Archives

All posts for the day May 25th, 2009

20 Universitas Top Asia 2009 versi Times Higher Education:

1. University of Hong kong
2. The Chinese University of Hong Kong
3. University of Tokyo, Japan
4. Hong Kong University of Science and Technology
5. Kyoto University Japan
6. Osaka University Japan
7. Kaist – Korea Advanced Institute of Science, Korea South
8. Seoul National University Korea, South
9. Tokyo Institute of Technology Japan
10. National University of Singapore (NUS) Singapore
11. Peking University China
12. NagoyaUniversity Japan
13. TohokuUniversity Japan
14. Nanyang Technological University (NTU) Singapore
15. Kyushu University Japan
16. Tsinghua University China
17. Pohang University of Science and Technol… Korea, South
18. CityUniversity of Hong Kong
19. University of Tsukuba, Japan
20. Hokkaido University Japan

UGM Menduduki Peringkat 63 Besar Asia

Lembaga pemeringkat universitas dunia, Times Higher Education (THES), mengumumkan, Universitas Indonesia (UI) menduduki peringkat ke-50 besar di Asia, sedangkan Universitas Gajah Mada (UGM) peringkat ke-63 Asia dan Institut Teknologi Bandung (ITB) peringkat ke-80 Asia. Posisi ini menempatkan UGM juara 2 diantara universitas-universitas dalam negeri, tetapi berada di bawah beberapa universitas negara Asia lain, seperti Keio University, Jepang (ke-19); University of the Philippines (ke-22); Osaka University (ke-24); dan Shanghai Jiao Tong University (ke-32). Sejumlah universitas lain yang peringkatnya dibawah UI, yaitu Pusan University, Korsel (ke-58); University of Delhi (ke-60); Tokyo University of Science (ke-67); dan Tokyo University of Agriculture and Tech (ke-93).

Saat ini tercatat ada 29 metodologi pemeringkatan universitas, tetapi hanya ada tiga pemeringkatan yang memiliki reputasi internasional, yaitu Times Higher Education (THES), Sanghai Jiao Tong University, dan Webometrics. Melalui pemeringkatan, setiap universitas akan memiliki panduan objektif untuk memetakan keunggulan dan kelemahan antar-PT di seluruh dunia. Hal ini dimungkinkan karena peningkatan prestasi setiap tahun hanya dapat dilakukan bila secara konsisten memenuhi kriteria-kriteria penilaian.

THES sendiri dalam melakukan evaluasi prestasi universitas di Asia menggunakan sembilan indikator, yaitu:

1. Mengukur kualitas penelitian (academic per review) lewat survei di kalangan akademik dengan pembobotan senilai 30 persen.

2. Kedua, rasio staf pengajar dan mahasiswanya (student faculty ratio) dengan bobot 20 persen.

3. Citations per paper, yaitu seberapa banyak penelitian universitas terkait dikutip (bobot 15 persen).

4. Employer review, sebuah survei untuk menguak informasi tentang kesiapan kerja lulusan (bobot 10 persen).

5. Papers per faculty (15persen).

6. Inbound exchange students (2,5 persen).

7. Outbound exchange students (2,5 persen).

8. International students (2,5 persen).

9. International faculty (2,5 persen).

Selain itu, juga terdapat lima bidang  akademik yang menjadi subjek penilaian, yaitu:

1. Arts dan humanities.

2. Engineering dan IT.

3. Life sciences dan biomedicine.

4. Natural sciences.

5. Social sciences.

Selamatlah untuk seluruh Civitas Academica Universitas Gadjah Mada, semoga sukses berlanjut.

