air mata manusia.
    Hal yang patut diapresiasi adalam berbagai bencana alam selama ini adalah sikap warga masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana, yang datang silih berganti menimpa. Semangat dan sikap itu pulalah yang terlihat secara mengesankan. Luar biasa semangat, ekspresi, ataupun dampak solidaritas sosial itu.
    Tanpa perlu dikomando, spontan warga masyarakat secara perseorangan atau berkelompok mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan pertolongan. Makna dan nilai solidaritas sosial itu sungguh besar, lebih-lebih bagi bangsa dan negara Indonesia, yang sangat rawan terhadap berbagai bencana.
    Maka, dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan, rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Ekspresi rasa setia kawan seperti tidak habis-habisnya sekalipun bencana datang silih berganti.
    Ya, solidaritas sosial merupakan ekspresi paling orisinal dan suci dari manusia dan kemanusiaan. Rasa setia kawan lahir dari dorongan hati paling dalam dan murni. Kekuatan terbesarnya terletak pada sikap menolong, dan kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama.Semangat kepahlawanan yang bertumpu pada sikap pengorbanan selalu dibutuhkan. Semangat pengorbanan tidak hanya dibutuhkan untuk menghadapi bahaya bencana yang senantiasa mengintai Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan hidup bersama sehari-hari.
    Semoga, solidaritas social di atas tidak menjadi luntur, seperti para elite politik di negeri yang sebenarnya penuh damai ini, sebab solidaritas social telah menjadi solidaritas bangsa kita.
    Hal yang sama juga terlihat dari peristiwa natal dan tahun baru 2011.Natal dan Tahun Baru 2011 sudah menghampiri kita, menengok kebelakang, dalam konteks kebencanaan, terlihat begitu besarnya bencana alam dan buatan manusia melanda Indonesia. Kita tentunya sangat prihatin. Tapi disisi lain, kita juga bangga dengan rakyat Indonesia yang memperlihatkan solidaritas besar. Solidaritas itu berupa sumbangan dana untuk korban bencana dan ratusan relawan yang kadang-kadang harus mengadu nyawa di Mentawai dan Merapi untuk memberi pelayanan kepada penyintas.
    Kendati solidaritas rakyat Indonesia sangat besar dan membanggakan, kita jangan terus bergantung pada kerelaan berbagi masyarakat. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan mengorganisasikan solidaritas besar ini. Setiap bencana tentunya berkonsekuensi pada biaya besar secara ekonomi dan social. Kalau jujur, dan jika bisa dihitung, sebenarnya masyarakat Indonesia menanggung bagian paling besar dari setiap bencana. Bahkan biaya tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali dari pemerintah sesungguhnya dating dari rakyat Indonesia — berupa pajak dan pungutan lainnya. Jumlahnya saat ini ; triliunan rupiah.
    Berefleksi sejenak akan penanganan bencana, terlihat belum ada pengorganisasian solidaritas rakyat Indonesia. Tidak ada satupun perangkat hokum atau aturan apapun mengenai hal ini. Undang-undang 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sama sekali tidak menyinggung soal peran organisasi kemasyarakatan (masyarakat sipil) dalam kebencanaan. Undang-undang ini menyinggung peran perusahaan swasta dan lembaga bantuan asing termasuk lembaga PBB. Padahal masyarakat umum melalui organisasi-organisasi masyarakat sipil bisa melakukan berbagai langkah upaya penanggulangan bencana bahkan pengurangan resiko bencana. Bahkan peraturan pemerintah dibidang peran lembaga asing sudah ada. Tapi PP tentang peran masyarakat sipil tidak bisa dikeluarkan karena memang tidak disinggung di undang-undang. Paling jauh, pemerintah bisa mengeluarkan peraturan pemerintah tentang peran masyarakat pada umumnya —- dan ini belum dilakukan. Mungkin dalam peraturan pemerintah ini bisa juga mencakup peran masyarakat sipil tadi —- kita tunggu dan kita dorong.
    Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.
    Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir.
    Langkah lain yang penting adalah soal-soal pengurangan resiko bencana. Pada tahapan ini semua komponen masyarakat, termasuk didalamnya sekolah-sekolah, dilatih dan mampu menghadapi bencana jika terjadi. Sehingga mereka bisa dengan sistimatis mengurangi dampak bencana.
    Terakhir adalah mitigasi bencana atau segala upaya untuk meredam bahaya bencana. Mitigasi ini bisa berupa pembangunan tanggul, pengerukan sungai, rumah tahan gempa, jalur evakuasi, bahkan penghijauan di gunung dan di pantai menanam mangrove. Terlebih lagi, secara serius memerangi kemiskinan masyarakat, karena kemiskinan merupakan kerawanan besar dan kelemahan besar ketika masyarakat menghadapi bencana.
    Merapi di Jawa Tengah sedang menjalani siklus kealamannya. Begitupun dengan alam di Wasior Papua dan laut di Mentawai Sumatera Barat. Tapi bagi manusia, ini adalah salah satu bentuk bencana. Lebih tepatnya bencana alam. Mulai kini, meminjam bahasanya Sasongko Tedjo, kita dipaksa untuk belajar “mengakrabi bencana” (Suara Merdeka, 5 Nopember 2010). Sebagai muslim, kita meyakini bahwa setiap kejadian yang dialami mahluk, tidak pernah lepas dari kehendak-Nya. Termasuk bencana alam.
    Bagi orang-orang yang sabar, bencana dalam bentuk apapun merupakan cobaan yang datang dari Tuhan sebagai bentuk ujian keimanan. Merapi yang “batuk” dan lautan yang “muntah”, membawa efek ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Semua itu disebut “cobaan”. Allah menjanjikan kebahagiaan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Indikator kesabaran perspektif Al Qur’an sebagaimana tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 156 ialah mereka yang ketika tertimpa musibah selalu berucap, inna lillahi wa inna ilaihi roj’un (segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya). Orang-rang yang sabar pula yang kelak, pasca “cobaan” yang dideritanya, akan mendapatkan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Jika kita memaknai ayat Al Qur’an tersebut secara tekstual, kiranya hanya sabar yang menjadi solusi terbaik bagi saudara-saudara kita di kawasan Merapi, Mentawai, dan Wasior. Namun, di balik “bencana alam” tersebut terkandung beribu-ribu hikmah yang bisa kita ambil, selain membentuk sikap sabar. Di antaranya ialah meningkatnya rasa solidaritas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Semuanya kembali pada rasa senasib seenanggungan sebagai manusia.
    Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana. Baik atas nama individu maupun institusi. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung mengagendakan “turba” ke masyarakat korban bencana, dengan mendirikan posko peduli bencana. Ada juga keluarga “kristani” yang merelakan jatah liburan natal dan tahun barunya untuk disumbangkan kepada masyarakat korban bencana. Bahkan, bangsa-bangsa lain di dunia menaruh perhatian khusus terhadap bencana bertubi-tubi yang melanda Indonesia.
    Ternyata, di balik derita masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai, justeru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia. Menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia.Bisakah solidaritas sosial ini tetap tumbuh subur, tanpa dibarengi oleh bencana? Inilah yang perlu kita jawab dan perjuangkan!

    http://teraskita.wordpress.com/2010/11/06/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/
    http://www.facebook.com/group.php?gid=164396186905368
    http://www.ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=1&Itemid=267&lang=id

    Nama : Wahyu Dhana Purwita
    Nim : 08/274195/DPA/03173
    Rekmed A

  45. Potensi kerawanan bencana sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa

    Wilayah Indonesia yang terhampar dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Hampir tiap hari kita mendengar ada bencana di berbagai daerah, baik yang ringan maupun yang berat seperti tsunami. Beragam bencana alam berupa longsor, gempa, tsunami dan sebagainya terus melanda Negeri tercinta, Indonesia. Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 14 jenis ancaman terjadinya bencana. Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagaln teknologi, epidemi dan wabah penyakit serta konflik sosial.
    Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang diantara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Ia membentang dari mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan. Indonesia memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang lebih 240 buah, di mana hampir 70 di antaranya masih aktif. Zone kegempaan dan gunung api aktif Circum Pasifik amat terkenal, karena setiap gempa hebat atau tsunami dahsyat di kawasan itu, dipastikan menelan korban jiwa manusia amat banyak.
    Secara histografi, Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami. Pasca meletusnya Gunung Krakatau yang menimbulkan tsunami besar di tahun 1883, setidaknya telah terjadi 17 bencana tsunami besar di Indonesia selama hampir satu abad (1900-1996). Bencana gempa dan tsunami besar yang terakhir terjadi pada akhir 2004 di Aceh dan sebagian Sumatera Utara. Lebih dari 150.000 orang meninggal dunia. Tapi gempa bumi terjadi hampir di setiap tahun di Indonesia. Setelah gempa Aceh di akhir 2004, pada 2005 Pulau Nias dan sekitarnya juga dilanda gempa. Sekitar 1000 orang menjadi korban. Akhir Mei 2006 ini, giliran Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah diporakporandakan gempa bumi. Korban meningggal mencapai 5.000 orang lebih. Berbagai daerah di Indonesia merupakan titik rawan bencana, terutama bencana gempa bumi, tsunami, banjir, dan letusan gunung berapi.
    Wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sewaktu-waktu lempeng ini akan bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara. Hari-hari ini Indonesia berduka dengan musibah bencana alam yang terjadi berganti dan bersamaan. Belum pulih dan tertangani bencana banjir Wasior, Papua, tanah air kita sudah didera bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi. Masih disusul lagi dengan gejala 22 gunung berapi yang tersebar di kepulauan Nusantara kita yang menunjukkan peningkatan aktivitas. Tanah air kita sungguh-sungguh dihadapkan pada risiko bencana alam yang meningkat dalam waktu bersamaan. Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Rasa solidaritas yang sangat luar biasa juga ditemukan diantara mahasiswa, mereka juga bersemangat menggalang dana di berbagai tempat, seperti di kampus mereka masing-masing, di jalan raya, dan sebagainya. Lebih konkretnya lagi, banyak ditemui pula mahasiswa yang menjadi sukarelawan -sukarelawan penanggulangan bencana Merapi ataupun bencana di tempat lain. Mereka bergabung dan bergotong royong bersama sukarelawan lainnya dari PMI, Tim SAR, TNI, polisi serta lembaga- lembaga bantuan sosial lainnya. Tidak jarang juga, organisasi mahasiswa pun ikut membuka posko – posko tersendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana. Perubahan iklim saat ini terjadi secara ekstrim, kondisi saat ini untuk Indonesia wilyah barat sesungguhnya memasuki musim kemarau namun bersifat basah. Hal ini terjadi dimana pada saat musim kemarau masih terdapat curah hujan yang cukup tinggi. Sehingga dari musim hujan lalu hingga masuk musim kemarau saat ini hamper terjadi hujan yang cukup tinggi intensitasnya.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat. Namun, di balik “bencana alam” tersebut terkandung beribu-ribu hikmah yang bisa kita ambil, selain membentuk sikap sabar. Di antaranya ialah meningkatnya rasa solidaritas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Semuanya kembali pada rasa senasib seenanggungan sebagai manusia. Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana. Baik atas nama individu maupun institusi. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung mengagendakan “turba” ke masyarakat korban bencana, dengan mendirikan posko peduli bencana.
    Masyarakat pun yang menjadi korban akibat bencana yang menimpa daerah tersebut. Karena bencana tidak pandang bulu atas korban yang akan dihantamnya. Selain itu, pemerintah sebagai yang paling bertanggungjawab dalam menjamin keselamatan rakyat juga lamban, bahkan terkesan lalai. Kita tentunya sangat prihatin. Tapi disisi lain, kita juga bangga dengan rakyat Indonesia yang memperlihatkan solidaritas besar. Solidaritas itu berupa sumbangan dana untuk korban bencana dan ratusan relawan yang kadang-kadang harus mengadu nyawa di Mentawai dan Merapi. Kendati solidaritas rakyat Indonesia sangat besar dan membanggakan, kita jangan terus bergantung pada kerelaan berbagi masyarakat. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan mengorganisasikan solidaritas besar ini. Setiap bencana tentunya berkonsekuensi pada biaya besar secara ekonomi dan social. Kalau jujur, dan jika bisa dihitung, sebenarnya masyarakat Indonesia menanggung bagian paling besar dari setiap bencana. Bahkan biaya tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali dari pemerintah sesungguhnya dating dari rakyat Indonesia berupa pajak dan pungutan lainnya. Jumlahnya saat ini triliunan rupiah.
    Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana. Ternyata, di balik derita masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai, justeru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia. Menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia. Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya. Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir. Jadi, potensi kerawanan bencana sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa indonesia.

    REFERENSI

    http://blog-indonesia.com/blog-archive-14554-32.html Diakses 11 Januari 2011 pukul 21.03 WIB
    http://nasional.kompas.com/read/2010/04/16/13150815/Memahami.Kerawanan.Bencana.di.Indonesia Diakses 11 Januari 2011 pukul 18.26 WIB
    http://teraskita.wordpress.com/2010/11/06/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/ Diakses 12 Januari 2011 pukul 20.36 WIB
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html Diakses 11 Januari 2011 pukul 18.52 WIB
    http://www.harianbhirawa.co.id/arsip/18977-solidaritas-korban-bencana Diakses 12 Januari 2011 pukul 20.52 WIB
    http://www.pdat.co.id/hg/political_pdat/2006/06/19/pol,20060619-01,id.html Diakses 12 Januari 2011 pukul 20.46 WIB
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam Diakses 11 Januari 2011 pukul 20.10 WIB

    Nama : Kustini Dwi Lestari
    NIM : 08/271592/DPA/3024
    Prodi : REKMED B

  46. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Akir-akir ini bangsa indonesia sering di landa bencana. Berita bencana yang terbaru adalah mengenai banjir lahar dingin dan meletusnya gunung bromo. Banjir lahar dingin terjadi di sepanjang aliran Sungai Gendol, Cankringan, Sleman, Yogyakarta. Banjir lahar dingin disebabkan hujan yang terus turun mengguyur puncak Gunung Merapi. Tak ada korban jiwa maupun kerugian materiil akibat kejadian ini. Lahar dingin yang membawa material vulkanik itu mengalir hingga radius sekitar 10 kilometer dari puncak Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan 70 alat berat untuk mengeruk tumpukan material Gunung Merapi. Banjir lahar dingin sebelumnya sempat menyeret 2 dari alat berat tersebut, namun berhasil diselamatkan.
    Banjir lahar dingin menerjang Kali Pabelan dan Kali Putih, Magelang Jawa Tengah. Sebanyak 10 jembatan dan puluhan DAM sabo jebol dan hilang. Kesepuluh jembatan itu di antaranya di Desa Surodadi, Desa Gunung Lemah, Desa Srowol, Desa Gondosuli, Desa Blongkeng dan Desa Brojong. Untuk menyambung akses jalan antar desa, pemerintah melakukan upaya pembuatan jembatan darurat bagi jembatan yang hilang. Untuk jembatan yang patah atau tertimbun material diupayakan dilakukan pembersihan bersama-sama warga desa setempat. Sebanyak tujuh sekolah mengalami kerusakan yang cukup parah akibat diterjang banjir lahar dingin yang meluap di Kali Putih, Magelang, Jawa Tengah. Sekolah tersebut tidak bisa lagi dipergunakan untuk proses belajar mengajar. Akibatnya sebanyak 700 siswa yang setiap harinya bersekolah, kini terpaksa diliburkan. Ketujuh sekolah itu adalah SDN Sirahan 1 (70 siswa), SD Sirahan 2 (125 siswa), SD Seloboro 1 (156 siswa). Kemudian TK Seloboro, TK Ibnu Hajar, TK Al Husain dan TK Ibnu Hajar di Dusun Sirahan sebanyak 250 siswa.
    Dengan adanya bencana ini maka timbulah berbagai macam gerakan untuk membantu baik bantuan tenaga maupun pengalangan dana, para penduduk sekitar yang tidak terkena dampak bencana juga berbondong-bondong untuk membantu evakuasi korban. Dalam menghadapi musibah bencana, diperlukan solidaritas diantara sesama anak bangsa, apalagi bila musibah itu menelan banyak korban dan kerusakan yang parah. Solidaritas dapat diartikan kesatuan kepentingan, simpati, dll, sebagai salah satu anggota dari kelas yang sama. Solidaritas bisa didefinisikan: perasaan atau ungkapan dalam sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama. Dalam wikipedia Solidaritas diartikan, bahwa Solidaritas adalah integrasi, tingkat dan jenis integrasi, ditunjukkan oleh masyarakat atau kelompok dengan orang dan tetangga mereka Hal ini mengacu pada hubungan dalam masyarakat . hubungan sosial bahwa orang-orang mengikat satu sama lain. Istilah ini umumnya digunakan dalam sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Solidaritas adalah kesepakatan bersama dan dukungan: kepentingan dan tanggung jawab antar individu dalam kelompok, terutama karena diwujudkan dalam dukungan suara bulat dan tindakan kolektif untuksesuatu hal. Apa yang membentuk dasar dari solidaritas bervariasi antara masyarakat. Dalam masyarakat sederhana mungkin terutama berbasis di sekitar nilai-nilai kekerabatan dan berbagi. Dalam masyarakat yang lebih kompleks terdapat berbagai teori mengenai apa yang memberikan kontribusi rasa solidaritas sosial.
    Aksi sosial penggalangan dana untuk membantu para korban bencana itu merupakan usaha mulia dan merupakan aplikasi nyata dari jiwa kepahlawanan untuk menolong sesama yang sedang ditimpa bencana.Salah satu kebiasaan yang muncul dalam setiap adanya bencana alam adalah bahwa penanganan korban berjalan amat lambat. Misalnya pendistribusian bantuan kepada korban yang sering tidak dilakukan secara merata.Bahkan ada korban bencana yang sama sekali belum mendapat bantuan. Selain para korban juga mengeluhkan lambatnya pendistribusian bantuan. Semuanya itu semakin menegaskan bahwa tidak mudah dalam mengatasi permasalahan pasca gempa. Pelajaran dimasa lalu, ternyata belum mumpuni untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran.
    Upaya baru harus terus dilakukan. Solidaritas dan soliditas kemanusiaan harus digalakkan. Solidaritas kebersamaan terbuka bagi siapa saja, tanpa melihat latar belakang ekonomi, status, sosial maupun agama.Semua harus ikut menderita. Sebab, masyarakat di sana adalah bahagian dari republik ini. Penderitaan rakyat mereka adalah penderitaan seluruh komponen bangsa ini, penderitaan republik. Untuk itu, gerak cepat lainnya harus tetap diupayakan. Indonesia memang kini sedang berduka, menangis.
    Berharap banyak pada pemerintah, kelihatannya bukan merupakan satu-satunya langkah untuk menanggulangi permasalahan ini. Kita, masyarakat Indonesia juga harus berperan di dalamnya. Solidaritas dan soliditas kemanusiaan harus dibangkitkan. Solidaritas seperti sesungguhnya sudah pernah kita tunjukkan ketika bencana sudah berungkali terjadi.
    Bencana, apapun bentuknya dan di mana pun letaknya, adalah derita kita semua. Dengan memakai naluri kemanusiaan kita, seharusnya melihat malapetaka yang tragis dan dramatis ini, solidaritas harus timbul. Karena itu, sekaranglah saatnya rakyat Indonesia menunjukkan rasa solidaritas dan soliditas sosial dan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya untuk secara konkret dengan memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan mereka.
    Dapat disimpulkan bahwa di balik bencana alam tersebut terkandung beribu-ribu hikmah yang bisa kita ambil, selain membentuk sikap sabar. Di antaranya ialah meningkatnya rasa solidaritas dan soliditas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Semuanya kembali pada rasa senasib seenanggungan sebagai manusia. Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana. Baik atas nama individu maupun institusi. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung mengagendakan “turba” ke masyarakat korban bencana, dengan mendirikan posko peduli bencana. Ada juga keluarga “kristani” yang merelakan jatah liburan natal dan tahun barunya untuk disumbangkan kepada masyarakat korban bencana. Bahkan, bangsa-bangsa lain di dunia menaruh perhatian khusus terhadap bencana bertubi-tubi yang melanda Indonesia. Ternyata, di balik derita masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai,Bromo justeru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia.
    Menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia.

    YUDI PRASETYA 08/2739823/DPA/3101
    D3 REKAM MEDIS

  47. Geografis Indonesia mengandung banyak potensi kerawanan bencana alam
    Namun, sesungguhnya potensi kerawanan bencana alam bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa.

    Letak geografi Indonesia yang diapit dua samudera dan dua benua menjadikannya suatu wilayah yang baik untuk mempelajari iklim. Indonesia merupakan wilayah sangat rawan akan berbagai bencana alam, seperti kekeringan, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, dan bencana gempa bumi serta tsunami yang belum lama terjadi di Aceh dan Sumatera Utara. Bencana banjir meskipun menimbulkan resiko relatif lebih rendah daripada letusan gunung berapi, gempa bumi maupun tsunami, namun mempunyai frekuensi relatif lebih tinggi, sehingga apabila diakumulasikan bencana ini juga menimbulkan kerugian yang tidak kalah jauh dari ketiga bencana yang lain, yang dapat mengancam jiwa manusia, harta benda, infrastruktur termasuk juga sumberdaya arkeologi.
    Secara fisiologi wilayah Indonesia terdiri atas landas kontinen, cekungan (basin) samudra dan sabuk orogenik (orogenic belt). Secara geologis wilayah Indonesia merupakan tempat pertemuan beberapa lempeng utama kerak bumi, yaitu lempeng Eurasia yang membentang dari barat laut dan utara, berakhir di selatan di Sunda Shelf, lempeng India dan Autaralia yang membentang dari barat dan selatan, berakhir di utara di Sahul Shelf serta lempeng Samudra Pasifik di timur laut. Akibat pengaruh perputaran bumi, wilayah Indonesia yang menjadi tempat pertemuan empat lempeng kerak bumi dan tiga sistem pegunungan utama, terus menerus bergerak yang menyebabkan wilayah Indonesia berwujud kepingan-kepingan daratan yang membentuk ribuan pulau-pulau besar dan kecil (kurang lebih berjumlah 17.667 pulau). Hal ini juga menyebabkan wilayah Indonesia sangat labil dan rentan akan gempa bumi tektonik, gerakan tanah, tanah longsor dan erupsi gunung api. Sebagai akibat perputaran bumi itu pula lempeng kerak bumi yang menjadi landasan Kepulauan Indonesia, bergerak (bergeser) antara 6 – 8 cm setiap tahun. Oleh karena itu wilayah Indonesia Indonesia menjadi rawan terhadap bencana gempa bumi tektonik yang kadang-kadang disertai dengan terjadinya Tsunami (gelombang pasang laut).
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Sebagai negara yang memiliki potensi bencana sangat besar, Indonesia perlu menerapkan kurikulum kebencanaan di lembaga-lembaga sekolah agar anak didik memiliki pengetahuan dan wawasan tentang potensi bencana yang sangat rawan terjadi di negeri ini. Dengan pengetahuan lingkungan yang kuat, anak-anak Indonesia akan mampu memanfaatkan potensi alam untuk kesejahteraan serta menjaga alam sebaik-baiknya guna mencegah terjadinya bencana atau kerugian yang lebih besar dari fenomena alam. Dari kejadian bencana alam kita dapat memetik suatu pandangan yaitu bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Namun persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana.
    Penerapan kurikulum kebencanaan akan menghasilkan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat manakala pemerintah memberikan pelatihan serius tentang mitigasi kebencanaan dan melakukan mobilisasi kesiapan terhadap setiap bencana yang sedang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Sesungguhnya penerapan pendidikan atau pelatihan tentang kebencanaan diharapkan dapat membantu penyiapan mental dan kesadaran publik dalam melakukan tindakan antisipatif pada saat dan sesudah bencana terjadi. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan kebencanaan sejak usia sekolah memang menjadi mutlak untuk diterapkan agar semua komponen masyarakat bisa terlibat langsung dalam penanganan bencana. Pendidikan kebencanaan bila diterapkan dengan baik, akan mampu merekatkan solidaritas sosial yang selama ini menjadi jarang di lingkungan masyarakat kota yang individualistik. Dengan edukasi kebencanaan dimunculkan rasa tanggung jawab sosial bersama tanpa harus melihat kelas dan strata sosial maupun kesenjangan hidup masing-masing individu.
    Melihat kondisi demikian pada wilayah Indonesia, maka perlu dilakukan penanganan yang serius untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana yang diperkirakan akan terjadi di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya pada jiwa manusia dan harta benda, tetapi juga pada sumberdaya arkeologi, seperti yang terjadi pada gempa bumi tahun 2006 di Jogyakarta yang merusak dan menghancurkan Candi Prambanan, Candi Sojiwan, Taman Sari, Kompleks makam di Imogiri dan sumberdaya arkeologi yang berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Untuk meminimalkan dampak yang akan terjadi, maka pada tulisan ini akan dibahas mengenai hubungan sebaran sumberdaya arkeologi dengan daerah rawan bencana yang ada di kawasan Borobudur, yang akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan manajemen bencana di kawasan Borobudur.
    Di kawasan Borobudur terdapat lokasi yang rawan terhadap bencana alam gempa, gerakan tanah dalam hal ini longsor dan bencana gunung api (gunung Merapi). Untuk daerah rawan gampa bumi, seluruh sumberdaya arkeologi rawan terhadap ancaman gempa bumi. Hal ini disebabkan gempa bumi bisa terjadi di mana saja tanpa dduga termasuk di kawasan Borobudur. Sedangkan untuk daerah rawan bencana longsor, sebagian besar sumberdaya arkeologi termasuk dalam katagori kerawanan sangat rendah dan aman dari ancaman bencana longsor. Hanya ada beberapa sumberdaya arkologi yang masuk kategori kerawanan sangat tinggi dan menengah, namun sumberdaya arkeologi tersebut, hanya berupa temuan lepas.
    Kawasan Borobudur tidak termasuk dalam wilayah zona 1 dan zona 2 daerah rawan bencana gunung Merapi, akan tetapi dampak sekunder aktivitas gunung Merapi berupa hujan abu sangat mengganggu kelestarian sumberdaya arkeologi yang ada. Untuk menghadapi ancaman bahaya bencana alam pada sumberdaya arkeologi dan lingkungannya, perlu diambil langkah-langkah pencegahan berupa manajemen mitigasi bencana sehingga akan timbul kesiapan dan kesiagaan dalam menghadapi ancaman bencana alam.

