Reputasi adalah segalanya

IDENTITAS * KREDIBILITAS * INTEGRITAS

  • Profil
  • ONNEWS
  • M-Guest
  • M-QA
  • SUPERTOKO

R A I H A N

Posted by Mardoto on 03/02/2012
Posted in: indonesia, Yogyakarta. Tagged: Mardoto, Website.

INDEKS TENDENSI BISNIS INDONESIA MEMBAIK. Indeks Tendensi Bisnis adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan ….. selanjutnya
MENGINTERNASIONALKAN BAHASA INDONESIA. Bahasa Indonesia semakin menginternasional. Kita harus bangga. Kita harus melakukan upaya ini lebih gencar. Karena ini adalah salah satu ukuran bahwa bahasa Indonesia semakin bisa diterima ….. selanjutnya
UTANG INDONESIA. Inilah data cicilan bunga utang baik dalam negeri maupun luar negeri pemerintah RI sejak 2007: 2007 pembayaran bunga utang Rp 79,806 triliun ….. selanjutnya
STATISTIK EKONOMI INDONESIA 2011. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pendapatan per kapita rakyat Indonesia tahun 2011 mencapai US$ 3.542 atau sekitar Rp 31,8 juta. Naik 17,7% dibandingkan dengan 2010 yang ….. selanjutnya

DIJUAL MOBIL SUZUKI GRAND ESCUDO HARGA NEGO. DIJUAL SEGERA, BUTUH BANGETS.
KONDISI MOBIL BAGUS, TERAWAT, PLAT NOMOR 3 DIGIT ……. selanjutnya

PETA SLEMAN. Inilah sekadar peta Sleman, siapa tahu bisa membantu anda, memandu saat jalan-jalan wisata ….. selanjutnya
DAFTAR KELURAHAN/DESA DAN KECAMATAN DI SLEMAN. 1. Kecamatan Berbah. – Kelurahan/Desa Jogo Tirto (Kodepos : 55573) – Kelurahan/Desa Kali Tirto (Kodepos : 55573) ….. selanjutnya
HARI JADI SLEMAN. Setelah melalui penelitian, pembahasan, & perdebatan bertahun2, akhirnya hari jadi Kabupaten Dati II Sleman disepakati. Perda nomor 12 tahun 1998 tertanggal 9 Oktober 1998, metetapkan ….. selanjutnya
MAKNA SLOGAN SLEMAN SEMBADA. Secara harfiah SEMBADA adalah suatu sikap dan perilaku yang berwatak ksatria bertanggung jawab, taat azas, setia menepati janji, pantang menyerah, tabu berkeluh kesah, bulad tekad, kukuh …..selanjutnya.
SEKILAS SLEMAN. Kabupaten Sleman, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibukotanya adalah Sleman. Kabupaten ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di utara dan …. selanjutnya.

PEMANCING YANG JUJUR. Seorang pemancing sedang beraksi di tepi telaga. Tiba-tiba pancingnya terasa ditarik ikan, sangat kencang. Saking kerasnya dia ….. selanjutnya

SURGA ATAU NERAKA. Ko ahong 80 tahun meninggal dunia. Ketika arwahnya dalam perjalanan ke akherat, bertemulah dengan ….. selanjutnya

-7.696005 110.345825

Rate this:

Berbagi artikel :

SIAPAKAH PASANGAN CALON GUBERNUR DKI JAKARTA PILIHAN ANDA?

Posted by Mardoto on 21/03/2012
Posted in: country, e-goverment, survai. Tagged: dEmokrasi, Pemilu. 2 comments

Jakarta adalah barometer Indonesia.
Jakarta adalah etalase Indonesia.
Sehingga performance pasangan Pemimpin DKI Jakarta sangat menentukan tingkat pencapaian kondisi Jakarta sebagai etalase dan barometer.
Maka, jangan salah pilih Pemimpin yang menakhodai Jakarta.
Saatnya sekarang anda yang menilai dan menentukan Tokoh yang pantas memimpin Jakarta.

Berikan suara anda melalui survai berikut ini untuk acuan para pemilih nantinya.

Selamat menentukan pilihan, demi Jakarta dan Indonesia lebih baik!

