25 comments on “PERANAN MAHASISWA DALAM MENGELIMINASI/MENGHILANGKAN PERILAKU KEKERASAN/DESTRUKTIF SAAT KONFLIK/UNJUK RASA MASYARAKAT

  1. Budaya Anarkis Mahasiswa, Baikkah?
    Oleh: Mokhamad Abdul Aziz
    Pegiat di SKM Amanat IAIN Walisongo Semarang,
    Aktivis HMI Cabang Semarang
    Dalam pandangan umum, tindakan anarkis identik dengan pengerusakan, bentrokan, dan tindakan-tindakan lain yang bersifat negatif. Tindakan ini tidak bisa dibenarkan, tanpa memandang siapa yang melakukan, dalam bentuk apa, dan atas dasar apa tindakan itu dilakukan. Sebab, apabila ini terjadi, maka bisa dipastikan akan ada pihak-pihak yang dirugikan. Ketika tindakan ini dilakukan oleh orang yang tidak berpendidikan, mungkin ini bisa sedikit dimaklumi. Namun, jika tindakan ini dilakukan oleh mahasiswa, yang notabene adalah insane akademis dan generasi calon pemimpin bangsa. Maka, hal itu jelas tidak pantas dilakukan.
    Namun, pada kenyataan, seolah menjadi kebiasaan yang wajib, tindakan ini sering sekali dilakukan oleh mahasiswa ketika aksi demonstrasi. Misalnya saja, aksi demonstrasi menentang kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Hampir dalam setiap aksinya mahasiswa terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. Tindakan ini sangat disayangkan, karena yang akan rugi juga mereka sendiri yang melakukannya.
    Dewasa ini, hampir setiap ada permasalahan, mahasiswa sering mengedepankan fisik dalam upaya menyelesaikannya, bukan dengan otak. Tentunya ini sangat disayangkan, karena mahasiswa adalah kaum intelektual, yaitu kaum yang selalu menggunakan otaknya dalam setiap mengatasi permasalahan. Sebenarnya, tindakan anarkis yang dilakukan mahasiswa disebabkan oleh adanya ketidakpuasan mereka trhadap hal tertentu. Rasa ketidakpuasan ini kemudian terakumulasi dan terorganisir dalam kelompok atau organisasi mahasiswa.
    Biasanya, setiap kelompok itu fanatik terhadap kelompokknya sendiri dan cenderung merendahkan kelompok lain, sehingga apapun akan dilakukan untuk kelompoknya. Inilah yang menjadi pemicu awal tindakan anarkis kian mahasisa merajalela.
    Sebenarnya, sikap anarkis mahasiswa telah ditanamkan sejak mereka masuk pertama kali di perguruan tinggi, yaitu pada Masa Orientasi Mahasiswa Baru. Pada masa ini, mahasiswa mendapat penggemblengan mengenai kampus oleh senior-senior mereka sesuai dengan fakultasnya. Pengelompokkan berdasarkan fakultas ini mengakibatkan tibulnya jurang pemisah antara fakultas satu dengan yang fakultas lainnya. Sebab, setiap fakultas mempunyai ciri khas dan yel-yel yang berbeda-beda. Yang kemudian setiap yel-yel mereka cenderung meninggikan fakultasnya dan merendahkan fakultas lain, bahkan mengejek fakultas lain, sehingga terciptalah sikap saling ejek antara fakultas satu dengan yang lainnya. Ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun oleh para senior mereka. Sikap saling ejek inilah yang mengakibatkan benih-benih anarkisme tumbuh.
    Memahami Makna Anarkisme
    Pemaknaan anarkis di atas sebenarnya melenceng dari arti yang sebenarnya. Secara etimologi, “anarkis” adalah sebuah kata serapan dari bahasa Inggris anarchy dan anarchie (Belanda/Jerman/Perancis), yang juga mengambil dari bahasa Yunani anarchos atau anarchia. Kata ini merupakan bentukan dari kata a yang artinya tanpa, tidak, atau nihil, yang kemudian disisipi n dengan archos atau archia yang artinya pemerintah atau kekuasaan. Jadi, Anarchos atau anarchia artinya tanpa pemerintahan. Sedangkan anarkis subjek dari kata anarchia, berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Menurut Errico Malatesta, anarkis adalah penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas. Anarkisme dimulai sekitar akhir abad XVII oleh kaum buruh di berbagai negara Eropa, seperti Spanyol dan Perancis. Mereka tidak puas dengan kekuasaan pemerintah yang selalu menindas para buruh.
    Jadi, anarkisme adalah suatu paham hidup yang mencita-citakan sebuah kaum tanpa hirarki, baik secara sosial, politik, ekonomi, maupun kebudayaan, yang bisa hidup berdampingan secara damai dengan semua kaum lain dalam sistem sosial tertentu. Anarkisme mendambakan hidup tanpa penindasan dan ketidakadilan. Anarkisme juga memaksimalkan kebebasan individual dan kesetaraan antar individu, berdasarkan kerjasama sukarela antar individu atau kelompok dalam masyarakat.
    Dengan pendefinisian seperti di atas, maka sebenanya anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna yang selama ini banyak dipahami oleh masyarakat dan media di Indonesia. Sebab, kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku manusia yang alamiah dan siapa saja dari kalangan apapun bisa melakukannya. Oleh karena itu, Budaya anarkis bagi mahasiswa adalah hal yang wajib. Maksudnya, anarkis dalam artian yang sebenarnya, yang intinya menolak terhadap adanya bentuk penindasan dan ketidakadilan.

    Mahasiswa harus memahami kembali hakikat dirinya bisa menjadi mahasiswa. Dilihat dari bentukan katanya, mahasiswa berasal dari dua kata, yaitu “maha” yang berati besar, dan “siswa” yang berarti orang yang belajar. Jadi, mahasiswa adalah pelajar yang mempunyai derajat paling tinggi dibandingkan dengan pelajar-pelajar lainnya. Oleh sebab itu, mahasiswa harus menggunakan akal dan hati nuraninya, dalam setiap mengatasi masalah yang ada. Sudah diketahui, bahwasannya mahasiswa adalah agent of social change, yaitu agen perubahan sosial. Mahasiswa sudah seharusnya menjadi pengawal perubahan tatanan masyarakat dalam kehidupan bernegara. Sehingga, tujuan untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur akan tercapai.
    Budaya anarkis harus mulai dibedakan dari sekarang, mana anarkis yang sebenarnya dan yang tidak. Pertama, anarkis yang harus dilakukan mahasiswa adalah sikap selalu menolak jika ada bentuk penindasan dan ketidak adilan. Penolakan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melaui publikasi dan demonstrasi. Dalam melakukan publikasi, mahasiswa bisa memanfaatkan media-media yang ada untuk menyampaikan penolakannya, misalnya melalui artikel, puisi, cerpen, atau karya tulis yang lain yang bisa dimanfaatkan.
    Kedua, anarkis yang harus dihindari mahasiswa adalah anarkis yang diartikan ke dalam hal yang negatif seperti yang dijeaskan di awal. Sebut saja, bentrok dengan aparat kepolisian dalam demonstrasi, bertikai dengan teman sendiri karena berbeda pendapat, dan hal-hal lain yang sifatnya negatif. Sebab, ini jelas tidak pantas dilakukan oleh mahasiswa yang notabene adalah insan akademis dan kaum intelektual.
    Namun, harus digaris bawahi, jika berbagai uapaya penolakan sudah dilakukan, baik berupa publikasi maupun demonstrasi, tetapi segala bentuk penindasan dan ketidakadilan itu masih saja dilakukan, maka tindakan kekerasan harus dilakukan untuk meruntuhkan rezim yang melakukan hal itu. Sebab, apabila hal itu dibiarkan, maka semua cita-cita yang diimpikan oleh rakyat tidak akan terwujud. Oleh karena itu, mahasiswa harus mulai menamkan paham anarkisme dengan benar yang dijalankan sesuai dengan hukum bernegara dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Wallahu a’lam bi al-shawab.

  2. Mahasiswa diharapkan menjadi pendobrak bagi masa depan Indonesia namun di Negara ini yang tergolong Mahasiswa masih sedikit daripada yg lainnya..
    Oleh sebab itu marilah kita dukung kemajuan Teknologi ini agar dpt menjadi senjata buat bangsa ini kedepan nya…

  3. Mahasiswa bukan hanya sekedar agen perubahan seperti pahlawan tersebut,mahasiswa sepantasnya menjadi agen pemberdayaan setelah perubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan kontrol individu sehingga menutup celah-celah adanya kezaliman.Mahasiswa bukan sebagai pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat.

    Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berfikirnya. namun mahasiswa dalam menyampaikan insiprasinya selalu saja menggunakan kekerasan fisik ,seharusnya mahasiswa berdemo boleh asal sesuai dngan aturan hukum yang ada , negara indonesia tidak melarang kita untuk berdemo yang penting sesuai dan dari demo tersebut membuahkan hasil yang maksimal .
    Pada dasarnya tidak ada yang menginginkan kekerasan terjadi, apalagi dalam suatu institusi pendidikan yang notabene tempat bersemayamnya kaum terdidik. Kesadaran tersebut senantiasa terpatri dalam jiwa dan relung hati kita masing-masing.
    Walau terkadang lingkungan dan sistem nilailah yang senantiasa membentuk kekerasan terjadi. Pentas kekerasan yang diperankan hampir setiap perguruan tinggi yang ada di kota-kota besar adalah fenomena yang luar biasa yang tentunya membutuhkan penanganan yang luar biasa pula.
    Bukan hanya dengan sanksi temporer seperti skorsing, drop out dan sanksi hukum kriminal, tapi dibutuhkan rekonsiliasi secara terpadu oleh segenap civitas akademika dalam mengawal visioner pendidikan yang sebenar-benarnya. Tidak dikendalikan oleh kepentingan politis apalagi dibatasi oleh tekanan politisasi Nasional, seperti penerapan Normalisasi Keadaan Kampus dan Badan Kordinasi Kampus (NKK/BKK) pada tahun 1979 silam.
    sayang sekali jika hal ini kerap terjadi,Kekerasan mahasiswa bukan karena tanpa sebab,karena dibalik reaksi kekerasan terdapat dorongan, semangat dan gejolak dalam pencapaian perubahan-perubahan sektoral, baik langsung maupun tidak langsung, disadari ataupun tidak Kampus adalah tempat suci dan netral dalam melihat persoalan dengan bijak. Tidak mengajarkan peserta didik memelihara prilaku konsumtif yang hanya melihat persoalan dari aspek material yang cenderung instan, dibutuhkan suatu pendidikan pembangunan karakter manusia serta proses kemandirian dalam mengungkap hakikat kebenaran dalam bertindak untuk memperoleh kembali pencitraan kampus yang telah hilang.melalui generasi muda atau pemuda terlahir inspirasi untuk mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang yang ada. Pemuda atau generasi muda yang mendominasi populasi penduduk Indonesia saat ini mesti mengambil peran sentral dalam berbagai bidang untuk kemajuan Mengembalikan semangat nasionalisme dan patriotisme dikalangan generasi muda atau pemuda akan mengangkat moral perjuangan pemuda atau generasi muda.Nasionalisme adalah kunci integritas suatu negara atau bangsa. harapan saya semoga tindak kekerasan tidak semakin menjadi budaya yang menonjol..mahasiwa semoga bisa berpikir yang lebih kritis dan bisa mengambil hikmah dari kekerasan tersebut, karena banyak pihak yang dirugikan .Saatnya pemuda menempatkan diri sebagai agen sekaligus pemimpin perubahan. Pemuda harus meletakkan cita-cita dan masa depan bangsa pada cita cita perjuangannya. Pemuda atau generasi muda yang relatif bersih dari berbagai kepentingan harus menjadi asset yang potensial dan mahal untuk kejayaan dimasa depan.. jaya mahasiswa indonesia

    refrensi :
    http://www.tribun-timur.com/read/artikel/129503/sitemap.html
    -http://whandi.net/makalah-peran-serta-generasi-muda.html

    Ferinnica puspita
    nim :153090055
    upn “veteran yogyakarta “

  4. Sebagai seorang pembelajar dan bagian masyarakat , maka mahasiswa memiliki peran yang komleks dan menyeluruh sehingga dikelompokkan dalam tiga fungsi : agent of change, social control and iron stock. Dengan fungsi tersebut, tentu saja tidak dapat dipungkiri bagaimana peran besar yang diemban mahasiswa untuk mewujudkan perubahan bangsa. Ide dan pemikiran cerdas seorang mahasiswa mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas. Dan satu hal yang menjadi kebanggaan mahasiswa mahasiswa adalah semangat membara untuk melakukan sebuah perubahan.

    Bagi seorang mahasiswa dalam melakukan perubahan banyak dilakukan berbagai cara. Salah satunya dengan cara unjuk rasa untuk menyalurkan aspirasi yang ingin disampaikan pada pihak tertentu. Dalam proses ini tidak semua berjalan sesuai ketentuan yang lazim dalam berunjuk rasa. Seringkali mereka melakukan tindakan yang tidak pantas dilakukan. Seperti contoh, karena mereka terlalu bersemangat dalam beraspirasi, seringkali kekerasan terjadi dalam proses berunjuk rasa. Hal ini diibaratkan sudah menjadi tradisi bagi mahasiswa setiap kali melakukan unjuk rasa. Bahkan seperti sudah menjadi budaya dalam berunjuk rasa. Setelah diamati hal ini tidak kian menurun, tetapi bahkan lebih meninggkat. Fenomena gerakan mahasiswa Indonesia bisa jadi dilatari oleh ideologi-ideologi yang dimilikinya. Meskipun kepemilikan ideologi tersebut hanya dimonopoli oleh sejumlah elit atau pemimpin dari gerakan mahasiswa. Mereka memandang suatu persoalan dari segi pandang mereka. Sehingga apa aspirasi yang diinginkan hanya melihat dari pihak mereka. Tetapi inilah negara kita Indonesia.Pemikiran mahasiswa yang terlalu kritis dan bersemangat bisa menggoyahkan kokohnya sistem politik di negara ini. Menurut saya harus ada suatu usaha dari pemerintah untuk melunturkan tindakan kekerasan mahasiswa saat berunjuk rasa. Pemerintah tidak boleh memandang sebelah mata tentang hal ini. apabila kekerasan terus terjadi, bukan aspirasi yang tersampaikan tetapi korban yang akan berjatuhan dalam aksi tersebut. Adanya penyuluhan tentang berunjuk rasa yang sesuai ketentuan, yang harus disampaikan pemerintah kepada setiap masyarakat negara ini. Agar aspirasi yang mereka sampaikan bisa diterima pihak tertentu.

    Tetapi jika mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan, maka harapan seperti apa yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa. Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seorang calon pemimpin bangsa masa depan, menggantikan generasi yang telah ada dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dan perubahan. Untuk menjadi iron stock, tidak cukup mahasiswa hanya memupuk diri dengan ilmu spesifik saja. Perlu adanya soft skill lain yang harus dimiliki mahasiswa seperti kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas yang tinggi.
    Jadi mahasiswa adalah ujung tombak yang sangat penting dan berbahaya bagi negara kita. Mereka bisa menggunakan soft skill mereka dalam menyampaikan aspirasi saat berunjuk rasa tanpa harus melakukan tindakan bodoh seperti kekerasan yang tidak layak dan lazim dalam proses berunjuk rasa.

