//
you're reading...
anggaran, bLog, daya, e-goverment, eKsekutif, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAnajemen, money, pEndidikan, pOlitik, readiness, sumber daya, tEknologi iNformasi

Wuah, ada hotel dan plaza baru di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Asyik? Saya pikir nggak begitu asyik …. mengapa?

Wuah, ada hotel dan plaza baru di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Asyik? Saya pikir nggak begitu asyik …. mengapa ya? Baca dulu berita pembangunan plaza baru itu.

Satu lagi hotel bintang lima dan plaza akan dibangun di wilayah Kabupaten Sleman. Hotel dan plaza ini dibangun dengan dana dari PT Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam. Menurut Wakil Direktur perusahaan itu, hotel dan plasa ini akan dinamai Surya Hotel & Plaza, dan rencananya dibangun di atas tanah seluas sekitar 26 ha di Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman DIY. ”Surya Hotel & Plaza ini nantinya diharapkan dapat menyerap tenaga kerja, mendorong peningkatan kegiatan MICE, sebagai alternatif akomodasi bintang lima serta meningkatkan PDRB Kabupaten Sleman”. Surya Hotel & Plaza ini direncanakan sebagai hotel bintang lima dengan ketinggian (tidak tanggung-tanggung) 21 lantai yang meliputi 288 kamar dengan berbagai tipe, lobby lounge, coffee shop, bar dan restaurant, bussiness centre, meeting rooms, ballroom, banquet service, fitness centre, swimming pool, sauna dan Spa serta children playground. Investasi Surya Hotel & Plaza sebesar Rp 547 miliar. Nantinya, operasional hotel dan plaza ini diperkirakan akan menyerap sebanyak 1.210 tenaga kerja sehingga diharapkan akan dapat menumbuhkan lapangan kerja baru, dan sekaligus menekan angka pengangguran.

plaza

Menanggapi rencana pembangunan ini, Bupati Sleman meminta investor agar memenuhi kewajibannya, yaitu 70 persen karyawan harus berasal dari Sleman. Bupati berpesan dalam membangun bangunan yang tingginya mencapai 21 lantai ini perlu dipikirkan masalah perancangan antigempa. Bangunan itu juga perlu dilengkapi sistem pemadam kebakaran secara mandiri, karena sampai saat ini pemerintah Kabupaten Sleman belum dapat menyediakan mobil pemadam kebakaran dengan tangga yang menjangkau setinggi bangunan tersebut. ‘Selain itu perlu juga dipikirkan ketersediaan parkir untuk sepeda motor karena masyarakat Sleman masih banyak yang memakai alat transportasi ini. Bupati menambahkan bila bangunan akan dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata, selayaknyalah bangunan iatu dirancang dengan didasari filosofi dan arsitektur yang memiliki visi seni, dengan harapan nantinya bangunan ini menjadi salah satu bagian yang indah di Kabupaten Sleman. Bupati menyarankan agar investor mengadopsi bangunan Candi Prambanan untuk memperindah arsitektur bangunan Surya Hotel & Plaza.

Oh, begitu ya? Mengapa saya pikir nggak begitu asyik …. beginilah saudara:

a. Tentang jenis investasi yang masuk ke suatu daerah dan diterima/diijinkan pemda, seperti juga hotel dan plaza yang masuk ke Sleman ini. Ada yang patut dipertanyakan, betulkah hotel & plaza yang ada di DIY (khususnya yang ada di Kota Yogyakarta dan Sleman sebagai pusatnya, yang memang sentranya aktivitas DIY) sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan jasanya di daerah ini? Bagaimana tingkat occupansi-nya selama ini? Agaknya hotel berbintang dan plaza yang ada selama ini terlihat pencapaiannya belum sampai titik optimum. Nah, kalau sekarang muncul yang baru, apa betul bisa eksis dengan baik … kalaupun dapat eksis, kecenderungannya hanya menyerap tamu potensial hotel & plaza lain, artinya hanya “memindahkan” bukan menambah tamu/pengunjung …. kalau sudah begini hitung-hitungan penyerapan tenaga kerja patut dicermati, alih-alih menyerap tenaga kerja, jangan-jangan hanya “menambah” permasalahan tenaga kerja dari bisnis sejenis sebelumnya yang terpengaruh …… memang dengan masuknya investor perlu diapresiasi, cuma mengapa yang dipilih investasinya kok bidang jasa hotel/plaza semacam ini …. bukankah industri kreatif untuk DIY masih sangat terbuka ….