PERKEMBANGAN INFORMASI PEMILUKADA DKI 2012

3. Data per 10 Mei 2012 : JW-BTP MENGUNGGULI HNW-DJR DALAM POLLING CAGUB/CAWAGUB DKI 2012

2. Data per 1 April 2012 :HNW-DJR DAN JW-BTP BERSAING DALAM POLLING CAGUB/CAWAGUB DKI 2012

1. JADWAL DAN TAHAPAN PEMILUKADA DKI 2012

-7.696005 110.345825

Rate this:

Berbagi artikel :

Like this:

Like
One blogger likes this post.
  • Mardoto

MEMAHAMI PERANG ASIMETRIS

Posted by Mardoto on 30/05/2012
Posted in: indonesia, global, Catatan. Tagged: kEwarganegaraan, militer, pErtahanan. Leave a Comment

PENGERTIAN

Perang asimetris adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra (perpaduan antara trigatra -geografi, demografi, dan sumber daya alam, dan pancagatra -ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya). Perang asimetris selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang. [1]

Rujukan lain menyatakan, “Asymmetric warfare” can describe a conflict in which the resources of two belligerents differ in essence and in the struggle, interact and attempt to exploit each other’s characteristic weaknesses. Such struggles often involve strategies and tactics of unconventional warfare, the “weaker” combatants attempting to use strategy to offset deficiencies in quantity or quality. Such strategies may not necessarily be militarized.This is in contrast to symmetric warfare, where two powers have similar military power[citation needed] and resources and rely on tactics that are similar overall, differing only in details and execution. [2]

STRATEGI

Dalam perang konvensional, kekuatan musuh mudah sekali diperkirakan kuantitas maupun kualitasnya, misalkan tentang kekuatan komando dan pengendaliannya. Sehingga strategi yang hendak digunakan relatif mudah dipelajari dan dibaca, sehingga dapat digunakan untuk dasar-dasar mengantisipasinya. Namun dalam perang asimetris hal ini sebaliknya. Sangat sulit bagi kita memprediksi kekuatan musuh, secara kuantitas dan kualitas.

Beberapa taktik yang memungkinkan hasil positif dalam perang asimetris, menurut [3], antara lain:

1. One side can have a technological advantage which outweighs the numerical advantage of the enemy; the decisive English Longbow at the Battle of Crécy is an example.

2. Technological inferiority usually is cancelled by more vulnerable infrastructure which can be targeted with devastating results. Destruction of multiple electric lines, roads or water supply systems in highly populated areas could have devastating effects on economy and morale, while the weaker side may not have these structures at all.

3. Training and tactics as well as technology can prove decisive and allow a smaller force to overcome a much larger one. For example, for several centuries the Greek hoplite’s (heavy infantry) use of phalanx made them far superior to their enemies. The Battle of Thermopylae, which also involved good use of terrain, is a well known example.

4. If the inferior power is in a position of self-defense; i.e., under attack or occupation, it may be possible to use unconventional tactics, such as hit-and-run and selective battles in which the superior power is weaker, as an effective means of harassment without violating the laws of war. Perhaps the classical historical examples of this doctrine may be found in the American Revolutionary War, movements in World War II, such as the French Resistance and Soviet and Yugoslav partisans. Against democratic aggressor nations, this strategy can be used to play on the electorate’s patience with the conflict (as in the Vietnam War, and others since) provoking protests, and consequent disputes among elected legislators.

5. If the inferior power is in an aggressive position, however, and/or turns to tactics prohibited by the laws of war (jus in bello), its success depends on the superior power’s refraining from like tactics. For example, the law of land warfare prohibits the use of a flag of truce or clearly marked medical vehicles as cover for an attack or ambush, but an asymmetric combatant using this prohibited tactic to its advantage depends on the superior power’s obedience to the corresponding law. Similarly, laws of warfare prohibit combatants from using civilian settlements, populations or facilities as military bases, but when an inferior power uses this tactic, it depends on the premise that the superior power will respect the law that the other is violating, and will not attack that civilian target, or if they do the propaganda advantage will outweigh the material loss. As seen in most conflicts of the 20th and 21st centuries, this is highly unlikely as the propaganda advantage has always outweighed adherence to international law, especially by dominating sides of any conflict.

6. As noted below, the Israel-Palestinian conflict is one recent example of asymmetric warfare. Mansdorf and Kedar outline how Islamist warfare uses asymmetric status to gain a tactical advantage against Israel. They refer to the “psychological” mechanisms used by forces such as Hezbollah and Hamas in being willing to exploit their own civilians as well as enemy civilians towards obtaining tactical gains, in part by using the media to influence the course of war.