Negara Maju Mulai Sukai Pengobatan Tradisional

Masyarakat negara maju dalam beberapa tahun terakhir lebih menyukai pengobatan tradisional yang menggunakan bahan dari tumbuh-tumbuhan, padahal sebelumnya mereka diketahui menggunakan obat bahan sintetik. “Indikasi menyukai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit kini semakin meluas ke berbagai negara di belahan dunia,” kata Prof dr I Gusti Ngurah Nala dari Program Studi Ayurweda Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Minggu. Ia mengatakan, kecenderungan masyarakat luas menggunakan obat-obat tradisional di berbagai negara itu lebih dikenal dengan sebutan “Gelombang hijau baru” (new green wave). Kondisi itu dipicu adanya efek sampingan dari obat sintetik dan antibiotika, di samping perkembangan pendapat umum, baik di negara barat maupun timur, bahwa pemanfaatan bahan yang bersifat alami lebih aman dari bahan yang mengandung zat kimia.

Prof Ngurah Nala yang juga gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu menilai, semakin meningkatnya kekhawatiran masyarakat dunia terhadap dampak negatif penggunaan obat-obat sintetik, mulai mencanangkan gerakan kembali ke alam (back to nature). Gerakan tersebut dimaksudkan untuk kembali menggunakan obat-obatan tradisional yang ramuannya dari bahan alami yang banyak terdapat di sekitar lingkungan tempat bermukim. Kondisi tersebut merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang untuk segera diantisipasi dengan cepat dan tepat. Para ilmuwan dituntut untuk mampu mengembangkan pengobatan tradisional yang lahir dari bakat kearifan para leluhur. Negara besar yang memiliki tradisi pengobatan tradisional sejak zaman dulu, selain Indonesia juga India, Cina, Korea dan Jepang.

Untuk itu Indonesia harus memanfaatkan momentum tersebut secara terencana untuk mengintensifkan usaha pengobatan tradisional. Guna mendukung upaya tersebut kini telah dibentuk Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) yang memiliki dua sub balai masing-masing berlokasi di Sumatera Barat dan Lampung. Selain itu ada 12 kebun percobaan berbagai jenis tanaman obat-obatan yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Maluku, tutur Prof Nala. Referensi

Indonesia Miliki 9.606 Spesies Tumbuhan Obat

Indonesia memiliki sekitar 9.606 spesies tumbuhan-tumbuhan yang mengandung khasiat tinggi untuk pengadaan obat-obatan alami, guna penyembuhan berbagai jenis penyakit yang bebas dari efek sampingan. “Hutan tropis yang dimiliki Indonesia sekitar 120 juta hektar, di kawasan itu tumbuh spesies yang diketahui dan dipercaya mempunyai khasiat obat, yang selama ini belum dimanfaatkan maksimal,” kata kata Prof dr I Gusti Ngurah Nala dari Program Studi Ayurweda Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Minggu. Ia mengatakan, cahaya sinar matahari yang tersedia sepanjang tahun disertai curah hujan yang mencukupi memungkinkan tumbuhnya beraneka jenis tanaman obat-obatan berkembang biak dengan baik. “Dari ribuan jenis tanaman obat-obatan yang ada hingga saat ini belum ada hasil penelitian secara pasti berapa persen diantaranya sudah dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Ngurah Nala yang juga gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Prof Nala menambahkan, Indonesia yang memiliki ribuan jenis tanaman obat itu menerima permintaan dari sejumlah negara akan tumbuhan obat dalam bentuk simplisia, yakni bahan tumbuhan alami dalam keadaan kering yang belum diolah.

Permintaan tersebut setiap tahun terus meningkat dan kondisi itu mendorong para investor yang bergerak di bidang farmasi, obat tradisional dan jamu menangkap peluang tersebut dengan mengembangkan dan memproduksi obat-obatan sintetis, tanpa mengandung zat kimia dan efek sampingan. Semakin majunya iptek, menjadikan alternatif bentuk olahan simplisia yang beredar di pasaran semakin bervariasi, antara lain dalam bentuk serbuk, tablet, pil, kapsul cairan, salep dan krim. Demikian pula produk olahan Indonesia menembus pasaran ekspor antara lain Singapura, Malaysia, Hongkong, Korea, Jepang, Taiwan, India, Spanyol dan Jerman, tutur Prof Nala. Referensi

Wuah, ini khan klop banget. Ada kebutuhan, ada potensi, dan ada trend.  Semuanya khan tinggal kita sendiri mau menggarap besar-besaran apa nggak soal ini.

1. Bikin hutan tanaman obat besar-besaran. Untuk dalam negeri dan ekspor. Sehingga potensi meningkatkan devisa.

2. Tingkat keluarga digerakkan lagi secara masal penanaman tumbuhan obat-obatan di halaman rumah masing-masing. Untuk mengurangi pengeluaran anggaran kesehatan (belanja obat), menghemat pengeluaran rumah tangga, menaikkan pendapatan juga.

3. Meningkatkan penggunaan/konsumsi obat alternatif dari tanaman obat.

4. Mengurangi impor/penggunaan bahan-bahan obat sintetik.

5. Siapa tahu kita bisa jaya sebagai produsen obat tradisional terbesar di dunia. Toh sekarang jamannya back to nature!

Ayo kita mulai dari lingkungan rumah (tangga) kita masing-masing ….

Membaca judul saja, dari sebuah berita ataupun tulisan di website maupun di weblog harus hati-hati. Jangan gampang terjebak dengan judulnya saja. Kalau anda cuma melihat judul tanpa membaca isi tulisan/beritanya secara lengkap, anda bisa ketipu. Persepsi dan harapan, bahkan tanggapan anda bisa meleset!. Serta berpotensi menimbulkan konflik pemikiran ataupun ketidakpuasan akan sesuatu. Percaya? Seni jurnalisme masa kini lewat media teknologi informasi, termasuk yang masih dipraktikkan dalam media cetak, melahirkan teknik provokatif yang mujarab dalam menyampaikan pesan melalui judul berita/tulisan. Terkadang tidak peduli dengan efek samping yang mungkin timbul dari para pembacanya/pengunjung website-weblog. Lihatlah berikut ini:

Saya menulis sebuah tulisan di blog saya seperti ini Nah lu, Microsoft Office 2010 bocor habis-habisan di Internet dengan screenshot seperti ini:

judul yg menjebak 1a

dan ternyata ada yang baik hati “merelay” tulisan saya di LintasBerita, dengan screenshot seperti ini:

judul yg menjebak 1

Coba anda perhatikan. Judul tulisan saya di LintasBerita sudah berubah, atau tepatnya diubah. Jelas judul ini ada provokasinya, yaitu buruan download. Inilah yang menimbulkan permasalahan dengan tulisan saya, karena yang berkunjung ke blog saya, alhamdulillah ribuan karena tulisan ini, agaknya “menagih janji” link download-nya mana, caranya bagaimana, dan lain sebagainya. Padahal nyata-nyata dalam tulisan saya yang asli di blog ini, kalau dibaca dengan teliti, nggak pernah ada satu katapun yang menyatakan memberikan link/cara download-nya. Karena saya dan blog ini memang nggak diposisikan sebagai agen DL yang beginian, apalagi yang ilegal. Saya masih menjaga posisi sebagai Indonesia Banget alias WNI Nomor 1, yang mengutamakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam koridor konstitusi dan hukum. Jadi, jangan mudah ketipu judul ya.

Lainnya, lihatlah ini:

judul yg menjebak 2

Perhatikan berita dari Kompas ini, sepertinya kalau dibaca dari judulnya, tanpa lagi menelusuri isinya, pasti satu kesimpulan: Friendster dan Facebook haram. Tapi kalau baca beritanya secara lengkap, lihatlah:

Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur mengharamkan penggunaan jejaring sosial seperti “friendster” dan “facebook” yang berlebihan. Berlebihan itu antara lain jika penggunaannya menjurus pada perbuatan mesum, dan yang tidak bermanfaat,” kata Humas FMPP, Nabil Harun di Kediri Jawa Timur Jumat. Ia mengatakan, penggunaan forum jejaring sosial, seperti, “friendster”, “facebook”, maupun media komunikasi lainnya, seperti “audio call”, “video call”, SMS, 3G yang diperbolehkan adalah yang membawa manfaat, seperti dagang, “khitbah” (lamaran), jual-beli, maupun dakwah. Nabil mengatakan penggunaan jejaring tersebut sudah mengarah pada perilaku mesum, terlihat dari berbagai gambar dan tulisan yang terpampang. Nabil mengungkapkan, pengambilan kebijakan mengharamkan penggunaan “facebook” berlebihan itu didasarkan pada Kitab Suci dan Hadis, di antaranya kitab “Bariqah Mahmudiyyah” vol. IV hal. 7, Ihya “Ulumuddin” vol. III hal. 99, “I`anatut Thalibin” vol. III hal. 260, serta beberapa landasan kitab lainnya. “Dalam mengambil kebijakan, kami tidak main-main, karena kami juga berdasakan kitab dan Quran,” katanya. Ia juga menjelaskan pengambilan keputusan tersebut berbeda dengan pengambilan keputusan lembaga lainnya yang juga mengadakan “bahtsul masail” dan biasanya dilakukan dengan suara terbanyak.

Sementara keputusan forum tersebut dengan kata musyawarah mufakat. Jika memang tidak ada keputusan, akan dibahas di forum tertinggi,” katanya mengungkapkan. Dalam pengambilan keputusan tersebut, Nabil menjelaskan, forum selalu diawasi dengan perumus, yang dilanjutkan dilanjutkan dengan keputusan “musyahih” (untuk mensahkan). Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur XI di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo, Kota Kediri tersebut, diikuti sekitar 700 santri. Dalam forum tersebut dibahas sebanyak delapan hal, mulai dari jejaring sosial, pro kontra Ponari, dilema perempuan di masa “iddah” (menunggu setelah suami meninggal), dan beberapa bahan lainnya. Hadir dalam kegiatan tersebut, para perumus dan musyahih, di antaranya K.H. Atoillah S. Anwar dari Lirboyo, Kediri, K.H. Abdul Muid dari Robithoh Maahid Islamiyah (RMI), K.H. Sunandi dari Banyuwangi, serta beberapa kiai lainnya.

Jelas? Kalau melihat judulnya saja pasti tertipu total. Itulah gaya pemberitaan/tulisan media model sekarang. Harus hati-hati. Lihatlah soal Friendster dan Facebook itu. Kata-kata maha penting dan inti yang hilang (yang berlebihan”) tidak dimunculkan dalam judul. Padahal kata-kata inilah yang membuat pemahaman orang soal keputusan itu bisa berbeda makna, sepertinya ulama dan santri jadi bodoh banget dan serampangan mengharamkan dua situs itu. Kata-kata “yang berlebihan” itu kunci hukum juga dalam masalah ini. Maka, hati-hatilah membaca dan menelaah tulisan/berita entah lewat website, weblog maupun media cetak. Banyak yang serampangan, sehingga banyak pembaca/pengunjung yang karena keterbatasannya (nggak teliti) menanggapinya secara serampangan juga!

Jangan tertipu judul. Hal ini akan terus terulang, dan terulang terus, mirip dengan masalah Golput yang katanya (diberitakan) difatwakan haram oleh para Ulama. Namun saya nggak pernah menemukan adanya fatwa haram untuk Golput, setidaknya saya tidak pernah menemukan kalimat tertulis dalam fatwa yang menyatakan secara tegas Golput itu haram. Anda mengetahui? Agar nggak bias, informasikan dong …

eh, biar jelas, baca juga ya Facebook Haram? dan Facebook Bisa Haram, Bisa Tidak