//
you're reading...
bLog, country, Facebook, nUrani, pEndidikan, teknologi, Yogyakarta

PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA

About these ads

Discussion

69 thoughts on “PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA

  1. Peranan mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan.
    Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani
    bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor
    mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa,
    cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi
    aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah
    menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung
    berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam,
    maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan.
    Belakangan ini berita mengenai bencana alam mendominasi
    halaman – halaman media massa. Mulai dari angin kencang, tanah
    longsor, puting beliung hingga banjir bandang di Wasior Papua
    Barat. Untuk bencana banjir di Wasior sendiri telah memakan
    puluhan korban, ratusan lukaluka, dan ribuan penduduk yang harus
    rela kehilangan tempat tinggalnya.
    Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa dalam menanggapi
    merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara
    pasti ini?
    Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘Sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan.
    Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Demikian halnya dengan kita. Bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Sistem pembangunan yang selama ini kita anut kurang memperhatikan faktor alam yang ada, sudah saatnya sistem kuno ini kita rubah dengan sistem baru yang lebih berbasis lingkungan. Para arsitek dan insinyur bangunan haruslah memperhatikan dampak pembangunan sebuah gedung terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak hanya cantik dilihat dan kokoh namun bangunan tersebut haruslah bersinergi dengan alam. Perundang – undangan yang selama ini mengatur tentang tata laksana konstruksi sebuah bangunan juga harus dirubah. Harus ada aturan yang tegas untuk melarang didirikannya bangunan di lahan lahan daerah resapan air, lereng – lereng gunung serta bukit. Selain itu Ketegasan pemerintah dalam menghukum para pelaku pembalakan liar harus digalakkan karena fungsi hutan sangatlah kompleks untuk menjaga keseimbangan alam kita.
    Selain hal tadi, peranan kita sebagai mahasiswa adalah segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Beberapa teman saya telah melakukan hal ini. Satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!” . Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara – saudara kita selamat.
    Indonesia benar benar sedang di uji oleh Allah swt. Belum hilang kesedihan kita atas terjadinya bencana tsunami yang menimpa saudara kita di wasior papua yang merenggut ribuan nyawa manusia dan meluluhratakan semua yang ada di tanah wasior, pada awal bulan November terjadi bencana gunung meletus di Yogyakarta .Dalam jangka waktu 1 minggu terjadi 2 kali letusan yang dahsyat pada malam hari. Pada letusan pertama sebetulnya dari pemerintah maupun dari BMG sudah memberi peringatan kepada warga yang tinggal di puncak gunung merapi untuk turun tetapi dari warga sendiri banyak yang masih tetap tinggal di rumah mereka alhasil korban yang terkena letusan merapi sangatlah banyak. Pada letusan kedua korban semakin bertambah karena tempat yang tadinya di anggap aman 15 km dari puncak merapi ternyata terkena juga. Dalam kejadian ini peran mahasiswa sangatlah membantu, mereka bergerak cepat untuk membantu korban bencana merapi ini dengan melakukan penggalangan dana serta langsung terjun kelapangan untuk menghibur saudara2 kita yang terkena musibah serta membantu tim peng evakuasian. Dibantu dengan masyarakat sekitar mahasiswa membantu menangani permaslahan-permasalahan yang terjadi pada koraban, mereka bergotong royong untuk menghibur mereka dan berusaha memberikan mereka kenyamanan di barak pengungsian setelah pasca bencana dan kuliah sudah mulai aktif mahasiwa tetap dituntut untuk membantu karena kita adalah mahasiswa dan mahasiswa memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada masyarakat untuk membantu mereka baik materi, tenaga dan pemikiran bagaiman setelah pasca bencana ini mahasiswa dapat membantu masyarakat menyalurkan keluhan-keluhan mereka terhadap pemerintah yang kadang dan sering kali kurang peka terhadap keadaan yang ada di masyarakat. Maka dari itu disini peranan pemerintah sangatlah penting dimana pemerintah harus mampua menyelamatkan parakorban – korban bencana yang terjadi ini jangan sampai mereka menderita kedua kalinya, sudah terlalu banyak korban meninggal, anak kehilangan orang tuanya, orang menjadi gila karena kehilangan masadepan mereka. Jangan sampai pemerintah menambah kesakitan mereka lagi dengan melakukan sesuatu yang itu menyakitkan bangsaini. Masih kita ingat di benak kita waktu bencana – bencana melan da Indonesia apa yang wakil rakyat lakukan ketika terjadi bencana, mereka malah jalan – jalan keluar negeri dengan menghambur – hamburkan uang bermilyar – milyar yang sebetulnya alangkah lebih bijak dan manusiawi mereka sebagai wakil rakyat kalau saja mereka merelakan uang mereka yang mereka gunakan untuk jalan – jalan mereka gunakan untuk rakyat yang sedang menderita ini. Diharapkan pemerintah tidak lamban lagi dalam menghadapi benca yang melanda bangsa ini dan segera membiri masa depan mereka yang baru.

    Referensi

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

    Posted by Vildaniar Januarista. W / 08/274154/DPA/3161 | 5 December 2010, 5:27 pm
  2. Peranan Para Mahasiswa Untuk Turut Membantu Korban Bencana Alam

    Belum lama ini pandangan kita telah tertuju pada beberapa bencana yang akhir-akhir ini menimpa di bumi pertiwi, air mata yang mengalir dari wajah-wajah saudara kita yang tertunduk sedih meratapi apa yang sebenarnya telah mereka alami. Beberapa pasang mata di seantero negeri ini pun turut merasakan duka dan sedih yang mendalam, membayangkan segala kepedihan yang dihadapi oleh ribuan orang di daerah yang tengah dilanda bencana. Mereka tak kuasa menolak apa yang telah menjadi takdir dari Sang Maha Pencipta, mereka pasrah sembari berharap hari esok akan kembali lagi meski harus kehilangan beberapa harta benda bahkan anggota keluarganya yang ikut menjadi korban dari kedahsyatan bencana alam yang membuat luluh lantak rumah dan perkampungan mereka. Meskipun begitu, tetap saja hati mereka masih dihantui perasaan khawatir disamping kesedihan yang masih menghujam perasaan mereka mengingat bagaimana bencana itu memporak-porandakan segala sesuatu yang ada disekitarnya.
    Tak hanya itu, bencana terjadi dalam waktu yang dekat dan beruntun seolah-olah menggambarkan kalung mutiara yang terlepas dari benangnya membuat hati kita terenyuh sekaligus prihatin terhadap segala cobaan yag harus kita terima ini. Tetapi tidak terlepas dari itu semua, sebenarnya hal ini dapat dijelaskan secara geologis menurut letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia antara lain : banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi dan tanah longsor.
    Masih teringat di benak kita kejadian yang maha dahsyat yang terjadi di Provinsi Aceh dan sekitarnya, gempa dan tsunami yang menelan banyak korban dan menimbulkan trauma yang cukup mendalam bagi masyarakatnya, belum lagi gempa yang terjadi di daerah DIY sekitarnya yang juga menimbulkan banyak kerusakan dan korban jiwa serta kepanikan warga akan terjadinya tsunami. Selain itu, akhir-akhir ini kita diberikan teguran lagi oleh Sang Khaliq berupa bencana yang menimpa saudara kita yang ada di Wasior Papua seperti dikutip dari vivanews.com tanggal 27 November 2010, “Dwikorita seorang ahli gempa dan lingkungan dari Universitas Gadjah Mada menceritakan sedikit kronologi singkat gempa yang mengakibatkan banjir bandang yang terjadi pada 4 Oktober 2010 dan menewaskan 173 orang dan 118 lainnya masih hilang. Gempa itu disebabkan akibat adanya tumbukan antara lempeng tektonik Samudera Pasifik ke Benua Australia. Belum lagi, di lokasi Wasior dan sekitarnya itu memiliki karakteristik batuan yang sangat rapuh. Sesaat sebelum banjir bandang terjadi, hujan besar dengan intensitas yang sangat ekstrim terjadi di lokasi itu. Ekstrim, karena curah hujannya mencapai 170 milimeter hanya dalam waktu beberapa jam pada hari itu. Normalnya, curah hujan itu hanya mencapai 200 milimeter perbulan, bukan perhari”. Setelah itu ada kejadian gempa 7,2 skala richter yang menyebabkan tsunami di Mentawai tanggal 25 Oktober 2010 dengan korban tewas lebih dari 450 orang serta merusakkan 700 rumah lebih. Tak lama selang satu hari dari kejadian tsunami mentawai tepatnya pada tanggal 26 Oktober 2010 warga di sekitar gunung Merapi meliputi daerah kabupaten Sleman, Boyolali, Klaten, Magelang dan Muntilan harus menuai dampak letusan gunung Merapi yang sering disebut sebagai gunung berapi teraktif di dunia. Puluhan hingga ratusan orang menjadi korban tewas dan ratusan ribu penduduk harus diungsikan akibat dari erupsi Merapi ini. Terakhir, Gunung Bromo di Jawa Timur yang berstatus awas meletus pada pukul 17.40, Jumat 26 November 2010. Asap tebal bercampur abu kehitaman mencapai ketinggian 600 meter.
    Banyak kerugian yang diakibatkan oleh bencana alam tersebut di atas antara lain kerusakan rumah dan bangunan, sarana prasarana umum, hewan atau ternak yang mati, tanaman yang mati sehingga mengakibatkan gagal panen sampai dengan kerugian yang diakibatkan oleh lumpuhnya sektor pariwisata dan perdagangan. Kerugian secara materi ini otomatis membawa dampak terhadap perekonomian di daerah masing-masing karena dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk dapat menggantikan kerugian sekaligus memperbaiki segala kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana tersebut.
    Beberapa peristiwa di atas setidaknya telah memberikan pelajaran dan hikmah bagi kita sebagai sesama manusia dan seseorang yang hidup bersama dalam satu negara dan bangsa Indonesia untuk memberikan segala sesuatu yang kita miliki guna meringankan beban saudara-saudara kita. Tak terkecuali kita yang sedang duduk di bangku perkuliahan dengan beberapa macam potensi yang dimiliki dan telah mendapatkan pendidikan, pengetahuan, keterampilan, dan sikap sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat lebih dalam mengatasi bencana alam atau sebisa mungkin mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan oleh perilaku pengrusakan lingkungan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Sebagai seorang mahasiswa hendaknya kita menyadari bahwa peran aktif kita untuk turut serta membantu korban bencana sangat diperlukan, apapun itu bentuknya. Seperti mahasiswa kedokteran yang dapat membantu melakukan pertolongan pertama bagi korban yang terluka, mahasiswa psikologis yang dapat membantu memberikan motivasi dan hiburan bagi korban bencana yang mengalami trauma, mahasiswa teknik yang dapat menyumbangkan ide atau gagasan untuk pembangunan kembali pasca bencana hingga mahasiswa kedokteran hewan yang membantu merawat ternak korban bencana yang terkena dampaknya. Dari hal-hal kecil yang sering terlupakan terutama untuk masalah yang berkaitan dengan keadaan lingkungan, tentu hal ini juga membutuhkan peran serta aktif dari mahasiswa untuk dapat melaksanakan dan mensosialisasikan terhadap masyarakat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan yang dapat dimulai dari lingkungan disekitar tempat tinggalnya. Doa dan dukungan dari para mahasiswa juga merupakan bantuan yang tak kalah pentingnya agar bencana di negeri ini dapat disudahi. Lebih jauh lagi, sampai kita memberikan pertolongan atau bantuan untuk korban bencana ini didasarkan sebagai suatu panggilan hati yang benar-benar tulus ingin membantu saudara kita yang sedang tertimpa musibah dan tidaklah mengharapkan imbalan dari apa-apa yang telah kita berikan untuk mereka.
    Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat dan sudah sewajarnya apabila mereka harus kembali kepada masyarakat untuk mengabdikan dirinya demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara. Seperti yang telah dikatakan oleh para pepatah, sebaik-baiknya seseorang ialah seseorang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Jadi, meski banyak hal bisa kita lakukan untuk membantu mereka yang tertimpa musibah bencana tetapi tanpa adanya perbuatan (action)itu sama saja karena yang mereka butuhkan ialah bukti bukan janji atau ucapan semata.

    Linda Ricawati
    08/273784/DPA/3092

    Referensi :
    //medicastore.com/artikel/295/index.html
    //nasional.vivanews.comnewsread190850-gunung-bromo-meletus.htm
    //VIVAnews – Temuan Baru di Balik Banjir Bandang Wasior.htm
    //VIVAnews – 461 Tewas, 43 Hilang Karena Tsunami Mentawai.htm

    Posted by lienda | 5 December 2010, 3:34 pm
  3. PERAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA BANJIR YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA.

    Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Jenis bencana yang terjadi karena faktor alam dapat digolongakan menjadi bencana yang berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
    Seperti bencana yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia, yang telah merenggut banyak korban jiwa dan menimbulkan kerugian yang besar. Bencana yang terjadi sekarang ini selain karena usia bumi yang sudah tua, bencana juga merupakan akibat dari ulah manusia yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Manusia berlaku seenaknya dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada tanpa melaksanakan reboisasi dan pemeliharaan. Sebenarnya apabila manusia mau peduli terhadap lingkungan sekitar khususnya lingkungan alam, maka bencana yang akhir-akhir ini sering terjadi dapat diminimalisir. Sehingga tidak banyak menelan korban dan kerugian yang harus ditanggung oleh bangsa ini.
    Misalnya, bencana alam yang berupa banjir di Wasior. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menilai banjir bandang di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, karena penebangan liar di suaka alam Gunung Wondiboi. Tidak adanya resapan air menyebabkan Sungai Angris dan Kiot meluap. Manager Desk Bencana Walhi, Irhash Ahmady, mengatakan, penebangan hutan di Papua dilakukan secara legal dan ilegal. Penebangan legal dilakukan oleh perusahaan yang mendapatkan izin konsesi namun disalahgunakan untuk menebang kayu di luar wilayah. ”Faktor penyebab terbesar (banjir Wasior) kerusakan hutan. Karena penebangan kayu yang merusak,” kata Irhash Ahmady di kantor Walhi, Senin (11/10). Menurut Irhash, meningkatnya curah hujan tidak dapat dijadikan penyebab tunggal terjadinya banjir. Penyebab utama adalah kerusakan hutan yang menyebabkan hilangnya resapan air. Berdasarkan data Walhi, sejak 1990-an terdapat 2 perusahan kayu besar, PT Dharma Mukti Persada dan PT Mutiara Timur, yang beroperasi di Papua Barat. Setelah tahun 2002, Pemerintah Provinsi Papua Barat mengeluarkan 20 izin pengelolaan hutan dan 16 konsesi kuasa pertambangan. ”Kami menyimpulakan penyebab utama banjir karena meningkatnya kerentanan di wilayah hulu,” ujar Irhash. Menurut Irhash, tidak terdapat HPH di suaka alam Gunung Woniboi. Diduga perusahaan kayu mengambil alih izin pemanfaatan hutan milik masyarakat adat melalui Koperasi Peran Serta Masyarakat (Kopermas). ”Dari 20 Kopermas yang terdaftar yang masih aktif hanya dua. Sisanya tidak berjalan sama sekali. Kami menduga, yang tidak berjalan ini dimafaatkan oleh perusahaan HPH untuk mengalihfungsikan suaka alam.”
    Sebenarnya, banjir dapat dicegah apabila seseorang mau peduli dengan kelestarian lingkungan sekitarnya yaitu dengan tetap menjaga kelestarian hutan atau melaksanakan penanaman kembali bibit-bibit pohon yang ditebangi sesuai dengan struktur tanah yang ada. Sehingga, meskipun pohon-pohon tersebut dimanfaatkan secara maksimal dan terus menerus, kemungkinan untuk terjadi banjir dan tanah longsor sangat kecil dan jarang terjadi.
    Sebagai generasi muda yang mempunyai semangat yang besar, kreatif dan inovatif, hendaknya kita dapat melakukan banyak hal untuk bangsa ini, khususnya dalam penanggulangan bencana. Dimulai dari langkah yang kecil, yaitu kesadaran dari setiap orang untuk membuang sampah pada tempatnya dan mau memelihara tumbuh-tumbuhan yang dapat menyerap banyak air. Sehingga ketika hujan turun, maka air hujan yang ada dapat diserap dan disimpan oleh tumbuh-tumbuhan yang pastinya didukung dengan membuangan sampah pada tempatnya. Apabila dua hal tersebut dilakukan secara beriringan, maka untuk terjadi banjir kemungkinan sangat kecil, malah justru akan tercipta suasana yang sejuk dan tidak terjadi kekeringan karena persediaan air selalu ada.
    Dengan mengingat bencana yang kerap terjadi akhir-akhir ini, kita sebagai warga negara yang baik, maka kita mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menjaga kelangsungan hidup dan kelestarian alam. Karena dari alam inilah kita bisa hidup, tanpa adanya alam mungkin kita tidak dapat hidup sampai detik ini. Maka, sudah sepantasnya kita dapat melakukan hal kecil yang dapat membesarkan dan memperpanjang usia bumi pertiwi ini. Selain peduli terhadap lingkungan, hendaknya kita juga peduli terhadap sesama meskipun itu hanya dalam bentuk kalimat pengingat saja. Dan sudah sepantasnya kita mau membantu saudara-saudara kita yang menjadi korbana bencana yang sering terjadi akhir-akhir ini, baik dalam bentuk material maupun dalam bentuk dukungan spiritual. Selain itu, sebagai manusia yang mendapat kesempatan untuk belajar lebih, kita dapat memaksimalkan kemampuan kita untuk melaksanakan penelitian dan menciptakan penemuan-penemuan baru yang dapat bermanfaat bagi kelangsungan dan kelestarian bumi ini. Serta, kita dapat memberikan informasi tentang lingkungan alam, baik tentang cara pemeliharaan alam yang baik dan benar yang sesuai dengan kondisi yang ada di lingkungan masyarakat, memberikan informasi tentang dampak dan bahaya yang mungkin terjadi apabila tidak dilakukannya pemeliharaan kelestarian lingkungan. Sehingga, dengan adanya penyampaian informasi tersebut, diharapkan masyarakat mampu memahami dan melaksanakan upaya-upaya dalam pemeliharaan dan peningkatan kualitas lingkungan alam sekitar yang mempunyai peran penting dalam kelangsungan kehidupan ini. Karena dengan saling mengingatkan dan bertukar informasi dengan orang lain, maka akan semakin banyak ilmu yang dapat diperoleh yang nantinya berguna untuk kepentingan seluruh manusia didunia ini, khususnya masyarakat yang ada di Indonesia.
    Sesungguhnya roda kehidupan selalu berputar, namun terkadang kita tidak menyadari bahwa apa yang sedang menimpa diri kita pernah juga menimpa oleh orang lain. Dan tidak menutup kemungkinan apa yang sedang menimpa orang lain, suatu saat nanti akan menimpa diri kita. Maka dengan mengingat hal demikian, kita patut bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahakan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada kita. Karena dengan bersyukur kita dapat mengontrol diri kita dan kita merasa cukup atas nikmat yang kita terima.

    Referensi :
    – VHRmedia.com, Jakarta
    – Inilah.com, Jakarta
    – Ilmu Pengetahuan Alam SMP kelas 2,
    – Liputan6.com, Wasior
    – Blog Seta Wiriawan, Pengertian Bencana
    – blog Munawar AM, Pengertian dan Istilah-Istilah Bencana Alam

    Nama : Umu Fadilah
    NIM : 08/271642/DPA/3047
    Prodi : D3 Rekam Medis UGM

    Posted by Umu Fadilah | 5 December 2010, 3:31 pm
  4. PERAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA

    Indonesia. Siapa yang tidak mengenal negeri berjuluk Jamrud Khatulistiwa ini? Sebuah julukan yang menggambarkan betapa indahnya negeri ini. Tapi itu dulu, dulu sekali. Entahlah…masihkah julukan itu berlaku dengan kondisi Indonesia yang seperti ini? Bencana Alam terjadi di mana-mana. Gunung meletus, banjir, tsunami, angin puting beliung, adalah sederet kecil bencana alam yang pernah “mampir” di Indonesia. Siapa yang salah? Tidak ada, karena semuanya merupakan bencana yang memang tidak dapat diprediksi. Hal ini juga tidak terlepas dari kondisi geografis Indonesia. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia mencatat sekurang-kurangnya ada 28 wilayah di Indonesia yang rawan gempa dan tsunami. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga dilalui jalur Cincin Api Pasifik (The Pacific Ring of Fire) yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia dan membentang di antara subduksi dan pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Belum lagi ditambah dengan potensi gunung api yang dimilikinya. Indonesia memiliki gunung berapi berjumlah kurang lebih 240 buah dan hampir 70 di antaranya merupakan gunung api yang masih aktif.
    Menurut Mohtar Mas’oud, mahasiswa merupakan makhluk istimewa. Mereka ada pada lapisan umur yang memungkinkan menjadi energik dan cocok untuk menjadi pelopor perbaikan keadaan. Secara definitif, mahasiswa berasal dari dua suku kata yaitu kata maha dan siswa. Kata maha mempunyai arti paling tinggi, sedangkan kata siswa memiliki makna seorang yang terpelajar baik secara individu maupun kelompok. Jadi, mahasiswa adalah seorang terpelajar yang mempunyai kedudukan tertinggi diantara pelajar-pelajar lainnya dalam tingkatan akademik. Dengan adanya predikat tersebut, diharapkan nantinya mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik dan mampu mengisi lapisan pemimpin. Secara fungsi mahasiswa mempunyai dua peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, sebagai manager dan kedua sebagai pencetus gagasan. Peran yang pertama lebih menekankan pada orientasi tindakan, yaitu lebih menekankan bagaimana menyelesaikan suatu masalah secara tuntas, sehingga peran ini lebih memerlukan bekal keilmuan yang menunjang penyelesaian masalah dalam suatu bidang ilmu. Sedangkan peran kedua lebih berorientasi pada pemikiran, yaitu lebih pada kegiatan “asah otak” untuk melahirkan kemungkinan pemikiran alternatif sehingga peran ini lebih memerlukan bekal keilmuan.
    Peran tersebut memerlukan satu syarat utama, yaitu belajar bermasyarakat. Belajar menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan secara bersama pada dasarnya adalah belajar berpolitik. Dengan demikian, tujuan mahasiswa adalah memahami fenomena yang terjadi dalam suatu tatanan masyarakat baik dari segi politik, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.
    Lantas apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti akhir-akhir ini? Sejauh ini kalangan mahasiswa khususnya dan dunia kampus pada umumnya terlihat lamban merespon jika dibanding menanggapi isu-isu lain seperti isu skandal politik, korupsi pejabat negara, dan lain sebagainya yang langsung ditanggapi secara serius. Sementara untuk isu bencana seakan-akan bukan isu yang penting untuk ditanggapi.
    Mahasiswa jangan sampai mewakili sikap pemerintah yang terlihat begitu lamban dalam menanggulangi korban bencana. Kampus yang merupakan lingkungan sehari-hari mahasiswa sebenarnya merupakan sarana yang sangat potensial untuk ikut menanggulangi bencana alam yang akhir-akhir ini banyak terjadi. Dengan bekal akademik yang diberikan di bangku perkuliahan serta pamor mahasiswa yang biasanya peduli terhadap persoalan bangsa sepertinya merupakan modal yang cukup untuk ikut serta. Terlebih lagi jika menilik dari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan sehingga mengakibatkan Indonesia rentan terhadap bencana alam, maka kontribusi dari pihak kampus akan sangat dibutuhkan.
    Peran mahasiswa dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih kurang. Lihat saja bagaimana mahasiswa-mahasiswa yang ikut aktif menjadi relawan untuk mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun yang lalu. Lihat juga bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi ketika terjadi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Dan mengkin yang belum hilang dari ingatan kita adalah ketika mereka ikut mengevakusi korban bencana meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya peran untuk ikut andil dalam menanggulangi bencana alam bisa lebih besar lagi. Jika dilihat, apa yang sudah dilakukan kampus di atas sebenarnya hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum dimaksimalkan adalah penanganan prabencana.
    Padahal jika dirunut ke belakang, antisipasi prabencana ini juga tidak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk yang diakibatkan oleh bencana. Bencana memang bisa terjadi kapan dan di mana saja. Untuk itulah, diperlukan suatu upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam. Upaya ini akan sangat penting jika dilakukan oleh mahasiswa dengan memainkan perannya dalam hidup bermasyarakat.
    Di sinilah mahasiswa harus memainkan perannya dalam bermasyarakat dengan berada di garda terdepan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih sangat terbatas pada tindakan pascabencana, sepertinya sudah saatnya mulai dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus dapat ikut memfasilitasi kegiatan sosialisasi tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
    Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan masyarakat lain, kegiatan siaga bencana juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya, yaitu agar tercipta masyarakat yang siaga bencana. Sehingga harapannya, dampak buruk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana sudah bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Selain itu pihak kampus juga bisa bekerja sama dengan institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI), atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana. Jika peran penanganan prabencana ataupun pascabencana dapat dilakukan secara berkesinambungan oleh kampus, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Dengan demikian dampak buruk atas bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Namun, perlu dimengerti bahwa upaya prabencana bukan untuk menolak bencana, melainkan sebagai cara untuk penyelamatan dini terhadap bencana. Selain itu, tanggap bencana bukan hanya menyelamatkan yang tersisa dan mengevakuasi jenazah yang meninggal ketika bencana terjadi. Tetapi tanggap bencana ialah memaksimalkan seluruh kemampuan untuk mengantisipasi dan meminimalkan dampak bencana. Dan peran ini tentu saja bisa dimaksimalkan oleh mahasiswa yang notabenenya merupakan garda terdepan suatu perubahan.

    Referensi :
    Mohtar Mas’oed. Negara, Kapital Dan Demokrasi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2003
    http://tempointeraktif.com diakses pada tanggal 2 November 2010 pukul 10.12 WIB
    http://www.republika.co.id diakses pada tanggal 2 November 2010 pukul 10.40 WIB
    http://nasional.kompas.com diakses pada tanggal 2 November 2010 pukul 10.46
    WIB

    Rika Andriani
    08/271598/DPA/3029
    D3 Rekam Medis

    Posted by RIKA ANDRIANI | 5 December 2010, 2:20 pm
  5. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Bencana bukanlah suatu hal yang diinginkan setiap manusia, namun bencana tidak bisa dipungkuri akan selalu ada dalam kehidupan ini. Ketika suatu negara menghadapi bencana, hati manusia sebagai mahluk sosial akan terpanggil untuk membantu korban bencana. Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan Oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini; mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di Mentawai Sumatra, dan banjir Wasior di Papua, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Semua itu adalah teguran Allah yang tidak dapat lagi dielak oleh umat manusia. Bisa juga dianggap pesan, supaya kita tidak sibuk lagi bertengkar dengan bangsa sendiri, melainkan saling bahu membahu demi kesejahteraan bersama. Tapi, ketimbang sibuk dengan berbagai spekulasi, akan lebih baik kalau kita singsingkan lengan baju bersama-sama, bahu membahu mengusahakan segala cara untuk meringankan beban saudara-saudara kita. Dari musibah itu, tentunya tak sedikit saudara kita disana yang luka – luka, kelaparan, kehilangan tempat tinggal, bahkan sampai banyak korban jiwa yang berjatuhan. Jadi dalam keadaan Ibu Pertiwi yang sedang berduka ini, saudara – saudara kita yang disana sangat membutuhkan uluran tangan dari kita.
    Bencana alam yang terjadi di negeri ini tak semestinya hanya diperhatikan oleh segelintir orang saja. Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Tak pantas jika mahasiswa hanya berpangku tangan saja menyaksikan tangisan mereka yang sedang kesusahan. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Mahasiswa sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi
    aktif menanggulangi bencana – bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Bukti nyata pemanfaatan teknologi (Social Networking), kita dapat melihat kasus yang dialami oleh Prita Mulyasari yang berseteru dengan RS Omni Internasional terkait tentang curahan hatinya terhadap pelayanan yang diberikan yang dianggap sebagai pencemaran nama baik (korban kedhzaliman Sistem), dan luar biasa sekali dukungan dari masyarakat baik berupa moril maupun dana, yang dicurahkan melalui jejaring sosial. Ini meupakan masalah personal yang dialami seorang Prita Mulyasari, apalagi untuk korban bencana alam yang menyangkut banyak korban jiwa, tidak mustahil mendapatkan hasil yang besar untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana.
    Beberapa teman saya telah melakukan hal ini. Satu hal yang dapat saya pelajari dari mereka adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!” . Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara – saudara kita selamat.
    Menjadi Relawan beberapa kampus telah menggerakkan para mahasiswanya untuk berkiprah langsung di daerah bencana, misalnya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. UGM mengutus 40 mahasiswa untuk melakukan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dengan tema Peduli Bencana di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ide cemerlang ini layak diapresiasi dan dijadikan percontohan bagi mahasiswa dan pengelola kampus lainnya di Indonesia.
    Menurut Ketua Tim Disaster Early Response Unit (DERU) UGM Yogyakarta, Joko Prastowo, para mahasiswa akan belajar dan berkiprah sebagai relawan di lokasi bencana selama satu bulan. ”Mereka aktif melakukan berbagai kegiatan tanggap darurat bencana, seperti membantu menyelamatkan korban, harta benda, melakukan evakuasi dan pengungsian. Selain itu, memberi bantuan psikologis agar masyarakat cepat bangkit dari penderitaan dan keterpurukan hidup akibat gempa,” kata Joko.
    Contoh di atas tentunya menjadi catatan yang patut ditiru dan diaktualisasikan oleh civitas akademika di kampus lain. Dari hal itu, tampak jelas bahwa peran aktif mahasiswa dalam bidang sosial kemasyarakatan terbukti dan tidak harus menunggu setelah proses studi selesai. Andaikan kepedulian sebagai wujud simpati dan empati terhadap para korban bencana di tanah air ini bisa diaktualisasikan oleh semua pihak, lebih-lebih ditanamkan dalam program studi di kampus masing-masing, tentu ada apresiasi tersendiri bangsa kita dalam mewujudkan nilai-nilai sosial, sebagaimana esensi dari tujuan pendidikan nasional.
    Selama ini kita menganggap alam hanyalah sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘Sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan. Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Demikian halnya dengan kita, bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Sekecil apapun yang bisa kita lakukan, harus kita berikan untuk bangsa ini. Ibu pertiwi memang sedang menangis pilu, tapi dimanapun berada, putra-putrimu akan berdiri serentak mengulurkan tangan bagimu, Indonesia.

    Referensi :

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/10/17/84365/peran-mahasiswa-tanggap-bencana

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/09/128384/memaknai-tugas-agung-para-relawan

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/09/mahasiswa-siaga-bencana/

    http://hamkamodern.blogspot.com/2010/11/suara-mahasiswa-tanggap-bencana-dan.html

    Nama : Heryan Sagita Setiawan
    Nim : 08/271662/DPA/03050

    Posted by Heryan Sagita Setiawan | 5 December 2010, 1:59 pm
  6. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGAHADI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA TSUNAMI, BANJIR, GUNUNG MELETUS GEMPA ATAU SEJENISNYA YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA

    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagalan teknologi, epidemi dan wabah penyakit serta konflik sosial.
    Salah satu isu yang dihadapi dalam penanggulangan bencana adalah kapasitas sumber daya menghadapi bencana belum optimal. Perguruan tinggi merupakan salah satu komponen penting yang akan memberikan dukungan, mewujudkan ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Mahasiswa sebagai komponen utama perguruan tinggi, merupakan aset dalam penanganan bencana. Mahasiswa mempunyai peranan penting dalam menghadapi bencana. Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan . Mahasiswa dikenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Dibawah ini ada 4 peran dan fungsi mahasiswa :
    1. Peran moral (Moral Force)
    Mahasiswa diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang ada. Bila di lingkungan sekitar terjadi hal-hal yang tidak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk merubah dan meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan. Mahasiswa yang dalam kehidupanya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar . Dalam kaitannya menghadapi bencana yang melanda Indonesia mahasiswa mempunyai peran penting. Mahasiswa harus bisa menjadi contoh yang baik agar orang-orang disekitarnya bisa terketuk hatinya untuk ikut memberi bantuan kepada korban bencana dalam bentuk apapun. Mahasiswa bisa terjun ke lapangan mungking bisa sebagai relawan dengan mengajak teman-teman di kampus. Disitu mahasiswa harus bisa menujukkan bahwa kita satu bangsa, satu bangsa dan satu tanah air yang harus bersatu. Kalau satu daerah terkena bencana, menderita dan sengsara maka daerah lain juga harus merasakan seperti itu. Begitu juga kalau seseorang, saudara kita Warga Negara Indonesia terkena bencana, menderita dan sengsara maka kitapun juga harus merasakan seperti itu. Kita harus menunjukakn sikap gotong royong dalam menghadapi bencana.. Contoh nyata yang bisa dilakukan oleh mahasiswa adalah Trauma Healing dari mahasiswa Pascasarjana UNY. Pada Koran SUARA KEDU tanggal 12 November 2010 ditulis bahwa pesan moral yang ingin disampaikan oleh mahasiwa ini adalah sikap semangat, selalu bersabar dan tidak putus asa yang harus dimiliki para pengungsi.
    2. Peran sosial
    Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan dibiarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Sebagai contoh ketika terjadi erupsi Gunung Merapi, 500 mahasiwa UGM diterjunkan sebagai relawan bencana. Dalam Koran SUARA KEDU tanggal 12 November 2010 ditulis bahwa UGM menerjunkan sekitar 500 mahasiswa KKN-PPM Peduli Bencana (PB) di beberapa lokasi yang terkena dampak erupsi Merapi. KKN-PPL ini dirancang sebagai bagian dari andil UGM dalam proses tanggap darurat dan recovery bencana Gunung Berapi. KKN-PPL ini menerapkan konsep untuk penanganan pos pengungsian yang tetap memprioritaskan mengenai keselamatan dan kesehatan menuju kehidupan yang baik dan harmonis. Mahasiswa harus ikut memperhatikan masalah-masalah yang ada dengan memberikan bantuan baik secara moril maupun meteril serta pemikirannya serta ikut mencarikan solusi penanganan bencana ini.
    3. Peran Akademik
    Sesibuk apapun mahasiswa, turun ke jalan, turun ke rakyat dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa mahasiswa adalah insan akademik. Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komunitas yang lain. Peran ini menjadi simbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat harus memiliki pemahaman yang lebih sebagai insan akademik dalam menghadapi bencana tersebut. Pemahaman ini tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat berguna bagi masyarakat di sekitarnya. Mahasiswa dengan menjadi relawan dapat membangkitkan rasa cinta tanah air dan memberikan pencerahan kepada masyarakat akan pentingnya kesadaran dalam menanggulangi bencana. Mahasiswa diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pihak terkait untuk penaggulangan bencana yang lebih baik kalangan akademisi ini juga diharapkan dapat berperan aktif dalam upaya pengurangan resiko bencana.
    4. Peran politik
    Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai presseur group ( grup penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini. Dalam hal penanggulangan bencana mahasiswa dapat menerapkan peran ini. Mahasiswa dapat menekan pemerintah agar selalu memberikan pelayanan yang baik bagi pengungi korban bencana baik dalam bidang kesehatan, psikologi , sandang, pangan dan sebagainya. Hal ini dimaksukan agar pengungsi selalu terjamin pelayanannya.ahasiswa juga bisa menekan pemerintah agar selalu memberikan informasi yang akurat kepada warga yang berada di daerah rawan bencana.

    Peranan mahasiswa dalam menghadapi bencana dapat disesuaikan dengan bidang dan profesinya. Setiap mahasiswa bisa menyalurkan sesuai bidangnya tidak harus dari profesi guru atau kesehatan, seperti yang dilakukan mahasiswa Tata Rias dan Kecantikan FT UNY. Pada Koran SUARA MERDEKA tanggal 11 November 2010 ditulis bahwa mereka mengadakan Salon Tiban Gratis untuk pengungsi di Gor UNY. Mahasiswa kedokteran baik dokter, perawat, farmasi dan rekam medis dapat terjun langsung di posko-posko pengungsian memberikan pelayanan kesehatan. Mahasiswa Ilmu Pendidikan memberikan ilmunya pada para pengunsi dengan menyelenggarakan sekolah gratis. Para mahasiswa Psikologi dapat memberikan pencerahan bagi korban bencana dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan mahasiswa untuk membantu korban bencana.

    DAFTAR REFERENSI

    1) Dikutip dari: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/11/26/149148-mahasiswa-its-luncurkan-game-peduli-korban-merapi
    2) Dikutip dari: http://kammipolban.wordpress.com/2007/05/03/4-peran-mahasiswa/
    3) Dikutip dari: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam
    4) Dikutip dari: http://ubur-ubur-ubur.blogspot.com/2010/03/peran-dan-fungsi-mahasiswa.html
    5) Dikutip dari: http://indonesianmuslim.com/tingkat-kesiapan-masyarakat-indonesia-dalam-menghadapi-bencana.html
    6) Koran SUARA KEDU hari Jumat tanggal 12 November 2010 .
    7) Koran SUARA MERDEKA hari Kamis tanggal 11 November 2010 .

    ALIFIA WAHYU W
    08/271570/DPA/03011
    D3 REKAM MEDIS UGM

    Posted by Alifia Wahyu Wulandari | 5 December 2010, 1:53 pm
  7. Peran Mahasiswa dalam Menghadapi Kejadian Bencana Alam di Indonesia.
    Bencana alam yang melanda bangsa ini merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Bencana alam ini memang menuntut gerak cepat dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah (baik daerah maupun pusat), Bazarnas, BNPB, LSM, lembaga-lembaga pemerintahan, serta seluruh warga masyarakat yang ada. Bencana alam yang terjadi sekarang ini seringkali tidak dapat diprediksi, salah satu contohnya tsunami di Mentawai. Tidak bisa dipungkiri negara kita ini memang termasuk wilayah yang sangat rawan akan bencana alam. Untuk itu perlu selalu ada kesiagaan dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah dari kalangan mahasiswa.
    Mahasiswa adalah pelajar yang paling tinggi levelnya, atau diambil dari suku kata pembentuknya, “Maha” dan “Siswa”. Sebagai seorang pelajar tertinggi, tentu mahasiswa sudah terpelajar. Mahasiswa dituntut untuk berperan lebih, tidak hanya bertanggung jawab sebagai kaum akademis, tetapi diluar itu wajib memikirkan dan mengembangkan tujuan bangsa. Dalam hal ini keterpaduan nilai-nilai moralitas dan intelektualitas sangat diperlukan demi berjalannya peran mahasiswa dalam dunia kampusnya untuk dapat menciptakan sebuah kondisi kehidupan kampus dan di luar kampus yang harmonis.
    Dalam menghadapi permasalahan, seorang mahasiswa harus melakukan analisa terhadap masalah itu. Mencari bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan tersebut. Kemudian memunculkan alternatif solusi dan memilih satu solusi dengan pertimbangan yang matang. Dan pada akhirnya harus mampu mempresentasikan solusi yang dipilih ke orang lain untuk mempertanggung jawabkan pemilihan solusi tersebut. Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peran itu. Jika gagal akan berdampak negatif pada masyarakat yang di pimpinnya demikian pula sebaliknya. Dalam perubahan sosial yang hebat saat ini, mahasiswa sering dihadapkan pada kenyataan yang membingungkan dan dilematis. Mahasiswa memiliki posisi yang sangat berat namun sangat strategis dan sangat menentukan. Bukan zamannya lagi untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi tetapi harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Partisipasi serta peran serta aktif dari para mahasiswa juga sangat diperlukan karena kesiagaan Pemerintah saja terbukti tidak cukup efektif dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam di tanah air. Dalam hal itu, mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut untuk dapat berperan lebih nyata terhadap perubahan atau paling tidak menjadi pendukung dari sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

    Kesadaran bahwa mahasiswa harus menjadi agen perubahan merupakan langkah awal yang kemudian harus dibarengi dengan pemahaman bagaimana cara melakukan perubahan atau ke arah mana perubahan itu akan diarahkan. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai masalah yang ada di Indonesia ini, salah satunya adalah bencana alam yang akhir-akhir ini melanda bangsa Indonesia ini. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana. Keterlibatan mahasiswa dalam membantu, salah satunya dengan penggalangan dana membuat mereka mampu mendudukkan peran sebagai agen perubahan sosial di masyarakat. Keterlibatan mahasiswa tersebut sangat penting terutama untuk menggalang rasa solidaritas di antara mahasiswa dan masyarakat. Kegiatan mahasiswa dalam penanggulangan risiko bencana juga memberikan warna tersendiri dalam peningkatan proses pembangunan yang ada. Di beberapa kasus bencana alam, relawanlah yang mempunyai peran besar saat masa tanggap darurat dilakukan, biasanya dilakukan oleh masyarakat sekitar. Menjadi relawan mempunyai dampak positif bagi mahasiswa. Selain mahasiswa mempunyai pengalaman tanggap darurat, juga dapat menumbuhkan rasa solidaritas terhadap korban bencana alam. Hal itu dapat menumbuhkan motivasi untuk bekerja dalam bidang kemanusiaan, dan mendorong mereka untuk memikirkan, merencanakan, serta bertindak, dalam rangka mengurangi risiko bencana.

    Contoh keterlibatan mahasiswa dalam menyikapi bencana alam yang terjadi di Indonesia ini, antara lain adalah sebagai berikut :
    • Pada saat terjadi bencana tsunami di Mentawai, aksi peduli dilaksanakan oleh mahasiswa dari STIE Dharma Andalas dan Univesritas Andalas. Mereka menghimpun sumbangan dari masyarakat, khususnya dari pengguna jalan raya. Berdasarkan pantauan RRI pada beberapa persimpangan yang ada trafick lightnya, seperti di Simpang Adabiah dan Simpang Sawahan, terlihat mereka dengan semangat dan sabar menyapa pengendara dan penumpang kendaraan agar menyalurkan bantuan untuk korban musibah di mentawai. Sementara itu animo masayarakat untuk menyumbangkan uangnya cukup tinggi. Setidaknya hal itu terlihat dari kardus Mie instant yang mereka gunakan rata-rata penuh dengan lembaran uang kertas.
    • Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) Medan menggelar aksi penggalangan dana untuk korban bencana tsunami di Mentawai, menggunakan sejumlah alat musik tradisional Minangkabau saat mengamen. Lagu-lagu yang diperdengarkan juga bernuansa Minangkabau. Sambutan cukup baik diterima dari para pedagang dan pengunjung kafe di sekitar kawasan Jl Sisingamangaraja, Medan. Mereka memberikan sumbangan baik uang receh maupun uang kertas.
    • Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar) melakukan aksi penggalangan dana di Parepare, Sulawesi Selatan untuk membantu korban bencana Tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Aksi itu sebagai wujud solidaritas kepada para korban gempa dan tsunami di Mentawai. Penggalangan dana dilakukan dengan mengedarkan kotak sumbangan ke pengguna jalan Bau Massepe, Kota Parepare.
    • Aksi sosial serupa dilakukan sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan Medan, Sumatra Utara. Mereka menggalang dana dengan cara mengamen di ruas jalan raya sekitar Kota Medan.
    • Di Pekanbaru, Riau, aksi penggalangan dana untuk Mentawai dilakukan mahasiswa Amikom Tri Dharma Pekanbaru. Mereka mengumpulkan sumbangan dari pengendara yang melintas di ruas jalan Soekarno-Hatta, Sudirman dan Tuanku Tambusai.
    • Mahasiswa Purwakarta dan Subang menggalang dana kemanusiaan untuk korban bencana alam tsunami di Mentawai, Sumbar, dan meletusnya gunung merapi di Yogjakarta. Di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, puluhan mahasiswa tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (Permata) menggelar aksi simpatik dengan menggalang dana kemanusiaan didepan Kampus Upi Purwakarta di Jl Veteran, Kel Nagri Kaler. Di Kab Subang, puluhan mahasiswa melakukan aksi penggalangan dana di tiga tempat. Di jantung kota Subang, tepat di Wisma Karya dan Perempatan Gedung Juang, Subang, puluhan mahasiswa tergabung dalam Pecinta Alam Universitas Subang (Palamus) dan Ikatan Keluarga Besar Matematika (IKBM). Di jalur pantura Pamanukan, Subang, mahasiswa tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cab Subang menggelar aksi solidaritas untuk korban bencana alam di Mentawai dan Yogjakarta, di bawah fly over (jembatan layang) Pamanukan, Subang.
    • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Mahasiswa Unidayan, kini giliran Mahasiswa STAI Baubau melakukan penggalangan dana. Aksi itu sebagai bentuk solidaritas atas bencana yang menimpa sebagian warga Indonesia.Penggalangan dana dimulai dari kampus STAI Jl Wa Ode Wau menuju kampus STAI bawah Jl R.A. Kartini. Mahasiswa meminta uluran tangan di sepanjang jalur yang dilewati.
    • Mahasiswa Universitas PGRI Palembang dari unit kegiatan mahasiswa KSR PMI, Pramuka, dan Mapala menyerahkan bantuan uang Rp 8.275.000 untuk korban bencana alam di Wasior, Mentawai, dan merapi. Dana dikumpulkan 35 mahasiswa dari sumbangan warga di jalan raya dan civitas akademika Universitas PGRI Palembang.
    • Di Karanganyar, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Akademi Peternakan Karanganyar (Apeka) menggalang dana untuk korban bencana tersebut. Dalam aksi penggalangan dana tersebut, para mahasiswa menyodorkan kotak kardus bertulis “Peduli Kasih Mentawai dan Merapi”. Penggalangan dana ini untuk membantu meringankan para korban yang sedang tertimpa bencana. Baik korban tsunami di Mentawai maupun akibat letusan Gunung Merapi.
    • Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Padangsidimpuan Tapanuli Selatan (Tapsel), turun ke jalan menggalang dana untuk membantu korban bencana alam di Indonesia. Penggalangan dana ini merupakan bentuk solidaritas atas penderitaan yang dialami masyarakat Indonesia lainnya yang sedang ditimpa musibah.
    • Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa Unpad (KEMA Unpad) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) SAR Unpad bekerja sama dengan Karang Taruna Cileles, Jatinangor mengirimkan bantuan untuk korban Merapi. Mereka menyerahkan bantuan berupa pakaian bekas, pembalut wanita, susu, peralatan mandi, selimut, pakaian dalam, biskuit, sembako, dan alat tulis. Bantuan ini berasal dari sumbangan mahasiswa Fakultas Farmasi, Jurusan Kimia FMIPA Unpad dan warga Desa Cileles, Jatinangor. Selain mengantarkan bantuan, tim tersebut juga melakukan traumatic healing bagi anak-anak SDN Ngargomulyo bersama dengan tim relawan mahasiswa FISIP Unpad. Tim ini juga turut membantu membersihkan sisa abu vulkanik yang berada di halaman SDN Ngargomulyo. Selain mengirimkan bantuan, tim ini juga menjemput relawan dari UKM SAR Unpad yang telah berada di sana selama satu minggu sebagai bagian dari tim relawan di daerah tersebut. Tim ini juga tidak hanya memberi bantuan barang-barang saja, mereka juga menyerahkan bantuan uang tunai senilai Rp 2 juta. Bantuan tersebut diserahkan melalui Posko Pusat Bantuan Merapi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
    • Mahasiswa Lembaga Pendidikan Sofware Komputer (LPSK) Kotabumi Lampung Utara menggelar penggalangan dana untuk korban bencana alam di Indonesia. Mereka meminta simpati warga pengguna Jalan Jenderal Sudirman, Kotabumi, untuk korban bencana di Mentawai, Sumatera Barat, Yogyakarta, dan Wasior, Papua Barat.
    Dari beberapa contoh di atas, dapat dilihat bahwa rasa solidaritas mahasiswa dalam menanggapi bencana alam yang terjadi di Indonesia ini masih tinggi. Sebagian besar mahasiswa menanggapi bencana yang terjadi dengan menggalang dana untuk membantu para korban bencana. Sebenarnya tidak hanya hal itu saja yang bisa dilakukan oleh mahasiswa dalam perannya menanggapi bencana yang sering melanda bangsa Indonesia ini, namun masih banyak lagi hal-hal yang sangat membantu meringankan beban para korban bencana. Contohnya adalah terjun langsung ke lokasi bencana, membantu mengevakusi korban-korban bencana alam. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengadakan suatu kegiatan, beberapa diantaranya yaitu trauma healing, pendekatan masyarakat, pelayanan kesehatan, dan assesment (pendataan). Jadi, tidak hanya kegiatan yang dapat meringankan beban fisik para korban bencana saja yang bisa dilakukan, namun kegiatan yang dapat meringankan beban psikis juga sangat diperlukan.

    DAFTAR PUSTAKA

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/06/129294/Mahasiswa-dan-Kepedulian-Sosial

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/

    http://soulofcipta.blogspot.com/2010/11/mahasiswa-siaga-bencana.html

    http://metrotvnews.com/metromain/newsvideo/2010/10/29/115939/Mahasiswa-Galang-Dana-untuk-Korban-Tsunami-Mentawai

    http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/10/29/mahasiswa-galang-dana-korban-bencana

    http://ozzonradio.com/home/2010/11/mahasiswa-stai-juga-galang-dana-untuk-korban-bencana/

    http://lampungutara.go.id/berita-terkini/403-mahasiswa-galang-dana-bantuan-bencana.html

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/02/solusi-mengatasi-bencana-alam-di-indonesia/

    Nama : Kukuh Prasetio Endarto
    Nim : 08/271507/dpa/2957
    Prodi : D3-Rekam Medis (UGM)

    Posted by Kukuh Prasetio Endarto (2957) | 5 December 2010, 1:46 pm
  8. Peran Mahasiswa dalam Menghadapi Kejadian Bencana Alam di Indonesia.
    Bencana alam yang melanda bangsa ini merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Bencana alam ini memang menuntut gerak cepat dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah (baik daerah maupun pusat), Bazarnas, BNPB, LSM, lembaga-lembaga pemerintahan, serta seluruh warga masyarakat yang ada. Bencana alam yang terjadi sekarang ini seringkali tidak dapat diprediksi, salah satu contohnya tsunami di Mentawai. Tidak bisa dipungkiri negara kita ini memang termasuk wilayah yang sangat rawan akan bencana alam. Untuk itu perlu selalu ada kesiagaan dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah dari kalangan mahasiswa.
    Mahasiswa adalah pelajar yang paling tinggi levelnya, atau diambil dari suku kata pembentuknya, “Maha” dan “Siswa”. Sebagai seorang pelajar tertinggi, tentu mahasiswa sudah terpelajar. Mahasiswa dituntut untuk berperan lebih, tidak hanya bertanggung jawab sebagai kaum akademis, tetapi diluar itu wajib memikirkan dan mengembangkan tujuan bangsa. Dalam hal ini keterpaduan nilai-nilai moralitas dan intelektualitas sangat diperlukan demi berjalannya peran mahasiswa dalam dunia kampusnya untuk dapat menciptakan sebuah kondisi kehidupan kampus dan di luar kampus yang harmonis.
    Dalam menghadapi permasalahan, seorang mahasiswa harus melakukan analisa terhadap masalah itu. Mencari bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan tersebut. Kemudian memunculkan alternatif solusi dan memilih satu solusi dengan pertimbangan yang matang. Dan pada akhirnya harus mampu mempresentasikan solusi yang dipilih ke orang lain untuk mempertanggung jawabkan pemilihan solusi tersebut. Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peran itu. Jika gagal akan berdampak negatif pada masyarakat yang di pimpinnya demikian pula sebaliknya. Dalam perubahan sosial yang hebat saat ini, mahasiswa sering dihadapkan pada kenyataan yang membingungkan dan dilematis. Mahasiswa memiliki posisi yang sangat berat namun sangat strategis dan sangat menentukan. Bukan zamannya lagi untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi tetapi harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Partisipasi serta peran serta aktif dari para mahasiswa juga sangat diperlukan karena kesiagaan Pemerintah saja terbukti tidak cukup efektif dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam di tanah air. Dalam hal itu, mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut untuk dapat berperan lebih nyata terhadap perubahan atau paling tidak menjadi pendukung dari sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

    Kesadaran bahwa mahasiswa harus menjadi agen perubahan merupakan langkah awal yang kemudian harus dibarengi dengan pemahaman bagaimana cara melakukan perubahan atau ke arah mana perubahan itu akan diarahkan. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai masalah yang ada di Indonesia ini, salah satunya adalah bencana alam yang akhir-akhir ini melanda bangsa Indonesia ini. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana. Keterlibatan mahasiswa dalam membantu, salah satunya dengan penggalangan dana membuat mereka mampu mendudukkan peran sebagai agen perubahan sosial di masyarakat. Keterlibatan mahasiswa tersebut sangat penting terutama untuk menggalang rasa solidaritas di antara mahasiswa dan masyarakat. Kegiatan mahasiswa dalam penanggulangan risiko bencana juga memberikan warna tersendiri dalam peningkatan proses pembangunan yang ada. Di beberapa kasus bencana alam, relawanlah yang mempunyai peran besar saat masa tanggap darurat dilakukan, biasanya dilakukan oleh masyarakat sekitar. Menjadi relawan mempunyai dampak positif bagi mahasiswa. Selain mahasiswa mempunyai pengalaman tanggap darurat, juga dapat menumbuhkan rasa solidaritas terhadap korban bencana alam. Hal itu dapat menumbuhkan motivasi untuk bekerja dalam bidang kemanusiaan, dan mendorong mereka untuk memikirkan, merencanakan, serta bertindak, dalam rangka mengurangi risiko bencana.