Pada sisi lain menurut [4] terdapat tipologi strategi ideal yang digunakan dalam perang asimetris berdasarkan para aktor yang berperang :

1. Untuk aktor yang kuat strategi yang digunakan dengan penyerangan : direct attack dan barbarism.
2. Untuk aktor yang lemah strategi yang digunakan dengan pertahanan : direct defense dan guerrilla warfare strategy.

TINGKAT KEBERHASILAN

Berdasarkan data yang dilaporkan [5] dapat kita simak adanya suatu fakta yang mengejutkan tentang tingkat keberhasilan dalam perang asimetris berdasarkan aktor yang bermain:

Terlihat bahwa makin ke arah sekarang dan yang akan datang adanya trend aktor perang asimetris yang lemah semakin memiliki peluang memenangkan perang ini lebih tinggi. Hal ini tentu menjadi kajian yang menarik untuk para pemain perang asimetris dalam menyusun strategi yang lebih andal, karena aktor yang kuat bisa saja terkalahkan dengan olah strategi yang handal oleh pemain yang lemah.

BAGAIMANA DI INDONESIA?

Indonesia sesungguhnya telah menjadi sasaran perang asimetris. Penyebaran berita, acara, dan pentas-pentas yang merusak mental SDM Indonesia itu sudah merupakan contoh nyata adanya perang asimetris di Indonesia. Strategi ini tergolong murah tanpa mengeluarkan biaya mahal, bahkan malah mengeruk uang rakyat, karena perang asimetris ini tidak menggunakan banyak senjata, cukup dengan menggegerkan media dengan Lady Gaga, isu provokatif stabilitas keamanan Negara sudah digoyang. Dengan digunakannya strategi asimetris oleh sebuah negara untuk melumpuhkan lawannya bukan berarti kekuatan konvensional tidak diterapkan lagi. Justru untuk mengantisipasi gagalnya upaya melemahkan suatu negara, pola perang kombinasi juga sering digunakan. Jadi hard power dan soft power digunakan secara cantik secara bersama, dengan kehebatan mind power di belakangnya.

Contoh perang konvensional yang mengembang, dapat kita lihat di Libya saat penumbangan Khadafy. Ketika strategi non-konvensional yang dilancarkan masih dianggap kurang mampu menundukkan Libya, AS lalu merubah strateginya dari non-konvensional menjadi konvensional dengan segera menyiapkan mesin-mesin perang yang dimilikinya beserta NATO untuk menggebuk kekuatan militer Libya yang masih bercokol dan mendapat dukungan dari sebagian rakyatnya. Alasan awalnya adalah NFZ, tapi itu sesungguhnya kedok untuk mencapai tujuan sebenarnya.

Sejarah perang di Indonesia juga mencatat, selama konflik RI – Permesta berlangsung AS dengan dalih menjaga ladang minyaknya selalu berusaha masuk ke wilayah indonesia, melihat gelagat tidak beres yang ditunjukkan AS terhadap Indonesia TNI berusaha menggagalkan upaya tersebut dengan sesegera mungkin mengamankan ladang-ladang minyak AS sebelum sengaja dihancurkan oleh pemberontak Permesta yang bersekongkol dengan AS. Dengan begitu AS sudah dapat dipastikan tidak akan dapat masuk kewilayah RI karena tidak memiliki alasan kuat sebagai pembenarnya. Perlu diketahui, AS sudah menyiapkan Armada VII dekat perairan Singapura dan terus melakukan manuver perang sebagai langkah persiapan memasuki wilayah indonesia. Indonesia dulu berbeda dengan Indonesia sekarang, saat ini Indonesia bagi AS sudah dianggap sebagai “Good Boy” sehingga strategi konvensional masih belum saatnya disiapkan melihat tekanan dan lobi-lobi AS yang diberikan dengan dalih menjaga kestabilan kawasan masih bisa di turuti/diikuti oleh pemerintah indonesia. Jadi cukup dengan strategi Asimetris saja, AS sudah mampu menggoncangkan pemerintah indonesia lewat isu, informasi, kebebasan, budaya, ekonomi, narkoba, korupsi dan lain sebagainya.

