15 comments on “Wuah, ada hotel dan plaza baru di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Asyik? Saya pikir nggak begitu asyik …. mengapa?

  1. tenaang sj kemarin dh denger segera di rilis dan baru tahap AMDAL segera di luncurkan proses perijinan jg sdh kelar…rncana pembangunan hotel ini memiliki 24 lt dan akan mnjadikan gedung pencakar langit tertinggi di DIY

    • **** atau lagi dihitung-hitung ulang anggarannya? semoga ga cuma isu, apalagi terminal jombor khan lagi disiapkan vermakannya dan upgradingnya. eh, apa hubungannya ya? Deketan khan? Thanks.

  2. heheh KU cuma saran gpp deh dibangun mall and plaza di yogya agar lebih ramai dan berkembang kotanya. DI kota solo malah udah ada apartemen hehhe

  3. 1. Kalau tidak salah tanah di pojokan Jombor itu sudah lama sekali menjadi milik GG, jelas bukan tanah pertanian produktif dan ada pada jalur guna lahan komersial Jogja-Semarang.
    2. Penyerapan tenaga yang terjadi sebenarnya ada 3 tahap, yaitu: tenaga kerja proyek untuk kira2 2-3 tahun, tenaga pengelola mal, hotel dan apt serta tenaga kerja akibat bisnis ikutan misalnya transportasi, pemasok hasil pertanian, pemasok kerajinan, pelaku pariwisata yang meningkat dsb.
    3. Tanah tersebut tidak layak diusahakan sebagai lahan pertanian karena harga (cost) dan penghasilan per m2 (yield) nya tidak sebanding.
    4. Perlu kearifan warga Jogja untuk menelaah dalam dahulu satu persatu permasalahan sebelum akhirnya membuat penilaian (judgement) akhir, dan dimulai dengan memperbaiki kampungnya lebih dulu, yang tidak memiliki perpustakaan, parkir umum dan taman, misalnya.
    Nuwun.

  4. Wah saya senagn sekali dengan tanggapan2 yang sudah ada…
    kebetulan saya tertarik dengan topik ini dan ada kemungkinan akan menjadi bahan skripsi saya…
    Hmmm…menurut saya pembangunan seperti ini da nilai plus dan minusnya..
    nilai plusnya, Slaman ternyata memiliki potensi investasi yang luar biasa besar dengan kepercayaan dari PT GG, dan nantinya akan ada pengurangan pengangguran dan peningkatan ekonomi.
    Namun sisi negatifnya dan hrus manjadi pertimbangan…
    1. Apakah nantinya tidak malanngar perda tentang tata ruang kabupaten sleman,hubungannya dengankawasan serapan karena pasti akan menimbulkan bangunan-bangunan baru di sekitarny dan juga navigasi?…(kalaupun Bupati sudah memberika ijin apakah ada hal2 yang tidak dilanggar…)
    2. Dengan katinggian bangunan yang mencapai 21 tingkat apakah, sudah diperhitungkan bangkitan lalu lintas dengan kegiatan yang terjadi?
    3. Dan apakah keuntungan yang bisa di nikmati warga sekitar dapat terbayar dengan ketidak nyamanan yang mereka dapatkan?
    Mungkin itu dulu..monggo buat yang mau menanggapi.tks

  5. kalau ternyata sisi positif dari pembangunan hotel tersebut jauh lebih besar dari sisi negatif yang ditimbulkan, aku sih setuju aja.
    semoga membawa keberkahan yang untuk jangka panjang…

  6. Makasih atas ulasannya Mas, saya setuju aja wong saya juga cuman wong cilik je…. Siapa tahu dengan dibukanya Hotel GG (Pusat belanjanya dikecilin aja, wong sudah ada Indo Grosir kan…?) saya bisa masukin keluarga saya jadi pegawai di sana. Lha rumah saya kan hanya 50-an meter dari lokasi pagar seng tersebut…. (siapa tahu keluargaku terentas dari penganguran dan kemiskinan gitu lho Mas…). Nuwunn

  7. Untuk rekan-rekan yang menanggapi tulisan ini terima kasih. sepanjang masih dengan kata-kata “akademis”, tidak berbau SARA/Pornografi & tidak menyudutkan siapapun pasti akan saya muat. Ada tambahan dari saya:
    a. Persoalan perut & dapur warganegara memang masalah penting. Seorang pakar seperti Maslow juga melihat kebutuhan paling dasar seorang manusia harus tidak boleh diabaikan. Pertanyaannya, untuk memenuhi kebutuhan dasar ini (dan tentu menyediakan kesempatan/lapangan kerja) haruskah membuka semua kesempatan investasi sebebas-bebasnya tanpa melihat aspek lain? Toh, pejabat Sleman sudah berulangkali teriak-teriak soal besarnya prosentase penurunan lahan hijau/subur Sleman yang telah beralih fungsi, entah untuk perumahan atau hal lain. Bahkan aturan pembangunan rumah mengenai perbandingan antara lahan terbuka dan luas bangunan sudah banyak yang tidak terpenuhi. Jadi bagaimana? Saya yakin semua perusahaan yang mau investasi apa saja & dimana saja pasti “berusaha” memenuhi persyaratan yang ditentukan, bahkan dengan cara apapun. Hal ini biar aman secara formalitas.
    b. Kita selalu saja gagal melihat pengalaman di tempat/daerah lain sebagai referensi yg baik untuk penerapan di daerah sendiri. Plaza dan hotel, dua hal yang nggak selalu tepat untuk dibangun secara bersama-sama di suatu tempat. Kalau mau membangun hotel saja itu lebih bagus (lepas dari soal lahannya sudah layak atau belum). Ini menguntungkan kalau sejalan dengan Propinsi DIY yang mengarah ke bisnis MICE sebagai sumber pendapatan. Kalau plaza, apa memang dibutuhkan? Ketidakseimbangan antara tenaga kerja yang diserap (itupun pasti yang banyak pelayan toko/plaza) dengan efek sosial ekonominya, apa? Konsumerisme alias mengumbar sifat boros, mematikan pedagang pasar tradisonal, kehidupan sosial yang bergejolak terutama generasi muda …. apakah pemasok lokal dapat kemudahan memajang barang di plaza? Nggak bisa terlalu diharapkan …
    c. Kalau mengundang investor yang bukan jenis ini, tetapi industri kreatif atau industri lain yang berbasis pada kemampuan/ketrampilan SDM secara nyata tentu lebih “berharga diri” dan sekaligus dapat meningkatkan nilai tambah secara ekonomis, mengurangi pengangguran okelah … okelah, mari kita dukung Pemkab/Pemprop mencari mitra koalisi,eh, mitra investasi yang lebih tepat … biar ekonomi disini lebih berputar, tanpa efek samping yang “mengerikan” ….
    d. Waduh, kita nggak boleh “meremehkan” kaum akademisi, semua pembangunan itu pasti ada kaum intelektualnya yang bekerja … mungkin saja ada yg baik, mungkin juga ada yg buruk …. kalau pejabat pemda dari perguruan tinggi nggak masalah & umumnya begitu, lihat saja pemimpin daerah disini juga dari perguruan tinggi lho, Bupati Sleman saja sebelum menjabat juga mengabdi sebagai dosen …jadi nggak tepat kalau mereka dianggap NOL BESAR. Logikanya kalau nggak dari perguruan tinggi ya darimana lho? Cuma cukup SMA? Wah ngeri deh …
    Ok thanks, buat semuanya.

  8. Wahai yg “hanya pinter dan suka Ngomong Doang”, tolong berikan masyarakat solusi nyata “pekerjaan sebagai sumber pendapatan” bukan hanya komentar-komentar yang “seolah-olah anda yg paling pinter & bener”. Seperti kalo kita nonton permainan sepak bola….Madonna saja sepertinya masih kalah dengan “penontonnya”…. Coba penonton disuruh yang main bola…. (banyak pejabat prop DIY dari Perguruan Tinggi tapi hasilnya NOL BESAR…. baru teori bung…?!)

  9. Saya kira PT Gudang Garam sudah melakukan berbagai Survey Kelayakan: baik dari aspek Amdal, Sosial Ekonomi, dll. Saya setuju segera dibangun untuk segera dapat menyerap tenaga kerja khususnya dari wilayah Sleman (70% atau 700-an naker tertampung). Sukses Pemkab Sleman….

  10. Pada sirik aja lu pade…. Emang Sleman punya banyak kelebihan potensinya dan PT GG tidak bodo lho mas, buktinya Perusahaannya berkembang kayak gitu. Kalo lu yg udah pada komentar…?! Paling masih pada jadi pengangguran ya….??!!

  11. wah mantap skali tu hotel & plasa,
    saya setuju skali dgan pemikiran anda, karna banyaknya penganguran skarang paling tidak bisa membantu pemerintahan untuk mengurangi jumlah penganguran, ,

    tapi kapan di bangunnya?
    kok ak dah dnger lama tentang pembangunan ini tp gak di bangun2 sampai skarang?

  12. hmmm… kalo menurut saya kok lain mas…
    kenapa terkesan “sedikit” dipaksakan?
    mumpung bupatinya masih menjabat… 1 tahun lagi selesai…
    belum kalo dimasukin sama KPK…
    buru cari uang saku lah…

Comments are closed.