    Contoh keterlibatan mahasiswa dalam menyikapi bencana alam yang terjadi di Indonesia ini, antara lain adalah sebagai berikut :
    • Pada saat terjadi bencana tsunami di Mentawai, aksi peduli dilaksanakan oleh mahasiswa dari STIE Dharma Andalas dan Univesritas Andalas. Mereka menghimpun sumbangan dari masyarakat, khususnya dari pengguna jalan raya. Berdasarkan pantauan RRI pada beberapa persimpangan yang ada trafick lightnya, seperti di Simpang Adabiah dan Simpang Sawahan, terlihat mereka dengan semangat dan sabar menyapa pengendara dan penumpang kendaraan agar menyalurkan bantuan untuk korban musibah di mentawai. Sementara itu animo masayarakat untuk menyumbangkan uangnya cukup tinggi. Setidaknya hal itu terlihat dari kardus Mie instant yang mereka gunakan rata-rata penuh dengan lembaran uang kertas.
    • Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) Medan menggelar aksi penggalangan dana untuk korban bencana tsunami di Mentawai, menggunakan sejumlah alat musik tradisional Minangkabau saat mengamen. Lagu-lagu yang diperdengarkan juga bernuansa Minangkabau. Sambutan cukup baik diterima dari para pedagang dan pengunjung kafe di sekitar kawasan Jl Sisingamangaraja, Medan. Mereka memberikan sumbangan baik uang receh maupun uang kertas.
    • Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar) melakukan aksi penggalangan dana di Parepare, Sulawesi Selatan untuk membantu korban bencana Tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Aksi itu sebagai wujud solidaritas kepada para korban gempa dan tsunami di Mentawai. Penggalangan dana dilakukan dengan mengedarkan kotak sumbangan ke pengguna jalan Bau Massepe, Kota Parepare.
    • Aksi sosial serupa dilakukan sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan Medan, Sumatra Utara. Mereka menggalang dana dengan cara mengamen di ruas jalan raya sekitar Kota Medan.
    • Di Pekanbaru, Riau, aksi penggalangan dana untuk Mentawai dilakukan mahasiswa Amikom Tri Dharma Pekanbaru. Mereka mengumpulkan sumbangan dari pengendara yang melintas di ruas jalan Soekarno-Hatta, Sudirman dan Tuanku Tambusai.
    • Mahasiswa Purwakarta dan Subang menggalang dana kemanusiaan untuk korban bencana alam tsunami di Mentawai, Sumbar, dan meletusnya gunung merapi di Yogjakarta. Di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, puluhan mahasiswa tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (Permata) menggelar aksi simpatik dengan menggalang dana kemanusiaan didepan Kampus Upi Purwakarta di Jl Veteran, Kel Nagri Kaler. Di Kab Subang, puluhan mahasiswa melakukan aksi penggalangan dana di tiga tempat. Di jantung kota Subang, tepat di Wisma Karya dan Perempatan Gedung Juang, Subang, puluhan mahasiswa tergabung dalam Pecinta Alam Universitas Subang (Palamus) dan Ikatan Keluarga Besar Matematika (IKBM). Di jalur pantura Pamanukan, Subang, mahasiswa tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cab Subang menggelar aksi solidaritas untuk korban bencana alam di Mentawai dan Yogjakarta, di bawah fly over (jembatan layang) Pamanukan, Subang.
    • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Mahasiswa Unidayan, kini giliran Mahasiswa STAI Baubau melakukan penggalangan dana. Aksi itu sebagai bentuk solidaritas atas bencana yang menimpa sebagian warga Indonesia.Penggalangan dana dimulai dari kampus STAI Jl Wa Ode Wau menuju kampus STAI bawah Jl R.A. Kartini. Mahasiswa meminta uluran tangan di sepanjang jalur yang dilewati.
    • Mahasiswa Universitas PGRI Palembang dari unit kegiatan mahasiswa KSR PMI, Pramuka, dan Mapala menyerahkan bantuan uang Rp 8.275.000 untuk korban bencana alam di Wasior, Mentawai, dan merapi. Dana dikumpulkan 35 mahasiswa dari sumbangan warga di jalan raya dan civitas akademika Universitas PGRI Palembang.
    • Di Karanganyar, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Akademi Peternakan Karanganyar (Apeka) menggalang dana untuk korban bencana tersebut. Dalam aksi penggalangan dana tersebut, para mahasiswa menyodorkan kotak kardus bertulis “Peduli Kasih Mentawai dan Merapi”. Penggalangan dana ini untuk membantu meringankan para korban yang sedang tertimpa bencana. Baik korban tsunami di Mentawai maupun akibat letusan Gunung Merapi.
    • Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Padangsidimpuan Tapanuli Selatan (Tapsel), turun ke jalan menggalang dana untuk membantu korban bencana alam di Indonesia. Penggalangan dana ini merupakan bentuk solidaritas atas penderitaan yang dialami masyarakat Indonesia lainnya yang sedang ditimpa musibah.
    • Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa Unpad (KEMA Unpad) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) SAR Unpad bekerja sama dengan Karang Taruna Cileles, Jatinangor mengirimkan bantuan untuk korban Merapi. Mereka menyerahkan bantuan berupa pakaian bekas, pembalut wanita, susu, peralatan mandi, selimut, pakaian dalam, biskuit, sembako, dan alat tulis. Bantuan ini berasal dari sumbangan mahasiswa Fakultas Farmasi, Jurusan Kimia FMIPA Unpad dan warga Desa Cileles, Jatinangor. Selain mengantarkan bantuan, tim tersebut juga melakukan traumatic healing bagi anak-anak SDN Ngargomulyo bersama dengan tim relawan mahasiswa FISIP Unpad. Tim ini juga turut membantu membersihkan sisa abu vulkanik yang berada di halaman SDN Ngargomulyo. Selain mengirimkan bantuan, tim ini juga menjemput relawan dari UKM SAR Unpad yang telah berada di sana selama satu minggu sebagai bagian dari tim relawan di daerah tersebut. Tim ini juga tidak hanya memberi bantuan barang-barang saja, mereka juga menyerahkan bantuan uang tunai senilai Rp 2 juta. Bantuan tersebut diserahkan melalui Posko Pusat Bantuan Merapi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
    • Mahasiswa Lembaga Pendidikan Sofware Komputer (LPSK) Kotabumi Lampung Utara menggelar penggalangan dana untuk korban bencana alam di Indonesia. Mereka meminta simpati warga pengguna Jalan Jenderal Sudirman, Kotabumi, untuk korban bencana di Mentawai, Sumatera Barat, Yogyakarta, dan Wasior, Papua Barat.
    Dari beberapa contoh di atas, dapat dilihat bahwa rasa solidaritas mahasiswa dalam menanggapi bencana alam yang terjadi di Indonesia ini masih tinggi. Sebagian besar mahasiswa menanggapi bencana yang terjadi dengan menggalang dana untuk membantu para korban bencana. Sebenarnya tidak hanya hal itu saja yang bisa dilakukan oleh mahasiswa dalam perannya menanggapi bencana yang sering melanda bangsa Indonesia ini, namun masih banyak lagi hal-hal yang sangat membantu meringankan beban para korban bencana. Contohnya adalah terjun langsung ke lokasi bencana, membantu mengevakusi korban-korban bencana alam. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengadakan suatu kegiatan, beberapa diantaranya yaitu trauma healing, pendekatan masyarakat, pelayanan kesehatan, dan assesment (pendataan). Jadi, tidak hanya kegiatan yang dapat meringankan beban fisik para korban bencana saja yang bisa dilakukan, namun kegiatan yang dapat meringankan beban psikis juga sangat diperlukan.

    DAFTAR PUSTAKA

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/06/129294/Mahasiswa-dan-Kepedulian-Sosial

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/

    http://soulofcipta.blogspot.com/2010/11/mahasiswa-siaga-bencana.html

    http://metrotvnews.com/metromain/newsvideo/2010/10/29/115939/Mahasiswa-Galang-Dana-untuk-Korban-Tsunami-Mentawai

    http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/10/29/mahasiswa-galang-dana-korban-bencana

    http://ozzonradio.com/home/2010/11/mahasiswa-stai-juga-galang-dana-untuk-korban-bencana/

    http://lampungutara.go.id/berita-terkini/403-mahasiswa-galang-dana-bantuan-bencana.html

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/02/solusi-mengatasi-bencana-alam-di-indonesia/

    Nama : Kukuh Prasetio Endarto
    Nim : 08/271507/dpa/2957
    Prodi : D3-Rekam Medis

    Posted by Kukuh Prasetio Endarto (2957) | 5 December 2010, 1:16 pm
  9. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA

    Realitas Indonesia sebagai negeri bencana tidak dapat ditampik lagi. Fakta-fakta bencana yang menimpa hampir di seluruh wilayah Indonesia ini makin menguatkan tesis tersebut. Gempa bumi, longsor, banjir, tsunami, gunung meletus, kebakaran hutan, kekeringan, dan bencana alam lainnya selalu menjadi warna dominan dalam perikehidupan masyarakat Indonesia. Fakta bencana di Indonesia yang hampir selalu memakan korban jiwa dan harta benda yang besar menyuratkan lemahnya ikhtiar. Kelemahan ikhtiar tersebut dapat dikategorikan dalam dua hal. Pertama, rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat Indonesia tentang bencana dan cara menghadapinya. Kedua, lemahnya sistem penanggulangan bencana yang disiapkan atau dibuat pemerintah.
    Kondisi geografis Indonesia memang rawan bencana. Catatan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan sekurangnya ada 28 wilayah di Indonesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami. Belum lagi ditambah dengan potensi gunung api yang dimiliki Indonesia.
    Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur Cincin Api Pasifik (The Pacific Ring of Fire) yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin Api Pasifik membentang di antara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara, dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Indonesia memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang lebih 240 buah dan hampir 70 di antaranya masih aktif. Maka, potensi terjadinya bencana memang sulit dihindari..
    Beberapa tahun belakangan ini Indonesia diguncang berbagai bencana alam mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa, gunung meletus, dan masih banyak lagi. Demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia. Tidak sedikit nyawa dan harta benda terenggut menjadi korban kehebatan alam ini. Bencana seperti ini pun bukan datang pada saat ini saja, melainkan sudah sedari dulu negeri ini akrab ditimpa bencana. Melihat demikian, fondasi kesadaran masyarakat Indonesia untuk peduli korban bencana sudah terbangun dari dulu secara alamiah. Ini diperkuat dengan ciri khas bangsa Indonesia yang kuat dalam hal ikatan kekeluargaan dan persaudaraan. Tak bisa dipungkiri, bencana malah menjadi sarana penguat rasa persatuan dan kepedulian bangsa Indonesia.
    Ini menjadi kesempatan besar bagi pemuda Indonesia menjadi garda terdepan aksi tanggap bencana di Indonesia. Apa yang dikatakan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda 2010 pun patut menjadi refleksi utama. Bahwa semangat Sumpah Pemuda kian relevan untuk terus dikembangkan para pemuda di tengah situasi bencana yang melanda Indonesia saat ini. “Satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa harus semakin dipahami pemuda Indonesia agar apa yang dirasakan saudara yang satu, saudara yang lain merasakan keprihatinan yang sama.”
    Tak terkecuali dengan kepedulian pemuda Indonesia. Pemuda mengambil peran sangat penting ketika terjadinya bencana. Ini bisa dilihat dari peristiwa meletusnya Gunung Merapi, pemuda adalah garda terdepan dalam upaya penyelamatan masyarakat. Para pemuda berjuang tanpa pamrih mengevakuasi masyarakat, terutama jompo, anak-anak serta ibu-ibu di wilayah bencana Merapi. Apa yang dilakukannya ini, tak jarang pemuda harus mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan orang lain. Peran pemuda terutama mahasiswa dalam menangani bencana sangat banyak bila dijabarkan satu persatu. Dalam menangani dan mengatasi bencana para mahasiswa langsung tergerak melakukan aksi penggalangan dana dengan berbagai cara, ada yang dengan cara mengamen, ada yang dengan cara mendatangi setiap kelas di kampus untuk meminta penyaluran dana dari rekan-rekan sesama mahasiswa, di perempatan jalan, di tempat umum atau di objek wisata, bahkan ada mahasiswa yang berdemo mengkritik pemerintah di jalanan sambil menggalang dana untuk korban bencana.
    Lebih nyata lagi, banyak ditemui juga mahasiswa yang menjadi sukarelawan-sukarelawan penanggulangan bencana Merapi. Mereka bergabung dengan sukarelawan-sukarelawan lain dari PMI, Bulan Sabit Merah, pemerintah, TNI, polisi serta lembaga-lembaga bantuan lain. Tidak jarang, organisasi mahasiswa pun ikut membuka posko-posko sendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana. Hal itu dapat dijadikan sebuah contoh bahwa para pemuda Indonesia ternyata cepat tanggap menangani bencana yang terjadi di Indonesia. Ini juga dapat menepis anggapan yang menyatakan bahwa para pemuda Indonesia yang dianggap hanya bisa membuat rusuh, onar, dan hal-hal yang berbau anarkhis. Karna pada kenyataan nya dalam keadaan Indonesia berduka para pemuda mampu membuktikan kalau mereka mampu ikut serta berpartisipasi dalam menangani bencana itu dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat dan melakukan misi-misi kemanusiaan, bahkan kalau dilihat dari pemberitaan yang ada sekarang peran pemuda dalam menangani bencana ternyata cukup banyak bahkan ada yang dengan sukarela ikut berangkat ke tempat terjadinya bencana hanya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang berduka. Hal itu dilakukan dengan cuma-cuma tanpa mengharapkan imbalan, mereka tergerak atas dasar rasa kemanusiaan. Dari sini kita tidak bisa hanya melihat para pemuda dari sebelah mata karena pada kenyataannya banyak hal positif yang dilakukan oleh para pemuda di zaman sekarang. Hal ini juga menandakan bahwa para pemuda masih mempunyai rasa kemanusian dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah. Bukan hanya anarkhisme yang bisa mereka lakukan tapi juga hal positif yang bisa dilakukan demi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana. Sehingga tampak jelas bahwa para pemuda juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini.

    http://anakdjogja7.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html.

    http://www.knowledge-leader.net/?p=1006

    http://nofieiman.com/2008/01/mengapa-begitu-banyak-bencana-alam-terjadi-di-indonesia/.

    http://www.okezone.com

    Nama : Hephi Rachmawati
    NIM : 08/274257/DPA/03181
    Prodi: D3 Rekam Medis

    Posted by Hephi Rachmawati | 5 December 2010, 12:16 pm
  10. Peranan Mahasiswa dalam Menghadapi Kejadian- kejadian Bencana Tsunami, Banjir, Gunung meletus, Gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di Negara Indonesia.

    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya bulan oktober di tanah air kita Indonesia, sering dilanda cobaan bencana alam, diantaranya banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai, banjir yang melanda ibukota Jakarta, gunung merapi meletus, dan akhir- akhir ini gunung Bromo di Jawa Timur juga dalam status awas merupakan problematika bangsa Indonesia. Namun, belum lagi usai pahit getirnya akibat bencana-bencana tersebut sekarang muncul lagi bencana baru berupa ancaman krisis perekonomian sebagai akibat terjadinya krisis keuangan dan Amerika Serikat. Tidak realistis untuk menganggap bahwa krisis keuangan di Amerika Serikat itu tidak akan berpengaruh ke dalam perekonomian bangsa kita di Indonesia. Tidaklah bertanggungjawab jika kita hanya berpangku tangan atau bersikap tidak perduli, meskipun kita juga tidak boleh menjadi panik sebagai akibat gejolak yang sedang terjadi di dunia.
    Disinilah peran mahasiswa agen perubahan social dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda yang harus memberikan sumbang sih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa, dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung kejalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko- posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa ditunjukkan dan realisasikan melalui pemanfaatan media tekhnologi yang ada. Banyaknya jejaring social seperti: frendster, facebook, twitter,blog,dsbg, yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang atau aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang dihasilkannya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan.
    Pada sisi lain, kita harus pula dapat memaknai bahwa adanya kita adalah sebagai penyambung lidah masyarakat. Kita ada karena jerit rakyat atas ketidak adilan para pejabat. Kita adalah corong masyarakat. Dalam hal ini, kedekatan kita pada masyarakat menjadi salah satu tolak ukur mendasar esensi adanya kita. Mahasiswa juga harus dapat membuktikan bahwa adanya mereka dapat memberikan solusi dan kontribusi nyata atas permasalahan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat yang notabennya adalah kaum yang “tidak tahu apa- apa” yang terpikir oleh mereka adalah bagaimana dapat makan dengan harga yang murah, dapat tidur nyenyak dengan rumah sewajarnya, dan sekolah untuk sekedar mencari kerja.
    Pemuda dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas anda semua adalah mempersiapkan diri dengan sebaik- baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan, untuk kemajuan bangsa kita dimasa depan. Estafet kepemimpinan disemua lapisan, baik dilingkungan suprastruktur Negara maupun dilingkup infrastruktur masyarakat, terbuka luas untuk kaum muda Indonesia akan berlangsung mulus dan lancar dalam rangka pencapaian tujuan bernegara. Oleh karena itu, orientasi pembenahan system politik, system ekonomi, dan system social budaya yang bercermin dalam system hokum yang berlaku saat ini sangatlah penting untuk dilakukan agar kita dapat menyediakan ruang pengabdian yang sebaik- baiknya bagi generasi bangsa kita dimasa depan guna mewujudkan cita- cita bangsa yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dan undang- undang dasar 1945, serta guna mencapai empat tujuan nasional kita, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social.

    Kesimpulan :
    Peran mahasiswa bagi bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan dalam suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negative yang ada pada suatu kaum. Peran ini senantiasa harus terus menjaga dan terpatri didalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia,’’ruh perubahan” itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia. Disamping itu kebijakan dari kampus untuk mengadakan KKN untuk mahasiswa yang bertujuan untuk membantu para korban bencana alam. Mahasiswa juga harus menguatkan kemampuan dan sikap mereka dalam menghadapi bencana. Dalam KKN ini mahasiswa diharuskan untuk memberikan keterampilan dan pengetahuan untuk menghadapi bencana. Para pemangku kebijakan kampus juga sudah selayaknya merespon hal ini. Pengelola kampus perlu memberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi bagi seluruh sivitas akademiknya. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Diharapkan dengan kejadian bencana ini kita semua dapat megmbil hikmah dari ini semua, oleh karena itu marilah kita membantu sesama yang membutuhkan pertolongan demi kehidupan yang lebih baik.
    Peran mahasiswa dalam upaya mengatasi bencana alam, yaitu mahasiswa berperan aktif dalam upaya penggalangan dana, serta mahasiswa juga dapat menyumbangkan tenaga serta fikiran sebagai sukarelawan.

    Referensi :

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan- berbangsa-dan-bernegara

    Nama : Mayasari Agustina
    Nim : 08/274043/DPA/03142
    Prodi : D3 Rekam Medis

    Posted by MAYASARI AGUSTINA | 5 December 2010, 10:55 am
  11. PERAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA ALAM
    YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA

    Indonesia adalah negara di mana wilayahnya yang membentang dari Sabang sampai Merauke memiliki sejuta kekayaan alam. Minyak bumi, gas alam, batu bara, logam untuk industri, logam mulia, permata, serta tanah yang subur, merupakan sebagian dari sumber daya alam yang ada di Indonesia. Namun, dibalik segala limpahan kekayaan tersebut, Indonesia menyimpan bahaya yang sewaktu-waktu dapat menjadi bencana.
    Indonesia yang terletak pada 6º LU hingga 11º LS dan 95º BT hingga 141º BT ini, menjadi lokasi pertemuan dua sirkum/jalur pegunungan, yakni sirkum pegunungan Pasifik dan sirkum pegunungan Mediterania. Dampak positif dari hal ini adalah tanah yang subur dan banyaknya tambang galian mineral. Namun, dampak negatif dari kenyataan ini adalah kerap terjadinya letusan gunung berapi maupun gempa vulkanik, seperti yang baru-baru ini terjadi, contohnya, letusan gunung Merapi dan gunung Bromo.
    Tak hanya dilalui dua sirkum pegunungan muda dunia, Indonesia juga merupakan wilayah di mana bertemunya tiga lempeng bumi, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Indo-Australis. Bergeseknya lempeng-lempeng ini dapat berujung pada gempa tektonik. Sudah berkali-kali terjadi gempa tektonik, baik dengan kekuatan kecil hingga kekuatan besar yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Gempa di Yogyakarta tahun 2006 dengan kekuatan 5,9 SR, gempa di Bengkulu tahun 2007 dengan kekuatan 7,9 SR, gempa di Tasikmalaya pada tahun 2009 dengan kekuatan 7,3 SR, merupakan beberapa contohnya. Tsunami atau sapuan ombak besar pun pernah menghantam pulau-pulau di Indonesia. Kita tentu masih ingat dengan tsunami Aceh akhir tahun 2004 dengan korban jiwa 177.000 orang. Serta yang belum lama terjadi, yakni tsunami di Mentawai yang telah merenggut korban 431 nyawa.
    Contoh-contoh di atas adalah bencana-bencana alam yang memang merupakan risiko dari letak wilayah Indonesia. Akan tetapi, ada juga bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia itu sendiri. Contohnya dalah banjir. Penebangan pohon-pohon di hutan tanpa usaha penanaman kembali menyebabkan hutan menjadi gundul. Ketika hujan lebat terjadi, air hujan yang melimpah tidak terserap dengan baik oleh akar pohon, sehingga air akan terus mengalir menuju daerah yang lebih rendah, yakni pada lereng dan dataran rendah sehingga menyebabkan banjir. Inilah yang kemungkinan terjadi di Wasior, Papua pada 4 Oktober 2010 lalu. Selain itu, banjir dapat terjadi juga karena tidak terdapatnya atau sangat minimnya daerah resapan air, karena daerah tersebut telah menjadi objek pembangunan dengan berdirinya gedung-gedung, hampir tanpa menyisakan lahan hijau yang bebas bangunan. Akibatnya, ketika dataran yang lebih tinggi diguyur hujan deras, air tersebut akan mengaliri dataran yang lebih rendah sebagai banjir. Hal ini diperparah oleh perilaku sebagian masyarakat yang masih saja suka membuang sampah sembarangan, di got (saluran air) atau di sungai. Ketika sampah semakin menumpuk dan hujan deras tiba, air dapat meluap dan menggenangi rumah-rumah penduduk. Inilah yang tiap tahunnya terjadi di ibukota negara kita, Jakarta.
    Bila bencana alam telah terjadi, jatuhnya korban tak dapat ditolak. Dalam setiap bencana akan selalu ada korban harta, korban luka, atau bahkan korban nyawa. Banyak dari para korban harus meninggalkan tempat tinggalnya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Di sinilah mahasiswa dapat berperan. Sebagai salah satu elemen masyarakat yang dianggap peduli terhadap isu-isu atau permasalahan yang sedang dihadapi bangsa, mahasiswa dapat berperan serta dalam menghadapi bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia.
    Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh mahasiswa dalam membantu para korban bencana alam. Mahasiswa dapat menjadi pengumpul (penggalang) dana maupun barang bantuan, baik dari dirinya dan sesamanya, serta dari masyarakat yang tidak tertimpa bencana. Mahasiswa dapat juga menjadi pengirim atau penyalur bantuan ke posko-posko pengungsian, agar bantuan tersebut dapat segera digunakan untuk mencukupi kebutuhan para korban selama berada di pengungsian. Selain itu, mahasiswa dapat juga menjadi relawan yang ikut serta dalam membantu upaya evakuasi para korban bencana atau menjadi relawan di dapur umum atau di tenda-tenda pengobatan.
    Bencana alam memang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Untuk bencana alam seperti gunung meletus, gempa vulkanik, maupun tektonik, memang tidak dapat dicegah. Bencana-bencana tersebut hanya dapat dideteksi sebelum terjadinya, karena secara hukum alam, bencana alam memang akan selalu dapat terjadi di Indonesia atas konsekuensi dari letak wilayahnya yang merupakan daerah rawan bencana. Akan tetapi, ada juga bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia. Misalnya, bencana banjir. Bencana ini dapat dicegah agar tidak terus terjadi.
    Cara-cara yang dapat dilakukan oleh mahasiswa, yang telah diuraikan sebelumnya merupakan hal yang bisa dilakukan setelah terjadi bencana alam. Namun, alangkah baiknya, bila dilakukan juga cara-cara untuk mencegah bencana alam akibat ulah manusia yang dapat terjadi. Mahasiswa dapat juga berperan dalam upaya pencegahan bencana. Misalnya, dengan melakukan program penanaman kembali hutan-hutan yang gundul (reboisasi), penghijauan pada daerah resapan air di kota-kota besar yang rawan banjir, atau dengan melakukan kampanye untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selain hal di atas, mahasiswa sebagai kaum terpelajar dapat juga memberikan edukasi kepada masyarakat di daerah rawan bencana tentang pengetahuan dan apa saja yang harus dilakukan dalam menghadapi bencana alam, untuk meminimalkan dampak buruk yang bisa terjadi. Di samping itu, sesuai dengan ilmu yang sedang dipelajarinya, mahasiswa dapat terus belajar hingga suatu saat nanti mampu menciptakan suatu alat yang lebih canggih, yang mampu mendeteksi dini bencana alam dalam waktu yang relatif cepat, sehingga akan sangat berguna dalam upaya penyelamatan.
    Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh mahasiswa dalam menghadapi bencana alam. Akan tetapi, mahasiswa membutuhkan juga dukungan yang positif dari kampus, masyarakat, dan tentunya pemerintah. Dengan banyaknya pihak yang bekerja sama, penanggulangan maupun pencegahan bencana alam akan dapat dilakukan secara maksimal dan akan semakin banyak jiwa yang terselamatkan.

    Referensi:
    http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100318230817AANsOoC diakses tanggal 5 Desember 2010
    http://kangnawar.com/bencana/lempeng-bumi diakses tanggal 5 Desember 2010
    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.htm diakses tanggal 1 Desember 2010

    http://umatun.wordpress.com/2010/10/24/bencana-alam-dan-peran-kampus/ diakses tanggal 1 Desember 2010
    http://www.lintasberita.com/go/750898 diakses tanggal 5 Desember 2010
    http://www.tokohindonesia.com/berita/berita/2006/gempa_yogya.shtml diakses tanggal 5 Desember 2010
    http://www.vivanews.com/ diakses tanggal 4 Desember 2010
    https://thephenomena.wordpress.com/2010/05/06/gempa-bengkulu-63-sr-sebagai-fenomena-29/ diakses tanggal 5 Desember 2010-12-05

    Nama : Arifah Sulchana
    NIM : DPA/2998
    Prodi : D3 Rekam Medis
    Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada

    Posted by arifah s | 5 December 2010, 6:04 am
  12. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana.
    Sebagai warga negara indonesia tentunya kita tau bahwa negara kita berbentuk kepulauan dan sekaligus sadar akan banyaknya patahan-patahan atau lempeng- lempeng antar benua yang terdapat di beberapa bagian wilayah indonesia yang menjadikan rentan terhadap bencana alam. Dari berbagi sisi positif wilayah indonesia yang mempunyai banyak kekayaan alam, indonesia juga merupakan negara yang mempunyai berbagai potensi bencana alam. Bencana alam yang sering melada wilayah indonesia adalah tsunami, banjir, gunung meletus, gempa, dan masih banyak lainya. Pada akhir-akhir ini pun telah terjadi tiga bencana alam besar yaitu banjir bandang di Wasior teluk Wondama Papua Barat.
    Dalam perspektif lingkungan hidup, bencana Wasior masuk dalam kategori bencana ekologis. Pemicunya adalah kerusakan dan perubahan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir diwilayah itu.Wasior yang merupakan ibukota Kabupaten Teluk Wondama dibangun di dataran rendah yang sebagian merupakan rawa dan kebun sagu yang telah dialihfungsi. Sementara dibagian hulu, terdapat kegiatan eksploitasi hutan baik oleh pemegang Hak Penguasaan Hutan (HPH) maupun kegiatan illegal logging. Belum lagi, kegiatan pertambangan menambah rentan terjadinya bencana ekologis di Kabupaten Teluk Wondama. Sesuai laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban tewas akibat banjir bandang di Wasior yang terjadi pada Senin (4/10) telah mencapai 56 orang. Tidak itu saja, bencana dahsyat itu juga mengakibatkan 60 orang terluka dan tujuh orang dinyatakan hilang.
    Gempa bumi dan tsunami di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat .Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merekapitulasi jumlah korban bencana tsunami di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat hingga Selasa (09/11/10) korban mencapai 448 orang meninggal dunia, Korban hilang tercatat 56 orang, korban luka berat mencapai 173 orang, luka ringan 325 orang dan pengungsi mencapai 15.353 orang.
    Keetiga adalah bencana alam gunung merapi. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman jumlah korban bencana erupsi Gunung Merapi kembali bertambah. Sampai dengan tanggal 2 Desember 2010 jumlah korban meninggal mencapai 277 orang. Bertambahnya data korban meninggal ini diantaranya merupakan hasil evakuasi di lokasi bencana erupsi Merapi dan juga dari barak pengungsian yaitu adanya warga pengungsi yang meninggal dunia baik itu meninggal karena sakit maupun meninggal karena usia lanjut.
    Dari data-data bencana alam di atas tentunya kita harus sadar dan dan harus bersahabat dengan alam, contohnya agar tidak terjadi banjir tentunya kita tidak boleh melakukan penebangan hutan secara ilegal. Sebagai mahasiaw kita juga harus berperan serta dalam mengatasi masalah bencana ini.
    Menurut Mohtar Mas’oud, mahasiswa merupakan makhluk istimewa. Mereka ada pada lapisan umur yang memungkinkan menjadi energenik dan cocok untuk menjadi pelopor perbaikan keadaan. Secara definitif, mahasiswa berasal dari dua suku kata yaitu kata maha dan siswa. Kata maha mempunyai arti paling tinggi, sedangkan kata siswa memiliki makna seorang yang terpelajar baik secara individu maupun kelompok. Jadi, mahasiswa adalah seorang yang terpelajar yang mempunyai kedudukan tertinggi diantara pelajar-pelajar lainnya dalam tingkatan akademik seperti SD, SMP, dan SMA. Dengan adanya predikat yang istimewa di mata masyarakat umum, diharapkan nantinya mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik dan mampu mengisi lapisan pemimpin.
    Keterlibatan mahasiswa juga penting terutama untuk menggalang rasa solidaritas di antara mahasiswa dan masyarakat. Kegiatan mahasiswa dalam penanggulangan risiko bencana juga memberikan warna tersendiri dalam peningkatan proses pembangunan yang ada. Di beberapa kasus bencana alam, relawanlah yang mempunyai peran besar saat masa tanggap darurat dilakukan
    Dengan bekal akademik yang telah dimiliki selama menempuh perkuliahan di kampus seharusnya sebagai mahasiwa harus lebih bisa memberikan solusi terhadap bencana alam, baik dari pencegahan maupun solosi penanganan setelah terjadinya bencana. Para mahasiswa membantu pengalangan dana untuk korban bencana alam. Rela berpanas-panasan di jalan untuk mengumpulkan dana bagi korban. Mendirikan posko-posko untuk penyaluran baju-baju ataupun kebutuhan yang mungkin diperlukan bagi para korban. Menjadi relawan di tempat pengungsian, baik dari urusan membantu penanganan masalah kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikologi.
    Gangguan psikologis yang dialami masyarakat merupakan hal wajar karena adanya perubahan mendadak atas sebuah kondisi, terutama masyarakat yang mengalami langsung kejadian bencana besar, seperti letusan Gunung Merapi. Sejumlah gangguan psikologis yang dialami masyarakat tersebut di antaranya adalah insomnia atau gangguan tidur, post traumatic stress disorder, cemas, depresi, skizofrenia, psikosis, dan gangguan jiwa tidak spesifik lainya. Pendampingan psikologi sanggat diperlukan baik bagi korban bencana alam yang sudah lanjut usia maupun korban yang masih anak-anak. Penaganan pada korban anak-anak sangat diperlukan karena pada masa anak-anak mudah sekali mendapat goncangan jiwa dan apabila tidak dilakukan pendampingan psakologi kemungkidan akan berdampak buruk bagi kehidupanya mendatang. Para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin. Mahasiswa dapat ikut membantu merekonstruksi rumah bagi korban yang rumanya hancur maupun rusak. Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Bukti nyata pemanfaatan teknologi (Social Networking)
    Menjadi relawan mempunyai dampak positif bagi mahasiswa. Selain mahasiswa mempunyai pengalaman tanggap darurat, juga dapat menumbuhkan rasa solidaritas terhadap korban bencana alam. Hal itu dapat menumbuhkan motivasi untuk bekerja untuk kemanusiaan, dan mendorong mereka untuk memikirkan, merencanakan, serta bertindak, dalam rangka mengurangi risiko bencana.

    http://besteasyseo.blogspot.com

    http://www.jatam.org

    http://media.kompasiana.com

    http://www.slemankab.go.id

    Nama : Yudi prasetya
    Nim : 08/273823/DPA/3101
    Prodi : DIII Rekam Medis

    Posted by Yudi Prasetya | 5 December 2010, 5:05 am
  13. Indonesia memang sedang dirundung duka. Bencana datang bertubi-tubi seolah enggan pergi dari negeri tercinta ini. Bencana demi bencana datang di hampir seluruh wilayah Indonesia. Namun, dengan bencana ini kita dapat memahami banyak hal, antara lain meningkatkan rasa solidaritas yang sudah hampir luntur, meningkatkan kedekatan kita dengan yang di atas dan meningkatkan usaha kita untuk lebih mencintai alam. Bencana, dimanapun, kapanpun, sebesar apapun, sesungguhnya merupakan program stimulan Allah SWT untuk direspon dan dikelola manusia. Sudah pasti ada hubungan kausalitas antara sebab dan akibat ini. Artinya tak mungkin terjadi sesuatu tanpa ada penyebabnya. Sesuatu yang buruk penyebabnya adalah keburukan. Begitu pula sebaliknya, kebaikan itu adalah buah dari kebaikan. Jadi tak mungkin ada bencana tanpa ada penyebabnya. Jika bencana itu kita rasakan sebagai kepahitan, kegelapan, siksaan dan kepedihan maka hal itu buah dari yang semakna dengan itu (Mr. Ahyudin, executive director ACT (Aksi Cepat Tanggap) Foundation, Jakarta).
    Hal ini tentu saja menggugah hati nurani kita sebagai manusia. Saat satu bagian tubuh lain terluka maka tubuh bagian lain pun akan merasakan sakitnya. Demikian rasa itulah yang timbul saat melihat saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana. Sebut saja beberapa bencana yang terjadi akhir-akhir ini, mulai dari angin kencang, tanah longsor, angin puting beliung, banjir bandang di Wasior, gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai dan yang baru saja terjadi adalah gunung Merapi menunjukkkan “kebolehannya”. Semua bencana ini tentu saja menelan banyak korban, mulai dari korban luka-luka dan korban meninggal, belum lagi hilangnya harta benda dan sanak saudara yang dicintai.
    Terlepas dari “marahnya” alam kepada kita yang telah mengotorinya dengan hal buruk, yang dapat kita lakukan sekarang hanya lah membantu meringankan beban saudara-saudara kita. Lupakan sejenak perbuatan di masa lalu, ras, asal-usul serta hubungan darah dan fokuslah pada bantuan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka. Membantu tidak harus diwujudkan dengan gerakan-gerakan heroik seperti melakukan evakuasi. Namun, bantuan dapat diwujudkan dengan memperhatikan korban yang selamat untuk membantu kelangsungan hidupnya, meringankan beban psikologisnya dan menghibur korban dari rasa takut yang dihadapinya.
    Sebagai mahasiswa, kita sudah bukan merupakan anak kecil lagi yang bebas bermanja-manja dengan orang tua. Sudah saatnya kita bersikap dewasa dan memilki rasa empati terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang kesusahan. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mereka, bahkan ini adalah saat yang tepat untuk mengabdikan ilmu yang telah kita dapatkan di bangku perkuliahan kepada masyarakat dan menyumbangkan tenaga kita yang masih mampu untuk bekerja keras.
    Sejauh ini kalangan mahasiswa pada umumnya lambat merespon jika dibanding menanggapi isu-isu lain, seperti isu skandal politik, hura-hura pejabat negara, mafia hukum dan semacamnya yang langsung ditanggapi secara serius oleh mahasiswa. Sementara untuk isu bencana alam seakan-akan bukan isu yang penting untuk ditanggapi. Mahasiswa jangan sampai mewakili sikap pemerintah yang biasanya lamban menanggulangi korban bencana alam. Seperti yang terjadi pada saat bencana banjir di Wasior, pemerintah baru menetapkan status siaga bencana dua hari pasca kejadian. Padahal di saat bersamaan, institusi lain seperti TNI, PMI, serta LSM-LSM yang siaga di bidang bencana sudah turun ke lapangan sesaat setelah kejadian. Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Mahasiswa adalah tumpuan bangsa untuk masa depan dan juga sebagai calon pemimpin, tidak sepantasnya jika mahasiswa masih berpikil dangkal dan egois. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana-bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam.
    Namun, bukti menunjukkan bahwa banyak media yang mencatat kegigihan mahasiswa untuk berusaha menolong sesama. Seperti yang dicatat dalam Antara News dan Tempo tentang penggalangan dana yang dilakukan mahasiswa, seperti : mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB), mahasiswa asal Papua yang berdomisili di Yogya, Mahasiswa UKSW peduli Wasior, mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) dan Universitas Pakuan (Unpak), aksi penggalangan dana dilakukan di berbagai tempat seperti di lampu merah, lingkungan kampus dan tempat-tempat makan. Selain itu, kita tidak bisa melupakan begitu saja bagaimana getolnya mahasiswa- mahasiswa kita yang turut aktif mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun silam. Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Peran mahasiswa guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia mahasiswa dan dunia kampus di atas hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh mahasiswa adalah penanganan prabencana. Antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang bencana bisa terjadi kapan pun dan di mana pun, namun sudah ada berbagai macam ilmu yang dipelajari mahasiswa dan mahasiswa memang berkewajiban untuk mensosialisasikan hal itu pada masyarakat awam.
    Selain itu, tercatat beberapa usaha cukup unik yang dilakukan para mahasiswa, seperti yang tercatat dalam harian Kompas bahwa mahasiswa Teknik Informatika ITS Surabaya membuat game edukasi untuk mengajak masyarakat peduli kepada korban bencana alam Merapi. Menurut Imam Kuswardayan S.Kom M T, dosen pembimbing ITS, di Surabaya, game yang berbentuk visual novel itu menggambarkan suasana bencana letusan Gunung Merapi yang menelan ratusan orang dan puluhan ribu orang mengungsi. Game itu diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap musibah yang menimpa penduduk di sekitar Merapi. Selain itu, ada pula situs-situs dalam jejaring sosial yang sengaja dibuat oleh mahasiswa untuk mengupdate berita tentang kondisi Merapi, update berita ini sangat berguna bagi sanak keluarga yang di luar Jogja.
    Sebagai mahasiswa yang berdomisili di Jogja, sedikit banyak saya mengetahui keadaan yang terjadi ketika bencana Gunung Merapi meletus. Meskipun banyak mahasiswa yang pulang kampung karena kebetulan UGM diliburkan tapi ada pula yang tetap tinggal membantu saudara-saudara kita. Seperti yang tercatat dalam Antara News bahwa teman-teman dari Fakultas Psikologi UGM membantu pemulihan psikologi pengungsi dan anak-anak dengan kegiatan yang bermacam-macam, ada beberapa teman saya yang membantu kegiatan pencatatan di RSUD Muntilan, mendistribusikan bantuan yang diberikan donator dan tetap stay di titik pengungsian untuk hanya sekedar menyumbang tenaga untuk menjaga kesehatan fisik dan psikis pengungsi. Sehingga, tampak jelas bahwa banyak yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa, bantuan tidak harus berupa uang dan barang tapi tenaga, senyuman, doa dan ketulusan pun dapat meringankan saudara-saudara kita. (Marsha Vibriana S – 08/271593/DPA/3025 – D3 Rekam Medis)

    Posted by marsha vibriana sartianingrum | 5 December 2010, 3:04 am
  14. Peran Mahasiswa Dalam Menghadapi Bencana

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Dalam perjalanan bangsa kita selama 102 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 82 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 65 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 12 tahun terakhir sejak reformasi, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Saking banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan.
    Indonesia kini sedang berduka atas segala bencana alam yang ada. Mulai dari bencana banjir bandang di Wasior, bencana tsunami di Mentawai, dan meletusnya gunung merapi di Yogyakarta. Karena bencana-bencana alam tersebut, tidak sedikit nyawa melayang dan harta bendapun lenyap karena peristiwa tersebut. Dari segala bencana alam yang terjadi di Indonesia semata-mata karena ulah kelalaian manusia itu sendiri, bisa juga mungkin teguran dari Tuhan untuk manusia agar tetap selalu beribadah dan selalu mentaati perintah-Nya.
    Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana. Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa yang mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa harus lebih tanggap bencana dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Tanpa ketanggapan dan ketangguhan mahasiswa tidak akan bisa menjadi relawan, dermawan dan pendamping masyarakat.
    Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Bukti nyata pemanfaatan teknologi (Social Networking), kita dapat melihat kasus yang dialami oleh Prita Mulyasari yang berseteru dengan RS Omni Internasional terkait tentang curahan hatinya terhadap pelayanan yang diberikan yang dianggap sebagai pencemaran nama baik (korban kedhzaliman Sistem), dan luar biasa sekali dukungan dari masyarakat baik berupa moril maupun dana, yang dicurahkan melalui jejaring sosial. Ini merupakan masalah personal yang dialami seorang Prita Mulyasari, apalagi untuk korban bencana alam yang menyangkut banyak korban jiwa, tidak mustahil mendapatkan hasil yang besar untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana.
    Mahasiswapun dapat menggalang dana dan dari berbagai kegiatan-kegiatan yang merupakan bentuk solidaritas atas penderitaan yang dialami masyarakat Indonesia lainnya yang sedang ditimpa musibah. Misalnya saja mahasiswa seni mengadakan pameran seni yang dapat menarik perhatian orang lain, atau mengadakan konser amal bencana. Dana yang berhasil dikumpulkan selama kegiatan berlangsung disalurkan kepada para korban yang berhak menerima bantuan tersebut. Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani
    bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi
    aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan.
    Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘Sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan. Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Demikian halnya dengan kita. Bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah.
    Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Peranan kita sebagai mahasiswa adalah segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Satu hal yang saya pelajari adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat diukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!” . Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara-saudara kita selamat.
    Referensi :
    1. http://taufiqkemot93.blogspot.com/2010/11/pemuda-peduli-bencana-alam-di-indonesia.html
    2. http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/14/mahasiswa-harus-lebih-tenggap-bencana/
    3. http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/
    4. http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

    Nama : Novirianti
    NIM : 08/274135/DPA/3158
    Prodi : D3 Rekam Medis

    Posted by NOVIRIANTI | 5 December 2010, 1:34 am
  15. PERAN MAHASISWA DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

    Indonesia relatif rentan terhadap bencana, baik bencana geologi (gempa, gunung meletus, dan semburan lumpur), oseonologis (banjir pasang), meteorologis (banjir, kekeringan, puting beliung), maupun gabungannya (tsunami, tanah longsor, dan gelombang tinggi). Akhir-akhir ini bencana-bencana alam melanda negeri Indonesia, seperti banjir bandang di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai, Gunung Merapi meletus, dan masih banyak lagi bencana lainnya. Bencana ini Melihat hal itu tentunya kita sebagai mahasiswa tidak boleh tinggal diam.
    Secara garis besar, penanggulangan bencana terbagi menjadi beberapa hal, yakni :
    a. Pencegahan dan mitigasi
    Kegiatan yang bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh bencana.
    b. Kesiapsiagaan
    dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda dan berubahnya tata kehidupan masyarakat. Upaya kesiapsiagaan dilakukan pada saat bencana mulai teridentifikasi akan terjadi.
    c. Tanggap darurat
    Merupakan tahapan penindakan atau pengerahan pertolongan untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana, guna menghindari bertambahnya korban jiwa.
    d. Pemulihan
    Meliputi tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Upaya yang dilakukan pada tahap rehabilitasi adalah untuk mengembalikan kondisi daerah yang terkena bencana yang serba tidak menentu ke kondisi normal yang lebih baik, agar kehidupan dan penghidupan masyarakat dapat berjalan kembali. Sedangkan tahap Rekonstruksi merupakan tahap untuk membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana secara lebih baik dan sempurna. Oleh sebab itu pembangunannya dilakukan melalui suatu perencanaan yang didahului oleh pengkajian dari bebagai ahli dan sektor terkait.
    Ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam menanggapi bencana yang terjadi. Dalam hal pencegahan dan mitigasi bencana, para mahasiswa dapat menyesuaikan atau mempraktekkan disiplin ilmu yang dipelajarinya untuk menyusun langkah-langkah dalam pencegahan bencana dan pengurangan resiko akibat bencana. Misalnya mahasiswa geografi yang mempunyai pengetahuan tentang geomorfologi membuat pemetaan daerah rawan bencana, mahasiswa arsitektur merancang bangunan yang tahan terhadap bencana yang sering terjadi terjadi di tempat itu, dan lain-lain.
    Setelah itu saat bencana diprediksi akan terjadi, mahasiswa juga dapat mengadakan penyuluhan atau simulasi tanggap darurat kepada masyarakat yang sudah dipetakan rawan terkena bencana tersebut. Dalam kegiatan tersebut mahasiswa membimbing dan memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang resiko-resiko yang dapat terjadi saat bencana tersebut benar-benar terjadi dan langkah-langkah untuk mengahadapi bencana dalam masa tanggap darurat maupun dalam masa rehabilitasi.
    Dalam kondisi darurat, seperti yang terjadi saat Gunung Merapi meletus, banyak warga lereng Merapi yang mengungsi di beberapa titik. Bahkan ada beberapa universitas yang gedungnya dipakai untuk posko pengungsian, seperti UII,UGM,UNY,USD, dan UIN. Para mahasiswa yang tidak mengungsi ataupun “lari” pulang kampung bergabung dan membantu di posko yang telah ada, baik itu posko logistik, posko kesehatan, maupun posko pengungsian. Dengan ilmu yang dimiliki oleh tiap-tiap mahasiswa, mereka biasanya diperbantukan sesuai dengan ilmu yang mereka punyai. Misalnya mahasiswa kedokteran,keperawatan,rekam medis, dan mahasiswa yang berhubungan dengan kesehatan biasanya diperbantukan di rumah sakit-rumah sakit ataupun posko kesehatan. Ada juga mahasiswa yang sudah mendapat pelatihan tentang rescue bergabung dengan Tim SAR dan membantu dalam proses evakuasi. Banyak juga himpunan-himpunan mahasiswa yang melakukan penggalangan dana untuk membantu para korban.
    Sebenarnya hampir semua mahasiswa ingin membantu secara langsung sebagai relawan lapangan, namun terkadang mereka terkendala ijin dari orang tua. Ada orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya untuk menjadi relawan karena mereka menganggap bahwa menjadi relawan di daerah bencana cukup berbahaya. Tak jarang para orang tua menyuruh anaknya segera meninggalkan Yogyakarta karena terlalu khawatir dengan situasi di Yogyakarta.
    Hal ini sebenarnya tidak menjadi soal karena untuk membantu tidak harus menjadi relawan yang terjun langsung di lapangan. Dengan teknologi yang sudah berkembang pesat, kita dapat menjadi relawan walaupun hanya duduk manis di rumah. Kita dapat menjadi agen komunikasi yang dapat menghubungkan berbagai posko ataupun membantu merepost kondisi-kondisi yang terjadi dilapangan sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi nyata di lapangan secara cepat dan akurat. Bermodalkan hand phone dan koneksi internet, kita dapat menjadi agen komunikasi. Sebelum menjadi agen komunikasi tentunya kita harus mempunyai sumber informasi yang benar-benar dapat dipercaya. Sebagai contoh untuk mekanisme kerja dari agen komunikasi, yaitu kita menjalin relasi dengan tim relawan yang ada dilapangan dan diusahakan kita berhubungan langsung dengan penanggung jawab tim atau dengan orang yang dapat memberikan informasi secara lengkap dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Setelah itu kita selalu mencari info tentang kondisi yang ada dilapangan, misalnya update tentang kebutuhan logistik, kebutuhan relawan, dan lain-lain. Info yang telah kita dapatkan kita sebarkan ke masyarakat luas dengan memanfaatkan berbagai situs jejaring sosial yang ada (facebook,twitter,plurk,dll) atau situs-situs lain yang fokus terhadap bencana.
    Setelah masa tanggap darurat berakhir, masih ada lagi tahap yang harus dilakukan dalam menanggapi bencana yakni tahap rehabilitasi. Dalam tahap ini, para mahasiswa dapat berperan dalam membantu masyarakat agar dapat memulihkan kehidupannya setelah bencana. Misalnya, mahasiswa dapat melakukan pendampingan untuk menghilangkan trauma akibat bencana, membantu dalam pembangunan ekonomi, membantu dalam pembangunan fisik sarana dan prasarana umum, dan lain-lain.
    Intinya setiap mahasiswa dapat berperan dalam porsinya masing-masing. Dan semua bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari sehingga saat mereka membantu sesamanya yang sedang tertimpa bencana, mereka tidak hanya dapat membantu tetapi sekaligus dapat belajar mengaplikasikan ilmunya ke dalam lingkungan masyarakat.

    Referensi :

    http://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/konsep-relawan/

    http://fkpb-kupang.blogspot.com/

    http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/cef/article/viewFile/17516/17433

    http://jogjainfo.net/ugm-terjunkan-500-mahasiswa-kkn-ke-daerah-bencana-merapi.html

    http://hamkamodern.blogspot.com/2010/11/suara-mahasiswa-tanggap-bencana-dan.html

    UU no.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

    http://cybergisforum.blogspot.com/

    http://geo.ugm.ac.id/archives/352

    LINTANG PERTIWI
    08/271541/DPA/2987

    Posted by lintang pertiwi | 4 December 2010, 11:50 pm
  16. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA

    Menjelang berakhirnya tahun 2010, Indonesia dirundung bencana. Mulai dari banjir bandang yang menerjang Wasior di Papua, sunami di Kepulauan Mentawai, dan saat ini Gunung Merapi masih membara di Yogyakarta.
    Fakta ini mengingatkan masyarakat bahwa gugusan kepulauan nusantara memang rawan akan bencana. Letak Indonesia yang strategis sekaligus berbahaya ini, sudah seharusnya melahirkan penduduk yang mampu meminimalisasi dan mengantisipasi dampak suatu bencana alam.
    Namun, di tengah perkembangan teknologi seperti saat ini pun, korban yang jatuh tak pernah dapat dihindari. Bukan hanya beberapa, terkadang korban mencapai puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan. Tiap kali bencana datang, maka penduduk panik dan melakukan tindakan sporadis yang sesungguhnya tidak efisien. Seakan-akan masyarakat kita tidak pernah siap dengan fakta bahwa Indonesia merupakan daerah rawan bahaya. Lantas, kemanakah pengalaman mitigasi bencana para pendahulu kita pergi?
    Selalu tidak siapnya masyarakat dalam menanggulangi dampak bencana tak lepas dari kecenderungan manusia saat ini yang jauh dari alam. Bencana alam, seperti apa yang akhir-akhir ini dialami, bukan merupakan hal baru. Sejak ratusan tahun lalu nenek moyang bangsa Indonesia telah mengalami, dan belajar untuk menanggulanginya. Ilmu ini kemudian diwariskan dalam bentuk kearifan lokal kepada generasi berikutnya.
    Seperti contoh kearifan lokal Semong yang ada di Pulau Simeulue. Tradisi ini mengajarkan kepada masyarakat setempat untuk segera lari ke bukit atau tempat yang lebih tinggi ketika air di pantai surut tiba-tiba. Selain itu, ada pula tradisi di masyarakat Jawa, khususnya daerah gunung berapi, yang mempercayai jika kera-kera telah turun gunung atau hewan-hewan bertingkah-laku di luar kebiasaan, maka akan terjadi erupsi atau letusan gunung berapi.
    Melihat semua ini, perlu ada langkah sistematis yang memadukan antara tradisi kearifan lokal dengan teknologi modern. Sebab, alat teknologi modern saat ini hanya mampu untuk mendeteksi bencana setelah terjadi. Sedangkan kearifan lokal setempat mengajarkan masyarakatnya untuk membaca tanda-tanda alam.
    Jalan yang paling efektif adalah dengan membina generasi muda melalui ranah pendidikan. Perlu ada pengenalan kembali generasi muda terhadap kearifan lokal yang dimiliki daerahnya. Pertanda-pertanda dan tindakan yang sesuai perlu diperkenalkan agar para pelajar ini bisa menjadi pemandu bagi masyarakat ketika bencana terjadi. Sehingga demikian, masyarakat dapat segera mengantisipasi dampak bencana tanpa perlu panik dan menunggu hingga semuanya terlambat.
    Selain itu, pengenalan terhadap kearifan lokal ini pun akan turut mengajak generasi muda untuk mencintai alam. Akan timbul kesadaran dalam benak mereka bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari alam. Ketika alam itu dirusak, maka para penanda akan hilang, dan bencana itu tak akan terelakan lagi.
    Oleh karena itu, berawal dari generasi muda, diharapkan dampak buruk dari bencana alam mampu diminimalisasi. Dengan kemampuan untuk mengenali pertanda alam, dan kesadaran untuk tidak mau merusak alam. Semoga semua bencana ini lekas berakhir, dan bangsa Indonesia dapat kembali berbenah diri.
    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Dalam perjalanan bangsa kita selama 102 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 82 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 65 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 12 tahun terakhir sejak reformasi, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Lebih-lebih selama 6 tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.
    Peristiwa Meletusnya Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10) menarik perhatian dari berbagai pihak, termasuk televisi. Tak mengherankan jika stasiun televisi kemudian beramai-ramai menyiarkan program breaking news untuk memantau kondisi terkini yang datang dari atas Merapi. Beberapa stasiun televisi menampilkan hiruk-pikuk yang terjadi di rumah sakit ketika dokter sedang mengobati para korban erupsi Merapi.
    Seperti yang sudah ditegaskan dalam pasal 59 Pedoman Perilaku dan Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS), ada empat hal yang harus diperhatikan media (terutama televisi) ketika menyiarkan bencana alam. Pertama, peliputan harus dilakukan dengan mempertimbangkan proses pemulihan korban dan keluarganya. Artinya, dampak traumatik yang mungkin muncul sebagai akibat pemberitaan yang dilakukan harus diminimalisir oleh media.
    Kedua, media dilarang menambah penderitaan korban bencana yang sedang dalam kondisi darurat dengan memaksa untuk diwawancarai dan diambil gambarnya. Ketiga, gambar korban hanya boleh diperlihatkan dalam konteks yang mendukung tayangan.
    Ahmad Arif dalam buku Jurnalisme Bencana Bencana Jurnalisme (2010) juga menegaskan bagaimana media tidak boleh mewawancarai narasumber yang tidak mau diwawancarai. Hal ini diakibatkan setiap orang yang berada di lokasi bencana berada dalam kondisi yang lelah, marah, frustasi, dan trauma. Penayangan yang berlebihan bahkan bisa memberikan perasaan jenuh kepada masyarakat di luar lokasi bencana. Alih-alih bersimpati kepada korban, yang terjadi justru muncul sikap acuh tak acuh dari masyarakat terhadap bencana. Tentu media harus berhati-hati sebab dalam sebuah bencana, upaya untuk menampilkan kisah duka korban begitu menggoda. Artinya, tayangan maupun ulasan mengenai harapan dan optimisme menghadapi bencana perlu lebih mendapat tempat.
    Dalam konteks jurnalisme bencana, serpihan-serpihan fakta yang didapat tidak seharusnya langsung disajikan mentah-mentah kepada penonton. Sebab meski yang ditampilkan adalah fakta, namun tidak semua fakta dapat dijadikan sebagai berita. Ada pertimbangan-pertimbangan moral yang digunakan untuk mengukur sejauh apa fakta yang ada bisa ditampilkan kepada khalayak luas.