b. Mengapa investasi semacam ini ditanam disini? Investasi semacam ini kenapa banyak diarahkan di Kota Yogyakarta dan Sleman saja. Saya mengerti ini hitungan bisnis dan tingkat kelayakannya untuk mengejar profit. Padahal pebisnis, dan tentu saja pejabat pemda mestinya tidak melihat hal ini dari satu sisi saja, sisi lingkungan hidup dan penyebaran wilayah investasi harus diperhatikan. Lihatlah Sleman, berkali-kali pemda kaok-kaok bahwa sebagai daerah penyangga bagi wilayah selatannya (kota Yogya dan Bantul) lingkungan Sleman perlu “dijaga ketat” agar tidak mudah untuk merubah lahan subur yang ada menjadi bangunan atau investasi komersial lainnya. Tetapi nyatanya? 26 ha tanah akan disulap jadi hotel & plaza ….. Jadi mengapa nggak investasi di Bantul saja? Bukankah harga lahan lebih murah, potensi bisnis juga nggak kalah hebatnya, yang lebih penting “pengrusakan/pengurangan” terhadap lahan subur (lingkungan hidup) relatif lebih kecil daripada di Sleman …. juga perlu disebar dong pusat keramaian di DIY ini, jangan ada di Kota Yogyakarta dan Sleman saja …. rencana Tata Ruang dan Wilayah, klop nggak? ….. sehingga penyebaran kawasan pemukiman (yang biasanya mengikuti pusat keramaian) dan pusat perekonomian rakyat makin merata supaya kehidupan sosial/pembangunan makin di berkembang di berbagai wilayah di DIY ….

c. Kemudian yang saya lihat nggak begitu asyik ialah investasi hotel & plaza semacam ini, secara efek sosiologis dan psikologis tidak bisa melahirkan jiwa-jiwa dan perilaku produktif dari masyarakat, bahkan saya perkirakan hanya meningkatkan sifat konsumerisme belaka ……. saya bayangkan kalau investasi yang masuk industri kreatif atau padat karya, tentu akan mampu mengubah (lebih baik) perilaku dan sifat masyarakat ke arah yang cenderung produktif, kerja keras, semangat berusaha …. kalau hanya hotel & plaza, anda tentu tahu jenis tenaga kerja apa sih yang akan diserap? Memang kita nggak boleh menampik kenyataan saat ini bagi rakyat begitu sulit dalam berjuang untuk memperoleh pekerjaan, sehingga kalau tersedia “lapangan pekerjaan” itu bagus-bagus saja, mengurangi pengangguran … tetapi pemda mestinya harus punya kemampuan “menjual daerahnya” dan menarik investasi yang punya nilai positif sebanyak mungkin dalam semua bidang artinya harus punya daya tawar memilih investasi yang akan masuk. Hal ini untuk meminimalisir dampak ikutan investasi semacam ini …. Mestinya nggak serampangan menerima jenis investasi yang mau masuk …. perlu difahami, sekali salah menerima hal ini, efek sosiologis dan psikologinya panjang … sulit dinormalkan lagi!

Jadi, apa yang ditunggu, apa yang datang, klop nggak ya? Komentar anda …

About these ads

Discussion

15 thoughts on “Wuah, ada hotel dan plaza baru di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Asyik? Saya pikir nggak begitu asyik …. mengapa?

  1. tenaang sj kemarin dh denger segera di rilis dan baru tahap AMDAL segera di luncurkan proses perijinan jg sdh kelar…rncana pembangunan hotel ini memiliki 24 lt dan akan mnjadikan gedung pencakar langit tertinggi di DIY

    Posted by aanboy | October 17, 2012, 12:27 pm
  2. kayanya proyek mandeg dech, koq gak follow up nya sampai sekarang. udah gak usah diributin, itu paling cuma isu.

    Posted by Agus Prast | March 2, 2012, 8:30 pm
    • **** atau lagi dihitung-hitung ulang anggarannya? semoga ga cuma isu, apalagi terminal jombor khan lagi disiapkan vermakannya dan upgradingnya. eh, apa hubungannya ya? Deketan khan? Thanks.