    Referensi :
    http://khairulalfikri.wordpress.com/2010/01/24/mahasiswa-agent-of-change-social-control-and-iron-stock/
    – dan pemikiran dari otak saya sendiri..hehehe

    Melyta N.
    153090073
    Ilmu Komunikasi
    UPN VETERAN YK

  5. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

    Nama : Dian Retno Isworo
    NIM : 153070352
    Prodi : Ilmu Komunikasi UPN “Veteran “ Yogyakarta

    “Topik : Peranan Mahasiswa dalam mengeliminasi/menghilangkan perilaku kekerasan/destruktif pada kejadian konflik di lingkungan masyarakat maupun pada saat terjadinya unjuk rasa”

    Konflik dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang dihadapkan dengan motif, keyakinan, nilai dan tujuan yang saling bertentangan. Konflik bisa dialami oleh siapapun dan di manapun, termasuk oleh komunitas di perguruan tinngi biasanya mahasiswa sebagai subyeknya.. Konflik yang dialami individu di perguruan tinggi dapat hadir dalam berbagai bentuk, bisa dalam bentuk individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Misalnya, seorang mahasiswa berhadapan seorang dosen, sekelompok mahasiswa berhadapan dengan sekelompok mahasiswa dari kampus yang berlainan, dan sebagainya. Konflik yang terjadi diantara mereka bisa bersifat tertutup, terbuka atau bahkan menjadi konfrontasi. Biasanya konflik dan kekerasan yang dilakukan mahsiswa terjadi saat aksi unjuk rasa. Ketika emosi mereka sudah tidak terkontrol dan ambisi yang sangat kuat untuk menyuarakan aspirasinya, maka tidak mustahil kekerasan pun tidak terelakkan.
    Apabila konflik yang terjadi di suatu perguruan tinggi yang notabene mempunyai mahasiswa yang bersifat proaktif tidak terkelola dan bersifat destruktif, maka selain dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kehidupan seseorang, juga dapat mengganggu terhadap pencapaian efektivitas dan efisiensi pendidikan secara keseluruhan (Id Blog. Network_10/6/2010)
    Terkait dengan upaya mengelola konflik di perguruan tinggi, Daniel Robin (2004) dalam sebuah artikelnya menawarkan tujuh sikap yang diperlukan untuk mencairkan konflik.
    1. Define what the conflict is about
    Definisikan secara jelas konflik apa yang sedang berkembang. Tanyakan pada setiap orang “Ada issue apa?”, lalu tanyakan pula “Apa kepedulian Anda di sini? atau “Apa yang kamu rasakan dan manfaat dari pertengkaran ini”. Secara berkala tanyakan pula “Apa yang ingin Anda capai dan bagamana kita harus mengerjakannya?”
    2. It’s not you versus me; it’s you and me versus the problem
    Memiliki keyakinan bahwa “Ini bukanlah pertentangan antara anda dengan saya, tetapi ini adalah saya bersama anda melawan masalah itu”. Masalah yang sebenarnya adalah masalah itu sendiri, yang harus diselesaikan, bukan terletak pada orangnya. Adalah hal yang amat bodoh, jika Anda mencoba mengalahkan salah satu dari antara pihak yang berkonflik, karena suatu saat setelah mereka dikalahkan, mereka akan kembali melakukan pertempuran ulang (rematch) yang terus-menerus, yang mungkin dengan daya tembak yang lebih kuat. Jgn paksa orang untuk bertekuk lutut!
    3. Identify your shared concerns against your one shared separation.
    Lakukan identifikasi orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama dengan Anda dan orang–orang yang justru berseberangan dengan Anda. Jika dihadapkan pada suatu konflik, buatlah semacam kesepakatan dengan kelompok yang memiliki hubungan paling kuat (dimana Anda menyetujuinya), tidak dengan kelompok yang paling lemah. Ini akan lebih mudah dan juga lebih efektif, apabila Anda hendak mengalihkan hal-hal yang disetujui maupun tidak disetujui. Pahami sudut pandang mereka dan berikan penghargaan atas perbedaaan yang ada.
    4. Sort out interpretations from facts.
    Memilah interpretasi berdasarkan fakta. Jangan meminta suatu pendapat dari orang yang sedang berkonflik, karena hanya akan memperoleh pendapat dan penafsiran versi mereka. Tetapi sebaiknya ungkapkan “Apa yang telah kamu lakukan atau katakan?” pertanyaan semacam ini akan lebih menggiring pada fakta, yang selanjutnya dapat dijadikan dasar bagi pemecahan konflik
    3. Develop a sense of forgiveness.
    Kembangkan rasa untuk memaafkan. Tidak mungkin terjadi rekonsiliasi tanpa belajar memaafkan kesalahan orang lain. Banyak orang melakukan perdamaian tetapi tidak bisa mengubur kejadian yang sudah-sudah sehingga pada hari kemudian memunculkan lagi pertengkaran. Oleh karena itu, setiap orang penting untuk dibelajarkan mau memaafkan orang lain secara tulus. Yang lalu biar berlalu, hari ini kenyataan dan esok hari adalah harapan!
    6. Learn to listen actively
    Belajar mendengar secara aktif. Putarlah paradigma dari ungkapan “ Ketika saya bicara, orang lain mendengarkan” menjadi “Ketika saya mendengarkan, orang lain berbicara kepada saya”. Mendengarkan dengan tujuan untuk memahami, bukan untuk menjawab Mulailah dengan berusaha memahami, kemudian menjadi dipahami. Setidaknya dengan cara ini, akan membantu melepaskan ego atau uneg-uneg yang bersangkutan (katarsis)
    7. Purify your heart.
    Terakhir, berusaha mensucikan hati. Hati yang bersih merupakan benteng utama dari berbagai serangan dari luar dan juga akan pembimbing kita dalam setiap tindakan. Anda tidak akan mendapatkan konflik atau kekerasan dari orang lain, jika dalam hati dan jiwa Anda bersemayam kebajikan. Rasa benci, iri dan dengki yang bercokol di hati kerapkali menjadi pemicu terjadinya konflik.

  6. Unjuk rasa dan demostrasi seperti sudah menjadi bagian yang harus ada pada negara demokrasi. Kegiatan seperti itu dilaksanakan guna menyampaikan aspirai masyarkat, mengkritik pemerintah, dan lain sebagainya yang hal tersebut lazim terjadi di negara demokrasi termasuk Indonesia negara kita. Namun terkadang hal yang seharusnya lazim tersebut menjadi tidak lazim karena disertai tindak kekerasan oleh oknum tertentu yang menjadikan sebagian masyarakat menganggap kegiatan unjuk rasa identik dengan kekerasan. Karena terkandang tidak sedikit kerugian yang di dapatkan, baik kerugian materi bahkan sampai korban nyawa. Hal ini dipengaruhi oleh gampang terpancingnya emosi masyarakat, terutama mahasiswa dan kurang bisa mengontrol emosi mereka, sehingga terkadang pesan yang akan disampaikan malah terkesampingkan oleh tindakan kekerasan tersebut. Untuk mengurangi tindak kekerasan tersebut diperlukan kesadaran para mahasiswa untuk tidak mudah terpancing emosinya dan dengan belajar mengontrol emosi. salah satu kegiatan yang bisa menjadi solusi yaitu kegiatan seminar yang membahas tentang cara-cara menyampaikan aspirasi agar dapat diterima dengan baik, atau seminar tentang tidak perlunya penggunan kekersan dalam menyampaikan kritikan. intinya yang diperlukan adalah menumbuhkan kesadaran bagi mahasiswa dan masyarakat bahwa kekerasan bukan jalan yang baik, karna saat ini untuk menyelesaikan masalah harusnya menggunakan otak, bukan otot.

    Syifa Shabirina Lisssalmi
    1530909361
    Ikom UPN V

  7. Unjuk rasa dan demostrasi seperti sudah menjadi bagian yang harus ada pada negara demokrasi. Kegiatan seperti itu dilaksanakan guna menyampaikan aspirai masyarkat, mengkritik pemerintah, dan lain sebagainya yang hal tersebut lazim terjadi di negara demokrasi termasuk Indonesia negara kita. Namun terkadang hal yang seharusnya lazim tersebut menjadi tidak lazim karena disertai tindak kekerasan oleh oknum tertentu yang menjadikan sebagian masyarakat menganggap kegiatan unjuk rasa identik dengan kekerasan. Karena terkandang tidak sedikit kerugian yang di dapatkan, baik kerugian materi bahkan sampai korban nyawa. Hal ini dipengaruhi oleh gampang terpancingnya emosi masyarakat, terutama mahasiswa dan kurang bisa mengontrol emosi mereka, sehingga terkadang pesan yang akan disampaikan malah terkesampingkan oleh tindakan kekerasan tersebut. Untuk mengurangi tindak kekerasan tersebut diperlukan kesadaran para mahasiswa untuk tidak mudah terpancing emosinya dan dengan belajar mengontrol emosi. salah satu kegiatan yang bisa menjadi solusi yaitu kegiatan seminar yang membahas tentang cara-cara menyampaikan aspirasi agar dapat diterima dengan baik, atau seminar tentang tidak perlunya penggunan kekersan dalam menyampaikan kritikan. intinya yang diperlukan adalah menumbuhkan kesadaran bagi mahasiswa dan masyarakat bahwa kekerasan bukan jalan yang baik, karna saat ini untuk menyelesaikan masalah harusnya menggunakan otak, bukan otot.

    Syifa Shabirina L
    1530909361
    Ikom UPN V

  8. Peranan mahasiswa dalam mengeliminasi atau menghilangkan kekerasan perilaku kekerasan atau destruktif pada kejadian konflik di lingkungan masyarakat maupun pada saat terjadinya unjuk rasa.

    Mahasiswa harus mampu berpikir kritis terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia. Seperti kasus korupsi maupun kasus mengenai bencana-bencana yang terjadi di Indonesia, dan global warming. Mahasiswa sebagai agent of change harus ikut berpartisipasi dalam hal-hal seperti itu. Mahasiswa bisa berpartisipasi melalui unjuk rasa dengan cara-cara yang baik, tanpa adanya kekerasan maupun tawuran yang menyebabkan kerugian pada masyarakat sekitar. Misalnya, seperti mengatasi global warming, salah satunya adalah mahasiswa harus mencegah atau mengubah global warming tersebut, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan kantong plastik ketika berbelanja dengan membawa tas sendiri, bisa berkreatif dengan pendauran barang-barang bekas atau sampah, hingga ikut berpartisipasi dalam penanaman bibit pohon untuk mengurangi efek global warming.
    Dalam kasus bencana alam yang tidak dapat diprediksi, mahasiswa bisa menjadi relawan untuk membantu para korban bencana. Dalam kasus korupsi atau pemilu mahasiswa dapat berunjuk rasa secara baik-baik. Bila dalam pemilu mahasiswa dapat menggunakan hak pilihnya dan tidak boleh golput, memilih orang yang dipercayainya tanpa melanggar norma-norma yang ada di Indonesia.

    Nama : Deby linda stevia putri
    Nim : 153080266
    Kelas: G\IK
    JUR\UNIV: Ilmu komunikasi/upn “v”

  9. Demokrasi, sebuah kata yang menunjuk pada keperkasaan rakyat, karena memiliki kekuasaan untuk mengatur kehidupan negara berdasarkan kedaulatan yang dimilikinya, telah puluhan tahun kehilangan makna di Indonesia. selama orde baru demokrasi tidak hanya mengalami reduksi makna, melainkan telah jungkir balik dari arti yang sebenarnya dan malah dipakai untuk menghalalkan praktik-praktik politik yang represif dan menindas rakyat.
    Menyelenggarakan sistem yang demokratis tidak mudah, dan bahkan tidak semua negara yang mengalami masa transisi berhasil mencapai konsolidasi demokrasi. membangun demokrasi tidak sekedar hanya mengandalkan aturan formal saja. Alam demokrasi memerlukan masyarakat yang mampu menerapkan nilai-nilai demokratis seperti toleransi, kesetaraan, membangun konsesus, mengelola konflik, dan lain sebagainya.
    Setelah lebih dari satu dekade menjalani satu masa liberalisasi politik, perjalanan demokratisasi di Indonesia belum menunjukkan perkembangan yang ideal. Reformasi yang bergulir sejak 1998 ternyata tidak serta merta mendorong terjadinya transformasi demokrasi di Indonesia. Berbagai cacat-cacat yang menghambat terwujudnya praksis demokratisasi di Indonesia tersebut, membawa kita pada persoalan, apakah proses transformasi demokrasi sebagai agenda reformasi benar-benar mengalami kebuntuan. Alih-alih menghasilkan demokrasi seperti yang diangankan selama ini, wacana dan praksis demokrasi di Indonesia cenderung berkembangdengan suatu sistem yang ciri, pola, logika dan dinamika mendasarrnya dibentuk dan dijalankan oleh politik uang dan kekerasan. Tak ayal, jika kemudian kita melihat munculnya gejala tirani minoritas dimana panggung politik kita didominasi segelintir elite, baik pada tingkatan pusat maupun daerah.
    Mahasiswa menempati kedudukan yang khas (Special position) dimasyarakat, baik dalam artian masyarakat kampus maupun diluar kampus. Kekhasan ini tampak pada serentetan atribut yang disandang mahasiswa, misal : intelektual muda, kelompok penekan (Pressure group), agen pembaharu (Agent of change), dan kelompok anti status quo.

    Dalam konteks pergerakan politik di Indonesia, sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia sudah eksis sejak sebelum kemerdekaan. Bahkan, dapat dikatakan mereka adalah pelopor pergerakan kemerdekaan secara modern melalui organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa. Hal ini dapat dilihat dari kepeloporan mahasiswa Stovia yang dimotori Wahidin Sudirohusodo dalam mempelopori gerakan kemerdekaan dengan organisasi modern. Hal yang kurang lebih sama dilakukan oleh pergerakan mahasiswa dinegeri Belanda, Kelompok Kramat Raya, Pegangsaan, KAMI, Malari, dan yang terakhir jatuhnya rezim Soeharto oleh gerakan Reformasi Mahasiswa. Fakta- fakta ini menunjukkan bahwa mahasiswa adalah kelompok yang selalu berdiri di garda terdepan dalam hampir setiap perubahan yang terjadi.

    Dalam perspektif sosial, mahasiswa pun menunjukkan dinamika tersendiri sebagai kelompok yang secara konsisten memperjuangkan hak-hak kaum tertindas serta memberi kontribusi yang tidak kecil dalam rekayasa perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih baik. Posisi mahasiswa yang netral (Neutral position) dan tidak mempunyai kepentingan tertentu atau dibawah kepentingan telah menempatkannya pada posisi yang sangat disegani dan dihormati dalam setiap proses perubahan sosial masyarakat.
    Peranan Mahasiswa dalam mengeliminasi/menghilangkan perilaku kekerasan/destruktif pada kejadian konflik di lingkungan masyarakat maupun pada saat terjadinya unjuk rasa adalah mutlak harus dilakukan mengingat mahasiswa adalah orang yang memiliki pendidkan yang bagus atau berintelektual. Memiliki pendidkan yang bagus berarti pintar dalam meyelesaikan masalah dalam artian lebih bijaksana dan berpikir logika. Mahasiswa juga adalah bagian dari masyarakat yang beradalam dalam lingkungan sosial tentunya juga mengalami, terlibat atau berada dalam Susana konflik bukanlah ikut terlibat dalam masalah atau suatau konflik yang lebih meruncing, melainkan sebagai mediator untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu pertikaian atau konflik tertentu. Mungkin dalam suatau peristiwa konflik atau pertikaian yang dianggap sakral misalkan pertikaian antara suku, adat atau masalah ras dan agama susah atau bahkan tidak boleh ikut campur dalam masalah tersebut tetapi bukan berarti sebagai mahasiswa ikut berada dalam masalah untuk lebih meruncing tetapi untuk lebih berdiam diri dan menahan sikap dalam bertindak.