    Referensi:

    http://kampus.okeza.com/read/2010/11/08/367391168/367/back-to-nature-antisipasi-dini-damak-bencana

    http://anakjogja7.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengeliminasi-dan.html

    http:www.baliurangprees.com/2010/11/bencana-alam-jurnalisme

    Nama : Arif budiman
    Nim : 08/273813/DPA/3099
    Prodi : DIII Rekam Medis (A)

    Posted by Arif Budiman | 4 December 2010, 11:45 pm
  17. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA

    Menjelang berakhirnya tahun 2010, Indonesia dirundung bencana. Mulai dari banjir bandang yang menerjang Wasior di Papua, sunami di Kepulauan Mentawai, dan saat ini Gunung Merapi masih membara di Yogyakarta.
    Fakta ini mengingatkan masyarakat bahwa gugusan kepulauan nusantara memang rawan akan bencana. Letak Indonesia yang strategis sekaligus berbahaya ini, sudah seharusnya melahirkan penduduk yang mampu meminimalisasi dan mengantisipasi dampak suatu bencana alam.
    Namun, di tengah perkembangan teknologi seperti saat ini pun, korban yang jatuh tak pernah dapat dihindari. Bukan hanya beberapa, terkadang korban mencapai puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan. Tiap kali bencana datang, maka penduduk panik dan melakukan tindakan sporadis yang sesungguhnya tidak efisien. Seakan-akan masyarakat kita tidak pernah siap dengan fakta bahwa Indonesia merupakan daerah rawan bahaya. Lantas, kemanakah pengalaman mitigasi bencana para pendahulu kita pergi?
    Selalu tidak siapnya masyarakat dalam menanggulangi dampak bencana tak lepas dari kecenderungan manusia saat ini yang jauh dari alam. Bencana alam, seperti apa yang akhir-akhir ini dialami, bukan merupakan hal baru. Sejak ratusan tahun lalu nenek moyang bangsa Indonesia telah mengalami, dan belajar untuk menanggulanginya. Ilmu ini kemudian diwariskan dalam bentuk kearifan lokal kepada generasi berikutnya.
    Seperti contoh kearifan lokal Semong yang ada di Pulau Simeulue. Tradisi ini mengajarkan kepada masyarakat setempat untuk segera lari ke bukit atau tempat yang lebih tinggi ketika air di pantai surut tiba-tiba. Selain itu, ada pula tradisi di masyarakat Jawa, khususnya daerah gunung berapi, yang mempercayai jika kera-kera telah turun gunung atau hewan-hewan bertingkah-laku di luar kebiasaan, maka akan terjadi erupsi atau letusan gunung berapi.
    Melihat semua ini, perlu ada langkah sistematis yang memadukan antara tradisi kearifan lokal dengan teknologi modern. Sebab, alat teknologi modern saat ini hanya mampu untuk mendeteksi bencana setelah terjadi. Sedangkan kearifan lokal setempat mengajarkan masyarakatnya untuk membaca tanda-tanda alam.
    Jalan yang paling efektif adalah dengan membina generasi muda melalui ranah pendidikan. Perlu ada pengenalan kembali generasi muda terhadap kearifan lokal yang dimiliki daerahnya. Pertanda-pertanda dan tindakan yang sesuai perlu diperkenalkan agar para pelajar ini bisa menjadi pemandu bagi masyarakat ketika bencana terjadi. Sehingga demikian, masyarakat dapat segera mengantisipasi dampak bencana tanpa perlu panik dan menunggu hingga semuanya terlambat.
    Selain itu, pengenalan terhadap kearifan lokal ini pun akan turut mengajak generasi muda untuk mencintai alam. Akan timbul kesadaran dalam benak mereka bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari alam. Ketika alam itu dirusak, maka para penanda akan hilang, dan bencana itu tak akan terelakan lagi.
    Oleh karena itu, berawal dari generasi muda, diharapkan dampak buruk dari bencana alam mampu diminimalisasi. Dengan kemampuan untuk mengenali pertanda alam, dan kesadaran untuk tidak mau merusak alam. Semoga semua bencana ini lekas berakhir, dan bangsa Indonesia dapat kembali berbenah diri.
    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Dalam perjalanan bangsa kita selama 102 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 82 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 65 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 12 tahun terakhir sejak reformasi, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Lebih-lebih selama 6 tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.
    Peristiwa Meletusnya Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10) menarik perhatian dari berbagai pihak, termasuk televisi. Tak mengherankan jika stasiun televisi kemudian beramai-ramai menyiarkan program breaking news untuk memantau kondisi terkini yang datang dari atas Merapi. Beberapa stasiun televisi menampilkan hiruk-pikuk yang terjadi di rumah sakit ketika dokter sedang mengobati para korban erupsi Merapi.
    Seperti yang sudah ditegaskan dalam pasal 59 Pedoman Perilaku dan Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS), ada empat hal yang harus diperhatikan media (terutama televisi) ketika menyiarkan bencana alam. Pertama, peliputan harus dilakukan dengan mempertimbangkan proses pemulihan korban dan keluarganya. Artinya, dampak traumatik yang mungkin muncul sebagai akibat pemberitaan yang dilakukan harus diminimalisir oleh media.
    Kedua, media dilarang menambah penderitaan korban bencana yang sedang dalam kondisi darurat dengan memaksa untuk diwawancarai dan diambil gambarnya. Ketiga, gambar korban hanya boleh diperlihatkan dalam konteks yang mendukung tayangan.
    Ahmad Arif dalam buku Jurnalisme Bencana Bencana Jurnalisme (2010) juga menegaskan bagaimana media tidak boleh mewawancarai narasumber yang tidak mau diwawancarai. Hal ini diakibatkan setiap orang yang berada di lokasi bencana berada dalam kondisi yang lelah, marah, frustasi, dan trauma. Penayangan yang berlebihan bahkan bisa memberikan perasaan jenuh kepada masyarakat di luar lokasi bencana. Alih-alih bersimpati kepada korban, yang terjadi justru muncul sikap acuh tak acuh dari masyarakat terhadap bencana. Tentu media harus berhati-hati sebab dalam sebuah bencana, upaya untuk menampilkan kisah duka korban begitu menggoda. Artinya, tayangan maupun ulasan mengenai harapan dan optimisme menghadapi bencana perlu lebih mendapat tempat.
    Dalam konteks jurnalisme bencana, serpihan-serpihan fakta yang didapat tidak seharusnya langsung disajikan mentah-mentah kepada penonton. Sebab meski yang ditampilkan adalah fakta, namun tidak semua fakta dapat dijadikan sebagai berita. Ada pertimbangan-pertimbangan moral yang digunakan untuk mengukur sejauh apa fakta yang ada bisa ditampilkan kepada khalayak luas.

    Referensi:

    http://kampus.okeza.com/read/2010/11/08/367391168/367/back-to-nature-antisipasi-dini-damak-bencana

    http://anakjogja7.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengeliminasi-dan.html

    http:www.baliurangprees.com/2010/11/bencana-alam-jurnalisme

    Nama : Arif budiman
    Nim : 08/273813/DPA/3099
    Prodi : DIII Rekam Medis (A)

    Posted by Arif Budiman | 4 December 2010, 11:20 pm
  18. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI PERISTIWA BENCANA ALAM YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA

    Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh gejala alam. Sebenarnya ini merupakan gejala yang sangat alamiah dan biasa terjadi pada bumi. Namun, ketika gejala alam tersebut melanda manusia dan segala produk budidaya atau kepemilikan harta-benda, kita baru dapat menyebutnya sebagai bencana.
    Bencana alam berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
    1. Bencana alam geologis
    Bencana alam ini disebabkan oleh gaya-gaya yang berasal dari dalam bumi (gaya endogen). Yang termasuk dalam bencana alam geologis adalah gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami.
    2. Bencana alam klimatologis
    Bencana alam klimatologis merupakan bencana alam yang disebabkan oleh factor angin dan hujan. Contoh bencana alam klimatologis adalah banjir, badai, banjir bandang, angin puting beliung, kekeringan, dan kebakaran alami hutan (bukan oleh tangan manusia).
    Longsor termasuk juga bencana alam, walaupun pemicu utamanya adalah faktor klimatologis (hujan), tetapi gejala awalnya dimulai dari kondisi geologis (jenis dan karakteristik tanah serta bantuan dan sebagainya).
    3. Bencana alam ekstra-terestrial
    Bencana alam ekstra-teresterial adalah bencana alam yang terjadi di luar angkasa. Contohnya adalah hantaman atau impact meteor. Bila hantaman benda-benda langit mengenai permukaan bumi maka akan menimbulkan bencana alam yang dahsyat bagi penduduk bumi.
    Gejala alam yang dapat menimbulkan bencana alam pada dasarnya mempunyai karakteristik umum, yaitu gejala awal, gejala utama, dan gejala akhir. Dengan demikian jika kita dapat mengetahui secara akurat gejala awal suatu bencana alam kemungkinan besar kita dapat mengurangi akibat yang ditimbulkan.
    Antisipasi Bencana Alam :
    1. Letusan gunung berapi
    Letusan gunung berapi terjadi karena gejala vulkanisme, yaitu peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi.
    Sebelum gunung berapi meletus biasanya terdapat tanda-tanda sebagai berikut : suhu sekitar kawah naik, sumber air banyak yang mongering, sering terasa adanya gempa bumi (vulkanik), binatang yang ada di atas gunung banyak yang berpindah menuruni lereng karena terasa panas, dan sering terdengar gemuruh dari dalam gunung.
    Bila tanda-tanda gunung berapi akan meletus, ada beberapa antisipasi untuk mengurangi bahaya dari bencana tersebut, yaitu : membuat terowongan-terowongan air pada kepundan atau kawah yang berdanau, menyebarkan informasi dan member peringatan dini dari hasil pemantauan pos-pos pengamatan gunung berapi, dan mengungsikan penduduk yang bertempat tinggal di lereng-lereng gunung berapi yang akan meletus.
    2. Gempa bumi
    Gempa bumi adalah gejala pelepasan energi berupa gelombang yang menjalankan ke permukaan bumi akibat adanya gangguan di kerak bumi (patah, rumtuh, atau hancur).
    Antisipasi yang harus dilakukan bagi masyarakat luas adalah sebelum terjadi gempa yaitu dengan mengetahui secara teliti jalan-jalan keluar masuk dalam keadaan darurat di mana pun kita berada, meletakkan barang-barang yang berat ditempat yang stabil dan tidak tergantung, matikan segera lampu dan kompor agar terhindar dari kebakaran. Saat terjadi gempa yaitu jika berada di dalam ruangan diamlah sejenak, jangan panik dan segeralah keluar dari bangunan. Secepatnya mencari perlindungan di bawah meja atau di dekat pintu. Jauhi tempat-tempat yang mungkin mengakibatkan luka seperti kaca, pipa gas, atau benda-benda tergantung yang mungkin akan jatuh.
    3. Tsunami
    Tsunami adalah ombak yang terjadi setelah peristiwa gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, atau hantaman meteor laut.
    Beberapa langkah dalam antisipasi dari bencana tsunami yaitu jika sedang berada di pinggir laut segera berlari ke tempat yang lebih tinggi. Jika situasi memungkinkan, pergilah ke tempat evakuasi yang sudah ditentukan. Jika situasi tidak memungkinkan untuk melakukan evakuasi, carilah bangunan bertingkat yang bertulang baja. Jika situasi memungkinkan, pakai jaket hujan dan pastikan tangan bebas dan tidak membawa apa-apa.
    4. Badai
    Badai adalah suatu gangguan pada atmosfer suatu planet terutama yang mempengaruhi permukaan serta menunjukkan cuaca buruk.
    Bencana alam badai dapat dipelajari dan diamati sehingga jika gejala awal dapat diamati dngan baik maka gejala utama dapat diantisipasi dengan demikian hal ini mampu mengurangi jumlah korban akibat bencana tersebut.
    5. Banjir
    Hujan lebat yang terjadi secara terus menerus mengakibatkan sungai tidak mampu lagi menampung air dalam jumlah yang banyak. Air sungai kemudian akan meluap dan membentuk genangan air yang disebut banjir.
    Untuk mengantisipasinya dengan cara membersihkan saluran air dari sampah yang dapat menyumbat aliran air sehingga menyebabkan banjir. Mengeruk sungai-sungai dari endapan untuk menambah daya tampung air. Membangun rute-rute drainase. Tidak mendirikan bangunan pada wilayah yang menjadi daerah lokasi penyerapan air. Tidak menebangi pohon-pohon di hutan. Membuat tembok-tembok penahan dan tanggul-tanggul di sepanjang sungai.
    6. Kekeringan
    Kekeringan dapat timbul karena gejala alam yang terjadi di bumi. Kekeringan terjadi karena adanya pergantian musim.
    Cara mengatasi kekeringan diantaranya dengan membuat waduk yang berfungsi sebagai persediaan air di musim kemarau. Membuat hujan buatan untuk daerah-daerah yang sangat kering. Reboisasi atau penghijauan kembali daerah-daerah yang sudah gundul.

    Mahasiswa dan kalangan akademisi sebagai bagian dari masyarakat harus memiliki pemahaman dalam menghadapi bencana tersebut. Pemahaman ini tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat berguna bagi masyarakat. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat diharapkan dapat membantu mensosialisasikan kebijakan bencana kepada masyarakat umum. Mahasiswa dapat berperan menjadi sumber daya relawan yang kelak dapat dibutuhkan sewaktu-waktu saat terjadi bencana. Mahasiswa dengan menjadi sumber daya relawan dapat membangkitkan rasa cinta tanah air dan memberikan pencerahan kepada masyarakat akan pentingnya kesadaran dalam menanggulangi bencana. Mahasiswa harus mempunyai pemikiran terkait untuk penanggulangan bencana yang baik dan dapat berperan aktif dalam upaya pengurangan resiko bencana. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Dengan demikian mahasiswa harus lebih tanggap bencana dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Tanpa ketanggapan dan ketangguhan mahasiswa tidak akan bisa menjadi relawan, dermawan, dan pendamping masyarakat.
    Mahasiswa juga diharapkan semakin tanggap serta kreatif dalam menghadapi bencana yang terjadi pada negeri ini. Segala potensi yang mahasiswa miliki bias dijadikan modal sebagai bentuk keledulian. Selain melakukan penggalangan dana, mahasiswa yang mempunyai hobi yang dapat disalurkan dan akan menghasilkan suatu karya misalnya mahasiswa yang mempunyai hobi menulis bias turut berkontribusi lewat tulisannya.
    Dapat disimpulkan dalam penangan bencana seharusnya tidak bersifat konvensional, dimana focus penanganan bencana lebih bersifat bantuan dan kedaruratan dari pada penguranagn faktor risiko.

    Daftar Pustaka :

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/14/mahasiswa-harus-lebih-tenggap-bencana/

    http://dmrosyid.wordpress.com/

    http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=7612

    http://www.balairungpress.com/2010/11/bencana-alam-bencana-jurnalisme/

    Nama : Mangenjali Madyanti Arka Putri
    NIM : 08/273850/DPA/3105
    Prodi : Rekam Medis A

    Posted by Mangenjali Madyanti Arka Putri | 4 December 2010, 11:09 pm
  19. TUGAS II KEWARGANEGARAAN

    Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia.

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Dalam perjalanan bangsa kita selama 102 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 82 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 65 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 12 tahun terakhir sejak reformasi, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Saking banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan.
    Lebih-lebih selama 6 tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.
    Namun, belum lagi usai pahit getirnya akibat bencana-bencana tersebut sekarang muncul lagi bencana baru berupa ancaman krisis perekonomian sebagai akibat terjadinya krisis keuangan dan Amerika Serikat. Tidak realistis untuk menganggap bahwa krisis keuangan di Amerika Serikat itu tidak akan berpengaruh ke dalam perekonomian bangsa kita di Indonesia. Tidaklah bertanggungjawab jika kita hanya berpangku tangan atau bersikap tidak perduli, meskipun kita juga tidak boleh menjadi panik sebagai akibat gejolak yang sedang terjadi di dunia.
    Di samping perkembangan yang bersifat eksternal tersebut di atas, kita pun perlu terus mencermati dinamika perkembangan politik, ekonomi, dan sosial budaya di daerah-daerah dan di tingkat nasional kita sendiri. Perkembangan kegiatan berpemerintahan dan bernegara setelah sepuluh tahun terus menerus bergerak cepat, memerlukan langkah-langkah konsolidasi yang tersistematisasikan. Berbagai fungsi yang bersifat tumpang tindih perlu ditata ulang. Berbagai kegiatan yang alfa dikerjakan, perlu ditangani dengan cara yang lebih baik.
    Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.
    Kaum muda saat ini banyak yang tidak peduli akan kemajuan bangsanya, bertindak semaunya.Hal ini tercemin dari moral para kaum muda. Banyak kaum muda yang terjerumus dalam maksiat, criminal, kebodohan, dll. Seharusnya kaum muda berperan aktif sesuai dengan porsinya dalam memajukan bangsa. Jika pelajar maka seharusnya menuntut ilmu untuk kemajuan bangsanya, bukan malah bermalas malasan, hura – hura menghabiskan uang. Kunci kemajuan sebuah Negara pada dasarnya adalah moral dari rakyat bangsa tersebut. Jadi yang perlu kita renungkan adalah bagaimana cara memperbaiki moral rakyat bangsa ini, terutama moral para pemuda yang sangat berperan penting bagi kemajuan bangsa ini.
    Wilayah Indonesia yang terhampar dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Hampir tiap hari kita mendengar ada bencana di berbagai daerah, baik yang ringan maupun yang berat seperti tsunami. Untuk menghadapi berbagai bencana seperti itu, perlu adanya pemahaman dari setiap unsur masyarakat. Apabila terjadi bencana, tidak saja menjadi tugas pemerintah pusat atau daerah saja, tetapi seluruh unsur masyarakat perlu ikut serta bahu-membahu menanggulanginya. Mahasiswa dan kalangan akademisi sebagai bagian dari masyarakat harus memiliki pemahaman dalam menghadapi bencana tersebut. Pemahaman ini tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat berguna bagi masyarakat di sekitarnya. Untuk memberikan pemahaman
    Beragam bencana alam berupa longsor, gempa, tsunami dan sebagainya terus melanda Negeri tercinta, Indonesia. Bencana terakhir, yang mengetuk hati kita adalah gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat dan aktivitas gunung merapi di D.I. Yogyakarta-Jawa Tengah.
    Masyarakat pun yang menjadi korban akibat bencana yang menimpa daerah tersebut. Karena bencana tidak pandang bulu atas korban yang akan dihantamnya. Selain itu, pemerintah sebagai yang paling bertanggungjawab dalam menjamin keselamatan rakyat juga lamban, bahkan terkesan lalai.
    Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana.
    Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat.
    Dengan demikian, mahasiswa harus lebih tanggap bencana dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Tanpa ketanggapan dan ketangguhan mahasiswa tidak akan bisa menjadi relawan, dermawan dan pendamping masyarakat.
    Oleh karena itu dapat disimpulkan, bencana-bencana di Indonesia sebenarnya adalah peristiwa alam yang pasti akan terjadi. Sehingga manajemen penanganan bencana kita pun seharusnya tidak bersifat ”konvensional”, dimana fokus penanganan bencana kita lebih bersifat bantuan dan kedaruratan ketimbang pengurangan faktor risiko. Mengutip Victor Rembeth dari Yayasan Tanggul Bencana di Indonesia,” seharusnya Indonesia tidak lagi melakukan manajemen bencana yang hanya bertugas pada masa kedaruratan, tetapi harus terintegrasi dalam sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah”. Oleh karena itu, Bencana Mentawai dan Merapi seharusnya menyadarkan kita untuk segera mengubah paradigma. Penanggulangan bencana bukan lagi sebuah tindakan reaktif dan terpisah dari inisiatif pembangunan.

    http://anakdjogja7.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/14/mahasiswa-harus-lebih-tenggap-bencana/

    http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=7612

    http://www.tumblr.com/tagged/perencanaan/page/2/1518203984

    http://khusnul.student.umm.ac.id/2010/01/30/mahasiswa/

    http://indonesianmuslim.com/tingkat-kesiapan-masyarakat-indonesia-dalam-menghadapi-bencana.html

    http://www.unpad.ac.id/archives/37459

    Nama: Andi Prihantoro
    Nim: 08/273760/DPA/3085
    Prodi: Rekmed A FMIPA Universitas Gadjah Mada

    Posted by Andi Prihantoro | 4 December 2010, 10:57 pm
  20. Peranan mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang sering terjadi di negara Indonesia.
    Pemuda dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa yang bertugas mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita di masa depan. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan supra struktur negara maupun di lingkup infra struktur masyarakat, terbuka luas untuk kaum muda Indonesia masa kini. Mahasiswa adalah bagian pemuda yang selalu ditunggu perannya dalam pembangunan. Mahasiswa adalah sekumpulan elemen unik yang ditempatkan dalam posisi ideal dalam masyarakat. Mahasiswa memiliki kompetensi teoritis dan praktis sehingga membawanya pada sebuah identitas intelektual yang memiliki pengaruh dalam setiap perubahan sosial di bangsa ini. Mahasiswa merupakan cikal bakal pemimpin bangsa. Perguruan tinggi memiliki peran yang sangat besar dalam hal ini. Mahasiswa belajar untuk menjadi pemimpin yang bisa diharapkan, baik melalui kegiatan formal, ekstrakurikuler kampus, ataupun organisasi ekstrakampus. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat). Idealnya, pendidikan yang tinggi juga mencerminkan tingginya tingkat intelektualitas mahasiswa. Mereka bisa memimpin, membangun, dan menjadi generasi yang diharapkan bangsa dan negaranya.
    Wilayah Indonesia yang terhampar dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Hampir tiap hari kita mendengar ada bencana di berbagai daerah, baik yang ringan maupun yang berat seperti tsunami. Untuk menghadapi berbagai bencana seperti itu, perlu adanya pemahaman dari setiap unsur masyarakat. Apabila terjadi bencana, tidak saja menjadi tugas pemerintah pusat atau daerah saja, tetapi seluruh unsur masyarakat perlu ikut serta bahu-membahu menanggulanginya. Beragam bencana alam berupa longsor, gempa, tsunami dan sebagainya terus melanda Negeri tercinta, Indonesia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia. Bencana terakhir, yang mengetuk hati kita adalah gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat dan aktivitas gunung merapi di D.I. Yogyakarta-Jawa Tengah. Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana.
    Ada Empat Langkah dalam Menghadapi Bencana Alam menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Yang pertama adalah kecepatan dalam merespon keadaan setelah bencana alam berlangsung. Karena setelah bencana terjadi, korban – korban bencana alam tersebut yang berada di dalam reruntuhan bangunan atau terseret arus hanya dapat bertahan selama beberapa waktu untuk diselamatkan. Ditambahkan, kecepatan yang diperlukan dalam upaya penyelamatan dapat berupa kecepatan dalam usaha menolong korban bencana, kecepatan dalam mengirimkan kebutuhan pokok berupa bahan pangan, pakaian serta obat – obatan. Dengan rencana dan upaya penyelamatan yang cepat dan terkoordinasi, banyak orang bisa terselamatkan dari kematian. SBY menggarisbawahi pentingnya koordinasi antara organisasi pemerintah maupun non pemerintah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang ingin berkontribusi dalam memberikan pertolongan bagi korban bencana alam. Apabila tidak ada koordinasi yang tepat, seluruh bantuan sumbangan akan berakhir tersimpan di gudang penyimpanan dan akan semakin membuat rumit krisis yang terjadi. Arus informasi yang akurat dan cepat mengenai keadaan setelah bencana, juga diperlukan dalam disaster management. Biasanya dalam keadaan krisis, banyak orang yang bingung mengenai apa yang setelah terjadi, berapa banyak jiwa yang telah hilang, kerusakan yang telah terjadi, daerah mana yang paling parah terkena bencana, apa saja yang telah dilakukan dan bagaimana cara membantu korban. Hal ini sering terjadi apabila terjadi bencana, dan hanya akan membuat bingung pihak yang ingin membantu. Apabila ada integrasi yang tepat antara strategi dan koordinasi, maka akan sangat membantu pada korban bencana alam. Yang terakhir adalah mengoptimalkan peran serta pemerintah lokal dalam upaya penyelamatan serta penanggulangan bencana. Karena pada dasarnya, hanya pemerintah lokal yang mengerti betul keadaan masyarakatnya. Mereka lah yang seharusnya berada dalam jajaran paling depan dalam upaya penyelamatan korban bencana.
    Peran mahasiswa dalam menghadapi bencana yang kerap terjadi di Indonesia yaitu, menjadi relawan, dermawan dan pendamping masyarakat. Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Disisi lain dari pihak kampus juga berinisiatif untuk melebarkan sayapnya untuk berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Kita merupakan harapan dari masyarakat, untuk memajukan kesejahteraan dan menciptakan keamanan serta ketertiban, maka dari itu kita harus membantu saudara kita yang membutuhkan pertolongan, kita harus cepat ikut merekonstruksi becana yang ada, walaupun berpanas-panasan untuk mencari dana bagi korban bencana alam. Selain itu mari kita dengan rendah hati ikut menjadi relawan yang selalu waspada dan siap siaga terhadap segala macam bencana. Mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.

    Nama : Surya Nugraha
    NIM : 08/274111/DPA/3155
    Prodi : D3 Rekam Medis

    Daftar Pustaka :
    http://anakdjogja7.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html
    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/14/mahasiswa-harus-lebih-tenggap-bencana/
    http://anakdjogja7.blogspot.com
    http://groups.google.com/group/bencana/
    http://www.presidenri.go.id/index.php/layanan/
    http://jendelahidayah.wordpress.com/2010/03/07/reformasi-peran-aktif-mahasiswa/

    Posted by SURYA NUGRAHA | 4 December 2010, 10:19 pm
  21. Nama : Dyah Putri Utami
    NIM : 08/271306/DPA/2905
    Matkul : Kewarganegaraan A (Tugas II)

    Peran Mahasiswa dalam Menghadapi Bencana Alam
    di Negara Indonesia

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
    Kita mendirikan negara Republik Indonesia untuk maksud melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan sebagai Negara Demokrasi konstitutional (constitutional democracy) berdasarkan Pancasila.
    Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak permasalahan, tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang dari masa depan kita. Dalam menghadapi beraneka persoalan tersebut, selalu ada kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan-ketakutan sebagai akibat kealfaan atau kesalahan yang kita lakukan atau sebagai akibat hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita, seperti karena terjadinya bencana alam atau karena terjadinya krisis keuangan di negara lain yang berpengaruh terhadap perekonomian kita di dalam negeri.
    Dalam perjalanan bangsa kita selama 100 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 80 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 63 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 10 tahun terakhir sejak reformasi, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. “Saking” banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan.
    Lebih-lebih selama 4 tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia. Tidaklah bertanggungjawab jika kita hanya berpangku tangan atau bersikap tidak perduli, meskipun kita juga tidak boleh menjadi panik sebagai akibat gejolak yang sedang terjadi di dunia.
    Di samping perkembangan yang bersifat eksternal tersebut di atas, kita pun perlu terus mencermati dinamika perkembangan politik, ekonomi, dan sosial budaya di daerah-daerah dan di tingkat nasional kita sendiri. Perkembangan kegiatan berpemerintahan dan bernegara setelah sepuluh tahun terus menerus bergerak cepat, memerlukan langkah-langkah konsolidasi yang tersistematisasikan. Berbagai fungsi yang bersifat tumpang tindih perlu ditata ulang. Berbagai kegiatan yang alfa dikerjakan, perlu ditangani dengan cara yang lebih baik.
    Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.
    Pemuda dan mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan “agent of change”. Kata-kata perubahan selalunya menempel dengan erat sekali sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada di negeri ini. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan membanggakan.
    Peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di negeri ini. Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa.
    Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa dan negara.
    Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas, bahwa pemuda khususnya mahasiswa selalu berperan dalam perubahan di negeri kita, berbagai peristiwa besar di dunia selalu identik dengan peran mahasiswa didalamnya.
    Berawal dari gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di tahun 1908, Boedi Oetomo. Gerakan yang telah menetapkan tujuannya yaitu “kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa” ini telah lahir dan mampu memberikan warna perubahan yang luar biasa positif terhadap perkembangan gerakan kemahasiswaan untuk kemajuan bangsa Indonesia.Gerakan kemahasiswaan lainnya pun terbentuk, Mohammad Hatta mempelopori terbentuknya organisasi kemahasiwaan yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di Belanda yaitu Indische Vereeninging (yang selanjutnya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia). Kelahiran organisasi tersebut membuka lembaran sejarah baru kaum terpelajar dan mahasiswa di garda depan sebuah bangsa dengan misi utamanya “menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan”.
    Gerakan mahasiswa tidak berhenti sampai disitu, gerakannya berkembang semakin subur, angkatan 1928 yang dimotori oleh beberapa tokoh mahasiswa diantaranya Soetomo (Indonesische Studie-club),Soekarno (Algemeene Studie-club), hingga terbentuknya juga Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang merupakan prototipe organisasi telah menghimpun seluruh gerakan mahasiswa ditahun 1928, gerakan mahasiswa angkatan 1928 memunculkan sebuah idieologi dan semangat persatuan dan kesatuan diseluruh pelosok Indonesia untuk meneriakkan dengan lantang dan menyimpannya didalam jiwa seluruh komponen bangsa, kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa satu yaitu bahasa Indonesia dan hingga kini kita kenal sebagai sumpah pemuda.
    Gerakan perjuangan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan kontrol sosial terus tumbuh dan berkembang, hinggalah gerakan perjuangan mahasiswa sampai pada terjadinya peristiwa 10 tahun yang lalu yaitu tragedi trisakti mei 1998.
    Sejarah panjang gerakan mahasiswa merupakan salah satu bukti, kontribusinya, eksistensinya, dan peran serta tanggungjawabnya mahasiswa dalam memberikan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
    Peran mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum.
    Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, “ruh perubahan” itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.
    Gerakan perjuangan Mahasiswa Indonesia tidak boleh berhenti sampai kapanpun ,gerakan perjuangan mahasiswa saat ini tidak hanya dengan bergerak bersama-sama untuk berdemonstrasi dan berorasi dijalan-jalan saja, akan tetapi wahai para “agent of change”, cobalah untuk bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanian mu untuk bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan yang ada dalam dirimu untuk bisa memberi kebaikan dan berperan besar serta bertanggung jawab untuk memberikan kemajuan bangsa dan Negara Indonesia, sehingga seperti Hasan al Banna katakan “goreskanlah catatan membanggakan bagi umat manusia”.
    Apa yang terlintas dibenak kita ketika kita mendengar kata”mahasiswa”, mungkin tidak hanya satu jawaban yag akan terucap dari banyak orang dengan beranekaragam latar belakang pendidikan. Mahasiswa merupakan sebuah status yang disandang seseorang ketika ia menjalani pendidikan formal pada sebuah perguruan tinggi. Seseorang dapat dikatakan sebagai seorang mahasiswa apabila ia tercatat sebagai mahasiswa secara administrasi sebuah perguruan tinggi yang tentunya mengikuti kegiatan belajar dan mengajar serta kegiatan lainnya. Status ini menjadi mutlak apabila kita berbicara dalam konteks pendidikan formal. Ternyata dbalik statusnya itu, masih banyak sekali peranan seorang yang menyandang status mahasiswa untuk menunjukkan peranannya pada kehidupan masyarakat terlebih lagi pada tingkat kehidupan berbangsa dan bernegara.
    Sekarang mari kita tengok aktivitas mahasiswa zaman sekarang, Amien Rais pernah mengutarakan intensitas dan kualitas dari gerakan kemahasiswaan cenderung mengalami penurunan seiring datangya era globalisasi ke negeri kita tercinta ini, kebanyakan dari mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang kurang jelas manfaatnya, forum-forum diskusi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kenegaraan tidak pernah dijejali oleh mahasiswa sebaliknya tempat-tempat hiburan malah disesaki para mahasiswa. Penulis tidak melarang tentunya sebatas itu tidak melanggar syariat, karena sebagai manusia tentunya kita juga butuh yang namanya hiburan. Tetapi hal itu juga harus disaring dengan kekuatan iman kita. Kembali kepada kualitas gerakan kemahsiswaan masa sekarang yang cenderung menurun, maka sadar atupun tidak itu merupakan efek dari masuknya era globalisasi ke indonesia tanpa diharmonisasi dengan manajemen waktu dan diri yang baik. Untuk membangun citra mahasiswa sebagai agen pembaharu ataupun kaum intelektual yang mana dipundaknya ada masa depan bangsa ini yang akan dilabuhkan dimana, maka kita harus memupuk rasa persaudaraan dan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Selain itu tentunya kita perlu membangun konsep intelektual dalam gerakan yang sinergi dan terarah menuju masyarakat yang adil dan makmur. Sehingga kedepan mahasiswa tidak hanya dikenal lewat aktivitasnya ketika menjalani perkuliahan saja,tetapi sebagai elemen bangsa yang peka terhadap kondisi permasalahan disekitarnya .Semoga.

    Sumber :
    One.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/definisi-pemuda
    kipong.webnode.com/news/peranan-mahasiswa-dalam-kehhidupan-berbangsa-dan-bernegara/
    stmik-amik-dumai.ac.id/index.php/artikel/41-artikel/111-peranan-dan-fungsi-mahasiswa-dalam-era-reformasi

    Posted by Dyah Putri Utami (08/271306/DPA/2905) | 4 December 2010, 9:40 pm
  22. Peranan Mahasiswa Dalam Menghadapi Kejadian-kejadian Bencana Tsunami, Banjir, Gunung Meletus, Gempa atau Sejenisnya yang Kerap Terjadi di Negara Indonesia

    Sebelum kita membahas tentang peranan mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia, akan lebih baik kita menelaah terlebih dahulu tentang pengertian dan definisi bencana. Ditinjau dari katanya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana adalah sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Bencana adalah bagian yang tak mungkin terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap Negara di seluruh dunia pasti pernah merasakan yang namanya bencana alam. Bencana alam sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia, dan atau oleh keduanya dan menyebabkan korban manusia, penderitaan, kerugian, kerusakan sarana dan prasarana lingkungan dan ekosistemnya serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Secara geografi maupun geologi, posisi Indonesia memang rentan terhadap bencana alam. Natural Disaster Reduction tahun 2007 mencatat, lebih dari separuh gempa bumi di Asia Tenggara terjadi di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2008 mencatat, dari tujuh jenis bencana langganan di Indonesia, sejumlah kabupaten/kota memiliki potensi kerawanan tinggi. Dari 456 kabupaten/kota, 119 kabupaten/kota dengan kerawanan tinggi erosi, 147 kabupaten/kota berkerawanan tinggi banjir, dan 213 kabupaten/kota berkerawanan tinggi gempa. Selanjutnya, 110 kabupaten/kota berkerawanan tinggi gunung api, 149 kabupaten/kota berkerawanan tinggi kekeringan, 154 kabupaten/kota berkerawanan tinggi longsor, dan 83 kabupaten/kota berkerawanan tinggi tsunami. Maka dapat disimpulkan, bencana-bencana di Indonesia sebenarnya adalah peristiwa alam yang pasti akan terjadi. Sehingga manajemen penanganan bencana kita pun seharusnya tidak bersifat ”konvensional”, dimana fokus penanganan bencana kita lebih bersifat bantuan dan kedaruratan ketimbang pengurangan faktor risiko. Mengutip Victor Rembeth dari Yayasan Tanggul Bencana di Indonesia,” seharusnya Indonesia tidak lagi melakukan manajemen bencana yang hanya bertugas pada masa kedaruratan, tetapi harus terintegrasi dalam sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah”. Oleh karena itu, bencana yang terjadi akhir-akhir ini seharusnya menyadarkan kita untuk segera mengubah paradigma. Penanggulangan bencana bukan lagi sebuah tindakan reaktif dan terpisah dari inisiatif pembangunan. Mungkin hanya sekedar mengingatkan adanya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Pasal 1, Ayat 9 mendefinisikan mitigasi bencana sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana, baik yang termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia (human-induced disaster). Namun, dalam penerapannya di Indonesia, mitigasi bencana lebih ditekankan ke arah manajemen kebencanaan, yaitu pada ‘saat’ dan ‘setelah (pasca)’ terjadinya bencana. Sedangkan pada tahap ‘sebelum (pra)’ bencana masih terbatas pada tahapan pencegahan/prevensi, yaitu dengan menghindari pemanfaatan kawasan yang ‘rawan bencana’ untuk dikembangkan sebagai kawasan aktivitas.
    Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia. Banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Dalam menghadapi suatu bencana dan penderitaan ada baiknya manusia berfikir positif. Kita juga harus selalu yakin bahwa setiap penderitaan yang kita alami datang dari Tuhan YME. Dengan hidup lebih berserah diri dan yakin akan kebesaran Tuhan, segala derita yang kita pikul juga bisa lebih terasa ringan. Upaya lainnya dalam menghadapi suatu bencana adalah penguatan kelembagaan dalam bentuk dalam kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, tindakan gawat darurat, manajemen barak dan evakuasi bencana bertujuan mewujudkan masyarakat yang berdaya sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Sehingga pada akhirnya korban jiwa dan kehancuran infrastruktur dalam skala besar dapat diminimalisasi.
    Bencana yang terjadi dan tak kunjung usai, sebaiknya makin mengangkat moril mahasiswa untuk selalu berkontribusi. Mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Mahasiswa adalah sosok intelektual yang menduduki posisi dan peran khusus dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Posisi dan peran khusus itu selain dimungkinkan oleh kepemilikan pengetahuan yang luas juga oleh kepemilikinan nilai-nilai dasar yang menjadi landasan jati diri intelektualnya. Pengetahuan dan nilai-nilai dasar itu hendaknya menyata dalam setiap teladan hidup dan perjuangan mahasiswa. Seorang mahasiswa mestinya semakin tanggap serta kreatif dalam menghadapi bencana yang terjadi pada negeri ini untuk membantu meringankan beban korban bencana sekaligus menyampaikan bantuan hasil penggalangan dana pada masyarakat sebagai bentuk solidaritas rakyat. Mahasiswa universitas yang satu dengan yang lainnya harus bergabung dan berkoordinasi dan membagi tugas untuk meringankan penderitaan korban bencana. Segala potensi yang mahasiswa miliki bisa dijadikan modal sebagai bentuk kepedulian. Tidak harus penggalangan dana di jalan-jalan, namun juga bisa teman-teman mahasiswa yang hobi menulis pun bisa turut berkontribusi lewat tulisannya. Penting bagi kita semua, terutama para mahasiswa, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima. Kita juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata. Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana. Pemuda dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa. Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Tanpa ketanggapan dan ketangguhan mahasiswa tidak akan bisa menjadi relawan, dermawan dan pendamping masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa harus lebih tanggap bencana dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Semoga menginspirasi kita untuk lebih berkontribusi bagi Indonesia yang kita cintai.

    Nama: Febrina Listyawati
    NIM: 08/271571/DPA/03012
    Prodi: D3 Rekam Medis UGM

    Referensi
    Pusat Bahasa,Tim.2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta:Gramedia.

    http://www.tumblr.com/tagged/perencanaan/page/2/1518203984

    http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=7612

    http://khusnul.student.umm.ac.id/2010/01/30/mahasiswa/

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/14/mahasiswa-harus-lebih-tenggap-bencana/

    http://indonesianmuslim.com/tingkat-kesiapan-masyarakat-indonesia-dalam-menghadapi-bencana.html

    Posted by Febrina Listyawati | 4 December 2010, 7:09 pm
  23. PERAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA TSUNAMI, BANJIR, GUNUNG MELETUS, GEMPA ATAU SEJENISNYA YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA
    Definisi mahasiswa diambil dari suku kata pembentuknya. Maha dan Siswa, atau pelajar yang paling tinggi levelnya. Sebagai seorang pelajar tertinggi, tentu mahasiswa sudah terpelajar, sebab mereka tinggal menyempurnakan pembelajarannya hingga menjadi manusia terpelajar yang paripurna.
    Apakah yang diharapkan dari seorang mahasiswa? Memang harapan ini terbagi pada stratanya, yaitu untuk strata S1, seorang mahasiswa diharapkan mampu memahami suatu konsep, dapat memetakan permasalahan dan memilih solusi terbaik untuk permasalahan tersebut sesuai pemahaman mendalam konsep yang telah dipelajari. Untuk strata S2, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan sesuatu yang berguna atau bernilai lebih untuk bidangnya. Sedangkan S3 diharapkan mampu menyumbang ilmu baru bagi bidangnya.
    Dari semua strata ada hal yang harus terus secara konsisten diperlihatkan oleh mahasiswa. Yaitu dalam menghadapi permasalahan, seorang mahasiswa harus melakukan analisa terhadap masalah itu. Mencari bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan tersebut. Kemudian memunculkan alternatif solusi dan memilih satu solusi dengan pertimbangan yang matang. Dan pada akhirnya harus mampu mempresentasikan solusi yang dipilih ke orang lain untuk mempertanggung jawabkan pemilihan solusi tersbut.
    Peran mahasiswa bagi bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia.
    Seorang mahasiswa juga harus aktif dalam menanggulangi bencana. Bencana didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang disebabkan oleh proses alam atau ulah manusia yang dapat terjadi secara bertahap atau mendadak yang mengakibatkan kehilangan jiwa manusia, kerusakan dan kehilangan harta benda dan kerusakan lingkungan. Pemerintah Republik Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
    Secara geologis, negara kita dilalui oleh lempeng Eurasia, Australia dan Pasifik yang selalu bergerak. Pertemuan antar lempeng itu dalam jangka panjang akan menghimpun energi. Pada saat energi itu dilepaskan, maka terjadilah gempa bumi dengan atau tanpa potensi tsunami. Selain itu, negera kita juga memiliki sekitar 250 lebih gunung api aktif yang pada saat-saat tertentu dalam meletus dan menimbulkan bencana.
    Dari serangkaian kejadian bencana alam maupun karena ulah manusia, kita bisa melakukan lesson learned, mengambil pelajaran untuk dipetik sebagai mana berikut:
    1. Pada umumnya, bencana terjadi pada saat kita dalam keadaan tidak siap. Bisa pada malam hari, tengah malam atau dinihari, atau bahkan di siang bolong di saat masyarakat sedang konsentrasi ke pekerjaan.
    2. Situasi tidak siap bisa karena soal waktu, bisa karena masalah ketidaksiapan yang bersifat tehnis karena memang tidak memiliki pengetahuan tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Ini antara lain karena faktor pemahaman bahwa bencana itu takdir. Padahal, bencana bukan sekedar takdir.
    3. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, perlu didukung oleh semua elemen masyarakat, terutama pemerintah sebagai policy maker dengan menyediakan sumber daya manusia dalam penanggulangan bencana dan sumber dananya sekaligus.
    4. Dalam skala yang terjangkau langkah-langkah tersebut untuk melindungi masyarakat saat bencana terjadi meliputi; pengelolaan tanggap darurat dan rekonstruksi atau rehabilitasi pasca bencana dengan tetap memperhatikan kearifan local. Bagaimana bencana tidak menjadi lahan “rebutan pemiliki bendera tertentu”, maka perlu melakukan pemberdayaan masyarakat, khususnya di daerah-daerah rawan bencana.
    5. Pemberdayaan masyarakat meliputi; pelatihan-pelatihan gladi penanggulangan bencana, dapur umum, evakuasi, taruna siaga bencana, untuk tujuan yang lebih komprehensif; yaitu, bahwa bencana tidak bisa diprediksi kedatangannya, namun bisa dikurangi resikonya, baik korban jiwa maupun harta benda.
    6. Bencana dan resikonya merupakan dua sisi mata uang yang bersifat dinamis. Satu bencana bisa mengakibatkan risiko terjadinya bencana lain; banjir menyebabkan datangnya wabah penyakit. Disini perlu dilakukan mitigasi bencana secara terus menerus sehingga meskipun bencana tidak bisa dicegah, namun resikonya bisa ditekan sedemikian rupa setelah melalui rangkain tahapan sesuai amanat undang-undang nomor 24 tahun 2007.

    Seperti yang kita tahu Indonesia sekarang ini sedang dilanda banyak bencana secara beruntun dimulai dengan bencana banjir bandang di Wasior Papua, Gempa dan Tsunami di Mentawai , Letusan Gunung Merapi dan gunung-gunung berapi lainnya di Indonesia. Dimana ada bencana, adapula korban yang merasakan efeknya.
    Banjir bandang di Wasior tanggal 4 Oktober itu akibat luapan Sungai Batang Salai yang membelah kota dan membuat luluh lantak ratusan rumah dan fasilitas umum. Ibukota Kabupaten Teluk Wondama, Wasior, di Provinsi Papua Barat, itu remuk. Korban meninggal 158 orang, luka-luka 837, 145 masih dinyatakan hilang serta banyak korban lainya yang harus diungsikan ke berbagai tempat yang lebih aman seperti Manokwari, Nabire, dan sejumlah distrik terdekat seperti Oransbari.
    Sementara bencana banjir bandang Wasior belum sepenuhnya pulih, Indonesia kembali dilanda bencana lain yaitu gempa 7,2 Skala Richter di sekitar Pulau Mentawai Sumatera Barat dan disusul dengan bencana tsunami. Menurut Posko BPBD Sumbar, korban bencana tsunami mentawai sampai tanggal 07 November 2010 mencapai 447 orang dan 56 hilang sementara luka berat tercatat 173 orang, luka ringan 325 orang. Pengungsi akibat tsunami ini pun tercatat sebanyak 15.353 jiwa yang diungsikan ke tempat yang lebih tinggi, kebutuhan-kebutuhan seperi logistik dan psikologi sangat dibutuhkan di barak pengungsian.
    Bencana lainnya adalah letusan gunung Merapi. Bencana ini tidak lama setelah bencana tsunami merusak Mentawai. Dilansir bahwa gunung Merapi merupakan gunung yang mempunyai aktivitas paling aktif di dunia, setidaknya 2 sampai 5 tahun sekali melakukan erupsi. Menurut Sukhyar (Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM) dalam situs resminya, sifat dan letusan Merapi kali ini, berbeda dan lebih besar dibandingkan dengan letusan 1997, 2001, maupun 2006. Pada tahun ini gunung Merapi mengeluarkan awan tebal atau yang sering disebut wedhus gembel yang sangat dahsyat, bahkan dilihat dari rekaman aktivitasnya, erupsi kali ini hampir menyamai letusan 1872. Akibat erupsi ini, korban tewas mencapai109 orang , dengan korban luka bakar mencapai 78 orang, selain itu aktivitas beberapa kota di sekitar Merapi lumpuh, seperti propinsi DIY Yogyakarta, Magelang, Boyolali, Klaten dll dikarenakan ada anjuran dari pemerintah untuk mengosongkan wilayah bahaya yaitu radius 20 km dari gunung Merapi. Pengungsi pun tersebar di pusat-pusat kota. Di DIY Yogyakarta, pengungsi tersebar di beberapa pusat kepengungsian antara lain di stadion Maguwoharjo, kantor pusat pemerintahan, berbagai kampus seperti UII, UGM, UPN dll, sekolah, keraton dll. Begitu juga dengan Magelang, Boyolali dan Klaten. Jumlah pengungsi akibat erupsi Merapi ini mencapai lebih dari 200.000 jiwa.
    Akibat bencana-bencana ini, pengungsian besar-besaran terjadi di berbagai wilayah yang menyebabkan banyak masalah antara lain masalah kesehatan, perekonomian, pendidikan maupun psikis pengungsi. Mungkinkah ini adalah peringatan Tuhan kepada kita agar kita ingat kepada-NYA, semua ini mungkin kehendak Tuhan, namun kita tidak boleh berduka karena dalam setiap bencana memiliki hikmah didalamnya.
    Sebagai mahasiswa kita harus menjadikan ini sebagai suatu pelajaran bahwa kita harus lebih waspada akan bencana yang mungkin akan terjadi. Pada saat ini yang negara kita butuhkan adalah para mahasiswa indonesia yang berSDM tinggi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tengah terjadi dinegara kita.
    Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai mahasiswa juga harus peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana. Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moriil seperti kita ikut menjadi sukarelawan atau membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menghimpun dana dengan berbagai cara, ada yang dengan cara mengamen,ada yang dengan cara mendatangi setiap kelas untuk meminta penyaluran dana dari rekan-rekan sesama mahasiswa dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana. Selain itu kita harus tetap berdoa kepada tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negeri ini segera berakhir. Namun sebelum itu terjadi kembali baiknya kita sebagai mahasiswa/pemuda mari kita menjaga lingkungan karena bumi kita kini telah tidak muda lagi. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Mungkinkah bumi ini akan selalu ada untuk kita apabila para mahasiswa atau generasi muda kita melakukan hal-hal yang selalu merusak bumi ini? Semua jawaban ada dalam diri kita para generasi muda atau mahasiswa, karena kita yang akan menjadikan apa bumi kita ini kelak. Maka dari itu mari para mahasiswa kita mulai belajar untuk menghargai sesama dan melestarikan bumi ini untuk para generasi masa depan.