      Posted by Mardoto | March 5, 2012, 3:56 pm
  3. heheh KU cuma saran gpp deh dibangun mall and plaza di yogya agar lebih ramai dan berkembang kotanya. DI kota solo malah udah ada apartemen hehhe

    Posted by aer@yah | September 25, 2011, 8:13 am
  4. 1. Kalau tidak salah tanah di pojokan Jombor itu sudah lama sekali menjadi milik GG, jelas bukan tanah pertanian produktif dan ada pada jalur guna lahan komersial Jogja-Semarang.
    2. Penyerapan tenaga yang terjadi sebenarnya ada 3 tahap, yaitu: tenaga kerja proyek untuk kira2 2-3 tahun, tenaga pengelola mal, hotel dan apt serta tenaga kerja akibat bisnis ikutan misalnya transportasi, pemasok hasil pertanian, pemasok kerajinan, pelaku pariwisata yang meningkat dsb.
    3. Tanah tersebut tidak layak diusahakan sebagai lahan pertanian karena harga (cost) dan penghasilan per m2 (yield) nya tidak sebanding.
    4. Perlu kearifan warga Jogja untuk menelaah dalam dahulu satu persatu permasalahan sebelum akhirnya membuat penilaian (judgement) akhir, dan dimulai dengan memperbaiki kampungnya lebih dulu, yang tidak memiliki perpustakaan, parkir umum dan taman, misalnya.
    Nuwun.

    Posted by Sarwono Hatmoko | June 13, 2010, 11:23 am
  5. Wah saya senagn sekali dengan tanggapan2 yang sudah ada…
    kebetulan saya tertarik dengan topik ini dan ada kemungkinan akan menjadi bahan skripsi saya…
    Hmmm…menurut saya pembangunan seperti ini da nilai plus dan minusnya..
    nilai plusnya, Slaman ternyata memiliki potensi investasi yang luar biasa besar dengan kepercayaan dari PT GG, dan nantinya akan ada pengurangan pengangguran dan peningkatan ekonomi.
    Namun sisi negatifnya dan hrus manjadi pertimbangan…
    1. Apakah nantinya tidak malanngar perda tentang tata ruang kabupaten sleman,hubungannya dengankawasan serapan karena pasti akan menimbulkan bangunan-bangunan baru di sekitarny dan juga navigasi?…(kalaupun Bupati sudah memberika ijin apakah ada hal2 yang tidak dilanggar…)
    2. Dengan katinggian bangunan yang mencapai 21 tingkat apakah, sudah diperhitungkan bangkitan lalu lintas dengan kegiatan yang terjadi?
    3. Dan apakah keuntungan yang bisa di nikmati warga sekitar dapat terbayar dengan ketidak nyamanan yang mereka dapatkan?
    Mungkin itu dulu..monggo buat yang mau menanggapi.tks

    Posted by asa | June 2, 2009, 9:35 am
  6. kalau ternyata sisi positif dari pembangunan hotel tersebut jauh lebih besar dari sisi negatif yang ditimbulkan, aku sih setuju aja.
    semoga membawa keberkahan yang untuk jangka panjang…

    Posted by samsul arifin | May 7, 2009, 5:11 pm
  7. Makasih atas ulasannya Mas, saya setuju aja wong saya juga cuman wong cilik je…. Siapa tahu dengan dibukanya Hotel GG (Pusat belanjanya dikecilin aja, wong sudah ada Indo Grosir kan…?) saya bisa masukin keluarga saya jadi pegawai di sana. Lha rumah saya kan hanya 50-an meter dari lokasi pagar seng tersebut…. (siapa tahu keluargaku terentas dari penganguran dan kemiskinan gitu lho Mas…). Nuwunn