    Nama : Ni Nyoman Ayu Astiti
    Nim : 08/271671/DPA/3052
    Prodi : D3 Rekam Medis
    Daftar pustaka
    http://opac.geotek.lipi.go.id/index.php?p=show_detail&id=1126
    http://bintangjiwaku.blogspot.com/2010/09/korelasi-sebaran-sumber-daya-arkeologi.html

  48. Potensi Kerawanan Bencana Sesungguhnya Bernilai Positif Untuk Meningkatkan Solidaritas dan Soliditas Bangsa
    A. Bencana
    UU No. 24 Tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai “peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis”. Bencana dapat terjadi, karena ada dua kondisi yaitu adanya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak dan kerentanan masyarakat.

    B. Jenis-Jenis Bencana
    Bencana terdiri dari berbagai bentuk. UU No. 24 tahun 2007 mengelompokan bencana ke dalam tiga kategori yaitu:
    • Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
    • Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
    • Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.
    Ethiopian Disaster Preparedness and Prevention Commission (DPPC) mengelompokkan bencana berdasarkan jenis hazard, yang terdiri dari:
    • Natural hazard. Ini adalah hazard karena proses alam yang manusia tidak atau sedikit memiliki kendali.
    • Human made hazard. Ini adalah hazard sebagai akibat aktivitas manusia yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hazard ini mencakup:
    o Technological hazard sebagai akibat kecelakaan industrial, prosedur yang berbahaya, dan kegagalan infrastruktur. Bentuk dari hazard ini adalah polusi air dan udara, paparan radioaktif, ledakan, dan sebagainya.
    o Environmental degradation yang terjadi karena tindakan dan aktivitas manusia sehingga merusak sumber daya lingkungan dan keragaman hayati dan berakibat lebih jauh terganggunya ekosistem.
    o Conflict adalah hazard karena perilaku kelompok manusia pada kelompok yang lain sehingga menimbulkan kekerasan dan kerusakan pada komunitas yang lebih luas.

    C. Bencana di Indonesia
    Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana. Firma konsultan risiko global dari Inggris, Maplecroft, merilis Indeks Risiko Bencana Alam (NDRI), dan meletakkan Indonesia pada tingkat ekstrem.
    Indeks diatas diukur dengan menganalisis dampak bencana terhadap manusia, jumlah kematian perbencana dan persejuta populasi, dan frekuensi bencana selama 30 tahun terakhir. Metodologi telah ditentukan berdasarkan kejadian seperti gempa bumi, letusan gunung, tsunami, badai, banjir, kekeringan, longsor, cuaca ekstrim, dan epidemi.
    Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukan bahwa ada 28 wilayah di Indonesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang diantara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Ia membentang mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan. Indonesia memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang lebih 240 buah, di mana hampir 70 di antaranya masih aktif. Zone kegempaan dan gunung api aktif Circum Pasifik amat terkenal, karena setiap gempa hebat atau tsunami dahsyat di kawasan itu, dipastikan menelan korban jiwa manusia amat banyak.

    D. Bencana Bernilai Positif Meningkatkan Solidaritas dan Soliditas Bangsa
    Aksi penanggulangan bencana alam, dalam banyak hal memang harus memadukan seluruh kemampuan dan pengalaman seluruh potensi bangsa. Baik pemerintah, pengusaha, lembaga swadaya masyarakat, maupun rakyat biasa. Tentu harus diaktualisasikan dan diwujudkan dalam bentuknya yang paling nyata dan kongkret.
    Sebagai bangsa yang beriman, peristiwa alam yang berkesinambungan itu tentunya bukan tanpa makna. Nilai solidaritas dan soliditas aksi nyata menjadi penting sekali maknanya. Karena di dalamnya pengalaman dan keahlian menyatu dan bersatu. Satu makna mendasar yang ingin disampaikan melalui bencana kepada manusia adalah bagaimana manusia diajar untuk bersolider terhadap sesama. Ada 4 hal mendasar dalam solidaritas dan soliditas yaitu :
    1. Didasarkan pada martabat manusia yang luhur, menyiratkan tanggung jawab terhadap kehidupan sesama. Dan ini merupakan tugas utama sebagai manusia.
    2. Menyiaratkan pula perlakuan yang sama terhadap siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dalam tragedi tsunami dan bencana alam yang menimpa bangsa Indonesia, pertolongan terhadap sesama tidaklah dilandaskan pada keberpihakan, melainkan dilandasi oleh rasa keadilan yang mengejawantah pada perlakuan yang sama bagi seluruh anggota masyarakat.
    3. Didasarkan pada ketulusan hati yang murni. Itu berarti bantuan terhadap para korban bencana memang murni keluar dari hati yang bersih, bukan untuk memuat tujuan tertentu dan kepentingan tertentu.
    4. Dalam bencana alam mewujud dalam pertolongan dan perhatian yang berkesinambungan. Itu berarti perhatian dan bantuan yang diberikan kepada korban tidak bersifat insidental, melainkan berkelanjutan.
    Beberapa contoh solidaritas dan soliditas di Indonesia adalah bantuan berupa materi atau barang untuk korban bencana, bantuan obat-obatan, dan bantuan suka relawan. Penguatan soliditas dan solidaritas ini penting, karena landasan berbangsa kita bukan tumbuh dari kesadaran tapi dari imajinasi. Imajinasi bisa tumbuh berkembang ketika terus dipupuk melalui kebersamaan, dan dia akan layu di saat tiap individu berfikir kepentingannya sendiri. Bencana alam yang menimpa bangsa Indonesia merupakan peristiwa alam yang mengingatkan kita untuk peduli terhadap sesama bangsa. Inilah momen tepat bagi seluruh elemen bangsa mengimplementasikan solidaritas dan soliditas berbasis pada keadilan dan ketulusan.

    E. Peran Serta Masyarakat dan Pemerintah
    Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam. Mulai dari persiapan peralatan untuk mendeteksi terjadinya bencana seperti misalnya pada bencana tsunami dan gunung meletus, pembuatan jenis bangunan yang tahan terhadap bencana gempa, pengelolaan tata kota dan kesadaran warga masyarakat untuk menanggulangi bencana banjir ataupun pemeliharaan daerah hulu sungai dan pegunungan serta hutan untuk mencegah terjadinya tanah longsor.
    Untuk masalah yang berkaitan dengan keadaan lingkungan, tentu hal ini juga membutuhkan peran serta aktif dari masyarakat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan yang dapat dimulai dari lingkungan disekitar tempat tinggalnya.

    Nama : NOVIRIANTI
    NIM : 08/274135/DPA/03158
    Prodi : D3 Rekam Medis

    REFERENSI :
    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=150248
    http://www.akarpadi.com/?p=1868
    http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/8810/
    http://www.medicastore.com/artikel/295/index.html
    http://www.pdat.co.id/hg/political…/pol,20060619-01,id.html

  49. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Secara geografis Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekali rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempabumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebihdari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

    Selain itu, wilayah Indonesia juga terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia.
    Trend bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ketahun. Bencana hidrometeorologi sepertib anjir, kekeringan, tanah longsor, putting beliung dan gelombang pasang merupakan jenis bencana yang dominan di Indonesia.Bencana hidrometeorologi terjadi rata-rata hampir 70% dari total bencana di Indonesia. Perubahan iklim global, perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya jumlah penduduk makin memperbesar ancaman risiko bencana di Indosnesia. Bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang besar.

    Padatahun 2010, bencana di Indonesia terjad isekitar 644 kejadian bencana.Jumlah orang meninggal mencapai 1.711. Menderita dan hilang sekitar 1.398.923 orang. Rumah rusak berat 14.639 unit, rusak sedang 2.830 unit dan rusak ringan 25.030. Dari 644 kejadian bencana tersebut, sekitar 81,5% atau 517 kejadian bencana adalah bencana hidrometerologi. Sedangkan bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami dan gunung meletus masing-masing terjadi 13 kali (2%), 1 kali (0,2%) dan 3 kali (0,5%). Namun jumlah kerugian yang ditimbulkan oleh bencana geologi tersebut besar. Dibandingkan dengan tahun 2009, jumlah kejadian dan korban serta kerugian yang ditimbulkan bencana lebih kecil pada tahun 2009. Pada tahun 2009, jumlah kejadian bencana mencapai 1.675 kejadian. Jumlah korban meninggal mencapai 2.620 orang, menderita dan mengungsi sekitar 5,5 juta orang dan menimbulkan kerusakan rumah mencapai lebih dari 500 ribu unit. Pada tahun 2009 bencana gempa bumi di Jawa Barat dan Sumatera Barat adalah bencana terbesar pada tahun tersebut.
    Pada tahun 2010, bencana besar yang terjadi di Indonesia antara lain: Tanah longsor di Ciwidey Jawa Barat pada 22 Februari 2010 yang mengakibatkan 44 orang meninggal. Banjir di huludanhilir Sungai Citarum Jawa Barat pada Maret 2010 yang menyebabkan sekitar 105 ribu lebih orang mengungsi. Banjir bandang Wasior pada 5 Oktober 2010 dengan korban 291 orang meninggal. Gempa bumi dan tsunami di Mentawai dengan korban 509 orang meninggal, dan letusan gunung api Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta menyebabkan 386 orang meninggal.

    Bencana-bencana tersebut disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana antara lain: Bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia (man-made hazards) yang menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation) Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat

    Ditinjaudarisebarankejadianbencana, maka Kabupaten Bojonegenoro, Cilacap, Kota Samarinda, Bandung dan Pasir adalah kabupaten yang memiliki jumlah kejadian bencana terbanyak di Indonesia. Sedangkan dari sebaran jumlah korban orang meninggal, maka kabupaten Mentawai, Teluk Wondamam Sleman, Magelang, Bandung dan Klaten adalah wilayah yang memiliki jumlah Koran terbanyak di Indonesia akibat bencana. Kerugian yang ditimbulkan oleh bencana selama tahun 2010 cukup besar. Beberapa kerugian dan kerusakan akibat bencana yang sudah dihitung dengan menggunakan metode Damage and Lossess Assessment oleh BNPB dan Bappenas menunjukkan kerugian yang cukupbesar. Kerugian dan kerusakan bencana banjir bandang Wasior mencapai Rp 208,6 miliar, Mentawai Rp 315 miliar dan Merapi lebih dari Rp 4,1 trilyun. Total kerugian dan kerusakan akibat bencana dari 644 kejadian di Indonesia diperkirakan lebih dari Rp 15 trilyun rupiah.

    Kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi serta percepatan pemulihan ekonomi dari bencana memerlukan dana yang sangat besar. Untuk Wasior kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi mencapai Rp 370,4miliar. Sedangkan untuk kebutuhan percepatan pemulihan ekonomi mencapai Rp 600 miliar sehingga diperkirakan kebutuhan totalnya sekitar Rp 1 trilyun. Demikian pula dengan Mentawai, kebutuhan rehab rekon mencapai Rp 368,3miliar. Untuk Merapi, kebutuhannya lebih besar daripada bencana lain yang terjadi selama 2010. Saat ini kebutuhan tersebut baru dihitung dengan metode Human Needs Recovery Assessment. Pemerintah telah menganggarkan Rp 4 trilyun dalam DIPA 2011 untuk dan bantuan social penanggulangan bencana. Dana tersebut digunakan untuk mengcover seluruh bencana di Indonesia sehingga kurang dibandingkan dengan kebutuhan yang ada. Untuk itu lah maka rehab rekonWasior, Mentawai dan Merapi diperkirakan selesai hingga tahun 2013.

    Partisipasi para relawan kemanusiaan yang menyumbangkan beragam sumber daya dalam upaya penanganan bencana ini merupakan bukti nyata atas hidupnya solidaritas sosial-kemanusiaan serta jejaring kerjasama untuk mengurangi penderitaan sesame dan kehendak untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat atau bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana, khususnya di kawasan Gunung Merapi.
    Kendati solidaritas rakyat Indonesia sangat besar dan membanggakan, kita jangan terus bergantung pada kerelaan berbagi masyarakat. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan mengorganisasikan solidaritas besar ini. Setiap bencana tentunya berkonsekuensi pada biaya besar secara ekonomi dan social. Kalau jujur, dan jika bias dihitung, sebenarnya masyarakat Indonesia menanggung bagian paling besar dari setiap bencana. Bahkan biaya tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali dari pemerintah sesungguhnya dating dari rakyat Indonesia berupa pajak dan pungutan lainnya.Jumlahnya saat ini ;triliunan rupiah.

    Berefleksi sejenak akan penanganan bencana, terlihat belum ada pengorganisasian solidaritas rakyat Indonesia. Tidak ada satupun perangkat hokum atau aturan apapun mengenai hal ini. Undang-undang 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sama sekali tidak menyinggung soal peranorganisasi kemasyarakatan (masyarakatsipil) dalam kebencanaan. Undang-undang ini menyinggung peran perusahaan swasta dan lembaga bantuan termasuk lembaga PBB. Pada hal masyarakat umum melalui organisasi-organisasi masyarakat sipil bias melakukan berbagai langkah upaya penanggulangan bencana bahkan pengurangan resiko bencana. Bahkan peraturan pemerintah dibidang peran lembaga asing sudah ada.Tapi PP tentang peranmasyarakat sipil tidak bias dikeluarkan karena memang tidak disinggung di undang-undang. Paling jauh, pemerintah bias mengeluarkan peraturan pemerintah tentang pera nmasyarakat pada umumnya dan ini belum dilakukan. Mungkin dalam peraturan pemerintah ini bias juga mencakup peranmasyarakat sipil tadi kita tunggu dan kita dorong.

    Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bias menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga pun berarti bantuan yang disalurkan efesien artinya bias cepat sampai kepenyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhannya taparapenyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan jugaa kuntabel, yang berarti bias dipertanggung-jawabkan atau kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.

    Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahubahwa slogan ini tinggal slogan saja.Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir. Langkah lain yang penting adalah soal-soal pengurangan resiko bencana. Pada tahapan ini semua komponen masyarakat, termasuk didalamnya sekolah-sekolah, dilatih dan mampu menghadapi bencana jika terjadi. Sehingga mereka bias dengan sistimatis mengurangi dampak bencana.

    NAMA : FURI LINANDA
    NIM : 08/271560/DPA/3002
    PRODI : D3 REKAM MEDIS

    Referensi :
    Nugroho, Sutopo Purwo. Catatan Akhir Tahun 2010 dan Antisipasi Bencana 2011.Diakses dari http://www.bnpb.go.id/irw/berita.asp?id=240tanggal 12 jan 10 11.16
    Pusdatinhumas.GelarApresiasi Terhadap Relawandan Pekerja Kemanusiaan.Diakses dari http://www.bnpb.go.id/irw/berita.asp?id=238tanggal 12 jan’11 11.17

    Potensi Ancaman Bencana. Diakses dari http://www.bnpb.go.id/irw/benc_m.asp?bid=2 12 jan ’11 11.19

    http://ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=236%3Anews&catid=1%3Alatest-news&Itemid=18&lang=id 12 jan 2011 11.34

  50. NAMA : Muslimah millati k.
    NIM : 07/257863/DPA/2745
    PRODI : REKAM MEDIS (A)

    POTENSI KERAWANAN TERDAPAT HIKMAH BENCANA MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Dengan sering adanya bencana dibangsa kita cukup membuat sedih dan pilu hati kita ketika melihat, mendengar ataupun membaca berita yang melanda negeri ini. Ratusan nyawa melayang, ribuan orang mengungsi karenanya. Tetesan air mata, tangisan dan kesedihan dapat kita rasakan bersama. Bencana beruntun melanda negeri ini, mulai dari banjir bandang di Wasior Papua, gempa bumi dan tsunami di Mentawai disusul meletusnya Gunung Merapi. Berbagai musibah maupun bencana yang terjadi di negeri ini hendaknya menggugah batin kita agar meningkatkan solidaritas terhadap sesama. Aksi sosial penggalangan dana untuk membantu para korban bencana itu merupakan usaha mulia dan merupakan aplikasi nyata dari jiwa kepahlawanan untuk menolong sesama yang sedang ditimpa bencana. Untuk itu, mari kita sisihkan sebagian harta kita untuk membantu para korban bencana. Semoga kita dapat meningkatkan rasa solidaritas terhadap sesama. Tak lupa berikan apresiasi kepada para penggalang dana yang telah meluangkan waktu untuk mengumpulkan bantuan bagi para korban bencana. Begitu juga para relawan yang gigih menolong bahkan mereka pun menjadi korban dahsyatnya awan panas Merapi.
    Dapat diakui, para korban dari musibah tsunami di Mentawai dan Gunung Merapi benar-benar berada pada ketidakpastian tinggi. Ini sangat jelas terlihat bagaimana nasib mereka yang sedang tertimpa musibah itu sejak bencana datang sampai sekarang. Gempa memang bisa diprediksi, tetapi kapan datang dan di mana letak posisi tepatnya tidak ada orang yang tahu, termasuk para ahli sendiri. Demikian juga Merapi yang meletus bisa diprediksi, tapi seberapa skalanya juga tidak diketahui persis.
    Tentu keadaan ini sangat memprihatinkan dengan keadaan itu. Tugas pemerintah bersama aparat, lembaga swadaya masyarakat dan sukarelawan adalah membangkitkan kembali semangat dan daya hidup mereka. Semangat dan daya hidup para pengungsi harus dibangkitkan, dan kesadaran harus terus ditumbuhkan. Bersamaan dengan itu, masyarakat luas perlu meningkatkan solidaritas dan tanggungjawabnya dalam banyak bentuk. Para pengungsi jelas sangat membutuhkan bantuan material maupun immaterial. Di antara kita sudah seharusnya bergotong royong membangun kebersamaan, sehingga para korban tidak merasa dibiarkan dalam kepedihan.
    Dengan sangat mengimbau masyarakat luas dari jajaran individu-individu, kelompok, komunitas, jajaran swasta maupun pemerintah untuk bergandengan tangan meningkatkan bantuan. Memahami teman, sahabat dan juga warga bangsa yang sedang tertimpa musibah bukan hanya menunjukkan rasa kebersamaan, tetapi juga bagian dari memahami keberadaan sesama makhluk Tuhan. Masjid, Gereja, Vihara, Pura, dan lain-lain perlu mengetuk hati jemaatnya untuk menjadi tangan Tuhan.
    Saat ini perlu pembuktian persaudaraan dan empati kepada orang lain. Oleh karena itu, sikap peduli dan gotong-royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia perlu kembali dihidupkan. Terutama dalam menghadapi masa-masa kesulitan seperti sekarang. Uluran tangan dan perhatian masyarakat di luar wilayah musibah sangat dibutuhkan.
    Saya sangat salut dengan bangsa ini, yang akhir-akhir ini sering terjadi konflik antar desa, suku, tawuran mahasiswa, bentrok, bahkan perseteruan di dalam gedung DPR yang sampai adu mulut bahkan fisik. Namun, begitu ada bencana yang melanda di salah satu bagian dari negeri ini, semuanya bersatu padu berbondong-bondong memberikan bantuannya kepada korban bencana melalui bantuan berupa uang, bahan makanan, pakaian, bantuan tenaga, moral, dan sebagainya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bantuan yang mengalir kepada stasiun-stasiun televisi yang membuka atau mengumpulkan bantuan. Selain itu juga banyak bantuan yang dikumpulkan melalui situs jejaring sosial facebook, twitter, dan sebagainya. Tidak kalah pentingnya, juga banyak masyarakat yang berdatangan di lokasi bencana untuk memberikan bantuan berupa fisik dan moral sebagai relawan yang gigih berjuang membantu para korban bencana dari kegelisahan, kesusahan, dan kecemasan. Adanya kepedulian ini, baru-baru ini masyarakat Yogyakarta menggelar kegiatan arakan monumen nasi bungkus raksasa, kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi dari masyarakat Yogyakarta kepada para relawan dan penyumbang bagi para korban bencana yang telah berusaha membantu kesulitan para korban dan sebagai simbol persatuan dan persaudaraan sesama bangsa.
    Semua yang dilakukan oleh bangsa ini dalam menolong para korban bencana merupakan bentuk solidaritas bangsa ini kepada sesama warga negara Indonesia. Tidak dipungkiri lagi bahwa dibalik bencana ini, ada dampak positif bagi rakyat Indonesia yaitu mempererat rasa solidaritas dan saling peduli terhadap sesama dan memang itu yang seharusnya kita lakukan. Rasa solidaritas seharusnya tidak muncul hanya ketika salah satu dari warga kita mengalami musibah atau dalam kondisi terancam oleh suatu hal atau bangsa lain. Namun, solidaritas hendaknya selalu ditumbuhkan dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia setiap saat, dimana saja, dan kepada siapa saja karena dengan solidaritas persatuan dan kesatuan bangsa akan tercipta kekal serta semua permasalahan bangsa akan terselesaikan bersama-sama. Sehingga tidak perlu lagi dan tidak akan terjadi perselisihan diantara sesama bangsa Indonesia.
    Oleh karena itu, marilah kita ambil hikmah dari bencana yang telah terjadi, kita harus introspeksi diri terhadap kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat dan harus mau bersatu dengan sesama bangsa Indonesia walaupun bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Dengan saling peduli akan menciptakan rasa solidaritas dan persatuan bangsa.

    REFERENSI:
    - Nasional Republika. 2010. Tingkatkan Solidaritas Sosial. Diakses dari http://www.bataviase.co.id pada tanggal 11 Januari 2011 pukul 11.00 WIB.