    Nama : Suriani
    Nim : 08/271590/DPA/03023
    Jurusan : D III Rekam Medis Universitas Gadjah Mada

    DAFTAR BACAAN

    http://aditwahyu.blogsport.com/2010/11/perpustakaan-keliling-sebagai-obat.html

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/

    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html

    http://kangnawar.com/bencana/indonesia-negeri-sejuta-bencana

    http://rifaifibika.blogspot.com/2010/11/peran-para-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html

    Posted by SURIANI | 4 December 2010, 6:42 pm
  24. PERAN MAHASISWA
    DALAM UPAYA MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN
    BENCANA ALAM YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA

    A. Peran Mahasiswa Dalam Menanggulangi Bencana
    Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kampus akan terus dibutuhkan.
    Kiprah dunia kampus dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih kurang (untuk mengatakan tak ada sama sekali). Kita tak bisa menafikan begitu saja bagaimana getolnya mahasiswa- mahasiswa kita yang turut aktif mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun silam. Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi di Padang di jalan-jalan dan sebagainya.
    Peran mahasiswa (dunia kampus) guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia kampus di atas hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus.
    Di sinilah kampus harus melebarkan sayapnya untuk berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi.
    Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Para pemangku kebijakan kampus juga sudah selayaknya merespon hal ini. Pengelola kampus perlu memberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi bagi seluruh sivitas akademiknya. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Karena itulah, dalam rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa dan Pengenalan Kampus (OSPEK) perlu disisipkan materi ini. Paradigma OSPEK harus diubah yang semula cenderung sebagai kegiatan perpeloncoan menjadi kegiatan yang edukatif, salah satunya keterampilan menghadapi bencana. Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Andai peran ini baik pra maupun pascabencana bisa dimainkan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampus, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Tahapan Penanggulangan Dampak Bencana
    Upaya mahasiswa dalam penanggulangan dampak bencana dilakukan melalui pelaksanaan tanggap darurat dan pemulihan kondisi masyarakat. Upaya penanggulangan dampak bencana tersebut dilakukan secara sistematis, menyeluruh, efisien dalam penggunaan sumberdaya dan efektif dalam memberikan bantuan kepada kelompok korban. Upaya penanggulangan dan pemulihan tersebut dilakukan dengan pendekatan secara utuh dan terpadu melalui tiga tahapan, yaitu tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi dalam pelaksanaan penanggulangan dampak bencana, yaitu:
    1. Tahap Tanggap Darurat
    Tahap ini bertujuan membantu masyarakat yang terkena bencana langsung untuk segera dipenuhi kebutuhan dasarnya yang paling minimal. Sasaran utama dari tahap tanggap darurat ini adalah penyelamatan dan pertolongan kemanusiaan. Dalam tahap tanggap darurat ini,diupayakan pula penyelesaian tempat penampungan sementara yang layak, serta pengaturan dan pembagian logistik yang cepat dan tepat sasaran kepada seluruh korban bencana. Mahasiswa membantu dalam membangun tenda ditempat-tempat pengungsian, ikut serta dalam mendistribusikan dan mengkoordunir bantuan-bantuan berupa barang logistik maupun yang lainya.
    Upaya yang telah dilakukan mahasiswa dalam tahap tanggap darurat, tahap awal dengan cara mengkoordinasikan dan mengendalikan penanggulangan bencana dengan pembentukan dan pelayanan posko Satlak PBP di lokasi bencana. Secara operasional, pada tahap tanggap darurat ini diarahkan pada kegiatan:
    a. Penanganan korban bencana termasuk mengubur korban meninggal dan menangani korban yang luka-luka.
    b. Penanganan pengungsi
    c. Pemberian bantuan darurat
    d. Pelayanan kesehatan, sanitasi dan air bersih
    e. Penyiapan penampungan sementara
    f. Pembangunan fasilitas sosial dan fasilitas umum sementara serta memperbaiki sarana dan prasarana dasar agar mampu memberikan pelayanan yang memadai untuk para korban
    g. Kemudian, sebagai salah satu upaya yang telah dilakukan dalam menanggulangi kekurangan air bersih akibat adanya kerusakan jaringan air bersih, Satlak memberikan pelayanan air bersih kepada masyarakat. Pelayanan tersebut dilakukan dengan mobil tanki yang setiap hari mendistribusikan air bersih kepada masyarakat.

    2. Tahap Rehabilitasi Tahap ini bertujuan mengembalikan dan memulihkan fungsi bangunan dan infrastruktur yang mendesak dilakukan untuk menindaklanjuti tahap tanggap darurat,seperti rehabilitasi bangunan ibadah, bangunan sekolah, infrastruktur sosial dasar, serta prasarana dan sarana perekonomian yang sangat diperlukan. Sasaran utama dari tahap rehabilitasi ini adalah untuk memperbaiki pelayanan publik hingga pada tingkat yang memadai. Dalam tahap rehabilitasi ini, juga diupayakan penyelesaian berbagai permasalahan yang terkait dengan aspek psikologis melalui penanganan trauma korban bencana. Disini peran mahasiswa adalah membantu para korban bencana dengan cara menghibur, membantu mengurus anak-anak balita korban bencana, khususnya untuk mahasiswa kedokteran dapat membantu merawat korban luka-luka akibat bencana tersebut.

    3. Tahap Rekonstruksi
    Tahap rekonstruksi bertujuan membangun kembali kawasan bencana dengan melibatkan semua masyarakat, relawan yang didalamnya termasuk mahasiswa, perwakilan lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha. tahap rekonstruksi merupakan tahap lanjutan dari tahapan rehabilitasi yang bertujuan untuk memperbaiki kembali dan membangun pelayanan publik pada tahap yang memadai dan membangun masyarakat serta wilayahnya dalam tatanan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang sesuai dengan aspirasi dan tuntutan masyarakat, sehingga minimal dapat berfungsi seperti semula dan bahkan menjadi lebih baik lagi baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

    DAFTAR PUSTAKA

    http://umatun.wordpress.com/2010/10/24/bencana-alam-dan-peran-kampus/

    http://satyasembiring.wordpress.com/2007/12/29/penangulanan-bencana-satya-sembiring/

    http://id.voi.co.id/fitur/voi-bunga-rampai/6319-upaya-pemerintah-menanggulangi-bencanawasior.html

    http://www.4shared.com/file/oAPKzSBd/UNDIP_TI_UNDIP_SINKRONISASI_PR.html

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

    NAMA : IVANA PUTRI RISYANTI
    NIM : 08/ 271562/ DPA/ 03004
    PRODI : D3 REKAM MEDIS

    Posted by IVANA PUTRI RISYANTI | 4 December 2010, 6:20 pm
  25. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA TSUNAMI, BANJIR, GUNUNG MELETUS, GEMPA ATAU SEJENISNYA YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA

    Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak pulau dan lautan yang membentang luas. Iklim tropis yang dimilikinya memungkinkan banyak tumbuh-tumbuhan dapat hidup dan berkembang dengan baik. Indonesia kaya akan sumber daya alam yang terkandung didalamnya. Selain itu dengan bermacam-macam suku yang ada membuat Indonesia semakin kaya akan kebudayaan. Setiap wilayah memiliki ciri khas masing-masing yang bisa diandalkan sehingga membuat kita bangga menjadi warga negara dan tinggal di Indonesia. Kekayaan seperti inilah yang mungkin tidak dimiliki oleh setiap negara sehingga membuat negara lain kagum pada apa yang telah dimiliki Indonesia. Namun di sisi lain bangsa ini sedang berduka mengingat banyak terjadi bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai wilayah di negeri ini. Banyak korban berjatuhan akibat bencana alam. Mereka menderita luka-luka, kehilangan sanak-saudara, maupun kehilangan harta dan benda.
    Berita mengenai bencana yang terjadi di Indonesia mendominasi berbagai media massa, baik itu media cetak maupun elektronik. Air mata, kesedihan, dan kesengsaraan sepertinya masih belum mau beranjak pergi dari negeri tercinta ini. Mulai dari bencana tsunami, banjir, tanah longsor, gempa bumi sampai dengan gunung meletus silih berganti terjadi di berbagai wilayah di tanah air. Baru-baru ini terjadi banjir bandang di Wasior Papua, kemudian disusul dengan tsunami di Mentawai, dan diikuti oleh Merapi yang erupsi menyemburkan awan panas dan larva pijar. Belum lagi beberapa gunung berapi lain yang ikut latah, seperti Gunung Bromo. Mungkinkah ini adalah peringatan Allah kepada kita agar kita ingat kepada-Nya. Semua ini mungkin kehendak Allah, namun kita tidak boleh berduka karena dalam setiap bencana memiliki hikmah didalamnya.
    Segenap masyarakat diharapkan dapat membantu sesuai dengan kemampuannya masing-masing untuk meringankan penderitaan para korban. Tidak terkecuali dengan para mahasiswa yang dikenal memiliki kepedulian terhadap berbagai masalah bangsa. Peran mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan mendengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perbaikan untuk kemajuan bangsa Indonesia. Mahasiswa perlu untuk peduli dan tanggap serta mempunyai rasa kemanusiaan terhadap sesama anak bangsa. Dalam hal ini mahasiswa harus ikut serta berpartisipasi dalam penanggulangan bencana, sigap dan tanggap dalam menghadapi bencana. Dibutuhkan sekali peranan mahasiswa untuk bertindak bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk kepentingan masyarakat luas. Mahasiswa diharapkan dapat cepat merespon terhadap kasus-kasus bencana yang terjadi.
    Kita sebagai mahasiswa seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana. Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moril dan materil. Pertolongan yang bersifat moril misalnya dengan ikut menjadi sukarelawan, membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, memberikan hiburan untuk para pengungsi, membantu anak-anak korban bencana alam dengan mengajak mereka melakukan sesuatu yang akan berguna sebagai terapi pascabencana, dan masih banyak lagi. Sedangkan pertolongan yang bersifat materil misalnya dengan membantu menghimpun dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana.
    Peran mahasiswa harus gigih dan siap dalam membantu segala kegiatan yang dapat meringankan beban masyarakat atau warga yang terkena musibah, seperti: ikut serta dalam membantu pencarian korban bencana, memperbaiki jalan-jalan yang rusak, membantu membersihkan puing-puing rumah warga atau memperbaiki rumah-rumah penduduk yang rusak, mengevakuasi korban bencana, menggalang dana, memberi pakaian layak pakai dan lain-lain. Kita harus berusaha membantu sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Intinya, jika kita ingin membantu, bantu saja semampu kita mungkin dengan harta yang kita punya atau mungkin dengan ilmu yang kita punya.
    Jika kita melihat kondisi geografis Indonesia yang dilalui oleh deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam. Maka dari itu diperlukan langkah antisipasi sebelum terjadi bencana. Peran dalam penanganan prabencana belum dilakukan secara maksimal. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam harus terus ditingkatkan. Di sinilah peran mahasiswa yang berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia dibutuhkan. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini mahasiswa dapat ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Para mahasiswa yang turun ke lapangan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Di samping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Hal yang perlu direnungkan adalah mengapa bencana bisa terjadi. Apakah ini disebabkan murni oleh karena alam atau disebabkan karena kecerobohan masyarakat, seperti membuang sampah sembarangan dan melakukan penebangan liar. Ternyata hal-hal buruk yang sering dilakukan oleh masyarakat ikut menyumbang terjadinya bencana di Indonesia. Meskipun kecil, namun apabila hal buruk tersebut terus-menerus dilakukan ternyata memiliki dampak buruk terhadap masyarakat kelak nantinya. Para mahasiswa sebagai penerus bangsa dan segenap warga negara harus melaksanakan pelestarian lingkungan mengingat alam ini telah mengalami kerusakan yang luar biasa, dengan mengadakan reboisasi besar-besaran dan komprehensif. Pelestarian alam juga bisa dilakukan dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah dan memilih antara sampah organik dan non organik, dan membuat resapan air. Semua itu dilakukan agar lingkungan kita senantiasa terjaga dan lebih aman serta jauh dari berbagai bencana alam.

    Andai peran ini baik pra maupun pascabencana bisa dimainkan secara elegan dan berkesinambungan oleh mahasiswa, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Mulai saat ini mahasiswa harus berjiwa sosial, berbudi luhur, dan bekerja ikhlas untuk kemanusiaan, sudah tidak ada lagi waktu untuk bermalas-malasan, saling membantu sesama anak bangsa, jadikan peristiwa bencana sebagai pengalaman kehidupan untuk dijadikan cermin dalam melangkah membangun negeri tercinta kita Indonesia. Ini bisa dimulai dari diri kita untuk terus berupaya melestarikan alam sekitar kita sebagai antisipasi terjadinya bencana alam atau bencana karena perbuatan dari diri kita sendiri.
    Nama: Arin Utami
    NIM : 08/273867/DPA/3109
    Prodi : D3 Rekam Medis UGM

    REFERENSI:
    http://anakdjogja7.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html 2-12-2010 jam 10.50 WIB
    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/ 2-12-2010 jam 10.19 WIB
    http://dickysmk3.blogspot.com/2010/11/peranan-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html 2-12-2010 jam 10.30 WIB
    http://groups.google.com/group/bencana/browse_thread/thread/ad9c60a196e2bd5f/9bf1c1d7035b1a6e 2-12-2010 jam 10.27 WIB
    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html 2-12-2010 jam 10.21 WIB
    http://rizkyrizkyramadhan.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-menanggulangi.html 2-12-2010 jam 10.44 WIB

    Posted by ARIN UTAMI | 4 December 2010, 6:13 pm
  26. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di Indonesia

    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor- aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia.Dengan bekal akademik serta identitas mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, sudah cukup sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan “agent of change”. Kata-kata perubahan selalu menempel dengan erat sekali sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada di negeri ini.
    Akhir- akhir ini berita mengenai bencana alam mendominasi di berbagai media massa. Mulai dari angin kencang, tanah longsor, puting beliung, banjir bandang di Wasior Papua Barat, hingga meletusnya gunung merapi di Yogyakarta . Bencana alam ini telah memakan puluhan korban, ratusan luka- luka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya. Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa dalam menanggapi bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti ini?. Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tidak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan.
    Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Demikian halnya dengan kita. Bencana yang datang silih berganti jangan sampai membunuh semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Sistem pembangunan yang selama ini kita anut kurang memperhatikan faktor alam yang ada, sudah saatnya sistem kuno ini kita rubah dengan sistem baru yang lebih berbasis lingkungan. Para arsitek dan insinyur bangunan haruslah memperhatikan dampak pembangunan sebuah gedung terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak hanya cantik dilihat dan kokoh namun bangunan tersebut haruslah bersinergi dengan alam. Perundang – undangan yang selama ini mengatur tentang tata laksana konstruksi sebuah bangunan juga harus dirubah. Harus ada aturan yang tegas untuk melarang didirikannya bangunan di lahan – lahan daerah resapan air, lereng – lereng gunung serta bukit. Selain itu ketegasan pemerintah dalam menghukum para pelaku pembalakan liar harus digalakkan karena fungsi hutan sangatlah kompleks untuk menjaga keseimbangan alam kita.
    Selain hal tadi, peranan kita sebagai mahasiswa adalah segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Salah satu hal yang paling utama adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa” . Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara – saudara kita selamat.
    Tujuan utama dari penanganan bencana alam pada dasarnya adalah meminimalisir korban jatuh dan menyelamatkan korban yang ada. Kunci untuk dapat mencapai tujuan ini adalah kecepatan bantuan tersebut tiba di lokasi bencana, ketepatan dari bantuan yang disalurkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan, dan laju informasi dua arah dari lokasi kepada pusat sebagai pendukung dari operasi penanggulangan bencana. Cepat tidaknya bantuan dapat tiba di lokasi bencana alam pada dasarnya sangat bergantung kepada kesiapan dari material yang akan disalurkan, koordinasi logistik dari penanggung jawab penanggulangan bencana, mencakup pemberangkatan material dan sumber daya, transportasi yang digunakan dalam pengiriman dan kesiapan penerimaan di lokasi bencana. Hal inilah yang harus diberikan perhatian khusus bagi para pelaksana penyaluran bantuan bagi bencana alam. Terlebih apabila kecepatan penyaluran bantuan dijadikan tolak ukur dari keberhasilan penyaluran material untuk penanganan bencana.
    Ketepatan dari jenis bantuan yang akan disalurkan, pada dasarnya adalah proses penentuan material dari berbagai bahan yang tersedia maupun yang akan dilakukan pembelian. Proses penentuan ini dapat dibakukan menjadi daftar material penanganan bencana serta dikategorikan menurut jenis bencana-nya, korban yang diakibatkan, dan lokasi geografis terjadinya bencana tersebut. Daftar material ini seharusnya dirancang untuk fleksibel dapat mengikuti berbagai variabel dari kategori-kategori yang ada, sehingga keputusan untuk jenis material yang akan dikirim dapat cepat diambil tanpa mengurangi akurasi ketepatan material. Apabila daftar material ini dapat dibakukan dan menjadi standar operasional dari tim penanggulangan bencana, diharapkan seluruh bantuan yang terikirim dapat dimanfaatkan secara maksimal dan berguna bagi para penerima-nya.
    Dalam mendukung kecepatan dan ketepatan penyampaian bantuan, unsur teknologi informasi sangat menunjang keberhasilan operasi penanggulangan bencana. Seluruh data diupayakan untuk dapat terkirim dengan cepat dan tepat dalam membantu team di pusat untuk mempersiapkan berbagai bantuan yang akan dikirimkan ke lokasi bencana, bantuan ini dapat berupa material, tenaga medis, maupun sumber daya manusia untuk evakuasi korban. Dalam upaya untuk dapat meberikan informasi yang akurat, relawan pemberi informasi sudah selayaknya dilengkapi dengan berbagai perangkat telekomunikasi yang mampu digunakan dalam kondisi darurat. Jalur penerimaan informasi pun sebaiknya dibatasi agar deviasi dalam penyampaian informasi dapat ditekan seminimal mungkin.
    Pemerintah, dapat mengorganisir kegiatan ini dalam sebuah wadah yang memiliki tanggung jawab dalam penanggulangan bencana alam. Dengan diberikan tanggung jawab dan kewenangan oleh pemerintah, diharapkan seluruh kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar guna berhasilnya operasi kemanusiaan yang sewajarnya menjadi prioritas utama pemerintah dalam menanggulangi bencana alam yang menimpa. Sukses tidaknya operasi kemanusiaan penanggulangan bencana sudah seharusnya merupakan tanggung jawab bersama, seluruh rakyat indonesia.

    DAFTAR PUSTAKA

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

    http://igo.posterous.com/peranan-supply-chain-dalam-operasi-kemanusiaan

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam

    NAMA : YULITA ISMAYA
    NIM : 08/274267/DPA/3186
    PRODI : D3 REKAM MEDIS

    Posted by Yulita Ismaya | 4 December 2010, 4:46 pm
  27. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Berkaitan dengan bencana seperti tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia, mulai timbul pemikiran betapa pentingnya melakukan tindakan penanganan sebelum dan pasca bencana.
    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. mahasiswa berperan penting baik sebagai sukarelawan maupun dalam proses rekonstuksi tindakan penanganan sebelum dan pasca bencana. Tindakan ini perlu dipikirkan agar tidak terjadi kepanikan serta korban yang mestinya bisa diminimalisasi.
    Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa,
    cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi
    aktif menanggulangi bencana-bencana di Indonesia. Apalagi setelah
    menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung
    berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam,
    maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan.
    Belakangan ini berita mengenai bencana alam mendominasi
    halaman – halaman media massa. Mulai dari tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya telah memakan puluhan korban, ratusan lukaluka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya. Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa dalam menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti ini?
    mahasiswa mengambil peran sangat penting ketika terjadinya bencana. Ini bisa dilihat dari peristiwa meletusnya Gunung Merapi, mahasiswa adalah garda terdepan dalam upaya penyelamatan masyarakat. Para mahasiswa berjuang tanpa pamrih mengevakuasi masyarakat, terutama jompo, anak-anak serta ibu-ibu di wilayah bencana Merapi. Apa yang dilakukannya ini, tak jarang pemuda harus mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan orang lain.
    peranan kita sebagai mahasiswa yang peduli juga bisa di wujudkan dengan cara melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan yang membantu para pengungsi. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi mahasiswa untuk menjadi relawan adalah sikap empati. Sikap empati yang ada pada mahasiswa akan mendorong atau memotivasi mahasiswa menjadi relawan korban bencana alam, sedangkan empati sendiri dapat tumbuh pada siapapun tapi menumbuhkan empati bukan hal yang terlalu mudah butuh waktu dan proses untuk menumbuhkan sikap empati pada diri seseorang, misalnya dengan menawarkan makanan pada orang yang berada disampingnya kita, dengan begitu kita biasa berbagi dan peduli pada orang lain, selain itu sikap empati juga bisa ditumbuhkan melalui berinteraksi, mendengar, dan menghayati orang lain.
    Menjadi relawan mempunyai dampak positif bagi mahasiswa. Selain mahasiswa mempunyai pengalaman tanggap darurat, juga dapat menumbuhkan rasa solidaritas terhadap korban bencana alam. Hal itu dapat menumbuhkan motivasi untuk bekerja untuk kemanusiaan, dan mendorong mereka untuk memikirkan, merencanakan, serta bertindak, dalam rangka mengurangi risiko bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    sebagai seorang mahasiswa kita juga berusaha untuk berperan aktif membantu sesama demi meringankan beban saudara-saudara kita semua. Lebih nyata lagi, banyak ditemui juga mahasiswa yang menjadi sukarelawan-sukarelawan penanggulangan bencana Merapi. Mereka bergabung dengan sukarelawan-sukarelawan lain dari PMI, Bulan Sabit Merah, pemerintah, TNI, polisi serta lembaga-lembaga bantuan lain. Tak jarang, organisasi mahasiswa pun ikut membuka posko-posko sendiri untuk kepentingan penyaluran bantuan serta perawatan pada korban bencana.
    Kita bisa mencontoh dari kegiatan-kegiatan seperti diatas. Walaupun kita tidak bisa secara langsung memberi bantuan kepada mereka yang teerkena bencana, ada banyak hal yang bisa kita lakukan tanpa terpaut oleh jarak. Tetapi intinya, bahwa para pemuda harus memiliki sikap kemanusiaan yang tinggi, kritis terhadap apa yang hendak dilakukan
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang atau aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan.
    Kita sebagai mahasiswa harus menjadi mahasiswa yang siaga bencana, dalam artian tanggap jika suatu waktu terjadi bencana. Bukan justru menyelamatkan diri sendiri saat bencana terjadi, namun sebagai mahasiswa harus turut berperan aktif dalam melakukan evakuasi terhadap para korban bencana. Atau paling tidak para mahasiswa bisa menjadi relawan maupun koordinator di lokasi bencana.
    Dalam penerapannya di Indonesia, mitigasi bencana lebih ditekankan ke arah manajemen kebencanaan, yaitu pada ‘saat’ dan ‘setelah (pasca)’ terjadinya bencana. Sedangkan pada tahap ‘sebelum (pra)’ bencana masih terbatas pada tahapan pencegahan/prevensi, yaitu dengan menghindari pemanfaatan kawasan yang ‘rawan bencana’ untuk dikembangkan sebagai kawasan aktivitas. Selain itu, kebijakan nasional penanggulangan bencana yang ada saat ini masih mengandung beberapa kelemahan dalam hal tingkat implementasi ke segala lapisan masyarakat di Indonesia yang mempunyai keadaan sosio-ekonomi beragam. Akibatnya masyarakat yang tidak mempunyai pengetahuan memadai akan kebencanaan akan sangat rentan ketika menghadapi bencana dan tidak mempunyai kemampuan adaptasi untuk pulih kembali pada saat pasca bencana. Ditambah, tingkat penerimaan dan pengetahuan masyarakat tentang kearifan lokal (local knowledge) semakin menurun, dimana kearifan lokal tersebut memberikan pemahaman dan panduan dalam lingkup “tradisi” bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk pengetahuan ciri-ciri bencana dan larangan melakukan kegiatan yang merusak lingkungan atau keseimbangan ekosistem
    Maka dari itu peran mahasiswa dalam memberikan pengetahuan tentang siaga bencana sangat di butuhkan. Dengan melihat manajemen bencana sebagai sebuah kepentingan bersama, kita berharap berkurangnya korban nyawa dan kerugian harta benda. Dan yang terpenting dari manajemen bencana ini adalah adanya suatu langkah konkret dalam mengendalikan bencana sehingga korban yang tidak kita harapan dapat terselamatkan. Upaya pemulihan pasca bencana pun dapat dilakukan dengan cepat.
    Pengendalian itu dimulai dengan membangun kesadaran kritis masyarakat dan pemerintah atas masalah bencana alam. Perlu juga menciptakan proses perbaikan atas pengelolaan bencana, penegasan untuk lahirnya kebijakan lokal yang bertumpu pada kearifan lokal yang berbentuk peraturan nagari, dan peraturan daerah atas manajemen bencana.
    Yang tak kalah pentingnya dalam manajemen bencana ini adalah sosialisasi kehatian-hatian terutama pada daerah rawan bencana. Meskipun membutuhkan waktu lama, langkah tersebut mutlak diperlukan untuk mencegah bencana yang mengancam setiap saat.

    Referensi:

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/10/17/84365/Peran-Mahasiswa-Tanggap-Bencana

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/09/mahasiswa-siaga-bencana/

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

    http://see-charons.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-terhadap-bencana.html

    http://indonesianmuslim.com/tingkat-kesiapan-masyarakat-indonesia-dalam-menghadapi-bencana.html

    http://harianjoglosemar.com/berita/kesiapan-menghadapi-bencana- 10726.html
    Nama: Reihan Ulfah
    NIM: 08/274349/dpa/3196
    Prodi: Rekam Medis UGM

    Posted by Reihan Ulfah | 4 December 2010, 4:16 pm
  28. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA
    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Dr Syamsul Maarif MSc, saat membuka seminar nasional ”Penanganan Bencana Alam Antara Teknologi dan Kearifan Masyarakat Lokal” di Balairung UKSW, Jumat (30/4). Paling tidak BNPB mencatat ada 14 jenis ancaman (hazard) terjadinya bencana berdasarkan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 BNPB,” kata Syamsul”. Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagalan teknologi, epidemi dan wabah Penyakit, serta konflik sosial.
    Lebih-lebih selama 4 tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.
    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini, mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di mentawai Sumatra, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai Sadar dari segala kemewahan yang kita rasakan. Untuk bencana banjir di Wasior sendiri telah memakan puluhan korban, ratusan luka-luka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya. Bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia, namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka.
    Melihat dari bencana yang telah menimpah indonesia Peranan kita sebagai mahasiswa adalah segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan. Beberapa teman saya telah melakukan hal ini. Satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!” . Memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara-saudara kita selamat.
    Bencana alam gempa disusul tsunami di Kepulauan Mantawai dan meletus gunung Merapi yang terjadi di tanah air, membangkitkan para pemuda dan pemudi Indonesia menggalang bantuan dana untuk rekan mahasiswanya. Kegiatan pengalangan diselenggarakan pada malam hari tanggal 28 Oktober 2010 di Griya Jawa Tengah merupakan rangkaian kegiatan peringatan ke-82 Tahun Hari Sumpah Pemuda. Dalam acara penggalangan dana itu, mahasiswa Sdr. Alnof, Ketua Keluargaan Masyarakat Minang mengemukakan keprihatinannya atas musibah yang terjadi di tanah air. Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana.
    Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang / aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Bukti nyata pemanfaatan teknologi (Social Networking), kita dapat melihat kasus yang dialami oleh prita mulyasari yang berseteru dengan RS Omni Internasional terkait tentang curahan hatinya terhadap pelayanan yang diberikan yang dianggap sebagai pencemaran nama baik (korban kedhzaliman Sistem), dan luar biasa sekali dukungan dari masyarakat baik berupa moril maupun dana, yang dicurahkan melalui jejaring sosial. Ini meupakan masalah personal yang dialami seorang prita mulyasari, apalagi untuk korban bencana alam yang menyangkut banyak korban jiwa, tidak mustahil mendapatkan hasil yang besar untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana.
    Mahasiswa seharusnya perlu berperan aktif lebih banyak lagi dalam berbagai persoalan, terutama menyangkut pesoalan bangsa. Fungsi kontrol perlu ditunjukkan oleh mahasiswa. Karena peran mahasiswa sangat diharapkan oleh masyarakat, tak berlebihan jika banyak harapan yang dipikul oleh mahasiswa. Sebab dalam kerangka sosial mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang cukup penting. Mahasiswa di sini diharapkan berperan sebagai agen pengawasan (agent of control) dan agen dalam menuju perubahan ke arah yang lebih baik.
    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html jam 20.43 selasa 30/11/2010
    http://www.deplu.go.id/cairo/Pages/Embassies.aspx?IDP=120&l=id jam 20.28 selasa 30/11/2010
    http://kampus.okezone.com/read/2010/11/15/95/393302/peran-mahasiswa-dalam-kancah-politik Yuman Nur Rozak
    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/ fikri arif
    http://www.jimly.com/…/16/makalah_PEMUDA_DAN_MAHASISWA.doc

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam

    NAMA : NI LUH YULYASTUTIASIH
    NIM : 08/271675/DPA/3054
    PRODI : D3 REKAM MEDIS

    Posted by Ni Luh Yulyastutiasih | 4 December 2010, 4:14 pm
  29. PERAN MAHASISWA DALAM MENGAHDAPI BENCANA DI INDONESIA

    Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia dan kaya akan sumber alamnya. Dan Negara indonesia juga merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
    Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung qpi, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang kkstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagalan teknologi, epidemi dan wabah Penyakit, serta konflik sosial.
    Salah satu masalah yang dihadapi dalam penanggulangan bencana adalah kapasitas sumber daya menghadapi bencana belum optimal. Perguruan tinggi merupakan salah satu komponen penting yang akan memberikan dukungan, mewujudkan ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Mahasiswa sebagai komponen utama perguruan tinggi, merupakan aset dalam penanganan bencana. Mahasiswa mempunyai peranan penting menangani bencana, (Dr Syamsul Maarif MSc).
    Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan . Mahasiswa di kenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih . Namun hanya sedikit rakyat Indonesia yang dapat merasakan dan punya kesempatan memperoleh perndidikan hingga ke jenjang ini karena system perekomian di Indonesia yang kapitalis serta biaya pendidikan yang begitu mahal sehingga kemiskinan menjadi bagian hidup rakyat ini. Peranan mahasiswa yang dapat diketahui yaitu
    1. Peran moral
    Mahasiswa yang dalam kehidupanya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar
    2. Peran sosial
    Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya.
    3. Peran Akademik
    Sesibuk apapun mahasiswa, turun kejalan, turun ke rakyat dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komonitas yang lain ,peran ini menjadi symbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita.
    4. Peran politik
    Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini.

    Dari keempat peran mahasiswa di atas maka dapat dilihat peran yang sangat berperan apabila terjadi bencana alam adalah peran sosial mahasiswa. Dimana mahasiswa memiliki solidaritan yang tinggi dalam membantu Negara Indonesia ini. Dan menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini; mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di mentawai Sumatra, banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta, banjir bandang di wasior, dan sekarang gunung bromo juga meletus, semua hal itu merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Seharusnya mahasiswa tidak cukup hanya menjadi praktisi intelektual akademisi yang hanya duduk sambil mendengarkan dosen di dalam forum perkuliahan, hanya berkutat pada dunia perkuliahan, lebih daripada itu mahasiswa harusnya dituntut untuk berperan dalam agen perubahan (agent of change) dan social control yang terjadi di sekitarnya. Masa depan negeri ini membutuhkan keterlibatan mahasiswa dalam berbagai hal dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya dan kegiatan-kegiatan intelektual yang dilakukan.
    Mahasiswa seharusnya perlu berperan aktif lebih banyak lagi dalam berbagai persoalan, terutama menyangkut pesoalan bangsa. Fungsi kontrol perlu ditunjukkan oleh mahasiswa. Karena peran mahasiswa sangat diharapkan oleh masyarakat, tak berlebihan jika banyak harapan yang dipikul oleh mahasiswa. Sebab dalam kerangka sosial mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang cukup penting.
    Peristiwa Meletusnya Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10) menarik perhatian dari berbagai pihak, termasuk televisi. Tak mengherankan jika stasiun televisi kemudian beramai-ramai menyiarkan program breaking news untuk memantau kondisi terkini yang datang dari atas Merapi. Beberapa stasiun televisi menampilkan hiruk-pikuk yang terjadi di rumah sakit ketika dokter sedang mengobati para korban erupsi Merapi.
    Dalam salah satu adegan digambarkan bagaimana keadaan korban yang datang dengan darah yang menempel di sekujur tubuh. Ada juga adegan seorang ibu menangis terisak-isak karena anaknya meninggal dunia. Sementara dalam adegan yang lain diperlihatkan ketika tim SAR sedang mengevakuasi mayat yang ditemukan di sekitar rumah Mbah Maridjan. Adegan itu diikuti dengan narasi yang menyebutkan bahwa mayat-mayat korban erupsi bergelimpangan di jalan. Fakta-fakta tersebut diperlihatkan dengan gamblang bahkan terkesan vulgar. Tidak hanya melalui satu gambar yang diputar berulang-ulang kali tetapi juga melalui pemilihan kata yang berlebihan. Sebagai contoh, sang reporter televisi ketika di rumah sakit mengatakan bahwa “banyak mayat-mayat bergelimpangan” sementara di sekelilingnya banyak korban yang masih merintih kesakitan. Reporter bahkan menggunakan kata “melarikan diri” alih-alih mengatakan bahwa warga “mengungsi”.Ada upaya untuk melakukan dramatisasi kejadian di medan bencana. Dalam wawancara dengan korban, reporter salah satu stasiun televisi swasta nasional bahkan secara bertubi-tubi bertanya kepada korban yang nampak kelelahan. Kondisi ini tentu menyalahi kode etik yang sudah ditentukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia.
    Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ke tempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan.
    Nama : Ni Nyoman Ayu Astiti
    Nim : 08/271671/DPA/3052
    Prodi : D3 Rekam Medis
    Refernsi
    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/ diakses tanggal 30 november 2010
    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam diakses tanggal 4 desember 2010
    http://kammipolban.wordpress.com/2007/05/03/4-peran-mahasiswa/ diakses tanggal 30 november 2010
    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/ diakses tanggal 4 desember 2010

    Posted by Ni Nyoman Ayu Astiti | 4 December 2010, 4:06 pm
  30. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejanisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 14 jenis ancaman terjadinya bencana. Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagaln teknologi, epidemi dan wabah penyakit serta konflik sosial.
    Wilayah Indonesia yang terhampar dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Hampir tiap hari kita mendengar ada bencana di berbagai daerah, baik yang ringan maupun yang berat seperti tsunami. Beragam bencana alam berupa longsor, gempa, tsunami dan sebagainya terus melanda Negeri tercinta, Indonesia. Bencana terakhir, yang mengetuk hati kita adalah gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat dan aktivitas gunung merapi di D.I. Yogyakarta-Jawa Tengah. Untuk menghadapi berbagai bencana seperti itu, perlu adanya pemahaman dari setiap unsur masyarakat. Apabila terjadi bencana, tidak saja menjadi tugas pemerintah pusat atau daerah saja, tetapi seluruh unsur masyarakat perlu ikut serta bahu-membahu menanggulanginya. Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia, namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia, sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai sadar dari segala kemewahan yang kita rasakan.
    Lebih-lebih selama 4 tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Banjir bandang di Wasior Papua Barat telah memakan puluhan korban, ratusan luka-luka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya. Banjir bandang terjadi Senin 4 Oktober 2010 pagi akibat hujan lebat yang turun terus-menerus selama 6 jam di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Delapan kampung terendam banjir, yakni Kampung Wasior I dan II, Kampung Rado, Kampung Moru, Kampung Maniwak, Kampung Manggurai, Kampung Wondamawi dan Kampung Wondiboy. Sekitar 200 rumah di dua desa di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, senin 25 Oktober 2010 sekitar pukul 21.42 tersapu gelombang tsunami sesaat setelah gempa 7,2 skala Richter menguncang wilayah tersebut.Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dan yang terbaru yaitu meletusnya gunung Bromo yang ad di Jawa Timur. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia. Bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Sistem pembangunan yang selama ini kita anut kurang memperhatikan faktor alam yang ada, sudah saatnya sistem kuno ini kita rubah dengan sistem baru yang lebih berbasis lingkungan. Para arsitek dan insinyur bangunan haruslah memperhatikan dampak pembangunan sebuah gedung terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak hanya cantik dilihat dan kokoh namun bangunan tersebut haruslah bersinergi dengan alam. Perundang–undangan yang selama ini mengatur tentang tata laksana konstruksi sebuah bangunan juga harus dirubah. Harus ada aturan yang tegas untuk melarang didirikannya bangunan di lahan lahan daerah resapan air, lereng -lereng gunung serta bukit. Selain itu Ketegasan pemerintah dalam menghukum para pelaku pembalakan liar harus
    Masyarakat pun yang menjadi korban akibat bencana yang menimpa daerah tersebut. Karena bencana tidak pandang bulu atas korban yang akan dihantamnya. Selain itu, pemerintah sebagai yang paling bertanggungjawab dalam menjamin keselamatan rakyat juga lamban, bahkan terkesan lalai. Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana.
    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Dalam perjalanan bangsa kita selama 102 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 82 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 65 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 12 tahun terakhir sejak reformasi, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Saking banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan.
    Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa harus lebih tanggap bencana dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Tanpa ketanggapan dan ketangguhan mahasiswa tidak akan bisa menjadi relawan, dermawan dan pendamping masyarakat.
    Mahasiswa dan kalangan akademisi sebagai bagian dari masyarakat harus memiliki pemahaman dalam menghadapi bencana tersebut. Pemahaman ini tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat berguna bagi masyarakat di sekitarnya. Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana-bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat diharapkan dapat membantu mensosialisasikan kebijakan bencana kepada masyarakat umum. Mahasiswa diharapkan menjadi sumber daya relawan yang kelak dapat dibutuhkan sewaktu-waktu saat terjadi bencana. Mahasiswa dengan menjadi sumber daya relawan dapat membangkitkan rasa cinta tanah air dan memberikan pencerahan kepada masyarakat akan pentingnya kesadaran dalam menanggulangi bencana.
    Salah satu isu yang dihadapi dalam penanggulangan bencana adalah kapasitas sumber daya menghadapi bencana belum optimal. Perguruan tinggi merupakan salah satu komponen penting yang akan memberikan dukungan, mewujudkan ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Mahasiswa sebagai komponen utama perguruan tinggi, merupakan aset dalam penanganan bencana. Mahasiswa mempunyai peranan penting menangani bencana. Libatkan LSM Dalam melaksanakan langkah strategi penanggulangan, BNPB tidak hanya merangkul perguruan tinggi untuk bekerjasama, tetapi juga pengusaha dan LSM.
    Pada saat-saat seperti ini, saat semua orang berkonsentrasi pada usaha ke-gawat-darurat-an penanganan langsung korban2 bencana (Wasior, Mentawai, Merapi), mungkin tidak terlalu banyak yg bisa dilakukan oleh kalangan saintis maupun praktisi ilmu kebumian yg sesuai dg jalur profesinya. Diantara kita ada yg ikut serta dalama arus besar kerja sukarela SAR (kalau mampu),penanganan pengungsi (kalau ada waktu), penyediaan air bersih sarana dan prasarana darurat (kalau memang ada di sektor yg bersesuaian), atau mungkin ikutan meneliti aspek2 terbaru dr fenomena geologinya shg bisa dipakai langsung dlm usaha relokasi recovery (nantinya) atau mitigasi-prediksi untuk membuat gambaran proses bencana geologi ini lebih lengkap jadinya.
    Tahapan bencana diatur dalam UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dalam UU itu, tahapan penanggulangan bencana dibagi menjadi tiga, yaitu pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana. Tahapan pra bencana merupakan upaya penanggulangan dalam situasi tidak ada bencana atau terdapat potensi terjadi bencana. Misalnya, perencanaan penanggulangan bencana, pendidikan dan pelatihan, serta penetapan persyaratan standar teknis penanggulangan bencana. Sementara, tahapan tanggap darurat merupakan upaya penanggulangan segera setelah terjadinya bencana. Tahapan ini meliputi penentuan status keadaan darurat bencana, penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan terhadap kelompok rentan, dan pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.
    Jadi peran kita sebagai mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejanisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia adalah segera tanpa dikomando melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Sebagai relawan harus membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian, dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara-saudara kita selamat. Peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa ditunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti : friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi. Yang terpenting rasa ikhlas dan semangat untuk membantu sesama.

    REFERENSI

    http://anakdjogja7.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html Diakses 30 November 2010 pukul 18.05 WIB
    http://blogpanas.info/banjir-bandang-di-wasior-papua-barat Diakses 2 Desember 2010 pukul 20.38 WIB
    http://dmrosyid.wordpress.com/ Diakses 1 Desember 2010 pukul 20.00 WIB
    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/14/mahasiswa-harus-lebih-tenggap-bencana/ Diakses 30 November 2010 pukul 19.12 WIB
    http://indonesianmuslim.com/tingkat-kesiapan-masyarakat-indonesia-dalam-menghadapi-bencana.html Diakses 30 November pukul 20.14 WIB
    http://groups.google.com/group/bencana/browse_thread/thread/ad9c60a196e2bd5f/9bf1c1d7035b1a6e Diakses 2 Desember 2010 pukul 19.49 WIB
    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/ Diakses 1 Desember 2010 pukul 20.51 WIB
    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html Diakses 2 Desember 2010 18.36 WIB
    http://regional.kompas.com/read/2010/10/26/14404273/Tsunami.di.Mentawai.Setinggi.2.Meter Diakses 1 Desember 2010 pukul 17.45 WIB
    http://rifaifibika.blogspot.com/2010/11/peran-para-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html Diakses 2 Desember 2010 pukul 19.07 WIB
    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/10/17/84365/Peran-Mahasiswa-Tanggap-Bencana Diakses 2 Desember 20.48 WIB
    http://www.balairungpress.com/2010/11/bencana-alam-bencana-jurnalisme/ Diakses 1 Desember 2010 pukul 20.31 WIB
    http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=7612 Diakses 30 November 2010 pukul 17.57 WIB
    http://www.tumblr.com/tagged/perencanaan/page/2/1518203984 Diakses 1 Desember 2010 pukul 19.22 WIB
    http://www.unpad.ac.id/archives/37459 Diakses 30 November 2010 pukul 20.24 WIB

    Nama : Kustini Dwi Lestari
    NIM : 08/271592/DPA/3024
    Prodi : REKMED B

    Posted by Kustini Dwi Lestari | 4 December 2010, 3:36 pm
  31. PERAN MAHASISWA DALAM PENANGANAN BENCANA ALAM

    SEPEKAN terakhir ini berita mengenai bencana alam mendominasi halaman-halaman media massa kita. Mulai dari angin kencang, tanah longsor, puting beliung hingga banjir bandang di Wasior Papua Barat. Untuk bencana banjir di Wasior sendiri telah memakan puluhan korban, ratusan lukaluka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya. Lantas apa yang bisa dilakukan institusi kampus menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti akhir-akhir ini? Sejauh ini kalangan mahasiswa dan dunia kampus pada umumnya lambat merespon jika dibanding menanggapi isu-isu lain. Sebut saja isu skandal politik, hura-hura pejabat negara, mafia hukum dan semacamnya yang langsung ditanggapi secara serius oleh kampus. Sementara untuk isu bencana alam seakan-akan bukan isu yang penting untuk ditanggapi.
    Kampus jangan sampai mewakili sikap pemerintah yang biasanya lamban menanggulangi korban bencana alam. Seperti yang terjadi pada saat bencana banjir di Wasior, pemerintah baru menetapkan status siaga bencana dua hari pascakejadian. Padahal di saat bersamaan, institusi
    lain seperti TNI, Palang Merah Indonesia (PMI), serta LSM-LSM yang concern di bidang bencana sudah turun ke lapangan sesaat setelah kejadian.
    Kampus sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kampus akan terus dibutuhkan.
    Kiprah dunia kampus dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih kurang (untuk mengatakan tak ada sama sekali). Kita tak bisa menafikan begitu saja bagaimana getolnya mahasiswa- mahasiswa kita yang turut aktif mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun silam.
    Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi di Padang di jalan-jalan dan sebagainya.
    Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia kampus di atas hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana.
    Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus.
    Di sinilah kampus harus melebarkan sayapnya untuk berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat
    luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi.
    Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Para pemangku kebijakan kampus juga sudah selayaknya merespon hal ini. Pengelola kampus perlu memberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi bagi seluruh sivitas akademiknya. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Karena itulah, dalam rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa dan Pengenalan Kampus (OSPEK) perlu disisipkan materi ini. Paradigma OSPEK harus diubah yang semula cenderung sebagai kegiatan perpeloncoan menjadi kegiatan yang edukatif, salah satunya keterampilan menghadapi bencana.
    Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Andai peran ini baik pra maupun pascabencana bisa dimainkan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampus, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Perlu digarisbawahi lagi bahwa kegiatan ini bukan bermaksud untuk menolak bencana, melainkan sebagai ikhtiar guna penyelamatan dini terhadap bencana alam. f Muhammad Safrodin Aktivis mahasiswa, relawan Gempa Bumi Yogyakarta 2006.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan.
    Tidak hanya mahasiswa didalam negeri yang prihatin terhadap apa yang telah menimpa masyarakat Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di luar indonesia juga melakukan aksi social untuk korban bencana alam. Keterlibatan mereka menjadi relawan dikarenakan mereka turut merasakan apa yang dirasakan oleh korban. Karena tidak dapat turun langsung ke lapangan, mereka berinisiatif menolong dengan menggelar aksi pengumpulan dana. Salah satu contohnya adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di sejumlah universitas di Malaysia melakukan kegiatan penggalangan dana untuk membantu para korban bencana alam yang terjadi di Indonesia, seperti tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, dan erupsi Gunung Merapi Yogyakarta. Tidak hanya materi yang bias diberikan mereka, ada sejumlah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri orang membantu dengan doa seperti yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Russia yaitu dengan sholat gaib yang difasilitasi Persatuan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA) itu, diikuti tidak kurang dari 20 mahasiswa asing di Rusia serta mahasiswa Indonesia yang ada di Rusia.
    “Sholat gaib ini adalah bentuk empati kami, bahwa Indonesia adalah saudara kami,” ujar mahasiswa S3 jurusan sejarah Patric Lumumba, asal Yaman, Muhammad Siyagi. Menurut Khoirul, sholat gaib oleh mahasiswa asing yang ada di Rusia tersebut, merupakan salah satu acara rangkaian yang dikoordinir oleh PERMIRA untuk bencana yang terjadi di Indonesia.

    DAFTAR PUSTAKA :

    http://www.google.com/url?sa=D&q=http://www.wawasandigital.com/index.php%3Foption%3Dcom_content%26task%3Dview%26id%3D42175%26Itemid%3D62&usg=AFQjCNG1KGl8ASHWJ20fAnjaQrmErJb_zw

    SRI KABUL SAPUTRO
    08/273922/DPA/3118
    DIPLOMA REKAM MEDIS UGM

    Posted by Sri Kabul Saputro | 4 December 2010, 2:45 pm
  32. PERANAN MAHASISWA DALAM KEJADIAN – KREJADIAN BENCANA YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA
    Indonesia merupakan negara yang memiliki keadaan alam yang sangat rawan bencana. Bencana di Indonesia tidak hanya berbentuk satu macam, ada bermacam-macam bencana yang sering terjadi di Indonesia, diantaranya gempa bumi bahkan gempa bumi yang besar bisa menyebabkan tsunami seperti yang terjadi di Aceh dan Pangandaran, juga banjir dan tanah longsor yang setiap musim penghujan tiba sangat sering terjadi. Belum lama ini bencana besar juga melanda di berbagai wilayah di Indonesia diantaranya, tsunami di Mentawai, banjir bandang di Wasior Papua, dan letusan gunung Merapi di Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah yaitu di Magelang dan Klaten juga Boyolali.
    Mahasiswa dalam hal ini tentunya sebagai manusia dalam usia produktif harus bisa ikut dalam upaya penanggulangan bencana yang terjadi di Indonesia. Peran mahasiswa diantaranya yaitu peran moral, sosial, akademik dan politik. Dalam hal ini tentunya peran sosial mahasiswa yaitu mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya..
    Berbagai macam pertemuan mahasiswa dari berbagai macam universitas di Indonesia diadakan untuk membahas upaya penanggulangan bencana di negeri ini. Seperti contoh pertemuan mahasiswa yang diadakan di Gedung Rektorat Institut Teknologi Surabaya. Acara ini diadakan oleh BEM ITS dan Departemen Pengabdian Masyarakat yang bertajuk Lokakarya Pendayagunaan Potensi Mahasiswa dalam Penanggulangan Bencana. Beberapa mahasiswa yang datang antara lain dari ITB, Universitas Negeri Semarang , IPB, dan Universitas Syah Kuala Aceh. Acara tersebut bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk dapat membagi pengalamannya tentang penanggulangan bencana. Diantaranya mahasiswa dari Universitas Syah Kuala bisa membagi pengalamannya dalam upaya penanganan bencana tsunami di Aceh, mahasiswa dari Jember bisa membagi pengalamannya dalam upaya penanganan bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi setiap tahun, sedangkan dari ITS akan mempresentasikan pengalamannya dalam ikut serta menangani bencana semburan lumpur di Sidoharjo
    Hal yang dapat dilakukan mahasiswa dalam penanggulangan bencana sangatlah banyak diantaranya dapat menjadi relawan ataupun sukarelawan di daerah bencana tersebut. Bagi kemampuan akademik, mahasiswa sendiri dalam penanggulangan bencana bisa menjadi sebagai kuliah nyata ataupun bisa menjadi semacam kuliah praktek bagi mereka. Sebagai contoh mahasiswa dari jurusan kedokteran dan keperawatan bisa langsung terjun ke lapangan, di barak pengungsian contohnya, mereka bisa menyalurkan ilmu mereka untuk langsung menangani pengungsi yang sakit, hal tersebut sangatlah membantu, contoh yang lain pada saat terjadi bencana yang sangat memakan korban banyak misalnya bencana letusan Gunung Merapi yang terjadi di wilayah Yogyakarta, dan sebagaian wilayah Jawa Tengah. Bencana tersebut mengakibatkan banyak korban, baik korban meninggal maupun korban luka bakar berat dan ringan, pada saat kondisi darurat tersebut terutama di rumah sakit sangatlah dibutuhkan banyak relawan medis untuk membantu menangani korban bencana letusan gunung berapi, disana sangat dibutuhkan banyak perawat maupun dokter untuk menangani korban yang sebagaian besar korban mengalami luka bakar berat dan ringan. Dalam kondisi tersebut tentunya mahasiswa kedokteran dan keperawatan sangatlah dibutuhkan sekali untuk membantu para dokter di rumah sakit tersebut dalam menangani korban, karena tidak mungkin dalam kondisi darurat, korban yang sangat banyak bisa semuanya ditangani oleh dokter yang jumlahnya terbatas. Selain membantu dengan menjadi relawan medis, mereka juga bisa mengasah kemampuan mereka dalam menangani korban di lapangan.
    Sebagai contoh nyata diantaranya PM KM ITB melalui satuan tugas Ganesha Rescue KM ITB mengaharapkan bantuan serta kerjasama dari seluruh rekan-rekan mahasiswa ITB untuk membantu korban gempa di Sumatra Barat, diantaranya Penggalangan dana, baik di tiap kelas, himpunan, maupun sekretariat unit. Saat ini, kita masih belum memiliki data lengkap mengenai barang apa saja yang dibutuhkan oleh korban di sana. Pada tanggal 2 September 2009 terjadi gempa di Tasikmalaya dan sekitarnya termasuk Garut, Pamengpeuk, Cianjur, dan Pangalengan. Satuan tugas Ganesha Rescue PM KM ITB bekerja sama dengan KORSA (Korp Relawan Salman) melakukan tanggap bencana di Kampung Narogtog Desa Margamulya Kecamatan Pangalengan. , kegiatannya yaitu 1. Asesment data Di desa Margamulya Sekolah ceria untuk anak – anak SDN 1 Pangalengan, SDN 3 Pangalengan, dan SMP Pasundan Pangalengan. Sekolah ceria ini bekerja sama dengan WVI( World Vission Indonesia)3. Pengobatan gratis, dilakukan mobile disekitar Desa Margamulya dengan bantuan Dokter dari Unpad 4. Distribusi bantuan logistik di Desa Margamulya.
    Sebagai bentuk nyata kepedulian UGM terhadap terjadinya bencana alam khususnya erupsi Gunung Merapi, setidaknya sekira 500 mahasiswa KKN-PPM Peduli Bencana (PB) UGM hari ini diterjunkan ke beberapa lokasi yang terkena dampak bencana alam tersebut. Pelepasan ratusan mahasiswa KKN-PPM Peduli Bencana dilakukan langsung oleh Rektor UGM Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng, Ph.D, di Balairung UGM
    Kegiatan KKN-PPM PB UGM, imbuh Wisnu, berlangsung pada 10 November-10 Desember 2010 mendatang. Ada empat lokasi KKN-PPM PB, yaitu Sleman (Maguwoharjo dan Turgo), Magelang, Boyolali, dan Klaten. Para mahasiswa berasal dari sekira 12 fakultas seperti dari Kedokteran, Biologi, Farmasi, Ilmu Budaya, Isipol, Filsafat, Hukum, Ekonomika dan Bisnis, MIPA, Teknik, Kehutanan dan Peternakan.
    Kegiatan KKN-PPM UGM PB dilakukan berdasarkan skala prioritas yang mengacu pada tujuh program pokok KKN-PPM UGM PB, antara lain: logistik, kesehatan-psikologi, infrastruktur, pendidikan, pemulihan ekonomi, administrasi publik serta mitigasi bencana.
    Bencana selain menyebabkan banyak korban berjatuhan juga menyebabkan banyak masyarakat di daerah bencana mengungsi. Pengungsian besar-besaran atau dalam jumlah yang sangat banyak mencapai ribuan orang yang mengungsi, menyebabkan pemerintahan daerah sedikit kesulitan untuk mengatasinya, tentunya sangat membutuhkan banyak relawan untuk membantu mengurus masyarakat yang mengungsi. Dalam hal ini, peran sosial mahasiswa sangat dibutuhkan, tidak sedikit atau mungkin banyak sekali mahasiswa yang bersedia menjadi relawan untuk tinggal di barak pengungsian dan mengurus pengungsi. Bencana yang terjadi akhir-akhir ini yaitu tsunami di Mentawai, banjir bandang di Wasior dan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta dan sebagaian wilayah Jawa Tengah menyebabkan banyak sekali masyarakat yang harus mengungsi agar mereka selamat, banyak juga mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia yang dikirim untuk menjadi relawan di daeran bencana, mereka mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk membantu para pengungsi, dan menyiapkan segala keperluan para pengungsi.

    Referensi:
    http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=3412
    http://kammipolban.wordpress.com/2007/05/03/4-peran-mahasiswa/
    http://suarausu-online.com/new/index.php?option=com_content&view=article&id=387:mahasiswa-kedokteran-harus-berperan-aktif-saat-bencana&catid=34:kampus&Itemid=29
    • Blok Keluarga mahasiswa ITB
    • Home OKEZONE.COM
    Nama: Arroyanti Istiqomah
    NIM: 08/271621/DPA/3037

    Posted by Arroyanti Istiqomah | 4 December 2010, 2:39 pm
  33. Peranan mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian seperti bencana alam tsunami, banjir, gunung meletus, gempa, atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia ini menurut saya sangat banyak bila dijabarkan satu persatu. Dapat diambil sebuah contoh yang terjadi dikampus saya “Universitas Gadjah Mada” dalam menangani dan mengatasi bencana para mahasiswa langsung tergerak melakukan penggalangan dana dengan berbagai cara, ada yang dengan cara mengamen, ada yang dengan cara mendatangi setiap kelas untuk meminta penyaluran dana dari rekan-rekan mahasiswa. Menurut saya hal itu dapat dijadikan sebuah contoh bahwa para mahasiswa Indonesia ternyata cepat tanggap mengenai bencana yang terjadi di Indonesia ini. Karena pada kenyataannya dalam keadaan Indonesia berduka para mahasiswa mampu membuktikan kalau mereka mampu ikut serta berpartisipasi dalam menangani bencana itu dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat dan melakukan misi-misi kemanusiaan. Bahkan jika saya lihat dari pemberitaan di media yang ada sekarang peran mahasiwa dalam menangani bencana juga ternyata cukup banyak bahkan ada yang dengan sukarela ikut berangkat ke tempat terjadinya bencana hanya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang berduka. Dan hal itu dilakukan dengan cuma-cuma tanpa mengharapkan imbalan apapun,mereka tergerak atas dasar rasa kemanusiaan. Dari sini saya rasa kita tidak bisa hanya melihat para pemuda dari sebelah mata karna pada kenyataannya banyak hal positif yang dilakukan oleh para pemuda di zaman sekarang. Hal ini juga menandakan bahwa para mahasiswa masih mempunyai rasa kemanusian dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah. Bukan hanya sekedar menimba ilmu di kampus saja yang bisa mereka lakukan tetapi juga hal-hal positif yang lain bisa mereka lakukan demi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana. Sehingga tampak jelas bahwa para mahasiswa juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini. Peran mahasiswa bagi bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum.
    Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, “ruh perubahan” itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia. Maka dari itu masyarakat seharusnya dapat belajar dari peristiwa-peristiwa bencana alam yang kerap melanda di negara Indonesia tercinta ini, dengan harapan tak akan ada lagi perselisihan di negeri kita tercinta sehingga cita-cita bangsa Indonesia akan tercapai. Semua elemen saling bahu-membahu membantu satu sama lain untuk terciptanya suatu bangsa yang kuat persatuannya dalam menghadapi setiap kesulitan apapun.

    Nama : Harianto Wicaksono
    Nim : 06/ 200429/ DPA/ 02566
    Prodi : D3 Rekam Medis

    Referensi : Muhammad Rifai Blog’s

    Posted by Harianto Wicaksono | 4 December 2010, 2:37 pm
  34. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Indonesia menangis, mungkin itu kalimat yang pantas untuk menggambarkan keadaan bangsa indonesia saat ini. Gimana tidak akhir-akhir ini bangsa Indonesia sedang tertimpa bencana mulai dari angin kencang, tanah longsor, puting beliung, gempa di padang, banjir bandang di Wasior Papua Barat hingga meletusnya gunung merapi di Yogyakarta. Bencana-bencana tersebut telah memakan ratusan korban meninggal dunia, ratusan korban luka-luka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan bahkan mereka juga kehilangan sanak keluarga mereka. Bencana atau disaster menurt Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan). Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana.
    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempen Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Dr Syamsul Maarif MSc, saat membuka seminar nasional ”Penanganan Bencana Alam: Antara Teknologi dan Kearifan Masyarakat Lokal” di Balairung UKSW, Jumat (30/4). Seminar digelar dalam rangka peresmian Pusat Studi Bencana (PSB) UKSW yang dipimpin Dr David Samiyono dan penandatangan MoU antara UKSW dengan BNPB RI. Pembicara dalam seminar itu Yulius Nakmofa (ketua Perkumpulan Peduli Bencana NTT) dan Ali Imam (relawan Emergency and Disaster Universitas Brawijaya). ”Paling tidak BNPB mencatat ada 14 jenis ancaman (hazard) terjadinya bencana berdasarkan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 BNPB,” kata Syamsul.
    Mahasiswa sebagai komponen utama perguruan tinggi, merupakan aset dalam penanganan bencana. ”Mahasiswa mempunyai peranan penting menangani bencana”. Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, peran mahasiswa yang bisa dilakukan yaitu mengantisipasi sebelum terjadinya bencana dan pascabencana. Yang dimaksud peran sebelum terjadinya bencana yaitu upaya untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam karena bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Tindakan yang bisa mereka berikan yaitu dengan cara mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin. Selain itu, hal yang paling utama yang harus dilakukan yaitu menjaga dan melestarikan lingkungan kita dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang hutan sembarangan, mencanangkan menanam 1000 pohon, dan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Karena perlu kita ingat bumi kita kini tidak muda lagi. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Mungkin bumi ini akan selalu ada untuk kita apabilakita sebagai generasi muda melakukan hal-hal positif yang tidak merusak bumi ini dan selalu menjaga dan melestarikannya.
    Selain peran pra-bencana, yang tidak kalah penting yaitu peran kita sebagai mahaasiswa dalam menghadapi tanggap darurat bencana yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai pemuda seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana. Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moriil seperti kita ikut menjadi sukarelawan atau membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menggalang dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Selain itu, bisa menyumbangkan baju yang layak pakai untuk para korban, menyumbangkan barang-barang yang dibutuhkan para korban seperti makanan (nasi, snack, makanan untuk balita,dll), minuman, peralatan mandi ( handuk, pasta gigi, sikat gigi, sabun, shampo), pakaian dalam baik untuk wanita maupun laki-laki, pampers baik untuk balita maupun untuk manula. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana. Pada intinya ketika kita terjun langsung menjadi relawan kita akan tahu secara langsung, lebih merasa dekat dengan sesama tahu akan bagaimana perasaan mereka, disinilah peran kita perlu diaplikasikan. Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana.
    Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Sehingga masyarakat tidak hanya bertumpu pada tradisi yang sudah melekat dalam kehidupan mereka tetapi juga perlu mempertimbangkan pengetahuan sesuai perkembangan tekhnologi. Selain itu kita harus tetap berdoa kepada Tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negeri ini segera berakhir.

    REFERENSI

    http://alumnitlunand.makingforum.com/info-infoan-f7/bencana-alam-dan-peran-kampus-t22.htm

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/pemuda-dan-mahasiswa-indonesia-optimisme-menuju-pencerahan-masa-depan-bangsa/

    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html

    http://indonesianmuslim.com/tingkat-kesiapan-masyarakat-indonesia-dalam-menghadapi-bencana.html

    http://jokohendro.blogspot.com/

    http://m.suaramerdeka.com

    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42175&Itemid=62

    Nama : Furi Linanda
    Nim : 08/271560/DPA/3002
    Kelas : Rekmed B

    Posted by FURI LINANDA | 4 December 2010, 2:09 pm
  35. Nama : Natalia Christianingsih
    NIM : 08/271291/DPA/2902
    Kelas : Rekmed B

    Peranan Mahasiswa Dalam Menghadapi Kejadian Bencana Yang Kerap Terjadi di Indonesia

    Mahasiswa sebagai pelaku utama dan agent of exchange dalam gerakan-gerakan pembaharuan memiliki makna yaitu sekumpulan manusia intelektual, memandang segala sesuatu dengan pikiran jernih, positif, kritis yang bertanggung jawab, dan dewasa. Secara moril mahasiswa akan dituntut tangung jawab akademisnya dalam menghsilkan “buah karya” yang berguna bagi kehidupan lingkungan.
    Edward Shill mengkategorikan mahasiswa sebagai lapisan intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial yang khas. Shill menyebutkan ada lima fungsi kaum intelektul, yakni mencipta dan menyebar kebudayaan tinggi menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa, membina keberdayan dan bersama mempengaruhi perubahan sosial dan memainkan peran politik
    Peran mahasiswa bagi bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum. Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, “ruh perubahan” itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.
    Selain itu mahasiswa juga mempunyai peran sosial yang sangat penting untuk diterapkan di masyarakat. Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Sebagai contoh di Kalimantan Barat pada tahuan 1998 s/d 2000 pernah terjadi gelombang pengungsian besar – besaran akibat konflik sosial di daerah ini maka mahasiswa musti ikut memperhatikan masalah ini dengan memberikan bantuan baik secara moril maupun meteril serta pemikirannya serta ikut mencarikan solusi penanganan bencana kemanusiaan ini . Betapa peran sosial mahasiswa jauh dari pragmatisme ,dan rakyat dapat merasakan bahwa mahasiswa adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dari rakyat, walaupun upaya yang sistimatis untuk memisahkan mahasiswa dari rakyat telah dan dengan gencar dilakukan oleh pihak – pihak yang tidak ingin rakyat ini cerdas dan sadar akan problematika ummat yang terjadi.

    Terjadinya bencana alam gempa bumi secara beruntun di Pariaman, Padang Sumatera Barat di Sungaipenuh Jambi, Banjir Badang Wasior, dan Merapi Yogyakarta menggerakkan hati kita untuk berbagi informasi terkait beberapa pengertian dan istilah yang terkait dengan bencana alam. Pengertian bencana atau disaster menurt Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan).Dengan cara demikian, kita akan semakin memiliki pengetahuan tentang bencana alam sekaligus bagaimana pemerintah Indonesia mengatur penanggulangan bencana dan bagaimana peran kita sebagai mahasiswa. Secara etimologis, bencana adalah gangguan, goodaan, tipuan atau sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan kesusakan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya. Kata bencana selalu identik dengan sesuatu dan stuasi negatif yang dalam bahasa Inggris sepadan dengan kata disater. Disaster berasal dari Bahasa Yunani, disatro, dis berarti jelek dan astro yang berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi.
    Karena begitu banyaknya bencana alam yang terjadi di Indonesia ini, maka kita sebagai mahasiswa harus bisa berperan aktif sebagai salah satu bentuk tanggap bencana. Kita bisa menjadi relawan dan membantu korban bencana, upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat, upaya untuk serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi, membantu masyarakat perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana, membantu masyarakat dalam serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa dalam menghadapi berbagai bencana yang kerap terjadi di Indonesia. Memberikan penghiburan bagi para korban bemcana adalah salah satu hal positif yang juga bisa kita lakukan. Sehingga psikostress yang ditimbulkan akibat bencana alam dapat dihindari para korban. Selain itu kita sebagai mahasiswa harus bisa mengayomi para korban bencana.
    Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Sehingga masyarakat tidak hanya bertumpu pada tradisi yang sudah melekat dalam kehidupan mereka tetapi juga perlu mempertimbangkan pengetahuan sesuai perkembangan tekhnologi. Selain itu kita harus tetap berdoa kepada Tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negeri ini segera berakhir.

    Referensi :
    · ashsholikhin.wordpress.com/…/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/ –
    · http:JHS COMPANY BLOG.htm
    · http:Pengertian Dan Istilah-Istilah Bencana Alam DAN Bahaya Rokok _ Ambarwahyuni’s Blog.htm
    · http:ashsholikhin.wordpress.com/…/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/ –
    · http : padjajaran virtual live/masyarakat perlu memahami penanggulangan bencana.htm
    · http://www.kompasiana.com
    · kangnawar.com/bencana/pengertian-dan-istilah-istilah-bencana-alam
    · Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

    Posted by NATALIA CHRISTIANINGSIH | 4 December 2010, 2:00 pm
  36. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian – kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di Negara Indonesia.
    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana – bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi ddan lautan membuat Negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan. Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘Sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan. Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Demikian halnya dengan kita.
    Bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Sistem pembangunan yang selama ini kita anut kurang memperhatikan faktor alam yang ada, sudah saatnya sistem kuno ini kita rubah dengan sistem baru yang lebih berbasis lingkungan. Para arsitek dan insinyur bangunan haruslah memperhatikan dampak pembangunan sebuah gedung terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak hanya cantik dilihat dan kokoh namun bangunan tersebut haruslah bersinergi dengan alam. Perundang – undangan yang selama ini mengatur tentang tata laksana konstruksi sebuah bangunan juga harus dirubah. Harus ada aturan yang tegas untuk melarang didirikannya bangunan di lahan lahan daerah resapan air, lereng – lereng gunung serta bukit. Selain itu Ketegasan pemerintah dalam menghukum para pelaku pembalakan liar harus digalakkan karena fungsi hutan sangatlah kompleks untuk menjaga keseimbangan alam kita. Sepekan terakhir ini berita mengenai bencana alam mendominasi halaman media massa kita. Mulai dari angin kencang, tanah longsor, putting beliung hingga banjir bandang di Wasior Papua Barat. Untuk bencana banjir di Wasior sendiri telah memakan puluhan korban. Ratusan luka-luka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya. Lantas apa yang bisa dilakukan institusi kampus menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti akhir-akhir ini? Sejauh ini kalangan mahasiswa dan dunia kampus pada umumnya lambat merespon jika dibanding menanggapi isu-isu lain. Sebut saja isu skandal politik, hura-hura pejabat negara mafia hukum dan semacamnya yang langsung ditanggapi secara serius oleh kampus. Sementara untuk isu bencana alam seakan-akan bukan isu yang penting untuk ditanggapi. Kampus jangan sampai mewakili sikap pemerintah yang biasanya lamban menanggulangi korban bencana alam. Seperti yang terjadi pada saat bencana banjir di Wasior. Pemerintah baru menetapkan status siaga bencana dua hari pasca kejadian.
    Kampus sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana-bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat Negara ini rentan terhadap bencana alam, maka. uluran tangan dari kampus akan terus dibutuhkan. Kiprah dunia kampus dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih kurang ( untuk mengatakan tak ada sama sekali ). Kita tak bisa menafikan begitu saja bagaimana getolnya mahasiswa-mahasiswa kita yang turut aktif mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun silam. Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekontruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi.
    Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia kampus di atas hanyalah penanganan pasca bencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasikan risiko buruk bencana alam. Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bias lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia kampus di atas hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan dimana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus. Di sinilah kampus harus melebarkan sayapnya untuk berada di gardu depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabenca maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan, perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Peran pemangku kebijakan kampus juga sudah selayaknya merespon hal ini. Pengelola kampus perlu memberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi bagi seluruh sivitas akademiknya. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Karena itulah, dalam rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa dan Pengenalan Kampus (OSPEK) perlu disisipkan materi ini. Paradigm OSPEK harus diubah yang semula cenderung sebagai kegiatan perpeloncongan menjadi kegiatan yang edukatif, salah satunya keterampilan menghadapi bencana. Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI). Beragam bencana alam berupa longsor gempa bumi dan sebagainya terus melanda Negeri tercinta Indonesia. Bencana terakhir yang mengetuk hati kita adalah gempa dan tsunami di Mentawai Sumatera Barat dan aktivitas gunung merapi di DIY-Jawa Tengah. Masyarakat pun yang menjadi korban akibat bencana yang menimpa daerah tersebut. Karena bencana tidak pandang bulu atas korban yang akan dihantamnya. Selain itu pemerintah sebagai yang paling bertanggungjawab dalam menjamin keselamatan rakyat juga lamban bahkan terkesan lalai. Di dalam kondisi demikian sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupundermawan tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana. Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa harus lebih tanggap bencana dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Tanpa ketanggapan dan ketangguhan mahasiswa tidak akan bisa menjadi relawan, dermawan dan pendamping masyarakat.

    Daftar Referensi:

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

    http://alumnitlunand.makingforum.com/info-infoan-f7/bencana-alam-dan-peran-kampus-t22.htm

    NAMA : FITRI WAHYUNINGRUM
    NIM : 08 / 274018 / DPA / 3138
    D III REKAM MEDIS UGM
    KEWARGANEGARAAN KELAS B

    Posted by FITRI WAHYUNINGRUM | 4 December 2010, 1:48 pm
  37. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Indonesia menangis, mungkin itu kalimat yang pantas untuk menggambarkan keadaan bangsa indonesia saat ini. Gimana tidak akhir-akhir ini bangsa Indonesia sedang tertimpa bencana mulai dari angin kencang, tanah longsor, puting beliung, gempa di padang, banjir bandang di Wasior Papua Barat hingga meletusnya gunung merapi di Yogyakarta. Bencana-bencana tersebut telah memakan ratusan korban meninggal dunia, ratusan korban luka-luka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan bahkan mereka juga kehilangan sanak keluarga mereka. Bencana atau disaster menurt Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan). Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana.
    Indonesia merupakan negeri yang rawan bencana alam. Penyebab utamanya karena Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng atau kulit bumi aktif, yakni lempen Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian timur. Penyebab lainnya adalah akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Dr Syamsul Maarif MSc, saat membuka seminar nasional ”Penanganan Bencana Alam: Antara Teknologi dan Kearifan Masyarakat Lokal” di Balairung UKSW, Jumat (30/4). Seminar digelar dalam rangka peresmian Pusat Studi Bencana (PSB) UKSW yang dipimpin Dr David Samiyono dan penandatangan MoU antara UKSW dengan BNPB RI. Pembicara dalam seminar itu Yulius Nakmofa (ketua Perkumpulan Peduli Bencana NTT) dan Ali Imam (relawan Emergency and Disaster Universitas Brawijaya). ”Paling tidak BNPB mencatat ada 14 jenis ancaman (hazard) terjadinya bencana berdasarkan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 BNPB,” kata Syamsul.
    Mahasiswa sebagai komponen utama perguruan tinggi, merupakan aset dalam penanganan bencana. ”Mahasiswa mempunyai peranan penting menangani bencana”. Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, peran mahasiswa yang bisa dilakukan yaitu mengantisipasi sebelum terjadinya bencana dan pascabencana. Yang dimaksud peran sebelum terjadinya bencana yaitu upaya untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam karena bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Tindakan yang bisa mereka berikan yaitu dengan cara mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin. Selain itu, hal yang paling utama yang harus dilakukan yaitu menjaga dan melestarikan lingkungan kita dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang hutan sembarangan, mencanangkan menanam 1000 pohon, dan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Karena perlu kita ingat bumi kita kini tidak muda lagi. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Mungkin bumi ini akan selalu ada untuk kita apabilakita sebagai generasi muda melakukan hal-hal positif yang tidak merusak bumi ini dan selalu menjaga dan melestarikannya.
    Selain peran pra-bencana, yang tidak kalah penting yaitu peran kita sebagai mahaasiswa dalam menghadapi tanggap darurat bencana yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai pemuda seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana. Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moriil seperti kita ikut menjadi sukarelawan atau membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menggalang dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Selain itu, bisa menyumbangkan baju yang layak pakai untuk para korban, menyumbangkan barang-barang yang dibutuhkan para korban seperti makanan (nasi, snack, makanan untuk balita,dll), minuman, peralatan mandi ( handuk, pasta gigi, sikat gigi, sabun, shampo), pakaian dalam baik untuk wanita maupun laki-laki, pampers baik untuk balita maupun untuk manula. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana. Pada intinya ketika kita terjun langsung menjadi relawan kita akan tahu secara langsung, lebih merasa dekat dengan sesama tahu akan bagaimana perasaan mereka, disinilah peran kita perlu diaplikasikan. Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana.
    Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Sehingga masyarakat tidak hanya bertumpu pada tradisi yang sudah melekat dalam kehidupan mereka tetapi juga perlu mempertimbangkan pengetahuan sesuai perkembangan tekhnologi. Selain itu kita harus tetap berdoa kepada Tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negeri ini segera berakhir.

    REFERENSI

    http://alumnitlunand.makingforum.com/info-infoan-f7/bencana-alam-dan-peran-kampus-t22.htm

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/pemuda-dan-mahasiswa-indonesia-optimisme-menuju-pencerahan-masa-depan-bangsa/

    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html

    http://indonesianmuslim.com/tingkat-kesiapan-masyarakat-indonesia-dalam-menghadapi-bencana.html

    http://jokohendro.blogspot.com/

    http://m.suaramerdeka.com

    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42175&Itemid=62

    Nama : Furi Linanda
    Nim : 08/271560/DPA/3002
    Kelas : Rekmed B UGM

    Posted by Furi Linanda | 4 December 2010, 1:46 pm
  38. Nama : Astuti Nurilasari
    NIM : 08/271640/DPA/3045
    Kelas : Rekam Medis A

    PERAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA ALAM
    Pengertian bencana atau disaster menurut Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan). Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
    Negara Indonesia merupakan satu dari negara-negara dunia yang sering dilanda bencana alam. Wilayah Indonesia yang terhampar dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Hampir tiap hari kita mendengar ada bencana di berbagai daerah, baik yang ringan maupun yang berat seperti tsunami. Untuk menghadapi berbagai bencana seperti itu, perlu adanya pemahaman dari setiap unsur masyarakat. Apabila terjadi bencana, tidak saja menjadi tugas pemerintah pusat atau daerah saja, tetapi seluruh unsur masyarakat perlu ikut serta bahu-membahu menanggulanginya. Seperti yang kita ketahui belum lama ini telah terjadi runtutan peristiwa bencana alam diantaranya banjir wasior, tsunami mentawai, gunung merapi meletus di Yogyakarta yang diikuti oleh peningkatan aktivitas gunung berapi lainnya di Indonesia. Mengingat negara kita yang sudah bersahabat dengan bencana alam seperti ini tentunya hati kita terketuk untuk menolong sesama bagaimana peran kita secara realita sebagai makhluk sosial dan tidak hanya berpangku pada pemerintah saja. Dalam hal ini, para jiwa muda perlu dibangkitkan untuk lebih peka dan peduli pada kehidupan bangsa ini. Disinilah peran mahasiswa dapat diaplikasikan dalam menghadapi bencana alam.
    Peran mahasiswa bagi bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia. Mahasiswa dan kalangan akademisi sebagai bagian dari masyarakat harus memiliki pemahaman dalam menghadapi bencana tersebut. Pemahaman ini tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat berguna bagi masyarakat di sekitarnya. Mahasiswa memiliki peran tanggung jawab sosial dalam membantu sesama. Terkait dengan bencana alam yang akhir-akhir ini melanda negeri ini tentunya peran mahasiswa ikut andil dalam mengantisipasi bencana alam baik sebelum terjadinya bencana maupun pascabencana. Dalam menghadapi bencana alam para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai pemuda seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana. Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moriil seperti kita ikut menjadi sukarelawan atau membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menggalang dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana. Pada intinya ketika kita terjun langsung menjadi relawan kita akan tahu secara langsung, lebih merasa dekat dengan sesama tahu akan bagaimana perasaan mereka, disinilah peran kita perlu diaplikasikan. Seperti yang sering diberitakan pada saat bencana alam gunung merapi terjadi, mungkin kita merasa jengkel atau bertanya-tanya mengapa para pengungsi banyak yang sesekali pulang melihat rumah mereka padahal bahaya mengancam mereka. Tetapi ketika kita berada didekat mereka dalam kondisi pengungsian kita akan tahu apa yang menjadi penyebabnya. Secara teori mungkin mudah diucapkan tetapi ketika kita dihadapkan pada suatu realita mungkin kita akan juga merasakan seperti mereka. Mereka sesekali pulang ke rumah karena ingin melihat kondisi rumah mereka selain juga karena di pengungsian terjadi kondisi yang membosankan bagi mereka. Tidak ada pekerjaan yang biasa mereka lakukan, membutuhkan sesuatu tergantung dari bantuan tidak seleluasa di rumah sendiri. Hal ini perlu diperhatikan bagi para relawan bagaimana cara kita untuk membuat para pengungsi tidak bosan. Banyak pula anak kecil yang merengek ingin pulang kepada orangtuanya untuk pulang, ini juga akan menambah pikiran orang tua dalam kondisi pengusngsian. Kita juga perlu memperhatikan kondisi psikologi mereka. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, menjadi relawan mengajarkan begitu banyak pelajaran serta pengalaman bagaimana bekerja secara tim, berbagi sesama, peduli kepada sesama. Namun yang terpenting bukan sudah pernahkah kita menjadi relawan tetapi bagaimana kita benar-benar merelakan waktu, tenaga, pikiran walaupun itu sedikit, serta menjadi lebih tahu akan pentingnya makna kepedulian. Di dalam kondisi demikian, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana.
    Hal itulah yang menjadi tugas penting dan mendesak bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Sehingga masyarakat tidak hanya bertumpu pada tradisi yang sudah melekat dalam kehidupan mereka tetapi juga perlu mempertimbangkan pengetahuan sesuai perkembangan tekhnologi. Selain itu kita harus tetap berdoa kepada Tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negeri ini segera berakhir.
    Namun sebelum itu terjadi kembali baiknya kita sebagai pemuda mari kita menjaga lingkungan karena bumi kita kini telah tidak muda lagi. Kita sebagai mahasiswa hendaknya menggalakkan rasa peduli kita pada sekitar. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Generasi muda yang telah dibekali dengan pengetahuan diharapkan mampu mengobarkan akan kepedulian untuk keseimbangan alam. Mungkinkah bumi ini akan selalu ada untuk kita apabila para generasi muda kita melakukan hal-hal yang selalu merusak bumi ini? Semua jawaban ada dalam diri kita para generasi muda, karena kita yang akan menjadikan apa bumi kita ini kelak. Maka dari itu mari para pemuda kita mulai belajar untuk menghargai sesama dan melestarikan bumi ini untuk para generasi masa depan.
    Referensi :
    · http:JHS COMPANY BLOG.htm
    · http:Pengertian Dan Istilah-Istilah Bencana Alam DAN Bahaya Rokok _ Ambarwahyuni’s Blog.htm
    · http:ashsholikhin.wordpress.com/…/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/ –
    · http : padjajaran virtual live/masyarakat perlu memahami penanggulangan bencana.htm
    · http://www.kompasiana.com

    Posted by ASTUTI NURILASARI | 4 December 2010, 1:45 pm
  39. Peran mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa, atau sejenisnya yang kerap terjadi di Negara Indonesia antara lain sebagai berikut:
     Peran Mahasiswa Dalam Menghadapi Dan Mengatasi Bencana Kita Sebagai Mahasiswa Harus Mempunyai Rasa Peduli Terhadap Sesama Apalagi Terhadap Korban Bencana Melihat Mereka Sebagai Korban Kita Harus Merasa Kasihan Dan Kita Sebagai Mahasiswa harus membantu mereka semampu kita dan membantu mereka disertai dengan do’a dan keiklasan.
     Penanggulan Bencana Peran Mahasiswa Harus Gigih Dan Siap Dalam Membantu Segala Kegiatan Yang Dapat Meringankan Beban Masyarakat Yang Terkena Musibah Seperti Menggalang Dana, Ikut Membantu Pencarian Korban Bencana.
     Peran Pemuda Dalam Menangani Bencana Menurut Saya Sangat Banyak Bila Dijabarkan Satu PersatuDapat Diambil Sebuah Contoh Yang Terjadi Di Kampus Saya UNIVERSITAS GUNADARMA Dalam Menangani Dan Mengatasi Bencana Para Mahasiswa Langsung berinisiatif mencari dana untuk meringankan beban yang terkena musibah.
     Para Mahasiswa Yang Turun Ke Lapangan Perlu Memberikan Edukasi Kepada Masyarakat Tentang Pengetahuan Dan Keterampilan Menghadapi Bencana Disamping Program Pemberdayaan Lain Kegiatan Siaga Bencana.
     Peran Mahasiswa Dalam Menghadapi Dan Mengatasi Bencana Akhir-akhir Ini Indonesia Sering Sekali Terkena Bencana Alam Pertama Banjir Bandang Yang Terjadi Di Wasior Gelombang Tsunami Yang Terjadi Di Mentawai Hingga Meletusnya Gunung untuk itu mahasiswa harus berperan menjadi relawan buat mereka dan ikut serta membantu mencari korban.
     Peranan Mahasiswa dala menghadapi dan mengatasi bencana yang sering terjadi di Negara Indonesia seperti Yang Kita Ketahui Saat Ini Di Mana Negeri Kita Yang Tercinta Sedang Di Hadapi Dengan Berbagai Macam Musibah Oleh Karena Itu Peranan mahasiswa Menghadapi bencana tersebut harus membantu dalam menggalang dana guna meringankan beban mereka, membantu dengan rasa iklas dan berusaha menghibur mereka yang terkena bencana agar tidak putus asa dan tetap semangat hidup.
     Penanggulan Bencana Peran Mahasiswa Harus Gigih Dan Siap Dalam Membantu Segala Kegiatan Yang Dapat Meringankan Beban Masyarakat Yang Terkena Musibah Seperti Menggalang Dana Ikut Membantu Pencarian Korban Bencana
     Mahasiswa ITS Ciptakan Game Peduli Merapi Media Indonesia SURABAYAMICOM Mahasiswa Teknik Informatika ITS Surabaya Membuat Game Edukasi Untuk Mengajak Masyarakat Peduli Kepada Korban Bencana Alam Merapi dan memberikan bantuan dan tenaga relawan buat merka yang terkena bencana khususny bencana alam merapi.
     Dalam Menghadapi Beraneka Persoalan dan bencana yang kerap terjadi di Negara indonesia Tersebut Selalu Ada Kecemasan Kekhawatiran Atau Bahkan Ketakutanketakutan Sebagai Akibat Kealfaan Atau Kesalahan Yang Kita Lakukan Atau Sebagai Akibat Halhal Yang Berada Di Luar Jangkauan maka peranan mahasiswa harus memberikan solusi kepada mereka dengan cara menenangkan pikiran mereka dan harus mengingatkan mereka utuk selalu berfikir positif dalam menghadapi bencana karena ini merupakan cobaan buat kita.
     Peranan Mahasiswa Berfungsi Membantu Masyarakat Menanggulangi Bencana Dan Atau Memperkecil Akibat Malapetaka Situasi Dan Kondisi Pola Pemerintahan Di Era Reformasi Sekarang Harus Direspon Positif Oleh Jajaran Resimen Mahasiswa Indonesia Sehingga Organisasi Sebagai Wadah Akan Menjadi Lebih Kokoh Dan Jelas Dalam Pelaksanaan Fungsi Dan Tugas Pokoknya Dengan Berbagai Lembaga Pemerintahan.
     Saat Mengucapkan Katakata Ini Dalam Bahasa Indonesia Obama Disambut Tepuk Tangan Meriah Merupakan Hal Ini Yang Indah Dan Menyenangkan Berada Di Sini Di Universitas Indonesia Kepada Pihak Fakultas Staf Dan Mahasiswa Dan Untuk Dr Gumilar Rusliwa Somantri Dan Saya Ingin Anda Semua Tahu Bahwa Seperti Biasa Amerika Serikat Akan Berdiri Berdampingan Berdiri Dengan Indonesia Dalam Menghadapi Bencana Ini Dan Kami Akan Senang Hati Membantu Jika Diperlukan
     Data Processing Continuity Planning Perencanaan Ketika Terjadi Bencana Dan Menciptakan Rencana Untuk Mengatasi Bencana Tersebut Disaster Recovery Plan Maintenance Melihara Rencana Tersebut Agar Selalu Diperbarui Dan Relevan Pemisahan Tugastugas Dalam Pekerjaan Dengan Tujuan Agar Tak Seorangpun Yang Dapat Menguasai Suatu Proses Yang Lengkap Sebagai Contoh Seorang Pemrogram Harus Diusahakan Tidak Mempunyai Akses Terhadap Data Produksi Operasional
     Dalam Menghadapi Beraneka Persoalan Tersebut Selalu Ada Kecemasan Kekhawatiran Atau Bahkan Ketakutanketakutan Sebagai Akibat Kealfaan Atau Kesalahan Yang Kita Lakukan Atau Sebagai Akibat Halhal Yang Berada Di Luar Jangkauan Kemampuan Kita Pemuda Dan Mahasiswa Adalah Harapan Bagi Masa Depan Bangsa Tugas Anda Semua Adalah Mempersiapkan Diri Dengan Sebaik-baiknya Untuk Mengambil Peran Dalam Proses Pembangunan Untuk Kemajuan Bangsa Kita Di Masa Depan dengan cara memberi pengetahuan bagi anak-anak yang terkena bencana alam.
     Peranan Mahasiswa dalam menghadapi Ribuan orang yang telah tinggal di tempat penampungan darurat, sementara mahasiswa telah melakukan yang terbaik untuk mendukung pengungsi dengan cara memberi dukungan-dukungan yang bersifat positif dan memotifasi mereka untuk tetap semangat.
     Peran mahasiswa dalam membantu korban banjir dengan mengajak mahasiswa-mahasiswa untuk mendo’akan korban banjir dan rehabilitasi korban banjir.
     Peranan mahasiswa dalam membantu orang-orang yang terkena bencana alam yang kerap terjadi di negara Indonesiadengan cara mengumpulkan bantuan dan membantu para pengungsi. Membantu membuatkan hidangan buat pengungsi.
     Peran mahasiawa dalam Membantu Masyarakat Menanggulangi Bencana Dan Atau Memperkecil Akibat Malapetaka Situasi Dan Kondisi Di Era Reformasi Sekarang Harus Direspon. Mahasiswa Indonesia Sehingga Organisasi Sebagai Wadah Akan Menjadi Lebih Kokoh Dan Jelas Dalam Pelaksanaan Fungsi Dan Tugas Pokoknya dalam membantu semua korban bencana alam yang sering trjadi di Negara Indonesia ini.
     Peranan mahasiswa Dalam Menghadapi Bencana alam yang sering terjadi di Negara Indonesia Ini Dan Kami Akan Senang Hati Membantu Jika Diperlukan para merka yang terkena bencana. Sebagai mahasiswa harus mencari dana untuk membantu korban bencana alam di Indonesia dan membantu dengan rasa iklas.Harus member dukungan-dukungan yang membuat mereka jadi semangat lagi.

    Posted by tri wahyuningsih | 4 December 2010, 12:19 pm
  40. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana yang kerap terjadi di Indonesia

    Kampus sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kampus akan terus dibutuhkan.Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi di Padang di jalan-jalan dan sebagainya.
    Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia kampus di atas hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana.Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus.Dalam berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, mahasiswa sering berperan penting baik sebagai sukarelawan maupun dalam proses rekonstuksi.
    Bencana alam yang terjadi silih berganti pada akhir-akhir ini memang menuntut gerak cepat dari berbagai pihak; mulai dari pemerintah (baik daerah maupun pusat), Bazarnas, BNPB, LSM, lembaga-lembaga pemerintahan, serta seluruh warga masyarakat yang ada. Bencana alam yang terjadi sekarang ini seringkali tidak dapat diprediksi. Contohnya letusan gunung merapi di Sleman-Yogyakarta dan tsunami di Mentawai. Tidak bisa dipungkiri negara kita ini memang termasuk wilayah yang sangat rawan akan bencana alam. Untuk itu perlu selalu ada kesiagaan dari berbagai kalangan. Kesiagaan Pemerintah saja terbukti tidak cukup efektif dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam di tanah air. Dalam hal ini tentu perlu adanya partisipasi serta peran serta aktif dari para mahasiswa.
    Ketika bencana alam datang silih berganti seperti sekarang ini, para mahasiswa harus siap turut serta aktif dalam penanganan bencana di tanah air. Baik itu diminta maupun atas keikhlasan dan kesadaran diri. Kita sebagai mahasiswa harus menjadi mahasiswa yang siaga bencana, dalam artian tanggap jika suatu waktu terjadi bencana. Bukan justru menyelamatkan diri sendiri saat bencana terjadi, namun sebagai mahasiswa harus turut berperan aktif dalam melakukan evakuasi terhadap para korban bencana. Atau paling tidak para mahasiswa bisa menjadi relawan maupun koordinator di lokasi bencana.
    Di sisi lain kita para mahasiswa juga bisa berpartisipasi sebagai dermawan. Tentu bukan seberapa besar jumlah uang atau nilai barang yang disumbangkan. Namun yang lebih penting adalah keikhlasan berbagi dan nilai guna dari apa yang kita sumbangkan itu. Bisa berupa makanan, pakaian, obat-obatan, dsb. Sebagai mahasiswa yang memiliki banyak jaringan kita juga bisa menjadi relawan/coordinator dalam pengumpulan dana bantuan untuk para korban bencana alam di tanah air. Bisa melalui posko-posko mahasiswa ataupun aksi penggalangan dana di masyarakat.
    Peran Moral
    Salah satu cara memainkan peran mahasiswa sebagai agen moral adalah membekali mahasiswa dengan jiwa kemanusiaan yang tinggi,jiwa menolong tanpa pamrih.memberikan semangat, motivasi,dukungan penuh kepada korban bencana.
    Peran Sosial
    Salah satu cara memainkan peran mahasiswa sebagai agen sosial adalah dengan terjun langsung ke ranah sosial yang nyata, misalnya musibah atau bencana. Langkah yang cukup efektif yang bisa dilakukan mahasiswa ketika terjadi bencana adalah langsung melakukan tindakan kemanusiaan.
    mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada.
    Peran Politik
    Salah satu cara memainkan peran mahasiswa sebagai agen politik adalah dengan ikut berpartisipasi membela para korban untuk mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah.
    Seharusnya mahasiswa juga tidak cukup kalau hanya menjadi praktisi intelektual akademisi yang hanya duduk sambil mendengarkan dosen didalam forum perkuliahan, hanya berkutat pada dunia perkuliahan, lebih dari pada itu mahasiswa harusnya dituntut untuk berperan dalam agen perubahan (agent of change) dan “social control” yang terjadi di sekitarnya. Masa depan negeri ini membutuhkan keterlibatan mahasiswa dalam berbagai hal dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya dan kegiatan-kegiatan intelektual yang dilakukan.
    Mahasiswa seharusnya perlu berperan aktif lebih banyak lagi dalam berbagai persoalan, terutama menyangkut pesoalan bangsa. Fungsi kontrol perlu ditunjukkan oleh mahasiswa. Karena peran mahasiswa sangat diharapkan oleh masyarakat, tak berlebihan jika banyak harapan yang dipikul oleh mahasiswa. Sebab dalam kerangka sosial mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang cukup penting. Mahasiswa di sini diharapkan berperan sebagai agen pengawasan (agent of control) dan agen dalam menuju perubahan ke arah yang lebih baik.

    Peran Akademik
    Sesibuk apapun mahasiswa,turun kejalan ,turun ke rakyat dengan aksi sosialnya ,sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa adalah insan akademik. Kalau peran akademisi hanya sekedar menciptakan siap siaga bencana baik antisipasi maupun evakuasi maka tidak akan signifikan dalam mengurangi dampak
    bencana.

    (http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/09/mahasiswa-siaga-bencana/)

    http://www.indonesiaindonesia.com/f/46137-peran-mahasiswa-aksi/

    http://kammibatam.blogspot.com/2009/01/4-peran-mahasiswa.html

    FEBRINA WAHYU P
    08/273999/DPA/3132
    D3 REKAM MEDIS

    Posted by febrina wahyu | 4 December 2010, 11:39 am
  41. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA ALAM YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
    Demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.
    Kaum muda Indonesia perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” seperti kebiasaan banyak kaum intelektual dan politikus amatir negara miskin. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata.
    Sebaiknya, kaum muda Indonesia, untuk berperan produktif di masa depan, hendaklah melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis dan mendetil agar dapat menjamin benar-benar terjadinya perbaikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita ke depan. Bayangkan, jika semua anak muda kita terjebak dalam politik dan hanya pandai berwacana, tetapi tidak mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, ketrampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh tidak akan ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.
    Sebagai pemuda kita harus menjadikan ini sebagai suatu pelajaran bahwa kita harus lebih waspada akan bencana yang mungkin akan terjadi. Pada saat ini yang negara kita butuhkan ialah para pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki SDM tinggi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tengah terjadi dinegara kita.
    Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai pemuda seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana.
    Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moriil seperti kita ikut menjadi sukarelawan
    atau membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menghimpun dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana.
    Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus.
    Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Di Indonesia sendiri, mitigasi bencana sudah lama dilakukan, hanya saja kurang begitu maksimal. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa mitigasi bencana di Indonesia kurang maksimal atau bisa dibilang kecolongan. Diantaranya antara lain (menurut saya), kurangnya sosialisasi, Instrumen yang kurang memadai, tidak teraturnya Koordinasi penanganan bencana, dan yang terakhir, kurangnya Ahli yang benar-benar concern dalam menangani masalah ini.
    Sosialisasi adalah adalah hal yang sangat vital dalam suatu mitigasi. Karena tanpa sosialisasi, seideal apapun prosedur mitigasi maka hasilnya akan sama dengan nol. Karena objek utama dari mitigasi adalah masyarakat. Itu Artinya, pembelajaran terhadap masyarakat mutlak diperlukan. Agar masyarakat bisa memahami potensi bencana apa saja yang sewaktu-waktu bisa terjadi di wilayah mereka. Pemahaman mitigasi yang yang perlu ditanamkan adalah Pra, saat dan Pascabencana. Persiapan apa saja yang perlu dilakukan sebelum bencana itu terjadi, Hal apa saja yang dilakukan ketika bencana itu terjadi, dan Tindakan apa saja yang dilakukan setelah bencana itu berlalu.
    Selain itu kita harus tetap berdoa kepada tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negri ini segera akan berakhir.
    Namun sebelum itu terjadi kembali baiknya kita sebagai pemuda mari kita menjaga lingkungan karena bumi kita kini telah tidak muda lagi. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Mungkinkah bumi ini akan selalu ada untuk kita apabila para generasi muda kita melakukan hal-hal yang selalu merusak bumi ini?
    Semua jawaban ada dalam diri kita para generasi muda, karena kita yang akan menjadikan apa bumi kita ini kelak. Maka dari itu mari para pemuda kita mulai belajar untuk menghargai sesama dan melestarikan bumi ini untuk para generasi masa depan.

    Yerusa Abigail O.A
    08/271623/DPA/03038
    D3 Rekam Medis

    Daftar Pustaka

    http://www.jimly.com/…/16/makalah_PEMUDA_DAN_MAHASISWA.doc diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam edisi 1 Mei 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&… Edisi Selasa, 19 Oktober 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html edisi Rabu, 17 November 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://jokohendro.blogspot.com/ edisi Senin, 15 November 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://regional.kompasiana.com/2010/10/31/ilmu-kebumian-di-indonesia-dan-perannya-dalam-mitigasi-bencana/. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    Posted by yerusa abigail | 4 December 2010, 11:30 am
  42. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA ALAM YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
    Demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.
    Kaum muda Indonesia perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” seperti kebiasaan banyak kaum intelektual dan politikus amatir negara miskin. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata.
    Sebaiknya, kaum muda Indonesia, untuk berperan produktif di masa depan, hendaklah melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis dan mendetil agar dapat menjamin benar-benar terjadinya perbaikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita ke depan. Bayangkan, jika semua anak muda kita terjebak dalam politik dan hanya pandai berwacana, tetapi tidak mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, ketrampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh tidak akan ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.
    Sebagai pemuda kita harus menjadikan ini sebagai suatu pelajaran bahwa kita harus lebih waspada akan bencana yang mungkin akan terjadi. Pada saat ini yang negara kita butuhkan ialah para pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki SDM tinggi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tengah terjadi dinegara kita.
    Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai pemuda seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana.
    Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moriil seperti kita ikut menjadi sukarelawan
    atau membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menghimpun dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana.
    Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus.
    Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Di Indonesia sendiri, mitigasi bencana sudah lama dilakukan, hanya saja kurang begitu maksimal. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa mitigasi bencana di Indonesia kurang maksimal atau bisa dibilang kecolongan. Diantaranya antara lain (menurut saya), kurangnya sosialisasi, Instrumen yang kurang memadai, tidak teraturnya Koordinasi penanganan bencana, dan yang terakhir, kurangnya Ahli yang benar-benar concern dalam menangani masalah ini.
    Sosialisasi adalah adalah hal yang sangat vital dalam suatu mitigasi. Karena tanpa sosialisasi, seideal apapun prosedur mitigasi maka hasilnya akan sama dengan nol. Karena objek utama dari mitigasi adalah masyarakat. Itu Artinya, pembelajaran terhadap masyarakat mutlak diperlukan. Agar masyarakat bisa memahami potensi bencana apa saja yang sewaktu-waktu bisa terjadi di wilayah mereka. Pemahaman mitigasi yang yang perlu ditanamkan adalah Pra, saat dan Pascabencana. Persiapan apa saja yang perlu dilakukan sebelum bencana itu terjadi, Hal apa saja yang dilakukan ketika bencana itu terjadi, dan Tindakan apa saja yang dilakukan setelah bencana itu berlalu.
    Selain itu kita harus tetap berdoa kepada tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negri ini segera akan berakhir.
    Namun sebelum itu terjadi kembali baiknya kita sebagai pemuda mari kita menjaga lingkungan karena bumi kita kini telah tidak muda lagi. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Mungkinkah bumi ini akan selalu ada untuk kita apabila para generasi muda kita melakukan hal-hal yang selalu merusak bumi ini?
    Semua jawaban ada dalam diri kita para generasi muda, karena kita yang akan menjadikan apa bumi kita ini kelak. Maka dari itu mari para pemuda kita mulai belajar untuk menghargai sesama dan melestarikan bumi ini untuk para generasi masa depan.

    Yerusa Abigail O.A
    08/271623/DPA/03038
    D3 Rekam Medis

    Daftar Pustaka

    http://www.jimly.com/…/16/makalah_PEMUDA_DAN_MAHASISWA.doc diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam edisi 1 Mei 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&… Edisi Selasa, 19 Oktober 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html edisi Rabu, 17 November 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://jokohendro.blogspot.com/ edisi Senin, 15 November 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://regional.kompasiana.com/2010/10/31/ilmu-kebumian-di-indonesia-dan-perannya-dalam-mitigasi-bencana/. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    Posted by yerusa abigail | 4 December 2010, 11:29 am
  43. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA ALAM YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
    Demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.
    Kaum muda Indonesia perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” seperti kebiasaan banyak kaum intelektual dan politikus amatir negara miskin. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata.
    Sebaiknya, kaum muda Indonesia, untuk berperan produktif di masa depan, hendaklah melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis dan mendetil agar dapat menjamin benar-benar terjadinya perbaikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita ke depan. Bayangkan, jika semua anak muda kita terjebak dalam politik dan hanya pandai berwacana, tetapi tidak mampu merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, ketrampilan manajerial untuk merealisasikannya, sungguh tidak akan ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.
    Sebagai pemuda kita harus menjadikan ini sebagai suatu pelajaran bahwa kita harus lebih waspada akan bencana yang mungkin akan terjadi. Pada saat ini yang negara kita butuhkan ialah para pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki SDM tinggi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tengah terjadi dinegara kita.
    Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai pemuda seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana.
    Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moriil seperti kita ikut menjadi sukarelawan
    atau membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menghimpun dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana.
    Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus.
    Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Di Indonesia sendiri, mitigasi bencana sudah lama dilakukan, hanya saja kurang begitu maksimal. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa mitigasi bencana di Indonesia kurang maksimal atau bisa dibilang kecolongan. Diantaranya antara lain (menurut saya), kurangnya sosialisasi, Instrumen yang kurang memadai, tidak teraturnya Koordinasi penanganan bencana, dan yang terakhir, kurangnya Ahli yang benar-benar concern dalam menangani masalah ini.
    Sosialisasi adalah adalah hal yang sangat vital dalam suatu mitigasi. Karena tanpa sosialisasi, seideal apapun prosedur mitigasi maka hasilnya akan sama dengan nol. Karena objek utama dari mitigasi adalah masyarakat. Itu Artinya, pembelajaran terhadap masyarakat mutlak diperlukan. Agar masyarakat bisa memahami potensi bencana apa saja yang sewaktu-waktu bisa terjadi di wilayah mereka. Pemahaman mitigasi yang yang perlu ditanamkan adalah Pra, saat dan Pascabencana. Persiapan apa saja yang perlu dilakukan sebelum bencana itu terjadi, Hal apa saja yang dilakukan ketika bencana itu terjadi, dan Tindakan apa saja yang dilakukan setelah bencana itu berlalu.
    Selain itu kita harus tetap berdoa kepada tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negri ini segera akan berakhir.
    Namun sebelum itu terjadi kembali baiknya kita sebagai pemuda mari kita menjaga lingkungan karena bumi kita kini telah tidak muda lagi. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Mungkinkah bumi ini akan selalu ada untuk kita apabila para generasi muda kita melakukan hal-hal yang selalu merusak bumi ini?
    Semua jawaban ada dalam diri kita para generasi muda, karena kita yang akan menjadikan apa bumi kita ini kelak. Maka dari itu mari para pemuda kita mulai belajar untuk menghargai sesama dan melestarikan bumi ini untuk para generasi masa depan.

    Yerusa Abigail O.A
    08/271623/DPA/03038
    D3 Rekam Medis

    Daftar Pustaka

    http://www.jimly.com/…/16/makalah_PEMUDA_DAN_MAHASISWA.doc diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam edisi 1 Mei 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&… Edisi Selasa, 19 Oktober 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html edisi Rabu, 17 November 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://jokohendro.blogspot.com/ edisi Senin, 15 November 2010. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    http://regional.kompasiana.com/2010/10/31/ilmu-kebumian-di-indonesia-dan-perannya-dalam-mitigasi-bencana/. Diunduh hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010

    Posted by yerusa abigail | 4 December 2010, 11:27 am
  44. Peranan Mahasiswa dalam Menghadapi Kejadian-Kejadian Bencana Tsunami, Banjir, Gunung Meletus, Gempa atau Sejenisnya yang Kerap Terjadi di Negara Indonesia

    Indonesia merupakan Negara kepulauan yang jumlah penduduknya termasuk tinggi di seluruh dunia. Sumber daya yang dimiki baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia juga tinggi. Sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia salah satunya adalah kaum muda. Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, kususnya kita mahasiswa adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak sekali ujian, permasalahan, tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang dari masa depan kita. Dalam menghadapi beraneka persoalan tersebut, selalu ada kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan-ketakutan sebagai akibat kealfaan atau kesalahan yang kita lakukan atau sebagai akibat hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita, seperti karena terjadinya bencana alam atau karena terjadinya krisis keuangan di negara lain yang berpengaruh terhadap perekonomian kita di dalam negeri. Lebih-lebih selama 4 tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam yang baru- baru ini terjadi seperti tsunami di Mentawai, banjir di Wasior, dan yang masih hangat di fikiran kita yaitu meletusnya Gunung Merapi yang menimpa Yogyakarta dan kota-kota sekitar Gunung Merapi. Bencana alam seakan-akan tidak ada hentinya menimpa bangsa ini. Bencana alam yang terjadi di Negara kita tercinta merupakan sebuah ujian bagi bangsa ini. Apakah bangsa Indonesia mampu melewatinya atau tidak, tergantung bagaimana cara pemerintah dalam menghadapi situasi yang seperti ini. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia. Karena bencana alam yang telah terjadi tersebut masyarakat dan tentunya mahasiswa tidak dapat melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari dengan sebagaimana mestinya.
    Lantas apa yang bisa dilakukan institusi kampus menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti akhir-akhir ini? Sejauh ini kalangan mahasiswa dan dunia kampus pada umumnya lambat merespon jika dibanding menanggapi isu-isu lain. Sebut saja isu skandal politik, hura-hura pejabat negara, mafia hukum dan semacamnya yang langsung ditanggapi secara serius oleh kampus. Sementara untuk isu bencana alam seakan-akan bukan isu yang penting untuk ditanggapi. Kampus dan juga mahasiswa jangan sampai mewakili sikap pemerintah yang biasanya lamban menanggulangi korban bencana alam. Seperti yang terjadi pada saat bencana banjir di Wasior, pemerintah baru menetapkan status siaga bencana dua hari pascakejadian. Padahal di saat bersamaan, institusi lain seperti TNI, Palang Merah Indonesia (PMI), serta LSM-LSM yang concern di bidang bencana sudah turun ke lapangan sesaat setelah kejadian. Para mahasiswa yang turun ke lapangan, misalnya dalam pelaksanaan KKN (Kuliah kerja Nyata) perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Yang banyak juga dilakukan para mahasiswa sebagai bentuk kepedulian langsung terhadap bencana alam, salah satunya yaitu banyak mahasiswa yang menjadi sukarelawan untuk membantu para pengungsi di barak pengungsian yang ada. Mahasiswa mencoba untuk menolong dan meringankan beban yang diderita oleh para pengungsi. Misalnya saja pada saat terjadi bencana meletusnya Gunung Merapi, bagaimana para mahasiswa mendesak pihak kampus untuk meliburkan mahasiswa beberapa waktu, tujuannya agar para mahasiswa dapat secara leluasa untuk menolong pengungsi setiap saat. Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moriil seperti kita membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menghimpun dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Disamping program pemberdayaan lain,kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang siaga dan tanggap terhadap bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Sebagai pemuda kita harus menjadikan ini sebagai suatu pelajaran bahwa kita harus lebih waspada akan bencana yang mungkin akan terjadi. Pada saat ini yang negara kita butuhkan ialah para pemuda-pemuda indonesia yang berSDM tinggi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tengah terjadi dinegara kita. Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai pemuda seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana. Selain itu kita harus tetap berdoa kepada tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negri ini segera berakhir. Namun sebelum itu terjadi kembali baiknya kita sebagai pemuda mari kita menjaga lingkungan karena bumi kita kini telah tidak muda lagi. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Mungkinkah bumi ini akan selalu ada untuk kita apabila para generasi muda kita melakukan hal-hal yang selalu merusak bumi ini?. Semua jawaban ada dalam diri kita para generasi muda, karena kita yang akan menjadikan apa bumi kita ini kelak. Maka dari itu mari para pemuda kita mulai belajar untuk menghargai sesama dan melestarikan bumi ini untuk para generasi masa depan.
    Semoga dengan adanya kejadian bencana alam seperti tsunami, banjir, gunung meletus, gempa, serta bencana alam lainnya kita dapat memperoleh hikmahnya. Dengan adanya bencana alam ini kita sebagai mahasiswa dan juga warga negara dapat lebih meningkatkan solidaritas sehingga terbetuklah soliditas yang akan semakin membuat kita menjadi lebih bersatu. Kesatuan yang terbentuk tentu saja akan sangat sulit dipecah-pecahkan karena kuatnya soliditas diantara kita seluruh bangsa Indonesia.

    Referensi :

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/makalah-peranan-mahasiswa-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/

    http://groups.google.com/group/bencana/browse_thread/thread/ad9c60a196e2bd5f/9bf1c1d7035b1a6e

    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html

    Nama : SULISTIA UMAERA
    NIM : 08/274009/DPA/3136
    Prodi : Rekam Medis

    Posted by sulistia umaera | 4 December 2010, 11:15 am
  45. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA TSUNAMI, BANJIR, GUNUNG MELETUS, GEMPA, ATAU SEJENISNYA YANG KERAP TERJADI DI NEGARA INDONESIA

    Mahasiswa adalah seseorang yang berpendidikan, intelek, dan berwawasan luas. Mahasiswa mempunyai andil yang cukup besar dalam perkembangan kemajuan suatu bangsa. Estafet pembangunan, pemerintahan, dan perekonomian di masa yang akan datang juga akan dilanjutkan dan ditentukan oleh para mahasiswa. Jadi, bangsa Indonesia sekarang ini harus mempunyai generasi penerus yang mempunyai sifat dan sikap yang kritis, analitis, praktis, dan yang paling penting adalah cinta bangsa dan tanah air Indonesia sebagai modal untuk meneruskan kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Selain itu juga harus mempunyai sifat gotong royong dan mau menolong sesamanya. Dengan bermodal inilah maka bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang besar, bersatu, dan berjaya di mata internasional.
    Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai macam suku dan keberagaman di dalamnya. Indonesia juga terletak di tempat yang sangat strategis yaitu terletak di daerah khatulistiwa. Selain itu bangsa Indonesia juga terletak di antara dua benua dan dua samudra. Benua yang mengapit wilayah Indonesia adalah Benua Asia sebagai benua paling besar di dunia dan Benua Australia sebagai benua terkecil di dunia. Samudra yang ada di bagian utara dan timur laut Indonesia adalah Samudra Pasifik dan samudra yang berada di wilayah selatan Indonesia adalah Samudra Hindia. Oleh karena letak Indonesia di antara dua lempeng itulah maka di Indonesia sering terjadi bencana-bencana alam.
    Misalnya saja pada tahun 2005 lalu terjadi gempa yang sangat dahsyat terjadi di Nangroe Aceh Darussalam. Gempa itu diikuti oleh tsunami yang memiliki gelombang setinggi 8 meter hingga merusak dan memporak-porandakan wilayah Aceh dan sekitarnya. Setelah itu bencana alam besar lainnya yang melanda wilayah Indonesia adalah gempa dengan kekuatan 5,6 SR mengguncang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bencana ini juga menimbulkan banyak kerugian. Selanjutnya akhir-akhir ini demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Seperti bencana Tsunami Wasior di Papua, gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai, Gunung Merapi di Yogyakarta, dan yang saat ini masih terjadi adalah meletusnya Gunung Bromo di Jawa Timur. Berbagai macam bencana di tanah air ini telah menumbuhkan rasa kepedulian kita kepada korban bencana alam tersebut.
    Mahasiswa, terutama yang berada di wilayah Yogyakarta menjadi relawan untuk bencana di Merapi. Sikap ini harus terus selalu dipupuk dan dikembangkan oleh generasi muda yaitu sikap membantu sesama manusia dan saling tolong-menolong. Hal tersebut sebagai wujud aplikasi dalam mengembangkan perannya, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Mahasiswa harus mampu beradaptasi melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat, terutama anak-anak muda masa kini.
    Di samping kemampuan reflektif, kaum muda Indonesia juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” seperti kebiasaan banyak kaum intelektual dan politikus amatir negara miskin. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata.
    Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi mahasiswa untuk menjadi relawan adalah sikap empati. Sikap empati yang ada pada mahasiswa akan mendorong atau memotivasi mahasiswa menjadi relawan korban bencana alam, sedangkan empati sendiri dapat tumbuh pada siapapun tapi menumbuhkan empati bukan hal yang terlalu mudah, butuh waktu dan proses untuk menumbuhkan sikap empati pada diri seseorang dengan begitu kita biasa berbagi dan peduli pada orang lain, selain itu sikap empati juga bisa ditumbuhkan melalui berinteraksi, mendengar, dan menghayati orang lain. Ada yang mengaitkan empati dengan belas kasihan, artinya kita dapat berempati tatkala kita berbelas kasihan. Masalahnya dengan pemahaman empati yang seperti itu adalah, empati berhenti bekerja sewaktu belas kasihan lenyap dari permukaan hati. Empati bukan belas kasihan walau belas kasihan dapat memudahkan bertunasnya empati. Empati menjadi sumber berbagai sikap dan tingkah laku mulia. Sebaliknya lemahnya empati menyebabkan berbagai efek buruk pada sikap dan tingkah laku. Empati adalah awal sikap untuk membantu. Keberadaaan empati diasosiasikan dengan perbuatan pro-sosial, sebaliknya ketiadaan empati menampak pada perbuatan anti-sosial.
    Selain itu di tempat yang berbeda, berbagai musibah di tanah air menimbulkan rasa simpatik dari berbagai kalangan. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, sejumlah mahasiswa turun ke jalan. Mereka mengumpulkan dana untuk berbagai korban bencana alam di Indonesia. Aksi pengumpulan dana ini akan dilakukan selama sepekan. Kemudian dana yang terkumpul segera dikirim ke korban Gunung Merapi di Yogyakarta dan gempa tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Sedangkan di Ponogoro, Jawa Timur, penggalangan dana untuk korban bencana dilakukan siswa Taman Kanak-kanak Aisiyah Jenangan. Seperti halnya mahasiswa di Tasikmalaya, mereka juga turun ke jalan. Mereka juga mendoakan para korban letusan Gunung Merapi dan tsunami Mentawai. Di Sidoarjo, Jawa Timur, ribuan siswa-siswi SD, SMP, dan SMA Al Muslim menggelar salat gaib untuk seluruh korban meninggal di Merapi dan Mentawai.
    Sekarang ini yang harus kita lakukan adalah mengadakan upaya untuk pemulihan pasca bencana di Indonesia, khususnya bencana Gunung Merapi di Yogyakarta. Salah satunya yang dilakukan oleh Pemuda Nusantara yang terdiri atas Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Daerah Indonesia dan Komite Nasional Pemuda Indonesia akan mendeklarasikan gerakan “Jogjaku Jogja Kita Aman dan Nyaman” pasca letusan Gunung Merapi. Deklarasi ini diikuti organisasi kepemudaan dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan provinsi lain yang akan dilakukan pada 4 Desember 2010. Deklarasi gerakan “Jogjaku Jogja Kita Aman dan Nyaman” tersebut akan dilakukan di Plaza Monumen Serangan Oemoem 1 Maret yang disertai gelar seni pemuda dari berbagai provinsi di Tanah Air. Deklarasi merupakan salah satu upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dan sejumlah organisasi kepemudaan untuk mengembalikan citra sebagai kota yang aman dan nyaman dikunjungi serta ditinggali pascaerupsi Gunung Merapi. Citra Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan wisata yang sempat terpengaruh saat terjadi erupsi Gunung Merapi harus segera dipulihkan agar kegiatan pendidikan dan pariwisata bisa kembali berjalan lancar. Kegiatan tersebut merupakan bentuk kebersamaan dan meningkatkan jalinan persaudaraan kekeluargaan pemuda dari seluruh Indonesia untuk memupuk persatuan dan kesatuan pemuda Indonesia yang mencintai Yogyakarta.

    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/pemuda-dan-mahasiswa-indonesia-optimisme-menuju-pencerahan-masa-depan-bangsa/

    http://indoartikel.com/mahasiswa-kumpulkan-dana-untuk-korban-bencana.html

    http://file.upi.edu/Direktori/B%20-%20FPIPS/JUR.%20PEND.%20GEOGRAFI/196105011986011%20-%20MAMAT%20RUHIMAT/SILABUS-MIT%20BENCANA%20-%20Copy.pdf

    http://id.news.yahoo.com/antr/20101203/tid-diy-kampanye-hidup-sehat-pascabencan-f9ffe45.html

    INTEN LAYUNGSARI
    08/271569/DPA/3010
    PRODI D3 REKAM MEDIS

    Posted by INTEN LAYUNGSARI | 4 December 2010, 11:02 am
  46. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan Oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini, mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di Mentawai Sumatera, banjir bandang di Wasior Papua Barat, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta telah memakan banyak korban, ratusan luka-luka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Dengan menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui oleh deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam maka uluran tangan dari berbagai pihak yang membantu akan terus dibutuhkan. Peran dari kampus sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukup sebagai modal bagi suatu institusi untuk berpartisipasi aktif menanggulangi berbagai bencana di Indonesia. Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi jika kita lihat apa yang sudah dilakukan dunia kampus hanyalah penanganan pasca bencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting meminimalisasikan risiko bencana alam. Bencana bisa terjadi kapan dan dimana pun, untuk itulah upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan oleh dunia kampus. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pasca bencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Mahasiswa sering dilabeli dengan ikon sebagai agent social of change, agen perubahan sosial di masyarakat. Melihat realita saat ini, peran mahasiswa dalam masyarakat mestinya tak harus menunggu setelah lulus. Melalui beberapa kegiatan sosial masyarakat pun, seperti bakti sosial di sebuah organisasi intrakampus maupun ekstrakampus, peran mahasiswa tetap dapat diaktualisasi secara baik dan berkesan di masyarakat. Peran mahasiswa pada situasi lain juga dapat ditunjukkan dengan aksi peduli terhadap korban bencana yang terjadi di Tanah Air. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Menjadi relawan, bukan sekedar datang ke lokasi bencana dan memberikan bantuan. Ada banyak pelajaran yang bisa diambi. Sebab, berhadapan dengan orang yang sedang panik di lokasi bencana, jauh berbeda dengan berhadapan dengan orang dalam kondisi normal.Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana. Bencana alam yang terjadi di negeri ini tak semestinya hanya diperhatikan oleh segelintir orang saja. Beberapa pihak lainnnya, termasuk kalangan mahasiswa, juga harus menunjukkan kepedulian dan memberikan uluran tangannya bagi para korban bencana. Menjadi relawan beberapa kampus telah menggerakkan para mahasiswanya untuk berkiprah langsung di daerah bencana. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Aktif melakukan berbagai kegiatan tanggap darurat bencana, seperti membantu menyelamatkan korban, harta benda, melakukan evakuasi dan pengungsian. Selain itu, dapat dengan cara memberi bantuan psikologis agar masyarakat cepat bangkit dari penderitaan dan keterpurukan hidup akibat bencana. Kegiatan diatas tentunya menjadi catatan yang patut ditiru dan diaktualisasikan oleh civitas akademika di kampus lain. Cara sederhana yang dilakukan mahasiswa dalam menangani dan mengatasi bencana seperti para mahasiswa langsung tergerak melakukan penggalangan dana dengan berbagai cara, ada yang dengan cara mengamen, mendatangi setiap kelas untuk meminta penyaluran dana dari rekan-rekan setiap mahasiswa, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Hal tersebut dapat dijadikan sebuah contoh bahwa para mahasiswa di Indonesia ternyata cepat tanggap mengenai bencana yang terjadi di Indonesia ini. Hal ini juga dapat menepis anggapan yang menyatakan bahwa mahasiswa yang dianggap hanya bisa membuat rusuh, onar, dan hal-hal yang berbau anarkis. Kenyataannya dalam keadaan Indonesia berduka para mahasiswa mampu membuktikan kalau mereka mampu ikut serta berpartisipasi dalam menangani bencana dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat dan melakukan misi-misi kemanusiaan. Dari hal tersebut, tampak jelas bahwa peran aktif mahasiswa dalam bidang sosial kemasyarakatan terbukti dan tidak harus menunggu setelah proses studi selesai. Peran mahasiswa yang lain, misalnya ada yang dengan sukarela berangkat ke tempat terjadinya bencana hanya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang berduka. Dan hal itu dilakukan tanpa mengharapkan imbalan apapun, mereka tergerak atas dasar rasa kemanusiaan. Menjadi relawan mempunyai dampak positif bagi mahasiswa, selain mahasiswa mempunyai pengalaman tanggap darurat, juga dapat menumbuhkan rasa solidaritas terhadap korban bencana alam. Sehingga dapat menumbuhkan motivasi untuk bekerja untuk kemanusiaan dan mendorong mereka untuk memikirkan, merencanakan, serta bertindak, dalam rangka mengurangi risiko bencana. Hal ini juga menandakan bahwa mahasiswa masih mempunyai rasa kemanusiaan dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah. Sehingga tampak jelas bahwa para mahasiswa juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini. Andaikan kepedulian sebagai wujud simpati dan empati terhadap para korban bencana di tanah air ini bisa diaktualisasikan oleh semua pihak, lebih-lebih ditanamkan dalam program studi di kampus masing-masing, tentu ada apresiasi tersendiri bangsa kita dalam mewujudkan nilai-nilai sosial, sebagaimana esensi dari tujuan pendidikan nasional. Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda bangsa Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan.

    REFERENSI

    *alumnitlunand.makingforum.com/info-infoan-f7/bencana-alam-dan-peran-kampus-t22 Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.44 WIB.
    *bataviase.ci.id/node/127503 Tanggal 28 Nopember 2010 jam 20.53 WIB.
    *groups.google.com/group/bencana/browse_thread/thread/ad9c60a196e2bd5f/9bf1c1d7035b1a6e Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.32 WIB.
    *harianjoglosemar.com/berita/mahasiswa-harus-siaga-bencana-26127.html?page=13 Tanggal 29 Nopember 2010 Jam 09.36 WIB.
    *m.kompasiana.com/post/4cd6b13e9bc80b2a53ca0800 Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.22 WIB.
    *rifaifibika.blogspot.com/2010/11/peran-para-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.17 WIB.
    *suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/10/17/84365/Peran-Mahasiswa-Tanggap-Bencana Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.11 WIB.
    *Uin-suka.info/humas/index.php?option=com_content&task=view&id=27&itemid=26 Tanggal 29 Nopember 2010 Jam 09.52 WIB.

    NAMA : RETNO HASTUTI FARIDA
    NIM : 08/271586/DPA/03020
    JURUSAN/PRODI : D3 REKAM MEDIS UGM

    Posted by RETNO HASTUTI FARIDA | 4 December 2010, 10:15 am
  47. PERAN MAHASISWA DALAM
    PENANGANAN BENCANA ALAM

    Akhir-akhir ini banyak terjadi bencana lam yang menimpa Negara kita ini. Mulai dari bencana banjir wasior papua, tsunami mentawai hingga meletusnya gunung merapi. Baru-baru ini juga dikabarkan gunung lawu mulai meningkatkan aktivitasnya yang statusnya menjadi waspada. Banyak korban yang berjatuhan pada bencana tersebut mulai dari korban jiwa hingga korban material. Tidak terbantahkan lagi bahwa para korban bencana tersebut memerlukan banyak perhatian baik perhatian fisik dan social mereka. Banyak orang yang tergugah hatinya untuk membantu saudara-saudara mereka yang tertimpa musibah tersebut. Mereka mulai menggalang dana untuk korban bencana ada juga yang membantu menjadi relawan demi saudara-saudara mereka yang tertimpa musibah.Lantas apa yang bisa dilakukan institusi kampus menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti akhir-akhir ini? Sejauh ini kalangan mahasiswa dan dunia kampus pada umumnya lambat merespon jika dibanding menanggapi isu-isu lain. Sebut saja isu skandal politik, hura-hura pejabat negara, mafia hukum dan semacamnya yang langsung ditanggapi secara serius oleh kampus. Sementara untuk isu bencana alam seakan-akan bukan isu yang penting untuk ditanggapi.
    Di sinilah kampus harus melebarkan sayapnya untuk berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.
    Salah satunaya adalah UGM yang peduli terhadap korban bencana alam dengan bentuk nyata kepedulian UGM terhadap terjadinya bencana alam, khususnya erupsi Gunung Merapi, mengirim sekitar 500 mahasiswa KKN-PPM Peduli Bencana (PB) UGM yang diterjunkan ke beberapa lokasi yang terkena dampak bencana alam tersebut. Ada empat lokasi KKN-PPM PB, yakni Sleman (Maguwoharjo dan Turgo), Magelang, Boyolali, dan Klaten. Para mahasiswa berasal dari sekitar dua belas fakultas ialah Kedokteran, Biologi, Farmasi, Ilmu Budaya, Isipol, Filsafat, Hukum, Ekonomika dan Bisnis, MIPA, Teknik, Kehutanan, dan Peternakan. Kegiatan KKN-PPM UGM PB dilakukan berdasarkan skala prioritas yang mengacu pada tujuh program pokok KKN-PPM UGM PB, antara lain logistik, kesehatan-psikologi, infrastruktur, pendidikan, pemulihan ekonomi, administrasi publik serta mitigasi bencana.
    Keterlibatan mahasiswa juga penting terutama untuk menggalang rasa solidaritas di antara mahasiswa dan masyarakat. Kegiatan mahasiswa dalam penanggulangan risiko bencana juga memberikan warna tersendiri dalam peningkatan proses pembangunan yang ada. Di beberapa kasus bencana alam, relawanlah yang mempunyai peran besar saat masa tanggap darurat dilakukan, biasanya dilakukan oleh masyarakat sekitar. Nah, peran mahasiswa biasanya terlihat pada saat aksi penggalangan dana yang kemudian disalurkan ke titik-titik bencana. Menjadi relawan mempunyai dampak positif bagi mahasiswa. Selain mahasiswa mempunyai pengalaman tanggap darurat, juga dapat menumbuhkan rasa solidaritas terhadap korban bencana alam. Hal itu dapat menumbuhkan motivasi untuk bekerja untuk kemanusiaan, dan mendorong mereka untuk memikirkan, merencanakan, serta bertindak, dalam rangka mengurangi risiko bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan.
    Tidak hanya mahasiswa didalam negeri yang prihatin terhadap apa yang telah menimpa masyarakat Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di luar indonesia juga melakukan aksi social untuk korban bencana alam. Keterlibatan mereka menjadi relawan dikarenakan mereka turut merasakan apa yang dirasakan oleh korban. Karena tidak dapat turun langsung ke lapangan, mereka berinisiatif menolong dengan menggelar aksi pengumpulan dana. Salah satu contohnya adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di sejumlah universitas di Malaysia melakukan kegiatan penggalangan dana untuk membantu para korban bencana alam yang terjadi di Indonesia, seperti tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, dan erupsi Gunung Merapi Yogyakarta. Tidak hanya materi yang bias diberikan mereka, ada sejumlah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri orang membantu dengan doa seperti yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Russia yaitu dengan sholat gaib yang difasilitasi Persatuan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA) itu, diikuti tidak kurang dari 20 mahasiswa asing di Rusia serta mahasiswa Indonesia yang ada di Rusia.
    “Sholat gaib ini adalah bentuk empati kami, bahwa Indonesia adalah saudara kami,” ujar mahasiswa S3 jurusan sejarah Patric Lumumba, asal Yaman, Muhammad Siyagi. Menurut Khoirul, sholat gaib oleh mahasiswa asing yang ada di Rusia tersebut, merupakan salah satu acara rangkaian yang dikoordinir oleh PERMIRA untuk bencana yang terjadi di Indonesia.

    DAFTAR PUSTAKA
    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/ 28 november 2010, 20.00
    http://groups.google.com/group/bencana/browse_thread/thread/ad9c60a196e2bd5f/9bf1c1d7035b1a6e 28 november 2010 , 20.04
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBQQFjAA&url=http%3A%2F%2Fzeuder.co.cc%2Fnews%2Fteknologi%2Btanggap%2Bbencana%2Bdari%2Bmahasiswa%2F&rct=j&q=mahasiswa%20tanggap%20bencana&ei=CZj5TImLMYPprAfFzvT2Bw&usg=AFQjCNGs75BEqRef9myEhSeGRqyIAKHvyA&cad=rja 28 november 2010 19.50
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=5&ved=0CDEQFjAE&url=http%3A%2F%2Fwww.rakyataceh.com%2Findex.php%3Fopen%3Dview%26newsid%3D19728%26tit%3DBerita%2520Utama%2520-%2520%2520Mahasiswa%2520Peduli%2520Bencana&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=w5j5TPiYLYusrAeE562dCA&usg=AFQjCNFj96ruoir4Kynwql7h0f6PWrQ1-Q&cad=rja 28 november 2010, 20.15
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=6&ved=0CDcQFjAF&url=http%3A%2F%2Fwww.ugm.ac.id%2Findex.php%3Fpage%3Drilis%26artikel%3D3196&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=w5j5TPiYLYusrAeE562dCA&usg=AFQjCNHc-dvGFAkM6TZJjTKn1D587TCHdA&cad=rja 28 november 2010, 20.07
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=7&ved=0CD0QFjAG&url=http%3A%2F%2Fwww.infokedokteran.com%2Farticle%2Fmakalah-mahasiswa-tentang-bencana-alam-di-indonesia.html&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=w5j5TPiYLYusrAeE562dCA&usg=AFQjCNFdhsYyBipKaz-TH70jnn8g8kCvnA&cad=rja 28 november 2010, 20.11
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=13&ved=0CCIQFjACOAo&url=http%3A%2F%2Fwww.adaditasik.com%2Findex.php%2Fberita-utama%2F1-berita-utama%2F376-bentuk-kepedulian-mahasiswa-terhadap-bencana-yang-menimpa-bangsa.html&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=_pj5TM3lBsSHrAeb1e3yBw&usg=AFQjCNE8Ns1YNAOC6M5sJvvF3Dw-EmShMA&cad=rja 28 november 2010, 20.12
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=18&ved=0CEEQFjAHOAo&url=http%3A%2F%2Fberita.liputan6.com%2Fliputanpilihan%2F201010%2F303844%2FMahasiswa.Kumpulkan.Dana.untuk.Korban.Bencana&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=_pj5TM3lBsSHrAeb1e3yBw&usg=AFQjCNGS5x1oaGxEaPHghuiB6OElIRZaLw&cad=rja 28 november 2010, 20.24
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=22&ved=0CBwQFjABOBQ&url=http%3A%2F%2Fwww.republika.co.id%2Fberita%2Fbreaking-news%2Fnasional%2F10%2F11%2F08%2F145252-mahasiswa-indonesia-di-malaysia-galang-dana-bencana&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=JJn5TLXhIsm4rAf0pPGSCA&usg=AFQjCNG40-vhMzhLlcROpzpizqgp0D7tiQ&cad=rja 28 november 2010, 20.17
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=34&ved=0CCgQFjADOB4&url=http%3A%2F%2Fwww.lintasberita.com%2FDunia%2FBerita-Dunia%2Fdemi-bencana-yang-melanda-indonesia-mahasiswa-muslim-rusia-sholat-gaib&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=PZn5TIA4wvetB93H6JwI&usg=AFQjCNG726v5XCgsEV1YoodBGfkhiG5jtw&cad=rja 28 november 2010, 20.44
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=69&ved=0CEcQFjAIODw&url=http%3A%2F%2Fzeuder.co.cc%2Fnews%2Fteknologi%2Btanggap%2Bbencana%2Bdari%2Bmahasiswa%2F&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=eJn5TOvOGI_QrQeshrWACA&usg=AFQjCNGs75BEqRef9myEhSeGRqyIAKHvyA&cad=rja 28 november 2010, 20.46
    http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=73&ved=0CCIQFjACOEY&url=http%3A%2F%2Fwww.poskota.co.id%2Fberita-terkini%2F2010%2F10%2F29%2Fmahasiswa-galang-dana-korban-bencana&rct=j&q=mahasiswa%20dan%20bencana&ei=jpn5TO-HGojYrQfoo-WjCA&usg=AFQjCNHqvrkqKRLoQ2SpjCd1HiKlvWtMxA&cad=rja 28 november 2010, 20.50

    Teguh Umar shidiq
    08/271589/DPA/3022
    Diploma Rekam Medis UGM

    Posted by teguh umar shidiq | 4 December 2010, 9:09 am
  48. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA

    Secara etimologis, bencana adalah gangguan, goodaan, tipuan atau sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan kerusakan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya. Kata bencana selalu identik dengan sesuatu dan stuasi negatif yang dalam bahasa Inggris sepadan dengan kata disater. Disaster berasal dari Bahasa Yunani, disatro, “dis” berarti jelek dan astro yang berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi.
    Pengertian bencana atau disaster menurt Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan). Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Sedangkan bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
    Mahasiswa adalah sekumpulan elemen yang unik berada dalam posisi ideal dalam pandangan masyarakat luas, memiliki kompetensi teoritis dan praktis sehingga membawanya pada sebuah identitas intelektual yang memeliki pengaruh erat dalam setiap bentuk perubahan sosial yang terjadi di Bangsa ini. Kecakapan dan keterampilan akan potensi intetelektual yang dimiliki, membuatnya memiliki bargaining posisi yang tidak hanya diakui oleh kalangan masyarakat awam, tapi juga sampai pada telinga masyarakat ilmiah yang lain (Birokrasi Kampus) bahkan Pemerintah. Ketika kita mencoba merefleksi Histori gejolak perubahan social (social change) dari masa ke masa, baik dalam skala lokal, nasional, bahkan sampai Internasional semuanya didominasi oleh apa yang kita kenal sebagai kelompok Intelektual dan salah satu elemennya adalah mahasiswa.
    Mahasiswa sepeti yang diungkapkan diatas, memang memiliki posisi penting dalam lingkup masyarakat. Posisinya sebagai agent of change membuatnya hidup dalam realitas yang mengabaikan individualitas dan menjujung tinggi kolektifitas sebagai sebuah cita akan terwujudnya masyarakat mandiri, inovatif, berwatak dan berkepribadian social dalam sebuah perisai kemanusiaan dan keadilan sosial. Pemahaman akan posisi diri memberikan ketepatan bersikap di dalam masyarakat, kepandaian memimpin dalam berorganisasi, keadaptifan dalam bersosialisasi, dan melahirkan totalitas perjuangan yang tak akan mati. Mahasiswa adalah ujung tombak perubahan(agent of change).
    Aktivis adalah mereka yang aktif secara akademis dan organisasi, dan orintasinya untuk berafiliasi kepada kalangan mana saja demi sebuah cita-cita perubahan bersama serta tujuan utamanya adalah kematangan diri melalui pencarian jati diri. Dalam dunia gerakan mereka tidak gampang dipatahkan karena gerakan mereka berangkat dari keyakinan ideologis. Sementara mahasiswa aktivisme adalah mereka yang juga aktif secara akademis dan organisasi, tapi kehadiran mereka dalam dunia akademik dan organisasi didominasi oleh kepentingan pragmatis semata sehingga posisi dan pran pentingnnya sebagai akademisi dan aktivis labil dan misorientasi. Dalam dunia gerakan, mereka biasanya tidak mempertimbangkan aspek pengkajian issue secara mendalam dan cenderung reaksioner sehingga gerakan menjadi miskontinuitas dan gampang dipatahkan
    Mahasiswa dan kalangan akademisi sebagai bagian dari masyarakat harus memiliki pemahaman dalam menghadapi bencana. Pemahaman ini tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat berguna bagi masyarakat di sekitarnya. Peristiwa erupsi Gunung Merapi yang terjadi. Beragam bencana alam berupa longsor, gempa, tsunami dan sebagainya terus melanda Negeri tercinta, Indonesia. Bencana terakhir, yang mengetuk hati kita adalah gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat dan aktivitas gunung merapi di D.I. Yogyakarta-Jawa Tengah. Masyarakat yang menjadi korban akibat bencana yang menimpa daerah tersebut. Karena bencana tidak pandang bulu atas korban yang akan dihantamnya. Selain itu, pemerintah sebagai yang paling bertanggungjawab dalam menjamin keselamatan rakyat juga lamban, bahkan terkesan lalai. Di dalam kondisi yang seperti ini, sangat diperlukan solidaritas dan kesadaran yang kuat. Solidaritas dan kesadaran dalam penanganan bencana perlu dipupuk, agar menjadi sebuah tradisi dan membudaya. Solidaritas yang dipupuk tidak hanya dalam bentuk menjadi relawan maupun dermawan, tapi lebih dari itu adalah memberikan pengarahan dan penjelasan agar masyarakat sadar dan tanggap dalam penanggulangan bencana.
    Bencana sering dipakai sebagai patokan untuk melihat tingkat solidaritas sosial dari umat manusia. Perkembangan bantuan yang dilakukan pasca tsunami di Aceh, dan Pangandaran Jawa Barat, serta gempa bumi yang baru- baru ini melanda Yogyakarta, memperlihatkan tingginya solidaritas masyarakat Indonesia. Setelah peristiwa itu, semua stasiun televisi langsung membuka dompet sosial dan mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Media massa cetak juga melakukan hal yang sama dan mendapatkan sambutan positif. Artis, lembaga swadaya masyarakat, maupun mahasiswa langsung mendirikan posko-posko untuk membantu, bahkan sejumlah perguruan tinggi mengerahkan tenaga relawan yang berasal dari para mahasiswa guna membantu penanganan bencana tsunami maupun gempa bumi. Pengerahan mahasiswa menjadi sukarelawan itu antara lain dilakukan melalui program kuliah kerja nyata. Selain itu ada beberapa mahasiswa yang menjadi relawan yang dikoordinatori lembaga- lembaga kemahasiswaan. Beberapa mahasiswa juga terlibat dalam pengumpulan dana dengan mendirikan posko di jalan- jalan.
    Setiap tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam pengumpulan dana maupun dengan menjadi relawan di daerah bencana, bukanlah didorong tindakan yang tidak disengaja tetapi didasari oleh atau dimulai dengan motivasi (niat). Menurut Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif, Mitchell (dalam Winardi, 2002) menjelaskan bahwa motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu. Gray (dalam Winardi, 2002) menjelaskan motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
    Menurut Wahyurini dan Ma’shum (2003) umumnya motivasi menjadi relawan dapat digolongkan dalam: a. Keagamaan. Orang melakukan sesuatu bagi sesamanya sebagai amal saleh atau perbuatan baik, dengan harapan mendapatkan balasan dari Tuhan, b. Rasa kesetiakawanan yang tertanam dalam hati sanubari. Orang berbuat sesuatu karena dorongan hati untuk berbuat sesuatu bagi kemanusiaan, c. Kebutuhan sosial. Orang aktif di organisasi, melakukan sesuatu karena dorongan untuk menjalin hubungan sesama manusia, sebab manusia merupakan makhluk sosial, d. Aktualisasi diri. Orang melakukan sesuatu karena dia ingin mengekspresikan dirinya, ingin berprestasi, berbuat terbaik.
    Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi mahasiswa untuk menjadi relawan adalah sikap empati. Sikap empati yang ada pada mahasiswa akan mendorong atau memotivasi mahasiswa menjadi relawan korban bencana alam, sedangkan empati sendiri dapat tumbuh pada siapapun tapi menumbuhkan empati bukan hal yang terlalu mudah butuh waktu dan proses untuk menumbuhkan sikap empati pada diri seseorang. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), Empati berarti perasaan dimana kita ikut merasakan dan memahami orang lain. Atau lebih sederhananya empati berarti menempatkan diri seolah-olah menjadi seperti orang lain. Mempunyai rasa empati adalah keharusan seorang manusia, karena di sanalah terletak nilai kemanusiaan seseorang. Menurut Ubaidillah (2005) pengertian yang sudah lazim digunakan, empati adalah kemampuan kita dalam menyelami perasaan orang lain tanpa harus tenggelam di dalamnya. Empati adalah kemampuan kita dalam mendengarkan perasaan orang lain tanpa harus larut. Empati adalah kemampuan kita dalam meresponi keinginan orang lain yang tak terucap. Kemampuan ini dipandang sebagai kunci menaikkan intensitas dan kedalaman hubungan kita dengan orang lain (connecting with). Lebih lanjut menurut nasehat Goleman (dalam Ubaidillah, 2005), kemampuan ini bisa kita naikkan melalui praktek berikut: a. Cepat menangkap isi perasaan dan pikiran orang lain (understanding others), b. Memberikan pelayanan yang dibutuhkan orang lain. Memberi bukan mengambil (Service Orientation), apalagi memanipulasi, c. Memberikan masukan-masukan positif atau membangun orang lain (developing others), d. Mengambil manfaat dari perbedaan, bukan menciptakan konflik dari perbedaan (leveraging diversity). Menurut Mustafa (2003) Istilah empati sepadan dengan terlibatnya hati dan pikiran dengan masalah yang dihadapi orang lain di luar kita.
    Pada saat seperti ini, saat semua orang berkonsentrasi pada usaha kegawatdaruratan penanganan langsung korban-korban bencana (Wasior, Mentawai, Merapi), mungkin tidak terlalu banyak yg bisa dilakukan oleh kalangan saintis maupun praktisi ilmu kebumian yang sesuai dengan jalur profesinya. Diantara kita ada yang ikut serta dalama arus besar kerja sukarela SAR (kalau mampu),penanganan pengungsi (kalau ada waktu), penyediaan air bersih sarana dan prasarana darurat (kalau memang ada di sector yang bersesuaian), atau mungkin ikut meneliti aspek-aspek terbaru dari fenomena geologinya sehingga bisa dipakai langsung dalam usaha relokasi recovery (nantinya) atau mitigasi-prediksi untuk membuat gambaran proses bencana geologi ini lebih lengkap. Tentu saja dalam hal menyumbang bahan makananan, medis, pakaian dan sebagainya seperti umumnya seluruh lapisan masyarakat lainnya, kita di komunitas professional kebumian bisa juga bergerak bersama.
    Hal itulah yang menjadi tugas penting bagi mahasiswa. Mahasiswa mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada masyarakat, selain pemerintah. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional. Hal itu diharapkan agar dapat membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa harus lebih tanggap bencana dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Tanpa ketanggapan dan ketangguhan mahasiswa tidak akan bisa menjadi relawan, dermawan dan pendamping masyarakat. Saat ini, diperlukan banyak sekali riset terkait bencana alam di Indonesia. Bukan hanya mengenai early warning system dan infrastruktur, tetapi riset tentang pengendalian efek dari bencana alam itu sendiri, agar dapat ditangani secara efektif. Dalam hal ini, negara sebaiknya bekerja sama dengan beberapa instansi terkait seperti lembaga riset dan kampus-kampus (BHMN), untuk mencari solusi lebih jauh mengenai penanganan bencana.
    Untuk upaya penanganan sendiri, perlu dilakukan secara lebih terorganisasi. Saat bencana terjadi, tanggap darurat yang dilakukan oleh pemerintah dari daerah sampai pusat harus terkelola secara sistematis. Penetapan status bencana harus cepat dan update. Peran informasi elektronik pun perlu, bukan untuk semakin memperkeruh suasana, tetapi untuk mendistribusikan informasi yang valid pada masyarakat Indonesia mengenai daerah bencana. Dengan terdistribusinya informasi dengan baik dipadukan dengan ajakan untuk membantu masyarakat yang butuh pertolongan, akan dapat mempersempit masalah yang ada. Seperti gerakan sumbangan dan relawan yang diinformasikan secara baik ke semua kampus dan elemen masyarakat.. Bukan untuk menakut-nakuti tentunya, tetapi untuk memperbanyak masukan kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang jauh dari perkotaan, sebagai langkah cepat saat bencana terjadi.
    Di sini, peran mahasiswa dan lembaga masyarakat tentu sangat diperlukan. Keseluruhan upaya-upaya tadi harus diintegrasikan pada suatu kesatuan ‘control system’, supaya dapat berjalan dengan baik. Hal itu juga sesuai dengan salah satu wujud Tri Dharma perguruan tinggi yakni pengabdian masyarakat. Bantuan yang disalurkan oleh mahasiswa daerah penghasil buah pala tersebut merupakan sumbangan masyarakat yang ada di Banda Aceh, “Kalau dilihat dari jumlah bantuan, memang tidak seberapa besar jumlahnya. Namun itu adalah kepedulian dan keikutsertaan mahasiswa dalam mengurangi beban masyarakat yang mengahadapi bencana alam dan kita berharap bantuan tersebut dapat mengurangi beban masyarakat korban bencana alam. Karena prestasi semacam itulah mahasiswa dipandang sebagai sosok yang revolusioner, agen perubahan (agent of change).

    DAFTAR REFERENSI
    http://aa.wrs.yahoo.com/_ylt=A3xsfC1h.vRMQ2UAij_LQwx.;_ylu=X3oDMTBzNDVjdm9sBHNlYwNzcgRwb3MDMTYEY29sbwNzZzEEdnRpZAM/SIG=13i1fvlem/EXP=1291209697/**http%3a//suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/05/01/107721/Indonesia-Rawan-Bencana-Alam. Di akses pada tanggal 30 November pada jam 08.33.
    http://hminews.com/opini/mahasiswa-aktivis-atau-aktivisme/. Di akses pada tanggal 30 November pada jam 20.10.
    file:///I:/BAHAN%20TUGAS%202/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html. Di akses pada tanggal 1 Desember pada jam 08.35.
    http://www.unpad.ac.id/archives/4814. Di akses pada tanggal 2 Desember pada jam 16.35.
    http://geologi.iagi.or.id/2010/11/01/mahasiswa-kebumian-ujung-tombak-sosialisasi-mitigasi-bencana-gempa-tsunami-dan-gunung-api-indonesia/comment-page-1/. Di akses pada tanggal 2 Desember pada jam 20.00.
    http://www.poskota.co.id/tag/bencana. Di akses pada tanggal 2 Desember pada jam 20.30.
    http://www.sabda.org/misi/mengutus-mahasiswa-bagi-kristus. Di akses pad tanggal 2 Desember jam 20.00.
    http://kampus.okezone.com/read/2010/11/10/373/391795/ugm-kirim-mahasiswa-kkn-peduli-bencana-merapi. Di akses pada tanggal 3 Desember pada jam 08.30.
    http://kangnawar.com/bencana/pengertian-dan-istilah-istilah-bencana-alam. Di akses pada tanggal 3 Desember pada jam 10.15.
    http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2009/03/. Di akses pada tanggal 3 Desember pada jam 21.28.

    NAMA : NUR ISNAINI
    NIM : 08/273803/DPA/3098
    PRODI : REKAM MEDIS

    Posted by Nuriez | 3 December 2010, 9:38 pm
  49. Peranan Mahasiswa dalam Menghadapi Kejadian-Kejadian Bencana Tsunami, Banjir, Gunung Meletus, Gempa atau Sejenisnya yang Kerap Terjadi di Negara Indonesia
    Pada umumnya, bencana terjadi pada saat kita dalam keadaan tidak siap. Bisa pada malam hari, tengah malam atau dinihari, atau bahkan di siang bolong di saat masyarakat sedang konsentrasi ke pekerjaan. Banyak sekali bencana, musibah yang dialami oleh bangsa ini seperti bencana tsunami, longsor, banjir, gempa bumi, dan meletusnya gunung Merapi yang akhir-akhir ini membuat kita sejenak merenung. Mengapa bencana-bencana tersebut diatas bisa terjadi, mungkinkah ini kesalahan pemimpin kita ataukah ini kesalahan kita sebagai warga negara Indonesia yang kurang disiplin dalam berperilaku sebagai khalifah dimuka bumi. Kalau memang ini kesalahan para pemimpin kita, mestinya kita sebagai pemuda penerus bangsa perlu mengingatkan kepada mereka agar setiap membuat dan menjalankan kebijakan-kebijakan harus berpihak kepada rakyat kecil. Dan jika memang ini adalah kesalahan kita bersama sebagai warga negara Indonesia, maka kita semua harus jujur dan mengakui bahwa selama ini apa yang kita pebuat dan apa yang kita laksanakan tidak menunjang dalam pelestarian alam, mulai saat ini mestinya kita berjanji pada diri sendiri untuk sanggup merubah segala perilaku yang menyebabkan ketidak harmonisan dan keselarasan alam.
    Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor, banjir) dan aktivitas manusia. Secara geologis, negara kita dilalui oleh lempeng Eurasia, Australia dan Pasifik yang selalu bergerak. Pertemuan antar lempeng itu dalam jangka panjang akan menghimpun energi. Pada saat energi itu dilepaskan, maka terjadilah gempa bumi dengan atau tanpa potensi tsunami. Selain itu, negera kita juga memiliki sekitar 250 lebih gunung api aktif yang pada saat-saat tertentu dalam meletus dan menimbulkan bencana. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.
    Para pemuda penerus bangsa dan segenap warga negara harus melaksanakan pelestarian lingkungan mengingat alam ini telah mengalami kerusakan yang luar biasa, dengan mengadakan reboisasi besar-besaran dan konferhensif. Pelestarian alam juga bisa dilakukan dari hal kecil seperti, membuang sampah tidak sembarangan, memilah dan memilih antara sampah organik dan non organik, dan membuat resapan air, Agar dalam lingkungan kita senantiasa terjaga dan lebih aman dan jauh dari berbagai bencana alam.
    Dalam menyikapi bencana yang akhir-akhir ini melanda bangsa ini, peran pemuda harus gigih dan siap dalam membantu segala kegiatan yang dapat meringankan beban masyarakat setempat yang terkena musibah, seperti : ikut membantu pencarian korban bencana, memperbaiki jalan-jalan yang rusak, menggalang dana, membantu memperbaiki rumah-rumah penduduk yang rusak, mengevakuasi korban bencana, atau yang biasa dilakukan yaitu memberi pakaian layak pakai, obat – obatan yang sehingga dapat meringankan beban para korban bencana alam.
    Sebagai seorang mahasiswa yang mendapat kesempatan berguru di perguruan tinggi, seharusnya kita dapat bersyukur karena setidaknya kita mempunyai sedikit pola berpikir yang kritis terutama dalam menghadapi kejadian-kejadian aktual yang terjadi di muka bumi ini. Secara khusus, dalam menanggapi setiap peristiwa yang melanda negeri tercinta kita.
    Masih jelas di ingatan kita, bencana besar yang melanda negeri kita ini. Mulai dari meletusnya Gunung Sinabung, banjir bandang di Wasior, gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai, dan erupsi Gunung Merapi. Belum lagi cerita gunung-gunung api yang aktif kembali. Kita tidak tahu pasti, apa yang akan terjadi ke depan, namun mengingat Indonesia merupakan daerah rawan gempa dan gejala alam lain, bukan tidak mungkin akan ada gejala alam yang menjadi bencana. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita menyesal dulu. Coba kita lihat negeri kita, negeri yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak namun dengan sedikit ahli-ahli kebumian. Sebegitu tidak berminatnya anak-anak bangsa mendalami ilmu-ilmu kebumian di Indonesia. Daya tampung minim, peminat minim, sehingga mendukung minimnya fasilitas belajar. Ironi, bila dibandingkan dengan menjamurnya sekolah ekonomi, bisnis, hukum, politik, dan sebagainya. Pada kenyataannya, iklim ekonomi, politik, ataupun hukum pun tidak terlalu beres. Namun jangan tenggelam dalam rasa penyesalan, yang paling penting adalah bagaimana bangkit dari keterpurukan. Mari kita bangun kembali pendidikan kebumian yang bisa membawa kita bersahabat dengan gempa, tsunami, letusan gunung api, dan sebagainya. Tidak ada kata terlambat untuk bangkit.
    Dalam menangani dan mengatasi bencana seharusnya para mahasiswa langsung tergerak melakukan penggalangan dana dengan berbagai cara, bisa dengan cara mengamen, dengan cara mendatangi setiap kelas untuk meminta penyaluran dana dari rekan-rekan sesama mahasiswa. Hal ini dapat dijadikan sebuah contoh bahwa para pemuda Indonesia ternyata cepat tanggap mengenai bencana yang terjadi di Indonesia. Ini juga dapat menepis anggapan yang menyatakan bahwa para pemuda Indonesia yang dianggap hanya bisa membuat rusuh, onar, dan hal-hal yang berbau anarkhis. Karena pada kenyataan nya dalam keadaan Indonesia berduka para pemuda mampu membuktikan kalau mereka mampu ikut serta berpartisipasi dalam menangani bencana dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat dan melakukan misi-misi kemanusiaan. Bahkan kalau dilihat dari pemberitaan yang ada sekarang peran pemuda dalam menangani bencana juga ternyata cukup banyak bahkan ada yang dengan sukrela ikut berangkat ke tempat terjadinya bencana hanya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang berduka. Dan hal itu dilakukan dengan cuma-cuma tanpa mengharapkan imbalan apapun, mereka tergerak atas dasar rasa kemanusiaan.
    Dari sini kita tidak bisa hanya melihat para pemuda dari sebelah mata karna pada kenyataannya banyak hal positif yang dilakukan oleh para pemuda di zaman sekarang. Hal ini juga menandakan bahwa para pemuda masih mempunyai rasa kemanusian dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah. Bukan cuma anakhisme yang bisa mereka lakukan tapi juga hal positif yang bisa mereka lakukan demi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana. Sehingga tampak jelas bahwa para pemuda juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini.
    Selain itu, dalam skala yang terjangkau langkah-langkah untuk melindungi masyarakat saat bencana terjadi dapat dilakukan dengan pengelolaan tanggap darurat dan rekonstruksi atau rehabilitasi pasca bencana dengan tetap memperhatikan kearifan local. Bagaimana bencana tidak menjadi lahan rebutan bagi orang-orang/kelompok yang ingin promosi, maka perlu melakukan pemberdayaan masyarakat, khususnya di daerah-daerah rawan bencana. Pemberdayaan masyarakat seperti pelatihan-pelatihan gladi penanggulangan bencana, dapur umum, evakuasi, taruna siaga bencana harus diberikan kepada masyarakat untuk tujuan yang lebih komprehensif yaitu, bahwa bencana tidak bisa diprediksi kedatangannya, namun bisa dikurangi resikonya, baik korban jiwa maupun harta benda.
    Bencana dan resikonya merupakan dua sisi mata uang yang bersifat dinamis. Satu bencana bisa mengakibatkan risiko terjadinya bencana lain; banjir menyebabkan datangnya wabah penyakit. Disini perlu dilakukan mitigasi bencana secara terus menerus sehingga meskipun bencana tidak bisa dicegah, namun resikonya bisa ditekan sedemikian rupa setelah melalui rangkain tahapan sesuai amanat undang-undang nomor 24 tahun 2007.

    REFERENSI/SUMBER PUSTAKA :

    http://setawiriawan.blogspot.com/2007/12/pengertian-bencana-alam.html

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/02/solusi-mengatasi-bencana-alam-di-indonesia/

    http://rifaifibika.blogspot.com/2010/11/peran-para-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html

    http://dickysmk3.blogspot.com/2010/11/peranan-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html

    http://kangnawar.com/bencana/indonesia-negeri-sejuta-bencana

    NAMA : RIA DESIANA
    NIM : 08/271576/DPA/3017
    PRODI : D3 REKAM MEDIS

    Posted by Ria Desiana | 3 December 2010, 8:33 pm
  50. PERAN MAHASISWA DALAM MENGATASI DAN MENGHADAPI BENCANA ALAM

    Sepekan terakhir ini berita mengenai bencana alam mendominasi halaman – halaman media massa kita. Mulai dari angin kencang, tanah longsor, puting beliung hingga banjir bandang di Wasior Papua Barat. Untuk bencana banjir di Wasior sendiri telah memakan puluhan korban, ratusan lukaluka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya.
    Mungkinkah ini adalah peringatan Tuhan kepada kita agar kita ingat kepada-NYA, semua ini mungkin kehendak Tuhan, namun kita tidak boleh berduka karena dalam setiap bencana memiliki hikmah didalamnya. Sebagai pemuda kita harus menjadikan ini sebagai suatu pelajaran bahwa kita harus lebih waspada akan bencana yang mungkin akan terjadi. Pada saat ini yang negara kita butuhkan ialah para pemuda-pemuda indonesia yang bersumber daya alam tinggi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tengah terjadi dinegara kita.
    Dalam mengatasi kejadian yang terjadi, kita sebagai pemuda seharusnya peduli dan ikut menolong para korban bencana, karena kita hidup di bumi ini saling membutuhkan satu sama lain sehingga kita harus menolong sesama apabila terjadi sebuah bencana. Pertolongan yang dapat dilakukan dapat bersifat moril seperti kita ikut menjadi sukarelawan atau membantu para korban bencana dalam menghilangkan trauma yang telah terjadi, maupun materiil seperti kita membantu menghimpun dana dan menyisihkan sebagian uang kepada para korban bencana. Keperdulian kita sangat dibutuhkan para korban bencana karena dengan keperdulian kita, kita dapat meringankan beban para korban bencana. Selain itu kita harus tetap berdoa kepada tuhan agar bencana yang tengah terjadi di negri ini segera berakhir. Namun sebelum itu terjadi kembali baiknya kita sebagai pemuda mari kita menjaga lingkungan karena bumi kita kini telah tidak muda lagi. Siapa lagi yang akan menjaga bumi ini selain para generasi muda? Mungkinkah bumi ini akan selalu ada untuk kita apabila para generasi muda kita melakukan hal-hal yang selalu merusak bumi ini? Semua jawaban ada dalam diri kita para generasi muda, karena kita yang akan menjadikan apa bumi kita ini kelak. Maka dari itu mari para pemuda kita mulai belajar untuk menghargai sesama dan melestarikan bumi ini untuk para generasi masa depan.
    Lantas apa yang bisa dilakukan institusi kampus menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti akhir-akhir ini?
    Sejauh ini kalangan mahasiswa dan dunia kampus pada umumnya lambat merespon jika dibanding menanggapi isu-isu lain. Sebut saja isu skandal politik, hura-hura pejabat negara, mafia hukum dan semacamnya yang langsung ditanggapi secara serius oleh kampus. Sementara untuk isu bencana alam seakan-akan bukan isu yang penting untuk ditanggapi. Kampus jangan sampai mewakili sikap pemerintah yang biasanya lamban menanggulangi korban bencana alam. Seperti yang terjadi pada saat bencana banjir di Wasior, pemerintah baru menetapkan status siaga bencana dua hari pascakejadian. Padahal di saat bersamaan, institusi lain seperti TNI, Palang Merah Indonesia (PMI), serta LSM-LSM yang concern di bidang bencana sudah turun ke lapangan sesaat setelah kejadian. Peran kampus kampus sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kampus akan terus dibutuhkan.
    Kiprah dunia kampus dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih kurang (untuk mengatakan tak ada sama sekali). Kita tak bisa menafikan begitu saja bagaimana getolnya mahasiswa- mahasiswa kita yang turut aktif mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun silam. Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi di Padang di jalan-jalan dan sebagainya. Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia kampus di atas hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun.
    Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus. Disinilah kampus harus melebarkan sayapnya untuk berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana.
    Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi.
    Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin. Para pemangku kebijakan kampus juga sudah selayaknya merespon hal ini. Pengelola kampus perlu memberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi bagi seluruh sivitas akademiknya. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Karena itulah, dalam rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa dan Pengenalan Kampus (OSPEK) perlu disisipkan materi ini. Paradigma OSPEK harus diubah yang semula cenderung sebagai kegiatan perpeloncoan menjadi kegiatan yang edukatif, salah satunya keterampilan menghadapi bencana.
    Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Andai peran ini baik pra maupun pascabencana bisa dimainkan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampus, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Perlu digarisbawahi lagi bahwa kegiatan ini bukan bermaksud untuk menolak bencana, melainkan sebagai ikhtiar guna penyelamatan dini terhadap bencana alam.
    Sedikit menambahi, menurut pengalaman SBY dalam disaster management yang telah ia pelajari dan lakukan selama 2 tahun belakangan ini. Menurutnya, ada 4 langkah penting dalam disaster management. “Yang pertama adalah kecepatan dalam merespon keadaan setelah bencana alam berlangsung. Karena setelah bencana terjadi, korban – korban bencana alam tersebut yang berada di dalam reruntuhan bangunan atau terseret arus hanya dapat bertahan selama beberapa waktu untuk diselamatkan”, ujar SBY. Ditambahkan, kecepatan yang diperlukan dalam upaya penyelamatan dapat berupa kecepatan dalam usaha menolong korban bencana, kecepatan dalam mengirimkan kebutuhan pokok berupa bahan pangan, pakaian serta obat – obatan. Dengan rencana dan upaya penyelamatan yang cepat dan terkoordinasi, banyak orang bisa terselamatkan dari kematian. SBY menggarisbawahi pentingnya koordinasi antara organisasi pemerintah maupun non pemerintah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang ingin berkontribusi dalam memberikan pertolongan bagi korban bencana alam. “Apabila tidak ada koordinasi yang tepat, seluruh bantuan sumbangan akan berakhir tersimpan di gudang penyimpanan dan akan semakin membuat rumit krisis yang terjadi,” tambah SBY. Arus informasi yang akurat dan cepat mengenai keadaan setelah bencana, juga diperlukan dalam disaster management. “Biasanya dalam keadaan krisis, banyak orang yang bingung mengenai apa yang setelah terjadi, berapa banyak jiwa yang telah hilang, kerusakan yang telah terjadi, daerah mana yang paling parah terkena bencana, apa saja yang telah dilakukan dan bagaimana cara membantu korban. Hal ini sering terjadi apabila terjadi bencana, dan hanya akan membuat bingung pihak yang ingin membantu. Apabila ada integrasi yang tepat antara strategi dan koordinasi, maka akan sangat membantu pada korban bencana alam,” tambahnya. Yang terakhir adalah mengoptimalkan peran serta pemerintah lokal dalam upaya penyelamatan serta penanggulangan bencana. Karena pada dasarnya, hanya pemerintah lokal yang mengerti betul keadaan masyarakatnya. “Mereka lah yang seharusnya berada dalam jajaran paling depan dalam upaya penyelamatan korban bencana,” tutur Presiden SBY.