Seperti yang kita ketahui, Menurut Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoedin bahwa dunia strategi dan pertahanan sedang memasuki babakan baru, yakni perang asimetris. ”Kita harus menanggalkan cara berpikir perang konvensional. Banyak hal yang terjadi tanpa disadari adalah dampak perang asimetri. Media digunakan sedemikian rupa mengumbar sensasi. Perang asimetri itu bukan menghadapkan senjata dengan senjata atau tentara melawan tentara,” ujarnya. (Kompas 28/3/2011)

Wamenhan mengingatkan, negara yang secara ekonomi dan kesenjataan lemah adalah sasaran utama perang asimetris. Sebagai contoh, media internet atau media massa tanpa sadar dipakai untuk memengaruhi cara berpikir atau melemahkan bangsa Pemberitaan dua media Australia mengenai kebijakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan situasi politik di indonesia beberapa waktu lalu juga termasuk upaya pemerintah Australia dalam melancarkan strategi Asimetris dengan tujuan menggoyahkan stabilitas pemerintah indonesia lewat jaringan informasi. Karena saat ini begitu mudah semua informasi diakses lewat media jaringan seperti Youtube, Tweeter, Facebook, Media Cetak maupun Elektronik.

Indonesia sendiri sebenarnya memiliki daftar panjang dijadikan sasaran perang asimetris. Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Indonesia terus melakukan perang asimetris terhadap pendudukan Belanda hingga 1950, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), krisis Timor-Timur, Gerakan Pengacau Keamanan di Papua, dan lainnya.

Seorang pakar, Tamrin, dalam salah satu presentasinya yang berjudul “Perang Asimetris, Tanggapan dan Penajaman”, membahas mengenai ancaman asimetris di bidang sosial-budaya dan agama, menyatakan beberapa argumentasi bahwa yang pertama adalah tidak meratanya persebaran suku-suku di Indonesia. Seperti diketahui, di Indonesia terdapat 653 suku bangsa. Akan tetapi dari Sumatra hingga Jawa (kecuali Sumatra Selatan) hanya terdapat beberapa suku mayoritas. Sebaliknya di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, banyak sekali suku bangsa yang menghuni satu kota. Bahkan setengan dari jumlah suku bangsa berada di Papua. Ini dapat menjadi ancaman disintegrasi. Ancaman lainnya, bangunan keras: demokratisasi, desentralisasi, dan pemekaran wilayah. Desentralisasi pada saat ini, kata Tamrin, sudah kebablasan. Pemekaran juga luar biasa. Di Lombok misalnya, dari sembilan menjadi 18 kelurahan. Banyak sekali gubernur-gubernur yang tidak berkinerja. Yang terakhir adalah bangunan lunak: kebangsaan, konstitusi, negara dan agama. Menurut Manuel Castells di dalam bukunya, The Power of Identity: The Information Age Economy, Society and Culture, kata Tamrin, dahulu negara adalah pihak satu-satunya yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dan memaksa. Namun sekarang, negara mendapat saingan kelompok yang bahkan membuat negara tidak berkutik, yaitu terorisme lokal, fundamentalis agama dan suku.

Pakar lainnya, Fayakhun Andriadi, yang membawakan presentasi “Asymetric Warfare Strategy”, memaparkan mengenai pengaruh teknologi informasi dan komunikasi terhadap perang asimetris. Menurut dia, teknologi informasi dan komunikasi semakin meningkat, dan menduduki peranan utama dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, teknologi informasi telah menjadi sesuatu yang bernilai sekaligus dapat menjadi senjata perusak. “Sekarang ini, lini pertempuan akan bergeser ke lini informasi. Bombardir informasi akan membentuk citra yang tertanam di kawasan lawan dan akan melemahkan posisi lawan,” katanya. Ia mencontohkan ketika Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet terlibat perang dingin yang memuncak di tahun 1980-an. Sungguh naif jika dikatakan Soviet hancur secara alamiah. Justru, AS melancarkan asymetric warfare terhadap Soviet. Amerika dan negara-negara barat pandai memainkan strateginya dalam perang informasi yang lebih bersifat psychological warfare. Secara ideologi, kemunculan glasnost dan perestroika sudah berhasil menyerang ideologis komunis yang telah lama menjadi perekat kesatuan Soviet.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Fahami lebih mendalam tentang perang asimetris, strategi dan penerapannya, sebelum semuanya menjadi terlambat. Karena waktu terus bergulir dan para aktor semakin banyak bergentayangan. Nasionalisme harus terus digelorakan, demi terjaganya keberadaan WNI yang bermartabat yang selalu ikut menjaga dan mempertahankan negara bangsanya agar semakin jaya dalam bingkai NKRI sampai kapanpun.

CATATAN Oleh : Kolonel Sus Drs. Mardoto, M.T. (Dosen Akademi Angkatan Udara).

-7.696005 110.345825

Rate this:

Berbagi artikel :

Like this:

Like
One blogger likes this post.
  • Mardoto

Posts navigation

← Older Entries
  • Twitter Updates

    • MEMAHAMI PERANG ASIMETRIS wp.me/pcUiK-1qc via @mardoto---------- ditulis 1 day ago
    • Saatnya bicara (yg lebih) fokus. Jangan sia-siakan waktu. Ciptakan keberadaan diri ini utk yg lbh bermanfaat scr lebih luas bagi bangsa.---------- ditulis 2 days ago
    • SEMINAR NASIONAL PERTAHANAN 2012 DI AAU wp.me/pcUiK-1q6 via @mardoto---------- ditulis 2 days ago
    • JW-BTP MENGUNGGULI HNW-DJR DALAM POLLING CAGUB/CAWAGUB DKI 2012 lnkd.in/izzcY7---------- ditulis 3 weeks ago
    • Berjauhan terus.---------- ditulis 3 weeks ago
    • JW-BTP MENGUNGGULI HNW-DJR DALAM POLLING CAGUB/CAWAGUB DKI 2012 wp.me/pcUiK-1pX via @mardoto---------- ditulis 3 weeks ago
    • PEMANCING YG JUJUR? lnkd.in/bQ2ZPq---------- ditulis 3 weeks ago
    • SIAPAKAH PASANGAN CALON GUBERNUR DKI JAKARTA PILIHAN ANDA? lnkd.in/Dy2gka---------- ditulis 3 weeks ago
    • PEMANCING YG JUJUR? wp.me/pcUiK-1pQ via @mardoto---------- ditulis 3 weeks ago
    • Gmbong+nrkobawan+nrkobawati mm hebat, bs mmbalik opini, as if mrk tak brsalah, bgitupun aparat yg bkrjasma dngannya. Nyinyir hkum neg ini---------- ditulis 1 month ago
    Follow @mardoto
  • ANDA PENGUNJUNG KE

    • 411,907
  • Mardoto Yogyakarta

    Create Your Badge
  • KALENDER

    June 2012
    M T W T F S S
    « May    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Masukkan email anda, KLIK tombol bawah untuk berlangganan artikel blog ini. Anda menerima notifikasi lewat email.

    Join 180 other followers

  • DOKUMENTASI ARTIKEL

  • ARTIKEL POPULAR

    • Apakah visi dan misi itu?
    • PERANAN IPTEK (TI) DALAM IMPLEMENTASI GEOSTRATEGI INDONESIA
    • Suara mahasiswa 009 : Mengkritisi Clean and Good Governance di Indonesia
    • PERBEDAAN POLA PENYUSUNAN POLITIK STRATEGI NASIONAL INDONESIA ANTARA ERA ORDE BARU & SETELAH REFORMASI
    • 9 cara terbaik untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga
    • 10 Teori Konspirasi Paling Top
    • PERANAN MAHASISWA DALAM MENGURANGI/MENGELIMINASI PENYALAHGUNAAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI INFORMASI OLEH GENERASI MUDA
    • JW-BTP MENGUNGGULI HNW-DJR DALAM POLLING CAGUB/CAWAGUB DKI 2012
    • SIAPAKAH PASANGAN CALON GUBERNUR DKI JAKARTA PILIHAN ANDA?
    • Seri 012, Mahasiswa : Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan Menurut Saya
  • CHECK

    Check Google Page Rank
  • KOMENTAR ANDA

    abidin zamroni on gub dki
    ida on Hati-hati wanita Indonesia, 70…
    Mardoto on 9 cara terbaik untuk mempertah…
    ronald on Alasan militer melakukan opera…
    abdurrohmancahcirebo… on indonesia raya
    rini wahyuni on 9 cara terbaik untuk mempertah…
    Syahril Amiruddin on Profil
    Fitriana Setyaningru… on SURGA ATAU NERAKA
    Mardoto on ZIARAH
    shintadewi on ZIARAH
  • PENCARIAN

  • SUPERTOKO

  • FAVOURITES

    • WordPress
    • Yahoo
    • Akademi Angkatan Udara
    • Altavista
    • Google
    • Detik
    • Magister Teknologi Informasi UGM
    • TNI Angkatan Udara
    • Fakultas Teknik UGM
    • Alexa
  • ADV 1

Blog at WordPress.com. Theme: Parament by Automattic.
loading Cancel
Post was not sent - check your email addresses!
Email check failed, please try again
Sorry, your blog cannot share posts by email.