Kemarin, Rabu sore, 11 Februari 2009, anak saya yang baru kelas 2 SD merengek-rengek untuk segera meminta disiapkan perlengkapan bahan-bahan untuk pelajaran seni & budaya (ketrampilan kerajinan) esok harinya (hari ini). Katanya, oleh gurunya akan diajari belajar membuat kendaraan/mobil-mobilan. Dari daftar bahan-bahan yang dibutuhkan, saya jadi nggak sreg terhadap sang guru, karena apa? Ternyata, selain bekas kotak odol, kotak korek api, lem , gunting, dan kertas, siswa juga dituntut membawa BUNGKUS ROKOK! Katanya itu juga bahan untuk bikin mobil-mobilan … Ach, aneh pikir saya. Mengapa harus bungkus rokok? Tidak adakah kotak/bungkus lainnya yang lebih sehat dan lebih mendidik sebagai bahan mobil-mobilan? Saya pikir seorang guru juga harus punya sense kependidikan yang luas, nggak sempitlah … memang siswa nggak diajak merokok sih, tapi membawa bungkus rokok (sementara itu, umumnya siswa maunya patuh terhadap sang guru, kalau ditawarkan atau diganti dengan bungkus/kotak lain oleh orang tuanya pasti menolak) adalah pengenalan awal siswa dengan rokok, dan itu guru sekolahnya yang mengajaknya/memperkenalkan! Astaga. Selain itu, untuk mendapatkan bungkusnya tentu harus ada yang membeli rokok, berarti sang guru “seakan-akan” mengajak siapapunlah untuk membeli rokok, bahkan dapat diartikan mengajak muridnya juga …. gawat!
Kebetulan memang saya tidak merokok, tetapi saya tidak anti perokok. Itu hak masing-masing, tetapi kalau guru mestinya dalam konteks pendidikan yang baik dan benar, setiap kegiatan belajar, entah teori maupun praktek, setiap prosesnya harus selalu terjaga, antara tujuan dan cara, termasuk alat dan bahan yang digunakan, yang bersifat mendidik … kalau hal-hal begini diteruskan, berbahaya sekali, nanti ada guru yang meminta muridnya untuk bahan ketrampilan bikin apa gitu, harus bawa botol minuman keras, bawa kaleng bir, wah wah wah jadi apa sekolah kita … mohon para guru yang sudah faham, ikut mengoreksi hal-hal beginian …. termasuk kalau di buku pelajarannya ada yang harus membawa ini itu yang tidak mendidik, nggak usah dipakailah buku semacam ini …. pasti penyusunnya bukan pendidik yang sejati!
Like this:
Like Loading...