    - Edy Rachmad. 2010. Makna Sosial Gunung Sinabung. Diakses dari http://www.waspadamedan.com pada tanggal 11 Januari 2011 pukul 11.00 WIB.

    - Media Online Bhirawa . 2010. Solidaritas Korban Bencana. Diakses dari http://www.harianbhirawa.co.id pada tanggal 11 Januari 2011 pukul 11.00 WIB.

    - Haryanto. 2010. Aksi Sosial Bencana. Diakses dari http://www.forum.banjarmasinpost.co.id pada tanggal 11 Januari 2011 pukul 11.00 WIB.

  51. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA
    Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di dua benua dan dua samudera serta berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik dalam wilayah khatulistiwa sehingga wilayah Indonesia sangat strategis dengan kekayaan dan keunikan kondisi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Nilai positif yang timbul dari potensi kerawanan bencana adalah Potensi kerawanan tersebut harus dikurangi melalui sejumlah antisipasi. Misalnya, untuk lahan rawan banjir tentu perlu perbaikan sarana dan prasaran pengairan. Begitu pula untuk daerah yang rawan longsor, tentu ada upaya untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya seperti itu. Selain kegiatan yang bertujuan memperkecil potensi dampak, pemerintah diharapkan dapat juga melakukan upaya pembenahan lingkungan, yang menjadi salah satu penyebab terjadinya musibah. Agus menyebut salah satunya, reboisasi di lahan rawan longsor. “Terutama di kawasan atas, masih butuh penanganan seperti itu,” ujarnya.
    Ada pula bencana alam, yang mesti dibedakan dari bencana yang disebabkan oleh ketidakepulian atau keangkuhan manusia. Bumi bergetar, laut berkecamuk, gunung memuntahkan lahar panas. Kita alami seolah bumi di wilayah kita kian rapuh, bak tulang-tulang tua yang mudah patah sini retak sana. Sekali lagi kita pun alami, betapa rapuhnya peradaban yang kita bangun. Rumah yang dibangun dengan keringat dan air mata, kebun dan sawah yang dikerjakan dengan ketekunan di bawah terik mentari disirami hujan, infrastruktur yang akhirnya dikerjakan setelah sekian kali dijanjikan, semuanya hancur dalam hitungan detik. Gempa bumi, tsunami dan letusan gunung api memang merupakan bencana alam, namun mereka memiliki kaitan yang sangat erat dengan kebudayaan. Alam sebenarnya berbeda dari kebudayaan. Alam adalah sesuatu yang terberi, sementara kebudayaan adalah apa yang dikerjakan dan diolah manusia berhadapan dengan alam. Olah cita, rasa dan raga manusia menghadapi alam, mengapresiasi atau menguasai alam menghasilkan kebudayaan. Entah dongeng dan mitos mengenai manusia purba atau teknologi canggih yang merekayasa struktur genetik, semuanya lahir dari kebutuhan dasariah yang sama, menjawabi realitas alam, kendati semua itu mempunyai dampak yang beraneka. Karena kebudayaan merupakan tanggapan atas realitas alam yang terberi, maka mestinya, sebagai masyarakat yang hidup di daerah yang harus terus mengalami bencana alam, kita mengembangkan sebuah kebudayaan yang membuat kita lebih matang menghadapi bencana alam.
    Kita mesti menilai diri sebagai bangsa yang kurang cerdas, apabila bencana yang terjadi hampir setiap tahun menemui kita dalam keterkejutan dan ketidaksiapan. Sampai sekarang, solidaritas masyarakat internasional masih cukup besar membantu kita mengatasi akibat bencana. Namun, kalau kita terkesan tidak pernah belajar dari rentetan ini, mungkin yang akan kita terima hanyalah pernyataan turut bersedih. Kita perlu memikirkan secara semakin serius penyebaran kesadaran bahwa kita hidup di daerah bencana. Itu berarti, kita mesti mencari jalan untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang bagaimana mencegah dampak bencana alam dan apa yang mesti kita lakukan kalau memang bencana alam itu terjadi. Teknik membangun rumah sederhana dan murah tahan gempa perlu disebarluaskan. Kecakapan membaca gejala alam dan bereaksi atas informasi mengenai bencana alam perlu menjadi bahan kurikulum di sekolah-sekolah kita. Solidaritas yang spontan namun efektif untuk membantu para korban bencana pun perlu dilatih. Di sini, lembaga-lembaga agama perlu memikirkan kontribusinya. Dan tentu saja, transparansi pengelolaan dana bantuan merupakan satu keharusan moral yang mesti menemukan sistemnya. Tapi disisi lain, kita juga bangga dengan rakyat Indonesia yang memperlihatkan solidaritas besar. Solidaritas itu berupa sumbangan dana untuk korban bencana dan ratusan relawan yang kadang-kadang harus mengadu nyawa di Mentawai dan Merapi untuk memberi pelayanan kepada penyintas.
    Kendati solidaritas rakyat Indonesia sangat besar dan membanggakan, kita jangan terus bergantung pada kerelaan berbagi masyarakat. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan mengorganisasikan solidaritas besar ini. Setiap bencana tentunya berkonsekuensi pada biaya besar secara ekonomi dan social. Kalau jujur, dan jika bisa dihitung, sebenarnya masyarakat Indonesia menanggung bagian paling besar dari setiap bencana. Bahkan biaya tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali dari pemerintah sesungguhnya dating dari rakyat Indonesia berupa pajak dan pungutan lainnya. Jumlahnya saat ini triliunan rupiah. Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir. Terakhir adalah mitigasi bencana atau segala upaya untuk meredam bahaya bencana. Mitigasi ini bisa berupa pembangunan tanggul, pengerukan sungai, rumah tahan gempa, jalur evakuasi, bahkan penghijauan di gunung dan di pantai menanam mangrove. Terlebih lagi, secara serius memerangi kemiskinan masyarakat, karena kemiskinan merupakan kerawanan besar dan kelemahan besar ketika masyarakat menghadapi bencana.
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam. Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.

    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Bukti solidaritas yang tinggi terlihat pada saat terjadi letusan merapi,banyak relawan yang membantu.

    DAFTAR PUSTAKA

    www. ytbindonesia.org/index
    http://www.teknologi.kompasiana.com/
    http://www.suaramerdeka.com
    http://www.theindonesianinstitute.com

    Nama :Dessy Dwi Anggraini
    Nim : 08/271572/DPA/3013
    Klas : REKMED A

  52. potensi kerawanan bencana alam bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa
    Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir. Hari-hari ini Indonesia berduka dengan musibah bencana alam yang terjadi berganti dan bersamaan. Belum pulih dan tertangani bencana banjir Wasior, Papua, tanah air kita sudah didera bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi. Masih disusul lagi dengan gejala 22 gunung berapi yang tersebar di kepulauan Nusantara kita yang menunjukkan peningkatan aktivitas. Tanah air kita sungguh-sungguh dihadapkan pada risiko bencana alam yang meningkat dalam waktu bersamaan. Banjir Wasior memprihatinkan kita karena penanganannya yang terkesan kurang perhatian dari pemerintah pusat. Ini menjadi tipikal mitigasi bencana alam yang terjadi jauh dari sentra pemerintahan di Jakarta. Tsunami Mentawai memprihatinkan kita selain karena respon darurat tanggap bencana yang terhambat oleh banyak faktor termasuk kondisi lapangan yang sulit ditempuh. Letusan gunung Merapi memprihatinkan kita karena letusannya kali ini dapat dikatakan lebih parah dari sebelumnya. Kendala evakuasi tidak hanya masalah fisik namun juga psikologis.
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Sebagai negara yang memiliki potensi bencana sangat besar, Indonesia perlu menerapkan kurikulum kebencanaan di lembaga-lembaga sekolah agar anak didik memiliki pengetahuan dan wawasan tentang potensi bencana yang sangat rawan terjadi di negeri kita tercinta. Wacana Kurikulum Kebencanaan pendidikan berupaya menanamkan kesadaran kepada anak didik tentang psikologis orang yang tertimpa bencana sehingga dapat ditransmisikan kepada masyarakat yang belum mengenal betul potensi kerawanan bencana. Pada titik inilah, pendidikan kebencanaan akan diarahkan untuk mendorong anak didik yang berada di area rawan bencana agar memberikan penyuluhan terkait kesiagapan kita dalam menghadapi bencana alam. Dengan kata lain, masyarakat harus disadarkan bahwa mereka hidup di lingkungan alam yang rawan bencana alam, seperti gempa, letusan gunung api, tsunami, dan tanah longsor. Cara paling efektif untuk menyadarkan itu adalah melalui pendidikan sejak usia dini yang bisa diterapkan di lembaga-lembaga sekolah.
    Dengan pengetahuan lingkungan yang kuat, anak-anak Indonesia akan mampu memanfaatkan potensi alam untuk kesejahteraan serta menjaga alam sebaik-baiknya guna mencegah terjadinya bencana atau kerugian yang lebih besar dari fenomena alam. Penerapan kurikulum kebencanaan ini akan efektif dan menghasilkan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat manakala pemerintah memberikan pelatihan serius tentang mitigasi kebencanaan dan melakukan mobilisasi kesiapan terhadap setiap bencana yang sedang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Itulah sebabnya, penerapan pendidikan atau pelatihan tentang kebencanaan diharapkan dapat membantu penyiapan mental dan kesadaran publik dalam melakukan tindakan antisipatif pada saat dan sesudah bencana terjadi. Selain itu, edukasi kebencanaan juga dapat meminimalisir korban jiwa karena masyarakat akan memperoleh pemahaman tentang penyelamatan jiwa saat bencana itu terjadi. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan kebencanaan sejak usia sekolah memang menjadi mutlak untuk diterapkan agar semua komponen masyarakat bisa terlibat langsung dalam penanganan bencana. Pendidikan kebencanaan bila diterapkan dengan baik, akan mampu merekatkan solidaritas sosial yang selama ini menjadi jarang di lingkungan masyarakat kota yang individualistik. Dengan edukasi kebencanaan dimunculkan rasa tanggung jawab sosial bersama tanpa harus melihat kelas dan strata sosial maupun kesenjangan hidup masing-masing individu.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal. Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.
    Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris, melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi sosial networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam. Apalagi kita juga harus menyebut bahwa sementara para korban bergulat untuk bertahan hidup, namun pejabat publik malah sempat-sempatnya pergi ke luar negeri untuk alasan studi banding yang sudah diprogramkan. Orang nomor satu di negara kita (RI-1) pun sempat mengecewakan kita saat ketika terjadi bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi, beliau entah di mana, yang ternyata juga masih berada di tengah kunjungan ke negara lain, bahkan memilih melakukan koordinasi penanganan bencana dari nun jauh di negara yang sedang dikunjunginya, dan tidak langsung kembali ke tanah air sebagai tanda empati dan komitmen terhadap masalah rakyat.
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam jam 13.53 senin 10 jan 2011

    http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=7&id=4591 jam 21.34 selasa 11 jan 2011
    NAMA : NI LUH YULYASTUTIASIH
    NIM : 08/DPA/271675/03054
    PRODI : D3 REKAM MEDIS

  53. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA
    Menurut Portal Nasional Republik Indonesia, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau. Indonesia terbentang antara 6 derajat garis lintang utara sampai 11 derajat garis lintang selatan, dan dari 97 derajat sampai 141 derajat garis bujur timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia/Oceania. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi. Pulau-pulau terbentuk sepanjang garis yang berpengaruh kuat antara perubahan lempengan tektonik Australia dan Pasifik. Lempengan Australia berubah lambat naik kedalam jalan kecil lempeng Pasifik, yang bergerak ke selatan, dan antara garis-garis ini terbentanglah pulau-pulau Indonesia. Ini membuat Indonesia sebagai salah satu negara yang paling banyak berubah wilayah geologinya di dunia. Pegunungan-pegunungan yang berada di pulau-pulau Indonesia terdiri lebih dari 400 gunung berapi, dimana 100 diantaranya masih aktif.
    Kejadian bencana gempa dan tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias akhir tahun 2004 lalu, telah menyisakan kengerian dan keprihatinan yang mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Bentuk bencana ini memang bukan merupakan sebuah kejadian bencana yang sifatnya baru di Indonesia, namun banyaknya korban jiwa serta besarnya dampak yang timbul dari bencana ini memang begitu luar biasa. Menurut catatan Bakornas, sebelum kejadian bencana tsunami di NAD dan Nias di Indonesia telah terjadi 23 kali bencana gempa yang diikuti dengan tsunami dengan besaran skala yang bervariasi dalam kurun waktu tahun 1997 – 2004. Bencana gempa dan tsunami ini bukanlah merupakan satu-satunya jenis bencana yang kerap melanda negeri ini. Dalam kurun waktu yang sama dinyatakan telah terjadi 647 kali kejadian bencana alam yang meliputi bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin topan dan letusan gunung berapi, dengan jumlah korban jiwa sebanyak 2.022 dan perkiraan jumlah kerugian material ratusan milyar rupiah (http://www.pu.go.id).
    Selain itu bencana yang baru saja terjadi adalah banjir di wasior, tsunami di mentawai dan meletusnya gunung merapi. Saat ini yang banyak mendapat sorotan adalah meletusnya gunung Merapi. Sejak awal sejarah letusan Gunung Merapi sudah tercatat bahwa tipe letusannya adalah pertumbuhan kubah lava kemudian gugur dan menghasilkan awanpanas guguran yang dikenal dengan Tipe Merapi (Merapi Type). Kejadiannya adalah kubahlava yang tumbuh di puncak dalam suatu waktu karena posisinya tidak stabil atau terdesak oleh magma dari dalam dan runtuh yang diikuti oleh guguran lava pijar. Dalam volume besar akan berubah menjadi awanpanas guguran (rock avalance), atau penduduk sekitar Merapi mengenalnya dengan sebutan wedhus gembel, berupa campuran material berukuran debu hingga blok bersuhu tinggi (>700oC) dalam terjangan turbulensi meluncur dengan kecepatan tinggi (100 km/jam) ke dalam lembah. Puncak letusan umumnya berupa penghancuran kubah yang didahului dengan letusan eksplosif disertai awanpanas guguran akibat hancurnya kubah. Secara bertahap, akan terbentuk kubahlava yang baru.
    Awan panas yang berguguran adalah erupsi dari Gunung Merapi. Erupsi Merapi dapat menimbulkan kerusakan di lingkungan sekitar Merapi, sepert, abu vulkanik yang terbuat dari batu bubuk, bisa kasar, asam, berpasir, mengandung bau belerang. Meskipun tidak menimbulkan efek langsung untuk kebanyakan orang dewasa, gas belerang dan abu dapat menyebabkan kerusakan paru-paru pada bayi kecil, untuk orang dewasa, dan untuk mereka yang menderita penyakit pernapasan parah. Abu vulkanik juga dapat merusak mesin, termasuk mesin dan peralatan listrik. Jika abu tercampur dengan air akan menjadi berat dan dapat menutup atap. Abu vulkanik dapat mempengaruhi orang ratusan mil jauhnya dari kerucut gunung berapi. Banyak korban berjatuhan dari peristiwa tersebut.
    Bencana yang terjadi di Indonesia dapat dilihat dari aspek positif dan aspek negative. Aspek negative yang ditimbulkan adalah ketika bantuan bagi korban bencana disalhgunakan. Misalnya kasus korupsi dana bantuan tsunami di Pangandaran Jawa Barat pada 2006 yang menyeret dua pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat yakni Asep Hartiyoman dan Ade Kusuma. Oleh Pengadilan Tipikor keduanya diputus bersalah dan divonis hukuman satu tahun penjara, denda Rp 50 juta dan diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 570 juta. Kedua terpidana sebelumnya merupakan pemegang kuasa anggaran Dinas Perikanan Jawa Barat dan pimpinan proyek pengadaan. Mereka sengaja melakukan tindak pidana korupsi, yaitu menerima uang dari rekanan sebagai uang pelicin untuk memenangkan PT Karya Tajur Tangsi dalam proyek pengadaan perahu, PT Pentarapan Putra untuk pengadaan rumpon, dan PT Buntalan Darmaja Bersaudara untuk pengadaan mesin serta alat tangkap. Keduanya juga telah menyetujui proposal harga yang tidak sesuai dengan peraturan dan tidak melakukan survey harga sebelumnya.
    Selain itu ada pula kasus bulan Agustus silam, KPK juga pernah menerima laporan dari Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, Jawa Tengah tentang pengambilan keuntungan dari program pembangunan kembali rumah penduduk yang terkena gempa pada Mei 2006. Eko Harianto, ketua komite tersebut melaporkan dugaan korupsi secara massal yang dilakukan oleh aparat birokrasi dari tingkat desa hingga pemerintah kota /kabupaten Klaten Jawa Tengah. Total dana yang diduga dikorupsi pada program rehabilitasi/rekonstruksi pasca bencana gempa di Kabupaten Klaten sebesar (minimal) Rp 275,19 miliar. Kasus itu hingga saat ini masih ditelaah oleh KPK. (http://www.beritasatu.com/articles/read/2010/11/1586/kpk-bisa-usut-penyalahgunaan-dana-bantuan-bencana)
    Aspek negative ini tentu saja tidak boleh berkembang. Sangat memalukan sekali bangsa ini bila bantuan saja dikorupsi. Aspek negative ini dapat diambil hikmah dan pembelajaran untuk memajukan bangsa ini. Sebagai manusia kita harus belajar untuk berpikir positif dengan keadaan yang ada. Potensi kerawanan bencana tidak selalu memiliki dampak negative. Tapi dampak positif yang didapat sangatlah banyak.
    Menurut Pancasila sila ke 3 yaitu “Persatuan Indonesia” bahwa Negara Indonesia adalah satu kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Dan walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Apabila di suatu wilayah terkena bencana maka wilayah lain ikut merasakannnya pula. Banyak masyarakat Indonesia yang tergerak hatinya untuk membantu korban bencana mulai dari bantuan sandang, pangan, papan, uang bahkan tenaga relawan. Semua bantuan mengucur dari berbagai masyarakat di Indonesia yang berempati dengan bencana yang terjadi. Selain itu pemerintah juga membantu para korban bencana. Sehingga rasa solidaritas dan soliditas terpupuk dari semua kalangan. Jadi, Potensi kerawanan bencana jika disikapi dengan baik tanpa adanya korupsi bernilai positif untuk memupuk soliditas dan solidaritas bangsa.
    Daftar Pustaka :

    Diakses tgl 11 Jan 2011 jam 22.10. http://www.beritasatu.com/articles/read/2010/11/1586/kpk-bisa-usut-penyalahgunaan-dana-bantuan-bencana
    Diakses tgl 11 Jan 2011 jam 22.00 http://www.scribd.com/doc/39644086/Perbaikan-Manajemen-Bencana-Indonesia.
    Diakses tgl 11 Jan 2011 jam 22.05 http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=112&Itemid=1722

    Nama : Nourmalita Sari Putri
    Nim : 08/272577/DPA/3074
    Rekmed B

  54. Potensi Kerawanan Bencana Sesungguhnya Bernilai Positif Untuk Meningkatkan Solidaritas Dan Soliditas Bangsa

    Sebelum kita membahas tentang potensi kerawanan bencana sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa, akan lebih baik kita menelaah terlebih dahulu tentang pengertian dan definisi dari kata-kata tersebut. Ditinjau dari katanya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, potensi adalah kemampuan/kekuatan, kesanggupan/daya yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan. Kerawanan adalah keadaan yang mudah menimbulkan gangguan keamanan atau bahaya/gawat. Bencana adalah sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Solidaritas adalah sifat (perasaan) solider yang bersifat mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu (senasib, sehina, semau, dsb), dan perasaan setia kawan. Soliditas adalah keadaan (sifat) solid (kuat, kukuh, berbobot, dsb).
    Bencana merupakan bagian yang tak mungkin terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap Negara di seluruh dunia pasti pernah merasakan yang namanya bencana alam. Bencana alam sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia, dan atau oleh keduanya dan menyebabkan korban manusia, penderitaan, kerugian, kerusakan sarana dan prasarana lingkungan dan ekosistemnya serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Secara geografi maupun geologi, posisi Indonesia memang rentan terhadap bencana alam. Indonesia relatif rentan terhadap bencana, baik bencana geologi (gempa, gunung meletus, dan semburan lumpur), oseonologis (banjir pasang), meteorologis (banjir, kekeringan, puting beliung), maupun gabungannya (tsunami, tanah longsor, dan gelombang tinggi). Sebagian akibat proses alami yang tidak ada peran manusia, seperti gempa, gunung meletus, dan tsunami. Sebagian lagi akibat proses alami yang terkait dengan ulah manusia, baik secara langsung (seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor), maupun yang tidak langsung (seperti banjir pasang akibat penurunan permukaan tanah daerah pantai). Natural Disaster Reduction tahun 2007 mencatat, lebih dari separuh gempa bumi di Asia Tenggara terjadi di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2008 mencatat, dari tujuh jenis bencana langganan di Indonesia, sejumlah kabupaten/kota memiliki potensi kerawanan tinggi. Dari 456 kabupaten/kota, 119 kabupaten/kota dengan kerawanan tinggi erosi, 147 kabupaten/kota berkerawanan tinggi banjir, dan 213 kabupaten/kota berkerawanan tinggi gempa. Selanjutnya, 110 kabupaten/kota berkerawanan tinggi gunung api, 149 kabupaten/kota berkerawanan tinggi kekeringan, 154 kabupaten/kota berkerawanan tinggi longsor, dan 83 kabupaten/kota berkerawanan tinggi tsunami. Maka dapat disimpulkan, bencana-bencana di Indonesia sebenarnya adalah peristiwa alam yang pasti akan terjadi.
    Pelajaran dimasa lalu, ternyata belum mumpuni untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Penanganan korban kali ini tidak berbeda jauh dari beberapa tahun silam. Waktu itu, banyak korban mengeluhkan lambatnya penanganan dan penyaluran bantuan. Padahal sesungguhnya, bangsa kita sudah belajar dari kejadian-kejadian yang sudah terjadi dimasa yang lalu. Seringnya terjadi terpaan bencana saat ini, justru menegakkan solidaritas sosial. Kita berhenti hanya meratapi penderitaan dan sibuk menyalahkan orang lain. Upaya baru terus dilakukan. Solidaritas kemanusiaan akhirnya digalakkan. Semua ikut menderita. Alasannya, menunggu kebijakan negara yang kerap lambat menangani bencana bisa membuat saudara kita semakin terpuruk merasakan bencana. Warga bangsa bersatu padu menggalang solidaritas sehingga bisa memberikan senyum bahagia. Gerakan masyarakat sipil segera tanggap sehingga mampu melakukan konsolidasi sosial dalam merekrut para dermawan untuk berbagi. Pada masyarakat Indonesia sudah tertanam dalam sanubarinya untuk bersama-sama meringankan beban saudara yang terkena musibah. Dalam konteks kemanusiaan, tali persaudaraan juga menjadi tali kasih sayang dengan sesama. Jangan sampai kasih sayang terputus antarsesama. Dalam konteks keberagamaan, solidaritas sosial bisa menumbuhkan kepekaan sosial untuk meneguhkan persaudaraan dalam menjaga Indonesia. Solidaritas sosial ini sangat penting bagi Indonesia untuk menapaki kebangkitan bangsa. Sebab, masyarakat yang terkena bencana adalah bagian dari republik ini. Penderitaan rakyat mereka adalah penderitaan seluruh komponen bangsa ini, penderitaan republik. Untuk itu, gerak cepat lainnya harus tetap diupayakan. Berharap banyak pada pemerintah, kelihatannya bukan merupakan satu-satunya langkah untuk menanggulangi permasalahan ini. Kita, masyarakat Indonesia sekarang sudah berperan di dalamnya. Solidaritas kemanusiaan bangkit. Solidaritas sesungguhnya sudah kita tunjukkan ketika bencana berungkali terjadi. Bencana, apapun bentuknya dan di mana pun letaknya, adalah derita kita semua. Dengan memakai naluri kemanusiaan kita melihat malapetaka yang tragis dan dramatis ini, solidaritas timbul. Akhirnya, sekarang rakyat Indonesia menunjukkan rasa solidaritas sosial dan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya untuk secara konkret dengan memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan mereka. Solidaritas yang diwujudkan tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana. Jangan lagi ada pengkotak-kotakan yang membatasi jiwa kemanusiaan kita.
    Hal yang patut diapresiasi dari semua ini adalah sikap warga masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana, yang datang silih berganti menimpa. Semangat dan sikap itu pulalah yang terlihat secara mengesankan. Luar biasa semangat, ekspresi, ataupun dampak solidaritas sosial itu. Tanpa perlu dikomando, spontan warga masyarakat secara perseorangan atau berkelompok mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan pertolongan. Makna dan nilai solidaritas sosial itu sungguh besar, lebih-lebih bagi bangsa dan negara Indonesia, yang sangat rawan terhadap berbagai bencana. Maka, dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan, rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Ekspresi rasa setia kawan seperti tidak habis-habisnya sekalipun bencana datang silih berganti. Ya, solidaritas sosial merupakan ekspresi paling orisinal dan suci dari manusia dan kemanusiaan. Rasa setia kawan lahir dari dorongan hati paling dalam dan murni. Kekuatan terbesarnya terletak pada sikap menolong, dan kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama. Semangat kepahlawanan yang bertumpu pada sikap pengorbanan selalu dibutuhkan. Semangat “pengorbanan tidak hanya dibutuhkan untuk menghadapi bahaya bencana yang senantiasa mengintai Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan hidup bersama sehari-hari. Semoga, solidaritas sosial di atas tidak menjadi luntur, sebab solidaritas sosial telah menjadi solidaritas bangsa kita.
    Dengan demikian, potensi kerawanan bencana memiliki nilai positif dalam meningkatkan solidaritas dan soliditas bangsa. Musibah bencana yang terjadi justru semakin melekatkan rasa solidaritas kita sebagai sesama warga Indonesia. Solidaritas bangsa senasib sepenanggungan inilah yang harus selalu kita kuatkan agar kita bangkit menjadi bangsa besar. Bukan hanya besar dalam jumlah penduduknya dan luas wilayahnya, tapi juga besar sebagai negara berkarakter. Dunia akan melihat bangsa yang majemuk ini berdiri menjadi sebuah negara besar nan solid.
    Semoga menginspirasi kita untuk lebih berkontribusi bagi Indonesia yang kita cintai.