    Nama : Okto Delfisianus Tungga Nusa
    No mhswa: 153040359
    Jur/Univ: Komunikasi / UPN
    Kelas : G

    (sumber : google.com)

  10. MENGURANGI KONFLIK DEKSDRUKTIF
    Nama : Sugeng Rohmadi
    Nim : 153080387
    jurusan Ilmu komunikasi UPN “VETERAN”
    Beragam konflik sosial menghantam Indonesia. Konflik Tarakan, Ampera, sampai diusirnya secara brutal aktivis pembela HAM dalam demonstrasi di Jakarta baru-baru ini menghiasi wajah media kita. Kekerasan meluas. Kita perlu mundur sejenak, guna memahami akar masalah.
    Yang jelas sikap destruktif itu bukan bentukan budaya, melainkan alamiah tertanam dalam kodrat manusia. Sikap destruktif tersebut bersandingan dengan karakter luhur manusia. Inilah yang menandakan kerumitan sekaligus kontradiksi di dalam diri manusia. Sikap destruktif inilah yang memungkinkan kejadian sederhana bisa memicu konflik sosial berskala raksasa.
    Yang kita perlukan adalah taktik mengelola destruksi, dan mengubahnya menjadi kreasi. Destruksi harus dibarengi dengan motif perubahan, dan bukan penghancuran tanpa alasan. Maka kita perlu rancangan destruksi. Kita perlu sadar diri, dan menghindari kebetulan-kebetulan merusak yang dilakukan tanpa sadar.
    Human Condition
    Secara alamiah ada empat hal yang tertanam di dalam sikap destruktif manusia. Yang pertama adalah agresi. Agresi adalah sikap menyerang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Agresi meniadakan dialog ataupun kompromi. Agresi menghendaki kemutlakan.
    Masyarakat kita penuh dengan agresi. Kelompok yang satu meminta tanpa pernah memberi. Permintaan tersebut selalu mutlak, tanpa mengenal kompromi. Konflik pun terjadi. Tawar menawar dianggap merusak harga diri. Permintaan menjadi ancaman yang memiliki harga mati.
    Di tengah situasi ini, perdamaian tidak akan pernah tercipta. Sikap memutlakan nilai-nilai diri akan bermuara pada penindasan. Stabilitas pun semu. Yang ada hanyalah bom waktu konflik sosial yang siap meledak setiap waktu.
    Agresi biasanya mengacu pada motivasi pelestarian diri. Inilah hal kedua yang tertanam di dalam sikap destruktif manusia. Untuk melestarikan diri apapun perlu dan harus dilakukan. Moralitas menjadi relatif ketika dihadapkan pada pelestarian diri.
    Di Indonesia motif pelestarian diri masih dominan. Banyak orang tertekan oleh keadaan. Akibatnya untuk hidup sederhana pun mereka harus banting tulang. Di dalam masyarakat yang motif pelestarian diri masih dominan, konflik mudah sekali disulut menjadi kerusuhan raksasa.
    Yang ketiga adalah motif dominasi. Agresi adalah sikap menyerang untuk memenuhi keinginan diri atau kelompok. Sementara dominasi adalah sikap mempertahankan kekuasaan secara total. Dominasi selalu merupakan penindasan. Alhasil dominasi akan selalu menghasilkan korban.
    Dominasi masih kental di Indonesia. Sekelompok orang atas nama uang, kekuasaan, ataupun agama hendak menguasai kelompok lain dengan cara-cara agresif. Brutalitas menjadi pemandangan sehari-hari. Brutalitas adalah nyanyian sendu ruang publik kita.
    Motif di balik semua ini adalah kekuasaan yang sekaligus merupakan sisi keempat sikap destruktif mansia. Dengan kuasa yang dimilikinya, manusia hendak melakukan agresi dan mendominasi pihak lain, sehingga memiliki kekuasaan yang lebih besar. Ini inheren di dalam diri manusia, dan bukan ciptaan budaya.
    Empat sisi gelap ini bersandingan dengan karakter luhur nurani manusia. Semuanya membentuk mahluk kontradiktif yang bernama manusia. Semakin ia rumit dan kontradiktif, semakin ia menunjukkan kemanusiaannya. Tak heran seorang pemuka agama yang terkenal saleh dan suci berubah sekejap mata menjadi monster yang siap memangsa lawan-lawan ideologisnya.
    Destruksi Kreatif
    Destruksi tidak bisa menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Destruksi harus menjadi alat untuk berubah ke arah perbaikan diri. Untuk itu kita perlu rancangan. Rancangan kreasi ini dimulai dengan pembangunan kesadaran diri.
    Kesadaran dapat diciptakan dengan memberikan pengakuan, yakni pengakuan bahwa setiap orang, termasuk saya dan anda, memiliki dimensi destruktif. Kedua, orang perlu mengurangi agresi. Agresi hanya dapat lenyap, jika orang menghindari kemutlakan. Kemutlakan hanya dapat lenyap, jika orang mengambil posisi ironi dan paradoks di dalam melihat hidup.
    Kesadaran akan kerumitan diri membawa pada pencerahan. Pencerahan akan membawa manusia menyadari nuraninya. Jika begitu agresi dan dominasi dapat disalurkan menjadi daya pengubah diri. Destruksi dapat diubah menjadi sesuatu yang kreatif. Namun kembali: itu semua perlu dilakukan mulai dari penumbuhan kesadaran diri. 
    Kalau membaca hasil kajian Hawk Williams (1996), konflik destruktif itu juga bisa mencul ketika:
    –         Ada problem yang kita jumpai (menurut versi kita) pada diri orang lain
    –         Kita membiarkan / tidak menunjukkan problem itu kepada orang yang kita anggap punya masalah dengan kita 
    –         Problem itu tetap muncul atau terus bertambah
    –         Perasaan negatif terus menggunung / mengakumulasi)
    –         Kita kehilangan perspektif tentang orang itu (pokoknya kita benci, ingin dia pergi, tidak cocok, dst)
    satu pertanyaan penting dari penjelasan di atas adalah, lalu siapa yang bisa membikin konflik itu produktif dan tidak? Siapa yang bisa mengkondisikan konflik itu konstruktif atau destruktif? Kalau kita mengharapkan itu pada konfliknya, tentu ini sangat jauh. Kalau kita mengharapkan orang lain, lawan kita dalam berkonflik itu, ini juga sangat jauh.  
    Dengan kata lain, yang bisa mengelola konflik itu supaya tetap bisa memberikan perspektif yang konstruktif dan produktif adalah kita sendiri. Karena itu, kompetensi yang diperlukan di sini adalah manajemen-diri (self-management). Unsur terpenting dalam manajemen-diri di sini adalah mengontrol emosi.  Kontrol emosi artinya kita, secara mental, bertindak selaku penguasa, pemilik, atau pengendali emosi itu. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk bisa mengontrolnya adalah menerapkan formula 3C (Catch, Change, and Create).
    Catch artinya kita benar-benar tahu dan sadar bahwa emosi kita memang lagi bermasalah atau meledak. Atas kesadaran dan pengetahuan ini kita berusaha untuk mengendalikannya. Change di sini adalah berusaha untuk mengganti dengan yang lebih positif bagi diri kita supaya ledakan emosi itu tidak sampai menimbulkan konflik dengan stadium tinggi. Sedangkan Create di sini adalah menciptakan perspektif, penyikapan, respon atau tindakan yang tidak memperkeruh suasana.
    Dengan cara ini, kita masih punya ruang untuk menemukan spirit untuk memperbaiki diri dari konflik yang terjadi. Kita masih punya ruang untuk memikirkan cara-cara konflik yang terbuka. Kita masih punya ruang untuk menjaga hubungan kemanusiaan. Kita masih punya ruang untuk tetap fokus pada apa yang penting buat kita. Kita masih punya ruang untuk memikirkan cara-cara kreatif dalam mengatasi konflik.
    Apa ada orang yang masih mengingat formula 3C itu ketika konflik terjadi? Kalau pun ada, mungkin jumlahnya sangat sedikit. Kalau pun ada, mungkin itu adalah buah (kemampuan) dari kebiasaan sebelumnya. Nah, satu-satunya jurus penyelamat bagi yang belum biasa mengatasi konflik secara tactfully adalah, menahan diri supaya tidak mengeluarkan reaksi yang berlebihan secara langsung. Keluarkan reaksi yang proporsional dan setelah itu temukan ruang batin untuk mengerem, alias jangan berlanjut sampai ke tingkat yang di luar kontrol.
    Itu semua adalah solusi personal yang mungkin bisa kita lakukan. Adapun untuk solusi organisasionalnya, kita pun bisa menjalankan saran-saran di bawah ini:
    Pertama, biasakan menyelesaikan masalah yang sudah muncul atau yang masih terpendam (problem solving). Masalah tidak hilang karena kita abaikan. Masalah itu bersembunyi dan biasanya akan muncul dalam bentuk pukulan mendadak. Karena itu perlu kita selesaikan supaya tidak membesar atau supaya tidak meledak menjadi konflik stadium tiga alias fighting.
    Kedua, biasakan melihat masalah secara proporsional: tidak membesar-besarkan, tidak mengada-ngada, tidak meremehkan (smoothing). Kerapkali terjadi bahwa hubungan kita menjadi bermasalah padahal tidak ada masalah yang perlu dimasalahkan atau masalah itu hanya berupa semacam penilaian-perasaan yang subyektif. Dengan belajar memproporsionalkan cara pandang kita terhadap masalah, maka kita bisa terhindar dari konflik, bisa mengurangi atau meredamnya.
    Ketiga, mintalah orang yang sudah punya otoritas lebih tinggi (Refering to higher authority) sebagai penengah, peredam atau pemberi solusi. Selama masalah yang menimbulkan konflik itu berkaitan dengan pekerjaan dan melibatkan orang banyak, biasanya penggunaan otoritas / kekuasaan sangat membantu, entah sebagai mediator atau decision maker.
    Keempat, antisipasi hal-hal yang bisa menimbulkan konflik dalam praktek hubungan kita. Sekedar untuk bertukar pengalaman, saya kebetulan sering diminta untuk menjadi penengah orang-orang yang berkonflik. Kesimpulan saya, masing-masing pihak memang menginginkan kompromi, kesepakatan atau kedamaian. Tapi, yang sering dilupakan oleh masih-masing pihak adalah menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat memancing konflik.
    Ini misalnya tetap kekeuh mempertahankan posisi defensifnya, menutup diri dari berbagai masukan, menolak berdialog secara rasional, tidak mau mengorbankan kepentingan kecil demi terwujudnya kepentingan yang lebih besar, dan lain-lain. Artinya, ketika kita ingin damai, maka kita pun harus mempersiapkan diri untuk menanggung konsekuensi alamiyahnya. Salah satu konsekuensi penting di sini adalah menghindarkan diri (avoid from) dari hal-hal yang dapat memancing konflik atau yang dapat menutup pintu kesepakatan.
    Kelima, berkompromi (Compromise). Kerapkali terjadi bahwa berkompromi ini punya manfaat yang jauh lebih banyak ketimbang berkonflik. Berkompromi adalah belajar untuk menjadi “soft” (baca: fleksibel seperti air) dan belajar untuk tidak menjadi “hard” (baca: keras seperti kayu). Semua orang sudah tahu, dengan menjadi soft akan mengalahkan yang hard, tetapi sayangnya, kita lebih sering memilih menjadi hard untuk mengalahkan yang hard.
    Itu semua adalah bentuk-bentuk solusi yang bisa kita ambil. Tentu, pengertian solusi di sini adalah proses pembelajaran di mana kita berusaha untuk memperbaiki diri dari praktek yang kita lakukan sehari-hari.

    Sumber :
    (REZA A.A WATTIMENA Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya)
    (Ubaydillah , AN. Jakarta 13 agustus 2007)

  11. PERAN MAHASISWA
    DALAM MENANGGULANGI BENCANA

    Tekad untuk optimis

    Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
    Kita mendirikan negara Republik Indonesia untuk maksud melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukankesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan sebagai Negara Demokrasi konstitutional (constitutional democracy) berdasarkan Pancasila.
    Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak permasalahan, tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang dari masa depan kita. Dalam menghadapi beraneka persoalan tersebut, selalu ada kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan-ketakutan sebagai akibat kealfaan atau kesalahan yang kita lakukan atau sebagai akibat hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita, seperti karena terjadinya bencana alam atau karena terjadinya krisis keuangan di negara lain yang berpengaruh terhadap perekonomian kita di dalam negeri.
    Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.

    Bencana alam
    Bencana alam yang terjadi silih berganti pada akhir-akhir ini memang menuntut gerak cepat dari berbagai pihak; mulai dari pemerintah (baik daerah maupun pusat), Bazarnas, BNPB, LSM, lembaga-lembaga pemerintahan, serta seluruh warga masyarakat yang ada. Bencana alam yang terjadi sekarang ini seringkali tidak dapat diprediksi. Contohnya letusan gunung merapi di Sleman-Yogyakarta dan tsunami di Mentawai. Tidak bisa dipungkiri negara kita ini memang termasuk wilayah yang sangat rawan akan bencana alam. Untuk itu perlu selalu ada kesiagaan dari berbagai kalangan. Kesiagaan Pemerintah saja terbukti tidak cukup efektif dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam di tanah air. Dalam hal ini tentu perlu adanya partisipasi serta peran serta aktif dari para mahasiswa.
    Ketika bencana alam datang silih berganti seperti sekarang ini, para mahasiswa harus siap turut serta aktif dalam penanganan bencana di tanah air. Baik itu diminta maupun atas keikhlasan dan kesadaran diri. Kita sebagai mahasiswa harus menjadi mahasiswa yang siaga bencana, dalam artian tanggap jika suatu waktu terjadi bencana. Bukan justru menyelamatkan diri sendiri saat bencana terjadi, namun sebagai mahasiswa harus turut berperan aktif dalam melakukan evakuasi terhadap para korban bencana. Atau paling tidak para mahasiswa bisa menjadi relawan maupun koordinator di lokasi bencana.
    Di sisi lain kita para mahasiswa juga bisa berpartisipasi sebagai dermawan. Tentu bukan seberapa besar jumlah uang atau nilai barang yang disumbangkan. Namun yang lebih penting adalah keikhlasan berbagi dan nilai guna dari apa yang kita sumbangkan itu. Bisa berupa makanan, pakaian, obat-obatan, dsb. Sebagai mahasiswa yang memiliki banyak jaringan kita juga bisa menjadi relawan/coordinator dalam pengumpulan dana bantuan untuk para korban bencana alam di tanah air. Bisa melalui posko-posko mahasiswa ataupun aksi penggalangan dana di masyarakat.
    Menjelang akhir tahun 2010 ini tepatnya pada bulan oktober, Indonesia tak henti-hentinya diberikan berbagai cobaan. Banyaknya bencana yang melanda bangsa ini; mulai dari meletusnya gunung merapi, tsunami di mentawai Sumatra, dan banjir yang melanda Ibu Kota Jakarta, merupakan dilema problematika bangsa Indonesia. Disinilah peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dituntut untuk menjawab realita yang ada. Mahasiswa harus peka dan tanggap melihat disekelilingnya dalam mengaktualisasikan perannya. Idealnya, mahasiswa sebagai intelektual muda harus memberikan sumbangsih yang besar dalam menyikapi berbagai bencana yang ada. Menjadi relawan merupakan pilihan yang tepat untuk memberikan kontribusi yang sesuai dalam mengaktualisasikan peran mahasiswa. Dan ini merupakan bentuk kedermawanan seorang mahasiswa, mengerahkan segala kemampuannya dalam mermbantu korban bencana.
    Berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang relawan dalam membantu korban bencana. Dalam aksinya mahasiswa dapat terjun langsung ke jalan-jalan bergerak sebagai penggalang dana yang terorganisir, mendirikan posko-posko korban bencana, dan bisa langsung terjun ketempat lokasi bencana membantu dan melayani masyarakat yang terkena bencana.
    Bentuk kedermawanan mahasiswa lainnya bisa di tunjukkan dan direalisasikan melalui pemanfaatan media teknologi yang ada. Banyaknya jejaring sosial seperti; friendster, facebook, twitter, multiplay, blog, dsb. Yang bisa dimanfaatkan sebagai ajang/ aksi pengumpulan dana dalam dunia maya yang hasilnya pun tidak kalah dengan cara yang biasa dilakukan. Bukti nyata pemanfaatan teknologi (Social Networking), kita dapat melihat kasus yang dialami oleh prita mulyasari yang berseteru dengan RS Omni Internasional terkait tentang curahan hatinya terhadap pelayanan yang diberikan yang dianggap sebagai pencemaran nama baik (korban kedhzaliman Sistem), dan luar biasa sekali dukungan dari masyarakat baik berupa moril maupun dana, yang dicurahkan melalui jejaring sosial. Ini meupakan masalah personal yang dialami seorang prita mulyasari, apalagi untuk korban bencana alam yang menyangkut banyak korban jiwa, tidak mustahil mendapatkan hasil yang besar untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana.
    Setelah banyaknya kejadian bencana alam yang menimpa Indonesia tercinta, yang merenggut banyak korban jiwa, mulai bencana tsunami di pulau mentawai bagian barat Sumatra sampai meletusnya gunung merapi di jawa tengah sekarang ini. Melihat hal itu maka barisan Mahasiswa ISTA yang digawangi oleh BEM turut peduli dan ikut merasakan penderitaan yang dirasakan oleh para korban yang terkena becana, berawaldariniat yang baik untukmenolongsaudara-saudara yang terkena bencana, barisanMahasiswa ISTA mengadakan kegiatan pengalangan dana untuk parakorban bencana alam dengan cara menggugah perasaan para pengendara pribadi sekaligus angkutan umum serta masyarakat setempat guna meringankan beban saudara-saudara yang terkena bencana.

    Referensi

    http://www.ista.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=150:mahasiswa-ista-peduli-mentawai-dan-merapi&catid=36:informasi

    http://www.polbeng.ac.id/index.php?lang=&view=berita&mode=read&id=20101102083044

    http://media.kompasiana.com/new-media/2010/11/06/mahasiswa-dan-fenomena-bencana-alam/

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/09/mahasiswa-siaga-bencana/

    Nama : I Nyoman Resana
    Nim : 08/273854/DPA/3106

    D3 REKAM MEDIS
    SEKOLAH VOKASI GADJAH MADA
    UNIVERSITAS GADJAH MADA
    YOGYAKARTA
    2010

  12. Peranan Mahasiswa dalam mengeliminasi/menghilangkan perilaku kekerasan/destruktif pada kejadian konflik di lingkungan masyarakat maupun pada saat terjadinya unjuk rasa.

    Mahasiswa adalah kaum terpelajar, kaum intelektual, kaum yang penuh pertimbangan matang dan kemampuan berlogika yang tinggi. Mahasiswa bukan tentara atau prajurit yang mengutamakan kemampuan ototnya. Mahasiswa adalah kaum yang mengutamakan kehebatan otaknya dan kemampuan berpikirnya untuk menjadi agen-agen perubahan dalam masyarakat. Mahasiswa bukan tentara yang bertugas melakukan perubahan dengan kekuatan fisik dan kekerasan. Mahasiswa bukan seorang prajurit yang memang sudah dilatih untuk “bertarung” di lapangan.

    Dahulu beberapa oknum Mahasiswa di negeri ini tidak ada lelahnya membuat onar di tempat umum. Mulai dari bakar-bakar ban, blokir jalan hingga bentrok sehari-hari sudah menjadi berita yang biasa kita dapatkan hampir setiap bulannya. Namun sekarang sudah mulai berkurang mahasiswa melakukan demo hanya dengan berdiri di jalan jalan ataupun di gedung-gedung yang menjadi targetnya. Mahasiswa bebas mengeluarkan aspirasinya. Tanpa ada sesuatu yang dapat merugikan orang lain.

    Dalam konteks pergerakan politik di Indonesia, sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia sudah eksis sejak sebelum kemerdekaan. Bahkan, dapat dikatakan mereka adalah pelopor pergerakan kemerdekaan secara modern melalui organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa. Dalam perspektif sosial, mahasiswa pun menunjukkan dinamika tersendiri sebagai kelompok yang secara konsisten memperjuangkan hak-hak kaum tertindas serta memberi kontribusi yang tidak kecil dalam rekayasa perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih baik. Posisi mahasiswa yang netral (Neutral position) dan tidak mempunyai kepentingan tertentu atau dibawah kepentingan telah menempatkannya pada posisi yang sangat disegani dan dihormati dalam setiap proses perubahan sosial masyarakat.

    Peran mahasiswa sejauh ini senantiasa diwarnai oleh situasi politik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Mereka biasanya memerankan diri sebagai yang kritis sekaligus konstruktif terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan politik, ekonomi. Mereka sangat tidak toleran dengan penyimpangan apapun bentuknya dan nurani mereka yang masih relatif bersih dengan sangat mudah tersentuh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi namun ternyata itu terjadi atau dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu dalam masyarakat dan pemerintah.

    Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan Pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peran itu. Jika gagal akan berdampak negatif pada masyarakat yang di pimpinnya; demikian pula sebaliknya. Dalam perubahan sosial yang dasyat saat ini, mahasiswa sering dihadapkan pada kenyataan yang membingungkan dan dilematis. Suatu pilihan yang teramat sulit harus ditentukan, apakah ia terjun dalam arus perubahan sekaligus mencoba mengarahkan dan mengendalikan arah perubahan itu; ataukah sekedar menjadi pengamat dan penonton dari perubahan atau mungkin justru menjdi korban obyek sasaran dari perubahan yang dikendalikan oleh orang lain .

    Melihat realitas dan tantangan diatas,mahasiswa memiliki posisi yang sangat berat namun sangat strategis dan sangat menentukan .Bukan zamannya lagi untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi;tetapi harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut adalah benar-benar masyarkat yang adil dan makmur.
    Di kampus pun mahasiswa sudah dibekali dengan ilmu-ilmu yang mana berhubungan dengan kemasyarakatan. Banyak organisasi mahasiswa yang melakukan kegiatan positif di lingkungan dibandingkan dengan harus melakukan kegiatan yang merugikan orang lain. Secara definitif mahasiswa memperoleh predikat yang istimewa dimata masyarakat karena dalam keistimewaan tersebut terdapat suatu harapan yang nantinya mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik dan mampu mengisi lapisan pemimpin. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Mohtar Mas’oed, secara fungsi, mahasiswa mempunyai dua peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, mahasiswa sebagai manager dan kedua mahasiswa sebagai pencetus gagasan. Peran yang pertama lebih berorientasi pada tindakan, yaitu lebih menekankan masalah “how to get things done” sehingga peran ini lebih memerlukan bekal keilmuan yang menunjang penyelesaian masalah dalam suatu bidang ilmu-ilmu managemen yang bersifat teknokrasi. Dan peran kedua lebih berorientasi pada kegiatan pemikiran, yaitu lebih pada kerja “asah otak” untuk melahirkan kemungkinan alternatif sehingga dalam prakteknya peran ini lebih memerlukan bekal keilmuan yang mengutamakan kontemplasi.
    Walaupun kedua fungsi itu umumnya ditemukan pada pribadi yang berbeda, namun kadang keduanya juga dapat ditemui pada satu pribadi. Peran-peran tersebut memerlukan satu syarat utama, yaitu belajar bermasyarakat, terutama belajar memimpin masyarakat. Belajar menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan secara bersama pada dasarnya adalah belajar berpolitik.
    Dengan demikian, tujuan mahasiswa adalah untuk memahami fenomena-fenomena yang terdapat dalam suatu tatanan yang disebut masyarakat baik dari segi politik, ekonomi, sosial, dll. Untuk mencapai tujuan tersebut maka interaksi yang inten sangatlah diperlukan guna menghindari hal-hal yang bersifat miskomunikasi.

    Nama : VITRIA KUSUMANING AYU
    Nim : 153090141
    Jurusan : Ilmu Komunikasi

  13. Konflik pada hakikatnya adalah segala sesuatu interaksi pertentangan antara dua pihak dan lebih didalam suatu kelompok masyarakat atau pun organisasi masyarakat, konflik dapat terjadi karena ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota dalam kelompok tersebut yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi atau berebut sumber-sumber daya yang terbatas serta merebutkan sumber kehidupan maupun lapangan kerja, dimana masing-masing mempunyai perbedaan, status, tujuan, nilai atau persepsi masing-masing.

    Konflik merupakan peristiwa yang wajar di tengah kehidupan masyarakat majemuk, karena perbedaan nilai, persepsi, kebiasaan, dan kepentingan di antara berbagai kelompok masyarakat merupakan faktor potensial yang dapat menjadi pemicu. Kemungkinan berlangsungnya konflik akan semakin menguat jika perbedaan horisontal (nilai, ideologi, kebiasaan, dan sebagainya) tersebut dipertajam oleh perbedaan vertikal (kesenjangan ekonomi dan kekuasaan). Sebagai realitas sosial masyarakat, konflik mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Dalam dimensi positif, konfllik menjadi bagian penting untuk terwujudnya perubahan sosial yang lebih berarti menyelaikan perbedaan yang timbul, membangun dinamika, heroisme, militanisme, penguatan solidaritanisme baru, serta lompatan sejarah ke depan untuk integrasi yang lebih kokoh. Sedangkan dimensi negatif, konflik menimbulkan resiko bagi masyarakat dan bangsa, mengakibatkan kerawanan sosial dan politik serta memicu krisis atau kekacauan (chaos) dalam berbagai bentuknya seperti; disorientasi nilai, disharmonisasi sosial, disorganisasi, bahkan sampai kepada disintegrasi bangsa.

    Mahasiswa adalah kaum terpelajar, kaum intelektual, kaum yang penuh pertimbangan matang dan kemampuan berlogika yang tinggi. Mahasiswa bukan tentara atau prajurit yang mengutamakan kemampuan ototnya. Mahasiswa adalah kaum yang mengutamakan kehebatan otaknya dan kemampuan berpikirnya untuk menjadi agen-agen perubahan dalam masyarakat. Mahasiswa bukan tentara yang bertugas melakukan perubahan dengan kekuatan fisik dan kekerasan. Mahasiswa bukan seorang prajurit yang memang sudah dilatih untuk “bertarung” di lapangan.

    Peran mahasiswa sejauh ini senantiasa diwarnai oleh situasi politik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Mereka biasanya memerankan diri sebagai yang kritis sekaligus konstruktif terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan politik, ekonomi. Mereka sangat tidak toleran dengan penyimpangan apapun bentuknya dan nurani mereka yang masih relatif bersih dengan sangat mudah tersentuh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi namun ternyata itu terjadi atau dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu dalam masyarakat dan pemerintah.

    Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan Pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peran itu. Jika gagal akan berdampak negatif pada masyarakat yang di pimpinnya; demikian pula sebaliknya. Dalam perubahan sosial yang dasyat saat ini, mahasiswa sering dihadapkan pada kenyataan yang membingungkan dan dilematis. Suatu pilihan yang teramat sulit harus ditentukan, apakah ia terjun dalam arus perubahan sekaligus mencoba mengarahkan dan mengendalikan arah perubahan itu; ataukah sekedar menjadi pengamat dan penonton dari perubahan atau mungkin justru menjdi korban obyek sasaran dari perubahan yang dikendalikan oleh orang lain .

    Melihat realitas dan tantangan diatas,mahasiswa memiliki posisi yang sangat berat namun sangat strategis dan sangat menentukan .Bukan zamannya lagi untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi;tetapi harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut adalah benar-benar masyarkat yang adil dan makmur.
    Dalam Pengelolaan konflik yakni dengan Pendekatan Win-win solution prinsip-prinsip pendekatan sama-sama menang atau saling menguntungkan serta saling memuaskan, dimana kedua belah pihak menang dalam keberpihakan atas proses penegakan keadilan dan kebenaran, tetapi kalau masih belum tercapai dapat di tempuh upaya kompromi.

    Dengan demikian Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus dapat menuntun masyarakat untuk dapat hidup secara tertib dan sejahtera.

    hadirwong.blogspot.com/…/konflik-yang-terjadi-di-masyarakat.html
    http://www.tribun-timur.com/read/artikel/129503/sitemap.html

    Nama : ADEAN TRIYANSYAH
    Nim : 153090119
    Jurusan : Ilmu Komunikasi

  14. Peranan Mahasiswa dalam mengeliminasi/menghilangkan perilaku kekerasan/destruktif pada kejadian konflik di lingkungan masyarakat maupun pada saat terjadinya unjuk rasa.

    Mahasiswa adalah kaum terpelajar, kaum intelektual, kaum yang penuh pertimbangan matang dan kemampuan berlogika yang tinggi. Mahasiswa bukan tentara atau prajurit yang mengutamakan kemampuan ototnya. Mahasiswa adalah kaum yang mengutamakan kehebatan otaknya dan kemampuan berpikirnya untuk menjadi agen-agen perubahan dalam masyarakat. Mahasiswa bukan tentara yang bertugas melakukan perubahan dengan kekuatan fisik dan kekerasan. Mahasiswa bukan seorang prajurit yang memang sudah dilatih untuk “bertarung” di lapangan.

    Dahulu beberapa oknum Mahasiswa di negeri ini tidak ada lelahnya membuat onar di tempat umum. Mulai dari bakar-bakar ban, blokir jalan hingga bentrok sehari-hari sudah menjadi berita yang biasa kita dapatkan hampir setiap bulannya. Namun sekarang sudah mulai berkurang mahasiswa melakukan demo hanya dengan berdiri di jalan jalan ataupun di gedung-gedung yang menjadi targetnya. Mahasiswa bebas mengeluarkan aspirasinya. Tanpa ada sesuatu yang dapat merugikan orang lain.

    Dalam konteks pergerakan politik di Indonesia, sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia sudah eksis sejak sebelum kemerdekaan. Bahkan, dapat dikatakan mereka adalah pelopor pergerakan kemerdekaan secara modern melalui organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa. Dalam perspektif sosial, mahasiswa pun menunjukkan dinamika tersendiri sebagai kelompok yang secara konsisten memperjuangkan hak-hak kaum tertindas serta memberi kontribusi yang tidak kecil dalam rekayasa perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih baik. Posisi mahasiswa yang netral (Neutral position) dan tidak mempunyai kepentingan tertentu atau dibawah kepentingan telah menempatkannya pada posisi yang sangat disegani dan dihormati dalam setiap proses perubahan sosial masyarakat.

    Peran mahasiswa sejauh ini senantiasa diwarnai oleh situasi politik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Mereka biasanya memerankan diri sebagai yang kritis sekaligus konstruktif terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan politik, ekonomi. Mereka sangat tidak toleran dengan penyimpangan apapun bentuknya dan nurani mereka yang masih relatif bersih dengan sangat mudah tersentuh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi namun ternyata itu terjadi atau dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu dalam masyarakat dan pemerintah.

    Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan Pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peran itu. Jika gagal akan berdampak negatif pada masyarakat yang di pimpinnya; demikian pula sebaliknya. Dalam perubahan sosial yang dasyat saat ini, mahasiswa sering dihadapkan pada kenyataan yang membingungkan dan dilematis. Suatu pilihan yang teramat sulit harus ditentukan, apakah ia terjun dalam arus perubahan sekaligus mencoba mengarahkan dan mengendalikan arah perubahan itu; ataukah sekedar menjadi pengamat dan penonton dari perubahan atau mungkin justru menjdi korban obyek sasaran dari perubahan yang dikendalikan oleh orang lain .

    Melihat realitas dan tantangan diatas,mahasiswa memiliki posisi yang sangat berat namun sangat strategis dan sangat menentukan .Bukan zamannya lagi untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi;tetapi harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut adalah benar-benar masyarkat yang adil dan makmur.
    Di kampus pun mahasiswa sudah dibekali dengan ilmu-ilmu yang mana berhubungan dengan kemasyarakatan. Banyak organisasi mahasiswa yang melakukan kegiatan positif di lingkungan dibandingkan dengan harus melakukan kegiatan yang merugikan orang lain. Secara definitif mahasiswa memperoleh predikat yang istimewa dimata masyarakat karena dalam keistimewaan tersebut terdapat suatu harapan yang nantinya mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik dan mampu mengisi lapisan pemimpin. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Mohtar Mas’oed, secara fungsi, mahasiswa mempunyai dua peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, mahasiswa sebagai manager dan kedua mahasiswa sebagai pencetus gagasan. Peran yang pertama lebih berorientasi pada tindakan, yaitu lebih menekankan masalah “how to get things done” sehingga peran ini lebih memerlukan bekal keilmuan yang menunjang penyelesaian masalah dalam suatu bidang ilmu-ilmu managemen yang bersifat teknokrasi. Dan peran kedua lebih berorientasi pada kegiatan pemikiran, yaitu lebih pada kerja “asah otak” untuk melahirkan kemungkinan alternatif sehingga dalam prakteknya peran ini lebih memerlukan bekal keilmuan yang mengutamakan kontemplasi.
    Walaupun kedua fungsi itu umumnya ditemukan pada pribadi yang berbeda, namun kadang keduanya juga dapat ditemui pada satu pribadi. Peran-peran tersebut memerlukan satu syarat utama, yaitu belajar bermasyarakat, terutama belajar memimpin masyarakat. Belajar menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan secara bersama pada dasarnya adalah belajar berpolitik.
    Dengan demikian, tujuan mahasiswa adalah untuk memahami fenomena-fenomena yang terdapat dalam suatu tatanan yang disebut masyarakat baik dari segi politik, ekonomi, sosial, dll. Untuk mencapai tujuan tersebut maka interaksi yang inten sangatlah diperlukan guna menghindari hal-hal yang bersifat miskomunikasi.

    Nama : VITRIA KUSUMANING AYU
    Nim : 153090141
    Jurusan : Ilmu Komunikasi

  15. Konflik pada hakikatnya adalah segala sesuatu interaksi pertentangan antara dua pihak dan lebih didalam suatu kelompok masyarakat atau pun organisasi masyarakat, konflik dapat terjadi karena ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota dalam kelompok tersebut yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi atau berebut sumber-sumber daya yang terbatas serta merebutkan sumber kehidupan maupun lapangan kerja, dimana masing-masing mempunyai perbedaan, status, tujuan, nilai atau persepsi masing-masing.

    Konflik merupakan peristiwa yang wajar di tengah kehidupan masyarakat majemuk, karena perbedaan nilai, persepsi, kebiasaan, dan kepentingan di antara berbagai kelompok masyarakat merupakan faktor potensial yang dapat menjadi pemicu. Kemungkinan berlangsungnya konflik akan semakin menguat jika perbedaan horisontal (nilai, ideologi, kebiasaan, dan sebagainya) tersebut dipertajam oleh perbedaan vertikal (kesenjangan ekonomi dan kekuasaan). Sebagai realitas sosial masyarakat, konflik mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Dalam dimensi positif, konfllik menjadi bagian penting untuk terwujudnya perubahan sosial yang lebih berarti menyelaikan perbedaan yang timbul, membangun dinamika, heroisme, militanisme, penguatan solidaritanisme baru, serta lompatan sejarah ke depan untuk integrasi yang lebih kokoh. Sedangkan dimensi negatif, konflik menimbulkan resiko bagi masyarakat dan bangsa, mengakibatkan kerawanan sosial dan politik serta memicu krisis atau kekacauan (chaos) dalam berbagai bentuknya seperti; disorientasi nilai, disharmonisasi sosial, disorganisasi, bahkan sampai kepada disintegrasi bangsa.

    Mahasiswa adalah kaum terpelajar, kaum intelektual, kaum yang penuh pertimbangan matang dan kemampuan berlogika yang tinggi. Mahasiswa bukan tentara atau prajurit yang mengutamakan kemampuan ototnya. Mahasiswa adalah kaum yang mengutamakan kehebatan otaknya dan kemampuan berpikirnya untuk menjadi agen-agen perubahan dalam masyarakat. Mahasiswa bukan tentara yang bertugas melakukan perubahan dengan kekuatan fisik dan kekerasan. Mahasiswa bukan seorang prajurit yang memang sudah dilatih untuk “bertarung” di lapangan.

    Peran mahasiswa sejauh ini senantiasa diwarnai oleh situasi politik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Mereka biasanya memerankan diri sebagai yang kritis sekaligus konstruktif terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan politik, ekonomi. Mereka sangat tidak toleran dengan penyimpangan apapun bentuknya dan nurani mereka yang masih relatif bersih dengan sangat mudah tersentuh sesuatu yang seharusnya tidak terjadi namun ternyata itu terjadi atau dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu dalam masyarakat dan pemerintah.

    Mahasiswa sebagai calon pemimpin dan Pembina pada masa depan ditantang untuk memperlihatkan kemampuan untuk memerankan peran itu. Jika gagal akan berdampak negatif pada masyarakat yang di pimpinnya; demikian pula sebaliknya. Dalam perubahan sosial yang dasyat saat ini, mahasiswa sering dihadapkan pada kenyataan yang membingungkan dan dilematis. Suatu pilihan yang teramat sulit harus ditentukan, apakah ia terjun dalam arus perubahan sekaligus mencoba mengarahkan dan mengendalikan arah perubahan itu; ataukah sekedar menjadi pengamat dan penonton dari perubahan atau mungkin justru menjdi korban obyek sasaran dari perubahan yang dikendalikan oleh orang lain .

    Melihat realitas dan tantangan diatas,mahasiswa memiliki posisi yang sangat berat namun sangat strategis dan sangat menentukan .Bukan zamannya lagi untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi;tetapi harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut adalah benar-benar masyarkat yang adil dan makmur.
    Dalam Pengelolaan konflik yakni dengan Pendekatan Win-win solution prinsip-prinsip pendekatan sama-sama menang atau saling menguntungkan serta saling memuaskan, dimana kedua belah pihak menang dalam keberpihakan atas proses penegakan keadilan dan kebenaran, tetapi kalau masih belum tercapai dapat di tempuh upaya kompromi.

    Dengan demikian Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus dapat menuntun masyarakat untuk dapat hidup secara tertib dan sejahtera.

    hadirwong.blogspot.com/…/konflik-yang-terjadi-di-masyarakat.html
    http://www.tribun-timur.com/read/artikel/129503/sitemap.html

    Nama : ADEAN TRIYANSYAH
    Nim : 153090119
    Jurusan : Ilmu Komunikasi

  16. Peranan Mahasiswa dalam mengeliminasi/ menghilangkan perilaku kekerasan/ destruktif pada kejadian konflik di lingkungan masyarakat maupun pada saat terjadinya unjuk rasa, Mahasiswa merupakan agent penggerak negara, tanpanya tak kan ada yang dikritisi dan dibenahi. Akan tetapi, dengan cara unjuk rasa sekalipun kita tetap pada cara yang benar. Tidak dengan cara distruktif ataupun merusak alat bangsa. Bisa kita lihat sekarang ini bahwa Fakta menunjukkan konflik berbasis kekerasan di Indonesia bisa menjadi bencana kemanusiaan yang mampu mengorbankan banyak nyawa, cenderung berkembang dan meluas, baik dari segi isu maupun para pihaknya. Hal ini yang menjadikan proses penanganan konflik membutuhkan waktu yang lama dengan kerugian sosial, ekonomi dan politik yang luar biasa. Tercatat selama kurun waktu Oktober 1998 hingga September 2001 saja, ada 18.910 orang bangsa Indonesia meninggal dunia akibat konflik unjuk rasa.
    Ada dua aspek penting dan krusial yang perlu dikembangkan baik oleh mahasiswa jika ingin mengambil jalan unjuk rasa dalam aspirasi rakyat maupun dengan mengemilinasi kekerasan dalam lingkungan masyarakat, Pertama adalah aspek kapasitas untuk menangani konflik yang meliputi ketrampilan dan pengetahuan yang kuat untuk penyelesaian konflik sekaligus pencegahan konflik. Jika ingin melakukan unjuk rasa, perwakilan dari mahasiswa mengirimkan surat pada kepolisian kota yang memberitahukan adanya unjuk rasa beserta tempat dan waktu secara jelas. Polisi akan mengamankan jalannya unjuk rasa tanpa adanya tindakan distruktif dari pengunjuk rasa/ mahasiswa dan para kaki tangan negara. Kedua adalah kesadaran kritis mahasiswa untuk menyelesaikan konflik maupun melakukan pencegahan konflik. Dengan memulai pada diri sendiri dan menjadi penengah ketika ada mulai ketegangan yang terjadi serta mampu menjadi pendamai dan tidak mudah terpengaruh atau terprofokasi dengan pihak-pihak yang terkait.
    Keberadaan Fasilitator perdamaian pada komunitas masyarakat, yang mempunyai pengetahuan, pemahaman dan kemampuan aksi untuk melakukan kerja-kerja membangun perdamaian dapat dianggap sebagai salah satu kunci penting solusi dalam pencegahan konflik maupun penyelesaian konflik.

    Nama : Fitriana S
    NIM : 153090169
    Jurusan : Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta

  17. Peranan Mahasiswa dalam mengeliminasi/ menghilangkan perilaku kekerasan/ destruktif pada kejadian konflik di lingkungan masyarakat maupun pada saat terjadinya unjuk rasa, Mahasiswa merupakan agent penggerak negara, tanpanya tak kan ada yang dikritisi dan dibenahi. Akan tetapi, dengan cara unjuk rasa sekalipun kita tetap pada cara yang benar. Tidak dengan cara distruktif ataupun merusak alat bangsa. Bisa kita lihat sekarang ini bahwa Fakta menunjukkan konflik berbasis kekerasan di Indonesia bisa menjadi bencana kemanusiaan yang mampu mengorbankan banyak nyawa, cenderung berkembang dan meluas, baik dari segi isu maupun para pihaknya. Hal ini yang menjadikan proses penanganan konflik membutuhkan waktu yang lama dengan kerugian sosial, ekonomi dan politik yang luar biasa. Tercatat selama kurun waktu Oktober 1998 hingga September 2001 saja, ada 18.910 orang bangsa Indonesia meninggal dunia akibat konflik unjuk rasa.
    Ada dua aspek penting dan krusial yang perlu dikembangkan baik oleh mahasiswa jika ingin mengambil jalan unjuk rasa dalam aspirasi rakyat maupun dengan mengemilinasi kekerasan dalam lingkungan masyarakat, Pertama adalah aspek kapasitas untuk menangani konflik yang meliputi ketrampilan dan pengetahuan yang kuat untuk penyelesaian konflik sekaligus pencegahan konflik. Jika ingin melakukan unjuk rasa, perwakilan dari mahasiswa mengirimkan surat pada kepolisian kota yang memberitahukan adanya unjuk rasa beserta tempat dan waktu secara jelas. Polisi akan mengamankan jalannya unjuk rasa tanpa adanya tindakan distruktif dari pengunjuk rasa/ mahasiswa dan para kaki tangan negara. Kedua adalah kesadaran kritis mahasiswa untuk menyelesaikan konflik maupun melakukan pencegahan konflik. Dengan memulai pada diri sendiri dan menjadi penengah ketika ada mulai ketegangan yang terjadi serta mampu menjadi pendamai dan tidak mudah terpengaruh atau terprofokasi dengan pihak-pihak yang terkait.
    Keberadaan Fasilitator perdamaian pada komunitas masyarakat, yang mempunyai pengetahuan, pemahaman dan kemampuan aksi untuk melakukan kerja-kerja membangun perdamaian dapat dianggap sebagai salah satu kunci penting solusi dalam pencegahan konflik maupun penyelesaian konflik.

    Nama : Fitriana S
    NIM : 153090169

  18. Peran Mahasiswa Dalam Menanggapi Kejadian-Kejadian Tsunami, Banjir, Gunung Meletus, Gempa atau Sejenisnya Yang Kerap Terjadi di Negara Indonesia

    Secara etimologis, bencana adalah gangguan, goodaan, tipuan atau sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan kesusakan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya. Kata bencana selalu identik dengan sesuatu dan stuasi negatif yang dalam bahasa Inggris sepadan dengan kata disater. Disaster berasal dari Bahasa Yunani, disatro, dis berarti jelek dan astro yang berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi.Pengertian bencana atau disaster menurt Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan). Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana.Secara geologis umumnya bencana dapat terjadi kapanpun juga, dan kita tidak bias memprediksi dari suatu bencana. Bencana dapat terjadi saat pagi,siang maupun malam hari. Sehingga membuat kita tidak siap untuk menanggapinya, karna sudah terjadinya suatu kepanikan dan musibah ini terjadi pada siapa saja tidak mengenal kaya maupun miskin. Musibah ini sudah sering sekali terjadi di negra kita yaitu Indonesia.Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU 24/2007)
    Suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.(ISDR, 2004)
    Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempabumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor
    Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror. Bahaya yang dapat di timbulkan suatu kondisi, secara alamiah maupun karena ulah manusia, yang berpotensi menimbulkan kerusakan atau kerugian dan kehilangan jiwa manusia. Bahaya berpotensi menimbulkan bencana, tetapi tidak semua bahaya selalu menjadi bencana.
    Tsunami adalah kata berbahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (tsu artinya lautan, nami berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi. Gempa yang terjadi di Aceh dan Sumut mencapai 9,3 skala Richter. Jadi, tsunami memang identik dengan gempa yang terjadi di dasar laut, bukan di daratan. Gelombang ombak yang ditimbulkan memiliki kecepatan 600 mil per jam (hampir 1.000 km per jam) atau sama dengan kecepatan rata-rata pesawat udara. Tinggi gelombang bisa mencapai 6 sampai 14 meter untuk ukuran rata-rata, tapi bisa juga mencapai 30 eter. Gelombang tsunami bisa menghantam daratan selama 5 sampai 30 menit.
    Bahaya banjir adalah bencana yang yang saat ini merupakan masalah yang sangat sulit ditanggulangi. Banjir tidak memandang daerah baik sawah, ladang, tambak maupun perkotaan. Bencana banjir tidak dapat kita hindari tetapi dapat mengurangi dampaknya terutama di daerah perkotaan seperti ibukota jakarta.
    Gunung meletus merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi. Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu lava yang dikeluarkan bisa mencapai 700-1.200 °C. Letusan gunung berapi yang membawa batu dan abu dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa membanjiri sampai sejauh radius 90 km.
    Gempa adalah bencana alam paling misterius, tak pernah memberi tahu kapan datangnya. Kalau gunung api meletus, ada tandanya, sehingga penduduk di lereng gunung itu bisa siap siaga.
    Gempa adalah bencana alam paling misterius, tak pernah memberi tahu kapan datangnya. Kalau gunung api meletus, ada tandanya, sehingga penduduk di lereng gunung itu bisa siap siaga. Begitu pula angin ribut, masih memberikan sinyal kapan terjadi, karena manusia bisa meramalkan datangnya. Apalagi banjir, sesungguhnya bisa diprediksi dengan melihat curah hujan di hulu, mengukur ketinggian air di bendungan, dan sebagainya. Kalau bencana-bencana itu masih juga meminta korban berjumlah besar, di dalamnya ada andil kesalahan atau kekurangcermatan manusia.
    Peran generasi muda atau pemuda dalam konteks perjuangan dan pembangunan dalam kancah sejarah kebangsaan Indonesia sangatlah dominan dan memegang peranan sentral, baik perjuangan yang dilakukan secara fisik maupun diplomasi, perjuangan melalui organisasi sosial dan politik serta melalui kegiatan-kegiatan intelektual. Masa revolusi fisik dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah ladang bagi tumbuh suburnya heroisme pemuda atau generasi muda yang melahirkan semangat patriotisme dan nasionalisme. Pemuda atau generasi muda yang hidup dalam nuansa dan suasana pergolakan kemerdekaan dan perjuangan akan cenderung memiliki kreativitas tinggi dan keunggulan untuk melakukan perubahan atas berbagai kerumitan dan masalah yang dihadapi, akan tetapi bagi para pemuda atau generasi muda yang hidup dalam nuansa nyaman, aman dan tentram seperti kondisi sekarang, cenderung apatis, tidak banyak berbuat dan hanya berusaha mempertahankan situasi yang ada tanpa usaha dan kerja keras melakukan perubahan yang lebih baik dan produktif atau bahkan cenderung tidak kreatif sama sekali. Generasi muda memiliki posisi yang penting dan strategis karena menjadi poros bagi punah atau tidaknya sebuah negara, Benjamine Fine dalam bukunya 1.000.000 Deliquents, mengatakan “a generation who will one day become our national leader”. Generasi muda adalah pelurus dan pewaris bangsa dan negara ini, baik buruknya bangsa kedepan tergantung kepada bagaimana generasi mudanya, apakah generasi mudanya memiliki kepribadian yang kokoh, memiliki semangat nasionalisme dan karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya (nation and character), apakah generasi mudanya memilki dan menguasai pengetahuan dan tekhnologi untuk bersaing dengan bangsa lain dalam tataran global dan tergantung pula kepada apakah generasi mudanya berfikir positif untuk berkreasi yang akan melahirkan karya – karya nyata yang monumental dan membawa pengaruh dan perubahan yang besar bagi kemajuan bangsa dan negaranya.
    Karna di Indonesia banyak sekali bencana alam yang terjadi apalagi dalam satu tahun terakhir ini tahun 2010, sudah ada 3 kali bencana alam yang terjadi di Indonesia yaitu banjir di Quarsior, tsunami di Mentawai, dan yang terakhir gunung merapi di kota DIY. Dalam menangani dan mengatasi bencana seharusnya para mahasiswa langsung tergerak melakukan penggalangan dana untuk tanggap dalam bencana alam yang terjadi dan tak sedikit pula ikut langsung dalam membantu para korban untuk tanggap darurat. Hal ini dapat dijadikan contoh bagi Negara lain agar sifat rasa saling tolong menolong dan sifat sosial yang dimiliki sangat kuat yaitu rasa kemanusiaan. Karena saat sekarang Indonesia sedang berduka maka para pemuda khususnya para mahasiswa ikut dalam berpartisipasi dalam menangani bencana yang ada di negri kita yang kita cintai ini.
    Indonesia berduka para pemuda mampu membuktikan kalau mereka mampu ikut serta berpartisipasi dalam menangani bencana itu dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat dan melakukan misi-misi kemanusiaan.Bahkan kalau saya lihat dari pemberitaan yang ada sekarang peran pemuda dalam menangani bencana juga ternyata cukup banyak bahkan ada yang dengan sukrela ikut berangkat ke tempat terjadinya bencana hanya untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang berduka.Dan hal itu dilakukan dengan cuma-cuma tanpa mengharapkan imbalan apapun,mereka tergerak atas dasar rsa kemanusiaan.Dari sini saya rasa kita tidak bisa hanya melihat para pemuda dari sebelah mata karna pada kenyataannya banyak hal positif yang dilakukan oleh para pemuda di zaman sekarang.Hal ini juga menandakan bahwa para pemuda masih mempunyai rasa kemanusian dan persaudaraan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah.Bukan cuma anakhisme yang bisa mereka lakukan tapi juga hal positif yang bisa mereka lakukan demi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana.Sehingga tampak jelas bahwa para pemuda juga mempunyai peranan cukup penting dalam menangani bencana yang terjadi di sekitar kita saat ini.

    http://www.facebook.com/topic.php?uid=53167385317&topic=13789

    http://forum.upi.edu/v3/index.php?topic=13675.0

    http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:bKRHdgKqEkQJ:digilib.its.ac.id/public/ITS-NonDegree-8530-3106038703-CHAPTER1.pdf+banjir+adalah&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiuKs899SW-ddZZzk-ZVveKg9PfhgvQdmgzXGWVdsSbVSheIB-r1Ze-jzU_ZVFHYgtzUgzHry4mfuDLhP0XnkxRdkhuCEscm6Do3nRDH9MXlxluIEuxd2FsnWwj3ZZlwxocUl5x&sig=AHIEtbQL6yCFBCm7LHVZTOem02BvzLzxfA

    http://wapedia.mobi/id/Erupsi

    http://digg.com/news/lifestyle/Gempa_Adalah_Bencana_Alam_Paling_Misterius

    http://www.lintasberita.com/go/758670

    http://whandi.net/makalah-peran-serta-generasi-muda.html

    http://rifaifibika.blogspot.com/2010/11/peran-para-pemuda-dalam-menghadapi-dan.html

    Nama : Anugrah Humairah
    Nim : 08/271604/DPA/3031
    Prodi : D3 Rekam Medis

  19. Nama: Gong Matua
    No Mahasiswa: 10/305536/PA/13532
    Jurusan: Ilmu Komputer Dan Elektronika
    Prodi: Elektronika Dan Instrumentasi

    Peranan Mahasiswa dalam menghadapi/melawan maraknya kejahatan lintas negara yang merusak moral/mental generasi muda Indonesia, semacam pornografi, narkoba, penyalahgunaan internet, dan sejenisnya.

    A.Korektif dan Konfrontatif
    Setiap gerakan mahasiswa pasti berkaitan dengan kepentingan publik (public interest) yang dilandasi nilai-nilai utama (Values) : kemanusiaan, keadilan, kebebasan, kesetaraan, kesejahteraan, kerakyatan, solidaritas, baik untuk kalangan internal mahasiswa di level perguruan tinggi, kota/kabupaten/ provinsinya, nasional maupun internasional. Secara khusus dapat dikatakan kepentingan publik paling utama dalam demokrasi di Indonesia sekarang adalah penegakan HAM seperti lima hak dasar di atas, selain kejahatan HAM pada kasus besar Trisakti, Semanggi I dan II dan Munir, juga pelanggaran Hak ekonomi, sosial dan budaya di Kasus Lumpur Lapindo (perusahaan Aburizal Bakrie), dan pemberantasan korupsi di semua level, bahkan di perguruan tinggi selain kasus megaskandal Bank Century, Soeharto Inc, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Bila dikaitkan dengan upaya penegakan HAM dan pemberantasan korupsi, maka gerakan mahasiswa dapat dikategorikan bersifat koreksi terhadap kebijakan pemerintah (daerah maupun pusat) atau gerakan korektif. Mayoritas aktivitas gerakan mahasiswa bersifat korektif terhadap kebijakan pemerintah, dan umumnya dilakukan dalam ramuan kontekstual dilevel pemikiran, penciptaan opini, advokasi, lobby, dan demonstrasi.
    Identikkah gerakan mahasiswa dengan demonstrasi atau aksi massa? Tentu tidak, karena tidak setiap upaya untuk mengkoreksi kebijakan yang menguntungkan publik harus dilakukan dengan demonstrasi. Misalnya, kebijakan pemerintah dan juga DPR yang menghasilkan UU tentang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), tidak bisa dihadapi hanya demonstrasi, tanpa persiapan pengorganisasian pemikiran, opini, advokasi, lobby yang tangguh agar Mahkamah Konstitusi menganulir pasal-pasal yang merugikan hak sosial publik untuk mendapatkan akses pendidikan. Akan tetapi aksi massa tetap diperlukan agar publik dan media massa menyadari adanya opini berbeda dari pemerintah dan DPR soal kebijakan pendidikan nasional. Karena itu aksi massa atau demonstrasi menjadi sarana penciptaan opini publik seperti, “Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), berkumpul di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka berunjuk rasa terkait rencana memohonkan uji materi (judicial review) Undang-Undang No. 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) ke MK.”
    Selain gerakan korektif, gerakan mahasiswa juga berpotensi dan dapat bertransformasi menjadi gerakan konfrontatif terhadap pemerintah yang berkuasa. Contoh terbaik adalah gerakan mahasiswa 1966 melawan rezim Soekarno dan 1998 melawan rezim Soeharto-Orde Baru. Secara sederhana, dapat dikatakan apabila gerakan korektif mahasiswa yang mengkrtik dan mengajukan alternatif terhadap kebijakan tidak pernah direspon dengan baik oleh pemerintah, atau bahkan dihadapi dengan represif dengan kekerasan di jalanan, penangkapan, pemenjaraan, penculikan, maupun penembakan dan pembunuhan, maka secara perlahan gerakan mahasiswa korektif berubah menjadi gerakan mahasiswa konfrontatif. Kebebalan pemerintah yang menganggap kritik masyarakat yang bersifat korektif adalah penolakan total terhadap rezim yang berkuasa ataupun sosok presiden yang berkuasa misalnya, membuat gerakan mahasiswa secara perlahan mentransformasi diri sebagai antitesa kekuasaan sehingga pilihan konfrontasi tak terelakkan. Transformasi melawan rezim Soeharto berlangsung sejak gerakan konfrontatif 1974 (Malari), 1978 yang diakhiri dengan pencabutan hak sipil dan politik mahasiswa Indonesia melalui Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) dan membubarkan Dewan Mahasiswa. Gerakan konfrontatif tersebut berujung pada penggulingan Presiden Soeharto, pada 1966 gerakan konfrontatif itu menggulingkan Presiden Soekarno.
    B. Realita Yang Terjadi
    Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kenyataan tidak hanya menciptakan berbagai kemudahan dan kenikmatan dalam peri kehidupan manusia, namun juga melahirkan berbagai problematika seiring dengan perubahan sistem nilai dalam masyarakat. Salah satu masalah yang ditimbulkan adalah semakin menggejalanya kejahatan transnasional dalam berbagai ragam bentuk. Kejahatan transnasional adalah kejahatan lintas Negara yang kini menjadi salah satu keprihatinan utama dunia.
    Bentuk kejahatan tersebut adalah suatu Organized Crime atau kejahatan yang terorganisir. Kejahatan terorganisir transnasional merupakan ancaman terhadap Negara dan masyarakat yang dapat mengikis human security dan kewajiban dasar Negara untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Yang termasuk kejahatan transnasional tersebut adalah kejahatan pencucian uang (money laundring), kejahatan computer (computer crime), kejahatan kerah putih (white collar crime), penyelundupan imigran gelap, peredaran narkotika, kejahatan oleh badan hukum perseroan (coporate crime), terorisme internasional, kejahatan dunia maya (cyber crime), kejahatan penerbangan (aviation crime), dan juga pelanggaran terhadap hak kekayaan intelektual. Frekuensi, modus, wilayah, maupun kecanggihan dalam kejahatan transnasional pun cenderung semakin meningkat. Hal tersebut sangat ditunjang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang transportasi, telekomunikasi, dan komputer. Disamping organisasi dari kejahatan transnasional pun semakin rapi sehingga seringkali sulit untuk mengidentifikasi maupun membongkarnya.
    Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional, tidak luput dari kejahatan transnasional, bahkan menjadi sasaran dan target beroperasinya para pelaku dari kejahatan transnasional. Sebagai contoh: peristiwa pengeboman di Kuningan, pengeboman di Bali, dan pengeboman di Duta Besar Australia. Tidak hanya itu, kejahatan di bidang narkotika pun menjadi sorotan yang begitu mendalam di Indonesia.
    Di Bali dan daerah lain acap kali terjadi kejahatan transnasional di bidang narkotika, salah satunya adalah kasus “Bali Nine”. Dalam menghadapi maraknya kejahatan transnasional di bidang narkotika dan terorisme di era globalisasi tentulah membutuhkan strategi dan penanganan yang sistematis dan jitu. Disamping itu adanya kerjasama internasional merupakan suatu keharusan. Pendekatannya pun tidak dapat dilaksanakan secara sektoral, namun harus secara lintas sektoral dengan melibatkan segenap instansi terkait serta didukung peran serta masyarakat.
    C. Peranan Mahasiswa
    Terkadang mahasiswa memunculkan egoisme yang cenderung menjadi takabur. Kehadiran rasa takabur berkait dengan status yang disandang. Merasa berstatus ìmahasiswaî, tidak ada rasa takut sedikit pun dalam diri mereka. Padahal, entah berhadapan dengan polisi, dosen, pemerintah, mereka dianggap sebagai anak kecil yang tak perlu ditakuti.

    Kecenderungan itulah yang menyebabkan mahasiswa tak merasa perlu bertindak ’sopan’. Lebih ironis, jika mahasiswa merasa tak pernah salah, tetapi sering menyalahkan orang lain. Itulah yang saat ini telah menyebabkan mahasiswa sombong.

    Mahasiswa bukan pangkat. Mahasiswa hanya status, yang tak berbeda dari yang lain. Mereka tak memiliki kekuasaan ekonomi, politik, dan sosial. Namun kekuasaan mahasiswa seolah-olah melebihi kekuasaan pejabat di negeri ini. Segala yang merugikan publik akan menjadi sasaran empuk mahasiswa untuk menggunakan kekuasaan. Penolakan terhadap praktik korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, penggusuran, penolakan kenaikan bahan bakar minyak, pendidikan mahal sering jadi aktivitas rutin bagi mahasiswa.

    Itu sah-sah saja, selagi aksi tersebut benar-benar murni untuk kepentingan publik. Adalah ironis bila aksi itu berjalan berdasar kepentingan materi (uang) dan terkadang tanpa mengetahui pokok permasalahan. Padahal, dalam aksi tak jarang mahasiswa memaki-maki.
    Perubahan Sosial Salah satu jargon untuk melakukan aksi adalah agen perubahan sosial. Merasa pantas menyandang jargon itu, segala lini kehidupan yang berkait dengan kehidupan bermasyarakat tak pernah lepas dari kontrol mahasiswa. Problematika bangsa, dari politik, ekonomi, sosial, sampai agama adalah lahan perjuangan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

    Tak sedikit yang salah dalam perjuangan atas nama publik itu. Kesalahan yang sering mereka lakukan itulah, sampai detik ini belum mereka akui sehingga terus berulang. Andai mau mengakui, mereka tentu akan mengubah cara perjuangan menjadi lebih santun dan harmonis.

    Tengoklah ketika terjadi demonstrasi mahasiswa, sejumlah fasilitas publik tak jarang hancur dan ratusan orang kehilangan waktu gara-gara lalu lintas macet. Apakah perilaku itu dibenarkan bagi khalayak umum?

    Belum lagi yang terkadang ada pemblokadean jalan dengan membakar ban di tengah jalan. Siapa yang merugi? Masyarakat bukan? Apakah perilaku itu pantas disandang mahasiswa?

    M Abdullah Badri (Suara Merdeka, 25/9) menyatakan ada empat dosa yang tak disadari mahasiswa, yakni membaca, diskusi, menulis, dan sosialisasi. Keempat hal itu merupakan kebutuhan primer bagi mahasiswa yang tak bisa ditawar-tawar. Namun realitasnya, mahasiswa cenderung lebih banyak tidak melakukan keempat hal itu. Justru segala hal yang berkait dengan publik menjadi kebutuhan utama, mengalahkan kebutuhan diri sendiri.

    Penyebab utama kegagalan perjuangan mahasiswa adalah kurang mengutamakan kepentingan pribadi. Bukankah membaca, diskusi, menulis, dan sosialisasi adalah kewajiban yang tak bisa ditinggalkan mahasiswa? Jika mengamalkan kewajiban itu, mereka akan menyadari perjuangan selama ini sangat tak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

    Dari membaca, mereka akan tahu segala hal yang berkait dengan cara berjuang yang baik. Mereka akan mengerti dampak arus lalu lintas yang macet, kerusakan fasilitas publik, sehingga perlu perilaku santun dan harmonis kepada sesama.
    Merusak fasilitas publik jangan dijadikan alat pembenar untuk memberantas kejahatan. Bayangkan, pembangunan fasilitas publik dibiayai dengan uang rakyat.

    Dengan susah payah kita membayar ke pemerintah demi memperbaiki pembangunan, tetapi kita sendiri yang merusak dan menanggung akibatnya. Itu akibat ketidaktahuan mahasiswa tentang fungsi fasilitas dan pembangunan. Andai mereka tahu, perusakan barang publik tentu tidak bakal terjadi.

    Memang kebijakan yang tak prorakyat dan perilaku kejahatan pejabat terhadap negara harus dilawan. Namun bukan berarti cara kekerasan adalah jalan utama. Dalam dunia akademik, tentu perlu mengedepankan sopan santun dan etika sebagai wujud implementasi keilmuan yang dipelajari. Berperang melawan kejahatan tidak harus berwajah preman. Etika dan moralitas merupakan cermin pribadi generasi terdidik seperti mahasiswa. Jadi memerangi kejahatan tidak harus mengorbankan fasilitas publik.
    Bisa Apa? Setelah melepas status mahasiswa dengan gelar sarjana, problematika pun banyak bermunculan menghadang mereka. Dulu, ketika mahasiswa, mengubah nasib sosial adalah tujuan utama. Tak jarang mereka bentrok dengan polisi dalam setiap aksi sehingga upaya itu mencerminkan jiwa sosial yang benar-benar menghendaki perubahan kea rah lebih baik.

    Entah mengapa, setelah jadi sarjana, arah peran sosial mahasiswa justru tidak jelas. Menghadapi kondisi riil masyarakat, seperti kemiskinan, kebodohan, krisis moral, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Dalam menghadapi kondisi seperti itu, agen perubahan sosial harus tetap melekat dalam diri sarjana. Perjuangan harus berlanjut hingga problematika sosial benar-benar hilang.

    Sosok mahasiswa yang dulu dibangga-banggakan, ternyata tak bernyali di depan masyarakat sesungguhnya. Apa gunanya status itu jika setelah jadi sarjana tidak peduli lagi terhadap realitas sosial? Bahkan mengubah diri sendiri pun kesulitan.
    Karena itu, jangan hanya bangga dengan status mahasiswa. Peran serta dalam menyumbangkan ide dan tenaga dalam mengubah kondisi sosial pun seharusnya jadi kewajiban bagi mahasiswa. Jangan ikut-ikutan, tanpa mengetahui pokok permasalahan yang dihadapi. (51)

    Referensi:
    – syamsulbandung.wordpress.com/…/gerakan-mahasiswa-korektif/
    – salampessy.blog.friendster.com/
    -www.scribd.com/doc/29847721/Proposal-Kegiatan-Fix
    – suaramerdeka.com/v1/index.php/…/Mahasiswa-Kalian-Bisa-Apa

  20. Sekarang ini marak sekali pemberitaan mengenai kekerasan yang terjadi di lingkungan masyarakat, baik itu kakerasan dalam rumah tangga maupun di kalangan pelajar. Istilah kekerasan sendiri digunakan untuk menggambarkan suatu perilaku, baik terbuka, tertutup, menyerang maupun bertahan yang disertai penggunaan kekuatan terhadap orang lain. Kekerasan terbuka adalah kekerasan yang dapat dilihat, seperti perkelahian. Kekerasan tertutup adalah kekerasan yang tidak secara langsung, seperti mengancam. Kekerasan agresif adalah kekerasan yang dilakukan tidak untuk perlindungan, dilakukan untuk mendapatkan sesuatu. Kekerasan defensive adalah kekerasan yang dilakukan untuk perlindungan diri.
    Kekerasan dimungkinkan terjadi sebagai akibat adanya akumulasi “tekanan” secara mental, spiritual, politik sosial, budaya dan ekonomi yang dirasakan oleh sebagian masyarakat, atau kelompok sosial, dalam hal ini adalah sekelompok mahasiswa.Dari segi kebutuhan, kekerasan disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia – fisik, mental dan sosial yang tidak terpenuhi atau yang dihalangi oleh pihak lain. Sedangkan dari identitasnya, berasumsi bahwa kekerasan disebabkan oleh karena identitas yang terancam yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan dimasa lalu yang tidak terselesaikan.
    Sebagai tangan kiri pemerintah kini para mahasiswa berani untuk manyampaikan aspirasinya. Dan di dalam topik ini mahasiswa sangat mempunyai peranan untuk menghilangkan kekerasan di lingkungan masyarakat. Pada suatu pemahaman tertentu, mahasiswa sering dianggap sebagai sekumpulan orang atau sekelompok orang yang memiliki pemikiran intelektualitas yang bisa diandalkan. Didalam kehidupan bermasyarakat, mahasiswa menduduki suatu kelas tersendiri sebagai salah satu unsur penggerak suatu proses demokrasi.
    Mahasiswa sebagai kelompok middle class yang sering menasbihkan diri sebagi agent of change mengalami disorientasi pascareformasi. Mahasiswa gagal mengidentifikasi “musuh bersama” (common enemy). Sebagai contoh, Setelah Soeharto ditumbangkan, rezim kekuasaan dengan wajah garang dan represif praktis lenyap. Kebebasan berpendapat memungkinkan unsur-unsur masyarakat menyuarakan aspirasi.
    Amin Maalouf dalam In the Name of Identity menegaskan, bahwa dari sekian banyak identitas yang melekat pada diri kita, kita cenderung menggunakan identitas yang paling terancam eksistensinya. Penguasa otoritarian dan represif, membuat mahasiswa dalam identitas agent of change menyatu untuk melakukan perlawanan. Ketika kran demokratisasi terbuka, akhirnya mahasisa kembali ke barak-barak identitas primordial dan eksklusifitas kelompok.
    Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan suatu perilaku, baik terbuka, tertutup, menyerang maupun bertahan yang disertai penggunaan kekuatan terhadap orang lain. Teori kekerasan ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kekerasan muncul dari situasi kongkrit yang sebelumnya didahului oleh sharring gagasan, nilai, tujuan dan masalah bersama dalam kurun waktu yang lebih lama. Masalah bersama merupakan faktor yang paling penting dan bisa melibatkan perasaan akan bahaya. Oleh Ted Robert Gurr dikatakan bahwa individu yang memberontak sebelumnya harus memiliki latar belakang situasi, seperti rasa ketidakadilan, kemarahan moral dan kemudian memberikan respon terhadap sumber penyebab kemarahan tersebut.

    Suatu hal yang sangat menentukan keberhasilan gerakan kekerasan adalah efektivitas dalam menimbulkan ketakutan, baik terhadap obyek serangan secara langsung maupun tidak secara langsung. Tindakannya biasanya dilakukan dalam bentuk yang spesifik yang bisa dialami oleh segmen public yang sangat luas.Sifat serangan yang acak sering dalam kaitannya dengan waktu dan tempat dapat memperbesar ketakutan pada obyek sasaran kekerasan tersebut. Pada dasarnya efektifitas kekerasan terletak pada ketakutan public yang berhasil disampaikan melakui suatu aksi kekerasan tersebut.
    Kekerasan di kalangan mahasiswa antara lain dapat diatasi dengan cara :
    Kampus melakukan suatu pembinaan khusus, seperti pendidikan berbasis karakter dan pendidikan akhlak. Hal tersebut dimaksudkan supaya mahasiswa memiliki akal dan budi pekerti yang santun, yang mana akan dengan sendirinya mengurangi tindakan-tindakan yang tidak baik dikalangan mahasiswa.
    Kampus melakukan penanganan secara arif bijaksana terhadap peristiwa kekerasan yang terjadi dikampus, karena walau bagaimanapu, mahasiswa statusnya adalah anak-anak didik, peserta didik, masyarakat intelektual yang ingin maju dalam segala hal.
    Mahasiwa hendaknya belajar dengan baik, melakukan kegiatan yang positif. Intropeksi diri, untuk menjadi orang yang lebih baik. Karena mahasiswa adalah calon pemimpin, jangan sampai merugikan orang lain.
    Kampus harus melakukan suatu otokritik terhadap kehidupan dan birokrasi yang ada didalam kampus. Kampus diharapkan memberikan ruang kepada mahasiswa, sehingga mahasiswa tidak frustasi dalam mengekpresi dirinya dengan cara yang salah.
    Universitas juga dapat memberikan metode pembelajaran yang dapat dilakukan secara lisan ataupun tulisan yang dapat menunjukan nilai pentingnya suatu sikap yang baik dan sopan dalam berkehidupan bermasyarakat.
    Cara diatas dapat mengurangi dan mencegah mahasiswa dalam bertindak anarki, tentu sangat diharapkan mahasiswa dapat menciptakan sebuah kehidupan yang baik dan kehidupan yang dapat berdampingan dengan masyarakat lain di lingkungannya. Semua lapisan masyarakat tentu sangat mengidamkan kehidupan yang jauh baik dan penuh dengan rasa saling ketergantungan satu sama lain, seharusnya pemerintah negara kita ini (Indonesia) dapat menciptakan sumber daya manusia yang penuh dengan kreativitas dan intregitas tinggi, kesalahan pemerintah kita dapat kita lihat dalam membangun negara Indonesia ini.
    Pembangunan suatu negara bukan berdasarkan besi dan baja untuk menunjukan kekuatan dan kekayaan negara itu sendiri, akan tetapi dalam pembangunan negara seharusnya masyarakatnya terlebih dahulu yang dibangun untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki integritas dan kreativitas yang tinggi. Indonesia memiliki landasan negara yaitu pancasila dan UUD 1945, pada saat kita banyak melihat kehidupan masyarakat indonesia yang hidup dengan landasan yang jauh dari isi yang ada pada pancasila dan UUD 1945, hal ini disebabkan karena oknum-oknum pemerintah yang memberi contoh yang tidak baik, seperti tindakan anarki yang ditunjukan oleh anggota DPR Indonesia dalam sidang yang sedang berlangsung beberapa bulan yang lalu.

    NAMA : DEVI FAJAR SARI
    NIM : 153090203
    KELAS : G
    JURUSAN : ILMU KOMUNIKASI/FISIP
    UPN “VETERAN” YOGYAKARTA

  21. Nama : Fahmy Yusuf
    NIM : 153070047
    Jurusan : Ilmu Komunikasi

    Sepertinya mendengar kata mahasiswa, akan membuat dalam benak orang-orang kebanyakan memikirkan suatu sosok yang intelektual. Dalam arti seorang mahasiswa memiliki wawasan dan pemikiran yang luas, omongan yang bukan sekadar keluar begitu saja tanpa ada buktinya (objektif), juga dengan tindakan-tindakan yang tepat untuk membuktikan kata-katanya.
    Tapi sayangnya, dalam kenyataan saaat ini, terkadang pemikiran, kata-kata, juga tindakan dari mahasiswa itu sendiri begitu tidak mencerminkan esensi dari mahasiswa itu sendiri. Pemikiran yang dangkal ketika melihat suatu masalah, dan juga kadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak sepantasnya. Seperti contoh, beberapa waktu belakangan ini, sering terjadi bentrokan-tawuran antar mahasiswa yang sebenarnya dipicu oleh tindakan sepele namun karena saling menyimpan dendam tempo akhirnya bentrokan menjadi besar. Dan kalau sudah begitu, pastinya berakibat pengrusakan fasilitas-fasilitas yang menjadi “fasilitas” bentrokan juga.
    Di masalah yang lain, unjuk rasa oleh mahasiswa yang berujung tindakan anarkis, dan tindakan lainnya yang begitu disayangkan juga kerap kali terjadi. Bisa kita liat faktanya dari media yang memberitakan kejadian-kejadian itu, terlepas dari realitas yang sudah dibangun oleh media itu sendiri dalam meliput dan memberitakannya.
    Kita semua mengerti bahwa unjuk adalah sesuatu cara menyampaikan aspirasi, tetapi akan lebih baik lagi jika penyampaian aspirasi itu tidak dibarengi dengan tindakan-tindakan yang justru akan mengaburkan tujuan awal dari unjuk rasa tersebut. Apalagi sebagai mahasiswa, harusnya kita bisa memberikan tauladan yang baik kepada lingkungan sosial di manapun, kapanpun, dan bagaimanapun, fungsi dan peran mahasiswa harus tetap dikedepankan, antara lain :
     Sebagai iron stock, maksudnya mahasiswa harus bisa menjadi pengganti orang-orang hebat yang ada saat ini. Mahasiswa merupakan generasi penerus perjuangan kemerdekaan.
     Sebagai Agent of Change, mahasiswa dituntut untuk menjadi agen perubahan. Dalam arti bila terjadi sesuatu yang “fals” di lingkungan tempat ia berada, mahasiswa dituntut untuk merubahnya ke arah yang lebih baik
     Social Control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan juga kontrol individu, sehingga menutup celah-celah adanya kezaliman. Jadi, tidak hanya melulu dengan kegiatan akademis, atau dituntut kecerdasan akademis semata, tapi diharapkan bagaimana sebagai mahasiswa, juga pandai dalam bersosialisasi
     Moral Force, mahasiswa diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang ada. Bila di lingkungan sekitar terjadi hal-hal yang amoral, maka mahasiswa dituntut untuk merubahnya dan meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya.
    Berangkat dari beberapa peran dan fungsi itulah, maka sebagai mahasiswa setidaknya bisa titik tolak apa yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab secara tidak langsung oleh mahasiswa. Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa tidak menutup diri dan menganggap dirinyalah yang lebih pandai apalagi bila bertemu atau menghadapi orang-orang yang belum atau tidak pernah menjadi sarjana. Sangat tidak habis dipikir dengan logika pembenaran, bahwa kenyataan yang ada saat ini adalah, segelintir mahasiswa dalam aksi unjuk rasa kerap kali bertindak anarkis dan melakukan pengrusakan, juga mereka cenderung begitu eksklusif ketika berada di tengah-tengah masyarakat. Jadi apa yang mereka lakukan dengan begitu, sangat tidak sepadan dengan biaya yang sudah mereka keluarkan untuk mengenyam pendidikan yang luar biasa berharga. Sungguh ironis.
    Jika kita menilik ke belakang, ketika mahasiswa berada pada masa kejayaannya, bahkan sampai-sampai ada jargon suara mahasiswa,suara rakyat, mungkin mahasiswa-mahasiswa tempo doloe akan miris hatinya bila melihat keadaan dan kualitas mahasiswa pada saat ini yang begitu dimanjakan dengan teknologi dan diberikan seluas-luasnya ruang untuk berekspresi dan menuangkan segala bentuk aspirasi.
    Dengan fungsi dan peran tersebut, tentu saja tidak dapat dipungkiri bahwa tanggung jawab mahasiswa untuk mewujudkan suatu perubahan bagi kehidupan sosialnya juga kehidupan bangsanya begitu besar. Mahasiswa dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.
    Mahasiswa harusnya menjadi tauladan bagi masyarakat, dengan berbekal dari pengetahuannya, dengan jenjang pendidikannya, norma-norma yang berlaku di lingkungan tempat ia berada, dan juga pola berpikirnya, untuk meredam segala macam konflik juga pertikaian. Bukanlah suatu yang mustahil jika perbekalan yang dimiliki seorang mahasiswa itu dirasa cukup untuk bersama pihak yang terkait untuk bersama-sama membangun negeri yang dicintai ini. Walaupun, dalam kenyataan di lapangan saat ini sangat bertolak belakang, yang mana mahasiswa hanya terbatas dengan ilmu-ilmu teoritik tanpa adanya praktek langsung turun ke lapangan berdekatan dengan masyarakat.
    Hal itu yang kadang semakin bergeser dan mulai ditinggalkan oleh kebanyakan mahasiswa saat ini. Dari segi keharmonisan dengan masyarakat, mahasiswa cenderung membuat tembok pembatasnya sendiri dengan masyarakat di mana dia tinggal, jadi kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungan semakin sedikit, juga menjadi tidak saling mengenal satu sama lain. Ini yang harus sebisa mungkin dihindari mahasiswa, karena jika tidak, tanpa adanya konflikpun sebenarnya mahasiswa sudah membuat konflik sendiri. Dan ini berarti mahasiswa gagal untuk mengambil tongkat estafet kepemimpinan dan juga sebagai agen perubahan.
    Karena, seperti yang sudah dikatakan di atas, tidak hanya kecerdasan intelektual/teoritik saja yang dituntut oleh mahasiswa, tetapi juga soft skill. Di sini berarti, dalam hal memahami dan ikut bersosialisasi dengan lingkungan, bersensitivitas yang tinggi terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya, juga kemampuan memposisikan diri dalam saat bagaimanapun.
    Kalau itu sudah dibangun dan dijaga dari masing-masing mahasiswa yang ada, sangatlah mungkin jika keadaan yang akan menjadi kondusif dan mahasiswa siap secara jasmani dan rohani, secara fisik dan mental ketika sewaktu-waktu terpanggil sebagai wakil-wakil penyambung suara rakyat. Sesungguhnya di situlah panggung mahasiswa berunjuk rasa.

    Referensi :

    http://khairulalfikri.wordpress.com/2010/01/24/mahasiswa-agent-of-change-social-control-and-iron-stock/

    http://ubed-centre.blogspot.com/2007/05/gerakan-mahasiswa-memprihatinkan.html

  22. Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Sebagai contoh di Kalimantan Barat pada tahuan 1998 s/d 2000 pernah terjadi gelombang pengungsian besar – besaran akibat konflik sosial di daerah ini maka mahasiswa musti ikut memperhatikan masalah ini dengan memberikan bantuan baik secara moril maupun meteril serta pemikirannya serta ikut mencarikan solusi penanganan bencana kemanusiaan ini , Betapa peran sosial mahasiswa jauh dari pragmatisme ,dan rakyat dapat merasakan bahwa mahasiswa adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dari rakyat, walaupun upaya yang sistimatis untuk memisahkan mahasiswa dari rakyat telah dan dengan gencar dilakukan oleh pihak – pihak yang tidak ingin rakyat ini cerdas dan sadar akan problematika ummat yang terjadi.
    Sesibuk apapun mahasiswa, turun kejalan, turun ke rakyat dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah .
    Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komonitas yang lain ,peran ini menjadi symbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit,”nasi sudah jadi bubur maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi “ bubur ayam spesial “. Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit seta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah dunia dan akhirat.
    oleh sebab itu mahasiswa harus tau dimana posisi mereka di bangsa ini,mereka di pandang sebagai sekumpulan orang-orang terpelajar dan tau aturan suatu Negara.Masyarakat menilai mereka sebagai pengganti pemimpin bangsa-bangsa ini dan mereka harus sadar itu,kalau dari mahasiswa saja sudah selalu membuat ulah di Negaranya mau jadi apa mereka kelak.
    sumber: kammi.or.id
    NIM : 153090107
    Nama : Alfian Herjumas Saputra
    Ilmu komunikasi

  23. PERAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR BANDANG, TSUNAMI, GEMPA DAN GUNUNG MELETUS DI INDONESIA
    Oleh: ENDIAH SHINTA IRINA
    D3 REKAM MEDIS UGM
    NIM: 08/271594/DPA/3026

    Sebuah catatan kecil seorang relawan
    “(Sabtu, 30 oktober 2010). pagi itu kubuka jendela, beharap bertemu dengan sang mantari yang akan segera meninggi. namun harapan tinggal harapan di pagi ini. Pohon- pohon yang biasa hijau dengan tetesan embun di ujung daunnya, hari ini tak kudapati. Yang kudapati hanya biasan “monocrome” yang biasa kulihat pada layar kaca tempo dulu. Hanya warna hitam dan putih. Semakin penasaran ini berkecamuk, akhirnya kudapati sebuah jawaban bahwa gunung merapi di ujung utara kota ini, sedang ingin memperlihatkan “kuasanya”. Ia mengeluarkan debu vulkanik. Debu akibat Merapi.
    Beberapa stasiun televisi sudah kujelajahi untuk mencari informasi terkini tentang situasi kotaku yang sedang bergeliat ramai oleh opini. Dari layar kacalah aku dapati bahwa saudara- saudaraku yang yang berada di daerah pengungsian yang baru Kamis (28 oktober 2010) kemarin kudatangi , harus berpindah lokasi untuk mencari persinggahan baru yang dirasa lebih aman.
    Kulihat langit hari itu, terlihat bersahabat, dan akhirnya kuputuskan untuk naik kembali ke daerah Cangkringan untuk mengunjungi dan berharap bisa membantu mereka. Sebelum melakukan perjalanan kesana, tak lupa kusiapkan segala keperluan agar aku aman dan nyaman di sana. Kuhubungi pula beberapa rekan, berharap mereka akan memberi respon positif dan bisa menemaniku menuju pengungsian yang baru.
    Setelah mendapat restu sang ibu untuk menuju ke daerah yang ingin dituju, motorku melaju dengan pelan karena abu di luar rumah serta di jalan- jalan lebih pekat dari yang aku bayangkan. Aku juga berkeliling apotik untuk mendapatkan masker, namun akhirnya kutemukan di sebuah apotik yang sangat jauh dari rumahku, aku pun harus menunggu dalam ribuan detik disana.
    Bebepara inbox masuk ke dalam mobile phone.ku, jawaban dari rekan- rekan yang telah kuhubungi. Ternyata mereka mengurungkan niat untuk kembali menjadi relawan hari itu karena kondisi yag tidak memungkinkan, juga restu dari orang tua yang tidak mereka kantongi. Tidak apa, mereka punya hak atas alasan keselamatan, dan aku hanya bisa berucap “terima kasih”. Dan kulanjutkan perjalananku sampai di daerah Cangkringan, walau kecil namun berharap ini akan berarti.
    (Jumat, 5 November 2010). Keluargaku terbangun karena suara pintu yang diketuk keras. Tetanggaku mengabarkan bahwa saat itu terjadi hujan abu dan juga pasir yang membuatku sekeluarga terhenyak kaget. Pukul 01.00 dini hari kami merasakan hujan yang sangat lebat, hujan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya, hujan abu yang dibarengi dengan pasir yang kian menebal.
    Televisi pun menjadi incaran kami di rumah. Di luar bayangan, hujan malam itu ternyata lebih parah dari waktu lalu. Kulihat di televisi pun orang- orang dari pengungsian berduyun- duyun melarikan diri ke tempat yang lebih aman karena terjangan hujan pasir yang sangat lebat dibarengi dengan batuan yang berjatuhan. Tidak hanya itu, mereka berlari, juga untuk menghindari terjangan “wedhus gembel” yang sewaktu- waktu dengan cepatnya bisa melewati pemukiman mereka. Seketika juga kumantapkan hati dan berkata pada diri sendiri “apapun cuaca nanti, aku harus kembali”. Ya, kembali manjadi seorang relawan kecil yang mungkin hanya bisa memberi segepok senyum pembangkit energi. Dan perjalanan pagi itu pun kumulai dengan semangat, tekad dan juga niat, bahwa aku ada untuk mereka”
    —————————*——————————————–*————————————-
    Cerita di atas hanya salah satu cerita singkat dari seorang relawan yang memulai dengan sebuah semangat tinggi yang didasari oleh dari empati dan ingin berbagi. Namun jika kita mengulas tentang peran mahasiswa, peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21).
    Sedangkan mahasiswa itu sendiri didefinisikan dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Selanjutnya menurut Sarwono (1978) mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun.
    Dan jika kita juga mengulas tentang bencana alam. Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: “bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan”. Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.(wikipedia)
    Banyak sekali definisi yang bisa diuraikan dari beberapa teori di atas, namun yang harus kita soroti dalam tulisan ini adalah bagaimana seorang/ sekelompok mahasiswa mampu berperan dalam upaya penyelamatan maupun recovery/ perbaikan suatu tempat karena bencana?.
    Satu poin penting dan juga awal dari peran penerapan peran mahasiswa dalam membantu korban bencana alam adalah dengan merasa bahwa kita adalah bagian dari mereka. Rasa tersebut akan mampu menggerakkan hati dan juga fisik kita untuk membantu mereka yang sedang kekurangan dan butuh tampat tersendiri di hati untuk diperhatikan.
    Banyak cara yang mampu kita lakukan ketika bencana itu menghampir daerah kita, begitu juga ketika menghampiri negeri kita tercinta, indonesia. Bukan hanya bencana gunung meletus, banjir bandang, tsunami, tanah longor pun menjadi berita terbaru yang dipaparkan oleh pembuat berita untuk mengabarkan bahwa ibu pertiwi kita sedang menangis, mungkin juga karena ulah kita sendiri. Hal- yang bisa lita lakukan adalah dengan menjadi relawan maupun dengan cara mengumpulkan donasi. Menjadi relawan pun banyak bidangnya, ada yang bertugas di bagian logistik, pendampingan pengungsi, konsumsi, pengadaan tempat dan juga trauma healing atau penyembuhan trauma. Itu semua hanya sekelumit peran yang bisa kita berikan kepada mereka, semoga lewat hal- hal kecil seperti ini mampu memberkan perubahan yang besar.
    Sumber:
    – Wikipedia
    – Obenk blogs
    – Kafeilmu.com
    – Catatan harian pribadi penulis (Endiah Shinta Irina)

  24. Peran Mahasiswa dan Masyarakat

    Seperti yang kita ketahui mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ada ikatan dengan perguruan tinggi. Sehingga mahasiswa bisa dikatakan sebagai kaum academia (terdidik dan terpelajar). Sedangkan menurut Knopfemacher mahasiswa adalah calon-calon sarjana yang terlibat dalam perguruan tinggi, berpendidikan dan diharapkan menjadi kaum intelektual.
    Tidak semua orang dapat dikatakan sebagai mahasiswa. Hanya orang-orang yang memiliki kriteria diatas yang dapat dikatakan sebagai mahasiswa.
    Peran mahasiswa, seperti yang sudah dijabarkan diatas, sebagai kaum yang terdidik dan terpelajar, seharusnya ikut berpartisipasi dalam mengurangi konflik-konflik dalam masyarakat. Tetapi pada kenyataannya, mahasiswa sekarang banyak yang terlalu mengkritisi suatu kebijakan yang tidak sesuai dengan idealisme mereka namun, disatu sisi mereka tidak memberikan sebuah solusi yang baik untuk kebaikan lebih lanjut. Sudut pandang yang mereka lihat terkadang hanya satu sisi, sehingga ia hanya bisa melihat sebuah kebijakan dari satu sisi, tanpa melihat dari sisi lain yang berlawanan. Karena hanya melihat dari satu sudut pandang, sehingga apa yang tidak sejalan dengan mereka pasti akan dikritik habis-habisan. Sedangkan berdampak pada masyarakat yang tidak tahu apa-apa, sehingga masyarakat pada umumnya hanya menelan mentah-mentah apa yang utarakan oleh para mahasiswa.
    Dalam hal ini kita juga berpendapat tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekumpulan orang yang menempati wilayah tertentu, tercatat dan diakui oleh Negara. Dalam sebuah masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang, ras,dan adat, dll.
    Masyarakat bisa juga dikatakan sebagai sebuah komunitas, karena ia beranggotakan banyak orang. Karena terbentuk dari berbagai macam latar belakang, maka tak heran bila berbagai macam pendapat ada disana. Masyarakat pun terkadang memiliki sebuah idealisme yang tak sejalan dengan suatu kebijakan, khususnya kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Sehingga masyarakat terkadang melakukan aksi yang mereka suka, untuk menunjukkan rasa kurang sependapatnya. Contohnya mereka melakukan aksi demo guna mengkritik kebijakan pemerintah tentang kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu. Hanya melalui aksi demo yang bisa mereka lakukan.

    Dengan melihat dua kondisi diatas, lalu bagaimana kontrol atau penengah antara masyarakat dan pemerintah? Pada jaman sekarang ini susah untuk memberikan peran asli mahasiswa. Pada jaman masa soekarno, mahasiswa disebut sebagai tangan kiri pemerintah. Yang dimaksud dengan tangan kiri adalah sebagia penyeimbang., ketika suatu pemerintah mulai berbelok kearah yang kurang baik, kita sebagai mahasiswa wajib untuk meluruskan, melalui sebuah diplomasi dan negosiasi karena mahasiswa sebagai kaum yang terdidik dan terpelajar. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa. Bukan seperti sekarang ini, mahasiswa menggandeng masyarakat bersama-sama mengkritisi sebuah kebijakan yang hanya melihat dari satu sudut pandang.
    Harapan kedepan adalah, untuk para mahasiswa ayo tumbuhkan fungsi asli mahasiswa. Bukan hanya melihat dari satu sisi suatu masalah, tetapi dari berbagai sudut pandang. Dan mengutarakan dalam bentuk-bentuk diplomasi terlebih dahulu, karena kita adalah civitas academia, serta kita berperan sebagai penyeimbang pemerintah.

    Referensi :

    1.Clements, Kevin P, Teori pembangunan dari kiri ke kanan, cetakan 1, Yogyakarta : pustaka pelajar, 1997
    2.Burke, Peter. Sejarah dan teori sosial, edisi pertama, Jakarta : yayasan obor Indonesia, 2001
    3.id.wikipedia.org/wiki/masyaraka sosial Tembolok – Mirip

    Emma Ratna Fury
    153080090

  25. saya sebagai mahasiswa, kekerasan sebenarnya tidak perlu ditunjukkan untuk menunjukkan ketidak setujuan atas keputusan pemerintah atau ketidak setujuan atas sesuatu keputusan. namun saya lebih memikirkan terlebih dahulu tentang kebaikan atau keburukan atas keputusan yang telah dikeluarkan tersebut. bukan saya tidak peduli namun lebih baik saya pikirkan terlebih dahulu akibat dari apa yang akan diperbuat apabila hanya menimbulkan kekerasan yang bisa merugikan banyak orang bahkan negara kita sendiri yaitu negara INDONESIA. Menunjukkan atas ketidak setujuan keputusan tidak perlu dengan kekerasan melainkan dengan melakukan perundingan yang benar-benar membawa keputusan yang baik dan tidak ada yang merasa saling dirugikan. Negara ini negara demokrasi tapi bukan berarti kita bisa mengaspirasikan pendapat dengan seenaknya saja. bagi mahasiswa-mahasiswi UPN “VETERAN” YOGYAKARTA jangan pernah mudah termakan dan terhasut oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab..!!! buktikan kalau kita sebagai mahasiswa-mahasiwi UPN “VETERAN” YOGYAKARTA adalah mahasiswa-mahasiwi yang berkualitas tinggi..!!! BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG BISA MENGHARGAI PAHLAWANNYA itu kata Bpk. Presiden kita pertama..!!jadikan kata-kata Bpk. Presiden kita pertama itu sebagai penyemangat kita sebagai generasi muda untuk memajukan BANGSA INDONESIA TERCINTA SEBAGAI NEGARA YANG DISEGANI OLEH NEGARA-NEGARA LAIN…!!! NO ANARKI NO TAWURAN JUST GOOD PEOPLE..!!!

    By : KRISTANTO BAYU PRASETYO (153 080 058) UPN “VETERAN” YOGYAKARTA jur Ilmu Komunikasi Fak FISIP

Comments are closed.