    Posted by Bowo_Jogja | May 7, 2009, 11:38 am
  8. Untuk rekan-rekan yang menanggapi tulisan ini terima kasih. sepanjang masih dengan kata-kata “akademis”, tidak berbau SARA/Pornografi & tidak menyudutkan siapapun pasti akan saya muat. Ada tambahan dari saya:
    a. Persoalan perut & dapur warganegara memang masalah penting. Seorang pakar seperti Maslow juga melihat kebutuhan paling dasar seorang manusia harus tidak boleh diabaikan. Pertanyaannya, untuk memenuhi kebutuhan dasar ini (dan tentu menyediakan kesempatan/lapangan kerja) haruskah membuka semua kesempatan investasi sebebas-bebasnya tanpa melihat aspek lain? Toh, pejabat Sleman sudah berulangkali teriak-teriak soal besarnya prosentase penurunan lahan hijau/subur Sleman yang telah beralih fungsi, entah untuk perumahan atau hal lain. Bahkan aturan pembangunan rumah mengenai perbandingan antara lahan terbuka dan luas bangunan sudah banyak yang tidak terpenuhi. Jadi bagaimana? Saya yakin semua perusahaan yang mau investasi apa saja & dimana saja pasti “berusaha” memenuhi persyaratan yang ditentukan, bahkan dengan cara apapun. Hal ini biar aman secara formalitas.
    b. Kita selalu saja gagal melihat pengalaman di tempat/daerah lain sebagai referensi yg baik untuk penerapan di daerah sendiri. Plaza dan hotel, dua hal yang nggak selalu tepat untuk dibangun secara bersama-sama di suatu tempat. Kalau mau membangun hotel saja itu lebih bagus (lepas dari soal lahannya sudah layak atau belum). Ini menguntungkan kalau sejalan dengan Propinsi DIY yang mengarah ke bisnis MICE sebagai sumber pendapatan. Kalau plaza, apa memang dibutuhkan? Ketidakseimbangan antara tenaga kerja yang diserap (itupun pasti yang banyak pelayan toko/plaza) dengan efek sosial ekonominya, apa? Konsumerisme alias mengumbar sifat boros, mematikan pedagang pasar tradisonal, kehidupan sosial yang bergejolak terutama generasi muda …. apakah pemasok lokal dapat kemudahan memajang barang di plaza? Nggak bisa terlalu diharapkan …
    c. Kalau mengundang investor yang bukan jenis ini, tetapi industri kreatif atau industri lain yang berbasis pada kemampuan/ketrampilan SDM secara nyata tentu lebih “berharga diri” dan sekaligus dapat meningkatkan nilai tambah secara ekonomis, mengurangi pengangguran okelah … okelah, mari kita dukung Pemkab/Pemprop mencari mitra koalisi,eh, mitra investasi yang lebih tepat … biar ekonomi disini lebih berputar, tanpa efek samping yang “mengerikan” ….
    d. Waduh, kita nggak boleh “meremehkan” kaum akademisi, semua pembangunan itu pasti ada kaum intelektualnya yang bekerja … mungkin saja ada yg baik, mungkin juga ada yg buruk …. kalau pejabat pemda dari perguruan tinggi nggak masalah & umumnya begitu, lihat saja pemimpin daerah disini juga dari perguruan tinggi lho, Bupati Sleman saja sebelum menjabat juga mengabdi sebagai dosen …jadi nggak tepat kalau mereka dianggap NOL BESAR. Logikanya kalau nggak dari perguruan tinggi ya darimana lho? Cuma cukup SMA? Wah ngeri deh …
    Ok thanks, buat semuanya.

    Posted by mardoto | May 7, 2009, 11:25 am
  9. Wahai yg “hanya pinter dan suka Ngomong Doang”, tolong berikan masyarakat solusi nyata “pekerjaan sebagai sumber pendapatan” bukan hanya komentar-komentar yang “seolah-olah anda yg paling pinter & bener”. Seperti kalo kita nonton permainan sepak bola….Madonna saja sepertinya masih kalah dengan “penontonnya”…. Coba penonton disuruh yang main bola…. (banyak pejabat prop DIY dari Perguruan Tinggi tapi hasilnya NOL BESAR…. baru teori bung…?!)

    Posted by Bowo_Jogja | May 7, 2009, 10:05 am
  10. Saya kira PT Gudang Garam sudah melakukan berbagai Survey Kelayakan: baik dari aspek Amdal, Sosial Ekonomi, dll. Saya setuju segera dibangun untuk segera dapat menyerap tenaga kerja khususnya dari wilayah Sleman (70% atau 700-an naker tertampung). Sukses Pemkab Sleman….

    Posted by Bowo_Jogja | May 7, 2009, 10:00 am
  11. Pada sirik aja lu pade…. Emang Sleman punya banyak kelebihan potensinya dan PT GG tidak bodo lho mas, buktinya Perusahaannya berkembang kayak gitu. Kalo lu yg udah pada komentar…?! Paling masih pada jadi pengangguran ya….??!!

    Posted by Bowo_Jogja | May 7, 2009, 9:57 am
  12. wah mantap skali tu hotel & plasa,
    saya setuju skali dgan pemikiran anda, karna banyaknya penganguran skarang paling tidak bisa membantu pemerintahan untuk mengurangi jumlah penganguran, ,

    tapi kapan di bangunnya?
    kok ak dah dnger lama tentang pembangunan ini tp gak di bangun2 sampai skarang?

    Posted by ery wae 87 | May 7, 2009, 9:12 am
  13. adit, he he he, cara pandang anda sungguh tajam sekali … saya salut deh.

    Posted by mardoto | April 27, 2009, 9:43 pm
  14. hmmm… kalo menurut saya kok lain mas…
    kenapa terkesan “sedikit” dipaksakan?
    mumpung bupatinya masih menjabat… 1 tahun lagi selesai…
    belum kalo dimasukin sama KPK…
    buru cari uang saku lah…

    Posted by adit | April 26, 2009, 11:28 pm
April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

%d bloggers like this: