Archives

All posts for the day March 29th, 2009

Simaklah berita duka ini.

Bencana menyapa sekitar Situ Gintung, Kampung Situ, Cirendeu, Ciputat, Tangerang, Banten. Ratusan nyawa terhempas, meninggal, luka, bahkan hilang dan kini masih dalam pencarian. Bela sungkawa sedalam-dalamnya mesti kita ucapkan atas tragedi yang menimpa masyarakat di sekitar Situ Gintung. Semoga kejadian ini dapat diambil hikmahnya secara positif oleh kita semua demi kebaikan dan perbaikan seluruh komponen bangsa.

Ada kedukaan di sekitar Situ Gintung. Ada kekokohan di antara kedukaan.

masjid_jabalur_rahman

Adalah Masjid Jabalur Rahman yang berada sekitar 50 meter dari tanggul Situ Gintung yang jebol, tetap berdiri kokoh meski sebagian besar bangunan di sekitarnya rusak berat diterjang air bah dari danau itu Jumat, 27 Maret 2009. Fisik masjid bercat putih, tinggi sekira 10 meter, nyaris tidak ada kerusakan berarti. Sementara berbagai bangunan di sekitarnya rusak berat, bahkan luluh lantak. Mungkin ini mukjizat. Nalar manusia tak menjangkau bagaimana bisa masjid tersebut tidak mengalami kerusakan seperti berbagai bangunan di sampingnya. Menurut warga sekitarnya, masjid erlantai 2 itu baru dibangun sekitar setengah tahun silam. Fenomena masjid yang masih tegak berdiri itu mengingatkan kita pada kejadian serupa pada saat tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Sementara itu dikabarkan, tanggul Situ Gintung jebol dini hari waktunya hampir bersamaan dengan dilantunkannya azan Subuh. Masjid Jabalur Rahman yang terletak di dekat Jalan Kampung Gunung kini kerap menjadi buah bibir bagi warga yang bertandang ke lokasi bencana.

Ada pula Musala Al Muhajirin di RT04/RW08, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman warga. Adalah suatu kenyataan, rumah di sekitar Musala Al Muhajirin hancur bahkan rata dengan tanah. Namun Musala tetap berdiri kokoh, meski lantai satu tergenang air setinggi lutut orang dewasa.

Sebuah peristiwa yang sulit dipercaya akal terjadi pula di tengah tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung. Satu buah Alquran ditemukan di atas meja penuh air dan lumpur, dalam keadaan kering. Alquran tersebut ditemukan di atas meja di ruang Sekretariat Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Saat ditemukan, Alquran tersebut dalam keadaan kering sedangkan meja sudah terendam air dan lumpur. Adapun sejumlah barang seperti meja, televisi, dan komputer terhempas air dan lumpur. “Sejarahnya Alquran ini merupakan hadiah dari Kedutaan Arab Saudi pada tahun 1990-an lalu. Memang Alquran ini sering digunakan para dosen,” kata salah satu dosen UMJ. Alquran berukuran besar dan berwarna hijau itu saat ini telah diamankan di tempat yang lebih aman.

Subhanallah … Inikah mukjizat yang diperlihatkan Allah kepada kita?

Bukalah mata dan pikiran mendengar berita duka itu.

Jangan mudah percaya cerita dan berita. Saya juga begitu. Berita dan cerita bisa dikarang sejuta orang, dimanapun berada. Bahkan gambar visual penguat berita dan cerita pun bisa diperdebatkan keasliannya. Selalu saja dipertanyakan “keaslian” berita dan cerita yang hadir mengiringi kejadian bencana kedukaan …. begitulah, kita tidak boleh mudah percaya kepada manusia, siapapun dia …..

Namun saudaraku, bencana Situ Gintung itu bukanlah cerita …. faktual, dan diberitakan. Beragam media telah mengabarkannya, bahkan CNN menyebutnya Little Tsunami. Siaran langsung televisi membukakan mata kita itu memang bencana dahsyat. Dan, ketika rentetan kisah tangis dan kedukaan menyapa bergayutan, menyembul beragam hikmah. Adakah mukjizat disana? Kalau pun harus disebutkan, masjid yang masih kokoh, musala yang masih berdiri, dan Al Qur’an kertas yang tak basah jua, apalah makna yang dapat kita petik?

Ada hikmah dan keajaiban diantara duka.

Meski rekan-rekan sesama manusia dalam berbagai milis banyak menyebut dan menganggapnya biasa saja:

a. Mungkin karena fisik bangunan dan pondasi masjid itu memang kokoh dibanding bangunan-bangunan lainnya.

b. Mungkin posisi masjid tidak terkena secara langsung arus utama air tumpahan tanggul itu.

c. Mungkin tukang-tukang yang membangun betul-betul meramu komposisi bahan bangunannya mendekati sempurna/ideal sesuai spesifikasi teknis yang semestinya. Karena takut berbuat korupsi di rumah Allah.

d. Mungkin dan seribu mungkin menurut mereka.

Ya, sudahlah, itulah perilaku dan sifat manusia. Memotret kenyataan dengan seringkali hanya berfikir satu arah, linier, kelogisan dan kerealistisan dalam ukuran manusia telah mengungkung diri dan pikiran.

Apakah mereka lupa ada kekuatan di luar logika manusia yang bisa mengatur itu semua? Sesungguhnya dalam setiap kejadian apapun ada hikmah yang dapat kita petik: MANUSIA ITU SESUNGGUHNYA LEMAH! Oleh sebab itu bagi siapapun yang masih memiliki kesadaran diri, nggak perlulah unjuk kekuatan dengan kesombongan, kecongkakan, sikap mentang-mentang, sok hero, menistakan manusia lain, karena sesaat lagi, apapun bisa terjadi di luar kekuasaan manusia. Bisa ada bencana, duka atau ketegaran. Bukankah kita lebih baik saling berbantu dalam kebaikan …

Ijinkan saya merenungi hal ini lagi, lagi dan lagi.

Hari minggu siang ini, 29 Maret 2009, saya nggak kemana-mana dan saya sempatkan nonton teve (SCTV) sembari jalan-jalan online. Aduh, ada berita nggak sedap ditayangkan SCTV, itu tuh soal lagu-lagu d’Masiv yang dikupas habis sisi plagiatnya. Diperbandingkannya lagu-lagu band anak muda itu dengan lagu-lagu yang diduga sebagai “sumber inspirasinya”. Berapa lagu diulas? Satu? Aduh, lebih dari lima friend. Kaget juga saya mengikuti berita itu …

Saya sesungguhnya senang dengan proses kreatif generasi muda kita di bidang musik sekarang ini , terbukti banyak band baru yang mulai mengangkasa di jagad musik Indonesia, dan itu bisa jadi kebanggaan kita …. tetapi sesungguhnya, saya juga curiga begitu mudahnya proses kreatif itu memunculkan ribuan lagu dalam waktu yang nggak lama … akselerasinya darimana? Kalau tayangan SCTV itu terbukti benar content-nya, wah saya jadi mengelus dada, apakah berjibunnya lagu-lagu dari band-band baru itu apa memang asli dari daya cipta anak band, atau sekadar copy & paste, cut & glue …. oalah, itukah idola anda sekarang ini?

Beberapa lagu d’Masiv yang dianggap jiplakan adalah sebagai berikut:

a. Cinta Ini Membunuhku = I Don’t Love You – My Chemical Romance
b. Diam Tanpa Kata = Awakening – Switchfoot
c. Dan Kamu = Head Over Heels (in This Life) – Switchfoot
d. Cinta Sampai Disini = Into The Sun – Lifehouse
e. Sebelah Mata = The Take Over, The Break’s Over – Fall Out Boy
f. Dilemma = Soldier’s Poem – Muse
g. Tak Pernah Rela = Is It Any Wonder – Keane
h. Lukaku = Drive – Incubus

Kebetulan saya sedikit mengenal musik, memang harus diakui not itu cuma ada 7, dari do sampai si, hirarki oktaf-nya lumayan banyak bisa saja seseorang main musik naik-turun sampai 5 oktaf, bisa juga yang agak gila 7 oktaf, tetapi nggak banyak yang bisa itu …. Nah, dari jumlah not dan oktaf yang terbatas itu, kalau dihitung kombinasinya dalam proses kreatif penciptaan lagu memang sangat mungkin ada interseksi antar satu lagu dengan lagu lain, antar pencipta dengan pencipta lain dalam hal proses pemerolehan ilham. Namun …. kalau sebuah lagu, intro-nya mirip, interlude-nya mirip, dan coda-nya nggak jauh beda dengan lagu lain, apalagi jumlah lagu dari satu grup band itu yang diduga “mirip” tidak cuma satu, lalu apa namanya kalau bukan proses plagiat? Coba anda bandingkan sendiri ….

Mari bangga dengan hasil karya cipta sendiri. Dalam hal musik ataupun produk barang-barang lainnya. Seperti tekstil dan produk tekstil. Seperti juga barang cetakan, majalah misalnya ….. jujur saja, saya muak banyak majalah yang beradar disini, di Indonesia lho, hanya merupakan “terjemahan” dari majalah asing: nama majalahnya masih asli dari sononya, artikel dan foto-fotonya juga terlihat masih banyak asli dari sononya, hanya bahasanya saja yang telah di-dub alias di-translate ke Bahasa Indonesia, bahkan sebagian bahasa aslinya masih ditinggalkan di beberapa bagian naskah majalah itu … apa sih untungnya bagi perkembangan media di Indonesia? Bukankah lebih baik majalah-majalah itu apa adanya, seperti aslinya secara total (sepanjang nggak melanggar hukum, kultur dan kehidupan sosial rakyat Indonesia) biarkan majalah-majalah itu beredar di Indonesia … taste-nya lebih original … nggak seperti akal-akalan secara ekonomi saja …

Itulah yang saya pikirkan, jangan-jangan musik d’Masiv juga mengusung “pola pikir yang sama” dengan pola pikir penerbitan majalah-majalah asing di Indonesia itu…. andalah yang bisa menyimpulkan!