    Nama: Febrina Listyawati
    NIM: 08/271571/DPA/03012
    Prodi: D3 Rekam Medis UGM

    Referensi
    Departemen Pendidikan Nasional. (2008) Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat Pusat Bahasa. Jakarta: Gramedia.
    http://www.tumblr.com/tagged/perencanaan/page/2/1518203984
    http://www.radarlampung.co.id/web/opini/tajuk/24489-soliditas-bencana
    http://t-djamaluddin.mobile.spaces.live.com/ent.aspx?h=cns!D31797DEA6587FD7!628
    http://www.facebook.com/group.php?gid=164396186905368
    http://www.mertodaily.com/index.php/opinion/225-solidaritas-sebagai-bangsa

  55. Potensi Kerawanan Bencana Sesungguhnya Bernilai Positif Untuk Meningkatkan Solidaritas dan soliditas Bangsa

    Di dalam sejarah bangsa Indonesia, perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dilakukan secara bersama komponen bangsa dan strategi ini ternyata berhasil dengan baik. Keberhasilan ini terutama dilandasi oleh soliditas bangsa Indonesia pada saat itu sebagai akibat ketidakpuasan masyarakat terhadap kesewenang-wenangan penjajah belanda. Pengalaman sejarah ini mengilhami memunculkan instrumen hukum dan dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa sistem pertahanan Indonesia adalah Sistem pertahanan dan keamanan rakyat Semesta (Sinhankamrata). Ini berarti dalam mempertahanan negara bukan semata-mata menjadi tanggung Jawab Militer, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Untuk mendukung penyelenggaraan Sishankamrata, UUD’45 pasal 30 menyebutkan bahwa setiap warganegara wajib ikutserta bela negara. Di dalam sistem pertahanan Indonesia, sumberdaya pertahanan dikelompokkan ke dalam tiga komponen yaitu komponen utama (TNI), komponen cadangan, dan komponen pendukung. Namun sampai saat ini petunjuk pelaksanaan mengenai bagaimana penyelenggaraan sistem pertahanan rakyat semesta terutama dalam penyiapan komponen cadangan dan komponen pendukung belum ada, sehingga apabila terjadi perang dan konsep pertahanan rakyat semesta digunakan, akan banyak mengalami kendala di lapangan.
    Kondisi topografi lahan kepulauan Ternate adalah berbukit bukit dengan sebuah gunung berapi yang masih aktif dan terletak ditengah pulau Ternate. Permukiman masyarakat secara intensif berkembang di sepanjang garis pantai kepulauan . Dari 5 pulau besar yang ada, umumnya masyarakat mengolah lahan perkebunan dengan produksi rempah rempah sebagai produk unggulan dan perikanan laut yang diperoleh disekitar perairan pantai. Pulau Termate memiliki kelerengan fisik terbesar diatas 40 % yang mnengerucut kearah puncak gunung Gamalama terletak ditengan-tengah Pulau. Didaerah pesisir rata-rata kemiringan adalah sekitar 2% s/d 8%. Jenis tanah mayoritas adalah tanah regosol di P.Ternate, P.Moti dan P.Hiri. Sedangkan jenis tanah rensina ada di P.Mayau, P.Tifure, P.Maka, P.Mano dan P.Gurida. Kondisi tersebut merupakan ciri tanah Pulau vulkanis dan pulau karang. Kedalaman laut adalah bervariasi. Pada beberapa lokasi disekitar P.Termate, terdapat tingkat kedalaman yang tidak terlalu dalam, sekitar 10 meter sampai pada jarak sekitar 100 m dari garis pantai sehingga memungkinkan adanya peluang reklamasi. Tetatpi pada bagian lain terdapat tingkat kedalaman yang cukup besar dan berjarak tidak jauh dari garis pantai yang ada. Berdasarkan data yang ada, suhu udara rata-rata harian berkisar antara 23 0C s/d 32 0C. Kondisi suhu tertinggi pada bulan-bulan Mei s/d Agustus, saat terjadi musim panas. Suhu terendah terjadi pada bulan-bulan ktober s/d Desember saat terjadi musim penghujan. Secara geografi fisik, Kota Ternate terdiri dari pulau-pulau dengan jarak yang bervariasi, ada yang cukup dekat dan adapula yang cukup jauh. Dengan kondisi fisik yang demikian, maka perkembangan Kota Ternate, akan mengalami banyak tantangan dan kendala diakibatkan oleh faktor jarak tersebut, khususnya menyangkut strategi keterhubungan atau saling tunjang diantara pulau-pulau tersebut. Selanjutnya, secara geomorfologis, kondisi topografi pulau-pulau tersebut sebagian besar memiliki tingkat kelerengan yang besar, sehingga berakibat pada sulitnya mengembangkan atau memanfaatkan lahan untuk kegiatan budidaya pemukiman, industri dan jasa / perdagangan. Perbukitan yang ada menjadi areal konservasi baik berupa hutan lindung maupun hutan konservasi. Adanya kawasan rawan bencana gunung berapi dari Gunung Gamalama di Pulau Ternate, menyebabkan terdapatnya lahan-lahan dalam kelompok areal rawan bencana sehingga tidak dapat dikembangkan menjadi daerah budidaya. Sebagai kawasan yang termasuk dalam kelompok daerah rawan gempa bumi, maka di seluruh wilayah Kota Ternate memiliki resiko terhadap pengembangan tata bangunan. Adanya batasan ketinggian bangunan maksimum sampai 4 lantai, dimaksudkan untuk antisiipasi dalam meminimumkan kerugian, baik kerugian nyawa mauoun harta benda, apabila suatu saat terjadi gempa bumi dengan kekuatan yang cukup tinggi. Keadaan laut sekitar pesisir sebagian besar adalah tipe laut dalam yang dari satu siisi menguntungkan untuk dikembangkan menjadi pelabuhan, namun di sisi yang lain, tidak memungkinkan untuk direklamasi dalam rangka memperluas areal darat. Hanya terdapat sebagian kecil daerah pesisir yang memungkinkan untuk dijadikan kawasan reklamasi, sebagaimana telah dikembangkan di Pulau Ternate. Adanya wilayah dengan laut dalam juga berpotensi sebagai areal penangkapan ikan yang cukup luas. Keadaan klimatologis, mengenai curah hujan, temperatur, kelembaban udara merepresentasikan ciri umum iklim daerah tropis, yang disatu sisi mendukung untuk budidaya pertanian/ perkebunan ciri tanaman tropis, maupun untuk kebutuhan budidaya peternakan.
    Kreativitas adalah merupakan suatu proses berpikir yang terdiri dari berpikir kritis, elaborasi, kolaborasi, adaptasi, dan kemurnian untuk menciptakan hasil karya baru ataupun modifikasi dari barang yang telah ada. Setiap manusia memiliki potensi kreativitas ini, hanya saja kadar pemakaian tiap individu berbeda-beda. Oleh karena itu semakin dilatih, semakin digunakan, maka semakin tinggi produk kreativitas yang dihasilkan. Produk tersebut dapat berupa barang, system kerja, ataupun perilaku yang kreatif. Hanya akan lebih berguna jika kreatif itu digunakan pada hal-hal yang positif.
    Sering kali proses kreatif ini terwujud atas tuntutan lingkungan. Ini merupakan suatu proses akibat adanya tekanan dari lingkungan dengan daya dukung yang rendah. Namun di sisi lain, tingkat pemenuhan kebutuhan sangatlah tinggi atau sulit. Tuntutan kebutuhan baik itu kebutuhan dasar ataupun kebutuhan pelengkap, namun karena daya dukung lingkungan yang rendah, memaksa manusia untuk memenuhinya dengan berbagai cara. Tak heran jika banyak janda berputra atau putri bekerja apa saja bahkan pekerjaan lelaki sekalipun, misal perempuan Bali. Namun tak sedikit juga yang nekat dan gelap mata melakukan tindakan criminal. Ini adalah perwujudan sebuah perilaku kreatif, terlepas bernilai positif ataupun negatif.
    Mari kita telaah wilayah Indonesia atau Nusantara. Hampir semua wilayah Indonesia ini memiliki potensi katastropi yang besar. Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua memiliki kemungkinan yang sama terjadinya bencana. Meski dari kualitas dan kuantitas berbeda, namun probabilitas munculnya bencana di setiap pulau-pulau besar ini adalah sama. Oleh karena itu, Indonesia adalah sumber manusia-manusia kreatif. Bagaimana tidak, hampir seluruh wilayah di Indonesia, meski kaya akan sumber daya alam namun rawan akan bencana. Sejarah membuktikan, setiap pulau besar di Nusantara memiliki potensi bencana alam yang sangat tinggi. Mulai dari banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, tsunami, badai, gelombang pasang, gempa bumi, hingga gunung meletus. Mulai tragedi Krakatau, Tambora, dan Tsunami Aceh (Samudera Hindia) adalah bencana besar yang terjadi di dunia terletak di wilayah Nusantara tercinta.
    Lihatlah produk dari warisan luhur bangsa yang rawan bencana ini. Manusia kreatif dari masa lalu menciptakan teknologi yang murah namun aplikatif dalam mengantisipasi bencana. Sebut saja rumah tahan gempa dari Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur; rumah panggung masyarakat Kalimantan, Sumatera, yang anti banjir; rumah panggung tahan gempa dari suku Sunda, Jawa Barat; obat-obat herbal tradisional; jamu; dan masih banyak produk warisan luhur budaya bangsa yang mulai ditinggalkan generasi muda dengan alasan moderenisasi dan gak gaul.
    Sejarah pula membuktikan bahwa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit merupakan organisasi yang memiliki daya tahan yang tinggi. Ini dimungkinkan para petinggi Negara tersebut memiliki kualitas kreativitas yang tinggi pula. Bagaimana mereka memanfaatkan keterbatasan daya dukung lingkungan dan menjadikannya sebuah “strength” yang ditakuti lawan, yaitu kekuatan bahari. Secara hitung-hitungan di atas kertas, sulit bagi Indonesia atau nusantara menguasai lautan yang begitu luas. Perlu armada angkatan laut yang besar jumlahnya dengan kekuatan kapal yang tiada tanding dari segi teknologi. Namun sejarah membuktikan, angakatan perang Sriwijaya dan Majapahit mampu menguasai jengkal demi jengkal lautan Nusantara dengan kapal-kapal yang lebih kecil dibandingkan armada dari China, India, dan Eropa.
    Ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi kreativitas yang tinggi. Stenberg dalam Creativity as a Habit mengungkapkan bahwa ciri prilaku manusia kreatif adalah melihat suatu masalah, namun bagi orang lain bukan masalah, mengambil resiko dimana orang lain tidak berani melakukannya, memilki keberanian menantang kerumunan orang dan berdiri pada pendiriannya, serta mencari penyelesaian masalah dan tantangan yang diberikan oleh orang lain diantara berbagai jawaban permasalahan.
    I Nyoman Resana
    08/273854/DPA/3106

    Refrensi :
    http://staff.ui.ac.id/internal/0300300006/publikasi/ternate.pdf
    http://belajarhinggaajal.wordpress.com/2010/11/17/indonesia-kreatif-warisan-luhur-budaya-nusantara-terhadap-bencana-alam/

    http://kard-el.co.cc/?p=46

    http://www.laardi.co.cc/2010/10/dukung-laut-indonesia-menjadi-best-sea.html

  56. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA
    Secara geografis Indonesia memang tergolong wilayah dengan titik kerawanan bencana yang tinggi. Disamping itu, kondisi alam di Indonesia yang berpotensi besar mendatangkan bencana. Ditambah lagi, perilaku manusia di Indonesia yang merusak alam tanpa memperdulikan seperti pembalakan liar, membuang sampah di sungai, mengakibatkan semakin menjadikan Indonesia menjadi rawan akan bencana.
    Di saat terjadinya bencana dalam suatu daerah perhatian utama selalu mengarah pada manusia. Artinya berapa korban yang meninggal dan berapa yang selamat dan membutuhkan pertolongan. Pemerintah dan elemen masyarakat notabene telah menyiapkan berbagai antisipasi penanggulangan baik sebelum bencana terjadi hingga saat bencana sudah terjadi. Namun masih saja sering terjadi kecolongan yang berarti masih banyak korban yang meninggal.
    Mengenai penanganan bencana, terlihat belum ada pengorganisasian solidaritas rakyat Indonesia. Tidak ada satupun perangkat hukum atau aturan apapun mengenai hal ini. Undang-undang 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sama sekali tidak menyinggung soal peran organisasi kemasyarakatan (masyarakat sipil) dalam kebencanaan. Undang-undang ini menyinggung peran perusahaan swasta dan lembaga bantuan asing termasuk lembaga PBB. Padahal masyarakat umum melalui organisasi-organisasi masyarakat sipil bisa melakukan berbagai langkah upaya penanggulangan bencana bahkan pengurangan resiko bencana. Bahkan peraturan pemerintah dibidang peran lembaga asing sudah ada. Tapi PP tentang peran masyarakat sipil tidak bisa dikeluarkan karena memang tidak disinggung di undang-undang. Paling jauh, pemerintah bisa mengeluarkan peraturan pemerintah tentang peran masyarakat pada umumnya, dan ini belum dilakukan. Mungkin dalam peraturan pemerintah ini bisa juga mencakup peran masyarakat sipil tadi.
    Kehadiran bencana alam bisa membawa dua dampak sekaligus. Yaitu dampak negatif dan positif. Kedua dampak ini selalu berhubungan satu sama lain. Pertama, dampak negatif atau dengan kata lain kerusakan akibat bencana, biasanya bersifat kerugian secara fisik maupun nonfisik. Seperti korban jiwa yang berjatuhan, serta kerugian dari segi bangunan maupun material lainnya. Kemudian ditinjau dari dampak positif. Bencana ternyata bisa menjadi sarana penyadaran kepada manusia. Hal ini sangat erat kaitannya dengan aspek-aspek spiritual. Tidak sedikit orang menjadi sadar diri disaat peringatan Tuhan dengan bencana datang melanda dirinya. Terjadi perubahan watak dan sikap dalam dirinya. Juga di pihak lain, bisa menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap empati terhadap sesama manusia yang menjadi korban bencana.
    Adanya wujud solidaritas atau bentuk kepedulian sesama disaat adanya bencana yang menimpa merupakan perilaku sosial yang berkembang di masyarakat pada umumnya. Dan hal tersebut tidak hanya ditemukan di Indonesia, namun semua masyarakat di negara lain bisa dipastikan juga demikian. Tidak hanya kalangan pemerintah saja, melainkan segenap kalangan seperti mahasiswa, artis, hingga masyarakat biasa dalam berbagai strata sosial bisa kita dapati memiliki bentuk peduli terhadap sesamanya ketika bencana melanda saudaranya. Karena manusia pada dasarnya tidak bisa hidup sendiri, tetapi harus bermasyarakat dan saling membutuhkan satu sama lain. Kedua hubungan tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dan seimbang.
    Kepedulian merupakan rasa yang timbul dari dasar hati yang lantas mampu menggerakan fisik untuk melakukan tindakan. Implementasi dari rasa peduli bisa bervariasi. Seperti di kalangan mahasiswa sering kita jumpai mereka melakukan aksi penggalangan dana di dalam kampus atau di jalan, bertujuan untuk membantu para korban bencana. Hal ini menjadi sikap pilihan sebagai wujud aplikasi rasa peduli terhadap saudaranya yang membutuhkan uluran tangan. Yang lain bisa kita dapati dengan menjadi relawan yang langsung terjun ke lapangan langsung, dan lainnya. Pada intinya, rasa peduli terhadap saudara lainnya adalah kemestian dalam setiap diri. Untuk itu perlu untuk terus ditumbuhkan dan direalisasikan dengan perilaku yang nyata.
    Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas dengan ongkos murah. Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.
    Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir.
    Kita perlu memikirkan secara semakin serius penyebaran kesadaran bahwa kita hidup di daerah bencana. Itu berarti, kita mesti mencari jalan untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang bagaimana mencegah dampak bencana alam dan apa yang mesti kita lakukan kalau memang bencana alam itu terjadi. Teknik membangun rumah sederhana dan murah tahan gempa perlu disebarluaskan. Kecakapan membaca gejala alam dan bereaksi atas informasi mengenai bencana alam perlu menjadi bahan kurikulum di sekolah-sekolah kita. Solidaritas yang spontan namun efektif untuk membantu para korban bencana pun perlu dilatih. Di sini, lembaga-lembaga agama perlu memikirkan kontribusinya. Dan tentu saja, transparansi pengelolaan dana bantuan merupakan satu keharusan moral yang mesti menemukan sistemnya.
    Langkah lain yang penting adalah soal-soal pengurangan resiko bencana. Pada tahapan ini semua komponen masyarakat, termasuk didalamnya sekolah-sekolah, dilatih dan mampu menghadapi bencana jika terjadi. Sehingga mereka bisa dengan sistimatis mengurangi dampak bencana. Pelathan-pelatihan tersebut melibatkan banyak pihak dan masyarakat umum. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk memupuk solidaritas, soliditas, dan persatuan dalam masyarakat itu sendiri.
    Terakhir adalah mitigasi bencana atau segala upaya untuk meredam bahaya bencana. Mitigasi ini bisa berupa pembangunan tanggul, pengerukan sungai, rumah tahan gempa, jalur evakuasi, bahkan penghijauan di gunung dan di pantai menanam mangrove. Terlebih lagi, secara serius memerangi kemiskinan masyarakat, karena kemiskinan merupakan kerawanan besar dan kelemahan besar ketika masyarakat menghadapi bencana Kegiatan ini dapat dilaksanakan bersama-sama dengan masyarakat, sehingga memupuk rasa solidaritas, soliditas dan persatuan masyarakat itu sendiri.
    Rakyat Indonesia harus bisa mengamalkan sila-sila pada Pancasila pada kehidupan nyata dan keseharian hidupnya. Sila yang menyinggung tentang solidaritas, soliditas, dan persatuan yaitu sila Persatuan Indonesia. Rakyat Indonesia harus bersatu padu, saling solider dan solid satu sama lain dengan segala keberagaman yang ada. Jangan karena ada sesuatu hal misalnya bencana, kita baru menjadi solid, solider. Kesatuan, soliditas, dan solidaritas harus tetap terjaga apapun yang terjadi dan tanpa pengaruh apapun.

    Referensi :
    http://sigitheart.wordpress.com/2010/11/04/bencana-alam-dan-kepedulian-sosial/
    http://ancispengelana.blogspot.com/2010/10/bencana-alam-dan-manusia.html
    http://ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=236:news&catid=1:latest-news&Itemid=18&lang=id

    ADITYA KRISTIAWAN
    08/271522/DPA/2968
    PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS UNIVERSITAS GADJAH MADA

  57. NAMA: I.CITRA ANI PUJI ASTUTI
    NIM : 08/273800/DPA/3097
    PRODI:REKMED

    POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Kondisi penuh keprihatinan tengah melanda negeri ini. Bencana alam yang terjadi di tanah air, dirasakan seluruh bangsa Indonesia, dengan meningkatkan solidaritas dan kepedulian sosial bagi warga yang terkena musibah. Dalam beberapa hari terakhir ini, Bangsa Indonesia kembali diguncang oleh rentetan musibah yang menimpa Saudara-saudara kita di berbagai pelosok negeri. Mulai dari bencana banjir bandang di Wasior, Papua, kemudian gempa dan tsunami yang menyapu pulau-pulau di wilayah Mentawai, Sumatera Barat, hingga musibah di Gunung Merapi, kembali menyelimuti bangsa ini dengan kabut duka yang mendalam
    Kerawanan bencana alam yang sering menimpa tanah air kita akhir-akhir ini tentunya membawa dampak yang sangat besar bagi sebagian warga atau masyarakat yang tertimpa musibah. Indonesia, Negara yang kaya akan keindahan alam semesta sesungguhnya secara letak geografis berada tepat diatas tanah atau perairan yang di bawahnya terdapat banyak lempengan-lempengan yang sering berbentur sehingga menyebabkan sering terjadinya gempa. Juga sebagian gunung yang berada di Indonesia adalah gunung berapi yang aktif dari tahun ke tahun. Seringkali kita salah mengartikan sebuah bencana alam yang terjadi akibat ulah atau perbuatan daripada manusia sendiri. Untuk sebagian besr bencana seperti banjir, kemungkinan besar hal tersebut dapat terjadi akibat perbuatan manusia yang kurang menjaga kebersihan lingkungan. Namun, untuk bencana yang terjadi seperti angin putting beliung, gunung meletus, dan juga tsunami apakah patut bahwa kejadian tersebut terjadi akibat kesalahan manusia??
    Pada dasarnya, bumi pun mempunyai masa dimana usia yang semakin tua menjadikan sering terjadinya bencana alam ataupun perubahan cuaca yang tidak menentu. Sebagai manusia yang di beri akal dalam berpikir, sebaiknya kita dapat mencerna segala kejadian atau musibah secara logika. Bahwa tidak hanya bencana yang menimpa kita tetapi juga arti di balik semua musibah yang telah kita alami akhir-akhir ini. Fakta nyata yang terjadi akhir-akhir ini yaitu tentang meletusnya gunung merapi. Dimana dalam bencana tersebut telah merenggut sebagian besar penduduk sekitar lereng merapi. Duka yang di rasa semakin bertambah ketika adanya susulan lahar dingin yang semakin memporakporandakan wilayah tersebut. Rumah warga yang hangus tak tersisa, kehilangan harta benda, dan juga mata pencaharian di rasa begitu berat. Namun, apakah dengan adanya bencana tersebut bangsa Indonesia hanya diam saja?? Tentu tidak, sebab rasa persaudaraan yang telah tertanam dalam jati diri masing-masing bangsa begitu kuat yang menjadikan bangsa ini bersatu untuk saling membantu dan membangun kembali dari segala bencana yang telah terjadi.
    Banyak cara dan upaya dilakukan oleh sebagian besar bangsa ini dalam mewujudkan rasa solidaritas dan soliditas dengan sesama. Diantaranya mengumpulkan dana bantuan secara sukarela bagi korban bencana, mengumpulkan bahan makanan, obat-obatan, dan lain sebagainya. Tindakan lain yang di upayakan yaitu, masyarakat atau relawan yang datang secara bersama-sama melakukan evakuasi mencari mayat atau korban yang masih berada didalam wilayah tersebut. Tidak hanya uluran tangan dari sesama bangsa saja, namun bangsa luar pun ikut merasakan penderitaan yang kita alami. Bantuan yang datang bermacam-macam, mulai dari bantuan dana, obat-obatan, pakaian, bahkan warga Negara asing pun datang untuk menjadi tenaga sukarelawan.
    Hal positif yang dapat kita ambil dari berbagai bencana yang telah kita alami adalah, dimana rasa persaudaraan dan kebersamaan saling memiliki masih melekat erat seiring berjalannya waktu. Bahkan, tidak hanya bangsa kita, warga Negara asing pun rasa persatuan dalam situasi tersebut. Sehingga tentunya hubungan yang terjalin semakin dekat dan menjadikan bahwa seluruh bangsa adalah satu dan bersaudara.
    Kepedulian merasa senasib sepenanggungan di antara seluruh elemen bangsa inilah, yang telah diikrarkan puluhan tahun silam oleh para pendiri bangsa ini. Komitmen dan semangat untuk Berbangsa dan Bertanah Air satu sebagai Bangsa Indonesia kembali diuji dengan adanya musibah musibah tersebut.

  58. Potensi Kerawanan Bencana Alam Sesungguhnya Bernilai Positif Untuk Meningkatkan Solidaritas dan Soliditas bangsa

    Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbentuk republik, terletak dikawasan Asia Tenggara. Indonesia memiliki lebih kurang 13.000 buah pulau dengan luas daratan 1.922.570 km² dan luas perairan 3.257.483 km². Letak geografis adalah letak suatu daerah atau wilayah dilihat dari kenyataan di permukaan bumi. Berdasarkan letak geografisnya, kepulauan Indonesia diantara Benua Asia dan Benua Australia, serta diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Dengan demikian, wilayah Indonesia berada pada posisi silang, yang mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan iklim dan perekonomian. Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis khatulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan terhadap gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam kihatulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir.
    Berbagai peristiwa bencana yang terjadi karena bencana alam maupun non alam, atau perpaduan keduanya tidak mungkin dihindari. Hal ini mengingat letak geografis Indonesia rentan terhadap bencana seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, angin puting beliung, kebakaran hutan dan lahan serta letusan gunung berapi. Musibah dan bencana alam yang terjadi di Indonesia silih berganti dan bersamaan. Belum pulih dan tertangani bencana banjir di Wasior, Papua, tanah air kita sudah didera bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi. Masih disusul lagi dengan gejala 22 gunung berapi yang tersebar di kepulauan nusantara kita yang menunjukkan peningkatan aktivitas. Tanah air kita sungguh-sungguh dihadapkan pada resiko bencana alam yang meningkat dalam waktu yang hampir bersamaan. Banjir Wasior memprihatinkan kita karena penanganannya yang terkesan kurang perhatian dari pemerintah pusat. Ini menjadi tipikal mitigasi bencana alam yang terjadi jauh dari sentra pemerintahan di Jakarta. Tsunami Mentawai memprihatinkan kita selain karena respon darurat tanggap bencana yang terhambat oleh banyak faktor termasuk kondisi lapangan yang sulit ditempuh. Letusan gunung merapi memprihatinkan kita karena letusannya kali ini dapat dikatakan lebih parah dari sebelumnya. Kendala evakuasi tidak hanya masalah fisik namun juga psikologis. Respon tanggap bencana kita ditataran lokal dan nasional nyata-nyata perlu diperbaiki. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikritik kurang sigap dan efektif dalam koordinasi respon tanggap bencana. BNPB sendiri beralasan bahwa sulitnya koordinasi karena di tingkat lokal daerah tidak semuanya ada Badan Penanggulangan Bencana.
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi sosial networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam. Apalagi kita juga harus menyebut bahwa sementara para korban bergulat untuk bertahan hidup, namun pejabat publik malah sempat-sempatnya pergi ke luar negeri untuk alasan studi banding yang sudah diprogramkan. Hal ini mengecewakan kita, seharusnya mereka peduli dan langsung kembali ke tanah air sebagai tanda empati dan komitmen terhadap masalah rakyat.
    Penyelenggaran dan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi secara menyeluruh, mengingat letak geografis Indonesia yang rentan terhadap bencana. Peran pemerintah dan pemerintah daerah meliputi dalam managemen bencana alam meliputi tiga aspek yaitu, pertama pada saat sebelum terjadi bencana melakukan pencegahan, kedua pada saat terjadi bencana melakukan tanggap darurat, dan ketiga pada saat sesudah bencana melakukan pemulihan (rehabilitasi dan rekronstruksi). Diselenggarakannya rapat penyusunan rencana kesiapsiagaan daerah menghadapi bencana ini merupakan langkah daerah untuk merencanakan penanggulangan bencana dibeberapa daerah, melalui pendekatan komprehensip. Salah satu contoh disusunnya suatu peta daerah rawan bencana dan ditindak lanjuti dengan penyusunan peta resiko bencana, dimana kedua peta ini nantinya akan diajdikan dasar dalam rangka penanggulangan bencana di seluruh daerah di Indonesia.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan ksiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.

    REFERENSI
    resouces.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/MEMBANGUN%20SOLIDARITAS%20BANGSA%20INDONESIA.pdf Diakses Tanggal 11 Januari 2011 Jam 10.47 WIB
    usupress.usu.ac.id/files/Pembangunan%20Wilayah%20Berwawasan%20Lingkungan%20dan%20Kebencanaan_Normal_bab1.pdf Diakses Tanggal 11 Januari 2011 Jam 11.09 WIB
    http://www.edu2000.org/portal/index.php?option=com_content&task=view&id=315&itemid=9 Diakses Tanggal 11 Januari 2011 Jam 10.02 WIB
    http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option-com_content&task=view&id=4303&Itemid=821 Diakses Tanggal 11 Januari 2011 Jam 10.15 WIB
    http://www.theindonesia ninstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam Diakses Tanggal 11 Januari 2011 Jam 10.28 WIB

    NAMA : RETNO HASTUTI FARIDA
    NIM : 08/271586/DPA/03020
    JURUSAN/PRODI : D3 REKAM MEDIS UGM

  59. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDITAS DAN SOLIDARITAS BANGSA
    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini; mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di Mentawai Sumatra, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia.
    Hal ini diluar kendali manusia atau diri kita seperti halnya kejadian-kejadian bencana yang sulit diprediksi kapan terjadi dan akibat yang ditimbulkanya.
    Bencana terjadi bukan karena tidak adanya faktor pendukungnya. Indonesia berada di zona atau daerah yang rawan bencana, Indonesia berada di antara tumpukan atau tumbukan lempeng yang setiap saat bisa saja bergeser akibat pergeseran itu bisa menimbulkan bahaya-bahaya yang siap mengancam negeri tercinta ini. Pergeseran atau tumbukan lempengan itu menyebabkan bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan longsor. Indonesia juga merupakan daerah yang terbentuk dari patahan-patahan bumi yang mengakibatkan terbentuknya gunung berapi. Gunung merapi di Indonesia hampir semuanya berapi dan termasuk gunung berapi terbesar sehingga berpotensi untuk meletus dan mengeluarkan isi perutnya keluar. Salah satunya yaitu gunung merapi, gunung yang masih aktif sedunia yang mengelilingi 4 wilayah sekaligus yang baru-baru ini sempet “batuk” yang mengakibatkan 200 orang lebih meninggal dunia akibat terkena awan panasnya. Belum lagi bencana yang terjadi di Mentawai Sumatra Barat kemarin banyak korban meninggal dan hilang terseret arus gelombang tsunami.
    Indonesia adalah negara yang rawan terhadap bencana, sesungguhnya itupun tidak diimabangi dengan upaya-upaya untuk menjaga kelestarian alam yang semakin hari semakin mengancam kehidupan anak cucu kita dimasa yang akan datang. Potensi kerawanan terhadap bencana sesungguhnya akan sangat bermanfaat serta akan bernilai positif untuk meningkatkan soliditas dan solidaritas bangsa. Dimana soliditas sendiri berarti kompak, bersatu, solid. Sedangkan solidaritas timbul ketika solid sendiri telah terkumpul menjadi satu. Bencana walaupun menimbulkan banyak sekali ketidaknyaman dalam segala hal, akantetapi banyak hikmah yang dapat kita ambil. Salah satunya dalam kehidupan bangsa dan bernegara akan timbul rasa soliditas dan rasa solidaritas bangsa.
    Dengan adanya bencana diatas warga negara Indonesia dari ujung timur sampai barat, utara sampai selatan, dari sabang sampai merauke mereka bahu membahu membantu saudara mereka yang mengalami kesusahan. Mereka membantu sebisa dan menurut kemampuan mereka. Atas dasar rasa simpati yang mendalam akan nasib saudara mereka selanjutnya. Mereka mengumpulkan bantuan mulai dari bahan makanan, pakaian layak pakai, selimut dan uang. Selain dari logistik, mereka juga menyumbangkan tenaga untuk rela menjadi tenaga relawan untuk siap dan sigap membantu para korban bencana, itu semata-mata karena rasa senasib sepenanggungan. Karena mereka menganggap satu bangsa dan satu negara sehingga menjadi satu saudara. Merasakan kesamaan nasib, dimana jika ada saudara mereka yang tertimpa musibah ikut juga merasakan kesedihan, karena musibah itu juga merupakan musibah masal dan tidak bisa kita prediksikan kedatangannya. Dengan adanya bencana atau musibah itu timbul soliditas dan solidaritas bangsa. Dimana soliditas sendiri mempunyai arti solid, kompak, dan jadi satu. Dengan adanya bencana ini soliditas anak bangsa terkumpul, tercurah untuk membantu memikul beban yang ada dipundak saudara mereka. Rasa soliditas artinya kekuatan atau kekokohan suatu bangsa dalam menghadapi perubahan atau tantangan. Dalam aktulisasinya soliditas bangsa dilandasi oleh nilai-nilai yang mengandung semangat pengabdian, rela berkorban, pantang menyerah, serta mendahulukan kepentingan bangsa dan negara. Soliditas itu mereka perlihatkan dengan bersatu padu membantu dengan apapun dan seadanya mereka yang ada di diri mereka entah apapun yang korban bencana atau musibah, mereka saling solid menghadapi bencana dengan saling berbagi walaupun keadaan mereka juga kekurangan. Mereka juga saling kompak untuk membangun kamar mandi umum, masak untuk pengungsi lainnya. Soliditas bangsa juga merupakan produk rekayasa sosial yang dilakukan secara sadar dan berencana Pokoknya mereka saling berbagi, saling memberi dan saling solid. Jika rasa solid telah tercipta maka selanjutnya akan terkumpul rasa solidaritas bangsa. Solidaritas adalah rasa simpati yang mendalam pada kejadian buruk yang menimpa saudara kita. Rasa solidaritas muncul karena mereka merasakan kesamaan nasib, karena satu bangsa dan satu negara. Solidaritas dapat diartikan sebagai kesatuan kepentingan, simpati, perasaan dalam kelompok dari kepentingan yang sama. Solidaritas dalam hal ini adalah yaitu kelompok suku atau warga mengalami kesusahan maka yang lain akan merasakan rasa simpati dan timbul keinginan untuk membantu orang tersebut. Selain itu solidaritas akan muncul ketika manusia mengalami kesusahan dan membutuhkan yang lain untuk menolongnya. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain dalam menjalakan aktifitas termasuk dalam hal memerlukan bantuan akan hal yang menimpa pada dirinya. Pada hakikatnya manusia dilahirkan menjadi makhluk individu dan makhluk sosial. Dengan manusia sebagai makhluk sosial maka butuh bantuan kepada orang lain baik disengaja maupun tidak disengaja, sehingga akan timbul rasa soliditas dan rasa solidaritas pada diri pribadi setiap insan manusia. Setelah muncul rasa soliditas dan rasa solidaritas individu akan tercipta rasa soliditas dan solidaritas yang lebih luas lagi menjadi rasa soliditas dan solidaritas bangsa. Rasa itu akan semakin timbul jika rasa saling memiliki dan rasa kebangsaan, rasa cinta pada negara tertanam pada setiap warga negara Indonesia sehingga akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga apa yang dicintainya, menyanyangi lebih dari dia mencintai dirinya sendiri.
    Intinya : Dengan adanya bencana jadi warga negara dari ujung sabang sampai merauke menjadi bersimpati, berempati sehingga mereka mengumpulkan bantuan, bersatu padu karena mereka menganggap bahwa mereka adalah satu bangsa, satu saudara saling merarasakan kesamaaan nasib sehingga rasa soliditas dan rasa solidaritas muncul, gara-gara adanya bencana atau musibah tersebut. Dari setiap individu mengumpulkan bantuan, teus berlanjut sampai pada masyarakat sosial, luas saling kompak, saling bantu-membantu, saling berbagi, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang pasti memerlukan orang lain dan membutuhkan bantuan serta upaya gotong royong untuk meringankan beban dan tugasnya.

    MEGA BAQIYA FAUZIZAH (08/271558/DPA/3000)

  60. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Kehadiran bencana demi bencana seakan-akan tak mau pergi dari tanah air. Indonesia yang indah pun terkoyak dengan banjir bandang di Distrik Wasior, Kabupaten Pulau Wondama. Lalu gempa bumi berkekuatan 7,2 pada skala richter yang diikuti gelombang tsunami mengguncang pulau menawan, Mentawai di wilayah Sumatera Barat. Beberapa hari lalu, gunung paling aktif di Indonesia memuntahkan material vulkaniknya. Korban pun berjatuhan. Banyak yang meninggal dunia.
    Tetapi, lebih banyak yang hilang dan belum ditemukan. Mereka mungkin juga meninggal dalam keadaan yang memprihatinkan. Sungguh, ini cobaan luar biasa bagi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Wakil Presiden Boediono. Atas bencana yang bertubi-tubi, belum lagi dihitung bencana banjir di berbagai daerah yang juga menimbulkan korban, meski tidak begitu besar, sepatutnya kita prihatin dan saling menguatkan untuk ikut meringankan penderitaan saudara kita.
    Caranya, membantu apa yang bisa kita lakukan seraya memberi dukungan kepada aparat pemerintah dan pihak terkait yang bertugas menangani bencana. Ujian dalam bentuk bencana ini bukan saja terhadap kepemimpinan pemerintahan Yudhoyono-Boediono, tapi juga ujian bagi setiap pemimpin di daerah. Sejauh manakah kita selama ini menyikapi alam dan seberapa peduli terhadap perubahan lingkungan dan alam yang sebagaian besar disumbang oleh perilaku masyarakat juga.
    Perubahan iklim yang sangat ekstrem sudah terjadi, dan mungkin akan berlangsung hingga tahun depan. Jauh-jauh hari, otoritas yang paling mengetahui hal ini sudah mengingatkan kita akan potensi bahaya yang mengancam. Tapi, banyak masyarakat yang kurang peduli. Bahkan ketika seperti dalam kasus bencana gunung merapi, aparat sudah mengingatkan warga yang tinggal di daerah yang dinilai cukup berbahaya untuk mengungsi di posko-posko yang sudah dibangun, masih saja banyak yang menunggu sampai bencana di depan mata.
    Akibatnya, korban tewas dan luka tidak terelakkan. Dalam kasus banjir dan luapan air, misalnya aparat pemerintah daerah setempat, seperti di DKI Jakarta, Tangerang- Banten, dan sejumlah wilayah yang akrab dengan banjir, sudah pula mengingatkan masyarakat untuk menyadari pentingnya menjaga lingkungan bersih dan bebas banjir, yakni dengan membuang sampah pada tempatnya, ikut membersihkan saluran dan gorong-gorong yang tersumbat, dan tidak membangun diatas saluran atau pembuangan air.
    Kita tahu, hampir seluruh pulau di Indonesia dilintasi jalur ring of fire (cincin api) Pasifik yang menjadikan Indonesia memiliki banyak koleksi gunung api. Kita juga memahami negara ini berada di lokasi pertemuan lempeng tektonik besar yang aktif bergerak yang membuatnya sering dilanda gempa bumi. Dengan demikian, pesisir pantai di Indonesia pun berpotensi terkena tsunami. Namun, itulah Indonesia, tanah air yang kita cintai, yang mempersatukan semua penghuninya dari Sabang sampai Merauke.
    Sebagai penduduk yang mendiami tanah ini, kita harus menerima segala berkah dan bencana yang telah dan akan terjadi lalu menyikapinya dengan penuh kearifan. Letusan gunung api dan tsunami merupakan bencana alam yang tidak bisa dipastikan terjadinya. Meski demikian, potensi kejadian keduanya sebetulnya bisa diramalkan sehingga langkah-langkah mitigasi bencana bisa lebih dioptimalkan. Karena itu, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) selalu merilis peringatan bahaya akan potensi tsunami begitu ada kejadian gempa bumi berkekuatan di atas 7 pada skala Richter di dekat pantai dengan kedalaman kurang dari 70 km.
    Ini karena tsunami biasanya terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit setelah gempa bumi. Berkaca dari kejadian gempa besar diikuti tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004, pemerintah daerah setempat mestinya lebih cepat mengungsikan penduduk Mentawai dari wilayah pesisir begitu terjadi gempa berkekuatan 7,2 skala richter, Senin. Begitu pula dalam peristiwa meletusnya gunung merapi. Senin itu, sejak pukul 6.00 WIB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sudah mengubah status merapi dari waspada menjadi awas karena aktivitasnya.
    Peringatan itu semestinya diterjemahkan pemerintah daerah setempat dengan langkah cepat mengungsikan warga ke tempat aman. Akan tetapi korban sudah jatuh. Kita pun berduka. Tak ada gunanya saling menyalahkan. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah menunjukkan kesalehan sosial terhadap saudara-saudara kita yang selamat dari bencana dan kini tinggal di pengungsian, dengan mengulurkan tangan sesuai kemampuan kita. Kita menuntut pemerintah agar memprioritaskan pemulihan rumah-rumah warga yang tersapu ombak di Mentawai dan relokasi bagi semua warga lereng Merapi.
    Kita juga meminta wakil-wakil kita di parlemen agar turun ke lapangan, bukan hanya mementingkan studi banding ke luar negeri. Dengan kehadiran kita di tengah mereka, diharapkan mereka tidak merasa sendirian atau ditinggalkan. Dengan begitu mereka dapat melanjutkan kehidupan dengan gairah kembali. Kita berharap pemerintah dan masyarakat perlu bergerak cepat agar para korban ditangani secara cepat dan tepat. Para pengungsi juga diperhatikan. Tidak hanya soal konsumsi, kelayakan barak pengungsian maupun harta benda serta hewan ternak warga yang ditinggalkan juga perlu diperhatikan.
    Bagi masyarakat, ini waktunya untuk meningkatkan solidaritas dan soliditas sosial. Tidak hanya soal Merapi namun juga gempa dan tsunami di Mentawai Sumatra Barat. Beberapa waktu lalu juga terjadi bencana banjir Wasior di Papua Barat. Masyarakat yang mempunyai harta berlebih, silakan membaginya kepada yang membutuhkan. Yang punya waktu, tenaga dan pikiran, mari kita sumbangkan. Jika kita berbagi, penderitaan saudara kita akan terkurangi. Jadi negeri yang kaya dengan bencana ini akan dapat terobati dengan adanya kebersamaan itu.

    Sumber : http://baron98.blogspot.com/2010_12_01_archive.html

  61. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA
    Berdasar informasi yang bersumber dari Wikipedia, Indonesia merupakan negara di daerah khatulistiwa dengan kondisi geografis yang terdiri dari kurang lebih 17.504 pulau (berdasar data Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia tahun 2004 ) dimana sekitar 6.000 pulau di antaranya tidak berpenghuni tetap. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, dan banyak pulau-pulau kecil lainnya yang membentuk suatu rangkaian kepulauan yang disebut Nusantara. Wilayah Indonesia juga memiliki lebih dari 400 gunung berapi and 130 gunung di antaranya termasuk gunung berapi aktif. Selain itu terdapat puluhan patahan aktif di wilayah Indonesia karena Indonesia terletak di kawasan pertemuan dari lempeng Australia dan lempeng Eurasia.
    Dengan kondisi alam yang demikian, Indonesia menjadi sangat rawan terhadap bencana alam. Banyak sekali bencana alam yang setiap saat mengintai masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia. Misalnya saja wilayah Sumatera dengan perbukitan yang membentang di sebelah barat pulau. Di daerah tersebut sangat beresiko mengalami bencana tanah longsor. Di wilayah Pulau Sumatera tersebut juga terdapat beberapa gunung berapi, seperti Sinabung, Seulawah Agam, Peuet Sague, Bur Ni Telong, Sorik Marapi, Marapi, Tandikat, Talang, Kerinci, Sumbing Sumatra, Kaba, Dempo, Sibayak, Sinabung, dan Rajabasa yang beberapa masih aktif yang sewaktu-waktu dapat mengalami erupsi. Selain itu wilayah Pulau Sumatera juga merupakan wilayah yang berada di pertemuan antara lempeng Australia dan Eurasia. Dengan demikian wilayah tersebut sewaktu-waktu beresiko mengalami gempa bumi dan tsunami.
    Pada tahun 2010 yang lalu sudah banyak bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah di negara Indonesia. Jika kita lihat kembali dari awal hingga akhir tahun, ada beberapa bencana alam besar yang terjadi di Indonesia antara lain banjir bandang di Wasior, erupsi Merapi dan Bromo, gempa dan tsunami di Mentawai, dan erupsi Gunung Sinabung. Disamping itu masih banyak lagi bencana-bencana yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan. Belum lagi ditambah kasus lumpur lapindo di Sidoarjo yang merusak sebagian besar daerah di Sidoarjo yang hingga saat ini belum usai penanganannya.
    Tidak jarang becana-bencana yang terjadi di Indonesia berdampak sangat buruk bagi kehidupan masyarakat yang berada di wilayah bencana tersebut. Sebagai contoh erupsi Merapi yang dampaknya masih dapat kita rasakan saat ini. Dari awal erupsi, material-material yang keluar dari gunung Merapi menyebabkan banyak rumah warga rusak, lahan pertanian hacur, warga banyak yang terluka dan bahkan menimbulkan korban jiwa. Dampak dari erupsi itu tentu saja tidak hanya menimbulkan kerugian sesaat namun menimbulkan dampak dalam jangka panjang. Kecacatan, gangguan kejiwaan (trauma), dan kelumpuhan ekonomi merupakan beberapa dampak jangka panjang dari bencana tersebut. Tidak hanya itu, bencana pun dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat secara luas. Sebagai contohnya adalah dampak dari erupsi merapi. Tidak hanya warga lereng Merapi saja yang kini terkena imbas dari erupsi tersebut. Erupsi tersebut juga menyebabkan kesulitan transportasi bagi masyarakat yang akan melewati jalan Jogja-Magelang.
    Dari contoh-contoh tersebut dapat diketahui bahwa bencana selalu dipersepsikan negatif oleh semua orang yang mengalaminya. Namun sebenarnya terdapat sisi positif dari dampak bencana alam yang terjadi. Mungkin saat bangsa Indonesia ini tidak dilanda bencana, orang-orang seolah-olah acuh terhadap sesama mereka. Mereka lebih mementingkan hidup mereka atau golongan mereka saja. Bahkan kadang terjadi perselisihan yang membesar menjadi perang antar suku dan golongan. Dari segi agamapun tak luput menjadi penyebab perpecahan diantara warga masyarakat. Banyak kasus-kasus teror yang mengatasnamakan agama sehingga ada cap bahwa agama ini benci dengan agama itu dan sebaliknya sehingga kedua kelompok warga saling menyerang atas dasar agama.
    Lain halnya saat bencana terjadi. Masyarakat seperti mendapat ilham untuk bergerak membantu para korban bencana. Seperti misalnya saat terjadi bencana banjir bandang di Wasior, Papua, banyak orang yang berbondong-bondong untuk memberikan bantuan kepada korban bencana, baik itu sebagai relawan atau memberikan bantuan materiil. Hampir semua lembaga/instansi pemerintah dan swasta, organisasi-organisasi masyarakat, dan institusi pendidikan dari seluruh wilayah di Indonesia mendirikan posko bantuan atau mengadakan penggalangan dana. Bahkan semua stasiun televisi juga mengadakan penggalangan dana melalui rekening-rekening peduli bencana sehingga memudahkan masyarakat luas untuk ikut membantu meringankan penderitaan para korban bencana. Saat itulah tidak ada lagi perbedaan yang menghalangi mereka untuk saling membantu. Mereka tidak lagi mempermasalahkan korban bencana tersebut berasal dari suku, agama, dan ras mana dan juga tidak mempermasalahkan apakah suku, agama, dan ras tersebut sama dengan mereka atau tidak. Seluruh masyarakat bahu membahu untuk saling membantu karena mereka merasa bahwa para korban bencana merupakan saudara sebangsa dan setanah air.
    Hal ini sejalan dengan pengamalan Pancasila sila kedua dan ketiga. Sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” menginspirasi untuk saling berbagi dalam misi kemanusiaan. Dalam konteks menggapi dampak bencana, sila ini dapat diamalkan dengan saling berbagi untuk meringankan beban penderitaan dari para korban bencana. Sedangkan sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia” dapat terwujud saat seluruh warga Indonesia bersatu untuk saling membantu. Dengan landasan Pancasila tersebut semua orang dapat menyadari bahwa Indonesia merupakan negara dengan beragam suku, bangsa, bahasa, budaya, dan agama yang disatukan menjadi Bhineka Tunggal Ika. Maka dari itu tidak selamanya bencana memberikan dampak negatif bagi bangsa selama Pancasila dihayati dan diamalkan sebagai landasan/falsafah hidup berbangsa.