    DAFTAR REFERENSI

    http://alumnitlunand.makingforum.com/info-infoan-f7/bencana-alam-dan-peran-kampus-t22.htm

    http://heartbreaker251192.blogspot.com/2010/11/peran-pemuda-dalam-mengatasi-dan.html

    http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2006/12/05/1343.html

    INDRIANI R.S
    08/271517/DPA/2965
    PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS

    Posted by Indriani Retno S | 3 December 2010, 8:10 pm
  51. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA
    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam,
    maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan. Belakangan ini berita mengenai bencana alam mendominasi halaman – halaman media massa. Mulai dari angin kencang, tanah
    longsor, puting beliung hingga banjir bandang di Wasior Papua Barat. Untuk bencana banjir di Wasior sendiri telah memakan puluhan korban, ratusan lukaluka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya. Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa dalam menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti ini? Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘Sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan. Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Selain hal tadi, peranan kita sebagai mahasiswa adalah segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Beberapa teman saya telah melakukan hal ini. Satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!”. Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara – saudara kita selamat.
    Ada beberapa yang perlu dilakukan pemuda sebagai inspirator kebangkitan pascabencana. Pertama, pemuda harus tampil sebagai inisiator yang cepat tanggap di lapangan saat terjadi bencana. Merekalah yang mula-mula jadi tumpuan harapan untuk diandalkan saat respons pemerintah masih lambat. Kedua, pemuda harus ambil bagian dari wacana rekonstruksi wilayah pascabencana, terutama bencana berskala besar. Alasan yang terpenting, pemuda adalah generasi yang akan “mendiami” dan meneruskan wilayah rekonstruksi. Ketiga, pemuda harus jadi inspirator kebangkitan bagi segenap elemen bangsa dengan menyiapkan visi intelektual dalam berbagai aspek, seperti pemanfaatan teknologi, mitigasi, serta manajemen bencana yang lebih memadai untuk mengantisipasi bencana alam pada masa depan. Musibah besar belakangan ini sesungguhnya memiliki makna evaluasi dan rekonstruksi bagi dinamika kehidupan bangsa, terutama bagaimana menyiapkan generasi muda yang cakap menyiasati bencana agar bisa mengurangi ekses terburuk. Sejatinya musibah adalah garis takdir yang tak bisa dihindari bangsa mana pun. Namun, sekali lagi, ikhtiar mengantisipasi bencana sejak dini mutlak perlu. Indonesia memiliki cita-cita besar untuk menjadi bangsa yang lebih tanggap dan cepat bangkit saat menghadapi garis takdir bencana. Bangsa ini kini sedang berduka. Namun masa depan harus tetap ditatap, dan inspirasi kebangkitan itu ada di tangan pemuda.
    Peranan kita sebagai mahasiswa dalam masing-masing bidang sangat diperlukan, salah satunya IT sangat berpengaruh untuk membantu mereka yang terkena ataupun yang belum terkena musibah. Peranan kita dalam bidang IT ini sangat banyak sekali implementasinya untuk masyarakat. Misalnya saja untuk menggalang bantuan bagi korban bencana, kita selaku pakar dalam bidang IT dapat membuat komunitas media maya unutk menggalang dana secara online. Kasus kedua untuk mengantisipasi korban yang berjatuhan, kita dapat membuat suatu komunitas informasi yang langsung dapat diketahui masyarakat secara langsung, misalnya saja radio Komunitas. Selain itu kita juga dapat membuat sebuah alat yang berupa sensor ataupun Alarm peringatan yang diletakkan di tempat masyarakat sekitar yang rawan dengan bencana. Aspek penting untuk membuat penanggulangan ini sebenarnya sederhana sekali, yaitu adanya kerjasama antara masyarakat sekitar dengan pemerintah serta para pelaku di bidang IT unutk memperoleh informasi yang akurat. Pada umunya peranan kita selaku pakar di bidang IT memiliki konsep proses penyampaian informasi dari bagian pengirim (server) ke penerima (client), dalam hal ini korban bencana Alam. Sehingga pengiriman informasi tersebut akan berjalan secara: reliable, lebih cepat, lebih luas sebarannya, lebih lama penyimpanannya, tidak mudah rusak
    Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi di Padang di jalan-jalan dan sebagainya. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin. Para pemangku kebijakan kampus juga sudah selayaknya merespon hal ini. Pengelola kampus perlu memberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi bagi seluruh sivitas akademiknya. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Karena itulah, dalam rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa dan Pengenalan Kampus (OSPEK) perlu disisipkan materi ini. Paradigma OSPEK harus diubah yang semula cenderung sebagai kegiatan perpeloncoan menjadi kegiatan yang edukatif, salah satunya keterampilan menghadapi bencana. Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Andai peran ini baik pra maupun pascabencana bisa dimainkan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampusdan mahasiswa, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Perlu digaris bawahi lagi bahwa kegiatan ini bukan bermaksud untuk menolak bencana, melainkan sebagai ikhtiar guna penyelamatan dini terhadap bencana alam.

    Daftar Referensi

    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/20/130589/Pemuda-Inspirator-Tanggap-Bencana

    http://umatun.wordpress.com/2010/10/24/bencana-alam-dan-peran-kampus/

    http://sandytiasutedja.blogspot.com/

    http://diarcoolz.blogspot.com/2010/11/peranan-kita-dalam-penanggulangan.html

    Nama : Novita Candra Dewi
    NIM : 08/271561/DPA/3003
    Prodi : D3 Rekam Medis

    Posted by Novita Candra Dewi | 3 December 2010, 8:00 pm
  52. TUGAS 2

    Disusun Oleh :

    OCTIA LESTIYANINGRUM
    08/274178/DPA/3167
    KEWARGANEGARAAN Kelas A

    PROGRAM DIII REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
    UNVERSITAS GADJAH MADA
    Yogyakarta
    2010

    Peran Mahasiswa Dalam Menghadapi Bencana Alam di Indonesia

    Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik seperti letusan gunung merapi, gempa bumi, dan tanah longsor) dan juga aktivitas manusia. Secara etimologis, bencana adalah gangguan, goodaan, tipuan atau sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan kesusakan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya. Pengertian bencana atau disaster menurut Wikipedia disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment ( bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan). Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana :
    1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
    2. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
    3. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
    4. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
    5. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana kegiatan pencegahan bencana tanggap darurat, dan rehabilitasi.
    6. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman bencana.
    7. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
    8. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.
    9. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
    10. Tanggap darurat bencana adalah adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
    11. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana.
    12. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayahpascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana.
    13. Ancaman bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.
    14. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.
    15. Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.
    16. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.
    17. Resiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.
    18. Bantuan darurat bencana adalah upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat.
    19. Status keadaan darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk jangka waktu tertentu atas dasar rekomendasi Badan yang diberi tugas untuk menanggulangi bencana.
    20. Pengungsi adalah orang atau kelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat dampak buruk bencana.
    21. Korban bencana adalah orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana.

    Dari penjelasan diatas maka, dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang terkena bencana supaya lebih harus diperhatikan dan dibantu. Disinilah peran mahasiswa sangat dibutuhkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung mahasiswa dapat terjun langsung ke lapangan seperti di barak pengungsian, tempat terjadinya bencana, sebagai tim SAR, atau memberikan bantuan berupa psikologis bagi para pengungsi, dll. Secara tidak langsung mahasiswa dapat memberikan sejumlah uang atau berupa barang-barang yang dibutuhkan. Mahasiswa juga memegang peranan penting dalam tanggap darurat bencana yakni menangani dampak buruk yang ditimbulkan setelah bencana alam terjadi seperti penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
    Seperti yang dilakukan para mahasiswa di kota Daerah Istimewa Yogyakarta yang diterjunkan baik secara langsung maupun tidak langsung saat bencana letusan gunung merapi terjadi, oleh beberapa Universitas seperti UGM, UNY, UII, UPN, UMY, Sanata Dharma. Bahkan di sejumlah kampus mereka dijadikan sebagai penampung barak pengungsian. Hal tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap korban bencana alam yang dilakukan oleh mahasiswa dan sejumlah Universitas di DIY.
    Selain untuk para korban letusan gunung merapi, Mahasiswa juga terjun langsung ke perempatan jalan untuk memberikan masker secara gratis guna untuk menjaga kesehatan pernafasan di radius yang termasuk aman tetapi terkena dampak abu vulkanik gunung merapi.
    Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mempunyai peranan yang besar terhadap bencana yang sering terjadi di Negara Indonesia.

    Referensi
    Munawar. 2009. Pengertian dan Istilah-Istilah Bencana Alam. From http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:_DcgMyfBhPgJ:kangnawar.com/bencana/pengertian-dan-istilah-istilah-bencana-alam+pengertian+bencana&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a. Diakses pada tanggal 3 Des 2010
    Wiriawan, Seta. 2007. Pengertian Bencana Alam. From http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:QOuNnn9bescJ:setawiriawan.blogspot.com/2007/12/pengertian-bencana-alam.html+pengertian+bencana&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a. Diakses pada tanggal 3 Des 2010

    Posted by Octia | 3 December 2010, 7:42 pm
  53. Mahasiswa Siaga Bencana

    Bencana alam yang terjadi silih berganti pada akhir-akhir ini memang menuntut gerak cepat dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah (baik daerah maupun pusat), Bazarnas, BNPB, LSM, lembaga-lembaga pemerintahan, serta seluruh warga masyarakat yang ada. Bencana alam yang terjadi sekarang ini seringkali tidak dapat diprediksi. Contohnya letusan Gunung Merapi di Sleman-Yogyakarta, tsunami di Mentawai dan banjir di Wasior. Tidak bisa dipungkiri negara kita ini memang termasuk wilayah yang sangat rawan akan bencana alam. Untuk itu perlu selalu ada kesiagaan dari berbagai kalangan. Kesiagaan pemerintah saja terbukti tidak cukup efektif dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam di tanah air. Dalam hal ini tentu perlu adanya partisipasi serta peran serta aktif dari pihak lain.
    Salah satu isu yang dihadapi dalam penanggulangan bencana adalah kapasitas sumber daya menghadapi bencana belum optimal. Salah satu solusinya adalah memberdayakan perguruan tinggi dan mahasiswa. Perguruan tinggi merupakan salah satu komponen penting yang akan memberikan dukungan, mewujudkan ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Mahasiswa sebagai komponen utama perguruan tinggi, merupakan aset dalam penanganan bencana. Libatkan LSM dalam melaksanakan langkah strategi penanggulangan, BNPB tidak hanya merangkul perguruan tinggi untuk bekerjasama, tetapi juga pengusaha dan LSM.
    Ketika bencana alam datang silih berganti seperti sekarang ini, para mahasiswa harus siap turut serta aktif dalam penanganan bencana di tanah air. Baik itu diminta maupun atas keikhlasan dan kesadaran diri. Mahasiswa harus menjadi mahasiswa yang siaga bencana, dalam artian tanggap jika suatu waktu terjadi bencana, bukan justru menyelamatkan diri sendiri saat bencana terjadi, namun sebagai mahasiswa harus turut berperan aktif dalam menanggulangi bencana tersebut.
    Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat di sekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan oleh para mahasiswa dalam menanggulangi bencana, salah satunya menjadi relawan untuk membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Menjadi relawan juga harus disesuaikan dengan kemampuan dari mahasiswa itu sendiri, jangan sampai mahasiswa malah menjadi penghambat relawan lain yang sedang bertugas. Misalnya, mahasiswa yang mempunyai keahlian dalam memasak dapat membantu di dapur umum, mahasiswa yang mengetahui pengetahuan medis dapat membantu dalam pengobatan, mahasiswa yang belajar pendidikan bisa mengajar anak-anak di pengungsian, dsb. Akan tetapi, jangan sampai para mahasiswa yang tidak mempunyai kemampuan tidak mempunyai kemampuan khusus menjadi terhalang utuk menjadi relawan, karena banyak hal selain hal diatas yang masih bisa dilakukan.
    Hal lain yang dapat dilakukan mahasiswa adalah melakukan penggalangan bantuan. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko untuk mengumpulkan bantuan dari masyarakat serta menyalurkan bantuan tersebut kepada korban bencana.
    Di sisi lain kita para mahasiswa juga bisa berpartisipasi sebagai dermawan. Tentu bukan seberapa besar jumlah uang atau nilai barang yang disumbangkan. Namun yang lebih penting adalah keikhlasan berbagi dan nilai guna dari apa yang kita sumbangkan itu. Bisa berupa makanan, pakaian, obat-obatan, dsb. Sebagai mahasiswa yang memiliki banyak jaringan kita juga bisa menjadi relawan/koordinator dalam pengumpulan dana bantuan untuk para korban bencana alam di tanah air. Bisa melalui posko-posko mahasiswa ataupun aksi penggalangan dana di masyarakat.
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Selain mendapatkan bantuan secara material, para korban bencana juga mendapat bantuan secara moral yang berupa pemberian dukungan, semangat, dan perhatian yang dicurahkan melalui jejaring sosial, salah satunya adalah muncul dalam bentuk “Pray For Indonesia”.
    Hal lain yang dapat dilakukan dan menurut saya sangat penting adalah sosialisasi mengenai bencana. Penanggulanagan bencana saat ini sebagian besar berfokus pada upaya pasca bencana, akan tetapi belum ada upaya pra bencana. Di sinilah peran mahasiswa sangat dibutuhkan untuk sosialisasi siaga bencana kepada masayarakat luas. Kegiatan sosialisasi ini dapat dilakukan pada saat mahasiswa mengikuti program KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dalam KKN itulah para mahasiswa turun ke lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan ketrampilan menghadapi bencana. Sebagai contoh adalah siaga bencana gempa bumi yaitu tindakan yang tepat yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi, misalkan dengan berlindung di tempat yang kokoh di dalam rumah jika tidak sempat keluar rumah, dsb. Mahasiswa dapat bekerja sama dengan LSM atau pihak pemerintah dalam melakukan sosialisasi siaga bencana tersebut. Tujuan dari diadakannya sosialisasi siaga bencana ini sangatlah penting yaitu agar masyarakat menjadi siaga, siap dan terampil jika terjadi suatu bencana, sehingga diharapkan tidak terjadi korban jiwa serta kerugian yang terjadi menjadi lebih kecil.
    Selain itu, perlu dilakukan sosialisasi cinta lingkungan. Banyak bencana yang terjadi karena ulah manusia yang merusak lingkungan seperti penebangan hutan sembarangan, membuang sampah di sungai, menambang pasir di sungai sembarangan, dsb serta bahaya yang akan terjadi bila masyarakat tetap melakukan hal tersebut. Mahasiswa dapat menanamkan rasa cinta lingkungan dengan menggalakkan menanam pohon, menghimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai. Hal ini sangat penting karena bertujuan agar mencegah terjadinya bencana.

    Referensi :

    http://groups.google.com/group/bencana/browse_thread/thread/ad9c60a196e2bd5f/9bf1c1d7035b1a6e\

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/

    http://soulofcipta.blogspot.com/2010/11/mahasiswa-siaga-bencana.html

    NAMA : ADITYA KRISTIAWAN
    NIM : 08/271522/DPA/2968
    JURUSAN/PRODI : MATEMATIKA/REKAM MEDIS

    Posted by ADITYA KRISTIAWAN 08/271522/DPA/2968 | 3 December 2010, 5:13 pm
  54. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini; mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di mentawai Sumatra, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia.
    Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Bukti nyata pemanfaatan teknologi (Social Networking), kita dapat melihat kasus yang dialami oleh prita mulyasari yang berseteru dengan RS Omni Internasional terkait tentang curahan hatinya terhadap pelayanan yang diberikan yang dianggap sebagai pencemaran nama baik (korban kedhzaliman Sistem), dan luar biasa sekali dukungan dari masyarakat baik berupa moril maupun dana, yang dicurahkan melalui jejaring sosial. Ini meupakan masalah personal yang dialami seorang prita mulyasari, apalagi untuk korban bencana alam yang menyangkut banyak korban jiwa, tidak mustahil mendapatkan hasil yang besar untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana
    Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari para mahasiswa akan terus dibutuhkan.

    Kiprah dunia mahasiswa dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih kurang (untuk mengatakan tak ada sama sekali). Kita tak bisa menafikan begitu saja bagaimana getolnya mahasiswa- mahasiswa kita yang turut aktif mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun silam.

    Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi di Padang di jalan-jalan dan sebagainya.
    Peran mahasiswa guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia mahasiswa di atas hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia mahasiswa adalah penanganan prabencana.
    Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia mahasiswa.
    Mahasiswa harus melebarkan sayap, Di sinilah mahsiswa harus melebarkan sayapnya untuk berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini mahasiswa bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi.

    Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Para mahasiswa juga sudah selayaknya merespon hal ini. mahasiswa perlu diberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Karena itulah, dalam rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa (OSPEK) perlu disisipkan materi ini. Paradigma OSPEK harus diubah yang semula cenderung sebagai kegiatan perpeloncoan menjadi kegiatan yang edukatif, salah satunya keterampilan menghadapi bencana.
    Para mahasiswa bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Andai peran ini baik pra maupun pascabencana bisa dimainkan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampus, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Perlu digarisbawahi lagi bahwa kegiatan ini bukan bermaksud untuk menolak bencana, melainkan sebagai ikhtiar guna penyelamatan dini terhadap bencana alam. f Muhammad Safrodin Aktivis mahasiswa, relawan Gempa Bumi Yogyakarta 2006

    Dalam upaya mengelola bencana alam yang terjadi di tanah air kita, ada baiknya kita mencontoh Jepang. Secara intensitas, bencana alam (terutama gempa dan tsunami), di Jepang jauh lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan Indonesia, tetapi kesiapan mereka jauh lebih baik dari kita. Keseriusan pemerintah dalam menangani bencana di Indonesia merupakan salah satu kunci utama kemampuan Indonesia mengelola bencana.

    Saat ini, diperlukan banyak sekali riset terkait bencana alam di Indonesia. Bukan hanya mengenai early warning systemdan infrastruktur, tetapi riset tentang pengendalian efek dari bencana alam itu sendiri, agar dapat ditangani secara efektif. Dalam hal ini, negara sebaiknya bekerja sama dengan beberapa instansi terkait seperti lembaga riset dan kampus-kampus (BHMN), untuk mencari solusi lebih jauh mengenai penanganan bencana.

    Dengan semakin gencarnya proyek-proyek penelitian dan tugas akhir atau skripsi, kerja sama antara pemerintah dengan lembaga riset dan kampus, diharapkan dapat memperoleh titik temu, solusi-solusi apa sajakah yang diperlukan dalam proses antisipasi bencana. Hal ini tentu saja perlu keseriusan dari pemerintah sendiri, untuk meningkatkan anggaran riset kita yang saat ini masih sangat minim dan terkesan dianaktirikan.
    Untuk upaya penanganan sendiri, perlu dilakukan secara lebih terorganisasi. Saat bencana terjadi, tanggap darurat yang dilakukan oleh pemerintah dari daerah sampai pusat harus terkelola secara sistematis. Penetapan status bencana harus cepat dan update. Peran informasi elektronik pun perlu, bukan untuk semakin memperkeruh suasana, tetapi untuk mendistribusikan informasi yang valid pada masyarakat Indonesia mengenai daerah bencana. Dengan terdistribusinya informasi dengan baik dipadukan dengan ajakan untuk membantu masyarakat yang butuh pertolongan, akan dapat mempersempit masalah yang ada. Seperti gerakan sumbangan dan relawan yang diinformasikan secara baik ke semua kampus dan elemen masyarakat.
    Terakhir, perlu digencarkan lagi penyuluhan mengenai situasi darurat pada masyarakat jika bencana alam terjadi. Bukan untuk menakut-nakuti tentunya, tetapi untuk memperbanyak masukan kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang jauh dari perkotaan, sebagai langkah cepat saat bencana terjadi. Di sini, peran mahasiswa dan lembaga masyarakat tentu sangat diperlukan.
    Keseluruhan upaya-upaya tadi harus diintegrasikan pada suatu kesatuan ‘control system’, supaya dapat berjalan dengan baik.
    Contoh lain upaya ahsiswa dalam menghadap bencana adalah Mahasiswa Purwakarta dan Subang menggalang dana kemanusiaan untuk korban bencana alam tsunami di Mentawai, Sumbar, dan meletusnya gunung merapi di Yogjakarta.
    Di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, puluhan mahasiswa tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (Permata) menggelar aksi simpatik dengan menggalang dana kemanusiaan didepan Kampus Upi Purwakarta di Jl Veteran, Kel Nagri Kaler.
    “Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa Purwakarta terhadap saudara kita yang tertimpa bencana alam di Mentawai dan Yogjakarta,” ujar Ketua Permata, Riza Achmad Ghozali, Jumat (29/10).
    Dipilihnya lokasi penggalangan dana didepan Kampus UPI, menurut Riza, karena jalur padat perlintasan kendaraan umum dan pribadi, baik roda dua maupun roda empat. “Aksi simpatik ini akan digelar selama tiga hari. Kami menargetkan sehari harus mampu menghimpun Rp 1 juta. Dana terkumpulkan tersebut segera akan disalurkan ke Yogjakarta dan Mantawai,” tukasnya.
    Di Kab Subang, puluhan mahasiswa melakukan aksi penggalangan dana di tiga tempat. Di jantung kota Subang, tepat di Wisma Karya dan Perempatan Gedung Juang, Subang, puluhan mahasiswa tergabung dalam Pecinta Alam Universitas Subang (Palamus) dan Ikatan Keluarga Besar Matematika (IKBM).
    Di jalur pantura Pamanukan, Subang, mahasiswa tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cab Subang menggelar aksi solidaritas untuk korban bencana alam di Mentawai dan Yogjakarta, di bawah fly over (jembatan layang) Pamanukan, Subang.
    ” Disini kita perlu berbagi. Apa yang tengah dialami korban bencana alam di Mentawai dan Jogjakarta, kami disini juga ikut merasakan. Karena kita terikat dalam bingkai NKRI. Suka duka harus bersatu,”

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://tech.groups.yahoo.com/group/kabiogama_pusat/message/3605

    http://kampus.okezone.com/read/2010/11/13/367/392895/367/control-system-integrasikan-antisipasi-bencana-alam

    http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/10/29/mahasiswa-galang-dana-korban-bencana

    NAMA : EDI PURNIAWAN
    NIM : 08/274612/DPA/3206
    PRODI : REKAM MEDIS

    Posted by EDI PURNIAWAN 08/274612/DPA/3206 | 3 December 2010, 5:08 pm
  55. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA

    Negara Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng India-Australia, dan Lempeng Pasifik, serta memiliki lebih dari 400 gunung berapi dan 130 di antaranya termasuk gunung berapi aktif. Sebagian dari gunung berapi terletak di dasar laut dan tidak terlihat dari permukaan laut. Indonesia merupakan tempat pertemuan dua rangkaian gunung berapi aktif (Ring of Fire), serta terdapat puluhan patahan aktif yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia (Wikipedia, 2010). Kondisi geografis ini mengakibatkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang rawan bencana. Bencana Tsunami di Aceh, bencana Banjir di Wasior, Gempa di Padang serta yang baru saja terjadi adalah bencana Gunung Meletus di Yogyakarta dan Jawa Tengah adalah segelintir contoh bencana yang secara langsung maupun tidak langsung diakibatkan oleh kondisi geografis Indonesia.
    Terlalu seringnya masyarakat Indonesia dihadapkan pada bencana tidak membuat pemerintah menjadi proaktif dalam menanggapi bencana. Pemerintah cenderung bertindak jika sudah jatuh korban. Selama ini usaha pemerintah lebih dititikberatkan pada manajemen pasca bencana, meski masih terkesan lambat dan belum terkoordinir dengan baik. Untuk persiapan dalam menghadapi bencana, seperti penentuan kemungkinan zona-zona rawan bencana, sosialisasi pada masyarakat di daerah rawan bencana, pemasangan detektor-detektor bencana, ataupun persiapan lokasi pengungsian dirasa masih sangat kurang dan belum termanajemen secara optimal.
    Akan tetapi, terus menyalahkan pemerintah atas kelambanan penanganan bencana bukanlah tindakan yang bijaksana. Mengingat pekerjaan rumah pemerintah untuk membangun negara ini bukan hanya dalam bidang kebencanaan, maka peran segenap elemen-elemen masyarakat sangat dibutuhkan. Ancaman bencana masih mengintai masyarakat Indonesia, mengingat perubahan iklim yang terjadi akibat global warming serta emisi karbon yang belum bisa dikendalikan terutama oleh negara-negara besar penghasil gas karbon. Kondisi ini akan berdampak besar terhadap cuaca maupun iklim di Indonesia, yang diwaspadai akan memicu bencana-bencana yang lebih besar di masa mendatang. Negara ini tidak boleh hanya mengandalkan pemerintah untuk menangani bencana yang datang silih berganti. Dibutuhkan bantuan dari berbagai pihak untuk turut aktif menangani bencana di Indonesia, termasuk peran aktif mahasiswa.
    Fungsi mahasiswa sebagai iron stock (cikal bakal pemimpin masa depan) serta sebagai agent of change (agen perubahan), menempatkan mahasiswa dalam posisi strategis untuk turut ambil bagian dalam penanganan bencana. Mahasiswa haruslah menjadi seorang aktivis pergerakan yang tidak hanya berkoar menyuarakan suatu gagasan, tetapi juga sebagai eksekutor dilaksanakanya suatu kegiatan yang bermanfaat, seperti bakti sosial pembersihan sungai untuk antisipasi banjir, bekerja sama dengan instansi terkait untuk mengadakan seminar-seminar tentang penanganan pra dan pasca bencana, seminar tentang manajemen bencana, dan lain sebagainya.
    Menurut Hakim Konstitusi RI & Guru Besar Hukum Tata Negara UI, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., dalam mengembangkan perannya, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi (reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi dibangun berdasarkan bacaan baik dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang diterima, makin luas dan mendalam pula daya refleksi yang berhasil diasah.
    Di samping kemampuan reflektif, kaum muda Indonesia juga perlu melatih diri dengan kebiasaan untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” seperti kebiasaan banyak kaum intelektual dan politikus amatir negara miskin. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang nyata.
    Mahasiswa sebagai kaum minoritas diharapkan dapat menjadi inspirasi mayoritas masyarakat luas. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mahasiswa memiliki kewajiban untuk membangun Indonesia. Dengan keilmuan yang ia miliki mahasiswa mampu membantu pemerintah dalam menangani bencana-bencana yang datang silih berganti sesuai dengan masing-masing bidang ilmu yang ditekuni. Mahasiswa merupakan pihak yang dapat terjun secara langsung ke masyarakat dan mengidentifikasi setiap masalah yang ada serta mencari solusi yang tepat.
    Selama ini sudah banyak peran mahasiswa yang mendayagunakan ilmu yang dimiliki untuk penanganan bencana. Misal mahasiswa dari sebuah universitas negeri di Jawa Tengah yang dapat menciptakan detektor gempa sederhana dengan biaya murah dan dapat dipasang di rumah-rumah. Selama ini detektor gempa yang ada berbiaya mahal dan hanya dipasang pada tempat-tempat tertentu serta kurang dalam perawatan. Detektor ini berhasil menjadi juara 1 Kompetisi Rancang Bangun 2010 Tingkat Nasional yang berlangsung 22-23 Oktober 2010 di Bali (Kompas, 26/11). Diharapkan pemerintah dapat memproduksi massal alat ini karena biayanya yang murah dan manfaatnya yang besar untuk menjadi peringatan awal terjadinya gempa.
    Untuk penanganan bencana, mahasiswa juga telah menunjukkan perannya, antara lain dapat dilihat ketika terjadi bencana Merapi beberapa waktu lalu. Tim penyelamat serta relawan yang membantu di tempat pengungsian banyak yang berasal dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa juga langsung turun ke jalan untuk menggalang dana bagi korban bencana. Ketika pulang ke daerah asal masing-masing, masih tersisa kepedulian terhadap korban bencana dengan menggalang dana dari daerah asal. Opini dan pemikiran mahasiswa juga banyak menghiasi media, yang antara lain berisi tentang kritikan membangun kepada pemerintah untuk lebih sigap dalam penanganan bencana. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih peduli terhadap keadaan bangsanya.
    Selama masa rekonstruksi bencana, kepedulian mahasiswa terhadap korban bencana juga belum surut. Salah satunya adalah diadakannya trauma healing untuk menyembuhkan psikis anak-anak korban letusan gunung merapi yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan instansi lainnya serta dengan mahasiswa Fakultas Psikologi UGM, UII, dan UIN Sunan Kalijaga (Kedaulatan Rakyat, 25/11).
    Begitu banyak peran yang telah diambil mahasiswa dalam penanganan bencana. Meskipun tidak seberapa, tetapi paling tidak mahasiswa sudah menunjukkan eksistensinya. Dengan terus dibina kerja sama dari semua pihak, semoga dapat meminimalisir dampak dari bencana yang terus menghantui negeri ini.

    NAMA : Arum Ika Yulianawati
    NIM : 08/274059/DPA/3144
    JURUSAN/PRODI : Rekam Medis (B)

    Referensi :
    Kompas, 26 November 2010.
    Kedaulatan Rakyat, 25 November 2010.
    Wikipedia “Geografi Indonesia”, diakses dari http://www.wikipedia.com tanggal 3 Desember 2010.
    Makalah “Pemuda dan Mahasiswa Indonesia, Optimisme Menuju Pencerahan Masa Depan Bangsa”, sebagai bahan dalam acara Konferensi Mahasiswa Indonesia dengan tema “Kondisi, Harapan dan Konstribusi Nyata dari Pemuda” yang diadakan oleh BEM KM UGM.

    Posted by Arum Ika Yulianawati | 3 December 2010, 2:45 pm
  56. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN BENCANA YANG KERAP TERJADI DI INDONESIA
    Peran pemuda dalam menangani bencana menurut saya sangat banyak bila dijabarkan satu persatu.Dapat diambil sebuah contoh di setiap universitas- universitas di indonesi dalam menangani dan mengatasi bencana para mahasiswa langsung tergerak melakukan penggalangan dana dengan berbagai cara,ada yang dengan cara mengamen,ada yang dengan cara mendatangi setiap kelas untuk meminta penyaluran dana dari rekan-rekan sesama mahasiswa.Menurut saya hal itu dapat dijadikan sebuah contoh bahwa para pemuda Indonesia ternyata cepat tanggap menganai bencana yang terjadi di Indonesia ini.Ini juga dapat menepis anggapan yang menyatakan bahwa para pemuda Indonesia yang dianggap hanya bisa membuat rusuh,onar,dan hal-hal yang berbau anarkhis.Karna pada kenyataan nya dalam keadaan Indonesia berduka para pemuda mampu membuktikan kalau mereka mampu ikut serta berpartisipasi dalam menangani bencana itu dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat dan melakukan misi-misi kemanusiaan.Bahkan kalau saya lihat dari pemberitaan yang ada sekarang peran pemuda dalam menangani bencana juga ternyata cukup banyak bahkan ada yang dengan sukrela ikut berangkat ke tempat terjadinya bencana hanya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang berduka.Dan hal itu dilakukan dengan cuma-cuma tanpa mengharapkan imbalan apapun,mereka tergerak atas dasar rsa kemanusiaan.Dari sini saya rasa kita tidak bisa hanya melihat para pemuda dari sebelah mata karna pada kenyataannya banyak hal positif yang dilakukan oleh para pemuda di zaman sekarang.Hal ini juga menandakan bahwa para pemuda masih mempunyai rasa kemanusian dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah.Bukan cuma anakhisme yang bisa mereka lakukan tapi juga hal positif yang bisa mereka lakukan demi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana.Sehingga tampak jelas bahwa para pemuda juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini
    Dalam situasi bencana, tentu saja setiap individu masyarakat memikul tanggung jawab terhadap keselamatannya masing-masing. Namun, dengan edukasi bencana, rasa tanggung jawab sosial juga dikuatkan agar tidak timbul sikap acuh tak acuh terhadap problem yang dialami oleh anggota masyarakat lainnya. Tanpa ada edukasi bencana yang mengajarkan rasa kebersamaan tentu akan sulit rasanya kita membangun empati terhadap orang lain.

    Keempat, edukasi bencana diharapkan mampu mengurangi dampak dan meminimalisir jatuhnya korban jiwa. Pemahaman dan simulasi bencana yang diberikan saat edukasi kebencanaan diharapkaenambah knowledge dan sikap responsif saat bencana betul-betul terjadi sehingga mengurangi jatuhnya korban jiwa yang lebih besar.

    Tanpa dibekali pengetahuan dan simulasi yang memadai, dampak dan korban jiwa akibat bencana gempa bumi misalnya, amat sulit ditekan. Oleh karena itu edukasi kebencanaan menjadi hal yang conditio sine qou non khususnya bagi masyarakat agar mereka memiliki bekal dan pemahaman yang menyeluruh dalam mengantisipasi datangnya bencana.

    Kurikulum Lokal
    Mengingat urgensi edukasi kebencanaan yang demikian besar pemerintah hendaknya segera melakukan program edukasi ini secara simultan dan massif. Salah satu cara efektif dapat dilakukan melalui sosialisasi melalui wadah-wadah masyarakat seperti perkumpulan PKK, Karang Taruna, Majelis Taklim, dan sebagainya.

    Edukasi ini juga akan menjadi lebih efektif manakala pemerintah memberikan training khusus tentang kebencanaan kepada fasilitator-fasilitator masyarakat (FM) yang nantinya akan mengedukasi kebencanaan di wilayahnya masing-masing. Keberadaan FM ini menjadi penting untuk melakukan mobilisasi dan evaluasi terhadap edukasi kebencanaan yang
    telah dilaksanakan di suatu wilayah.

    Pemerintah juga dapat memasukkan program edukasi kebencanaan ke dalam kurikulum lokal mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMU sehingga pemahaman tentang mitigasi bencana ini dipahami lebih dini. Bagaimana pun salah satu korban terbesar bencana alam seperti gempa bumi adalah anak-anak usia sekolah sehingga edukasi bencana menjadi penting bagi mereka.

    Tentu saja edukasi yang diberikan kepada anak-anak sekolah harus diajarkan dengan cara penuh kesabaran mengingat mereka belum memiliki kepribadian yang stabil. Metode permainan (games) dan simulasi ringan dapat merangsang anak-anak usia sekolah untuk memahami lebih jauh tentang pentingnya mitigasi kebencanaan ini.

    Akhirnya kita semua berharap edukasi kebencanaan ini menjadi program nasional yang dijalankan pemerintah khususnya bagi masyarakat kota yang rawan bencana. Ini mengingat masih minimnya edukasi kebencanaan yang selama ini diterima oleh masyarakat. Padahal, ancaman bencana alam seperti gempa bumi sering terjadi.

    Oleh karena itu langkah-langkah darurat dalam menyiapkan edukasi kebencanaan ini harusnya segera dilakukan pemerintah sehingga masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan bencana yang terjadi. Edukasi kebencanaan adalah hak masyarakat yang harus dilaksanakan pemerintah.
    (wijaya darma, 2010)

    Berikut adalah contoh sesuatu hal yang sebaiknya dilakukan mahasiswa dalam menanggapi bencana (contoh : gempa) adalah
    Kondisi Tempat Tinggal
    Saat ini masyarakat yang rumahnya terkena dampak gempa mencoba membangun tenda sederhana daria bahan apaun yang mereka miliki. Umumnya mereka membangun tenda dari bahan terpal yang biasa mereka pakai untuk menjemur padi. Sebagian masyarakat menempati rumah-rumah kayu yang masih bisa dipakai, itupun dengan penuh kekhawatiran kalau-kalau ada gempa lagi yang dapat merubuhkan rumah-rumah yang masih tersisa itu. Belum terlihat adanya tenda-tenda bantuan yang dikirimkan oleh lembaga pemerintah maupun organisasi yang bisa memberikan bantuan tanggap darurat. Hal ini menunjukkan memang bantuan belum sampai ke kawasan ini.

    Kondisi Makanan
    Saat ini masyarakat mengkonsumsi makanan dari bahan makanan yang masih mereka miliki seperti beras bagi mereka yang kebetulan masih memiliki persediaan di rumahnya. Beberapa telah menerima bantuan dari swadaya masyarakat di sekitar dan sanak saudara yang telah memberikan bantuan. Makanan cepat saji seperti mie instan belum banyak ditemui. Dikhawatirkan persediaan makanan akan terus berkurang sementara bantuan belum datang. Dapur umum, sangat jarang ditemui karena masyarakat umumnya mencoba menggunakan alat-alat masak yang masih bisa mereka pakai dengan membuat tungku kayu bakar untuk memasaknya.
    Air Bersih dan MCK
    Sumber air bersih pada saat sebelum gempa umumnya adalah sumur gali dan air sungai yang masih jernih. Setelah kejadian gempa, umunya air di sumur berkurang dan berwarna keruh. Begitu juga air di sungai menjadi keruh dan tidak bisa mereka pakai. Untuk keperluan air minum saat ini, mereka mendapatkannya dari sumur-sumur yang masih bisa dipakai dengan persediaan yang terbatas. Sarana MCK sebelum gempa berupa sarana MCK yang dimiliki oleh masing-masing rumah dengan sumber air dari sumur atau aliran air dari kali kecil yang bersumber dari mata air. Karena rusak akibat gempa, maka sarana MCK sekarang mempergunakan sungai sebagai alternatif utama.

    Kondisi Layanan Kesehatan
    Kondisi layanan kesehatan baik gedung maupun sistemnya sekarang hancur akibat gempa. Gedung puskesmas dan pustu umumnya rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi. Sementara itu para petugas masih dalam keadaan panik karena mereka pun menjadi korban akibat gempa. Layanan kesehatan yang ada saat ini masih berupa layanan klinik berjalan yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga pemberi bantuan tanggap bencana. Layanan umumnya masih terbatas pada kawasan yang mudah dijangkau dan belum menyentuh kawasan-kawasan perbukitan yang memang sulit untuk dijangkau dengan berkendaraan. (asesmen UI 2010)
    Penutup
    Oleh karena itu dalam mengahadpi bencana alam disekitar kita untuk saat ini peranan mahasiswa sangat dibutuhkan untuk membantu masyarkat yang menjadi korban bencana dengan berbagai cara bentuk bantuan apapun itu pasti akan sangat bermanfaat bagi masyarkat sekitar bencana.
    Dan masyarakat sekitar pun pati akan menerima apapun bentuk dari bantuan kita terlebih jika kita masih sebagai mahasiswa karena dimata masyarakat korban bencana peranan pemuda dan pemudi sangat berpengaruh dan bermanfaat.

    FRANSISCA TIURMA
    08/271341/DPA/2910
    D3 REKAM MEDIS UGM

    Posted by Fransisca Tiurma | 3 December 2010, 2:28 pm
  57. Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Pemuda dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugasnya adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita di masa depan.
    Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat.
    mahasiswa, dalam perannya yang dekat dengan masyarakat begitu juga dapat berkooperatif dengan pemerintah sehingga disebut sebagai social control. Karena perannya inilah mahasiswa harus berada dalam barisan terdepan yang dituntut untuk cepat tanggap terhadap permasalahan-permasalahan nasional.
    Empat tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
    Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.

    Mahasiswa sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani
    bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor
    mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa,
    cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi
    aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah
    menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung
    berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam,
    maka uluran tangan dari kita akan terus dibutuhkan.
    Kiprah dunia kampus dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih.kurang (untuk mengatakan tak ada sama sekali). Kita tak bisa menafikan begitu saja bagaimana getolnya mahasiswa- mahasiswa kita yang turut aktif mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun silam.
    Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi di Padang di jalan-jalan dan sebagainya. Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia kampus di atas
    hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus.
    Di sinilah kampus harus melebarkan sayapnya untuk berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan
    menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin. Para pemangku kebijakan kampus juga sudah selayaknya merespon hal ini. Pengelola kampus perlu memberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi bagi seluruh sivitas akademiknya. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Karena itulah, dalam rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa dan Pengenalan Kampus (OSPEK) perlu disisipkan materi ini. Paradigma OSPEK harus diubah yang semula cenderung sebagai kegiatan perpeloncoan menjadi kegiatan yang edukatif, salah satunya keterampilan menghadapi bencana.
    Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Andai peran ini baik pra maupun pascabencana bisa dimainkan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampus, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa
    ditekan semaksimal mungkin. Perlu digarisbawahi lagi bahwa kegiatan ini bukan bermaksud untuk menolak bencana, melainkan sebagai ikhtiar guna penyelamatan dini terhadap bencana alam.
    Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘Sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan.
    Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Demikian halnya dengan kita. Bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Sistem pembangunan yang selama ini kita anut kurang memperhatikan faktor alam yang ada, sudah saatnya sistem kuno ini kita rubah dengan sistem baru yang lebih berbasis lingkungan. Para arsitek dan insinyur bangunan haruslah memperhatikan dampak pembangunan sebuah gedung terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak hanya cantik dilihat dan kokoh namun bangunan tersebut haruslah bersinergi dengan alam. Perundang – undangan yang selama ini mengatur tentang tata laksana konstruksi sebuah bangunan juga harus dirubah. Harus ada aturan yang tegas untuk melarang didirikannya bangunan di lahan lahan daerah resapan air, lereng – lereng gunung serta bukit. Selain itu Ketegasan pemerintah dalam menghukum para pelaku pembalakan liar harus digalakkan karena fungsi hutan sangatlah kompleks untuk menjaga keseimbangan alam kita.
    Selain hal tadi, peranan mahasiswa adalah segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Beberapa teman saya telah melakukan hal ini. Satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!” . Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara – saudara kita selamat.

    Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.

    Referensi :

    http://keperawatan.byethost17.com/2009/11/09/pnc-dan-bencana-alam/

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://groups.google.com/group/bencana/browse_thread/thread/ad9c60a196e2bd5f/9bf1c1d7035b1a6e

    http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=3412

    Nama : kartika dwi mayangssari
    Nim : 08/271584/DPA/3019
    Prodi: rekam medis

    Posted by kartika dwi mayangsari | 3 December 2010, 12:14 pm
  58. PERAN MAHASISWA DALAM MENANGGULANGI BENCANA

    Menjelang berakhirnya tahun 2010, Indonesia dirundung bencana. Mulai dari banjir bandang yang menerjang Wasior di Papua, sunami di Kepulauan Mentawai, dan saat ini Gunung Merapi masih membara di Yogyakarta. Fakta ini mengingatkan masyarakat bahwa gugusan kepulauan nusantara memang rawan akan bencana. Letak Indonesia yang strategis sekaligus berbahaya ini, sudah seharusnya melahirkan penduduk yang mampu meminimalisasi dan mengantisipasi dampak suatu bencana alam.
    Namun, di tengah perkembangan teknologi seperti saat ini pun, korban yang jatuh tak pernah dapat dihindari. Bukan hanya beberapa, terkadang korban mencapai puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan. Tiap kali bencana datang, maka penduduk panik dan melakukan tindakan sporadis yang sesungguhnya tidak efisien. Seakan-akan masyarakat kita tidak pernah siap dengan fakta bahwa Indonesia merupakan daerah rawan bahaya. Lantas, kemanakah pengalaman mitigasi bencana para pendahulu kita pergi?
    Selalu tidak siapnya masyarakat dalam menanggulangi dampak bencana tak lepas dari kecenderungan manusia saat ini yang jauh dari alam. Bencana alam, seperti apa yang akhir-akhir ini dialami, bukan merupakan hal baru. Sejak ratusan tahun lalu nenek moyang bangsa Indonesia telah mengalami, dan belajar untuk menanggulanginya. Ilmu ini kemudian diwariskan dalam bentuk kearifan lokal kepada generasi berikutnya.
    Seperti contoh kearifan lokal Semong yang ada di Pulau Simeulue. Tradisi ini mengajarkan kepada masyarakat setempat untuk segera lari ke bukit atau tempat yang lebih tinggi ketika air di pantai surut tiba-tiba. Selain itu, ada pula tradisi di masyarakat Jawa, khususnya daerah gunung berapi, yang mempercayai jika kera-kera telah turun gunung atau hewan-hewan bertingkah-laku di luar kebiasaan, maka akan terjadi erupsi atau letusan gunung berapi.
    Saat ini, masyarakat modern telah semakin jauh meninggalkan kearifan lokal ini. Alam yang seharusnya menjadi petanda bagi manusia, telah banyak dirusak demi kepentingan pembangunan. Akibatnya, elemen-elemen yang dahulu mampu membuat sebuah mekanisme peringatan dini akan terjadinya bencana, kini tak mampu bekerja dengan baik.
    Melihat semua ini, perlu ada langkah sistematis yang memadukan antara tradisi kearifan lokal dengan teknologi modern. Sebab, alat teknologi modern saat ini hanya mampu untuk mendeteksi bencana setelah terjadi. Sedangkan kearifan lokal setempat mengajarkan masyarakatnya untuk membaca tanda-tanda alam.
    Jalan yang paling efektif adalah dengan membina generasi muda melalui ranah pendidikan. Perlu ada pengenalan kembali generasi muda terhadap kearifan lokal yang dimiliki daerahnya. Pertanda-pertanda dan tindakan yang sesuai perlu diperkenalkan agar para pelajar ini bisa menjadi pemandu bagi masyarakat ketika bencana terjadi. Sehingga demikian, masyarakat dapat segera mengantisipasi dampak bencana tanpa perlu panik dan menunggu hingga semuanya terlambat.
    Selain itu, pengenalan terhadap kearifan lokal ini pun akan turut mengajak generasi muda untuk mencintai alam. Akan timbul kesadaran dalam benak mereka bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari alam. Ketika alam itu dirusak, maka para penanda akan hilang, dan bencana itu tak akan terelakan lagi.
    Oleh karena itu, berawal dari generasi muda, diharapkan dampak buruk dari bencana alam mampu diminimalisasi. Dengan kemampuan untuk mengenali pertanda alam, dan kesadaran untuk tidak mau merusak alam. Semoga semua bencana ini lekas berakhir, dan bangsa Indonesia dapat kembali berbenah diri. Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. Dalam perjalanan bangsa kita selama 102 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 82 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 65 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 12 tahun terakhir sejak reformasi, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Lebih-lebih selama 6 tahun terakhir ini, demikian banyak bencana yang datang bertubi-tubi, baik karena faktor alam maupun karena faktor kesalahan manusia. Bencana alam seperti tsunami di Aceh dan Nias dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tergolong sangat luar biasa skalanya dalam sejarah umat manusia. Bencana tsunami itu disusul pula oleh berbagai gempa bumi di berbagai daerah dan meletusnya Gunung Merapi yang juga menimbulkan banyak korban di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Segala jenis bencana alam tersebut tentunya juga sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian rakyat, tidak saja di daerah bencana, tetapi juga secara luas di seluruh Indonesia.

    Peristiwa Meletusnya Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10) menarik perhatian dari berbagai pihak, termasuk televisi. Tak mengherankan jika stasiun televisi kemudian beramai-ramai menyiarkan program breaking news untuk memantau kondisi terkini yang datang dari atas Merapi. Beberapa stasiun televisi menampilkan hiruk-pikuk yang terjadi di rumah sakit ketika dokter sedang mengobati para korban erupsi Merapi.
    Dalam salah satu adegan digambarkan bagaimana keadaan korban yang datang dengan darah yang menempel di sekujur tubuh. Ada juga adegan seorang ibu menangis terisak-isak karena anaknya meninggal dunia. Sementara dalam adegan yang lain diperlihatkan ketika tim SAR sedang mengevakuasi mayat yang ditemukan di sekitar rumah Mbah Maridjan. Adegan itu diikuti dengan narasi yang menyebutkan bahwa mayat-mayat korban erupsi bergelimpangan di jalan. Fakta-fakta tersebut diperlihatkan dengan gamblang bahkan terkesan vulgar.
    Tidak hanya melalui satu gambar yang diputar berulang-ulang kali tetapi juga melalui pemilihan kata yang berlebihan. Sebagai contoh, sang reporter televisi ketika di rumah sakit mengatakan bahwa “banyak mayat-mayat bergelimpangan” sementara di sekelilingnya banyak korban yang masih merintih kesakitan. Reporter bahkan menggunakan kata “melarikan diri” alih-alih mengatakan bahwa warga “mengungsi”.Ada upaya untuk melakukan dramatisasi kejadian di medan bencana. Dalam wawancara dengan korban, reporter salah satu stasiun televisi swasta nasional bahkan secara bertubi-tubi bertanya kepada korban yang nampak kelelahan. Kondisi ini tentu menyalahi kode etik yang sudah ditentukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia.
    Seperti yang sudah ditegaskan dalam pasal 59 Pedoman Perilaku dan Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS), ada empat hal yang harus diperhatikan media (terutama televisi) ketika menyiarkan bencana alam. Pertama, peliputan harus dilakukan dengan mempertimbangkan proses pemulihan korban dan keluarganya. Artinya, dampak traumatik yang mungkin muncul sebagai akibat pemberitaan yang dilakukan harus diminimalisir oleh media.
    Kedua, media dilarang menambah penderitaan korban bencana yang sedang dalam kondisi darurat dengan memaksa untuk diwawancarai dan diambil gambarnya. Ketiga, gambar korban hanya boleh diperlihatkan dalam konteks yang mendukung tayangan. Keempat, harus menghormati peraturan mengenai akses media yang dibuat oleh rumah sakit atau institusi medis lainnya.

    Referensi :

    http://kampus.okezone.com/read/2010/11/08/367/391168/367/back-to-nature-antisipasi-dini-dampak-bencana

    http://anakdjogja7.blogspot.com

    http://www.balaiurangpres.com

    Posted by arif budiman | 3 December 2010, 11:34 am
  59. PERAN MAHASISWA
    DALAM MENGHADAPI BENCANA

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
    Kita mendirikan negara Republik Indonesia untuk maksud melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukankesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan sebagai Negara Demokrasi konstitutional (constitutional democracy) berdasarkan Pancasila.
    Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak permasalahan, tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang dari masa depan kita. Dalam menghadapi beraneka persoalan tersebut, selalu ada kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan-ketakutan sebagai akibat kealfaan atau kesalahan yang kita lakukan atau sebagai akibat hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita, seperti karena terjadinya bencana alam atau karena terjadinya krisis keuangan di negara lain yang berpengaruh terhadap perekonomian kita di dalam negeri.
    Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.