    Referensi :
    http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi_Indonesia
    http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2005/04/15/nrs,20050415-01,id.html
    NAMA : LINTANG PERTIWI
    NIM : 08/271541/DPA/2987
    PRODI : DIII REKAM MEDIS

  62. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Indonesia kini sedang berduka, karena tertimpa bencana alam hampir secara bersamaan. Mulai dari banjir yang terjadi di Wasior, gelombang tsunami yang terjadi di Mentawai sampai yang terakhir meletusnya Gunung Merapi di Jogjakarta. Dan korban pun berjatuhan akibat bencana alam tersebut. Karena Indonesia merupakan Negara yang tidak asing dengan bencana alam, kesadaran warganya akan kepedulian sangatlah tinggi. Karena bangsa Indonesia khas dalam hal ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Bahkan, bencana yang terjadi seakan menjadi sarana penguat persatuan dan kepedulian bangsa Indonesia. Dan kepedulian di Indonesia bisa dibilang dimotori oleh para pemuda Indonesia. Pemuda mengambil peran sangat penting ketika terjadinya bencana. Contohnya pada peristiwa meletusnya Gunung Merapi, pemuda adalah barisan terdepan dalam upaya penyelamatan masyarakat.
    Rasa solidaritas yang sangat luar biasa juga ditemukan diantara mahasiswa, mereka juga bersemangat menggalang dana di berbagai tempat, seperti di kampus mereka masing-masing, di jalan raya, dan sebagainya. Lebih konkretnya lagi, banyak ditemui pula mahasiswa yang menjadi sukarelawan -sukarelawan penanggulangan bencana Merapi ataupun bencana di tempat lain. Mereka bergabung dan bergotong royong bersama sukarelawan lainnya dari PMI, Tim SAR, TNI, polisi serta lembaga- lembaga bantuan sosial lainnya. Tidak jarang juga, organisasi mahasiswa pun ikut membuka posko – posko tersendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana. Beruntunnya bencana di Indonesia kali ini sangat berdekatan dengan peristiwa sejarah Pemuda Indonesia, yaitu hari Sumpah Pemuda, yang jatuh pada tanggal 28 Oktober. Hal ini menjadi kesempatan besar bagi pemuda Indonesia untuk membuktikan kalau mereka juga mempunyai rasa kepedulian dan solidaritas yang tinggi.
    Namun, tidak semua pemuda mau untuk turut serta membantu korban bencana alam. Masih banyak pemuda yang hidup dalam kehidupan yang tidak mempunyai secuil kepedulian terhadap sesama. Mereka bersenang-senang dengan kehidupannya, di sisi lain ada saudara mereka yang hidup susah akibat bencana yang melanda kehidupan mereka. Sesungguhnya, inilah yang menjadi bencana sesungguhnya bagi masa depan bangsa Indonesia. Ketika negeri ini rawan pada bencana-bencana, masih banyak pemuda yang belum terlibat pada aksi tanggap bencana. Kita harus tetap peduli terhadap orang-orang yang kesusahan atau membutuhkan bantuan, dimanapun, kapanpun dan siapapun itu, tidak hanya jika ada bencana, Semoga Indonesia terbebas dari bencana beruntun seperti saat ini dan mempunyai cara lain selain “bencana” agar tetap bersatu dan mempunyai rasa kesatuan dan solidaritas bangsa ini. Merapi di Jawa Tengah kini sedang menjalani siklus kealamannya.. Di antaranya ialah meningkatnya rasa solidaritas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Semuanya kembali pada rasa senasib sepenanggungan sebagai manusia. Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana. Baik atas nama individu maupun institusi. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung mengagendakan “turba” ke masyarakat korban bencana, dengan mendirikan posko peduli bencana. Bahkan bangsa-bangsa lain di dunia menaruh perhatian khusus terhadap bencana bertubi-tubi yang melanda Indonesia. Ternyata, di balik derita masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai, justru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia. Meninggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia. Bisakah solidaritas sosial ini tetap tumbuh subur, tanpa dibarengi oleh bencana? Inilah yang perlu kita jawab dan perjuangkan. Solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di Negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat. Solidaritas Sosial Solidaritas Bangsa.
    Bencana alam sepertinya terus saja menggelayuti pangkuan bumi pertiwi. Semenjak banjir bandang di Wasior, Papua Barat, tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, hingga letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sungguh peristiwa yang menguras tetesan air mata manusia. Hal yang patut diapresiasi dalam berbagai bencana alam selama ini adalah sikap warga masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana, yang datang silih berganti menimpa. Semangat dan sikap itu pulalah yang terlihat secara mengesankan. Luar biasa semangat, ekspresi, ataupun dampak solidaritas sosial itu.
    Tanpa perlu dikomando, spontan warga masyarakat secara perseorangan atau berkelompok mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan pertolongan. Makna dan nilai solidaritas sosial itu sungguh besar, lebih-lebih bagi bangsa dan negara Indonesia, yang sangat rawan terhadap berbagai bencana. Dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan, rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Solidaritas sosial merupakan ekspresi paling orisinal dan suci dari manusia dan kemanusiaan. Kekuatan terbesarnya terletak pada sikap menolong, dan kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama. Semangat kepahlawanan yang bertumpu pada sikap pengorbanan selalu dibutuhkan. Semangat pengorbanan tidak hanya dibutuhkan untuk menghadapi bahaya bencana yang senantiasa mengintai Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan hidup bersama sehari-hari. Semoga, solidaritas sosial di atas tidak menjadi luntur, seperti para elite politik di negeri yang sebenarnya penuh damai ini, sebab solidaritas sosial telah menjadi solidaritas bangsa kita. Dari wacana diatas disimpulkan bahwa potensi kerawanan bencana sesungguhnya bernilai positif untuk meningkatkan soliditas dan solidaritas bangsa.

    Daftar Referensi :
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html
    http://teraskita.wordpress.com/2010/11/06/bencana-alam-dan-solidaritas-sosial/
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam
    http://www.facebook.com/group.php?gid=164396186905368

    Nama : FITRI WAHYUNINGRUM
    Nim : 08/274018/DPA/3138
    REKMED B

  63. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Bangsa Indonesia, menempati Nusantara yang menguntai 18.110 pulau, di atas 3 lempeng bumi yang dialiri 5.590 sungai dengan laut yang merupakan 2/3 luas wilayah dengan garis pantai 81.000 terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Dengan kondisi alamiahnya, bangsa ini diintai tak kurang dari 18 jenis bencana. Sehingga ada yang mengatakan ‘’Bangsa Indonesia adalah satu-satunya bangsa yang ditakdirkan hidup berdampingan dengan segala macam bencana atau marabahaya’’ (Kompas, 1/1/2005). Menurut Walhi (Wahana Lingkungan Hidup), secara alamiah 83% wilayah Indonesia rawan bencana. Salah satu ‘’supermarket’’ atau ‘’etalase’’ bencana di indonesia adalah Propinsi Sumatera Barat. Menurut data Badan Kesbanglinmas Sumbar, semua kabupaten di Sumbar rawan banjir, tanah longsor, banjir bandang (galodo), gempa, dan angin puting beliung. Untuk kawasan pantai, ditambah lagi ancaman abrasi dan tsunami. ”Ibaratnya Sumbar ini etalase bencana,” tandas Kepala Badan Kesbanglinmas Sumbar, Syofyan. Menurut para ahli, Indonesia ini berpondasikan ring of fire. Yakni cincin-cincin lempeng bumi yang rawan gempa. Kondisi alam ini, menurut para geolog, berarti juga ring of tragedy. Wilayah Indonesia merupakan interaksi dari tiga buah lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia di selatan, lempeng Pasifik di timur laut, dan lempeng Eurasia di barat daya. Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke utara-timur laut dengan kecepatan sekitar 6-7 cm/tahun, sedangkan lempeng Pasifik bergerak relatif ke arah barat. Tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia menghasilkan antara lain patahan (sesar) Mentawai. Sesar ini membentang di lepas pantai, sejajar dengan pantai barat Sumatra dan Sesar Besar Sumatra. Memotong Pulau Sumatra dari Teluk Semangko di selatan hingga ujung utara Pulau Sumatra. Tak heran bila banyak daerah Sumatera merupakan spot-spot gempa bumi. Karena 2/3 wilayah Indonesia berupa laut, maka potensi kerawanan gempa diikuti dengan potensi bahaya tsunami. Andre Vitchek, novelis dan senior fellow di Oakland Institute Amerika Serikat, menulis tentang bencana di Indonesia yang dimuat di dua koran internasional, The International Herald Tribune dan The Financial Times edisi 12 Februari 2007. Judul tulisan itu cukup dramatis: “Indonesia: Natural Disasters or Mass Murder”, dengan isinya yang membuat miris. Terjemahan artikel ini tampil di banyak situs internet dan milis. Vitchek memaparkan, berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, sesungguhnya dapat dicegah terjadinya. Atau paling tidak diminimalisir dampak buruknya. Tapi upaya pencegahan itu dia nilai tidak ada. Bahkan menurutnya, yang terjadi adalah pembiaran terhadap potensi-potensi berbahaya. Sehingga dia bertanya, apakah fenomena mengerikan di Indonesia itu merupakan bencana alam atau pembunuhan massal Gempa dan tsunami misalnya, dapat diperhitungkan sebelumnya meskipun tidak tepat benar kapan terjadinya. Tapi paling tidak, perhitungan awal ini sudah merupakan bagian dari antisipasi untuk meminimalisir dampak negatifnya.Gempa NAD-Sumut 2004 misalnya, sudah diprediksikan pakar geologi DR Danny H Natawijaya sejak tahun 2000. Gempa Yogyakarta pada 2006, pun sudah diperkirakan sejak 2004. Demikian pula gempa Jawa Barat, Mentawai, Sumatera Barat, dan Bengkulu.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
    Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Sesungguhnya potensi kerawanan bencana memiliki nilai positif bagi solidaritas dan soliditas bangsa Indonesia. Seperti yang kita ketahui beberapa tahun terakhir telah terjadi berbagai bencana alam di Indonesia, seperti yang telah dijabarkan di atas. Dibalik terjadinya bencana alam itu, kita dapat menemukan suatu hikmah, bahwa rakyat Indonesia banyak yang tersentuh hatinya untuk membantu korban-korban bencana, tidak hanya sekedar menyumbang uang, atau doa, tapi banyak pula yang rela turun langsung untuk memberikan bantuan sebagai relawan. Mereka membantu saudara-saudara kita secarang gotog royong, bersama-sama dan tidak membeda-bedakan darimana dan siapa mereka. Rakyat dari sabang sampai merauke bersama-sama memberikan bantuan bagi korban bencana dengan berbagai caranya masing-masing, ada yang mengadakan pengumpulan dana bantuan, sampai menjadi relawan langsung ke tempat bencana. Hal itu meningkatkan rasa kemanusiaan dan kesatuan sebagai satu bangsa Indonesia.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.

    http://id-id.facebook.com/topic.php?uid=104586306263550&topic=64

    http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=7&id=4591

    http://nasional.kompas.com/read/2010/04/16/13150815/Memahami.Kerawanan.Bencana.di.Indonesia

    NAMA : ANISA WIRANTI DAHLAN
    NO : 08/271554/DPA/2997
    D3 REKAM MEDIS (A)

  64. Potensi Kerawanan Bencana Alam Bernilai Positif untuk Meningkatkan Solidaritas dan Soliditas Bangsa

    Persepsi Resiko dan Kesiapan Bencana Alam
    Hari-hari ini Indonesia berduka dengan musibah bencana alam yang terjadi berganti dan bersamaan. Belum pulih dan tertangani bencana banjir Wasior, Papua, tanah air kita sudah didera bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi. Masih disusul lagi dengan gejala 22 gunung berapi yang tersebar di kepulauan Nusantara kita yang menunjukkan peningkatan aktivitas.
    Banjir Wasior memprihatinkan karena penanganannya yang terkesan kurang perhatian dari pemerintah pusat. Ini menjadi tipikal mitigasi bencana alam yang terjadi jauh dari sentra pemerintahan di Jakarta. Tsunami Mentawai memprihatinkan kita selain karena respon darurat tanggap bencana yang terhambat oleh banyak faktor termasuk kondisi lapangan yang sulit ditempuh. Letusan gunung Merapi memprihatinkan kita karena letusannya kali ini dapat dikatakan lebih parah dari sebelumnya. Kendala evakuasi tidak hanya masalah fisik namun juga psikologis.
    Respon tanggap bencana kita di tataran lokal dan nasional nyata-nyata perlu diperbaiki. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikritik kurang sigap dan efektif dalam koordinasi respon tanggap bencana. BNPB sendiri beralasan bahwa sulitnya koordinasi karena di tingkat lokal daerah tidak semuanya ada Badan Penanggulangan Bencana.
    Indonesia secara geografis dengan kepulauan Nusantaranya yang terdiri dari sekitar 13 ribu pulau memanjang di garis katulistiwa. Nusantara kita terletak pada pertemuan tiga lempeng benua dunia, dan dua samudera dunia. Ini membuat kepulauan Nusantara kita sangat rawan pada gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka potensi bencana menjadi semakin besar dengan risiko tsunami. Jalur gunung api yang tidak kurang sekitar 300 gunung api di kepulauan Nusantara membuat potensi bencana vulkanik juga tinggi. Alam katulistiwa dengan tingkat curah hujan tropis yang tinggi dan sungai-sungai yang banyak dan besar membuat Indonesia juga rawan bencana banjir.
    Indonesia sebagai negara dengan potensi dan riwayat bencana alam yang tinggi seharusnya memiliki pengalaman belajar dan mengatasi bencana alam. Namun kita menyaksikan bahwa hal ini tidak semudah yang kita harapkan. Kita menyaksikan respon tanggap bencana di kalangan pemerintah dan masyarakat kita malah menunjukkan drama yang miris. Pejabat publik yang diharapkan di depan dalam mengatasi bencana alam, justru melukai psikis bangsa dengan pernyataan yang tidak empatif. Justru di kalangan masyarakat awam non pejabat publik, solidaritas sosial lebih terlihat nyata dengan aktifnya masyarakat secara swadaya menggalang dan mengirimkan bantuan. Kemajuan teknologi social networking juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk upaya nyata membantu korban bencana alam.
    Apalagi kita juga harus menyebut bahwa sementara para korban bergulat untuk bertahan hidup, namun pejabat publik malah sempat-sempatnya pergi ke luar negeri untuk alasan studi banding yang sudah diprogramkan. Orang nomor satu di negara kita (RI-1) pun sempat mengecewakan kita saat ketika terjadi bencana alam tsunami Mentawai dan letusan Merapi, beliau entah di mana, yang ternyata juga masih berada di tengah kunjungan ke negara lain, bahkan memilih melakukan koordinasi penanganan bencana dari nun jauh di negara yang sedang dikunjunginya, dan tidak langsung kembali ke tanah air sebagai tanda empati dan komitmen terhadap masalah rakyat.
    Pelajaran yang senantiasa dipetik dari kejadian bencana alam adalah bagaimana kita mempersepsi peristiwa bencana alam. Bagaimana kemungkinan terjadinya bencana alam itu dan bagaimana keparahan yang mungkin terjadi, serta bagaimana upaya antisipasi dan respon mengatasinya. Pengetahuan tentang gejala-gejala bencana alam dan kesiapan perilaku yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana, perlu menjadi perhatian bagi kita semua, terutama masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
    Namun demikian, manusia adalah makhluk yang unik. Persepsi setiap manusia dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya, walaupun terhadap hal yang sama. Termasuk pula dalam hal risiko bencana. Persepsi risiko bencana menjadi hal yang kompleks. Bagi seseorang, kondisi dapat dianggap sudah berbahaya, namun bagi orang lain, kondisi yang sama dapat dianggap masih belum berbahaya. Faktor-faktor psikologis, seperti pengetahuan dan keyakinan tradisional, keyakinan diri mampu mengatasi bencana, dan kekeliruan persepsi yang mungkin terjadi, dapat membuat persepsi risiko menjadi fatal.
    Kita berharap masyarakat Indonesia yang hidup di negara yang memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, menjadi masyarakat yang tanggap bencana. Baik dalam arti memiliki pengetahuan dan persepsi yang akurat tentang risiko bencana, pengetahuan dan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana alam, dan upaya-upaya solidaritas nasional untuk membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Yang kali ini harus kita garis bawahi kembali adalah pejabat publik kita masih harus banyak belajar dan mempraktekkan bagaimana merespon, menangani, dan membantu secara nyata ketika terjadi musibah bencana alam yang menimpa masyarakat.

    Solidaritas Sosial Solidaritas Bangsa
    Bencana alam sepertinya terus saja menggelayuti pangkuan bumi pertiwi. Semenjak banjir bandang di Wasior, Papua Barat, tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, hingga letusan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sungguh peristiwa yang menguras tetesan air mata manusia.
    Hal yang patut diapresiasi adalam berbagai bencana alam selama ini adalah sikap warga masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana, yang datang silih berganti menimpa. Semangat dan sikap itu pulalah yang terlihat secara mengesankan. Luar biasa semangat, ekspresi, ataupun dampak solidaritas sosial itu. Tanpa perlu dikomando, spontan warga masyarakat secara perseorangan atau berkelompok mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan pertolongan. Makna dan nilai solidaritas sosial itu sungguh besar, lebih-lebih bagi bangsa dan negara Indonesia, yang sangat rawan terhadap berbagai bencana.
    Maka, dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan, rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Ekspresi rasa setia kawan seperti tidak habis-habisnya sekalipun bencana datang silih berganti.
    Solidaritas sosial merupakan ekspresi paling orisinal dan suci dari manusia dan kemanusiaan. Rasa setia kawan lahir dari dorongan hati paling dalam dan murni. Kekuatan terbesarnya terletak pada sikap menolong, dan kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama.
    Semangat kepahlawanan yang bertumpu pada sikap pengorbanan selalu dibutuhkan. Semangat pengorbanan tidak hanya dibutuhkan untuk menghadapi bahaya bencana yang senantiasa mengintai Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan hidup bersama sehari-hari.
    Semoga, solidaritas social di atas tidak menjadi luntur, seperti para elite politik di negeri yang sebenarnya penuh damai ini, sebab solidaritas social telah menjadi solidaritas bangsa kita.

    Referensi :
    http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/265-persepsi-risiko-dan-kesiapan-bencana-alam
    http://www.ariefputramulia.co.cc/2010/11/kepedulian-dan-rasa-solidaritas.html

    NAMA :MAYASARI AGUSTINA
    NIM :08/274043/DPA/3142
    D3 REKAM MEDIS

  65. Potensi Kerawanan Bencana alam bernilai positif untuk meningkatkan solidaritas bangsa.

    Hidup berbangsa dan bernegara kita tampaknya terus mendapat ujian. Ujian itu tidak hanya muncul dari manusia-manusia yang tidak peduli terhadap nilai-nilai etis dalam kekuasaan melalui kebiasaan korupsi, kolusi dan nepotisme, dan tangan-tangan kotor kaum teroris, melainkan juga muncul dari jagat raya.
    Peristiwa alam yang beruntun itu telah membawa akibat negatif yang tidak sedikit bagi warga masyarakat yang terkena musibah.
    1. Trauma yang amat mendalam. Betapa tidak, tanpa disangka-sangka rasa kebersamaan yang dirasakan oleh keluarga terkena bencana dalam sekejap mata tercabik-cabik oleh hantaman ombak ganas. Keluarga tercerai berai untuk selama-lamanya. Orang tua kehilangan anak-anaknya, anak kehilangan ayah dan ibunya serta sanak saudaranya. Bagi anggota keluarga yang ditinggalkan, pengalaman ini akan meninggalkan trauma yang mendalam.
    2. Tragedi alam itu telah pula memupus harapan masa depan anak-anak yang kehilangan orangtua dan sanak saudaranya. Tidak sedikit anak yang menjadi yatim piatu. Sebagaimana diberitakan oleh salah satu media elektronik, sesudah beberapa hari tragedi, seorang anak berumur 11 tahun, kini sebatang kara karena kedua orangtuanya menjadi korban terjangan gelombang tsunami
    3. Masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat rumah mereka tersapu oleh badai Tsunami juga merasakan penderitaan yang tidak sedikit.
    Solidaritas menyiaratkan pula perlakuan yang sama terhadap siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dalam tragedi tsunami dan bencana alam yang menimpa bangsa ini, pertolongan terhadap sesama tidaklah dilandaskan pada keberpihakan, melainkan dilandasi oleh rasa keadilan yang mengejawantah pada perlakuan yang sama bagi seluruh anggota masyarakat. Solidaritas didasarkan pada ketulusan hati yang murni. Itu berarti bantuan terhadap para korban bencana memang murni keluar dari hati yang bersih, bukan untuk memuat tujuan tertentu dan kepentingan tertentu. Karena itu bendera-bendera partai politik atau label-label agama terhindar dari aksi solidaritas humanistik. Solidaritas dalam bencana alam mewujud dalam pertolongan dan perhatian yang berkesinambungan. Itu berarti perhatian dan bantuan yang diberikan kepada korban tidak bersifat insidental, melainkan berkelanjutan. Bencana alam yang menimpa bangsa kita merupakan peristiwa alam yang mengingatkan kita untuk peduli terhadap sesama bangsa.
    Paling tidak, ada tiga hal solidaritas, kesabaran, dan sikap kritis yang selalu mengikuti peristiwa bencana alam. Setiap kali bencana datang, saat itu juga, rasa prihatin yang menampakkan solidaritas dari seluruh penjuru dunia, segera mengalir. Dari ungkapan prihatin melaui, sms, telepon, iklan TV, akun facebook, twitter, memberikan sumbangan langsung berupa uang, obat-obatan, logistik, sampai bersedia menjadi relawan yang terjun langsung ke lokasi.
    Tingginya animo masyarakat ini mengisyaratkan bahwa, rasa solidaritas diantara seluruh manusia belum tercerabut dari akarnya. Sejarah bangsa kita pun tak mengingkari itu. Ketika Indonesia di Jajah oleh Belanda dan Jepang misalnya, rasa senasib-sepenanggungan itu yang menguatkan solidaritas masyarakat untuk bangkit, berjuang mengusir pendudukan para koloni.
    Bagi pihak yang terkena bencana, kesabaran adalah sikap yang senantiasa dianjurkan. Beberapa pihak cenderung memandang musibah banjir, gempa, gunung meletus, sebagai bukan fenomena alam semata, melainkan peringatan, bahkan kutukan dari Tuhan. Sementara sebagian lainnya, khususnya para ahi di bidang ini, lebih melihatnya sebagai fenomena alam yang secara alami terjadi, mengikuti mekanisme dan siklus alam. Terlepas dari dua pendapat umum di atas, seluruh kejadian di muka bumi ini, idelanya dilihat sebagai bagian dari rencana Tuhan, sambil berfikir positif bahwa akan ada kebaikan setelah peristiwa ini.
    Solidaritas spontan atas beragam kejadian yang berlangsung di Indonesia, secara nyata menjadi sinyal positif bagi sensitivitas individu dan kelompok. Sensitivitas ini juga menjadi indikasi bahwa sikap hidup ”siapa lu-siapa gue” yang menjadi salah satu ciri hidup warga kota besar tidaklah benar. Di dalam banyak kasus menunjukkan bahwa sikap peduli kepada sesama yang ditunjukkan oleh warga kota metropolitan semakin tinggi. Lihat ketika warga kota mempelopori menggalang solidaritas atas orang lain yang tertimpa musibah, mendapat perlakuan tidak adil, arogan dan cenderung semena-mena.
    Solidaritas spontan bukan hal asing bagi rakyat Indonesia. Semangat peduli kepada orang lain baik dalam suka dan duka, sejalan dengan semangat gotong-royong yang masih tumbuh subur. Semangat gotong-royong tidak tergerus meski di era modern kecenderungan individualistik semakin meningkat. Kepekaan dan kepedulian bahkan cenderung meningkat di kawasan perkotaan. Orang pun menyadari bahwa ia tidak dapat hidup sukses tanpa bantuan orang lain. Maka saat orang lain mengalami kesusahan, sikap peka dan peduli muncul dalam bentuk reaksi positif. Lihat pada berbagai kasus bencana yang menimpa bangsa dan rakyat Indonesia. Beragam bantuan sebagai wujud dari solidaritas bagi sesama tetap berlangsung. Dalam keadaan lain, solidaritas atas ketidakadilan yang menimpa orang lain ditanggapi dengan cepat. Warga semakin matang dalam menyikapi hal-hal yang notabene pada era sebelum reformasi (1998) relatif tabu dan tidak berani dilakukan secara terbuka. Kini di era reformasi yang masih terus bergulir, warga mendapat pembelajaran berarti yakni mengasah rasa kepeduliannya untuk orang lain. Kepekaan dan kepedulian warga untuk merasakan penderitaan orang lain semakin terasah berkat peran media cetak dan elektronik yang secara rutin menginformasikan beragam peristiwa di dalam dan luar negeri. Apa yang kita patut lakukan adalah memberi bantuan dalam bentuk materi, tenaga, waktu, pikiran dan doa. Intinya, bukan kepada besaran bantuan itu, tapi kepada kepekaan dan kepedulian dari diri sendiri.
    Inilah momen tepat bagi seluruh elemen bangsa mengimplementasikan solidaritas berbasis pada keadilan dan ketulusan. Kepedulian sosial kita memuat jaminan akan masa depan korban gempa dan tsunami

    Referensi:
    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=150248

    http://www.waspada.co.id/index.php/images/index.php?option=com_content&view=article&id=75794:solidaritas-penuh-makna&catid=25:artikel&Itemid=44

  66. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS BANGSA

    Bencana di Indonesia seolah-olah sudah menjadi informasi keseharian yang digeluti sebagai bagian dari kehidupan warga negara. Informasi keseharian ini tertangkap oleh panca indera karena tingkat kekerapan (frekuensi) peristiwa yang terjadi di wilayah Indonesia yang relatif tinggi dan menimpa rakyat di bagian wilayah tertentu Indonesia pada kurun waktu tertentu . Untuk mengkalisifikasikan suatu peristiwa perlu dilakukan penelusuran terminologi bencana. Bencana (disaster) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah segala sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian atau penderitaan; malapetaka; kecelakaan; marabahaya. Sedangkan bencana alam adalah bencana (kecelakaan) yang disebabkan oleh alam seperti gempa bumi, angin besar dan banjir.
    Kita harus akui bahwa indonesia berada dalan lingkaran yang rawan bencana, kenapa BMG kita belum mampu memperadiksi dengan cermat sehingga informasi yang disampaikan belum akurat dan berdampak korban bagi masyarakat indonesia. Pemerintah harus lebih meningkatkan kualitas personil dari BMG dan banyak belajar dari negara luar tentang antisipasi dini terhadap bencana, sehingga lebih mampu memperadiksi daerah2 yang rawan bencana dan mengiformasikan secdepatnya kepada masyarakat dan masyarakat mampu menimalisir kerugian nyawa dan harta yang akan terjadi. sebagai contoh daerah mentawai hasil deteksi BMG tidak akan terjadi tsunami besoknya terjadi tsunami, sedangkan masyarakat belum mendapatkan informasi guna antisipasi tsunami sehingga masyarakat menjadi korban.begitu juga gunung merapi jogja BMG mepradiksikan wilayah aman radius 15 Km dari gunung merapi kenyataannya melebihi dari prakiraan dan korban berjatuhan lagi.
    Isu perubahan iklim tampaknya bukan isapan jempol belaka. Buktinya saat ini, di musim kemarau tetapi sesekali turun hujan. Cuaca pun terasa berubah-ubah. Kadang panas, namun tiba-tiba dingin menusuk. Akibat hujan, di beberapa daerah bahkan terlanda banjir. Untuk itu, kewaspadaan dan antisipasi terhadap bencana mestinya tetap menjadi prioritas.
    Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2008 lalu, dari 1.306 kejadian bencana, banjir menempati peringkat pertama (38 %). Disusul kejadian seperti kekeringan (15 %), kebakaran (14 %), angin topan (13 %), tanah longsor, gempa,tsunami, gelombang pasang, kecelakaan transportasi, dan lain-lain.
    Bencana memang sering terjadi. Terlebih dengan cakupan wilayah yang luas, Indonesia dianggap sebagai negeri yang rawan bencana. Bukan saja bencana alam seperti yang tersebut diatas, faktanya negeri ini pun memiliki potensi terjadinya bencana dalam bentuk lain seperti kerusuhan sosial, aksi terorisme, kecelakaan industri dan sebagainya.
    Sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Pasal 5 menyebutkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Bentuk tanggungjawab dan wewenang itu telah diatur secara rinci dalam UU itu. Namun dalam kenyataannya, sering kita melihat lembaga pemerintah (pusat/daerah) belum optimal menjalankan fungsi dalam mengantisipasi bencana, khususnya dalam aspek pencegahan bencana. Terlebih jika evaluasi dilakukan pada tahap tanggap darurat dan rehabilitasi bencana. Prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana seperti cepat dan tepat, prioritas, koordinasi dan keterpaduan, transparansi dan akuntabilitas, non diskriminatif dan lain-lain belum sepenuhnya terealisasi.Padahal jika melihat fakta diatas, bencana setiap saat bisa terjadi. Selain diperlukan sikap yang sigap, antisipasi juga harus dilihat sebagai langkah yang penting. Bencana bukanlah takdir. Petaka yang terjadi, apakah itu banjir, gempa, longsor, dan seterusnya jika kita kaji lebih jauh terkadang akibat perbuatan tangan-tangan manusia sendiri. Atau istilah Ebiet G. Ade, akibat manusia tak lagi bersahabat dengan alam. Pembangunan, industri, eksploitasi alam yang tak terkendali menimbulkan kerusakan lingkungan. Lantas hukum alam berjalan sebagaimana mestinya. Jika terjadi ketidakseimbangan akan timbul ekses-ekses. Akibatnya manusia sendiri yang menanggungnya.
    Dalam konteks yang lebih luas, penanggulangan bencana memerlukan partisipasi masyarakat. Bahkan dalam aspek pencegahan, peranserta masyarakat sebenarnya memiliki andil yang besar. Masyarakat dalam aspek ini harus menjadi subjek bukan objek. Misalnya melalui bentuk gerakan untuk membiasakan tidak membuang sampah sembarangan, gerakan cinta lingkungan hidup, dan lain-lain. Pemberdayaan masyarakat harus disinergikan dalam gerakan pengurangan resiko bencana. Pemberdayaan disini dilihat sebagai proses dengan pendekatan yang mengutamakan adanya pembagian wewenang pemerintahan dan keuangan antara negara dan masyarakat. Pemberdayaan itu harus berbasis kegiatan di tingkat lokal.
    Selain itu, sebenarnya jika dilihat secara umum, tingkat kepedulian masyarakat kita sudah cukup baik saat menghadapi bencana. Hal itu terlihat dengan antusiasnya masyarakat membantu atau mengirimkan sumbangan ke lembaga amal/sosial. Beberapa media baik suratkabar atau televisi yang membuka rekening untuk membantu korban bencana, umumnya mendapat respons yang baik dari masyarakat. Hal itu terbukti dengan terkumpulnya dana yang cukup besar.
    Begitu pun di kalangan BUMN/swasta, program Corporate Social Responsibility (CSR) juga ikut berperan membantu korban bencana. Namun hal itu tidak cukup, ke depan dengan melihat potensi bencana yang bisa datang setiap saat, kita perlu terus membangun spirit kepedulian, kebersamaan dan gerakan kesukarelawanan (volunterism).
    Gerakan ini melihat bahwa setiap orang dapat berperan dalam mencegah maupun menghadapi bencana. Setiap orang harus ikut berkontribusi sesuai dengan kemampuannya. Prinsip ini jelas terkait sekali dengan kesetiakawanan sosial, solidaritas dan sikap empati. Ke depan, gerakan-gerakan seperti ini harus dilembagakan atau minimal disediakan ruang-ruang publik yang dapat mematangkan tumbuhnya kepedulian bersama dikalangan warga dalam menghadapi masalah-masalah publik, termasuk dalam menghadapi bencana.
    Di negara-negara maju, gerakan seperti ini umum terjadi. Masyarakat dengan kesadaran sendiri dan tingkat pemahaman yang kritis terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi, biasanya membangun komunitas-komunitas, aliansi dan jejaring sosial yang tentunya akan lebih cepat bergerak tanpa hambatan birokrasi.
    Di tanah air, saat ini pun gerakan-gerakan sosial itu sudah mulai tumbuh. Dulu pernah ada gerakan “koin untuk Prita” dan lain-lain. Beberapa waktu lalu juga ada gerakan penggalangan dana untuk biaya kesehatan bagi korban dari keluarga tidak mampu, dompet untuk Ridho (anak korban ledakan tabung gas) di sebuah televisi swasta dan lain-lain. Aksi-aksi independen seperti ini, yang dimotori oleh komponen masyarakat yang peduli dan tidak memiliki motif tertentu, harus terus digelorakan. Negeri ini membutuhkan aksi-aksi sosial yang tulus.
    Bencana telah melahirkan solidaritas sosial sesama warga bangsa untuk saling meringankan beban penderitaan. Solidaritas tersebut muncul dalam bentuk bantuan. Namun bantuan bencana tidak hanya memiki dampak positif tetapi dalam perjalanan waktu penyaluran bantuan bencana terungkap kasus-kasus korupsi baik yang melibatkan pejabat publik maupun tokoh masyarakat.Bantuan bencana memberikan potensi untuk melakukan korupsi, dimana terungkapnya kasus-kasus korupsi dapat memperlemah modal sosial berupa kepercayaan dan kerjasama antar warga yang sudah terjalin sebelum bencana terjadi. Untuk itu tulisan ini mencoba menyoroti praktek korupsi bantuan yang menghasilkan derivasi dampak yaitu korupsi potensi warga untuk keluar dari keterpurukan akibat bencana.

    DAFTAR REFERENSI

    http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/163-masyarakat-peduli-bencana.html
    http://www.metrotvnews.com/metromain/newsprograms/2010/11/01/7355/252/Solidaritas-Untuk-Korban-Bencana
    http://yakubadikrisanto.wordpress.com/tag/bantuan-bencana-yang-disalurkan-pasca-terjadinya-bencana-berpotensi-melahirkan-korupsi-tulisan-ini-menyoroti-potensi-korupsi-tersebut/

    INDRIANI R.S
    08/271517/DPA/2965
    PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS

  67. Bencana Berdampak Solidaritas
    Dalam tragedi bencana alam, perikemanusiaan (humanitas) kita dibangunkan dari tidur. Selama ini kita sering tertidur dan tidak bereaksi terhadap penderitaan di sekitar kita. Kita lebih sering berperan sekadar sebagai pengamat dan penonton. Di tengah bencana kita menyaksikan tumbuhnya tunas-tunas solidaritas terhadap mereka yang menjadi korban. Hilir mudik pengangkut bantuan, tenaga medis dan relawan kemanusiaan mencerminkan masih kentalnya solidaritas terhadap para korban. Hal yang patut diapresiasi adalam berbagai bencana alam selama ini adalah sikap warga masyarakat yang senantiasa tergerak memperlihatkan rasa setia kawan kepada para korban bencana, yang datang silih berganti menimpa. Semangat dan sikap itu pulalah yang terlihat secara mengesankan. Luar biasa semangat, ekspresi, ataupun dampak solidaritas sosial itu. Maka, dapat dikatakan bila solidaritas sosial telah menjadi solidaritas kehidupan. Solidaritas yang menyelamatkan banyak nyawa dan memberi kehidupan bagi sesama. Sungguh membanggakan, rasa setia kawan sebagai modal sosial seperti tidak meredup di Indonesia. Ekspresi rasa setia kawan seperti tidak habis-habisnya sekalipun bencana datang silih berganti. Kesediaan berkorban menjadi kunci bagi keselamatan sesama. Semoga, solidaritas sosial di atas tidak menjadi luntur, seperti para elite politik di negeri yang sebenarnya penuh damai ini, sebab solidaritas social telah menjadi solidaritas bangsa kita. Bencana-bencana alam yang terjadi bertubi-tubi sepanjang beberapa tahun belakangan, bagaimanapun merupakan “teguran” agar kita mau lebih mengoreksi diri dan meningkatkan solidaritas kita sebagai bagian dari umat, masyarakat dan bangsa Indonesia.
    Manusia diharapkan terdorong solidaritas kemanusiaan dan kebersamaan menghadapi tantangan dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Mereka yang tidak menjadi korban berpartisipasi dalam kelemahan dan keterbatasan korban. A necessary and sufficient condition untuk solidaritas adalah persaudaraan sebagai keluarga manusia. Dari perspektif solidaritas, terdapat istilah yang dikenal sebagai solidaritas sosial karitatif dan solidaritas sosial konsientitatif. Solidaritas sosial karitatif lebih menekankan bantuannya pada wujud kebendaan, tanpa diikuti oleh kemungkinan pelibatan pemikiran pelaku aksi secara intens pada para penerima sumbangan. Sedangkan solidaritas konsientitatif, di samping bantuan material juga memuat bantuan pemikiran yang antara lain berwujud dalam bentuk pengkajian mengenai sebab-sebab terjadinya musibah, upaya-upaya melepaskan atau menghindari diri musibah dan mencari bentuk kegiatan ideal pada saat suasana kembali normal. Aksi solidaritas karitatif umumnya untuk tujuan jangka pendek. Tujuannya adalah untuk mengatasi beban masyarakat yang mengalami peristiwa itu, dengan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok minimalnya. Aksi semacam itu menjadi cepat terwujud, lebih dikarenakan atas respons naluri kemanusiaannya yang tergerak melalui pengandaian bagaimana bila diri atau keluarganya yang mengalaminya. Sedangkan aksi solidaritas konsientitatif umumnya dilakukan terhadap masyarakat agar korban ikut memikirkan persoalan yang dihadapi. Ia tidak berlangsung atas dorongan naluri kemanusiaan semata, tetapi juga diwarnai suatu bentuk pengkritisan terhadap kebijakan tersebut. Jon Sobrino dalam Where is God?: Earthquake, Terrorism, Barbarity, and Hope (2004) menyerukan penting dan perlunya solidaritas universal di hadapan tragedi kehidupan orang yang menjadi. Orang yang menjadi korban tiba-tiba menjadi miskin yang menanggung beban berat untuk membela hidupnya. Bencana gempa bumi kian menghancurkan kehidupan karena mereka yang menjadi korban tak kuasa melawan. Efek bencana alam ini amat fatal bagi kehidupan karena berpotensi merenggut kehidupan mereka.
    Bencana alam adalah lensa tembus pandang untuk melihat tragedi kemanusiaan. Bencana alam tidak pernah selektif memilih korban. Namun, perbedaan efek bencana alam yang dialami mayoritas orang miskin dan minoritas yang tidak miskin amat signifikan. Pascabencana alam, orang miskin perlu waktu lama untuk membangun kembali kehidupan mereka. Mayoritas orang miskin kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, dan hidup dengan persediaan finansial terbatas. Masa depan mereka tak menentu. Penderitaan yang dialami minoritas orang tidak miskin biasanya berdurasi pendek. Mereka dapat memperbaiki kehidupan yang telah rusak dan hidup normal dengan segera. Di tengah penderitaan itu, kita melihat tunas-tunas solidaritas tumbuh dalam masyarakat Indonesia yang plural. Banyak media massa berinisiatif membuka dompet kemanusiaan. Institusi-institusi agama mendorong pemeluknya untuk mengungkapkan solidaritas terhadap korban dengan memberi bantuan kemanusiaan. Banyak rumah ibadah membuka diri sebagai tempat penampungan jenazah korban dan pengungsian bagi keluarga korban yang kehilangan tempat tinggal. Para relawan kemanusiaan domestik dan internasional mulai berdatangan untuk membantu mencari para korban yang hilang dan melakukan evakuasi korban, pelayanan medis, menyediakan bantuan logistik. Penderitaan para korban adalah penderitaan kita sebagai komunitas manusia. Kita diundang bertanggung jawab terhadap kehidupan saudara- saudari kita yang mengalami penderitaan.
    Merapi yang terkena awan panas sungguh menjadikan kita semua sebagai warga Negara terpanggil untuk membantu sebisanya sesuai dengan kemampuan. Dompet peduli sebagai wujud solidaritas terbuka dimana-mana baik di media elektronik, media cetak maupun melaui kotak sedehana berupa kardus di sekolahan, dikantor dan di perempatan jalan. Tak mau kalah untuk menunjukkan solidaritasnya, inisiatip warga Yogya melalui RT, RW dimana setiap KK menyerahkan bantuan nasi bungkus seadanya dalam jumlah tertentu untuk dibagikan kepada saudara pengungsi yang membutuhkan patut diacungi jempol. Sungguh sebuah pertunjukkan drama kemanusiaan yang menyentuh hati nurani tidak seperti layaknya drama politik yang dilakonkan para anggota terhormat DPR dalam menyelesaikan kasus Century. Justru masyarakat yang sederhana dan serba kekurangan ini telah menunjukkan kedermawanannya untuk membantu sesama tanpa pamrih dan tanpa perlu diketahui yang lain. Sangat membanggakan ketika tindakan memberi dengan tangan kanan, ternyata tangan kiri tak perlu mengetahuinya. Bahkan gedung olah raga telah beralih fungsi menjadi tempat pengungsian dan kampus UGM dan UII juga telah membuka pintu seluas-luasnya untuk menjadi tempat pengungsian dalam upaya kemanusiaan. Semua sekolah diliburkan dan juga perkuliahan diliburkan selama seminggu mengingat aktivitas Merapi yang terus saja terjadi erupsi dan gemuruh suara yang tiada henti yang menunjukkan kegarangannya. Pemakaian masker meski dilokasi pengungsian, di jalan dan di rumah harus dilakukan karena abu vulkanik terus mengguyur bagaikan hujan, yang selain membuat pernapasan sesak juga membahayakan bagi kesehatan.. Meski tidak dapat membantu banyak, namun kita semua selalu berdoa agar semuanya kembali berjalan normal. Cukup sudah penderitaan begitu banyak warga diseputaran Merapi baik karena kehilangan anggota keluarganya yang meninggal, luka bakar dan ludesnya harta benda akibat kegarangan Merapi.
    Dari semua bencana yang telah dirasakan diberbagai tempat, membuat banyak penderitaaan. Tetapi bukan hanya dampak penderitaan yang kita ambil dari bencana, tetapi juga dampak positif yang kita rasakan yaitu rasa solidaritas yang tumbuh antar sesama kita dapat terbangun. Kita harus sadar bencana dapat menimpa siapa saja tanpa terkecuali, maka hendaknya kita semua sebagai umat manusia harus memetik makna teologis dibalik setiap ketentuan Yang Maha Kuasa. Memahami yang tertimpa musibah bukan hanya menunjukan kebersamaan, tetapi juga bagian dari memahami keberadaan sesama makhluk Tuhan.

    Nama : Novita Candra Dewi
    Nim : 08/271561/DPA/3003
    Prodi : D3 Rekam Medis A

    Daftar Referensi
    http://adikarsa.wordpress.com/2010/11/07/merapi-garang-rakyat-mengerang-2/
    http://alfanalfian.multiply.com/journal/item/114/Solidaritas_
    http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009090905574958
    http://ngacung.blogspot.com/2010/11/artikel-tentang-kesetiakawanan-saat.html
    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=149935

  68. POTENSI KERAWANAN BENCANA SESUNGGUHNYA BERNILAI POSITIF UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS DAN SOLIDITAS
    Akhir-akhir ini Indonesia sering tertimpa bencana alam, mulai dari banjir wasior,tsunami mentawai,letusan merapi hingga letusan bromo. Memang banyak penderitaan yang dating bertubi-tubi menimpa negeri ini. Akan tetapi disisi lain bencana membawa nilai positif bagi rakyat negeri ini yaitu tentang solidaritas rakyat Indonesia, mereka saling bahu membahu dalam membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah.
    Tetapi ada juga sebagian rakyat yang tidak tergerak hatinya untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Mereka menyebut diri mereka WAKIL RAKYAT yang justru melakukan kunjungan ke luar negeri dengan alasan studi banding. Saat bencana wasior dan gunung merapi ada salah seorang wakil rakyat yang notabennya malah sebagai ketua mengatakan “Musibah kok janjian. Kok ya bisa barengan datangnya. Kayak janjian saja. Kalau takut ombak jangan berumah di tepi pantai, kata ketua DPR. Itulah resikonya orang berumah ditepi pantai. Apalagi tinggal di pulau yang semuanya pantai. Siapa suruh tinggal di Mentawai, katanya lagi. Menyusahkan orang saja. Susah mendatangkan bantuan. Susah dikunjungi pejabat. Susah saat ketika ada peringatan. Sensor itu baru kasih tanda 2 jam sebelum tsunami. Dalam waktu 2 jam siapa yang sanggup mengevakuasi orang sepulau.”
    Ada juga anggota lain yang lebih bagus dari yang lainnya, seperti yang diberitakan dalam okezone “Seperti diberitakan kunjungan ke luar negeri anggota Dewan tetap berlanjut meski sebelumnya sejumlah pimpinan Fraksi menggembar-gemborkan moratorium. Siang ini, giliran Komisi VIII berangkat ke Arab Saudi untuk mengawasi pelaksanaan ibadah haji. Meski alasannya pengawasan, sebagian dari mereka turut serta membawa istri, suami, adik atau anggota keluarga lainnya.”. widiw hebat sekali pejabat negeri ini disaat dilanda bencana mereka malah melakukan “tamasya” ke luar negeri. Kemudian tidak lama berselang ada penyataan tolol dari anggota wakil rakyat yang terhormat. Pernyataan itu terlontar saat media rame-rame membahas soal kunjungan kerja anggota dewan ke luar negeri, yang katanya studi banding, yang menghabiskan uang rakyat sampe ratusan milyar. Bahkan anggaran perjalanan luar negeri itu menempati posisi kedua besarnya setelah lembaga kepresidenan. Sebuah angka yang fantastik, 170.351.584.00 (Kompas, 20/9/2010). Tololnya lagi, anggota dewan itu malah membandingkan dengan kementerian atau lembaga pemerintahan lainnya yang juga biasa pergi ke luar negeri. Katanya, “Kami setahun paling dua kali, kok ribut. Itu kan aneh,”.
    Akan tetapi masih ada banyak rakyat Indonesia yang tergerak hatinya untuk menolong saudara mereka, seperti dari masyarakat Yogyakarta “Bencana letusan merapi mengetuk rasa solidaritas warga desa Sriharjo Kecamatan Imogiri. Hal ini ditunjukkan dengan antusias yang luar biasa dari warga Desa Sriharjo dalam melakukan berbagai respon. Masyarakat Sriharjo merasa terketuk hatinya karena peristiwa itu hampir sama dengan peristiwa yang dialami mereka pada tahun 2006. Perasaan inilah yang kemudian memunculkan rasa solidaritas yang sangat tinggi. Menurut keterangan ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa Sriharjo, Bambang Rinadi yang sekaligus koordinator bantuan peduli merapi, sejak tanggal 5 Nopember 2010, beberapa posko bantuan merapi yang tersebar di pedukuhan-pedukuhan di Sriharjo telah mengirimkan bantuan logistik mereka yang berupa nasi bungkus, peralatan mandi, serta pakaian pantas pakai. Pengiriman pertama dilakukan pada tanggal 5 November 2010 di pos pengungsian di Berbah Sleman berupa pakaian pantas pakai. Pada hari itu juga, 800 nasi bungkus disampaikan di pos pengungsian youth center cebongan sleman. Pada hari berikutnya, 1000 lebih nasi bungkus dikirimkan ke Klaten. Tujuan semula adalah di Posko Balerante Klaten yang terletak di GOR SMA N 3 Klaten, sesuai rekomendasi dari secretariat Gender Working Group (GWG) Yogyakarta. Namun karena kedatangan nasi bungkus sedikit terlambat, di posko tersebut telah ada yang memberikan nasi bungkus. Namun bukan berarti nasi bungkus yang dibawa rombongan FPRB Sriharjo ini sia-sia, karena tiba-tiba ada permintaan nasi bungkus dari Kecamatan Jatinom Klaten, dimana di situ terdapat para pengungsi yang baru saja turun dari rumah mereka di dekat merapi. Nasi bungkus segera dibawa ke jatinom dan diterima dengan baik oleh pengelola pos pengungsian setempat. Berikutnya, pada tanggal 7 Nopember, FPRB Sriharjo kembali mengirim ke wedomartani 200 nasi bungkus dan peralatan mandi serta pakaian dalam. Pada hari itu juga, posko bantuan merapi di dusun Mojohuro mengirimkan logistic berupa pakaian pantas pakai dan peralatan mandi ke pos pengungsian di Jamus, Gajahan, Sawangan, Maguwo. Sedangkan tanggal 9 Nopember 2010, 570 nasi bungkus dikirimkan ke Pos pengungsian di Perumahan kanisius dan Wedomartani. Kesemua pengiriman bantuan tersebut dilakukan by order, sehingga semuanya tepat sasaran.
    Tahun ini kita kembali merayakan Idul Adha dalam keadaan berduka. Ia berlangsung di tengah sergapan berbagai bencana alam dahsyat. Banyak saudara kita harus bertakbir di tenda-tenda pengungsian. Gunung meletus, tsunami, dan banjir bandang baru saja menghajar permukiman mereka. Kecuali kehilangan tempat tinggal, para korban malapetaka itu juga belum jelas masa depannya. Sebab, bencana tidak cuma menghancurkan infrastruktur tetapi juga memutus sumber-sumber ekonomi. Sungguh, berbagai bencana yang melanda negeri ini merupakan ujian kolektif yang harus dilalui bangsa ini. Korban, baik jiwa maupun harta sudah berjatuhan. Bangsa ini sedang terluka, baik fisik maupun batinnya akibat bencana yang bertubi-tubi itu. Sebuah ujian yang berat. Ia hanya mampu dilalui kalau kita semua mau ikut bertanggung-jawab dan menghadapinya bersama-sama.
    Oleh sebab itu, Idul Adha tahun ini jelas menjadi momentum paling tepat bagi kita untuk lebih mendalami makna kurban. Berbagai bencana alam yang susul menyusul dan membikin sengsara banyak orang itu, menjadi pelajaran penting yang mahal. Bahwa, solidaritas dan kepekaan sosial kita sebagai anak bangsa tengah diuji. Kita harus mampu menjawab apakah nilai-nilai ketuhanan yang kita yakini telah sungguh-sungguh mampu menjadi perekat tali sosial di antara manusia. Secara jujur dikatakan, kita, dewasa ini hidup dalam relasi sosial yang kian individualistis dan materialistis. Orang-orang sibuk memperjuangkan kepentingannya sendiri. Kalau perlu dengan cara merampas hak orang lain. Kebanyakan kita bergerak atas prinsip akan mendapatkan apa, bukannya mampu berkontribusi apa.
    Pemerintah sibuk dengan urusan politik dan kekuasaan. Di antara mereka berkelahi untuk saling merobohkan demi mendapat bagian kekuasaan lebih besar. Sementara rakyat dibiarkan berjumpalitan mengurusi kesulitannya sendirian. Para pemimpin selalu lambat dalam menanggulangi berbagai bencana alam juga dapat dipahami dari sudut pandang itu. Bahwa memang tidak ada yang merasa sungguh-sungguh bertanggung-jawab dalam menyelamatkan warga. Kelihatan sekali bangsa kita sedang mengarah kepada apa yang disebut dengan kembali ke zaman kegelapan. Banyak orang menaruh cinta yang berlebih-lebihan kepada dunia. Harta dan kesenangan menjadi tujuan utama hidup. Kerelaan untuk berbagi dengan sesama, pada akhirnya menjadi sirna. Yang menggejala justru saling curi, rampas, dan rampok barang milik orang lain.
    Maka, momentum Idul Adha sepatutnya menjadi sarana merefleksikan diri. Bahwa kita mesti terus mengasah sifat ikhlas agar tercipta keadilan dan ketertiban di muka bumi. Memang, sebagai manusia biasa, kita tentu tidak akan mampu seperti Ibrahim. Akan tetapi, sikap dan kepribadian manusia pilihan Tuhan itu wajib kita teladani dan kita terus berjuang untuk bisa menjadi semulia itu. Sejauh ini, muncul kesan seolah-olah Idul Adha itu hanya lebarannya orang kaya. Perayaannya dicantelkan dengan rukun Islam kelima dan kurban bagi orang yang mampu. Akibatnya, media komunikasi yang diciptakan Tuhan untuk menyambungkan hubungan antara kelompok masyarakat kaya dan miskin itu, tak pernah berfungsi efektif.
    Masyarakat umumnya menganggap Idul Adha lebih sebagai simbol, sekadar ritual keagamaan. Muncul kesan orang yang berkurban memiliki kasta lebih tinggi dibanding penerima kurban. Padahal, konsep dasar dari perayaan kurban adalah mencintai Tuhan yang diwujudkan dengan mencintai sesama manusia. Bentuk dari cinta kepada Sang Khalik dan sesama itu yang paling esensial adalah keikhlasan untuk berkorban. Dan, pengorban itu bisa dalam banyak cara. Karena itu, berkurban tidak harus dalam bentuk hewan ternak. Tetapi lebih luas dalam segala hal. Mulai dari perhatian, cinta kasih, kesabaran, tenaga, dan pemikiran. Bagi orang-orang kaya, bisa berkurban dalam bentuk menyumbangkan sebagian hartanya. Sedangkan bagi kaum cendekia kurban itu dalam bentuk sumbang saran dan pemikiran demi perbaikan nasib umat. Bagi mereka yang temperamental, berjuang menjadi manusia sabar juga masuk kategori berkurban itu. Dari sana jelas, miskin itu punya dimensi dan makna luas. Tidak saja kekurangan harta, tetapi juga soal hati, perasaan, dan kepekaan.
    Dalam konteks Idul Adha, kurban dilakukan dengan menyembelih hewan. Pemotongan hewan dilakukan pagi hari, usai salat Idul Adha dan disaksikan warga. Inilah yang menjadi dasar pemaknaan Idul Adha sebagai penghancur tembok pemisah antara si kaya dan si miskin. Dalam hubungan ini, kasih sayang dan cinta kasih sesama adalah bentuk pengorbanan yang paling utama. Mungkin bila diukur, nilainya lebih besar dibanding apapun bagi kaum miskin yang terus terpinggirkan. Berbagai bencana alam dan kesulitan hidup lainnya menyebabkan kaum susah itu dahaga akan kasih sayang. Mereka butuh uluran tangan, tidak saja dalam bentuk sumbangan harta tetapi juga perhatian dan kepedulian. Adanya tali kasih dan cinta sesama yang ditebar dalam perayaan Idul Adha akan menciptakan nuansa-nuansa baru dalam kehidupan sosial. Di mana tidak ada lagi permusuhan, kebencian, dan perasaan tertindas. Mereka akan berada dalam posisi yang sama.
    Kesadaran sebagai warga bangsa dan warga negara tak selamanya serta merta akan juga merupakan kesadaran sebagai warga sekomunitas kultural dan demikian pula sebaliknya, kesadaran sekomunitas kultural tidaklah akan serta merta menjadikan kesadaran berbangsa.Dari sinilah kita harus mencari dan mengembangkan hal-hal, keadaan, situasi, kebutuhan bersama sebagai pengikat dalam meningkatkan solidaritas, kebersamaan, perasaan senasib, sepenanggungan. Sebab dalam civil society-ruang publik itulah solidaritas sosial muncul yang diilhami oleh sentimen moral dan sikap saling menyayangi antar warga secara alamiah. Yang dimaksud disini bukanlah solidaritas semarga, solidaritas keluarga atau golongan tetapi lebih kepada solidaritas sebagai warga Siantar, juga sebagai warga Indonesia. civil society bergerak untuk kepentingan publik. Masyarakat harus menyadari untuk tidak melakukan diskriminasi antar warga hanya karena alasan adanya perbedaan dalam hal-hal keyakinan kultural, jugamengandalkan ketahanan pada partisipasi warga. Kesadaran sewarga dalam kehidupan bermasyarakat merupakan prasyarat mutlak yang harus tersokong oleh partisipasi bukan mobilisasi.

    Referensi
    unik.kompasiana.com/2010/10/27/takut-ombak-jangan-berumah-di-pantai-takut-gunung-berapi-jangan-berumah-di-atas-gunung-takut-banjir-jangan-berumah-di-jakarta/
    danish56.blogspot.com/2010/11/saat-bencana-marak-di-indonesia-dpr.html
    kabarnet.wordpress.com/2010/09/20/pernyataan-tolol-wakil-rakyat/
    suarakomunitas.net/baca/11962/bencana-merapi-ketuk-solidaritas-warga-sriharjo.html
    sosbud.kompasiana.com/2010/11/16/ibadah-kurban-di-tengah-bencana/
    http://www.binainsani.net/media.php?module=detailpost&id=30

    teguh umar s
    08/271589/dpa/3022

  69. Nama : KUKUH PRASETIO ENDARTO
    Nim : 08/271507/dpa/2957
    Prodi : D3-Rekam Medis
    Tugas Kewarganegaraan (A)

    BERSATU UNTUK MENGHADAPI BENCANA DI INDONESIA
    Indonesia adalah Negara yang kaya dengan sumber daya alam yang dimilikinya. Apa pun bisa diperoleh dari negara kepulauan ini. Selain SDA, jumlah warga negara (SDM) yang cukup banyak juga ikut berperan didalamnya. Mulai dari hasil bumi, hingga hal lainnya dikelola oleh manusia yang menanganinya. Terkadang kita tidak mengetahui mengenai seluk beluk cara kerja orang-orang yang mengatur hasil bumi tersebut. Ini semua berkaitan dengan lingkungan atau letak geografis diantara sumber daya alam dan sumber daya manusia.
    Dengan beragam permasalahan bumi yang kian hari semakin buruk, manusia sebagai penggerak dan penghuni bumi seharusnya lebih memperhatikan alam dan ekosistemnya. Entah siapa yang salah, sebagai manusia tentu tidak dapat menyalahkan satu sama lain. Jika dianalisis, Negara yang cukup banyak problematika mengenai kehidupan tersebut, harus menghadapi bencana yang tidak diundang seperti gempa bumi, tsunami, dan merapi. Walaupun Indonesia memiliki badan BMKG, namun tetap saja bencana alam yang cukup dahsyat tersebut tidak dapat dicegah dan dihindari, sehingga menelan ratusan bahkan jutaan umat manusia. Hal ini pasti menjadi perhatian kita semua sebagai warga negara Indonesia.
    Beberapa bencana yang terjadi di Indonesia diantaranya :
    1. Gempa Bumi Kepulauan Mentawai,
    Sumatera Barat, masih terus diguncang gempa bumi. Gempa berkekuatan 5,8 Skala Richter kembali menggoyang wilayah itu. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rabu (5/1/2011) menyebutkan gempa terjadi sekira pukul 17.15 WIB dengan titik pusat di 2,61 derajat Lintang Selatan dan 99,95 derajat Bujur Timur. Posisi tersebut berada di 15 kilometer barat laut Pagai Utara. Gempa bumi terjadi di kedalaman 19 kilometer. BMKG mencatat, gempa juga dirasakan di Padang dan Pariaman. Meski demikian gempa tidak menimbulkan tsunami.
    2. Tsunami
    Belum pulih penanganan Wasior, gempa tektonik sekuat 7,2 skala Richter yang disertai tsunami menyapu Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, 25 Oktober silam. Tsunami yang diperkirakan setinggi dua hingga lima meter ini mengakibatkan sedikitnya 448 orang tewas dan lebih dari 50 orang dinyatakan masih hilang. Pengungsi tercatat mencapai puluhan ribu jiwa. Pemerintah sempat mencabut peringatan tsunami sesaat setelah terjadinya gempa, meski kemudian tsunami tetap terjadi.
    Bencana tsunami di Mentawai, mengundang solidaritas banyak kalangan. Namun sulitnya medan dan cuaca buruk sempat menghambat pencarian korban dan distribusi bantuan. Seperti halnya di Wasior, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga berkunjung ke Mentawai. Dengan beberapa helikopter, rombongan Presiden mengunjungi Mentawai. Hanya saja, kesigapan petugas maupun relawan sempat tertahan lantaran adanya kesibukan penyambutan rombongan pejabat. Dan yang lebih disayangkan, saat masa tanggap darurat belum usai, Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno justru memilih berangkat ke Jerman, tanpa mengantungi izin Presiden. Pulau Sumatra memang kerap diguncang gempa. Pun demikian sejumlah daerah di Tanah Air. Kondisi letak geografis Indonesia yang berada pada tiga lempeng yang bergerak dinamis, mengakibatkan negara ini sering terjadi gempa bumi. Bahkan dalam setahun bisa mengalami 8.000 kali gempa bumi.
    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika pun menyatakan Indonesia rawan gempa. Menurut BMKG, tercatat sedikitnya 4.000 gempa terjadi di Indonesia setiap tahunnya dan 100 gempa di antaranya berkekuatan lebih dari lima skala Richter, dengan dua gempa berkekuatan cukup besar. Artinya, dari 12 ribu kali gempa yang terjadi di dunia, 30 persennya terjadi di Indonesia. Jika dibandingkan Australia, terjadinya gempa di Indonesia berpotensi 15 kali lebih besar.
    3. Merapi
    Hanya berselang sehari dari bencana tsunami di Mentawai, letusan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menyentak perhatian publik dalam maupun luar negeri. Pada 26 Oktober 2010, gunung api teraktif di dunia ini mengeluarkan letusan disertai awan panas. Ketika itu awan panas yang disebut penduduk setempat wedus gembel ini menelan korban tewas 43 orang.
    Kampung tempat tinggal Mbah Maridjan seperti halnya dusun-dusun lain di lereng Merapi, tertutup debu vulkanik, Sejauh mata memandang hanyalah tampak warna kelabu atau putih keabu-abuan, bahkan sejumlah media asing menyebut desa-desa yang tertutup abu Merapi sebagai Pompeii era modern. Selanjutnya pada 4 sampai 5 November 2010, beberapa kali letusan kembali terjadi.
    Jumlah korban tewas meningkat menjadi 135 jiwa, sedangkan jumlah pengungsi hampir mencapai 290 ribu orang. Letusan Merapi kali ini diprediksi tiga kali lebih besar dari erupsi Merapi pada 2006. Debu vulkanik dari Merapi sempat mencapai sejumlah daerah di Jawa Barat, seperti Bandung, Tasikmalaya, dan Ciamis. Kondisi ini membuat beberapa maskapai penerbangan asing membatalkan penerbangannya ke Jakarta. Bahkan, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mempercepat beberapa jam kunjungan singkatnya di Indonesia lantaran pesawat Air Force One yang ditumpanginya dikhawatirkan terkena abu vulkanik Merapi.
    Erupsi besar Gunung Merapi yang terjadi pada Jumat dini hari 5 November 2010 menewaskan 88 orang. Luncuran awan panas itu dikatakan yang terpanjang sejak 1872 silam, yakni mencapai sekitar 12 kilometer. Lantaran itulah, zona aman sempat ditetapkan pada jarak 20 kilometer dari puncak Merapi. Pihak Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun menyebut letusan Gunung Merapi dalam dua hari di awal November silam itu yang terbesar dalam kurun seabad terakhir sejarah letusan gunung tersebut. Serta yang terbesar sejak letusan Gunung Galunggung, Jawa Barat, 30 tahun lalu. Setelah aktivitas vulkanik mereda, pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada 3 Desember silam tepat pukul 09.00 WIB mengumumkan status Gunung Merapi diturunkan dari level tertinggi awas menjadi siaga. Kendati status diturunkan, pengungsi tetap diminta bertahan di pengungsian. Hal ini mengantisipasi kegiatan vulkanik yang sulit diprediksi. Belum lagi ancaman lahar dingin dari Merapi.
    4. Gunung Bromo
    Selain Merapi, Gunung Sinabung di Dataran Tinggi Karo, Sumatra Utara, sempat dua kali mengeluarkan ledakan pada September 2010. Aktivitas vulkanik gunung yang sempat “tidur: selama sekitar 400 tahun ini mengakibatkan 12 ribu warga mengungsi. Pun demikian Gunung Bromo di Jawa Timur, juga meletus. Hingga awal November silam, secara keseluruhan ada 19 gunung di Indonesia yang bersatus waspada. Belasan gunung itu tersebar mulai dari Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Bali, hingga provinsi NTT dan Nusa Tenggara Barat.
    Bersatu untuk Indonesia
    Dalam beberapa tahun terakhir bencana alam memang kerap melanda Indonesia. Namun, masalah manajemen penanganan bencana ibarat jauh panggang dari api. Lambannya evakuasi dan tersendatnya bantuan masih menjadi persoalan, belum lagi masalah koordinasi. Tak dapat dimungkiri, banyak kalangan relawan yang justru lebih sigap dan berinisiatif dalam hal menangani dampak bencana. Terakhir, sistem peringatan bencana yang kurang efektif, bahkan banyak alat pendeteksi tsunami yang rusak.
    Kendati solidaritas rakyat Indonesia sangat besar dan membanggakan, kita jangan terus bergantung pada kerelaan berbagi masyarakat. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan mengorganisasikan solidaritas besar ini. Setiap bencana tentunya berkonsekuensi pada biaya besar secara ekonomi dan sosial. Kalau jujur, dan jika bisa dihitung, sebenarnya masyarakat Indonesia menanggung bagian paling besar dari setiap bencana. Bahkan biaya tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali dari pemerintah sesungguhnya datang dari rakyat Indonesia berupa pajak dan pungutan lainnya. Jumlahnya saat ini triliunan rupiah.
    Berefleksi sejenak akan penanganan bencana, terlihat belum ada pengorganisasian solidaritas rakyat Indonesia. Tidak ada satupun perangkat hukum atau aturan apapun mengenai hal ini. Undang-undang 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sama sekali tidak menyinggung soal peran organisasi kemasyarakatan (masyarakat sipil) dalam kebencanaan. Undang-undang ini menyinggung peran perusahaan swasta dan lembaga bantuan asing termasuk lembaga PBB. Padahal masyarakat umum melalui organisasi-organisasi masyarakat sipil bisa melakukan berbagai langkah upaya penanggulangan bencana bahkan pengurangan resiko bencana. Bahkan peraturan pemerintah dibidang peran lembaga asing sudah ada. Tapi peraturan pemerintah tentang peran masyarakat sipil tidak bisa dikeluarkan karena memang tidak disinggung di undang-undang. Solidaritas, yang terorganisir, juga akan bisa menghindari ‘penyalahgunaan’ dana yang dikumpulkan dari masyarakat luas. Terorganisir juga punya arti bantuan yang disalurkan efesien artinya bisa cepat sampai ke penyintas Dan efektif artinya sesuai atau cocok dengan kebutuhan nyata para penyintas dibidang kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan termasuk psikososial. Selain itu, bantuan yang disalurkan juga akuntabel, yang berarti bisa dipertanggung-jawabkan atau ada kesesuaian antara bantuan yang diberikan dan belanja. Juga ada transparansi atau keterbukaan dalam penyaluran dalam berbagai bentuknya.
    Lalu apa tujuan solidaritas yang terorganisir ini. Tujuan utamanya adalah membuat bantuan tepat sasaran. Istilah tepat sasaran dulu pernah terkenal sekali, kendati semua orang tahu bahwa slogan ini tinggal slogan saja. Tapi sekarang, kita tidak mau bermain-main dengan slogan. Tepat sasaran haruslah tepat sasaran. Untuk itu, solidaritas berupa bantuan dana dan barang serta relawan harus diorganisir.
    Langkah lain yang penting adalah soal-soal pengurangan resiko bencana. Pada tahapan ini semua komponen masyarakat, termasuk didalamnya sekolah-sekolah, dilatih dan mampu menghadapi bencana jika terjadi. Sehingga mereka bisa dengan sistimatis mengurangi dampak bencana.
    Terakhir adalah mitigasi bencana atau segala upaya untuk meredam bahaya bencana. Mitigasi ini bisa berupa pembangunan tanggul, pengerukan sungai, rumah tahan gempa, jalur evakuasi, bahkan penghijauan di gunung dan di pantai menanam mangrove. Terlebih lagi, secara serius memerangi kemiskinan masyarakat, karena kemiskinan merupakan kerawanan besar dan kelemahan besar ketika masyarakat menghadapi bencana.
    Daftar Pustaka:
    http://ytbindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=236%3Anews&catid=1%3Alatest-news&Itemid=18&lang=id
    http://www.antaranews.com/berita/1288132646/ringkasan-berita-bencana-merapi
    http://aribicara.blogdetik.com/index.php/2010/10/27/bencana-merapi-dan-tsunami-mentawai

Silakan tulis komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s