    Bencana alam yang terjadi silih berganti pada akhir-akhir ini memang menuntut gerak cepat dari berbagai pihak; mulai dari pemerintah (baik daerah maupun pusat), Bazarnas, BNPB, LSM, lembaga-lembaga pemerintahan, serta seluruh warga masyarakat yang ada. Bencana alam yang terjadi sekarang ini seringkali tidak dapat diprediksi. Contohnya letusan gunung merapi di Sleman-Yogyakarta dan tsunami di Mentawai. Tidak bisa dipungkiri negara kita ini memang termasuk wilayah yang sangat rawan akan bencana alam. Untuk itu perlu selalu ada kesiagaan dari berbagai kalangan. Kesiagaan Pemerintah saja terbukti tidak cukup efektif dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam di tanah air. Dalam hal ini tentu perlu adanya partisipasi serta peran serta aktif dari para mahasiswa.
    Ketika bencana alam datang silih berganti seperti sekarang ini, para mahasiswa harus siap turut serta aktif dalam penanganan bencana di tanah air. Baik itu diminta maupun atas keikhlasan dan kesadaran diri. Kita sebagai mahasiswa harus menjadi mahasiswa yang siaga bencana, dalam artian tanggap jika suatu waktu terjadi bencana. Bukan justru menyelamatkan diri sendiri saat bencana terjadi, namun sebagai mahasiswa harus turut berperan aktif dalam melakukan evakuasi terhadap para korban bencana. Atau paling tidak para mahasiswa bisa menjadi relawan maupun koordinator di lokasi bencana.
    Di sisi lain kita para mahasiswa juga bisa berpartisipasi sebagai dermawan. Tentu bukan seberapa besar jumlah uang atau nilai barang yang disumbangkan. Namun yang lebih penting adalah keikhlasan berbagi dan nilai guna dari apa yang kita sumbangkan itu. Bisa berupa makanan, pakaian, obat-obatan, dsb. Sebagai mahasiswa yang memiliki banyak jaringan kita juga bisa menjadi relawan/coordinator dalam pengumpulan dana bantuan untuk para korban bencana alam di tanah air. Bisa melalui posko-posko mahasiswa ataupun aksi penggalangan dana di masyarakat.
    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini; mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di mentawai Sumatra, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Bukti nyata pemanfaatan teknologi (Social Networking), kita dapat melihat kasus yang dialami oleh prita mulyasari yang berseteru dengan RS Omni Internasional terkait tentang curahan hatinya terhadap pelayanan yang diberikan yang dianggap sebagai pencemaran nama baik (korban kedhzaliman Sistem), dan luar biasa sekali dukungan dari masyarakat baik berupa moril maupun dana, yang dicurahkan melalui jejaring sosial. Ini meupakan masalah personal yang dialami seorang prita mulyasari, apalagi untuk korban bencana alam yang menyangkut banyak korban jiwa, tidak mustahil mendapatkan hasil yang besar untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana.
    Setelah banyaknya kejadian bencana alam yang menimpa Indonesia tercinta, yang merenggut banyak korban jiwa, mulai bencana tsunami di pulau mentawai bagian barat Sumatra sampai meletusnya gunung merapi di jawa tengah sekarang ini. Melihat hal itu maka barisan Mahasiswa ISTA yang digawangi oleh BEM turut peduli dan ikut merasakan penderitaan yang dirasakan oleh para korban yang terkena becana, berawaldariniat yang baik untukmenolongsaudara-saudara yang terkena bencana, barisanMahasiswa ISTA mengadakan kegiatan pengalangan dana untuk parakorban bencana alam dengan cara menggugah perasaan para pengendara pribadi sekaligus angkutan umum serta masyarakat setempat guna meringankan beban saudara-saudara yang terkena bencana.

    Referensi

    http://www.ista.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=150:mahasiswa-ista-peduli-mentawai-dan-merapi&catid=36:informasi

    http://www.polbeng.ac.id/index.php?lang=&view=berita&mode=read&id=20101102083044

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/09/mahasiswa-siaga-bencana/

    Posted by inyoman resana | 3 December 2010, 11:01 am
  60. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA

    Masihkah kegiatan belajar-mengajar (KBM) dalam pendidikan diperlukan bagi anak-anak yang saat ini menjadi korban bencana? Pertanyaan itu tidak bermaksud menggemboskan semangat anak-anak korban bencana baik korban banjir di Wasior, tsunami Mentawai, maupun korban letusan Gunung Merapi di tiga wilayah, Sleman, Magelang, dan Klaten yang walau dilanda musibah, mereka tampak sangat antusias mengikuti ragam kegiatan edukasi positif yang diselenggarakan para relawan. Namun, yang perlu dimengerti adalah situasi dan kondisi kalut para korban bencana. Sebagian dari mereka (anak-anak sekolah) harus rela menerima duka dan kesedihan mendalam lantaran sanak saudara, atau bahkan anggota keluarga mereka (orang tua), menjadi salah satu korban bencana alam. Dalam situasi itu, sepertinya sangat sulit mengajak anak-anak korban bencana itu untuk mengikuti KBM, kecuali di samping karena kemauan kuat dari si anak, ada pengubahan format KBM, yang saya menyebutnya dengan istilah ‘pendidikan darurat’.
    Asumsi yang dibangun dalam tulisan ini adalah bagaimana kita berempati dengan ikut memperhatikan nasib ribuan anak sekolah dasar (SD) sampai sekolah lanjutan (SMP/SMU) yang kini menderita akibat bencana. Mulai dalam bencana Wasior, Mentawai, hingga Merapi, banyak bangunan sekolah rusak dan buku serta sarana belajar lainnya juga hancur. Mereka tidak bisa belajar karena harus ikut mengungsi bersama orang tua mereka. Belum jelas bagaimana kelanjutan pendidikan mereka karena situasinya amat buruk dan nyaris tidak tertangani dengan baik.
    Banyak anak yang tidak tahu lagi mesti belajar di sekolah mana, dan apakah sekolah yang ada bisa menampung mereka dalam kondisi morat-marit di area pengungsian yang sejauh ini masih di bawah terpal darurat dan tenda-tenda sementara. Di sinilah pentingnya memikirkan alternatif untuk mencegah agar anak-anak sekolah di kawasan bencana tidak menjadi generasi yang hilang dengan membangun pendidikan darurat. Pendidikan darurat itu penting untuk memberikan pelajaran dan pendidikan yang layak, apalagi bagi mereka yang masih harus menyelesaikan pendidikan sembilan tahun.

    Pendidikan darurat
    Dalam pengamatan saya, ada tiga pengertian apa yang dimaksud dengan pendidikan darurat. Pertama, mengacu ke tempat atau ruang belajar sebagai sarana fisik untuk menyelenggarakan pendidikan. Artinya, selama masih dalam situasi awas atau darurat di lokasi pengungsian, untuk melangsungkan KBM tidak perlu menunggu tegaknya bangunan gedung sekolah baru, tapi cukup memanfaatkan tenda-tenda pengungsi sebagai ruang KBM. Selain tenda-tenda, bangunan rumah milik warga yang masih layak pakai dapat pula digunakan sebagai ruang belajar sementara.
    Kedua, memanfaatkan partisipasi guru dari para relawan, yang walaupun mereka mungkin sebenarnya tidak menyandang sebagai guru (dalam arti formal), lewat kemampuan dan predikat mahasiswa, misalnya, dapatlah diperbantukan untuk mendukung KBM bagi anak-anak sekolah korban bencana. Proses pembelajaran itu sangat penting, terutama bagi para relawan, yang barangkali merupakan pengalaman baru dalam mengajar, yang itu pasti bermanfaat di kemudian hari.
    Ketiga, materi KBM tidak mesti mengacu ke kurikulum pembelajaran formal, tapi lebih dititikberatkan pada aspek-aspek sekunder, seperti bermain sambil belajar. Peran guru sangat menentukan untuk mendukung program ini. Harry K Wong dan Rosemary T Wong dalam How to be an Effective Teacher: The First Days of School (2005) menyebutkan setidaknya ada tiga ciri guru efektif, yaitu memiliki ekspektasi positif terhadap kesuksesan siswa, manajer kelas yang andal, dan mengetahui cara merancang pelajaran untuk dikuasi siswa. Jadi, tanpa mengurangi substansi belajar, unsur permainan dalam proses KBM bagi anak-anak korban bencana perlu diprioritaskan. Hal itu penting dilakukan untuk memberikan hiburan bagi anak-anak korban bencana, yang barangkali masih dihantui rasa trauma. Aspek-aspek pembelajaran formal bisa diselipkan pada pola permainan yang sedang berlangsung. Misalnya, seorang guru menyelenggarakan semacam audisi menyanyi untuk anak didiknya dengan mengambil tema lingkungan dan alam semesta. Lagu The Earth Song Michael Jackson sangat boleh jadi akan menjadi media belajar yang sangat efektif untuk memperkenalkan alam dengan cara bernyanyi dan menerjemahkan lirik lagu tersebut. Ini artinya dibutuhan kreativitas dari para guru dan relawan untuk mengintegrasikan nyanyian (bernyanyi) ke dalam mata ajar yang ada seperti geografi, biologi, dan agama. Dengan demikian, sekolah dalam kondisi itu sesungguhnya berubah menjadi tempat belajar yang mengasyikkan bagi anak. Sudah tentu, sangat berbeda jauh dengan situasi sekolah dalam keadaan normal sebelum bencana, yang lebih didominasi aturan-aturan ketat, mengacu ke diktat, dan cenderung mengurangi—-untuk tidak mengatakan ‘menghilangkan’ kekhasan anak-anak yang memang lebih menyukai bermain daripada tekanan psikologis belajar secara serius. Pendidikan, dalam arti sekolah, sejatinya tidak menghilangkan masa-masa kebahagiaan anak yang karakteristiknya suka bermain. Apalagi, menurut sejarah, sekolah berasal dari bahasa Latin skole, scola, atau scolae, yang berarti ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’. Artinya, sekolah adalah ‘waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar’. Pemahaman ini berbanding terbalik dengan fakta di lapangan, yang tidak memberikan ‘waktu luang’ bagi anak untuk bermain bersama teman-teman sejawatnya. Singkatnya, konstruksi pemikiran masyarakat modern saat ini menjadikan pendidikan nomor satu, sementara bermain (dengan segala karakteristik dan kekhasan anak) dinomorduakan atau bahkan di nomor urut berikutnya.

    Realisasi kurikulum kebencanaan
    Untuk jangka panjang, sekolah perlu membangun pembiasaan menghadapi bencana, mulai gempa bumi, tsunami, kebakaran, hingga kerusuhan. Lewat pendidikan, masyarakat perlu disadarkan bahwa daerah yang kita tempati saat sekarang rawan bencana, terutama bencana alam geologi. Menurut para ahli, posisi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng Australia di selatan, lempeng Euro-Asia di bagian barat, dan lempeng Samudra Pasifik di bagian timur. Karena itu, setiap warga negara, termasuk siswa, mesti tahu bagaimana bisa meloloskan diri secara tepat supaya tidak menambah korban jiwa karena bencana. Jadi ke depan, kegiatan pengurangan risiko bencana yang dimandatkan Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk sektor pendidikan. Ditegaskan pula dalam undang-undang tersebut bahwa pendidikan menjadi salah satu faktor penentu dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.
    Kita menunggu realisasi kurikulum kebencanaan yang sudah disiapkan Kemendiknas. Pasalnya, pemerintah menargetkan segera merealisasikan kurikulum pendidikan kebencanaan pada 2011. Kurikulum tersebut akan difokuskan pada sekolah-sekolah yang rawan mengalami bencana. Isi modul pendidikan kebencanaan tidak akan dimasukkan ke satu pelajaran, tetapi diintegrasikan ke beberapa pelajaran, seperti geografi, agama, dan bahasa Indonesia. Konsekuensinya jika setiap orang harus mengambil peran dalam kegiatan pengurangan risiko bencana, sekolah dan komunitas di dalamnya juga harus memulai mengenalkan materi-materi tentang kebencanaan sebagai bagian dari aktivitas pendidikan keseharian.

    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&

    Sumber : Antara, Selasa, 16 November 2010 | 18:04

    Posted by Ade denawan | 3 December 2010, 10:49 am
  61. Peranan Mahasiswa dalam Menghadapi Kejadian-kejadian Bencana Tsunami, Banjir, Gunung Meletus, Gempa atau sejenisnya yang Kerap terjadi di Negara Indonesia
    Pemuda adalah kunci keberhasilan suatu bangsa. Dari seorang pemudalah Indonesia dapat mengalami perubahan. Tercetusnya Sumpah Pemuda menandakan betapa pentingnya peran pemuda dalam mencapai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia. Yang dimaksud dengan pemuda adalah pelajar, mahasiswa atau orang yang telah menyelesaikan pendidikannya. Mahasiswa adalah pemuda yang sangat berpengaruh dalam perubahan bangsa karena dianggap memiliki intelektualitas tinggi dan berwawasan luas serta diharapkan mampu berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.
    Menurut Arbi Sanit ada empat faktor pendorong bagi peningkatan peranan mahasiswa dalam kehidupan politik.
    1. sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat.
    2. sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda.
    3. kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari.
    4. mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda.
    Keempat factor ini tidak hanya dapat dilaksanakan dalam kehidupan politik tetapi dalam kehidupan social juga bila dilaksanakan secara serasi dan seimbang. Karena politik dan social saling berkaitan.
    Kehidupan berbangsa dan bermasyarakat amatlah sulit dilakukan bila setiap warganya tidak peka dalam kehidupan social. Apalagi kita hidup di Negara Indonesia yang notabene berada di wilayah khatulistiwa, diapit oleh dua benua dan dua samudera. Sehingga Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dari Sabang sampai Merauke. Karena letaknya yang strategis inilah justru menimbulkan masalah tersendiri. Masalah yang ditimbulkan dari letak Indonesia inilah yang dapat menimbulkan adanya bencana alam bila masyarakatnya tidak peduli dan tidak menjaga kekayaan yang ada di Indonesia.
    Dalam 4 tahun terakhir dan bahkan sepekan ini saja telah terjadi bencana alam di Indonesia, seperti gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada tanggal 26 Mei 2006 yang menewaskan ribuan korban, banjir bandang yang terjadi di Wasior, Papua Barat, gempa dan tsunami di mentawai, serta yang baru saja terjadi adalah meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta pada tanggal 26 Oktober 2010. Meletusnya Gunung Merapi yang saat ini terjadi adalah yang terbesar dari tahun 2006 silam. Banyak efek yang ditimbulkan dari letusan Gunung Merapi kali ini. Seperti abu vulkanik yang menyebar sampai ke kota Yogya dan kota-kota di sekitar Gunung Merapi, lahar yang sampai merusak pemukiman warga di sekitar lereng Merapi, serta banjir lahar dingin yang terjadi di sungai-sungai di Yogya. Selain itu, banyak korban yang meninggal saat erupsi Merapi dan warga yang pemukimannya rusak terpaksa harus mengungsi di tempat yang lebih aman.
    Berangkat dari sinilah peran seorang mahasiswa diharapkan dapat memberikan langkah nyata dalam menghadapi bencana alam yang terjadi di Indonesia. Sebagai contoh di lingkungan kampus saya yaitu Fakultas MIPA, Universitas Gadjah Mada, para mahasiswanya ikut berperan dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana alam. Saat terjadi bencana Gunung Merapi meletus, para mahasiswa langsung tergerak dalam memberikan bantuan bagi korban Gunung Merapi. Bantuan berupa penggalangan dana dari setiap lembaga organisasi yang ada di Fakultas MIPA. Selain itu Fakultas MIPA juga mendirikan Posko Peduli Merapi. Sehingga penyaluran bantuan dapat terkoordinasi secara tepat sasaran. Selain bantuan berupa uang, pakaian, dan bahan kebutuhan pokok, mahasiswa FMIPA UGM juga ikut berpartisipasi menjadi relawan bagi korban bencana Gunung Merapi. Bahkan di UGM sendiri mengadakan KKN untuk membantu korban Gunung Merapi pasca letusan.
    Mahasiswa yang menjadi relawan harus rela mengorbankan tenaga, pikiran serta waktu untuk membantu korban Gunung Merapi. Bahkan sebagian besar mahasiswa enggan pulang kampung saat kuliah diliburkan pasca letusan Merapi hanya untuk membantu korban Gunung Merapi dengan sukarela tanpa mengharap imbalan. Berpanas-panasan di jalan untuk menggalang dana dan lain sebagainya. Dari sini saya rasa kita tidak bisa hanya melihat para pemuda dari sebelah mata karna pada kenyataannya banyak hal positif yang dilakukan oleh para pemuda di zaman sekarang.Hal ini juga menandakan bahwa para pemuda masih mempunyai rasa kemanusian dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah.Bukan cuma anakhisme yang bisa mereka lakukan tapi juga hal positif yang bisa mereka lakukan demi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana.Sehingga tampak jelas bahwa para pemuda juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini.
    Namun sayang sekali bila peran mahasiswa dalam penanggulangan bencana dilaksanakan pasca bencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa. Misalnya memberi pengetahuan kepada masyarakat mengenai siaga bencana melalui KKN. Tujuannya adalah memberi pengertian kepada masyarakat mengenai siaga bencana. Sehingga korban jiwa dapat diminimalisir. Memang kita tidak ada yang menginginkan bencana. Tapi kita berusaha untuk menanggulangi sebelum bencana terjadi. Misalnya saja memberi pengetahuan kepada warga lereng Merapi untuk mewaspadai Gunung Merapi yang sewaktu-waktu akan meletus. Bahayanya jika tidak mengungsi dan cara mengevaluasi ternak mereka. memang tidak mudah memberikan keyakinan kepada masyarakat yang sudah percaya dengan adat dan tradisi. Tapi sebagai mahasiswa itulah yang harus dilakukan bagaimana memberikan pengetahuan tentang bahaya yang terjadi bila warga tetap berada di lereng Merapi saat Merapi berstatus “Awas”.
    Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah
    Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Bila peran ini baik pra maupun pasca bencana bisa dilaksanakan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampus, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Perlu digarisbawahi lagi bahwa ini bukan bermaksud untuk menolak bencana, melainkan sebagai ikhtiar guna penyelamatan dini terhadap bencana alam. Diharapkan pemuda berperan tidak hanya sekedar kata namun dengan sebuah tindakan yang nyata. Sehingga mahasiswa dapat berbagi dengan lapisan masyarakat. Karena notabene mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang akan mewakili aspirasi masyarakat demi terwujudnya tujuan dan cita-cita bangsa.

    Nama : Nourmalita Sari Putri
    NIM : 08/272577/DPA/3074
    Jurusan/ Prodi : D3 Rekam Medis UGM
    Daftar Referensi
    http://www.garutkab.go.id/download_files/article/Makna%20Sumpah%20Pemuda.pdf. Diambil tgl 2 des jam 6.00

    http://rifaifibika.blogspot.com/2010/11/peran-para-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html

    diambil tgl 2 des, jam 6.15
    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42175&Itemid=62. Djuni Pristiyanto, diambil tgl 2 des jam 6.10
    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/pemuda-dan-mahasiswa-indonesia-optimisme-menuju-pencerahan-masa-depan-bangsa/. Diambil tgl 30 nov jam 20.53

    Posted by Nourmalita Sari Putri | 3 December 2010, 8:51 am
  62. Peranan Mahasiswa dalam Menghadapi Kejadian-kejadian Bencana Tsunami, Banjir, Gunung Meletus, Gempa atau sejenisnya yang Kerap terjadi di Negara Indonesia
    Pemuda adalah kunci keberhasilan suatu bangsa. Dari seorang pemudalah Indonesia dapat mengalami perubahan. Tercetusnya Sumpah Pemuda menandakan betapa pentingnya peran pemuda dalam mencapai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia. Yang dimaksud dengan pemuda adalah pelajar, mahasiswa atau orang yang telah menyelesaikan pendidikannya. Mahasiswa adalah pemuda yang sangat berpengaruh dalam perubahan bangsa karena dianggap memiliki intelektualitas tinggi dan berwawasan luas serta diharapkan mampu berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.
    Menurut Arbi Sanit ada empat faktor pendorong bagi peningkatan peranan mahasiswa dalam kehidupan politik.
    1. sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat.
    2. sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda.
    3. kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari.
    4. mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda.
    Keempat factor ini tidak hanya dapat dilaksanakan dalam kehidupan politik tetapi dalam kehidupan social juga dapat dilaksanakan secara serasi dan seimbang. Karena politik dan social saling berkaitan.
    Kehidupan berbangsa dan bermasyarakat amatlah sulit dilakukan bila setiap warganya tidak peka dalam kehidupan social. Apalagi kita hidup di Negara Indonesia yang notabene berada di wilayah khatulistiwa, diapit oleh dua benua dan dua samudera. Sehingga Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dari Sabang sampai Merauke. Karena letaknya yang strategis inilah justru menimbulkan masalah tersendiri. Masalah yang ditimbulkan dari letak Indonesia inilah yang dapat menimbulkan adanya bencana alam bila masyarakatnya tidak peduli dan tidak menjaga kekayaan yang ada di Indonesia.
    Dalam 4 tahun terakhir dan bahkan sepekan ini saja telah terjadi bencana alam di Indonesia, seperti gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada tanggal 26 Mei 2006 yang menewaskan ribuan korban, banjir bandang yang terjadi di Wasior, Papua Barat, gempa dan tsunami di mentawai, serta yang baru saja terjadi adalah meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta pada tanggal 26 Oktober 2010. Meletusnya Gunung Merapi yang saat ini terjadi adalah yang terbesar dari tahun 2006 silam. Banyak efek yang ditimbulkan dari letusan Gunung Merapi kali ini. Seperti abu vulkanik yang menyebar sampai ke kota Yogya dan kota-kota di sekitar Gunung Merapi, lahar yang sampai merusak pemukiman warga di sekitar lereng Merapi, serta banjir lahar dingin yang terjadi di sungai-sungai di Yogya. Selain itu, banyak korban yang meninggal saat erupsi Merapi dan warga yang pemukimannya rusak terpaksa harus mengungsi di tempat yang lebih aman.
    Berangkat dari sinilah peran seorang mahasiswa diharapkan dapat memberikan langkah nyata dalam menghadapi bencana alam yang terjadi di Indonesia. Sebagai contoh di lingkungan kampus saya yaitu Fakultas MIPA, Universitas Gadjah Mada, para mahasiswanya ikut berperan dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana alam. Saat terjadi bencana Gunung Merapi meletus, para mahasiswa langsung tergerak dalam memberikan bantuan bagi korban Gunung Merapi. Bantuan berupa penggalangan dana dari setiap lembaga organisasi yang ada di Fakultas MIPA. Selain itu Fakultas MIPA juga mendirikan Posko Peduli Merapi. Sehingga penyaluran bantuan dapat terkoordinasi secara tepat sasaran. Selain bantuan berupa uang, pakaian, dan bahan kebutuhan pokok, mahasiswa FMIPA UGM juga ikut berpartisipasi menjadi relawan bagi korban bencana Gunung Merapi. Bahkan di UGM sendiri mengadakan KKN untuk membantu korban Gunung Merapi pasca letusan.
    Mahasiswa yang menjadi relawan harus rela mengorbankan tenaga, pikiran serta waktu untuk membantu korban Gunung Merapi. Bahkan sebagian besar mahasiswa enggan pulang kampung saat kuliah diliburkan pasca letusan Merapi hanya untuk membantu korban Gunung Merapi dengan sukarela tanpa mengharap imbalan. Berpanas-panasan di jalan untuk menggalang dana dan lain sebagainya. Dari sini saya rasa kita tidak bisa hanya melihat para pemuda dari sebelah mata karna pada kenyataannya banyak hal positif yang dilakukan oleh para pemuda di zaman sekarang.Hal ini juga menandakan bahwa para pemuda masih mempunyai rasa kemanusian dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah.Bukan cuma anakhisme yang bisa mereka lakukan tapi juga hal positif yang bisa mereka lakukan demi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana.Sehingga tampak jelas bahwa para pemuda juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini.
    Namun sayang sekali bila peran mahasiswa dalam penanggulangan bencana dilaksanakan pasca bencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa. Misalnya memberi pengetahuan kepada masyarakat mengenai siaga bencana melalui KKN. Tujuannya adalah memberi pengertian kepada masyarakat mengenai siaga bencana. Sehingga korban jiwa dapat diminimalisir. Memang kita tidak ada yang menginginkan bencana. Tapi kita berusaha untuk menanggulangi sebelum bencana terjadi. Misalnya saja memberi pengetahuan kepada warga lereng Merapi untuk mewaspadai Gunung Merapi yang sewaktu-waktu akan meletus. Bahayanya jika tidak mengungsi dan cara mengevaluasi ternak mereka. memang tidak mudah memberikan keyakinan kepada masyarakat yang sudah percaya dengan adat dan tradisi. Tapi sebagai mahasiswa itulah yang harus dilakukan bagaimana memberikan pengetahuan tentang bahaya yang terjadi bila warga tetap berada di lereng Merapi saat Merapi berstatus “Awas”.
    Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah
    Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Bila peran ini baik pra maupun pasca bencana bisa dilaksanakan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampus, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Perlu digarisbawahi lagi bahwa ini bukan bermaksud untuk menolak bencana, melainkan sebagai ikhtiar guna penyelamatan dini terhadap bencana alam. Diharapkan pemuda berperan tidak hanya sekedar kata namun dengan sebuah tindakan yang nyata. Sehingga mahasiswa dapat berbagi dengan lapisan masyarakat. Karena notabene mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang akan mewakili aspirasi masyarakat demi terwujudnya tujuan dan cita-cita bangsa.

    Nama : Nourmalita Sari Putri
    NIM : 08/272577/DPA/3074
    Jurusan/ Prodi : D3 Rekam Medis UGM
    Daftar Referensi
    http://www.garutkab.go.id/download_files/article/Makna%20Sumpah%20Pemuda.pdf. Diambil tgl 2 des jam 6.00

    http://rifaifibika.blogspot.com/2010/11/peran-para-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html

    diambil tgl 2 des, jam 6.15
    http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=42175&Itemid=62. Djuni Pristiyanto, diambil tgl 2 des jam 6.10
    http://ashsholikhin.wordpress.com/2010/03/24/pemuda-dan-mahasiswa-indonesia-optimisme-menuju-pencerahan-masa-depan-bangsa/. Diambil tgl 30 nov jam 20.53

    Posted by Nourmalita Sari Putri | 3 December 2010, 8:47 am
  63. PERAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA

    Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam. Kekayaan alam baik darat maupun laut sangatlah banyak sehingga mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat Indonesia. Keadaan geografis Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng, yakni lempeng Indo-Australia, Euro-Asia, dan Pasifik membuat daratan Indonesia banyak terdapat gunung berapi yang mengandung material vulkanik sehingga tanah di Indonesia merupakan tanah yang sangat subur. Selain itu, perairan Indonesia yang terletak diantara arus panas dan arus dingin membuat air laut di Indonesia hangat sehingga banyak ikan dan biota laut yang hidup di dalamnya.
    Namun, selain berdampak positif bagi rakyat Indonesia, kondisi geografis Indonesia yang terletak diantara tiga lempeng tersebut juga berdampak negatif bagi rakyat Indonesia yaitu Indonesia sering dilanda bencana alam. Penyebab lainnya adalah kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
    Paling tidak BNPB mencatat ada 14 jenis ancaman (hazard) terjadinya bencana berdasarkan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 BNPB, (Dr Syamsul Maarif MSc). Bencana itu adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, gerakan tanah, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan pemukiman, gelombang ekstrim dan abrasi, cuaca ekstrim, kegagalan teknologi, epidemi dan wabah penyakit, serta konflik sosial.
    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan Oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini, mulai dari meletusnya gunung Merapi, tsunami di Mentawai Sumatra, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta merupakan dilema problematika bangsa Indonesia.
    Salah satu isu yang dihadapi dalam penanggulangan bencana adalah kapasitas sumber daya menghadapi bencana belum optimal. Perguruan tinggi merupakan salah satu komponen penting yang akan memberikan dukungan, mewujudkan ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Mahasiswa sebagai komponen utama perguruan tinggi, merupakan aset dalam penanganan bencana. Mahasiswa mempunyai peranan penting menangani bencana, (Dr Syamsul Maarif MSc).
    Seharusnya mahasiswa tidak cukup hanya menjadi praktisi intelektual akademisi yang hanya duduk sambil mendengarkan dosen di dalam forum perkuliahan, hanya berkutat pada dunia perkuliahan, lebih daripada itu mahasiswa harusnya dituntut untuk berperan dalam agen perubahan (agent of change) dan social control yang terjadi di sekitarnya. Masa depan negeri ini membutuhkan keterlibatan mahasiswa dalam berbagai hal dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya dan kegiatan-kegiatan intelektual yang dilakukan.
    Mahasiswa seharusnya perlu berperan aktif lebih banyak lagi dalam berbagai persoalan, terutama menyangkut pesoalan bangsa. Fungsi kontrol perlu ditunjukkan oleh mahasiswa. Karena peran mahasiswa sangat diharapkan oleh masyarakat, tak berlebihan jika banyak harapan yang dipikul oleh mahasiswa. Sebab dalam kerangka sosial mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang cukup penting. Mahasiswa di sini diharapkan berperan sebagai agen pengawasan (agent of control) dan agen dalam menuju perubahan ke arah yang lebih baik.
    Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ke tempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan.
    Melihat dan mendengar kesulitan warga yang terkena bencana, kita sebagai mahasiswa apa yang bisa kita lakukan? sebagai mahasiswa, seharusnya kita ikut berperan aktif dalam tanggap bencana. Kita tidak boleh berpangku tangan dan hanya melihat berita di TV. Kita harus turun ke jalan untuk membantu para korban bencana alam agar mereka bisa terbebas dari kesulitannya. Hal-hal yang bisa kita perbuat antara lain:
    a. Membantu dalam hal finansial
    Kita bisa membantu korban bencana alam dalam bentuk uang. Kita bisa menyisihkan sebagian rejeki kita untuk disumbangkan secara langsung atau dengan menbelikan bahan-bahan logistik seperti makanan, pakaian, alat mandi, peralatan tidur, dsb. Dengan adanya bantuan finansial ini akan sangat membantu dalam memfasilitasi kebutuhan korban selama berada di pengungsian sehingga kehidupan di pengungsian bisa terjamin
    b. Membantu dalam hal tenaga
    Jika kita tidak bisa membantu dalam hal finansial, kita bisa membantu dengan tenaga. Misalnya, kita turun ke jalan atau ke tetangga-tetangga untuk mengumpulkan sumbangan dari mereka kemudian kita salurkan ke posko pengungsian. Selain itu kita juga bisa terjun sebagai relawan di pengungsian. Kita bisa jadi relawan dengan membantu mengerjakan apa saja yang dibutuhkan saat di pengungsian. Misalnya, angkat-angkat barang, membersihkan lingkungan pengungsian, pendampingan para korban baik dewasa maupun anak-anak, memasak didapur umum, dsb.

    c. Membantu dalam hal ilmu
    Selain menjadi relawan secara umum, kita juga bisa menjadi relawan tetapi dalam pekerjaan yang lebih spesifik sesuai ilmu yang kita tuntut di bangku perkuliahan, misalnya mahasiswa kedokteran bisa membantu di posko kesehatan, mahasiswa psikologi bisa membantu mendampingi korban secara psikologis agar tidak stres, mahasiswa rekam medis bisa membantu identifikasi pasien korban bencana, dsb.
    Apabila kita tidak bisa terjun langsung, maka kita bisa melakukan penelitian tentag bencana agar bencana tersebut dapat dicegah atau diatasi, misalnya mahasiswa teknik mengembangkan alat pendeteksi gempa, gungung meletus, tsunami, dsb, mahasiswa psikologi dapat meneliti tingkat stres warga yang terkena bencana, mahasiswa rekam medis dapat merancang rekam medis bencana, dsb.
    Itulah peran mahasiswa dalam bencana, sebagai mahasiswa, kita harus berperan aktif dalam peristiwa yang terjadi disekitar kita. Tidak hanya berpangku tangan, tanpa menghiraukan keadaan disekitar kita. Buktikan bahwa kita sebagai mahasiswa bisa bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita.

    NAMA : PUPUT SUGIARTO
    NIM : 08/271540/DPA/2986
    PRODI : D3 REKAM MEDIS

    Referensi:
    -, 2010. Indonesia Rawan Bencana Alam. diakses dari http://www.suaramerdeka.com pada tanggal 29 November 2010 jam 12.19 WIB.
    Arif, F. 2010. Mahasiswa dan Fenomena Bencana Alam. diakses dari http://www.media.kompasiana.com pada tanggal 29 November 2010 jam 12.19 WIB.
    Rozak, YN. Peran Mahasiswa dalam Kancah Politik. diakses dari http://www.kampus.okezone.com pada tanggal 29 November 2010 jam 12.19 WIB.

    Posted by PUPUT SUGIARTO | 2 December 2010, 9:38 pm
  64. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia
    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di Mentawai Sumatra dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta merupakan dilema problematika Bangsa Indonesia.
    Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana dan bisa langsung terjun ke tempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana(Sumber :www.peranmahasiswaterhadapbencanaalam.com).
    Menanggapi informasi diatas, baru-baru ini sering terjadi hal-hal diluar kendali manusia atau diri kita seperti halnya kejadian-kejadian bencana yang sulit diprediksi kapan terjadi dan akibat yang ditimbulkanya.
    Bencana terjadi bukan karena tidak adanya faktor pendukungnya. Indonesia berada di zona atau daerah yang rawan bencana, Indonesia berada di antara tumpukan atau tumbukan lempeng yang setiap saat bisa saja bergeser akibat pergeseran itu bisa menimbulkan bahaya-bahaya yang siap mengancam negeri tercinta ini. Pergeseran atau tumbukan lempengan itu menyebabkan bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir dan longsor. Indonesia juga merupakan daerah yang terbentuk dari patahan-patahan bumi yang mengakibatkan terbentuknya gunung berapi. Gunung merapi di Indonesia hampir semuanya berapi dan termasuk gunung berapi terbesar sehingga berpotensi untuk meletus dan mengeluarkan isi perutnya keluar. Salah satunya yaitu gunung merapi, gunung yang masih aktif sedunia yang mengelilingi 4 wilayah sekaligus yang baru-baru ini sempat “batuk” yang mengakibatkan 200 orang lebih meninggal dunia akibat terkena awan panasnya.
    Kejadian ini begitu cepat terjadi dimana zona yang tadinya ditentukan sebagai daerah aman dengan cepat bisa terkena awan panas akibatnya orang yang tadinya tidak mengungsi harus segara diungsikan. Belum lagi bencana merapi melanda bencana lain terjadi yakni terjadinya tsunami di Mentawai Sumatra Barat. Banyak orang meninggal dan hilang. Puluhan orang kehilangan tempat tinggal dan sanak saudara mereka.
    Sungguh kejadian ini sangat menyedihkan dan menyentuh nurani kita untuk ikut bergerak membantu mereka sebisa dan semapu kita. Segala upaya harus dilakukan untuk meringkankan beban mereka. Mengajak mereka untuk bisa melupakan kejadian buruk itu.
    Upaya-upaya yang bisa dilakukan mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, dan gempa yakni :
    1. Semisal dengan melakukan hal-hal yang sesuai dengan apa yang menjadi/sesuai dengan bidang kita, sebagai contoh,
     Dokter
    Sebagai mahasiswa kedokteran yaitu memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan bidang dan profesinya. Menolong para korban bencana dengan memberikan pelayanan kesehatan secara gratis dan memberikan obat-obatan gratis. Ikut menjadi relawan dalam melayani pasien korban bencana, mengobati mereka, meringankan rasa sakit mereka dan ikut dalam menangani jenazah korban bencana. Selain menolong dalam bidang kesehatan hal yang bisa dilakukan yakni membantu para relawan lain dalam membantu menyediakan keperluan lain bagi para korban bencana seperti kebutuhan obat-obatan, masker bagi korban gunung meletus, selimut dll.
     Mahasiswa Geologi
    Bagi mahasiswa geologi yaitu memberikan pengarahan tentang bahaya dari bencana itu, memberikan simulasi/sosialisasi tentang bagaimana menghindari diri dari bencana, memberikan penjelasan bahaya yang akan siap terjadi, dan secara tidak langsung memberikan arahan kepada mereka untuk mengungsi jika dirasa tempat sudah tidak aman lagi. Memberikan bantuan sebisa dan semampu kita jika tidak bisa memberikan materi maka hal yang bisa dilakukan seorang mahasiswa yakni mengerahkan tenaga yang dimiliki untuk membantu para pengungsi
     Mahasiswa Rekam Medis
    Sesuai profesi dan bidangnya, mahasiswa rekam medis bisa membantu di rumah sakit dalam hal memberikan pelayanan administrasi kepada para korban bencana dengan cara mencatat, mendaftar dan merekap data pasien KLB (Kejadian Luar Biasa) yang ada di rumah sakit.
     Mahasiswa Psikologi
    Sebagai mahasiswa psikologi yang bisa dilakukan adalah memberikan training tentang bagaimana menghilangkan stres bagi para korban, memberikan motivasi yang sering disebut Trauma Healing yakni memberikan semacam motivasi untuk menghilangkan trauma yang terjadi setelah hal buruk menimpanya. Motivasi ini sangat berguna untuk menghilangkan rasa ketakutan yang timbul pada diri korban bencana.
     Mahasiswa Keguruan
    Mahasiswa keguruan sangat bermanfaat bagi korban pengungsian, mahasiswa keguruan bisa ikut membantu mengajar sebagai tenaga pengajar yakni dengan adanya mahasiswa keguruan para anak-anak korban pengungsian bisa belajar dan bermain serta mereka bisa memperoleh pendidikan secara informal walaupun dengan peralatan dan buku-buku yang terbatas.
    2. Selain mahasiswa bisa menyalurkan bantuan sesuai dengan keahlian dan bidangnya, mahasiswa juga dapat membantu dalam hal ini mahasiswa mungkin terhalang dengan uang yang pas-pas karena sebagian mahasiswa adalah anak kos, akan tetapi banyak hal yang masih bisa dilakukan yakni jika tidak bisa membantu dalam bentuk materi mahasiswa juga bisa membantu dalam menyumbangkan :
     Pikiran
    Dalam situasi ini mahasiswa juga menyumbangkan pikirannya, yakni dalam hal untuk para korban pengungsian mahasiswa bisa menyumbangkan ide kreatif bagaimana membangun rumah buat para korban bencana yang kehilangan rumahnya dengan membangun rumah yang dirancang khusus bahwasanya rumah itu didirikan agar air bah atau air tsunami hanya bisa melewati rumah itu tanpa rumah itu harus terbawa arus atau rusak. Atau rumah untuk para korban gunung berapi dengan membangun rumah yang bisa dilewati awan panas tanpa merusak rumah itu.
     Fisik (tenaga)
    Mahasiswa selain pikiran, bekerja sesuai dengan bidangnya, mahasiswa juga bisa memberikan tenaga untuk para korban bencana yakni ikut menjadi relawan misalnya mengunjungi barak-barak pengungsian dimana banyak sekali pekerjaan yang membutuhkan tenaga, dimana tenaga itu nantinya akan disebar misalnya ditempatkan pada tenaga logistik, tenaga yang membantu ibu-ibu memasak makanan bagi para pengungsi (dapur umum). Selain itu tenaga juga dibutuhkan untuk mengantar makanan dari satu tempat pengungsi ke pengungsi lain. Mahasiswa jika tidak bisa menyumbangkan pikiran, bisa memberikan bantuan ini.
     Membantu membangun rumah pengungsi kembali karena itu pasti membutuhkan tenaga yang banyak.
     Membantu membersihkan desa-desa yang telah rusak oleh terjangan tsunami maupun awan panas.
     Membantu para relawan lain untuk mengevakuasi jenazah yang mungkin masih tertinggal di reruntuhan dan membantu mencari korban hilang.

    MEGA BAQIYA FAUZIZAH
    08/271558/DPA/3000
    DIII REKAM MEDIS

    Posted by Mega Baqiya Fauzizah 08/271558/DPA/3000 | 1 December 2010, 9:52 pm
  65. PERANAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI KEJADIAN-KEJADIAN
    BENCANA TSUNAMI, BANJIR, GUNUNG MELETUS, GEMPA YANG TERJADI DI INDONESIA

    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini; mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di mentawai Sumatra, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Cuaca ekstrem yang saat ini sedang menggejala dan mengepung atmosfer Indonesia, akibat kian masifnya proses pemanasan global, diduga memicu terjadinya berbagai bencana alam secara sporadis. Banjir bandang yang menerjang Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, menewaskan sedikitnya 148 orang, 123 korban hilang, 188 luka berat, 665 luka ringan, dan sekitar 4.675 warga mengungsi. Bencana serupa juga melanda berbagai daerah, seperti longsor di Morowali, Sulawesi Tengah (11 tewas), puting beliung di Jawa Tengah dan Yogyakarta, banjir di Lampung, Aceh, Jambi, Padang, Jakarta, Bandung, Cilacap (Jateng), Jatim, Sulawesi, dan Kalimantan, dan sebagainya.
    Terakhir bencana tsunami melanda Kepulauan Riau, Sumetera Barat dengan korban tewas dan hilang mencapai ratusan orang. Dalam waktu yang hampir bersamaan bencana akibat Gunung Merapi meletus terjadi di Sleman, Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) dengan korban 31 tewas termasuk tokoh fenomental Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.
    Setelah ditetapkan status Waspada Merapi akhirnya merapi meletus lagi. Merapi Meletus Sekitar sekitar pukul 17.00 dan sudah dipastikan akan ada korban akibat meletusnya gunung Merapi tersebut. Semua persiapan telah dilakukan dalam penanganan bencana Merapi ini. Semburan awan panas mencapai ketinggian 1,5 kilometer. Semua warga di sekitar lereng Merapi sedang dievakuasi untuk menghindari hujan abu yang panas. Dijelaskan oleh Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo dan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi bahwa awal erupsi Merapi terjadi pukul 17.02 WIB dan kemudian terjadi lagi pada pukul 17.23 WIB. Erupsi adalah bahasa ilmiah untuk Letusan Gunung Berapi.
    Merapi Meletus dengan suara letusan terdengar cukup keras dan kemudian terlihat awan tebal hitam yang membumbung tinggi. Awan panas yang keluar diperkirakan mencapi ketinggian 1,5 kilometer. Saat ini proses evakuasi terus berjalan. Hujan abu hingga pukul 20.00 WIB terus terjadi. Hujan abu melebihi batas aman bencana, yakni 10 kilometer. Bahkan, masyarakat yang berada lebih dari 20 kilometer juga mengalami hujan abu. Debu vulkanik yang keluar dari letusan gunung Merapi ini sangat berbahaya bagi pernafasan karena bila terhisap dapat mengakibatkan penyempitan saluran pernafasan sehingga orang akan sulit bernafas secara mendadak. Dihimbau dalam menghadapi hujan abu warga disarankan untuk selalu menggunakan masker yang benar-benar baik.
    Beberapa bencana yang diakibatkan oleh cuaca ekstrem itu kian melengkapi “parade” multibencana di Indonesia pada paruh kedua tahun 2010. Betapa tidak, di negeri berpenghuni 238 juta jiwa ini, berbagai jenis bencana, mulai dari petir, amukan ombak, badai, dan tsunami, angin puting beliung, banjir bandang, tanah longsor, rob, luapan sungai dan waduk, jembatan dan bangunan ambruk, dan gempa bumi seakan telah menjadi siklus bencana tahunan.
    Kampus sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukuplah sebagai modal bagi institusi ini untuk berpartisipasi aktif menanggulangi bencana- bencana di Indonesia. Apalagi setelah menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam, maka uluran tangan dari kampus akan terus dibutuhkan.
    Peran dunia kampus dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih kurang (untuk mengatakan tak ada sama sekali). Kita tak bisa menafikan begitu saja bagaimana getolnya mahasiswa- mahasiswa kita yang turut aktif mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun silam. Bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Bagaimana mereka rela berpanaspanasan mengumpulkan dana bagi korban gempa bumi di Padang di jalan-jalan dan sebagainya.
    Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi. Jika kita lihat, apa yang sudah dilakukan dunia kampus di atas hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk bencana alam. Memang, bencana bisa terjadi kapan dan di mana pun. Untuk itulah, upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan dunia kampus. Di sinilah kampus harus melebarkan sayapnya untuk berada di garda depan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pascabencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa ikut menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Kegiatan ini bisa diintegrasikan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang telah menjadi mata kuliah wajib di semua perguruan tinggi. Dalam KKN itulah, para mahasiswa yang turun ke lapangan perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Disamping program pemberdayaan lain, kegiatan siaga bencana dan mitigasi juga perlu dijadikan program utama. Tujuannya jelas, yakni agar tercipta masyarakat yang melek dan siaga terhadap bencana. Sehingga harapannya ke depan, dampak terburuk berupa jatuhnya korban jiwa atas bencana bisa diantisipasi sedini mungkin.
    Para pemangku kebijakan kampus juga sudah selayaknya merespon hal ini. Pengelola kampus perlu memberikan kurikulum Siaga Bencana dan Mitigasi bagi seluruh sivitas akademiknya. Hal ini penting sebagai bekal para mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun di lapangan. Karena itulah, dalam rangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa dan Pengenalan Kampus (OSPEK) perlu disisipkan materi ini. Paradigma OSPEK harus diubah yang semula cenderung sebagai kegiatan perpeloncoan menjadi kegiatan yang edukatif, salah satunya keterampilan menghadapi bencana.
    Pihak kampus bisa menggandeng institusi lain seperti LSM, Palang Merah Indonesia (PMI), BASARNAS, atau institusi lain yang memiliki kepedulian terhadap penanganan bencana alam. Andai peran ini baik pra maupun pascabencana bisa dimainkan secara elegan dan berkesinambungan oleh kampus, niscaya perwujudan masyarakat Indonesia yang siaga bencana akan segera tercapai. Ujung-ujungnya dampak buruk atas kehadiran bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. Perlu digarisbawahi lagi bahwa kegiatan ini bukan bermaksud untuk menolak bencana, melainkan sebagai ikhtiar guna penyelamatan dini terhadap bencana alam.
    Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan
    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan.
    Selain hal tadi, peranan kita sebagai mahasiswa adalah segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana untuk bencana alam dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Banyak mahasiswa dari berbagai kota dan universitas rela menjadi relawan , contohnya relawan merapi di magelang, muntilan, jogja, sampai klaten. Mereka dengan ikhlas membantu dan bergotongroyong tanpa memperdulikan dari mana asal almamater mereka. Banyak relawan yang rela tidak pulang berhari-hari kerumah mereka padahal kegiatan perkuliahan diliburkan, mereka justru datang ke posko-posko berncana merapi untuk meringankan beban para pengungsi. Peran mahasiswa tidak harus menjadi relawan untuk memnuktikan mereka peduli. Ada banyak cara, yaitu dengan menyumbangkan donasi untuk kemudian disalurkan ke bencan-bencana yang marak di Indonesia, ada banyak cara selain terjun langsung untuk membantu, sekecil apapun bantuan mahasiswa bagi para pengungsi itu merupakan bantuan yang besar. Namn, ada satu kepuasan tersendiri saat kita terjun langsung ke pengungsian, meskipun sangat melelahkan tapi itu tidak terasa bila menginat betapa besarnya arti bantan kita. Satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!” . Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara – saudara kita selamat.

    REFERENSI

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://javalandinvestment.com/invest/tugas-mahasiswa-dalam-menghadapi-bencana.html

    http://muhammadkartobi.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

    http://umatun.wordpress.com/2010/10/24/bencana-alam-dan-peran-kampus/

    http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam

    NAMA : ANISA WIRANTI DAHLAN
    NIM : 08/271554/DPA/2997
    REKMED A

    Posted by Anisa Wiranti Dahlan | 1 December 2010, 5:30 pm
  66. Peranan Mahasiswa dalam menghadapi kejadian-kejadian bencana tsunami, banjir, gunung meletus, gempa atau sejenisnya yang kerap terjadi di negara Indonesia

    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan Oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini, mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di Mentawai Sumatera, banjir bandang di Wasior Papua Barat, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta telah memakan banyak korban, ratusan luka-luka, dan ribuan penduduk yang harus rela kehilangan tempat tinggalnya, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Dengan menyadari kondisi geografis Indonesia yang dilalui oleh deretan gunung berapi dan lautan membuat negara ini rentan terhadap bencana alam maka uluran tangan dari berbagai pihak yang membantu akan terus dibutuhkan. Peran dari kampus sebenarnya sangat potensial untuk ikut serta menangani bencana alam di Indonesia. Dengan bekal akademik serta pamor mahasiswa yang terbukti paling peduli terhadap persoalan bangsa, cukup sebagai modal bagi suatu institusi untuk berpartisipasi aktif menanggulangi berbagai bencana di Indonesia. Peran kampus guna menanggulangi bencana alam sebenarnya bisa lebih besar lagi jika kita lihat apa yang sudah dilakukan dunia kampus hanyalah penanganan pasca bencana. Peran yang saat ini belum maksimal dilakukan oleh dunia kampus adalah penanganan prabencana. Padahal antisipasi prabencana ini juga tak kalah penting meminimalisasikan risiko bencana alam. Bencana bisa terjadi kapan dan dimana pun, untuk itulah upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam menemukan signifikansinya yang harus dimainkan oleh dunia kampus. Jika saat ini peran tersebut masih terbatas pada tindakan pasca bencana maka sudah saatnya dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus bisa menyosialisasikan tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas. Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Mahasiswa sering dilabeli dengan ikon sebagai agent social of change, agen perubahan sosial di masyarakat. Melihat realita saat ini, peran mahasiswa dalam masyarakat mestinya tak harus menunggu setelah lulus. Melalui beberapa kegiatan sosial masyarakat pun, seperti bakti sosial di sebuah organisasi intrakampus maupun ekstrakampus, peran mahasiswa tetap dapat diaktualisasi secara baik dan berkesan di masyarakat. Peran mahasiswa pada situasi lain juga dapat ditunjukkan dengan aksi peduli terhadap korban bencana yang terjadi di Tanah Air. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Menjadi relawan, bukan sekedar datang ke lokasi bencana dan memberikan bantuan. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Sebab, berhadapan dengan orang yang sedang panik di lokasi bencana, jauh berbeda dengan berhadapan dengan orang dalam kondisi normal.Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam membantu korban bencana. Bencana alam yang terjadi di negeri ini tak semestinya hanya diperhatikan oleh segelintir orang saja. Beberapa pihak lainnnya, termasuk kalangan mahasiswa, juga harus menunjukkan kepedulian dan memberikan uluran tangannya bagi para korban bencana. Menjadi relawan beberapa kampus telah menggerakkan para mahasiswanya untuk berkiprah langsung di daerah bencana. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Aktif melakukan berbagai kegiatan tanggap darurat bencana, seperti membantu menyelamatkan korban, harta benda, melakukan evakuasi dan pengungsian. Selain itu, dapat dengan cara memberi bantuan psikologis agar masyarakat cepat bangkit dari penderitaan dan keterpurukan hidup akibat bencana. Kegiatan diatas tentunya menjadi catatan yang patut ditiru dan diaktualisasikan oleh civitas akademika di kampus lain. Cara sederhana yang dilakukan mahasiswa dalam menangani dan mengatasi bencana seperti para mahasiswa langsung tergerak melakukan penggalangan dana dengan berbagai cara, ada yang dengan cara mengamen, mendatangi setiap kelas untuk meminta penyaluran dana dari rekan-rekan setiap mahasiswa, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana. Hal tersebut dapat dijadikan sebuah contoh bahwa para mahasiswa di Indonesia ternyata cepat tanggap mengenai bencana yang terjadi di Indonesia ini. Hal ini juga dapat menepis anggapan yang menyatakan bahwa mahasiswa yang dianggap hanya bisa membuat rusuh, onar, dan hal-hal yang berbau anarkis. Kenyataannya dalam keadaan Indonesia berduka para mahasiswa mampu membuktikan kalau mereka mampu ikut serta berpartisipasi dalam menangani bencana dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat dan melakukan misi-misi kemanusiaan. Dari hal tersebut, tampak jelas bahwa peran aktif mahasiswa dalam bidang sosial kemasyarakatan terbukti dan tidak harus menunggu setelah proses studi selesai. Peran mahasiswa yang lain, misalnya ada yang dengan sukarela berangkat ke tempat terjadinya bencana hanya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang berduka. Dan hal itu dilakukan tanpa mengharapkan imbalan apapun, mereka tergerak atas dasar rasa kemanusiaan. Menjadi relawan mempunyai dampak positif bagi mahasiswa, selain mahasiswa mempunyai pengalaman tanggap darurat, juga dapat menumbuhkan rasa solidaritas terhadap korban bencana alam. Sehingga dapat menumbuhkan motivasi untuk bekerja untuk kemanusiaan dan mendorong mereka untuk memikirkan, merencanakan, serta bertindak, dalam rangka mengurangi risiko bencana. Hal ini juga menandakan bahwa mahasiswa masih mempunyai rasa kemanusiaan dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah. Sehingga tampak jelas bahwa para mahasiswa juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini. Andaikan kepedulian sebagai wujud simpati dan empati terhadap para korban bencana di tanah air ini bisa diaktualisasikan oleh semua pihak, lebih-lebih ditanamkan dalam program studi di kampus masing-masing, tentu ada apresiasi tersendiri bangsa kita dalam mewujudkan nilai-nilai sosial, sebagaimana esensi dari tujuan pendidikan nasional. Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda bangsa Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan.

    REFERENSI

    *alumnitlunand.makingforum.com/info-infoan-f7/bencana-alam-dan- peran-kampus-t22 Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.44 WIB.
    *bataviase.ci.id/node/127503 Tanggal 28 Nopember 2010 jam 20.53 WIB.
    *groups.google.com/group/bencana/browse_thread/thread/ad9c60a196e2bd5f/9bf1c1d7035b1a6e Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.32 WIB.
    *harianjoglosemar.com/berita/mahasiswa-harus-siaga-bencana-26127.html?page=13 Tanggal 29 Nopember 2010 Jam 09.36 WIB.
    *m.kompasiana.com/post/4cd6b13e9bc80b2a53ca0800 Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.22 WIB.
    *rifaifibika.blogspot.com/2010/11/peran-para-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.17 WIB.
    *suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/10/17/84365/Peran-Mahasiswa-Tanggap-Bencana Tanggal 28 Nopember 2010 Jam 20.11 WIB.
    *Uin-suka.info/humas/index.php?option=com_content&task=view&id=27&itemid=26 Tanggal 29 Nopember 2010 Jam 09.52 WIB.

    NAMA : RETNO HASTUTI FARIDA
    NIM : 08/271586/DPA/03020
    JURUSAN/PRODI : D3 REKAM MEDIS UGM

    Posted by RETNO HASTUTI FARIDA | 1 December 2010, 11:56 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Malam Dini Hari Ini Puncak Curah Hujan Meteor | RuangKabar.com - 22 April 2012

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 270 other followers

%d bloggers like this: